• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta Jalan Peneliti

Dalam dokumen REDESAIN STASIUN KERJA ERGONOMIS (Halaman 21-0)

BAB II KAJIAN LITERATUR

2.8 Peta Jalan Peneliti

Roadmap penelitian yang menunjukkan peta jalan peneliti dalam meneliti bidang desain produk dituliskan dalam bentuk Fishbone Diagram, terlihat pada Gambar 3 berikut:

Gambar 3. Diagram Fishbone Peta Jalan Peneliti

BAB III

STASIUN KERJA LAMA

3.1 Dimensi Stasiun Kerja

Dimensi kelima Stasiun Kerja eksisting yakni Stasiun Kerja Peleburan (Gambar 4), Stasiun Kerja Penempaan (Gambar 5), Stasiun Kerja Pembentukan (Gambar 6), Stasiun Kerja Perakitan (Gambar 7) dan Stasiun Kerja Poles (Gambar 8) ditunjukkan sebagai berikut:

Dimensi Stasiun Kerja Peleburan:

Panjang : 90 cm Lebar : 60 cm Tinggi : 85 cm

Gambar 4. Stasiun Kerja Peleburan

Dimensi Stasiun Kerja Penempaan Diameter kayu: 30 cm

Tinggi: 53 cm

Gambar 5. Stasiun Kerja Penempaan

Dimensi Stasiun Kerja Pembentukan:

Panjang : 135 cm Lebar : 30 cm Tinggi : 65 cm Gambar 6. Stasiun Kerja Pembentukan

Dimensi Stasiun Kerja Perakitan:

Panjang : 90 cm Lebar : 60 cm Tinggi : 85 cm

Gambar 7. Stasiun Kerja Perakitan

Dimensi Stasiun Kerja Poles:

Panjang : 70 cm Lebar : 60 cm Tinggi : 85 cm

Gambar 8. Stasiun Kerja Poles

3.2 Data Nordic Body Map (NBM)

Data Nordic Body Map (NBM) diperoleh dengan membagikan kuesioner kepada operator tentang keluhan sakit pada bagian tubuh yang dirasakan pada saat melaksanakan pekerjaannya. Distribusi Tingkat Keluhan Musculoskeletal Disorders ditunjukkan dalam Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Distribusi Tingkat Keluhan Musculoskeletal Disorders

Stasiun Kerja Tidak Sakit Agak Sakit Keterangan

Operator Prosentase Operator Prosentase

Pembentukan 3 30 % 7 70 %

Sakit Pada Bagian Bahu Kiri Sakit Pada Bagian Bahu Kanan

Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kiri

Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kanan

Sakit Pada Bagian Punggung Sakit Pada Bagian Pinggang

Perakitan 3 30 % 7 70 %

Sakit Pada Bagian Leher Atas Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kanan

Sakit Pada Bagian Pergelangan Tangan Kanan Sakit Pada Bagian Punggung Sakit Pada Bagian Pinggang

Stasiun Kerja Agak Sakit Sakit

Keterangan Operator Prosentase Operator Prosentase

Peleburan

9 90 % 1 10 %

Sakit Pada Bagian Leher Atas Sakit Pada Bagian Leher Bawah

Sakit Pada Bagian Tangan Kiri

8 80 % 2 20 %

Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kiri

Sakit Pada Bagian Siku Kiri Sakit Pada Bagian Paha Kanan

Sakit Pada Bagian Pinggang

Poles 2 20 % 8 80 %

Sakit Pada Bagian Leher Atas Sakit Pada Bagian Siku Kiri Sakit Pada Bagian Siku Kanan Sakit Pada Bagian Punggung Sakit Pada Bagian Pinggang

Untuk Stasiun Kerja Penempaan, dari hasil pengisian kuesioner Nordic Body Map (NBM) diperoleh 100 % operator tidak merasakan sakit.

3.3 Data Rapid Entire Body Assessment (REBA)

Posisi operator saat melakukan pekerjaan di masing-masing Stasiun Kerja ditunjukkan dalam gambar berikut:

Gambar 9. Stasiun Kerja Peleburan Gambar 10. Stasiun Kerja Pembentukan

Gambar 11. Stasiun Kerja Perakitan Gambar 12. Stasiun Kerja Poles

Dari observasi langsung terhadap operator pada saat melaksanakan pekerjaan di masing-masing Stasiun Kerja, berdasarkan worksheet Rapid Entire Body Assessment (REBA) diperoleh skor REBA sebagaimana ter-lihat dalam Tabel 3.

Level Resiko Menengah Menengah Menengah Tinggi

3.4 Data Antropometri

Data Antropometri didapatkan dengan melakukan pengukuran terhadap setiap bagian tubuh operator. Dari data yang diperoleh dilakukan pengujian keseragaman dan kecukupan data, dengan hasil sebagaimana terlihat pada Tabel 4. Seluruh data yang diperoleh seragam dan cukup untuk pengolahan selanjutnya.

Tabel 5 menunjukkan persentil yakni nilai prosentase kelompok orang tertentu yang memiliki dimensi tubuh sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Data antropometri dan nilai persentil digunakan untuk membuat desain Stasiun Kerja yang baru.

Tabel 4. Uji Keseragaman dan Kecukupan Data NoDimensi Tubuh Ketika Duduk Rata- rata

St.DevMaxMinUCLLCLKeseragamanNN'Kecukupan 1

Lebar tubuh maksimum

44,996,00603562,9926,98Seragam102,01Cukup 2

Jangkauan ke depan

71,238,43905496,5345,93Seragam101,93Cukup 3Lebar bahu41,754,09553454,0229,49Seragam101,29Cukup 4Tinggi mata76,304,28846789,1563,45Seragam100,83Cukup 5Tinggi paha44,653,02523853,7035,61Seragam101,00Cukup 6Tinggi lutut52,444,46644565,8239,06Seragam101,26Cukup 7Tinggi bahu58,544,74704872,7544,32Seragam101,20Cukup 8Tinggi siku24,183,74301435,4112,95Seragam102,41Cukup 9Tinggi kepala86,658,6511051112,6060,70Seragam100,73Cukup 10Pantat - lutut54,644,51634468,1841,11Seragam101,22Cukup 11Lebar pinggul35,604,19462648,1823,01Seragam101,75Cukup 12Lebar siku39,966,79612860,3419,58Seragam102,09Cukup 13

Pantat - selangkangan

47,024,75553961,2732,78Seragam101,50Cukup

Tabel 5. Nilai Persentil No Dimensi Tubuh

Ketika Duduk P5 P10 P50 P90 P95

1 Lebar tubuh maksimum 35,1156 37,306 44,99 52,67 54,86 2 Jangkauan ke depan 57,3530 60,431 71,23 82,02 85,10

3 Lebar bahu 35,0306 36,523 41,75 46,99 48,48

4 Tinggi mata 69,2524 70,816 76,30 81,78 83,34

5 Tinggi paha 39,6948 40,795 44,65 48,51 49,61

6 Tinggi lutut 45,1036 46,732 52,44 58,15 59,78

7 Tinggi bahu 50,7404 52,470 58,54 64,60 66,33

8 Tinggi siku 18,0213 19,388 24,18 28,97 30,34

9 Tinggi kepala 72,4198 75,577 86,65 97,72 100,9

10 Pantat - lutut 47,2208 48,868 54,64 60,42 62,06

11 Lebar pinggul 28,6964 30,227 35,60 40,96 42,49

12 Lebar siku 28,7890 31,269 39,96 48,66 51,14

13 Pantat - selangkangan 39,2125 40,946 47,02 53,10 54,84

3.5 Tata Letak Lantai Produksi

Tata letak lantai produksi pada kondisi eksisting sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 13 berikut:

Gambar 13. Tata Letak Lantai Produksi

Ukuran luasan Stasiun Kerja lama :

Luas area produksi : 310 cm x 275 cm Stasiun Kerja Burning (A) : 85 cm x 50 cm Stasiun Kerja Shaping (B) : 85 cm x 50 cm Stasiun Kerja Rolling Mill (C) : 134 cm x 30 cm Stasiun Kerja Forging (D) : Diameter = 50 cm Stasiun Kerja Finishing (E) : 50 cm x 20 cm

BAB IV

STASIUN KERJA BARU

4.1 Data Nordic Body Map (NBM)

Setelah melakukan perbaikan stasiun kerja dan menerapkannya pada UKM SILVER 999, maka perlu diketahui tingkat keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) yang terjadi pada bagian tubuh pekerja. Instrumen yang digunakan untuk mengukur keluhan ini adalah kuesioner Nordic Body Map. Kuesioner diberikan kepada 10 pekerja dan diperoleh hasil seluruh pekerja tidak merasakan sakit. Hal ini menunjukkan bahwa stasiun kerja baru sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja yang terjadi pada stasiun kerja lama.

4.2 Stasiun Kerja Ergonomis

Dalam pembuatan stasiun kerja baru digunakan pendekatan ergon-omi, dengan tujuan agar pekerja merasa nyaman, aman dan efektif saat bekerja, serta dapat mengurangi keluhan. Stasiun kerja yang dirancang dengan pendekatan Ergonomi menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut (Bosch, 2012):

1. Tinggi Badan

Oleh karena tinggi badan pekerja bervariasi maka meja kerja dibuat sesuai dengan kebutuhan, dengan tujuan posisi dan postur pekerja saat bekerja dapat lebih nyaman. Seluruh stasiun kerja dibuat sesuai dengan postur pekerja dalam posisi duduk. Untuk mencegah terjadinya kendala postur tubuh yang dalam waktu lama dapat mengakibatkan ketegangan otot, maka desain meja kerja dibuat adjustable. Tujuan dari desain meja adjustable ini adalah untuk mempertimbangkan tinggi badan pekerja di UKM Silver 999 yang bervariasi, sehingga pekerja dapat menyesuaikan ketinggian meja sesuai dengan kebutuhannya.

Terdapat tombol untuk mengatur ketinggian meja, dengan tinggi minimum 65 cm dan tinggi maksimum 125 cm. Desain meja kerja adjustable dibuat untuk Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly, dan Stasiun Kerja Finishing. Pada Stasiun Kerja Forging, ketinggian meja menggunakan dimensi tinggi lutut ditambah tebal paha pada Persentil 50, yakni 60 cm. Pada Stasiun Kerja Blending, ketinggian mesin menggunakan dimensi tinggi badan rata-rata pekerja saat duduk dengan persentil 50 yakni 80 cm, ditambah tinggi mesin 40 cm, sehingga total tinggi mesin adalah 120 cm.

2. Zona Jangkauan

Prinsip yang digunakan dalam desain zona jangkauan ergonomis adalah semua tempat peralatan dan elemen pengoperasiannya mudah dijangkau dan diatur dalam rentang pergerakan fisiologi pekerja. Stasiun kerja didesain dengan menggunakan empat zona jangkauan berikut : Zona A : Pusat kerja zona dua tangan (perakitan)

Area ini optimal untuk bekerja dengan kedua tangan dan jarak pandang pekerja terletak pada bidang ini. Sehingga aktivitas pekerja dan koordinasi gerakan lengan bawah lebih nyaman dan leluasa.

Zona B : Zona jangkauan maksimum pekerja menjangkau peralatan adalah 50 cm.

Zona C : Zona jangkauan normal pekerja menjangkau peralatan adalah 39,4 cm.

Zona D : Ruang gerak tangan pekerja

Gambar 14. Zona Jangkauan pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

3. Intensitas Cahaya

Intensitas pencahayaan pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly dapat disesuaikan, dengan tujuan untuk mencegah kelelahan, meningkatkan konsentrasi dan mengurangi resiko kesalahan.

4. Peralatan

Peralatan kerja yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan pekerja untuk menjaga kinerja dan mendorong produktivitasnya. Semua per alatan kerja diletakkan dekat dengan stasiun kerjanya. Penyesuaian meja, kursi dan alat angkut material serta posisi alat ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.

5. Focus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) membahas tentang Ergonomi untuk meningkatkan keamanan fisik dan mental melalui upaya pen-cegahan cidera dan sakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, serta mengupayakan kenyamanan kerja. Yang harus diperhati-kan da lam menerapdiperhati-kan Ergonomi adalah perancangan berbasis manusia, antropometri tubuh dan sikap tubuh dalam bekerja.

Analisis Statistik berkaitan dengan kegiatan membandingkan suatu objek berdasarkan data sampel. Pengujian yang digunakan dalam Analisis Statistik adalah: Uji Keseragaman Data, Uji Kecukupan Data dan peng hitungan produktivitas.

Gambar 15. Narasumber FGD

Gambar 16. Pelaksanaan FGD

6. Desain Stasiun Kerja

Desain Stasiun Kerja yang baru ditunjukkan dalam Gambar 17 (Tampak Depan), Gambar 18 (Tampak Samping) dan Gambar 19 (Tampak Atas). Adapun pemakaian stasiun kerja baru oleh pekerja di UKM SILVER 999 seperti terlihat pada Gambar 20. Tidak dilakukan perbaikan terhadap kursi yang digunakan karena pekerja sudah merasa nyaman.

Gambar 17. Desain Stasiun Kerja Tampak Depan

Gambar 18. Desain Stasiun Kerja Tampak Samping

Gambar 19. Desain Stasiun Kerja Tampak Atas

Gambar 20. Stasiun Kerja Baru

Stasiun Kerja Ergonomis yang sudah dihasilkan adalah:

1. Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

Spesifikasi Stasiun Kerja BSA :

Panjang : 160 cm

Lebar : 80 cm

Ketinggian minimum : 65 cm Ketinggian maksimum : 125 cm Beban maksimum : 70 kg

Gambar 21. Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly 2. Stasiun Kerja Forging

Spesifikasi Stasiun Kerja Forging:

Meja Kerja berbentuk trapesium Dimensi bagian atas : 91 cm x 33 cm Dimensi bagian bawah: 54 cm x 96 cm Tinggi : 60 cm

Dimensi Mesin : 91 cm x 30 cm x 66 cm Motor : 220 V, 1400 rpm, 1/2 HP

Gambar 22. Stasiun Kerja Forging 3. Stasiun Kerja Blending

Spesifikasi Stasiun Kerja Blending : Dimensi : 150 cm x 80 cm x 120 cm Motor : 220 V, 1400 rpm, 2 HP, 50 Hz Gear box : Worm Gear Rasio 1 : 60

Gambar 23. Stasiun Kerja Bending

4. Stasiun Kerja Finishing

Stasiun Kerja Finishing merupakan gabungan dari meja adjustable dengan bangku polishing emas / perak dan mesin grinding untuk perhiasan.

Spesifikasi Mesin Poles :

Tegangan : 220 V, 110 V, 50/60 Hz Berat : 21 kg

Poles motor : ½ HP Hisap motor : ½ HP Daya listrik : 370 W Kecepatan : 2300 rpm

Gambar 24. Mesin Poles

Spesifikasi Stasiun Kerja Finishing :

Panjang : 160 cm

Lebar : 80 cm

Ketinggian minimum : 65 cm Ketinggian maksimum : 125 cm Beban maksimum : 70 kg

Gambar 25. Stasiun Kerja Finishing

4.3 Sikap Kerja Setelah Perbaikan

Perhitungan skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) dilakukan setelah merekam postur tubuh pekerja saat melakukan pekerjaannya. Sikap kerja yang sudah direkam sebagaimana terlihat pada gambar berikut:

Gambar 26. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

Gambar 27. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Forging

Gambar 28. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Blending

Gambar 29. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Finishing

4.4 Skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan Level Resiko

Pengukuran skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan level resiko dilakukan dengan menggunakan REBA Employee Assessment Worksheet, dengan hasil perhitungan pada masing-masing Stasiun Kerja sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut:

Tabel 6. Perhitungan Skor REBA dan Level Resiko Langkah Segmen

Level Resiko Rendah Rendah Rendah Rendah

4.5 Desain Tata Letak Stasiun Kerja Baru

Dalam merancang Tata Letak Stasiun Kerja baru di UKM SILVER 999 digunakan Metode Systematic Layout Planning (SLP) dengan bantuan software BLOCPLAN 90 untuk mendapatkan alternatif layout nya. Data yang telah diolah dengan Metode SLP selanjutnya dilakukan komputasi hingga mendapatkan alternatif layout dengan nilai R­score

yang paling mendekati 1, dan diperoleh hasil desain Tata Letak Stasiun Kerja yang sudah diterapkan di UKM SILVER 999 sebagaimana terlihat pada Gambar 30 berikut:

Gambar 30. Desain Tata Letak Stasiun Kerja Baru

Adapun jarak lintasan produksi dari Tata Letak Stasiun Kerja yang baru ditunjukkan dalam Tabel 7 berikut:

Tabel 7. Jarak Lintasan Produksi

Total Jarak Lintasan Produksi 26,38

BAB V

PENGUJIAN

5.1 Pengujian Capaian Luaran

Pengujian yang dilakukan terhadap capaian luaran penelitian di-peroleh hasil sebagai berikut:

1. Dari hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) terlihat bahwa seluruh pekerja pada semua Stasiun Kerja tidak merasakan sakit.

Hal ini menunjukkan bahwa Stasiun Kerja baru yang diterapkan di UKM Silver 999 sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja.

2. Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

Stasiun Kerja yang merupakan gabungan dari proses pelebur an dan perakitan ini sudah memberikan hasil capaian yang maksimal, yakni menjadikan luas area produksi lebih efisien. Stasiun Kerja lebih ergonomis dimana posisi pekerja lebih aman dan nyaman saat bekerja, selain itu meja kerja adjustable dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerja. Peralatan kerja terletak di dekat stasiun kerja dan disesuaikan kebutuhan pekerjanya. Posisi alat angkut material ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.

3. Stasiuan Kerja Forging

Stasiun Kerja Forging yang baru lebih cepat dan sistem kerjanya dibuat otomatis dengan menggunakan daya motor ½ HP, sehingga dapat mengurangi tenaga fisik pekerja dibandingkan dengan Stasiun Kerja lama yang masih manual.

4. Stasiun Kerja Blending

Stasiun Kerja Blending yang baru memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:

a. Dimensi mesin: 150 cm x 80 cm x 120 cm jauh lebih kecil dari mesin yang lama, sehingga pengaturan tata letak bisa dijadikan satu lantai produksi dengan Stasiun Kerja yang lain. Hal ini menjadikan proses material handling bisa lebih singkat.

b. Mesin Roll Mill yang baru dilengkapi dengan skala yang mu-dah dilihat pekerja, sehingga pekerja dapat dengan mumu-dah memposisikan rolnya.

c. Mesin Roll Mill juga dilengkapi dengan tempat sliding produk yang sangat bermanfaat untuk mengurangi waktu produksi, dimana pekerja tidak harus berdiri dan beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil benda kerja, karena benda kerja bergerak ke arah operator.

d. Operasional mesin pada Stasiun Kerja ini menggunakan saklar kaki untuk on­off, sehingga pekerja tidak perlu menghidupkan / mematikan mesin dengan tangan.

e. Proses pembentukan kawat menjadi jauh lebih mudah ka-rena proses penarikannya dibantu mesin dengan kecepatan tarik yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Mesin ini dilengkapi dengan Gear Box 1 : 60, dibandingkan sistem lama yang ditarik oleh pekerja secara manual dan membutuhkan tenaga yang kuat. Jika pekerja menarik kawat dengan diameter yang kecil dan membutuhkan kecepatan yang lebih rendah untuk menghindari putusnya kawat, Stasiun Kerja ini juga dilengkapi Box Panel dan pengatur kecepatan putar an sehingga pekerja dapat melakukan setting kecepatan ke level yang lebih rendah.

f. Pada saat pembentukan kawat diperlukan arah tarik yang bolak balik, Stasiun Kerja ini sudah dilengkapi dengan contactor pengatur arah putaran yang diletakkan di posisi yang nyaman untuk pekerja.

g. Untuk mengantisipasi putusnya kawat karena posisinya yang tidak lurus pada saat proses penarikan, Stasiun Kerja ini juga dilengkapi dengan stand cetakan kawat (Tungstand), yang dilengkapi dengan sistem bearing yang mampu merubah posisi secara horisontal dan vertikal.

5. Stasiun Kerja Finishing

Stasiun Kerja Finishing berupa mesin poles baru yang diletakkan pada meja adjustable. Mesin poles yang baru ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan UKM mitra. Dan hasil capaiannya adalah skrap pe rak yang dihasilkan pada saat pengerjaan tidak berhamburan karena mesin poles ini dilengkapi vacum yang dapat menyedot skrap secara langsung dan menempatkan pada wadah mesin poles.

Suara yang keluar dari mesin poles yang baru ini lebih halus dan tidak menimbulkan kebisingan, serta cahaya lampu yang berada di dalam mesin poles ini membuat pekerja dapat melaksanakan pekerjaannya dengan lebih jelas dan optimal.

6. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly adalah 3 dengan level resiko rendah.

7. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiuan Kerja Forging, Stasiun Kerja Blending dan Stasiun Kerja Finishing adalah 2 dengan level resiko rendah.

8. Hasil penerapan tata letak baru di UKM SILVER 999 menunjukkan bahwa di dalam ruangan seluas 18,75 m2 dapat diatur tata letak dari semua Stasiun Kerja di area produksi ini. Dari perancangan tata letak fasilitas pada lantai produksi di UKM Silver 999 dengan meng gunakan Metode SLP dan bantuan software BLOCPLAN 90 diperoleh capaian bahwa layout yang baru dapat mengurangi jarak lintasan produksi dari yang sebelumnya sejauh 51,35 meter berkurang menjadi 26,38 meter. Pengurangan jarak lintasan sebesar 24,97 meter atau sebesar 48,6 %.

5.2 Produktivitas

Data waktu proses produksi dalam menyelesaikan sepuluh buah produk cincin perak dengan menggunakan Stasiun Kerja lama dan Stasiun Kerja baru ditabelkan sebagai berikut:

Tabel 8. Waktu Proses Produksi

No Proses Waktu (Jam) Prosentase

Penurunan

a. Produktivitas Stasiun Kerja Lama

Dalam pembuatan 10 cincin perak masing-masing seberat 7 gram dibutuhkan waktu seperti yang tercantum pada Tabel 3 (1 hari = 8 jam kerja). Biaya-biaya yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:

1. Pembelian bahan baku 70 gram perak @ Rp. 10.000,-

1.100.000,-Harga jual setiap cincin adalah Rp. 225.000,-Sehingga nilai jual 10 cincin adalah Rp.

2.250.000,-Maka produktivitas dalam produksi 10 cincin perak dengan menggunakan Stasiun Kerja lama adalah:

b. Produktivitas Stasiun Kerja Baru

Dalam pembuatan 10 cincin perak tersebut membutuhkan waktu yang lebih singkat, seperti yang terlihat pada Tabel 3. Sehingga

dalam waktu yang sama bisa dihasilkan 20 produk cincin.

Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan 20 cincin adalah : 1. Pembelian bahan baku 140 gram perak @ Rp. 10.000,-

= Rp. 1.400.000,-2. Biaya tenaga kerja 2 hari @ Rp. 150.000,-

= Rp. 300.000,-3. Biaya overhead (listrik, gas, Konsumsi)

= Rp. 150.000,-Total = Rp. 1.850.000,-Harga jual setiap cincin adalah Rp.

225.000,-Sehingga nilai jual 20 cincin adalah Rp.

4.500.000,-Maka produktivitas dalam jangka waktu kerja yang sama (produksi 20 cincin perak) dengan menggunakan Stasiun Kerja baru adalah :

Jadi dalam jangka waktu yang sama, produktivitas pembuatan cincin perak naik dari 204,5 % menjadi 243,2 %.

Penghasilan (Omzet) UKM mitra dengan menggunakan Stasiun Kerja baru juga meningkat 2 kali lipat, yakni dari Rp. 2.250.000,- menjadi Rp. 4.500.000,-.

Produktivitas pembuatan produk kerajinan perhiasan perak ini cukup tinggi, karena dalam proses pembuatannya dibutuhkan keahlian / keterampilan yang tinggi.

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan data Nordic Body Map di UKM SILVER 999 dapat diketahui tingkat keluhan musculoskeletal disorders pekerja di UKM ini.

Dengan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) dike-tahui bahwa pada stasiun kerja existing memiliki level resiko menengah dan tinggi, sehingga perlu dibuat desain stasiun kerja baru.

Melalui pengukuran data antropometri tubuh pekerja di UKM ini di hasilkan desain stasiun kerja yang ergonomis. Dengan stasiun kerja yang adjustable, pekerja merasa lebih nyaman karena stasiun kerja yang baru dapat menyesuaikan dimensi tubuhnya pada saat posisi bekerja. Sehingga apabila pekerja merasa nyaman, hal ini dapat meningkatkan produktivitas UKM ini.

6.2 Rekomendasi

Brainstorming dengan pekerja UKM SILVER 999 dan memasukkan aspek antropometri tubuh pekerja merupakan pengembangan stasiun

kerja baru yang ergonomis, sehingga pekerja bisa merasa nyaman da lam melaksanakan pekerjaannya. Namun kekurangan yang dapat dicatat adalah penelitian ini tidak mempertimbangkan faktor bentuk dan keindahan produk perhiasannya. Sehingga ke depannya UKM harus memperhatikan faktor-faktor tersebut terkait dengan produk yang dihasilkan.

Yang dapat dikembangkan dari penelitian ini adalah melakukan pene litian lebih lanjut terhadap semua bidang kerajinan yaitu kerajinan perhiasan, kayu, gerabah, dan kaca, terkait stasiun kerjanya. Kesulitan yang bisa dihadapi adalah mengumpulkan seluruh keinginan UKM untuk membuat desain stasiun kerja sesuai dengan karakter bidang kerajinannya masing-masing.

6.3 Dokumentasi

Dari hasil kuesioner Nordic Body Map terlihat bahwa seluruh pekerja pada semua stasiun kerja tidak merasakan sakit. Hal ini menunjukkan bahwa stasiun kerja baru yang diterapkan di UKM SILVER 999 sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja.

Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly yang merupakan gabungan dari proses peleburan dan perakitan ini sudah memberikan hasil capaian yang maksimal, yakni menjadikan luas area produksi lebih efisien. Stasiun kerja lebih ergonomis dimana posisi pekerja lebih aman dan nyaman saat bekerja, selain itu meja kerja adjustable dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerja. Peralatan kerja terletak di dekat stasiun kerja dan disesuaikan kebutuhan pekerjanya. Posisi alat angkut material ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.

Stasiun Kerja Forging yang baru lebih cepat dan sistem kerjanya dibuat otomatis dengan menggunakan daya motor ½ HP, sehingga dapat mengurangi tenaga fisik pekerja dibandingkan dengan stasiun kerja lama yang masih manual.

Stasiun Kerja Blending yang baru memiliki dimensi mesin: 150 cm x 80 cm x 120 cm jauh lebih kecil dari mesin yang lama, sehingga pengaturan tata letak bisa dijadikan satu lantai produksi dengan stasiun kerja yang lain. Hal ini menjadikan proses material handling bisa lebih singkat.

Staiun Kerja Finishing berupa mesin poles baru yang diletakkan pada meja adjustable. Mesin poles yang baru ini sudah disesuaikan de-ngan kebutuhan UKM mitra. Dan hasil capaiannya adalah skrap perak yang dihasilkan pada saat pengerjaan tidak berhamburan karena mesin poles ini dilengkapi vacum yang dapat menyedot skrap secara langsung dan menempatkan pada wadah mesin poles. Suara yang keluar dari mesin poles yang baru ini lebih halus dan tidak menimbulkan kebisingan, serta cahaya lampu yang berada di dalam mesin poles ini membuat pekerja da-pat melaksanakan pekerjaannya dengan lebih jelas dan optimal.

Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly adalah 3 dengan level resiko rendah. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiuan Kerja Forging, Stasiun Kerja Blending dan Stasiun Kerja Finishing adalah 2 dengan level resiko rendah.

Hasil penerapan tata letak baru di UKM SILVER 999 menunjukkan bahwa di dalam ruangan seluas 18,75 m2 dapat diatur tata letak dari semua stasiun kerja di area produksi ini. Dari perancangan tata letak fasilitas pada lantai produksi di UKM ini dengan menggunakan Metode SLP dan bantuan software BLOCPLAN 90 diperoleh capaian bahwa layout yang baru dapat mengurangi jarak lintasan produksi dari yang sebelumnya sejauh sejauh 51,35 meter berkurang menjadi 26,38 meter. Pengurangan jarak lintasan sebesar 24,97 meter atau sebesar 48,6 %.

Terjadi peningkatan produktivitas dari yang sebelumnya meng-gunakan Stasiun Kerja lama sebesar 204,5 %, setelah mengmeng-gunakan Stasiun Kerja baru yang ergonomis meningkat menjadi 243,2 %.

Terjadi peningkatan produktivitas dari yang sebelumnya meng-gunakan Stasiun Kerja lama sebesar 204,5 %, setelah mengmeng-gunakan Stasiun Kerja baru yang ergonomis meningkat menjadi 243,2 %.

Dalam dokumen REDESAIN STASIUN KERJA ERGONOMIS (Halaman 21-0)

Dokumen terkait