BAB IV STASIUN KERJA BARU
4.5 Desain Tata Letak Stasiun Kerja Baru
Dalam merancang Tata Letak Stasiun Kerja baru di UKM SILVER 999 digunakan Metode Systematic Layout Planning (SLP) dengan bantuan software BLOCPLAN 90 untuk mendapatkan alternatif layout nya. Data yang telah diolah dengan Metode SLP selanjutnya dilakukan komputasi hingga mendapatkan alternatif layout dengan nilai Rscore
yang paling mendekati 1, dan diperoleh hasil desain Tata Letak Stasiun Kerja yang sudah diterapkan di UKM SILVER 999 sebagaimana terlihat pada Gambar 30 berikut:
Gambar 30. Desain Tata Letak Stasiun Kerja Baru
Adapun jarak lintasan produksi dari Tata Letak Stasiun Kerja yang baru ditunjukkan dalam Tabel 7 berikut:
Tabel 7. Jarak Lintasan Produksi
Total Jarak Lintasan Produksi 26,38
BAB V
PENGUJIAN
5.1 Pengujian Capaian Luaran
Pengujian yang dilakukan terhadap capaian luaran penelitian di-peroleh hasil sebagai berikut:
1. Dari hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) terlihat bahwa seluruh pekerja pada semua Stasiun Kerja tidak merasakan sakit.
Hal ini menunjukkan bahwa Stasiun Kerja baru yang diterapkan di UKM Silver 999 sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja.
2. Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly
Stasiun Kerja yang merupakan gabungan dari proses pelebur an dan perakitan ini sudah memberikan hasil capaian yang maksimal, yakni menjadikan luas area produksi lebih efisien. Stasiun Kerja lebih ergonomis dimana posisi pekerja lebih aman dan nyaman saat bekerja, selain itu meja kerja adjustable dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerja. Peralatan kerja terletak di dekat stasiun kerja dan disesuaikan kebutuhan pekerjanya. Posisi alat angkut material ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.
3. Stasiuan Kerja Forging
Stasiun Kerja Forging yang baru lebih cepat dan sistem kerjanya dibuat otomatis dengan menggunakan daya motor ½ HP, sehingga dapat mengurangi tenaga fisik pekerja dibandingkan dengan Stasiun Kerja lama yang masih manual.
4. Stasiun Kerja Blending
Stasiun Kerja Blending yang baru memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:
a. Dimensi mesin: 150 cm x 80 cm x 120 cm jauh lebih kecil dari mesin yang lama, sehingga pengaturan tata letak bisa dijadikan satu lantai produksi dengan Stasiun Kerja yang lain. Hal ini menjadikan proses material handling bisa lebih singkat.
b. Mesin Roll Mill yang baru dilengkapi dengan skala yang mu-dah dilihat pekerja, sehingga pekerja dapat dengan mumu-dah memposisikan rolnya.
c. Mesin Roll Mill juga dilengkapi dengan tempat sliding produk yang sangat bermanfaat untuk mengurangi waktu produksi, dimana pekerja tidak harus berdiri dan beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil benda kerja, karena benda kerja bergerak ke arah operator.
d. Operasional mesin pada Stasiun Kerja ini menggunakan saklar kaki untuk onoff, sehingga pekerja tidak perlu menghidupkan / mematikan mesin dengan tangan.
e. Proses pembentukan kawat menjadi jauh lebih mudah ka-rena proses penarikannya dibantu mesin dengan kecepatan tarik yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Mesin ini dilengkapi dengan Gear Box 1 : 60, dibandingkan sistem lama yang ditarik oleh pekerja secara manual dan membutuhkan tenaga yang kuat. Jika pekerja menarik kawat dengan diameter yang kecil dan membutuhkan kecepatan yang lebih rendah untuk menghindari putusnya kawat, Stasiun Kerja ini juga dilengkapi Box Panel dan pengatur kecepatan putar an sehingga pekerja dapat melakukan setting kecepatan ke level yang lebih rendah.
f. Pada saat pembentukan kawat diperlukan arah tarik yang bolak balik, Stasiun Kerja ini sudah dilengkapi dengan contactor pengatur arah putaran yang diletakkan di posisi yang nyaman untuk pekerja.
g. Untuk mengantisipasi putusnya kawat karena posisinya yang tidak lurus pada saat proses penarikan, Stasiun Kerja ini juga dilengkapi dengan stand cetakan kawat (Tungstand), yang dilengkapi dengan sistem bearing yang mampu merubah posisi secara horisontal dan vertikal.
5. Stasiun Kerja Finishing
Stasiun Kerja Finishing berupa mesin poles baru yang diletakkan pada meja adjustable. Mesin poles yang baru ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan UKM mitra. Dan hasil capaiannya adalah skrap pe rak yang dihasilkan pada saat pengerjaan tidak berhamburan karena mesin poles ini dilengkapi vacum yang dapat menyedot skrap secara langsung dan menempatkan pada wadah mesin poles.
Suara yang keluar dari mesin poles yang baru ini lebih halus dan tidak menimbulkan kebisingan, serta cahaya lampu yang berada di dalam mesin poles ini membuat pekerja dapat melaksanakan pekerjaannya dengan lebih jelas dan optimal.
6. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly adalah 3 dengan level resiko rendah.
7. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiuan Kerja Forging, Stasiun Kerja Blending dan Stasiun Kerja Finishing adalah 2 dengan level resiko rendah.
8. Hasil penerapan tata letak baru di UKM SILVER 999 menunjukkan bahwa di dalam ruangan seluas 18,75 m2 dapat diatur tata letak dari semua Stasiun Kerja di area produksi ini. Dari perancangan tata letak fasilitas pada lantai produksi di UKM Silver 999 dengan meng gunakan Metode SLP dan bantuan software BLOCPLAN 90 diperoleh capaian bahwa layout yang baru dapat mengurangi jarak lintasan produksi dari yang sebelumnya sejauh 51,35 meter berkurang menjadi 26,38 meter. Pengurangan jarak lintasan sebesar 24,97 meter atau sebesar 48,6 %.
5.2 Produktivitas
Data waktu proses produksi dalam menyelesaikan sepuluh buah produk cincin perak dengan menggunakan Stasiun Kerja lama dan Stasiun Kerja baru ditabelkan sebagai berikut:
Tabel 8. Waktu Proses Produksi
No Proses Waktu (Jam) Prosentase
Penurunan
a. Produktivitas Stasiun Kerja Lama
Dalam pembuatan 10 cincin perak masing-masing seberat 7 gram dibutuhkan waktu seperti yang tercantum pada Tabel 3 (1 hari = 8 jam kerja). Biaya-biaya yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:
1. Pembelian bahan baku 70 gram perak @ Rp. 10.000,-
1.100.000,-Harga jual setiap cincin adalah Rp. 225.000,-Sehingga nilai jual 10 cincin adalah Rp.
2.250.000,-Maka produktivitas dalam produksi 10 cincin perak dengan menggunakan Stasiun Kerja lama adalah:
b. Produktivitas Stasiun Kerja Baru
Dalam pembuatan 10 cincin perak tersebut membutuhkan waktu yang lebih singkat, seperti yang terlihat pada Tabel 3. Sehingga
dalam waktu yang sama bisa dihasilkan 20 produk cincin.
Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan 20 cincin adalah : 1. Pembelian bahan baku 140 gram perak @ Rp. 10.000,-
= Rp. 1.400.000,-2. Biaya tenaga kerja 2 hari @ Rp. 150.000,-
= Rp. 300.000,-3. Biaya overhead (listrik, gas, Konsumsi)
= Rp. 150.000,-Total = Rp. 1.850.000,-Harga jual setiap cincin adalah Rp.
225.000,-Sehingga nilai jual 20 cincin adalah Rp.
4.500.000,-Maka produktivitas dalam jangka waktu kerja yang sama (produksi 20 cincin perak) dengan menggunakan Stasiun Kerja baru adalah :
Jadi dalam jangka waktu yang sama, produktivitas pembuatan cincin perak naik dari 204,5 % menjadi 243,2 %.
Penghasilan (Omzet) UKM mitra dengan menggunakan Stasiun Kerja baru juga meningkat 2 kali lipat, yakni dari Rp. 2.250.000,- menjadi Rp. 4.500.000,-.
Produktivitas pembuatan produk kerajinan perhiasan perak ini cukup tinggi, karena dalam proses pembuatannya dibutuhkan keahlian / keterampilan yang tinggi.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan data Nordic Body Map di UKM SILVER 999 dapat diketahui tingkat keluhan musculoskeletal disorders pekerja di UKM ini.
Dengan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) dike-tahui bahwa pada stasiun kerja existing memiliki level resiko menengah dan tinggi, sehingga perlu dibuat desain stasiun kerja baru.
Melalui pengukuran data antropometri tubuh pekerja di UKM ini di hasilkan desain stasiun kerja yang ergonomis. Dengan stasiun kerja yang adjustable, pekerja merasa lebih nyaman karena stasiun kerja yang baru dapat menyesuaikan dimensi tubuhnya pada saat posisi bekerja. Sehingga apabila pekerja merasa nyaman, hal ini dapat meningkatkan produktivitas UKM ini.
6.2 Rekomendasi
Brainstorming dengan pekerja UKM SILVER 999 dan memasukkan aspek antropometri tubuh pekerja merupakan pengembangan stasiun
kerja baru yang ergonomis, sehingga pekerja bisa merasa nyaman da lam melaksanakan pekerjaannya. Namun kekurangan yang dapat dicatat adalah penelitian ini tidak mempertimbangkan faktor bentuk dan keindahan produk perhiasannya. Sehingga ke depannya UKM harus memperhatikan faktor-faktor tersebut terkait dengan produk yang dihasilkan.
Yang dapat dikembangkan dari penelitian ini adalah melakukan pene litian lebih lanjut terhadap semua bidang kerajinan yaitu kerajinan perhiasan, kayu, gerabah, dan kaca, terkait stasiun kerjanya. Kesulitan yang bisa dihadapi adalah mengumpulkan seluruh keinginan UKM untuk membuat desain stasiun kerja sesuai dengan karakter bidang kerajinannya masing-masing.
6.3 Dokumentasi
Dari hasil kuesioner Nordic Body Map terlihat bahwa seluruh pekerja pada semua stasiun kerja tidak merasakan sakit. Hal ini menunjukkan bahwa stasiun kerja baru yang diterapkan di UKM SILVER 999 sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja.
Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly yang merupakan gabungan dari proses peleburan dan perakitan ini sudah memberikan hasil capaian yang maksimal, yakni menjadikan luas area produksi lebih efisien. Stasiun kerja lebih ergonomis dimana posisi pekerja lebih aman dan nyaman saat bekerja, selain itu meja kerja adjustable dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerja. Peralatan kerja terletak di dekat stasiun kerja dan disesuaikan kebutuhan pekerjanya. Posisi alat angkut material ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.
Stasiun Kerja Forging yang baru lebih cepat dan sistem kerjanya dibuat otomatis dengan menggunakan daya motor ½ HP, sehingga dapat mengurangi tenaga fisik pekerja dibandingkan dengan stasiun kerja lama yang masih manual.
Stasiun Kerja Blending yang baru memiliki dimensi mesin: 150 cm x 80 cm x 120 cm jauh lebih kecil dari mesin yang lama, sehingga pengaturan tata letak bisa dijadikan satu lantai produksi dengan stasiun kerja yang lain. Hal ini menjadikan proses material handling bisa lebih singkat.
Staiun Kerja Finishing berupa mesin poles baru yang diletakkan pada meja adjustable. Mesin poles yang baru ini sudah disesuaikan de-ngan kebutuhan UKM mitra. Dan hasil capaiannya adalah skrap perak yang dihasilkan pada saat pengerjaan tidak berhamburan karena mesin poles ini dilengkapi vacum yang dapat menyedot skrap secara langsung dan menempatkan pada wadah mesin poles. Suara yang keluar dari mesin poles yang baru ini lebih halus dan tidak menimbulkan kebisingan, serta cahaya lampu yang berada di dalam mesin poles ini membuat pekerja da-pat melaksanakan pekerjaannya dengan lebih jelas dan optimal.
Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly adalah 3 dengan level resiko rendah. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiuan Kerja Forging, Stasiun Kerja Blending dan Stasiun Kerja Finishing adalah 2 dengan level resiko rendah.
Hasil penerapan tata letak baru di UKM SILVER 999 menunjukkan bahwa di dalam ruangan seluas 18,75 m2 dapat diatur tata letak dari semua stasiun kerja di area produksi ini. Dari perancangan tata letak fasilitas pada lantai produksi di UKM ini dengan menggunakan Metode SLP dan bantuan software BLOCPLAN 90 diperoleh capaian bahwa layout yang baru dapat mengurangi jarak lintasan produksi dari yang sebelumnya sejauh sejauh 51,35 meter berkurang menjadi 26,38 meter. Pengurangan jarak lintasan sebesar 24,97 meter atau sebesar 48,6 %.
Terjadi peningkatan produktivitas dari yang sebelumnya meng-gunakan Stasiun Kerja lama sebesar 204,5 %, setelah mengmeng-gunakan Stasiun Kerja baru yang ergonomis meningkat menjadi 243,2 %.
Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dihasilkan berupa Stasiun Kerja ergonomis sudah diimplementasikan di UKM SILVER 999 sesuai dengan tata letak fasilitas yang dirancang, sebagaimana terlihat dalam gambar berikut:
Gambar 31. Desain Stasiun Kerja Ergonomis
Gambar 32. Tata Letak Stasiun Kerja Ergonomis
Daftar Pustaka
1. Bosch. (2012). Ergonomics Guidebook for Manual Production System 3.0.
Url: https://www.valin.com/documents/pdf/Bosch-Ergonomic-Guidebook.pdf
2. Hadiguna, R. A., and Setiawan, H. (2008). Tata Letak Pabrik, Yogyakarta: CV. Andi Offset. ISBN: 978-979-29-0275-4.
3. Hignett, S., and McAtamney, L. (2000). Rapid Entire Body Assessment (REBA), Journal of Applied Ergonomics, 31(2), 201-205. DOI: 10.1016/s0003-6870(99)00039-3.
Url: http://europepmc.org/article/med/10711982
4. Nurmianto, E. (2004). Ergonomi : Konsep Dasar dan Aplikasinya, Surabaya: Guna Widya. ISBN: 979-545-007-7
5. Plantard, P., Shum, H.P.H., Le Pierres, A.S., and Multon, F. (2017).
Validation of An Ergonomic Assessment Method Using Kinect Data in Real Workplace Conditions, Journal of Applied Ergonomics, (65), 562-569. DOI: 10.1016/j.apergo.2016.10.015.
Url: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S000368701630240X?
via%3Dihub
6. Restuputri, D. P. (2017). Metode REBA untuk Pencegahan Musculoskeletal Disorder Tenaga Kerja, Jurnal Teknik Industri, 18(1), 19-28. DOI: 10.22219/JTIUMM.Vol18.No1.19-28.
Url: https://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/view/4417 7. Rofieq, M. (2018). Ergonomic Workstations for Handicraft Product
made from Fluorescent Lamp Waste, International Mechanical and Industrial Engineering Conference (IMIEC), 204(03001), 1-9. DOI:
10.1051/matecconf/201820403001.
Url: https://www.matec-conferences.org/articles/matecconf/abs/2018/63 /matecconf_imiec2018_03001
8. Stanton, N., Hedge, A., Brookhuis, K., Salas, E., and Hendrick, H.
(2004). Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods, Boca Raton: CRC Press. ISBN: 0-415-28700-6.
Url: https://moodle.ufsc.br/pluginfile.php/748673/mod_resource/
content/1/ERGO%20-%20Handbook%20of%20Human%20 Factors%20and%20Ergonomics%20Methods.pdf
9. Sutalaksana, I. Z., Anggawisastra, R., and Tjakraatmadja, J. H.
(2006). Teknik Perancangan Sistem Kerja, Bandung: ITB. ISBN:
979350790.
10. Tontowi, A. E. (2016). Desain Produk Inovatif & Inkubasi Bisnis Kompetitif, Gadjah Mada University Press. ISBN: 978-602-386-069-2.
11. Ulrich, K. T., and Eppinger, S. D. (2016). Product Design and Development, Sixth Edition, New York: McGraw-Hill Education.
ISBN: 978-0-07-802906-6.
Url: https://industri.fatek.unpatti.ac.id/wp-content/uploads/2019/03/202- Product-Design-and-Development-Karl-T.-Ulrich-Steven-D.-Eppinger-Edisi-6-2015.pdf
12. Wignjosoebroto, S,. (2003). Ergonomi Studi Gerak dan Waktu – Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja, Surabaya:
Guna Widya. ISBN: 979-545-005-0.
13. Wignjosoebroto, S. (2009). Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan, Surabaya: Guna Widya. ISBN: 979-545-001-8.
Biodata Penulis
Dr. Mochammad Rofieq, S.Si., MT. lahir di Kediri, 15 September 1969. Menamatkan SD hingga SMA di Kota Kediri Jawa Timur, lulus SMA tahun 1988. Lulus Program Sarjana Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember ITS Surabaya tahun 1993 dan lulus Program Magister Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri ITS Surabaya tahun 2000. Menempuh Program Doktor Teknik Mesin Minat Teknik Industri Manufaktur di Universitas Brawijaya Malang, lulus tahun 2019.
Tercatat aktif sebagai Dosen di Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang sejak tahun 1994, hingga sekarang memiliki Jabatan Fungsional Lektor Kepala / Gol. IV-b. Meraih hibah penelitian dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi RI dalam Program Penelitian Hibah Bersaing (PHB) tentang Perancangan Souvenir Khas Malang tahun 2014 – 2015 dan Program Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) tentang Perancangan Stasiun Kerja di UMKM Bidang Kerajinan Kota Malang tahun 2019 – 2020. Meraih hibah pengabdian dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi RI dalam Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) tentang Home Industry tahun 2010, Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) tentang Kerajinan Perhiasan Perak tahun 2015 dan Program Unmer Membangun Desa untuk pemberdayaan Paguyuban UMKM Kuliner Kelurahan Bunulrejo Kecamatan Blimbing Kota Malang tahun 2020.
Pada kurun waktu 2017 – 2022, memperoleh 8 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI yakni Hak Cipta dalam bidang karya tulis, dengan Nomor P/ID: EC00201704706 / 05923, EC00201823254 / 000113726, EC00201927749 / 000133089, EC00201927751 / 000133179, EC00201929347 / 000134374, EC00202057983 / 000225372, EC00202066339 / 000228204 dan EC00202217144 / 000332509.
Memiliki pengalaman kerja dan tugas struktural sebagai berikut:
1. Sekretaris Jurusan Teknik Industri Universitas Merdeka Malang:
2000 – 2004
2. Pembantu Dekan I – Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang:
2004 – 2008
3. Pembantu Dekan III – Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang:
2007 – 2008
4. Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas Merdeka Malang : 2009 – 2015
5. Kepala Pusat Kewirausahaan LPPM Universitas Merdeka Malang:
2015 – 2019
6. Pengurus Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia Jawa Timur:
2010 – 2022
7. Wakil Dekan II – Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang:
2019 – sekarang
Sampai saat ini aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan pemberdayaan UMKM, diantaranya sebagai Sekretaris Koordinator Program Pos Pemberdayaan Keluarga (POSDAYA) Wilayah Jawa Timur II, Pendamping POSDAYA Kelurahan Pandanwangi Kecamatan Blimbing Kota Malang, Pendamping POSDAYA Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang, Pengurus RT.15 / RW.01 Kelurahan Tung-gulwulung Kecamatan Lowokwaru Kota Malang (2015 – 2020), Pengurus Ta’mir Masjid AL-HUDA Universitas Merdeka Malang, Ketua Panitia Pembangunan Masjid AT-TAQWA Perum. Bumi Tunggul Wulung Indah Malang dan Ketua Rombongan Jamaah Haji AL-HIKAM Kota Malang Tahun 2019.
Ken Erliana, ST., MT. lahir di Malang, 14 Agustus 1974. Menamatkan SD hingga SMA di Kota Malang Jawa Timur, lulus SMA tahun 1993.
Lulus Program Sarjana Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Nasional Malang tahun 1998 dan lulus Program Magister Teknik dan Manajemen Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang tahun 2009.
Tercatat aktif sebagai Dosen di Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang sejak tahun 1999, hingga sekarang memiliki Jabatan Fungsional Asisten Ahli / Gol. III-a. Meraih hibah penelitian dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi RI dalam Program Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) tentang Perancangan Stasiun Kerja di UMKM Bidang Kerajinan Kota Malang tahun 2019 – 2020.
Memperoleh Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI yakni Hak Cipta dalam bidang karya tulis, dengan Nomor P/ID: EC00202217144 / 000332509 tahun 2022.
Memiliki pengalaman kerja dan tugas struktural sebagai berikut:
1. Kepala Bidang Pendidikan Pusat Komputer Universitas Merdeka Malang: 2001 – 2003
2. Koordinator PKN Jurusan Teknik Industri Universitas Merdeka Malang : 2000 – 2002
3. Kepala Laboratorium Pengukuran dan Metode Kerja Jurusan Teknik Industri Universitas Merdeka Malang: 2004 – 2008
4. Kepala Laboratorium Ergonomi Jurusan Teknik Industri Universitas Merdeka Malang: 2013 – sekarang
Ni Made Wiati, S.Si., MT. lahir di Singaraja Bali, 14 Agustus 1969. Menamatkan SD hingga SMA di Kota Singaraja Provinsi Bali, lulus SMA tahun 1988. Lulus Program Sarjana Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya Malang tahun 1994 dan lulus Program Magister Teknik dan Manajemen Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang tahun 2010.
Tercatat aktif sebagai Dosen di Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang sejak tahun 1994, hingga sekarang memiliki Jabatan Fungsional Asisten Ahli / Gol. III-a. Meraih hibah penelitian dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi RI dalam Program Penelitian Hibah Bersaing (PHB) tentang Perancangan Souvenir Khas Malang tahun 2014 – 2015 dan Program Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) tentang Perancangan Stasiun Kerja di UMKM Bidang Kerajinan Kota Malang tahun 2019 – 2020. Meraih hibah pengabdian dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi RI dalam Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) tentang Teknologi Spinning untuk Laundry Carpet tahun 2016, Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) tentang Penerapan Desain Dapur Perlakuan Panas Model Tutup Pada Pande Besi tahun 2021.
Memperoleh 2 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI yakni Hak Cipta dalam bidang karya tulis, dengan Nomor P/ID : EC00202185670 / 000312636 tahun 2021 dan EC00202217144 / 000332509 tahun 2022.
Memiliki pengalaman kerja dan tugas struktural sebagai berikut:
1. Kepala Laboratorium Fisika – Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang: 1999 – sekarang
2. Anggota Senat Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang:
2020 – sekarang
Samsudin Hariyanto, S.Si., MT. lahir di Gresik, 9 April 1969. Menamatkan SD hingga SMA di Kota Gresik Jawa Timur, lulus SMA tahun 1988. Lulus Program Sarjana Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember ITS Surabaya tahun 1993 dan lulus Program Magister Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember ITS Surabaya tahun 2007.
Tercatat aktif sebagai Dosen di Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang sejak tahun 1994, hingga sekarang memiliki Jabatan Fungsional Lektor / Gol. III-c. Meraih hibah penelitian dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi RI dalam Program Penelitian Hibah Bersaing (PHB) tentang Perancangan Souvenir Khas Malang tahun 2014. Meraih hibah pengabdian dari Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi RI dalam Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) tentang Tas Kasa tahun 2017, Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tentang UKM Kopi Bubuk Murni di Desa Arjowinangun Kota Malang tahun 2018.
Memperoleh 2 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI yakni Hak Cipta dalam bidang karya tulis, dengan Nomor P/ID: EC00202057983 / 000225372 tahun 2020 dan EC00202217144 / 000332509 tahun 2022.
Memiliki pengalaman kerja dan tugas struktural sebagai berikut:
1. Ketua Jurusan Teknik Industri – Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang
2. Kepala Laboratorium Rekayasa Kualitas Jurusan Teknik Industri – Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang
3. Anggota Senat Universitas Merdeka Malang