• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANCANGAN AKTUALISASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RANCANGAN AKTUALISASI"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANGAN AKTUALISASI

NILAI DASAR PEGAWAI NEGERI SIPIL DALAM PENERAPAN TEKNIK PENGENDALI HAMA TERPADU (PHT) MENGGUNAKAN PESTISIDA

NABATI DI LAHAN PERTANIAN KECAMATAN BATANG TUAKA KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL GOLONGAN II ANGKATAN KELAS H GELOMBANG III DILINGKUNGAN PEMERINTAH

PROVINSI RIAU

OLEH :

SEFMITA HANDAYANI 199809022020122004

NDH : 04

PEMERINTAH PROVINSI RIAU

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROVINSI RIAU

TAHUN 2021

(2)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

RANCANGAN AKTUALISASI NILAI DASAR PNS

Nama : Sefmita Handayani

Nip : 19980902 202012 2 004

Pangkat : Pengatur Muda

Jabatan : Pelaksana Pemula-Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan

Intansi : Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Isu yang diangkat : Masih rendahnya penerapan Pengendali Hama Terpadu

(PHT) menggunakan pestisida nabati

Disetujui untuk diseminarkan pada : Pekan Baru,

Penguji Coach Mentor

Junaidi, S.Hut,T.MP Dr. Suparman, A.Ks, S.Pd, M.Si Muhammad Yasri, S.P, M.Si Nip.19720610 199203 1 001 Nip. 19700710 200902 1 001 Nip.19730909 199301 1 001

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahirobbil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat, rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan rnacangan aktualisasi nilai-nilai dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berjudul

“PENERAPAN PENGENDALI HAMA TERPADU (PHT) MENGGUNAKAN PESTISIDA NABATI DI LAHAN PERTANIAN KECAMATAN BATANG TUAKA” dengan baik dan tepat waktu.

Penulisan Laporan Aktualisasi ini terlaksana karena kontribusi banyak pihak berupa bimbingan dan motivasi sehingga kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Kedua orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan doa dan dukungannya;

2. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Riau;

3. Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Privinsi Riau;

4. Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau;

5. Muhammad Yasri, SP. MSi, selaku mentor yang telah memberikan bimbingan dan masukan terhadap kegiatan aktualisasi ini

6. Dr. Suparman, A.Ks, S.Pd, M.Si , selaku Coach yang telah memberikan memberikan ilmu yang sangat-sangat bermanfaat untuk penulis, serta selalu membimbing penulis dengan sabar dan juga selalu memberikan motivasi akan kegiatan pelatihan dasar yang telah dilaksanakan.

7. Seluruh Bapak dan ibu Widyaiswara yang telah mengajar dan membimbing serta memberikan pengarahan selama Pelatihan berlangsung;

8. Rekan-rekan peserta Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan II Tahun 2021 Provinsi Riau yang telah memberikan motivasi dan bantuannya selama kegiatan pelatihan dasar CPNS ini.

9. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan Rancangan Aktualisasi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

(4)

iv

Penulis sangat menyadari dalam penulisan Laporan Aktualisasi ini masih memiliki banyak kekurangan. Penulis sangat berharap masukan dan saran guna penyempurnaan selanjutnya. Semoga laporan aktualisasi ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Pekanbaru, 08 November 2021 Ttd,

Sefmita Handayani NIP. 19980902 202012 2 004

(5)

v

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Maksud dan Tujuan ... 6

C. Gambaran umum instansi ... 6

1. Visi dan Misi Organisasi ... 10

2. Struktur Organisasi ... 12

3. Tugas Seksi Perlindungan Tanaman ... 13

4. Tugas Kelompok Jabatan Fungsinal POPT ... 13

BAB II ... 16

RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS ... 16

A. Konsep Aktualisasi ... 16

B. Isu Aktualisasi ... 22

1. Identifikasi Isu ... 22

2. Rumusan Isu ... 25

(6)

vi

3. Seleksi Isu ... 26

4. Penyebab Isu ... 31

5. Aktor yang Terlibat ... 32

6. Nilai Aneka yang Dilanggar ... 32

7. Dampak isu ... 33

C. Gagasan penyelesaian isu ... 34

1. membuat leaflet tentang PHT menggunakan pestisida nabat…...35

2. mempersiapkan alat dan bahan dan membuat pestisida nabati...39

3. melakukan pengaplikasian pestisida nabati...42

4. melakukan evaluasi hasil kegiatan...46

D. Schedul Kegiatan ... 51

BAB III ... 52

PENUTUP ... 52

A. Kesimpulan ... 52

DAFTAR KEPUSTAKAN ... 53

(7)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Indikator analisis metode APKL ... 26

Tabel 2 Analisis Isu dengan metode APKL ... 27

Tabel 3 Analisis isu menggunakan metode USG ... 30

Tabel 4 kegiatan I membuat leaflet tentang PHT menggunakan pestisida nabati ... 34

Tabel 5 kegiatan II mempersiapkan alat dan bahan dan membuat pestisida nabati.... 38

Tabel 6 kegiatan 3 melakukan pengaplikasian pestisida nabati ... 42

Tabel 7 kegiatan 4 melakukan evaluasi hasil kegiatan ... 46

Tabel 8 jadwal kegiatan rancangan aktualisasi ... 51

(8)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Gedung UPT Perlindungan Tanaman pangan dan hortikultura Provinsi Riau. ... 7 Gambar 2 strutur Organisasi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura

Provinsi Riau... 12 Gambar 3 Diagram Fishbone ... 31

(9)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aparatur Negeri Sipil mempunyai peran penting dalmrangka menciptakan masyarakat madani yang taat hukum, berperadapan nodern, demokratis, makmur, adil dan bermoral tinggi dalam menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat secara adil dan merata.

Undang-undang no 5 tahun 2014 tentang Apratur Negeri Sipil adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atai diserahi tugas negara lainnya. Dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu dibangun aparatur sipil negara yang memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, serta mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu pegawai Asn harus memiliki pemahaman yang lengkap dan menerapkan nilai-nilai dasar ASN serta kedudukan dan peran ASN dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang akan menjadi modal bagi Asn dalan mengembangkan diri untuk menghadapi perubahan dan perkembangan zaman.

Adapun nilai-nilai dasar ASN tersebut adalah akuntabilitas, nasionalisme, etika publik. Komintmen mutu dan anti korupsi. Sedangkan kedudukan dan peran ASN dalam NKRI dyang dipelajari melalui penerapan manajemen ASN, pelayan publik dan whole of goverment (WoG).

(10)

2

Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) adalah pendidikan dan pelatihan dalam masa prajabatan yang dilakukan secara terintegritas untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangan, dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.

Pelatihan dasar CPNS bertujuan untuk mengembangkan kompetensi CPNS yang dilakukan secara terintegritas.kompetensi diukur berdasarkan kemampuan menunjukna sikap prilaku bela negara, mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan tugas jabatannya, mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka Negara Kesatuan republik Indonesia dan menunjukkan penguasaan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai bidang tugas. Sementara terintegrasi berarti penyelenggaraan Pelatihan Dasar CPNS memadukan antara pelatihan klasikal dan nonklasikal, dan kompetensi sosial kultural dalam kompetensi bidang.

Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) merupakan pegawai yang diberi tugas, tanggung jawab dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkup pertanian untuk melakukan kegiatan perlindungan tanaman. Dalam PP nomor 6 tahun 1995 menyebutkan bahwa perlindungan tanaman adalah segala upaya unutk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan. Sebagai seorang CPNS petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di UPT Pelindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau dengan wilayah kerja Kecamatan batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir, penulis memiliki tugas pokok sesuai peraturan Menteri Pertanian Nomor 46/Permentan/OT.140/10/2009 yaitu menyiapkan pengendalian Organiisme Pengganggu Tunbuhan (OPT), melaksanakan pengendalian OPT, menganalisis dan mengevaluasi hasil pengendalian OPT, melaksanakan bimbingan

(11)

3

pengendalian OPT, melaksanakan pengamatan dan pemantauan daerah sebar OPT, membuat koleksi visualisasi dan informasi untuk pemenuhan tugasnya sebagai pejabat fungsional.POPT dituntut untuk menguasai perkembangan teknologi pengendalian OPT sehingga tanggap dalam memberikan saran rekomendasi ataupun solusi terhadap permasalahan OPT yang ditemukan diunit kerja.

Untuk menekan tingat serangan organisme pengganggu tumbuhan dan kerugian yang diakibatkannya dalam undang-undang nomor 12 tahun 1992 menyebutkan bahwa kegiatan perlindungan tanaman dilakukan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan dengan satu atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup.

Dalam PHT terdapat 4 prinsip dalam penerapannya yaitu : 1. Budidaya tanaman sehat

Tanaman yang sehat memiliki kemampuan daya tahan yang baik terhadap serangan hama dan penyakit serta memiliki kemampuab lebih cepat dalam mengatasu dan memulihkan dirinya sendiri dari kerusakan akibat serangan hama dan penyakut

2. Memanfaatkan musuh alami

Musuh alami terbukti mampu menekan pertumbuhan atau pertambahan populasi hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit dengan memanfaatkan musuh alami/predator yang potensial merupakan tolak ukur dalamsistem PHT. Pemanfaatan musuh alami didalam ekosistem diharapkan mampu menjaga keseimbangn antara populasi hama dan populasi musuh alami/predator.

(12)

4 3. Pengamatan dan pemantauan OPT

Pengamatan dan pematantauan OPT merupakan kegiatan yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh setiap petani. Pengamatan dan pemantauan harus dilakukab secara rutin dan berkala, sehingga perkembangan populasi hama, kondisi tanaman serta perkembangan populsi musuh alaminya yang dapat diketahui.

4. Petani sebagai ahli PHT

Sistem pengendali hama terpadu (HPT sebaiknya dikembangkan oleh petani sendiri, karena penerapan PHT harus diesuaikan dengan keadaan lingkungan ekosistem setempat, karena setiap daerah atau wilayah memiliki ekosistem yang berbeda-beda, sehingga suatu sistem PHT yang dikembangkab pada wilayah tertentu belum tentu cocok dengan wilayah lainnya.

Terdapat 7 komponen penting dalam pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu sebagai berikut :

1. Pengendalian secara fisik; yaitu upaya pengendalian dengan memanfaatkan atau mengubah faktor lingkungan fisik sehingga dapat menurunkan populasi hama dan penyakit. Tindakan pengendalian hama secara fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: pemanasan, pembakaran, pendinginan, pembasahan, pengeringan, lampu perangkap, dan lain-lain.

2. Pengendalian secara mekanik; yaitu pengendalian yang dilakukan secara manual oleh manusia.Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara sederhana, membutuhkan tenaga kerja yang banyak dan waktu yang lama, efektif dan efisiensinya rendah, tetapi tidak berpengaruh negatif terhadap lingkungan. Contoh pengedalian secara mekanik yaitu: pengumpulan hama dengan menggunakan tangan, pemotongan bagian tanaman yang

(13)

5

terserang penyakit, gropyokan, pemasangan perangkap hama, dan pembungkusa buah.

3. Pengendalian kultur teknik; yaitu pengendalian hama dan penyakit melalui sistem atau cara bercocok tanam yang dapat mengurangi atau menekan populasi dan serangan hama. Seperti pergiliran tanaman, penggunaan tanaman perangkap, rotasi tanaman.

4. Pengendalian dengan varietas tahan, yaitu mengurangi atau menekan populasi hama, serangan dan tingkat kerusakan tanaman dengan menanam varietas yang tahan hama ataupun penyakit.

5. Pengendalian secara hayati, yaitu pengendalian hama atau penyakit dengan memanfaatkan agens hayati (musuh alami) seperti predator, parasitoid, maupun patogen serangga.

6. Pengendalian dengan Peraturan / regulasi / karantina, yaitu pencegahan penyebaran / perpindahan dan penularan organisme pengganggu tanaman melaluinkebijakan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dasar hukum pencegahan dengan peraturan adalah UU no 16 tahun 1995 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan, PP no 6 tahun 1995 tentang perlindungan tanaman, dan PP no 14 tahun 2000 tentang Karantina tumbuhan.

7. Pengendalian secara kimia, yaitu pengendalian dengan menggunakan pestisida sintetis kimia. Ini merupakan pengendalian yang dilakukan sebagai alternatif terakhir apabila cara pengendalian lainnya tidak mampu mengatasi .

Berdasarkan uraian diatas, penulis mengangkat Judul mengenai

“Penerapan Pengendali Hama Terpadu (PHT) menggunakan pestisida nabati di lahan pertanian kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir”.

(14)

6 B. Maksud dan Tujuan

Adapun Maksud dari aktualisasi nilai-nilai dasar ASN adalah sebagai berikut :

1. Mampu melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab sebagai pelayan publik

2. Mampu meningkatkan pandangan kompetensi sebagai POPT yang profesional

3. Mampu merubah pandangan didalam diri menjadi lebih profesional, berkomitmen, beretika dan berintegritas.

Sedangkan tujuan dilaksanakan aktualisasi ini adalah sebagai berikut : 1. Terimplementasinya nilai-nilai dasar ASN, kedudukan dan peran ASN

dalam NKRI

2. Terlaksananya kegiatan penerapan PHT dengan menggunakan pestisida nabati di Kecamatan Batang Tuaka.

3. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petani tentang penerapan PHT.

Tujuan jangka menengah dan panjang :

1. Petani menerapkan prinsip Pengendali hama terpadu (PHT) 2. Meningkatnya penerapan penggunaan pestisida nabati C. Gambaran umum instansi

UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura merupakan salah satu Unit Pelaksana di lingkup Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau yang berada di Jalan Hang Tuang Ujung No 71 Pekanbaru. Gedung UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura berdiri di luas lahan + 3,65 Ha yang dapat dilihat pada Gambar 1. Pada tahun 2020 total sumber daya manusianya berjumlah 116 orang yang terdiri dari 22 orang di Kantor UPT, 6 orang di Laboratorium Pengendalian Hama dan Penyakit/Laboratorium Agens Hayati, 6 orang di Laboratorium Pestisida, 3 orang di Brigade Proteksi Tanaman, 49 orang petugas POPT (PNS) dan 30

(15)

7

orang tenaga harian lepas POPT yang tersebar diberbagai Kecamatan yang ada di Provinsi Riau.

Untuk mendukung terlaksananya tugas pokok dan fungi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura memiliki instalasi pendukung.

Instalasi pendukung tersebut diantaranya Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit/Laboratorium Agens Hayati (LPHP/LAH), Laboratorium Pengujian Pupuk dan Pestisida kimia, Brigade Proteksi Tanaman (BPT), dan Fungsional Pengendali OPT.

Gambar 1 Gedung UPT Perlindungan Tanaman pangan dan hortikultura Provinsi Riau.

Tugas Pokok :

1. Melaksanakan sebagian dari tugas Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau dalam bidang perlindungan tanaman pangan dan hortikultura.

2. Menyampaikan laporan berkala dan isidentil kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan dan Direktur Perlindugan Hortikultura Kementerian Pertanian atas pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung

(16)

8

jawabnya serta tembusan kesatuan organisasi lain yang secara fungsional memiliki hubungan kerja.

Fungsi :

1. Melaksanakan kebijakan di bidang pengelolaan data organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dampak perubahan iklim (DPI), teknologi pengendalian OPT, dan pengelolaan pengendalian hama terpadu (PHT).

2. Melaksanakan kebijakan di bidang monitoring dan analisis data serta evaluasi dan pelaporan data OPT, DPI, teknologi pengendalian OPT, dan pengelolaan PHT.

3. Melaksanakan pengamatan, peramalan, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan pemantauan dampak penggunaan pestisida kimia pada tanaman pangan dan hortikultura.

4. Melakukan pengelolaan sampel pestisida kimia, pupuk dan produk tanaman pangan dan hortikultura.

5. Melaksanakan pemeriksaan dan pengujian mutu pestisida kimia, pupuk dan produk tanaman pangan dan hortikultura.

6. Melaksanakan pemantauan mutu pestisida kimia dan pupuk yang beredar serta produk tanaman pangan dan hortikultura.

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, kelembagaan UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap program Pencapaian Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai melalui penekanan kehilangan hasil yang diakibatkan oleh gangguan OPT dan DPI. Keluaran (output) yang harus dicapai adalah luas areal tanaman pangan dan hortiklultura di Provinsi Riau aman dari serangan OPT dan terkena DPI.

(17)

9

UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura memiliki nilai-nilai organisasi yang harus diterapkan sebagai acuan dalam berperilaku oleh pegawai ASN di lingkup UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Nilai- nilai organisasi tersebut adalah sebagai berikut:

a. Komitmen

Indikator nilai komitmen, sebagai berikut:

1. Menaati peraturan/kesepakatan;

2. Melakukan internalisasi tujuan dan sasaran organisasi;

3. Menyamakan persepsi dalam langkah kerja;

4. Konsisten dan loyal terhadap pelaksanaan tugas;

5. Menepati janji.

b. Keteladanan

lndikator nilai keteladanan, sebagai berikut:

1. Berperan aktif meningkatkan kinerja;

2. Membangun keterbukaan dan komunikasi;

3. Menghargai pendapat orang lain;

4. Bersikap tegas dan berani;

5. Bersikap peduli.

c. Profesionalisme

lndikator nilai profesional sebagai berikut :

1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai bidang tugasnya;

2. Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi;

(18)

10

3. Melaksanakan tugas sesuai standar operasional prosedur;

4. Menyelesaikan pekerjaan sesuai target kinerja;

5. Melaksanakan pelayanan prima.

d. Integritas

Indikator nilai integritas, sebagai berikut:

1. Bersikap jujur;

2. Bertanggungjawab;

3. Bertindak sesuai nilai dan norma yang berlaku;

4. Melaporkan penyimpangan;

5. Menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar.

e. Disiplin

lndikator nilai disiplin, sebagai berikut:

1. Mentaati ketentuan jam kerja;

2. Pemakaian seragam dan atribut kerja sesuai peraturan;

3. Mengikuti upacara;

4. Menggunakan fasilitas kantor sesuai peraturan.

1. Visi dan Misi Organisasi

Berdasarkan Peraturan Gubernur Riau Nomor 42 Tahun 2020 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, visi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu “Terwujudnya Kemandirian Masyarakat Petani Dalam Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Sistem Pembangunan

(19)

11

Pertanian Berkelanjutan, Berwawasan Lingkungan, Berbasis Pedesaan dan Berorientasi Agribisnis”.

Adapun misi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau yaitu:

1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan petani tentang PHT;

2. Menciptakan kondisi yang kondusif untuk terbinanya kemandirian petani dalam pengelolaan OPT;

3. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dari hasil usaha taninya;

4. Melindungi petani dan konsumen hasil pertanian dari akibat samping penggunaan sarana perlindungan tanaman;

5. Mengurangi pencemaran lingkungan dan mempertahankan keanekaragamaan hayati di ekosistem pertanian;

6. Melindungi hak dan kewajiban petani.

(20)

12 2. Struktur Organisasi

Gambar 2 struktur Organisasi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau

UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura merupakan organisasi unit pelaksana teknis yang berada di bawah Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura. Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 42 Tahun 2020 UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura dipimpin oleh seorang Pejabat Struktural Eselon III dengan nama jabatan Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kepala UPT PTPH dibantu oleh 3 orang pejabat struktural eselon IV yaitu masing-masing 1 Kepala Subbagian (Kasubbag) dan 2 Kepala Seksi (Kasi). Struktur organisasi UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura dapat dilihat pada Gambar 2.

(21)

13 3. Tugas Seksi Perlindungan Tanaman

Adapun tugas dari Seksi Perlindungan tanaman yaitu sebagai berikut:

1. Menyusun rencana kerja perlindungan tanaman pangan dan hortikultura 2. Menyusun Juklak/Juknis kegiatan tanaman pangan dan hortikultura 3. Melakukan kegiatan pengamatan, peramalan OPT dan penyebarluasan

informasi OPT dan DPI

4. Melakukan persiapan pengendalian OPT dan DPI

5. Melaksanakan pengendalian OPT dan bimbingan pengendalian DPI 6. Melaksanakan bimbingan pengendalian OPT dan DPI

7. Melaksanakan Analisa dan Evaluasi hasil pengendalian OPT dan DPI 8. Melaksanakan pengembangan metode pengamatan dan peramalan OPT

spesifikasi lokasi

9. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan tugasnya.

4. Tugas Kelompok Jabatan Fungsinal POPT

Tugas pokok Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) sebagai berikut :

1. Menyusun rencana kerja pengamatan dan/atau peramalan dan/atau pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan

2. Melakukan pengkajian rencana kerja pengamatan, peramalan, dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan

(22)

14

3. Melakukan deteksi dan/ atau identifikasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan agens hayati secara biologis (taksonomi) sesuai dengan SOP yang berlaku agar kegiatan berjalan dengan lancar dan efisien

4. Melakuakan analisis faktor yang mempengaruhi perkembangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tingkat kesulitan I (1 faktor) sesuai dengan SOp yang berlaku agar kegiatan berjalan dengan lacar dan efisien

5. Melakukan eksplorasi agen hayati atau pestisida nabati sesuai dengan SOP yang berlaku untuk perlindungan tanaman pangan dan hortikultura 6. Melakukan pengamatan peredaran pestisida/bahan pengendali lainnya

sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku untuk organisme pengganggu tumbuhan (OPT)

7. Melakukan taksasi kehilangan hasil sesuai dengan SOP yang berlaku agar kegiatan berjalan dengan lancar dan efisien

8. Melakukan pemasyarakatan pemanfaatan agens hayati/pestisida nabati sesuai dengan SOP untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

9. Melakukan supervisi perlakuan OPT yang dilakukan pihak lain di laboratorium sebagai pelaksanaan perlakuan terhadap tanaman pangan.

10. Melakukan analisis dan evaluasi dampak faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan serangan/populasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan kehilangan hasil karena Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tingkat kesulitan I (1 faktor) sesuai dengan IK Analisis dan evaluasi untuk perlindungan tanaman pangan

11. Melakukan pemantauan atas pemanfaatan agens hayati sesuai dengan IK Analisis dan pengkajian untuk pengendalianOrganisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

(23)

15

12. Menjadi fasilitator dan melakukan bimbingan penerapan PHT kelompok tani dalam melaksanakan diskusi hasil pengamatan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan/atau faktor iklim sehingga menjamin perlindungan tanaman pangan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

13. Melakukan pengkajian terhadap efikasi pestisida, agens hayati, dan faktor pengendali lainsehingga menjamin perlindungan tanaman pangan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

14. Melakukan kajian RDK/RDKK atau rencana kerja pengamatan kelompok tani sebagai landasan untuk penyusunan RKA tahun yang akan dating 15. Melakukan kajian dan evaluasi kehilangan hasil akibat eksplosi

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di tingkat kelompok tani.

(24)

16

BAB II

RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS

A. Konsep Aktualisasi

Dalam sistem pebelajaran Pelatihan Dasar Calon PNS pada kurikulum yang menekan pada pembentukan karakter PNS, setiap peserta pelatihandituntut untuk mampu mengaktualisasikan substansi materi pembelajaran yang telah dipelajari melalui proses pembiasaan diri. Aktualisasi memiliki pengertian sebagai suatu proses untuk menjadikan pengetahuan dan pemahaman yang telah dimiliki terkait substansi mata pelatihan yang telah dipelajari dapat menjadi akyual/nyata/terjadi/sesungguhnya ada. Proses yang perlu dilakukan berdasarkan pengertian aktualisasi dalamproses pembelajaran atau pelatihan adalah bentuk kemampuan peserta dalam menginternalisasi substansi mata pelatihan kedalam praktik, mengubah konsep menjadi konstruk, menjadi gagasan sebagai kegiatan dengan memperhatikan nilai-nilai dasar ASN, kedudukan ASN dan perasn ASN dalam NKRI. Terdapat enam rangkaian kegiatan aktualisasi yang harus dilaksanakan oleh setiap peserta Latihan Dasar CPNS, yaitu 1) merancang aktualisasi nilai dasar profesi ASN, 2) mempresentasikan rancangan aktualisasi, 3) mengaktualisasikan nilai dasar ditempat tugas, 4) melaporkan pelaksanaan aktualisasi nilai dasar, 5) mempresentasikan laporan aktualisasi dan 6) menyusun rencana aksi penyempurnaan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN.

Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan salah satu sumber daya pemerintahan. ASN berperan sebagai pelayan publik, pelaksana kebijakan publik, dan perekat serta pemersatu bangsa. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, seorang ASN haruslah bersikap profesional dalam menjalankan perannya sebagai pelayan publik. Oleh karena itu, seorang ASN haruslah

(25)

17

memahami mengenai wawasan kebangsaan dan nilai-nilai bela negara serta menanamkan nilai-nilai dasar profesi ASN yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi atau yang diakronimkan menjadi ANEKA dan peran dan kedudukan ASN.

Nilai-nilai dasar ASN akan menjadi acuan dan pondasi dasar yang akan membentuk karkter ASN yang berdaya saing dan kompeten untuk menyambut cita-cita ASN berkelas dunia tahun 2045. Melalui kegiatan aktualisasi ini diharapkan nilai-nilai dasar ASN tertanam di dalam diri setiap Calon PNS.

Nilai-nilai dasar ASN yang wajib untuk diimplementasikan terangkum dalam rangkuman sebagai berikut:

1. Akuntabilitas

Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanhnya yaitu menjamin terwujudnya nilai-nilai publik antara lain, mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi; memiliki pemahamahan dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan ASN dalam praktek politik praktis. Untuk mencipatakan lingkungan kerja yang akuntabel, ada beberapa indikator nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus diperhatikan, yaitu tanggung jawab, jujur, kejelasan target, netral, mendahulukan kepentingan publik, adil, transparan, konsisten dan partisipatif.

2. Nasionalisme

Nasionalisme merupakan sikap cinta terhadap bangsa dan negara.

Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN, karena dengan jiawa nasionalisme yang kuat pegawai ASN memiliki orientasi

(26)

18

berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara. Sikap jiwa nasionalisme dapat ditunjukkan dengan cara mengamalkan setiap sila dari Pancasila di kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Nilai-nilai dasar dari nasionalisme adalah implementasi nilai-nilai Pancasila, dengan indikator sebagai berikut:

a. Sila pertama: Religius, toleran, etoas kerja, transaparan dan amanah b. Sila kedua: Berempati, humanis, tenggang rasa, persamaan derajat,

saling menghormati dan tidak diskriminatif

b. Sila ketiga: Cintah tanah air, rela berkorban, menjaga ketertiban, mengutamakan kepentingan publik dan gotong royong

c. Sila keempat: musyawarah mufakat, kekeluargaan, mengharagi pendapat dan bijaksana

d. Sila kelima: bersikap adil, tolong menolong, kerja keras dan sederhana

3. Etika Publik

Etika publik merupakan refleksi tentang standar, normal yang menentukan baik buruk, benar salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayana publik. Adapun nilai-nilai dasar etika publik yang harus dimiliki oleh seorang ASN, yaitu: Jujur, bertanggung jawab, berintegritas, cermat, disiplin, hormat, sopan santun, taat pada peraturan perundangundangan, taat perintah dan menjaga rahasia.

4. Komitmen Mutu

Komitmen mutu merupakan komitmen untuk menampilkan nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada customer sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, dan bahkan melampui harapannya.

(27)

19

Komitemen mutu menjamin tindakan untuk menghargai efektivitas, efisiensi, inovasi dan kinerja yang berorientasi mutu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Peran seorang PNS salah satunya adalah bagaimana memberikan perbaikan mutu layanan dan organisasi. Untuk memberikan mutu pelayanan dan organisasi yang baik, penting bagi pegawai ASN untuk memiliki komitmen mutu dengan indikator nilainya yaitu efektivitas, efisiensi, inovasi, berorientasi mutu, kualitas terjaga, dan profesional. Menurut Zeithmalh et al. (1990) dalam Modul Pelatihan Dasar CPNS terdapat 10 ukuran dalam menilai mutu pelayanan, yaitu tanngible (nyata/berwujud), reliability (keandalan), responsiveness (cepat tanggap), competence (kompetensi), access (kemudahan), courtesy (keramahan), communication (komunikasi), credibillity (kepercayaan), security (kemanan), dan understanding the customer (pemahaman pelanggan).

5. Anti korupsi

Korupsi dapat dikatakan sebagai tindakan penyalahgunaan jabatan resmi untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Dampak korupsi tidak hanya sekedar menimbulkan kerugian negara, namun dapat menimbulkan kerusakan kehidupan yang tidak hanya bersifat jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Sehingga penting bagi pegawai ASN untuk bertindak anti korupsi. Anti korupsi sendiri merupakan tindakan atau gerakan yang dilakukan untuk memberantas segala tingkah laku atau tindakan korupsi.

Tindak pidana korupsi yang terdiri dari kerugian negara, suap menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi. Untuk menghindari tindakan korupsi, pegawai ASN harus memiliki nilai-nilai anti korupsi dalam menjalankan tugas jabatannya. Adapun nilai-nilai dasar anti

(28)

20

korupsi yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil.

Pegawai ASN berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan Instansi Pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik. Sedangkan perannya adalah sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Untuk dapat menjalankan perannya dengan baik, Pegawai ASN memiliki fungsi sebagai: 1) Pelaksana kebijakan publik, 2) Pelayan publik, dan 3) Perekat dan pemersatu bangsa.

Kedudukan dan peran ASN dalam NKRI juga diimplementasikan dalam rancangan kegiatan aktualisasi melalui penerapan manajemen ASN, pelayanan publik dan whole of goverment (WoG). Kedudukan dan peran ASN dalam NKRI yang diimplementasikan terangkum dalam rangkuman sebagai berikut:

1. Manajemen ASN

Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan neoptisme.

Manajemen ASN lebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai, sehingga diharapkan akan tersedia sumber daya ASN yang unggul dan selaras dengan perkembangan jaman. Hal-hal yang tercakup dalam manjamen ASN sesuai dengan UU ASN adalah mengenai pengelolaan ASN untuk menghasilkan ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi publik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan neoptisme. Pengelolaan atau manajemen ASN pada dasarnya

(29)

21

adalah kebijakan dan praktek dalam mengelola aspek manusia atau sumber daya manusia dalam organisasi termasuk dalam hal ini adalah pengadaan, penempatan, mutasi, promosi, pengembangan, penilaian dan penghargaan. Manajemen ASN terdiri dari penyusunan dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pengadaan, pangkat dan jabatan, pengembangan karier, pola karier, promosi, penilaian kinerja, penggajian dan tunjungan, penghargaan, disiplin, pemberhentian, jaminan pensiun dan jaminan hari tua, dan perlindungan. Dalam pengelolaan ASN terdapat asas-asas yang harus diterapkan, yaitu kepastian hukum, profesionalitas, proporsionalitas, keterpaduan, delegasi, netralitas, akuntabilitas, efektif fan efisien, keterbukaan, non diskriminatif, persatuan, kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan

2. Pelayanan Publik

Pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas jasa, barang dan atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggaraan publik. Untuk memberikan pelayanan prima, penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan kepentingan umum, kepastian hukum, kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban, keprofesionalan, partisipatif, persamaan perlakuan tidak diskriminatif, keterbukaan, akuntabilitas, fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan, ketepatan waktu, dan kecepatan, kemudahan, dan keterjangkuan.

Tercapainya kualitas pelayanan prima dapat tercermin dari: transparansi, efektif dan efisien, kelengkapan sarana dan prasaran, akuntabilitas, dan aksesibel.

(30)

22 3. Whole of Goverment (WoG)

Whole of Goverment (WoG) adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. Singakatnya WoG merupakan pendekatan penyelenggaraan pemerintahan dengan menekankan aspek kebersamaan dan menghilangkan sekat-sekat sektoral melalui pendekatan formal maupun informal untuk menjadi kesatuan menuju tujuan bersama. Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan mengapa WOG menjadi penting dan tumbuh sebagai pendekatan yang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pertama, adalah adanya faktor- faktor eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan integrasi kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik. Selain itu perkembangan teknologi informasi, situasi dan dinamika kebijakan yang lebih komplek juga mendorong pentingnya WoG dalam menyatukan institusi pemerintah sebagai penyelenggara kebijakan dan layanan publik. Nilai-nilai indikator yang ada dalam WoG yaitu komunikasi, koordinasi, kolaborasi, dan integrasi.

B. Isu Aktualisasi 1. Identifikasi Isu

Pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) sebagai ASN yang melaksanakan tugas sebagai pengendali organisme pengganggu tumbuhan yang merupakan permasalahan penting dalam pertanian sehingga mempengaruhi hasil pertanian petani. Semakin tinggi OPT maka semakin rendah hasil

(31)

23

pertanian yang didapatkan petani begitupun sebaliknya semakin rendah OPT maka hasil pertanian akan tinggi atau meninggkat. Rancangan aktulisasi ini dimulai dengan mengidentifikasi isu yang muncul pada instansi kerja penulis, yaitu UPT Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau dengan wilayah kerja Kecamatan Batang tuaka. Isu dapat diperoleh dari berbagai sumber, yaitu:

1) hasil obeservasi dan pengalaman penulis selama kurang lebih 7 bulan ditugaskan,

2) tugas pokok dan fungsi penulis sebagai POPT,

3) sasaran kinerja pegawai. Berdasarkan keadaaan yang ada di lapangan selama melaksanakan tugas sebagai POPT,

terdapat beberapa isu aktual yang ditemukan penulis yang memerlukan penyelesaian. Isu-isu tersebut antara lain:

a. Masih kurangnya kemampuan dan pengetahuan petugas POPT dalam mengidentifikasi hama dan gejala serangan Organisme Pengganggu dikec. Batang tuaka.

Petugas Pengandali Organisme Pengganggu Tumbuhan memiliki peran penting dalam upaya peningkatan produksi tanaman khusunya pada tanaman pangan dan hortikultura. Adapun peran petugas POPT yaitu Pelaksanaan pengamatan, peramalan, pemeriksaan, pengasingan, dan Pengendalian OPT/tindakan karantina, analisa dan evaluasi hasil Pengendalian OPT, bimbingan Pengendalian OPT, pengembangan metode pengamatan/peramalan/pengendalian/tindakan karantina, pemantauan daerah sebar OPT, pembuatan koleksi, visualisasi, dan informasi. Akan tetapi karena kurangnya kemampuan dan pengetahuan petugas POPT dalam identifikasi OPT serta menindakalanjuti dari tingkat

(32)

24

serangan OPT perannya sebagai Petugas POPT belum maksimal dan berdampak pada hasil produksi serta belum mampunya petugas dalam memberikan edukasi tentang OPT kepada petani.

b. Rendahnya pengetahuan petani terhadap pemanfaatan musuh alami terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan di kecamatan Batang tuaka.

OPT dianggap sebagai musuh bagi petani karena dampaknya membawa kerusakan tanaman dan menyebabkan penurunan produktivitas serta nilai ekonomis, sehingga perlu diterapkannya tahapan pengendalian.

Kelimpahan musuh alami di alam berkaitan erat dengan cara pengelolaan lahan pertanian. Usaha pengendalian hama yang dilakukan manusia seringkali mengubah tatanan ekosistem alami yang ada sehingga terkadang bukannya menekan tetapi malah mendukung perkembangan serangga hama. Optimalisasi musuh alami dapat dilakukan melalui tindakan konservasi, yaitu memberikan lingkungan yang mendukung terhadap keberadaan musuh alami. Apabila musuh alami mampu berperan secara optimal sejak awal, maka populasi serangga hama dapat dijaga untuk selalu berada pada tingkat yang rendah. Salah satu tindakan konservasi musuh alami yang dapat dilakukan misalnya penanaman tanaman refugia disekitar pertanaman.

c. Masih rendahnya Penerapan teknik Pengendali Hama Terpadu (PHT) menggunakan pestisida nabati di kec. Batang tuaka

Penggunaan pestisida nabati merupakan salah satu cara yang aman dan ramah lingkungan untuk meminimalkan kehilangan hasil akibat serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Namun penggunaan Pestisida nabati dilingkungan pertanian Kecamatan Batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir masih kurang maksimal dikarenakan masih tingginya penggunaan pestisida kimiawi yang dapat menyebabkan OPT

(33)

25

rentan terhadap bahan kimia jika diaplikasikan secara terus menerus, sehingga perkembanganya semakin pesat dan salahh satu kelemahan lainnya dari penggunaan pesitisida kimia yaitu dapat mengurangi Predator sebagai musuh alami dari OPT yang ada pada tanaman pangan atau hortikultura.

d. Belum tersedianya Klinik PHT di kecamatan Batang Tuaka

Klinik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan salah satu kelembagaanpetani di tingkat kecamatan yang berfungsi memproduksi Agen Pengendali Hayati ditingkat petani dan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan proses budidaya tanaman di lahan mereka. Keberadaan klinik ini diharapkan dapat membantu petani dalam dalam pengelolaan hama penyakit agar tanaman yang petani tanam terhindar dari hama penyakit. Dampak tidak terjadi apabila tidak adanya klinik PHT di kecamatan yaitu sulitnya bagi petugas POPT dalam memperbanyak agen pengendali hayati, sulitnya bagi petani untuk mendapatkan bahan pengendalian yang ramah lingkungan, tidak tersedianya tempat bagi petani untuk berkonsultasi untuk mengatasi kejadian dilapangan yang disebabkan oleh hama penyakit tanaman.

2. Rumusan Isu

Berdasarkan identifikasi isu, maka dirumuskan 3 isu aktualisasi yang di Kecamatan Batang Tuaka :

a. Masih kurangnya kemampuan dan pengetahuan petugas POPT dalam mengidentifikasi hama dan gejala serangan Organisme Pengganggu dikec. Batang tuaka.

b. Rendahnya pengetahuan petani terhadap pemanfaatan musuh alami terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan di kecamatan Batang tuaka.

(34)

26

c. Masih rendahnya Penerapan teknik Pengendali Hama Terpadu (PHT) menggunakan pestisida nabati di kec. Batang tuaka

d. Belum tersedianya Klinik PHT di kecamatan Batang Tuaka 3. Seleksi Isu

Dalam upaya menyikapi isu-isu aktual serta tantangan perubahan dan perkembangan yang terjadi berdasarkan tugas pokok dan fungsi POPT, perlu ditentukan isu prioritas yang akan ditangani. Penentuan isu aktual prioritas dilakukan dengan menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu. Perlu dilakkan penapisan isu untuk menentukan Core issue Untuk diangkat menjadi isu ytama dalam rancangan aktualisasi. Proses tapisan isu menggunakan alat bantu penetapan kualitas dengan analisi kriteria Aktual, Problematik, Kekhalayakan dan Kelayakan (APKL),

Analisis APKL merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menguji kelayakan suatu isu untuk dicarikan solusinya dalam kegiatan aktualisasi. Analisis metode APKL untuk menunjukkan isu-isu yang memenuhi kriteria agar dapat di angkat menjadi isu utama.

Tabel 1 Indikator analisis metode APKL

NO Indikator Keterangan

1 Aktual (A) Isu yang sedang terjadi atau dalam proses kejadian, sedang hangat dibicarakan, atau isu

yang diperkirakan bakal terjadi dalam waktu dekat, bukan isu yang sudah lepas dari perhatian masyarakat atau isu yang sudah basi.

2 Problematik (P) Isu yang menyimpang dari harapan standar,ketentutan yang menimbulkan kegelisahan yang perlu segera dicari penyebab dan pemecahannya.

(35)

27

3 Kekhalayakan (K) Isu yang secara langsung menyangkut hajat hidup orang banyak, masyarakat pelanggan pada umumnya, dan bukan hanya untuk kepentingan seseorang atau sekelompok kecil orang tertentu saja

4 Kelayakan (L) Isu yang masuk akal (logis), pantas, realistis, dan dapat dibahas sesuai dengan tugas, hak, wewenang, dan tanggung jawab

Dari penjelasan masing-masing aspek APKL, maka isu aktual akan dipetakan dalam kaitan prioritasnya dalam tabel berikut ini :

Tabel 2 Analisis Isu dengan metode APKL N

O Isu

Kriteria ketera ngan A P K L

1 Masih kurangnya kemampuan dan

pengetahuan petugas POPT dalam

mengidentifikasi hama dan gejala serangan

Organisme Pengganggu Tumbuhan di kec.Batang tuaka.

    Tidak meme nuhi kriteri a

2 Masih rendahnya pengetahuan petani terhadap pemanfaatan musuh alami terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan di kecamatan Batang Tuaka

    Tidak meme nuhi kriteri a 3 Masih rendahnya penerapan Pengendali Hama Terpadu

(HPT) menggunakan pestisida nabati dikec. Batang tuaka.

    Meme nuhi kriteri a

(36)

28

4 Belum tersedianya Klinik PHT di kecamatan Batang Tuaka

   - Tidak meme nuhi kriteri a

Dari analisis dengan metode APKL diperoleh isu-isu yang memenuhi kriteria sehingga akan ditapis lagi dengan Metode analisis USG untuk mendapatkan isu utama. Metode USG merupakan salah satu cara untuk menyusun urutan prioritas isu yang harus diselesaikan dengan menentukan skala nilai 1-5 dan dengan mempertimbangkan tiga komponen dalam metode USG.

1. Urgency artinya seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan waktu yang tersedia serta seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk memecahkan masalah yang menyebabkan isu tadi.

2. Seriousness artinya seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang menimbulkan isu tersebut atau akibat yang menimbulkan masalah-masalah lain kalau masalah penyebab isu tidak dipecahkan. Perlu dimengerti bahwa dalam keadaan yang sama, suatu masalah yang dapat menimbulkan masalah lain adalah lebih serius bila dibandingkan dengan suatu masalah lain yang berdiri sendiri.

3. Growth artinya seberapa kemungkinan-kemungkinannya isu tersebut menjadi berkembang dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan semakin memburuk kalau dibiarkan.

Adapun kriteria penetapan indikator USG, yaitu:

(37)

29 Urgency:

1 : tidak penting 2 : kurang penting 3 : cukup penting 4 : penting

5 : sangat penting Seriousness:

1 : akibat yang ditimbulkan tidak serius 2 : akibat yang ditimbulkan kurang serius 3 : akibat yang ditimbulkan cukup serius 4 : akibat yang ditimbulkan serius 5 : akibat yang ditimbulkan sangat serius Growth:

1 : tidak berkembang 2 : kurang berkembang 3 : cukup berkembang 4 : berkembang 5 : sangat berkembang

Ketiga isu di atas dianalisis menggunakan metode USG untuk mengetahui isu prioritas. Analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

(38)

30

Tabel 3 Analisis isu menggunakan metode USG No Pokok Bahasan Isu Kriteria Isu Tot

al Peringkat U S G

1 Masih kurangnya kemampuan dan pengetahuan petugas POPT dalammengidentifikasi hama dan gejala serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan di kec.

Batang tuaka.

3 3 3 9 II

2 Masih rendahnya pengetahuan petani terhadap pemanfaatan musuh alami terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan di kecamatan Batang Tuaka

3 2 2 7 III

3 Masih rendahnya penerapan

Pengendali Hama Terpadu (HPT) menggunakan pestisida nabati dikec.

Batang tuaka.

4 4 4 12 I

Berdasarkan hasil tapisan isu dengan menggynakan teknik USG, maka diperoleh isu utama (Core issue) yaitu Masih rendahnya penerapan Pengendali Hama Terpadu (HPT) menggunakan pestisida nabati di Kecamatan Batang tuaka. sebanyak 12 poin. Berikut alasan kenapa isu tersebut penting:

a. Kriteria Urgency dengan skala 4 artinya penting

Isu masih rendahnya penerapan PHT menggunakan pestisida nabati di lahan pertanian kecamatan Batang Tuaka Kabupaten Indragiri

(39)

31

Hilir menjadi penting karena banyaknya penggunaan pestisida Kimia oleh petani, sehingga akan mengakibatkan dampak negatif bagi lingkungan maupun dampak negatif lainnya

b. Kriteria Seriousness dengan skala 4 artinya gawat

Isu masih rendahnya penerapan PHT menggunakan pestisida nabati di lahan pertanian kecamatan BatangTuaka Kabupaten Indragiri Hilir menjadi gawat apabila tidak segera ditangani maka

akan menyebabkan lahan sawah tidak produktif dan akan berpengaruh terhadap hasil panen.

b. Kriteria Growth dengan skala 4 artinya cepat

Isu Masih rendahnya penerapan PHT di lahan pertanian Batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir menjadi ini berkembang cepat, dimana jika petani tidak mengelola lahannya dengan teknologi ramah lingkungan maka akanmenyebabkan penurunan hasil panen.

4. Penyebab Isu

Gambar 3 Diagram Fishbone

Masih rendahnya penerapan pestisida nabati dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan dikec.

Batang tuaka.

individu O rganisasi

Budaya Kekurangan

Lemahanya pengetahuan

Pola pikir yang petani masih rendah.

Tidak adanya dukungan dari organisasi Tidak adanya edukasi

pestisida penerapan

nabati Tingginya

penggunaan pestisida

kimiawi P

e m

Embuata n

pestisida Pestisida yang masih

Masih sulit

(40)

32 5. Aktor yang Terlibat

a. Petani yang akan menjadi objek pemberian materi tentang pengendali hama terpadu.

b. Petugas POPT yang bertugas sebagai pengamat hama pada tanaman pangan dan hortikultura serta sebagai pemberi materi

c. Penyuluh Pertaniang Lapangan (PPL) yang mendampingi petugas POPT dalam melaksanakan kegiatan.

6. Nilai Aneka yang Dilanggar a. Akuntabilitas

Petugas POPT yang masih belum menerapakan nilai akuntabilitas yaitu nilai konsistensi dalam melaksanakan tugas sebagai pengamat hama tanaman

b. Nasionalisme

Petugas POPT yang masih belum menerapkan nilai Nasionalisme yaitu nilai dasar rasa musyawrah, karena petugas tidak melakukan diskusi saat ada nya serangan hama

c. Etika Publik

Adapun nilai etika publik yang tidak diterapkan yaitu kurang Integritasnya petugas popt dalam melaksanakan tugas karna masih mementingkan diri sendiri.

d. Komitmen Mutu

Petugas POPT masih belummenerapkan nilai komitmen mutu yaitu nilai dasar kurang inovatif dalam melaksanakan tugas.

(41)

33 e. Anti korupsi

Adapun nilai dasar yang belum diterapkan yaitu nilai dasar disiplin. Petugas POPT masih belum disiplin dalam melaksanakan tugas.

7. Dampak isu

a. Akan meningkatnya Organisme Pengganggu Tumbuhan yang menyerang tanaman.

Hama adalah organisme pengganggu tumbuhan dengan mencari makan pada tanaman baik yang sengaja dibudidayakan maupun yang tidak dibudidayakan. Adapun hama yang menyerang tanamanan ini akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu jika hama sesuia dengan lingkungannya, sehingga hama akan terus meningkat jika tidak dikendalikan . pestisida nabati merupaka cara yang alami untuk mengendalikan hama yang menyerang tanaman, karena pestisida nabati tidak menyebabkan kerusakan baik pada hama, musuh alami maupun lingkungan sehingga aman untuk digunakan untuk pengendalian OPT.

b. Meningkatnya penggunaan pestisida kimiawi

Pestisida kimia adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk membasmi dan menolak adanya Organisme pengganggu tumbuhan. Jika tidak diterapkannya pengendalian OPT menggunakan Pestisida nabati maka sangat disayangkan jika petani menggunakan pestisida kimiawi karena pemaka pestisida kimia dapat meninmbulkan banyak kerugian jika dilakukan secara terus menerus. Adapun kerugian yang ditimbulkan yaitu, pestisida kimiawi mampu membunuh musuh alami atau predator untuk OPT yang menyerang tanaman khususnya tanaman yang dibudidayaka, Sehingga berkurangnya populasi predator disuatu wilayah tertentu. Kemudian menyebabkan resisten terhadap OPT karena opt sudah beradaptasi dengan pestisida nabati sehingga

(42)

34

pestisida nabati tidak berpengaruh lagi terhadap OPT. Kemudian kerugian lainnya yaitu tidak ramah lingkugan.

c. Menurunya hasil pertanian

Jika kegiatan pengendalian tidak dilakukan maka dapat mengakibatkan menurunnya hasil pertanian tanaman yang dibudidaya dikarenakan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) semakin meningkat.

C. Gagasan penyelesaian isu

Berdasarkan isu prioritas yang diperoleh dari analisis yang dilakukan, maka gagasan inovatif penyelesaian isu adalah “Masih rendahnya penerapan Pengendali Hana Terpadu (PHT) menggunakan pestisida nabati” . Untuk dapat mewujudkan gagasan penyelesaian isu tersebut, dibutuhkan beberapa rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN di tempat kerja. Rangkaian kegiatan aktualisasi yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Membuat leaflet tentang pht menggunakan pestisida nabati 2. Mempersiapkan alat dan bahan dan membuat pestisida nabati 3. Melakukan pengaplikasian pestisida nabati

4. Melakukan evaluasi hasil kegiatan

Tabel 4 kegiatan I membuat leaflet tentang PHT menggunakan pestisida nabati

No

Uraian Keterangan

1 Tahapan Kegiatan 1. Melakukan konsultasi dengan koordinator dan mentor

2. Mengumpulkan referensi dari berbagai sumber tentang Pestisida Nabati

(43)

35

3. Menyusun materi dalam bentuk leaflet 4. Melakukan perbanyakan Leaflet 2 Ouput/Hasil Tersedianya leaflet yang akan dibagikan

kepada kelompok tani sebagai bahan bacaaan sebanyak satu kegiatan

3 Keterkaitan Substansi dengan Agenda II

A. Akuntabilitas

Dalam pembuat leaflet, saya akan menerapakan nilai tanggung jawab dengan menggunakan teknik kroscek dengan langkah- langkah :

a) Melakukan konsultasi dengan mentor dan koordinator dan meminta saran mengenai penbuatan leaflet

b) Melakukan kroscek dari referensi dari berbagai sumber dengan materi yang akan dibagikan

c) Melaporkan kegiatan pembuatan leaflet sebagai bentuk tanggung jawab.

B. Nasionalisme :

Dalam kegiatan pembuatan Leaflet, saya akan menerapkan nilai Musyawarah (Sila ke- 4) menggunakan teknik diskusi dengan langkah-langkah :

a) Melakukan diskusi dengan mentor dan koordinator mengenai pembuatan leaflet b) melakukan diskusi dengan penyuluh

(44)

36

pertanian dilapangan dalam pembuatan leaflet dan meminta saran serta masukan dalam pembuatan leaflet.

c) melakukan diskusi dengan rekan kerja dalam pembuatan Leaflet dan meminta saran

sertamasukan pembuatanLeaflet C. Etika Publik

Dalam kegiatan pembuatan Leaflet, saya akan menerapkan nilai sopan santun

menggunakan teknik komunikasi efektif dengan langkah-langkah :

a) Mengucapkan salam saat memasuki ruangan koordinator dan mentor

b) Meminta saran dan pendapat tentang penyusunan leaflet kepada koordinator dan mentor

c) menghargai penjelasan dan saran yang diberikan koordinator dan mentor.

D. Komitmen mutu

Dalam kegiatan penyusunan dan

pembuatan leaflet , saya akan menerapkan nilai efektif mengginakan teknik PDCA dengan langkah-langkah :

a) Plan : merancang draf untuk pembuatan Leaflet

b) Do : membuat leaflet dengan kalimat yang

(45)

37 4 Keterkaitan Subtansi

Dengan Agenda III

efektif agar dimengerti oleh pembaca c) Check : memeriksa leaflet apakah sesuai standar/ sesua

d) Act : jika leaflet sudah sesuai dan efektif maka akan diadopsi, Jika kurang efektif maka akan diadaptasi, dan jika tidak efektif, maka tidak diabadon.

E. Anti korupsi

Dalam kegiatan pembuatan leaflet , saya akan menerapkan nilai disiplin menggunakan teknik laporan dengan langkah-langkah : a) Disiplin dalam pembuatan leaflet sebagai tugas dan tanggung jawab seorang POPT b) Menyelesaikan leaflet tepat waktu sebelum membagikan ke petani

c) Disiplin dalam melaporkan kegiatan pembuatan leaflet kepada coach A. Manajemen ASN

Dalam kegiatan penbuatan leaflet

dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab , yaitu membuat leaflet dengan materi danmedia yang akan dignakan, sehingga tujuan tercapai dengan baik

B. Pelayanan publik :

Dengan terlaksananya kegiatan akan mempermudah petani dalam penerapan PHT

(46)

38

menggunakan pestisida nabati.

C. Whole Of Goverment

Dalam kegiatan pembuatan leaflet, dilaksanakan dengan menerapkan koordinasi bersama mentor , koordinator dan penyuluh pertanian sehingga mendapat banyak masukan untuk pembuatan leaflet

5 Kontribusi terhadap visi dan misi

Dengan terlaksananya kegiatan

pembuatan leaflet maka mendukung misi dari UPT perlindungan tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu meningkatkan pengetahuan petani, keterampilan dan kemampuan petani tentang PHT.

6 Penguatan nilai-nilai organisasi

Dengan terlaksanaya kegiatan ini diharapkan dapat mewujudkannilai-nilai organisasi yaitu komitmen, keteladanan , profesionalisme dan integritas

Tabel 5 kegiatan 2 mempersiapkan alat dan bahan dan membuat pestisida nabati

No Uraian Keterangan

1 Uraian kegiatan a. Membuat janji pertemuan dengan kelompok tani

b. Membuat daftar hadir

c. Membagi tugas bersama petani untuk

(47)

39

mengumpulkan alat dan bahan yang dibutuhkan

d. Melakukan pembuatan pestisida nabati 2 Output/hasil a. Tersedianya alat dan bahan sebanyak satu

kegiatan

b. Tersedianya pestisida nabati sebanyak 10 liter

3 Keterkaitan Substansi dengan Agenda II

A. Akuntabilitas

Dalam melaksanakan kegiatan ini saya akan menerapkan nilai tanggung jawab menggunakan teknik dokumentasi dengan langkah-langkah :

a) Menyiapkan semua alat dan bahan sesuai dengan referensi , lalu digunakan dokumentasi untuk dilaporkan kepada coach.

b) Melakukan pembuatan pestisda nabati berdasarkan prosedur dari referensi yang diambil, dengan didokumentasikan agarbisa dilaporkan kepada caoch.

B. Nasionalisme

Dalam melaksanakan kegiatan ini, saya akan menerapkan nilai kerja sama (sila ke-3) menggunakan teknik kolaborasi dengan langkah-langkah :

a) Menjalin kerjasama dalam mengumpulkan alat dan bahan untuk pembuatan pestisida nabati

(48)

40

sehingga kegiatan dapat dilaksanakan b) bekerja sama dalam pembuatan pestisida nabati

C. Etika publik

Dalam melaksanakan kegiatan ini , saya kana menerapkan nilai sopan santun dengan menggunakan teknik komunikasi efektif dengan langkah-langkah :

a) mengucapkan salam dan sapa saat melakukan pertemuan dengan petani

b) Menggunakan bahasa yang santun saat

membagi tugas kepada petani untuk menyiapkan alat dan bahan

D. Komitmen mutu

Dalam melaksanakan kegiatan ini, saya akan menerapkan nilai efektif mengguanakan teknik PDCA dengan langkah-langkah : a) Plan : Mengunakan alat dan bahan yang mudah untuk didapatkan petani

b) Do : Membuat pestisida dengan mudah dan murah

c) Check : memeriksa alat dan bahan apakah sudah efektif

d) Act : Jika efektif, maka akan diadipsi, jika kurang efektif , maka akan diadaptasi, jika tida efektif, maka akan diabandon

(49)

41 4 Keterkaitan Subtansi

dengan Agenda III

E. Antikorupsi

Dalam melaksanakan kegiatan ini, saya akan menerapkan nilai tanggung jawab dengan mengguanakan teknik dokumentasi dengan langakah-langkah :

a) melaksanakan tanggung jawab dengan mengumpulkan semua alat dan bahan sesuai dengan referensi yang digunakan, lalu didokumentasi dalam bentuk foto untuk dilaporkan kepada coach bahwa tahapan ini telah dilaksanakan

b) bertanggung jawab dalam pembuatan pestisida nabati berdasarkan kemampuan dan kebutuhan

A. Manajemen ASN

Dalam melakukan kegiatan ini, dilaksanakan dengan menerapkan nilai profesional dan disiplin sehingga dapat

meyelesaikan pembuatan pestisida dengan tepat waktu

B. Pelayanan publik

Dalam menyiapkan alat dan bahan ,dilaksanakan dengan menerapkan nilai

Aksesible yang digunakan dapat dengan mudah dicari oleh petani

C. Whole Of Goverment

(50)

42

Dalam menyiapkan alat dan bahan serta pembuatan pestisida nabati , dilaksanakan dengan menerapkan nilai Kolaborasi bersama petani serta penyuluh pertanian

5 Keterkaitan terhadap visi dan misi

Dengan terlaksananya kegiatan ini maka mendukung misi dari UPT perlindungan

tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu

meningkatkan pengetahuan petani, keterampilan dan kemampuan petani tentang PHT.

6 Penguatan nilai-nilai organisasi

Dengan terlaksananya kegiatan ini akan memperkuat nilai keteladanan dan

profesional.

Tabel 6 kegiatan 3 melakukan pengaplikasian pestisida nabati

No Uraian Keterangan

1 Uraian kegiatan 1. Menyiapkan pestisida nabati dan alat semprot

2. Menentukan lokasi

3. Melakukan aplikasi pestisida nabati

2 Output/hasil Tercapainya kegiatan pengendalian OPT dengan pestisida nabati

3 Keterkaitan substansi Agenda II

A. Akuntabilitas

Dalam melaksanakan kegiatan pengaplikasian pestisida nabati,saya akan menerapkan nilai tanggung jawab dengan

(51)

43

menggunakan teknik dokumentasi dengan langkah-langkah :

a)Melaksanakan pengaplikasian pestisida nabati dengan penuh tanggung jawab dalam menyiapkan pestisida dan menyediakan pestisida yang dibutuhkan

b) melaksanakanpengaplikasian pestisida nabati diwkatu yang telah ditentukan bersama petani B. Nasionalisme

Dalam melaksanakan kegiatan pengaplikasian pestisida nabati, saya akan menerapkan nilai Kerja sama (sila ke-3) dengan menggunakan teknik kolaborasi dengan langkah-langkah :

a)Menjalin kerjasama dengan PPL dan kelompok tani dalam menetapkan lokasi dan waktu untuk pengaplikasian pestisida nabati b) saling bekerjasama dalam melaksanakan pengaplikasian pestisida nabati agar kegiatan dilaksanakan dengan tepat waktu

C. Etika publik

Dalam melaksanakan kegiatan pengapliaksaian pestisida nabati, saya akan menerapkan nilai Sopan Santun dengan mengguanakan teknik komunikasi efektif

(52)

44

dengan langkah-langkah :

a) Saat penentuan Lokasi dan waktu yang akan ditetapkan perlu disampaikan dengan bahasa yang santun dan mudah dimengerti oleh kelompok petani agar denga musyawah.

b) mengguanakan bahasa yang santun saat pembagian tugas pengaplikasian pestisida nabati

D. Komitmen mutu

Dalam melaksanakan kegiatan pengaplikasian pestisida nabati, saya akan menerapkan nilai efektif dengan mengguanakan teknik PDCA dengan langkah-langkah :

a) Plan : Merencanakan pelaksanaan kegiatan pengaplikasian pestisida nabati

b) Do : Melaksanakan kegiatan pengapliaksian di lokasi dan waktu yang telahditetapkan

c) Check : memeriksa apakah kegiatan pengaplikasian nabati efektif dalam pengendalian OPT

d) Act : Jika Kegiatan efektif dilaksanakan , maka akan diadopsi, jika kegiatan kurang efektif , maka akan diadaptasai, dan jika kegiatan tidak efektif , maka akan diabandon.

E. Anti korupsi

(53)

45

Dalam melaksanakan kegiatan pengaplikasian pestisida nabati, saya akan menerapkan nilai disiplin dengan mengguankan teknik dokumentasi dengan langkah-langkah :

a) kegiatan pengaplikasian pestisida nabati harus dilaksanakan diwaktu yang tepat

b) melaksanakan pengaplikasian sesuai perjanjian waktu dan lokasi yang telah ditetapkan

4 Keterkaitan substansi dengan Agenda III

A. Manajemen ASN

Dalam melaksanakan kegiatan pengaplikasian pestisida nabati dengan menerapkan nilai profesional, dengan melaksanakan tugas sesua rancngan

B. Pelayanan publik

Dalam melaksanakan kegiatan pengaplikasian pestisida nabati diharapkan kegiatan aplikasi pestisida nabati memberikan kemudahan bagi petani dalam mengendalikan OPT

C. Whole Of goverment

Dalam melaksanakan kegaiatan pengaplikasian pestisida nabati, diterapkan nilai komunikasi dan kolaborasi bersama kelompok tani dan PPL

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam membentuk karakter PNS yang kuat, yaitu PNS yang mampu bersikap dan bertindak profesional dalam melayani masyarakat

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan Rahmat dan Karunia- Nya Rancangan Aktualisasi Calon Pegawai Negeri Sipil dalam Pelatihan Dasar CPNS Golongan III

Sesuai dengan Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2021 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil, maka ditetapkan mekanisme

Sebagai salah satu metode penanaman nilai dasar ASN dan pemahaman akan peran dan kedudukan ASN kepada Calon Pegawai Negeri Sipil diselenggarakanlah Pelatihan Dasar Calon

Berdasarkan Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS), yang dimaksud Pelatihan Dasar CPNS

Dengan pertimbangan di atas, peserta pelatihan dasar CPNS Golongan III Tahun 2021 ditugaskan untuk merancang aktualisasi nilai-nilai dasar ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme,

Keberhasilan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), termasuk profesi tenaga pendidikan atau guru dalam mengikuti pelatihan dasar diukur dari kemampuan menunjukkan sikap

Tujuan aktualisasi bagi peserta Pelatihan Dasar adalah peserta mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS, yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen