• Tidak ada hasil yang ditemukan

REDESAIN STASIUN KERJA ERGONOMIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "REDESAIN STASIUN KERJA ERGONOMIS"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Dr. Mochammad Rofieq, S.Si., MT.

Ken Erliana, ST., MT.

Ni Made Wiati, S.Si., MT.

Samsudin Hariyanto, S.Si., MT.

REDESAIN

STASIUN KERJA ERGONOMIS

Guna Pemberdayaan Ukm

kerajinan Perhiasan Perak

(3)

REDESAIN STASIUN KERJA ERGONOMIS

Guna Pemberdayaan Ukm kerajinan Perhiasan Perak

Dr. Mochammad Rofieq, S.Si., MT.

Ken Erliana, ST., MT.

Ni Made Wiati, S.Si., MT.

Samsudin Hariyanto, S.Si., MT.

Tata Letak Isi dan Desain Sampul Much. Imam Bisri

Penerbit :

SELARAS MEDIA KREASINDO Anggota IkAPI JTI No 165 Perum Pesona Griya Asri A-11 malang 65154

e-mail: [email protected]

Cetakan 1, April 2022 Jumlah: vi + 56 Ukuran 15,5 x 23 cm

Perpustakaan Nasional: katalog Dalam Terbitan (kDT) ISBN: 978-623-6980-50-7

Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang.

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa seizin tertulis dari penerbit.

(4)

Kata Pengantar

Alhamdulillaahirabbil’alamin.

Segala puji hanyalah bagi Allah SWT semata, Tuhan seru sekalian alam. Karena, atas berkat rahmat dan karunia-Nya lah, kami dapat menyelesaikan penyusunan buku ini dengan baik. Buku ini menyajikan teori dan aplikasi desain stasiun kerja yang ergonomis serta desain tata letaknya dalam proses produksi pembuatan kerajinan perhiasan perak.

Desain dan pembuatan stasiun kerja ini telah diterapkan di Usaha Kecil dan Mikro (UKM) Kerajinan Perhiasan Perak di Kota Malang.

Penyusunan buku ini dimaksudkan untuk memperkaya khasanah keilmuan dalam bidang Ergonomi dan Produk Kerajinan, yang dapat digunakan sebagai referensi bagi para peneliti maupun pengembangan kurikulum dan proses belajar mengajar di perkuliahan. Materi buku ini merupakan Teknologi Tepat Guna hasil dari penelitian yang dilakukan penulis pada tahun 2019 – 2020, yang didanai oleh Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Keberhasilan penyusunan buku ini tentunya tidak terlepas dari beberapa pihak yang telah memberikan bantuan maupun saran kepada penulis. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Kementerian RISTEK / BRIN yang telah mendanai Penelitian Terap- an Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT), hingga hasilnya men jadi bahan utama buku ini.

2. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Merdeka Malang yang telah memfasilitasi kegiatan penelitian ini.

3. Usaha Kecil dan Mikro (UKM) Silver 999 sebagai mitra dalam penelitian ini.

4. Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang.

5. Bapak / Ibu Dosen Jurusan Teknik Industri Universitas Merdeka Malang yang telah menginspirasi tersusunnya buku ini.

(5)

Kami menyadari sepenuhnya, bahwa hasil yang kami capai dalam buku ini tentunya masih terdapat bagian-bagian yang kurang sempurna.

Rasanya, saran yang membangun akan menjadi masukan bagi kami agar buku ini dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.

Malang, April 2022

Mochammad Rofieq Ken Erliana

Ni Made Wiati Samsudin Hariyanto

(6)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Urgensi Penelitian ... 5

1.3 Road Map Penelitian Bidang Pemberdayaan ... 5

BAB II KAJIAN LITERATUR ... 7

2.1 Perancangan Produk ... 7

2.2 Ergonomi ... 8

2.3 Anthropometri ... 8

2.4 Rapid Entire Body Assessment (REBA) ... 10

2.5 Tata Letak Fasilitas ... 10

2.6 Desain Stasiun Kerja ... 12

2.7 Kerajinan Perhiasan Perak ... 12

2.8 Peta Jalan Peneliti ... 14

BAB III STASIUN KERJA LAMA ... 15

3.1 Dimensi Stasiun Kerja ... 15

3.2 Data Nordic Body Map (NBM) ... 17

3.3 Data Rapid Entire Body Assessment (REBA) ... 18

3.4 Data Antropometri ... 20

3.5 Tata Letak Lantai Produksi... 22

BAB IV STASIUN KERJA BARU... 25

4.1 Data Nordic Body Map (NBM) ... 25

4.2 Stasiun Kerja Ergonomis ... 25

4.3 Sikap Kerja Setelah Perbaikan ... 33

4.4 Skor Rapid Entire Body Assessment dan Level Resiko .... 35

4.5 Desain Tata Letak Stasiun Kerja Baru ... 35

(7)

BAB V PENGUJIAN ... 39

5.1 Pengujian Capaian Luaran ... 39

5.2 Produktivitas ... 42

BAB VI PENUTUP ... 45

6.1 Kesimpulan ... 45

6.2 Rekomendasi ... 45

6.3 Dokumentasi ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 49

BIODATA PENULIS ... 51

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dari segi geografis, Malang adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur Indonesia yang terletak 90 km di sebelah selatan Kota Surabaya dan wilayahnya dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Malang.

Memiliki luas 110,06 km2, Malang juga menyandang beberapa julukan diantaranya : Paris van East Java, Kota Bunga, Kota Militer, Kota Sejarah, Kota Olahraga, Kota Apel, Kota Susu, Kota Dingin, Kota Kuliner dan tentunya Kota Wisata yang kini menjadi sentra wisata di Jawa Timur.

Potensi pariwisata di wilayah Malang Raya sangat bagus. Hal ini terlihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu dalam tiga tahun terakhir lebih dari 1 juta orang per tahunnya dan semakin meningkat. Potensi pasar produk kerajinan serta Usaha Kecil dan Mikro (UKM) bidang kerajinan juga sangat besar. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Walikota Malang dalam bidang perekonomian, khususnya sinergi antara Perguruan Tinggi dan pelaku usaha (UKM) dalam pemberdayaan masyarakat.

(9)

Sementara itu, di Kota Malang terdapat lebih dari 20 UKM yang memiliki usaha di bidang kerajinan. Mereka membentuk suatu wadah sebagai tempat bertukar pikiran, pengalaman dan segala sesuatu yang terkait dengan produk kerajinannya yang diberi nama Asosiasi Perajin Kota Malang (APKM). Asosiasi ini memiliki agenda berkumpul secara rutin satu bulan sekali dalam forum silaturrahmi, bertempat di salah satu rumah anggota.

Di Kelurahan Tunjungsekar Kecamatan Lowokwaru Kota Malang terdapat UKM kerajinan perhiasan dari perak dengan nama SILVER 999 yang berdiri tahun 2009. Dalam bidang produksi, prosesnya tetap mempertahankan sistem manual atau handmade secara menyeluruh sebagai komitmen dalam memenuhi keinginan konsumen. Kehalusan produk, keaslian batu permata, kualitas kadar tinggi dari perak yang digunakan, pemasangan batu mulia yang menggunakan microsetting detail yang unik menjadikan produk ini berbeda dan optimis untuk menembus pasar dalam dan luar negeri.

UKM SILVER 999 yang bergerak di bidang kerajinan perhiasan dari perak memiliki 10 orang tenaga kerja dengan kapasitas produksi 30 - 50 buah per bulan secara handmade. Proses pembuatan produknya diperlukan ketelitian, keterampilan dan waktu yang relatif cepat. Pada kenyataannya produksi di UKM ini masih sering mengalami keterlambatan sehingga target yang ditentukan tidak tercapai. Target produksi yang tidak tercapai mengakibatkan para pekerja harus bekerja lembur setiap hari. Adanya penambahan jam kerja yang dibebankan pada pekerja, menyebabkan pekerja menjadi mudah lelah sehingga mengakibatkan adanya keluhan.

Keluhan kerja yang terjadi pada pekerja disebabkan sikap kerja pekerja yang seringkali harus bekerja dengan posisi duduk statis atau berdiri pada waktu yang lama dan fasilitas kerja yang kurang nyaman.

Kekurangnyamanan pada stasiun kerja ini antara lain disebabkan oleh ukuran yang tidak sesuai dengan tubuh operator dan belum didasarkan pada aspek anthropometri. Selain itu juga fasilitas penerangan sangat minim dan fasilitas penunjang operator belum disesuaikan dengan jarak jangkauan operator.

Inilah yang menjadi persoalan utama yang dihadapi UKM SILVER 999, dimana diperlukan upaya untuk meningkatkan kenyamanan kerja pekerja agar target produksi yang telah ditentukan dapat tercapai.

(10)

Meningkatkan kenyamanan kerja dilakukan dengan cara membuat rancangan stasiun kerja pada bagian produksi dengan pendekatan Ergonomi menggunakan metode analisis Rapid Entire Body Assessment (REBA).

Tabel 1. Stasiun Kerja pada UKM SILVER 999 Sebelum Perbaikan Stasiun Kerja Kondisi Sebelum Perbaikan

1. Fasilitas kerja pada proses peleburan dan pen- imbangan masih menggunakan satu meja.

2. Tempat peralatan disusun tidak beraturan dan tidak disesuaikan dengan jarak jangkauan opera- tor.

3. Posisi pekerja membungkuk dikarenakan fasili- tas meja yang terlalu rendah.

4. Keluhan tulang belakang (Low Back Pain).

Keluhan kerja ini timbul pada pekerja karena fasilitas kerjanya, yaitu kursi dan meja kerja yang digunakan kurang nyaman.

5. Minimnya fasilitas penerangan yang belum ter- pusat pada masing-masing operator, sedangkan pekerjaan kerajinan perak ini dituntut ketelitian yang tinggi dalam pengerjaannya.

1. Posisi pekerja yang membungkuk pada proses Rolling Mill 1.

2. Tidak terdapat penerangan untuk masing-mas- ing operator, sedangkan pengerjaan kerajinan perak diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi.

3. Fasilitas pada Rolling Mill 2 yang sangat minim.

1. Tidak adanya penerangan pada operator bagian pemasangan batu permata.

2. Operator bekerja dengan posisi kepala menun- duk. Jika dilakukan terus menerus akan terjadi kelelahan, terutama di bagian leher dan pung- gung.

3. Tidak tersedianya tempat peralatan untuk per- akitan.

(11)

1. Pada proses set microsetting, ketinggian alat dengan meja kerja belum disesuaikan tubuh operator.

2. Tidak tersedianya fasilitas untuk memegang produk, sehingga lengan atas dan bawah operator pada posisi statis dan operator sering merasakan kram pada tangan.

3. Tempat peralatan masih tidak tertata dengan baik, sehingga operator pada saat bekerja harus mencari-cari benda kerja.

1. Pada proses poles, lampu penerangan sangat kurang terang sehingga operator harus beru- lang-ulang melakukan proses poles.

2. Fasilitas penunjang untuk hasil poles belum ada.

3. Posisi operator yang sering menyebabkan kelela- han adalah bagian leher dan punggung.

Kondisi tata letak belum sesuai dengan kriteria tata letak yang baik, dimana peletakan stasiun kerja tidak mempertimbangkan derajat hubungan antar stasiun kerja. Hal ini menyebabkan aliran material tidak sesuai dengan urutan proses produksi serta adanya perpotongan aliran material, sehingga dapat mengakibatkan proses produksi terganggu. Jarak antar stasiun kerja yang cukup jauh sehingga aliran material handling kurang optimal. Area penimbunan bahan baku juga ikut menjadi kendala.

Melihat kondisi ini, perlu suatu pertimbangan untuk mengubah tata letak fasilitas yang ada menjadi lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana mengidentifikasi keluhan yang sering timbul pada pe- kerja bagian produksi pembuatan kerajinan perhiasan perak.

2. Berapakah tingkat resiko sikap kerja pada masing-masing stasiun kerja.

3. Bagaimana merancang stasiun kerja ergonomis pada proses pem- buatan kerajinan perhiasan perak atas dasar data anthropometri.

4. Bagaimana merancang tata letak stasiun kerja yang efektif dan efisien.

(12)

Guna meningkatkan produktivitas kerja dan kapasitas produksi, maka diperlukan stasiun kerja ergonomis dan perancangan ulang tata letak stasiun kerja yang efektif dan efisien. Adapun tujuan khusus yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengidentifikasi keluhan pekerja.

2. Untuk menentukan tingkat resiko sikap kerja.

3. Untuk mendapatkan rancangan stasiun kerja pada proses pem- buatan kerajinan perhiasan perak yang ergonomis atas dasar data anthropometri.

4. Untuk mendapatkan rancangan tata letak stasiun kerja yang efektif dan efisien.

1.2 Urgensi Penelitian

Keutamaan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

1. Dengan penelitian ini diperoleh identifikasi keluhan yang sering timbul pada pekerja bagian produksi serta tingkat resiko dari sikap pekerja.

2. Dengan penelitian ini dihasilkan rancangan stasium kerja pada pembuatan kerajinan perhiasan perak yang ergonomis atas dasar data anthropometri dan tata letak stasiun kerja yang efektif dan efisien.

3. Sebagai kontribusi positif bagi Pemerintah Daerah dalam rangka turut serta memberdayakan masyarakat Kota Malang.

1.3 Road Map Penelitian Bidang Pemberdayaan

Rencana Strategis Penelitian Universitas Merdeka Malang di- dasar kan pada arah kebijakan penelitian Perguruan Tinggi yang peren- canaannya bersinergi dengan Tridharma Perguruan Tinggi, dimana hasil- hasil penelitian diharapkan dapat menopang proses pembelajaran dan pengembangan model pengabdian kepada masyarakat. Road map pene- litian yang diusulkan diharapkan dapat seiring dengan program yang dibutuhkan oleh Universitas Merdeka Malang dengan melihat analisis dan hasil evaluasi diri institusi dalam hal pengembangan penelitian. Penelitian unggulan diharapkan juga dapat disatukan dengan pengembangan bidang

(13)

penelitian di tingkat Universitas yang dirangkum dalam Rencana Strategis (RENSTRA) dan Rencana Operasional (RENOP).

Untuk mewujudkan efektifitas, integrasi dan sinergitas kegiatan penelitian dan pengabdian di Universitas Merdeka Malang, maka di- butuhkan adanya suatu strategi. Strategi dimaksud kemudian disajikan dalam bentuk road map yang merupakan pijakan dari ragam bentuk akti- fitas untuk mencapai tataran peningkatan kualitas daya saing institusi di era global. Tema pokok penelitian dan pengembangan Universitas Merdeka Malang dalam kurun waktu 2016 hingga 2021 adalah : Keberdayaan Masyarakat melalui Ekonomi Kreatif dan Entrepreneurship serta berpartisipasi menuju ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Bidang kajian yang menjadi domain ranah kreatif yang dirancang oleh Universitas Merdeka Malang ditujukan sebagai ruang untuk berkreasi dan berinovasi bagi para dosen dan peneliti melalui kelompok peneliti (research group) masing-masing. Bidang kajian dalam ranah kreativitas dan inovasi ini meliputi tiga bidang dalam skema riset dasar dan terapan yakni: (1) Bidang Pemberdayaan, (2) Bidang Ekonomi Kreatif dan Entrepreneurship, (3) Bidang Lingkungan.

Dalam penelitian ini, sinergi dilakukan oleh empat orang peneliti dari Program Studi Teknik Industri untuk memberdayakan Usaha Kecil dan Mikro (UKM) yang membuat kerajinan perhiasan perak melalui perancangan Tata Letak dan Stasiun Kerja yang ergonomis dengan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA).

Luaran dari penelitian ini adalah dihasilkannya Tata Letak (lay out) fasilitas produksi dan Stasiun Kerja (work station) baru yang ergonomis dalam proses produksi pembuatan kerajinan perhiasan perak, sehingga pekerja merasa lebih nyaman dan dapat meningkatkan produktivitas.

(14)

BAB II

KAJIAN LITERATUR

2.1 Perancangan Produk

Perancangan adalah suatu proses yang bertujuan untuk memperbaiki dan menyusun suatu sistem, baik sistem fisik maupun non fisik untuk waktu yang akan datang dengan memanfaatkan informasi yang ada (Ulrich et al., 2016). Dikarenakan kondisi fisik manusia dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga berbeda antara satu dengan lainnya, maka terdapat tiga prinsip yang dapat dilakukan dalam perancangan suatu produk atau fasilitas, yaitu perancangan berdasarkan individu ekstrim, perancangan fasilitas yang digunakan, dan perancangan fasilitas berdasarkan nilai rata- rata pemakainya.

Fokus utama dari pengujian ergonomi dalam proses perancangan produk adalah mengutamakan kepentingan manusia, yakni tentang kesehatan dan keselamatan kerja serta kenyamanannya. Untuk mengetahui apakah sebuah rancangan sudah ergonomis, dapat dilakukan pengujian dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut: manusia menjadi fokus utama dalam perancangan produk, mengutamakan struktur anatomi fisiologis dan dimensi ukuran tubuh (anthropometri), menganalisis

(15)

gerakan tubuh manusia berdasarkan aspek biomekanik, keterbatasan fisik manusia, serta mengaplikasikan semua pemahaman untuk memperbaiki motivasi, tingkah laku, moral, kepuasan dan etos kerja.

Produk inovatif dapat didefinisikan sebagai produk yang dibuat berdasarkan ide baru. Ide-ide baru tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber berupa umpan balik pasar atau dari lima aspek berikut : Product Trends, Intellectual Property, Ergonomics, SHE (Safety, Health, Environment), dan teknologi baru (Tontowi, 2016).

2.2 Ergonomi

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu Ergo yang berarti kerja dan Nomos yang berarti hukum. Ergonomi adalah disiplin ilmu yang mempelajari manusia dalam hubungannya dengan pekerjaan. Hal ini muncul karena manusia memiliki keterbatasan kemampuan ketika berhadapan dengan lingkungan sistem kerja berupa hardware (mesin dan peralatan kerja), software (metode, sistem, dan prosedur kerja) (Plantard et al., 2017).

Domain faktor manusia dan ergonomi meliputi : kemampuan dan keterbatasan manusia, interaksi manusia-mesin, team work, peralatan, mesin, material, faktor lingkungan, perancangan kerja dan organisasi.

Definisi ini juga memberikan penekanan pada analisis kinerja manusia, keselamatan dan kepuasan. Maka tidak mengherankan bahwa faktor manusia dan ergonomi adalah disiplin dengan tradisi yang kuat dalam pengembangan dan penerapan metodenya (Stanton et al., 2004).

Dalam perkembangannya, Ergonomi dikelompokkan atas empat bidang investigasi, yaitu penampilan (display), kekuatan fisik manusia, ukuran tempat kerja, dan lingkungan kerja (Sutalaksana et al., 2006).

2.3 Antropometri

Istilah Antropometri berasal dari kata “Antro” yang berarti manusia dan “Metri” yang berarti ukuran. Secara definitif Anthropometri dapat dinyatakan sebagai sebuah ilmu yang mempelajari pengukuran dimensi tubuh manusia yang pada dasarnya memiliki bentuk, ukuran dan berat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Antropometri banyak

(16)

digunakan sebagai pertimbangan ergonomis dalam proses desain produk dan sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia (Wignjosoebroto, 2003).

Dari data Antropometri yang diperoleh dapat diaplikasikan antara lain dalam hal:

a. Perancangan areal kerja (work station)

b. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, atau perkakas (tools).

c. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi dan meja komputer.

d. Perancangan lingkungan kerja fisik.

Data antropometri dapat diterapkan dalam berbagai desain produk atau fasilitas kerja. Data antropometri dapat digunakan untuk menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat terkait dengan produk yang dirancang dan manusia yang mengoperasikan produk tersebut (Nurmianto, 2004). Gambar 1 memberikan informasi tentang berbagai macam anggota tubuh yang diukur dalam Antropometri.

Gambar 1. Antropometri Tubuh Manusia

(17)

2.4 Rapid Entire Body Assessment (REBA)

Rapid Entire Body Assessment (REBA) adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang Ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan, per gelangan tangan dan kaki seorang operator. Metode ini dipengaruhi faktor coupling, beban eksternal yang ditopang oleh tubuh, serta aktifitas yang dilakukan oleh pekerja (Restuputri, 2017).

Penilaian postur kerja dengan metode ini dilakukan dengan cara memberikan skor resiko antara satu sampai lima belas. Skor tertinggi me- nunjukkan level yang mengakibatkan resiko yang besar untuk dilakukan dalam bekerja. Pemeriksaan REBA dapat dilakukan di tempat yang ter- batas tanpa mengganggu pekerja. Dari nilai REBA tersebut dapat diketahui level resiko dan kebutuhan akan tindakan yang perlu dilakukan untuk per baikan kerjanya.

Penilaian metode REBA dilakukan melalui tahapan berikut: pengam- bilan data postur pekerja menggunakan foto atau video, menentukan sudut bagian tubuh pekerja, berat benda yang diangkat, coupling, aktivitas pekerja dan perhitungan nilai REBA yang bersangkutan. Nilai REBA dapat didefinisikan sebagai tingkat risiko muskuloskeletal dan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko dan meningkatkan kinerjanya (Hignett et al., 2000).

2.5 Tata Letak Fasilitas

Tata letak fasilitas atau tata letak pabrik adalah tata cara pengaturan pabrik dan fasilitas untuk mendukung kelancaran proses produksi.

Penataan ini memanfaatkan area untuk menempatkan mesin atau fasilitas penunjang produksi lainnya, kelancaran pergerakan material, penyim- panan material baik sementara maupun permanen, personel kerja dan lain-lain. Tujuan dari pengaturan tata letak adalah untuk menata area kerja dan semua fasilitas produksi yang paling ekonomis untuk operasi pro duksi, aman dan nyaman, sehingga dapat meningkatkan performa kerja dari operator (Wignjosoebroto, 2009).

Perencanaan fasilitas dapat diklasifikasikan menjadi dua kegiatan, yaitu perencanaan lokasi dan perancangan fasilitas. Perencanaan lokasi

(18)

adalah proses penentuan area atau tempat untuk suatu kegiatan atau fasilitas. Sedangkan perancangan fasilitas adalah proses membangun fasilitas sesuai dengan tujuan kegiatan. Perancangan fasilitas dibagi men- jadi tiga bagian, yaitu sistem fasilitas, desain tata letak fasilitas, dan desain sistem material handling (Hadiguna et al., 2008).

Activity Relationship Chart (ARC)

Dalam suatu organisasi pabrik selalu ada hubungan yang terkait antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya yang dianggap penting dan ber dekatan demi kelancaran aktifitasnya. Oleh karena itu dibuatlah suatu peta hubungan aktifitas yang disebut Actvity Relationship Chart (ARC).

Dengan peta ini dapat diketahui bagaimana hubungan yang terjadi dan harus dipenuhi sesuai dengan tugas masing-masing.

Peta keterkaitan kegiatan ini serupa dengan Peta “dari - ke” yang ber bentuk tabel jarak. Jaraknya digantikan dengan huruf sandi kualitatif, angkanya menunjukkan keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain, dan seberapa penting kedekatan hubungan tersebut. Huruf A, E, I, O, U dan X diletakkan pada bagian atas kotak, yang menunjukkan alasan- alasan yang mendukung setiap kedekatan hubungan.

Software “Blocplan 90”

Software yang sering digunakan dalam perancangan tata letak adalah Blocplan. Software ini dikembangkan oleh Charles E. Donaghey dan Vanina F. Pire dari Houston University pada tahun 1991. Algoritma yang digunakan adalah membangun dan mengubah tata letak dengan mencari total jarak tempuh paling minimal yang dilalui perpindahan material dengan melakukan pertukaran stasiun kerja. Software ini dapat digu nakan untuk menganalisis satu tata letak (single story layout) atau lebih (multi story layout).

Input yang digunakan dalam Blocplan berupa data kualitatif dan kuantitatif, yakni:

a. Secara kualitatif dalam bentuk diagram ARC (Activity Relationship Cart).

(19)

b. Secara kuantitatif dalam bentuk frekuensi aliran material, luas masing-masing stasiun kerja, dan luas yang tersedia untuk penem- patan semua stasiun kerja.

c. Informasi tentang produk yang diproduksi serta rute produksinya.

2.6 Desain Stasiun Kerja

Dalam melakukan modifikasi stasiun kerja yang sudah ada atau membuat desain stasiun kerja baru, para perancang seringkali dibatasi oleh faktor finansial maupun teknologi, seperti keleluasaan modifikasi, keter sediaan ruangan, lingkungan, alat yang digunakan, kesinambungan pekerjaan dan populasi yang menjadi target.

Dengan demikian desain dan redesain harus selalu berkompromi antara kebutuhan biologis operator dan kebutuhan fisik stasiun kerjanya.

Kompromi untuk kesesuaian tersebut mempertimbangkan antropometri dan lokasi elemen mesin terhadap posisi kerja, jangkauan, pandangan, ruang gerak dan interface antara tubuh operator dengan peralatan kerja- nya.

Melalui pendekatan antropometri pekerja dan keterbatasan ma nusia dalam interaksinya dengan lingkungan kerja, desain stasiun kerja yang ergonomis sangat berpengaruh pada kinerja pekerja dan produktivitasnya (Rofieq, 2018).

2.7 Kerajinan Perhiasan Perak

Saat ini usaha di bidang kerajinan perhiasan dari perak di Kota Malang sangat potensial namun masih belum dikelola secara maksimal.

Dalam memenuhi permintaan konsumen, prosesnya masih dilakukan secara manual atau handmade secara menyeluruh. Dengan sistem ini meng akibatkan proses produksi menjadi lama, sehingga berdampak pada ketidaktepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.

Kehalusan produk, keaslian batu permata, kualitas kadar tinggi perak yang digunakan, pemasangan batu permata menggunakan micro­

setting, serta detail yang unik menjadikan produk ini berbeda dan me- miliki potensi yang sangat besar untuk menembus pasar dalam dan luar negeri. Keunggulan dari produk kerajinan perhiasan perak ini adalah

(20)

dibuat dengan kerajinan tangan bukan dicetak, tidak menimbulkan alergi bagi kulit (hypoallergenic) karena tidak adanya kandungan logam penyebab gatal.

Selain itu, prosesnya tidak menggunakan kontak dengan alkohol dan asam sehingga produk tidak akan berubah warna, memiliki banyak variasi desain, konsumen dapat memesan dan mendesain sendiri perhiasan yang diinginkan, menggunakan motif asli khas Kota Malang, garansi ke- rusakan diberikan seumur hidup, dan produknya berkelas karena memiliki sertifikat yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batu Mulia Republik Indonesia (LPSB-RI).

Peta proses operasi pembuatan kerajinan perhiasan perak mulai dari pengerjaan bahan mentah sampai produk jadi ditunjukkan dalam Gambar 2 berikut:

Gambar 2. Peta Proses Operasi

(21)

2.8 Peta Jalan Peneliti

Roadmap penelitian yang menunjukkan peta jalan peneliti dalam meneliti bidang desain produk dituliskan dalam bentuk Fishbone Diagram, terlihat pada Gambar 3 berikut:

Gambar 3. Diagram Fishbone Peta Jalan Peneliti

(22)

BAB III

STASIUN KERJA LAMA

3.1 Dimensi Stasiun Kerja

Dimensi kelima Stasiun Kerja eksisting yakni Stasiun Kerja Peleburan (Gambar 4), Stasiun Kerja Penempaan (Gambar 5), Stasiun Kerja Pembentukan (Gambar 6), Stasiun Kerja Perakitan (Gambar 7) dan Stasiun Kerja Poles (Gambar 8) ditunjukkan sebagai berikut:

Dimensi Stasiun Kerja Peleburan:

Panjang : 90 cm Lebar : 60 cm Tinggi : 85 cm

Gambar 4. Stasiun Kerja Peleburan

(23)

Dimensi Stasiun Kerja Penempaan Diameter kayu: 30 cm

Tinggi: 53 cm

Gambar 5. Stasiun Kerja Penempaan

Dimensi Stasiun Kerja Pembentukan:

Panjang : 135 cm Lebar : 30 cm Tinggi : 65 cm Gambar 6. Stasiun Kerja Pembentukan

Dimensi Stasiun Kerja Perakitan:

Panjang : 90 cm Lebar : 60 cm Tinggi : 85 cm

Gambar 7. Stasiun Kerja Perakitan

(24)

Dimensi Stasiun Kerja Poles:

Panjang : 70 cm Lebar : 60 cm Tinggi : 85 cm

Gambar 8. Stasiun Kerja Poles

3.2 Data Nordic Body Map (NBM)

Data Nordic Body Map (NBM) diperoleh dengan membagikan kuesioner kepada operator tentang keluhan sakit pada bagian tubuh yang dirasakan pada saat melaksanakan pekerjaannya. Distribusi Tingkat Keluhan Musculoskeletal Disorders ditunjukkan dalam Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Distribusi Tingkat Keluhan Musculoskeletal Disorders

Stasiun Kerja Tidak Sakit Agak Sakit Keterangan

Operator Prosentase Operator Prosentase

Pembentukan 3 30 % 7 70 %

Sakit Pada Bagian Bahu Kiri Sakit Pada Bagian Bahu Kanan

Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kiri

Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kanan

Sakit Pada Bagian Punggung Sakit Pada Bagian Pinggang

Perakitan 3 30 % 7 70 %

Sakit Pada Bagian Leher Atas Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kanan

Sakit Pada Bagian Pergelangan Tangan Kanan Sakit Pada Bagian Punggung Sakit Pada Bagian Pinggang

(25)

Stasiun Kerja Agak Sakit Sakit

Keterangan Operator Prosentase Operator Prosentase

Peleburan

9 90 % 1 10 %

Sakit Pada Bagian Leher Atas Sakit Pada Bagian Leher Bawah

Sakit Pada Bagian Tangan Kiri

8 80 % 2 20 %

Sakit Pada Bagian Lengan Atas Kiri

Sakit Pada Bagian Siku Kiri Sakit Pada Bagian Paha Kanan

Sakit Pada Bagian Pinggang

Poles 2 20 % 8 80 %

Sakit Pada Bagian Leher Atas Sakit Pada Bagian Siku Kiri Sakit Pada Bagian Siku Kanan Sakit Pada Bagian Punggung Sakit Pada Bagian Pinggang

Untuk Stasiun Kerja Penempaan, dari hasil pengisian kuesioner Nordic Body Map (NBM) diperoleh 100 % operator tidak merasakan sakit.

3.3 Data Rapid Entire Body Assessment (REBA)

Posisi operator saat melakukan pekerjaan di masing-masing Stasiun Kerja ditunjukkan dalam gambar berikut:

Gambar 9. Stasiun Kerja Peleburan Gambar 10. Stasiun Kerja Pembentukan

(26)

Gambar 11. Stasiun Kerja Perakitan Gambar 12. Stasiun Kerja Poles

Dari observasi langsung terhadap operator pada saat melaksanakan pekerjaan di masing-masing Stasiun Kerja, berdasarkan worksheet Rapid Entire Body Assessment (REBA) diperoleh skor REBA sebagaimana ter- lihat dalam Tabel 3.

Tabel 3. Skor REBA

Langkah Segmen Tubuh Skor

SK. Peleburan Skor

SK. Pembentukan Skor

SK. Perakitan Skor SK. Poles

1 Leher 3 2 2 2

2 Punggung 1 2 3 3

3 Kaki 1 3 2 1

4 Skor A 3 5 4 4

5 Skor Beban 1 1 1 1

6 3 + 1 = 4 5 + 1 = 6 4 + 1 = 5 4 + 1 = 5

7 Lengan Atas 3 3 2 2

8 Lengan Bawah 2 2 2 2

9 Pergelangan

Tangan 2 1 1 2

10 Skor B 5 4 2 3

11 Skor Coupling 0 1 0 3

12 5 + 0 = 5 4 + 1 = 5 2 + 0 = 2 3 + 3 = 6

13 Skor Activity 1 1 1 1

14 Skor C 4 5 4 7

15 Nilai REBA 5 6 5 8

Level Resiko Menengah Menengah Menengah Tinggi

(27)

3.4 Data Antropometri

Data Antropometri didapatkan dengan melakukan pengukuran terhadap setiap bagian tubuh operator. Dari data yang diperoleh dilakukan pengujian keseragaman dan kecukupan data, dengan hasil sebagaimana terlihat pada Tabel 4. Seluruh data yang diperoleh seragam dan cukup untuk pengolahan selanjutnya.

Tabel 5 menunjukkan persentil yakni nilai prosentase kelompok orang tertentu yang memiliki dimensi tubuh sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Data antropometri dan nilai persentil digunakan untuk membuat desain Stasiun Kerja yang baru.

(28)

Tabel 4. Uji Keseragaman dan Kecukupan Data NoDimensi Tubuh Ketika Duduk Rata- rata

St.DevMaxMinUCLLCLKeseragamanNN'Kecukupan 1

Lebar tubuh maksimum

44,996,00603562,9926,98Seragam102,01Cukup 2

Jangkauan ke depan

71,238,43905496,5345,93Seragam101,93Cukup 3Lebar bahu41,754,09553454,0229,49Seragam101,29Cukup 4Tinggi mata76,304,28846789,1563,45Seragam100,83Cukup 5Tinggi paha44,653,02523853,7035,61Seragam101,00Cukup 6Tinggi lutut52,444,46644565,8239,06Seragam101,26Cukup 7Tinggi bahu58,544,74704872,7544,32Seragam101,20Cukup 8Tinggi siku24,183,74301435,4112,95Seragam102,41Cukup 9Tinggi kepala86,658,6511051112,6060,70Seragam100,73Cukup 10Pantat - lutut54,644,51634468,1841,11Seragam101,22Cukup 11Lebar pinggul35,604,19462648,1823,01Seragam101,75Cukup 12Lebar siku39,966,79612860,3419,58Seragam102,09Cukup 13

Pantat - selangkangan

47,024,75553961,2732,78Seragam101,50Cukup

(29)

Tabel 5. Nilai Persentil No Dimensi Tubuh

Ketika Duduk P5 P10 P50 P90 P95

1 Lebar tubuh maksimum 35,1156 37,306 44,99 52,67 54,86 2 Jangkauan ke depan 57,3530 60,431 71,23 82,02 85,10

3 Lebar bahu 35,0306 36,523 41,75 46,99 48,48

4 Tinggi mata 69,2524 70,816 76,30 81,78 83,34

5 Tinggi paha 39,6948 40,795 44,65 48,51 49,61

6 Tinggi lutut 45,1036 46,732 52,44 58,15 59,78

7 Tinggi bahu 50,7404 52,470 58,54 64,60 66,33

8 Tinggi siku 18,0213 19,388 24,18 28,97 30,34

9 Tinggi kepala 72,4198 75,577 86,65 97,72 100,9

10 Pantat - lutut 47,2208 48,868 54,64 60,42 62,06

11 Lebar pinggul 28,6964 30,227 35,60 40,96 42,49

12 Lebar siku 28,7890 31,269 39,96 48,66 51,14

13 Pantat - selangkangan 39,2125 40,946 47,02 53,10 54,84

3.5 Tata Letak Lantai Produksi

Tata letak lantai produksi pada kondisi eksisting sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 13 berikut:

Gambar 13. Tata Letak Lantai Produksi

(30)

Ukuran luasan Stasiun Kerja lama :

Luas area produksi : 310 cm x 275 cm Stasiun Kerja Burning (A) : 85 cm x 50 cm Stasiun Kerja Shaping (B) : 85 cm x 50 cm Stasiun Kerja Rolling Mill (C) : 134 cm x 30 cm Stasiun Kerja Forging (D) : Diameter = 50 cm Stasiun Kerja Finishing (E) : 50 cm x 20 cm

(31)
(32)

BAB IV

STASIUN KERJA BARU

4.1 Data Nordic Body Map (NBM)

Setelah melakukan perbaikan stasiun kerja dan menerapkannya pada UKM SILVER 999, maka perlu diketahui tingkat keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) yang terjadi pada bagian tubuh pekerja. Instrumen yang digunakan untuk mengukur keluhan ini adalah kuesioner Nordic Body Map. Kuesioner diberikan kepada 10 pekerja dan diperoleh hasil seluruh pekerja tidak merasakan sakit. Hal ini menunjukkan bahwa stasiun kerja baru sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja yang terjadi pada stasiun kerja lama.

4.2 Stasiun Kerja Ergonomis

Dalam pembuatan stasiun kerja baru digunakan pendekatan ergon- omi, dengan tujuan agar pekerja merasa nyaman, aman dan efektif saat bekerja, serta dapat mengurangi keluhan. Stasiun kerja yang dirancang dengan pendekatan Ergonomi menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut (Bosch, 2012):

(33)

1. Tinggi Badan

Oleh karena tinggi badan pekerja bervariasi maka meja kerja dibuat sesuai dengan kebutuhan, dengan tujuan posisi dan postur pekerja saat bekerja dapat lebih nyaman. Seluruh stasiun kerja dibuat sesuai dengan postur pekerja dalam posisi duduk. Untuk mencegah terjadinya kendala postur tubuh yang dalam waktu lama dapat mengakibatkan ketegangan otot, maka desain meja kerja dibuat adjustable. Tujuan dari desain meja adjustable ini adalah untuk mempertimbangkan tinggi badan pekerja di UKM Silver 999 yang bervariasi, sehingga pekerja dapat menyesuaikan ketinggian meja sesuai dengan kebutuhannya.

Terdapat tombol untuk mengatur ketinggian meja, dengan tinggi minimum 65 cm dan tinggi maksimum 125 cm. Desain meja kerja adjustable dibuat untuk Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly, dan Stasiun Kerja Finishing. Pada Stasiun Kerja Forging, ketinggian meja menggunakan dimensi tinggi lutut ditambah tebal paha pada Persentil 50, yakni 60 cm. Pada Stasiun Kerja Blending, ketinggian mesin menggunakan dimensi tinggi badan rata-rata pekerja saat duduk dengan persentil 50 yakni 80 cm, ditambah tinggi mesin 40 cm, sehingga total tinggi mesin adalah 120 cm.

2. Zona Jangkauan

Prinsip yang digunakan dalam desain zona jangkauan ergonomis adalah semua tempat peralatan dan elemen pengoperasiannya mudah dijangkau dan diatur dalam rentang pergerakan fisiologi pekerja. Stasiun kerja didesain dengan menggunakan empat zona jangkauan berikut : Zona A : Pusat kerja zona dua tangan (perakitan)

Area ini optimal untuk bekerja dengan kedua tangan dan jarak pandang pekerja terletak pada bidang ini. Sehingga aktivitas pekerja dan koordinasi gerakan lengan bawah lebih nyaman dan leluasa.

Zona B : Zona jangkauan maksimum pekerja menjangkau peralatan adalah 50 cm.

Zona C : Zona jangkauan normal pekerja menjangkau peralatan adalah 39,4 cm.

Zona D : Ruang gerak tangan pekerja

(34)

Gambar 14. Zona Jangkauan pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

3. Intensitas Cahaya

Intensitas pencahayaan pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly dapat disesuaikan, dengan tujuan untuk mencegah kelelahan, meningkatkan konsentrasi dan mengurangi resiko kesalahan.

4. Peralatan

Peralatan kerja yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan pekerja untuk menjaga kinerja dan mendorong produktivitasnya. Semua per alatan kerja diletakkan dekat dengan stasiun kerjanya. Penyesuaian meja, kursi dan alat angkut material serta posisi alat ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.

5. Focus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) membahas tentang Ergonomi untuk meningkatkan keamanan fisik dan mental melalui upaya pen- cegahan cidera dan sakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, serta mengupayakan kenyamanan kerja. Yang harus diperhati- kan da lam menerapkan Ergonomi adalah perancangan berbasis manusia, antropometri tubuh dan sikap tubuh dalam bekerja.

(35)

Analisis Statistik berkaitan dengan kegiatan membandingkan suatu objek berdasarkan data sampel. Pengujian yang digunakan dalam Analisis Statistik adalah: Uji Keseragaman Data, Uji Kecukupan Data dan peng hitungan produktivitas.

Gambar 15. Narasumber FGD

Gambar 16. Pelaksanaan FGD

(36)

6. Desain Stasiun Kerja

Desain Stasiun Kerja yang baru ditunjukkan dalam Gambar 17 (Tampak Depan), Gambar 18 (Tampak Samping) dan Gambar 19 (Tampak Atas). Adapun pemakaian stasiun kerja baru oleh pekerja di UKM SILVER 999 seperti terlihat pada Gambar 20. Tidak dilakukan perbaikan terhadap kursi yang digunakan karena pekerja sudah merasa nyaman.

Gambar 17. Desain Stasiun Kerja Tampak Depan

Gambar 18. Desain Stasiun Kerja Tampak Samping

(37)

Gambar 19. Desain Stasiun Kerja Tampak Atas

Gambar 20. Stasiun Kerja Baru

(38)

Stasiun Kerja Ergonomis yang sudah dihasilkan adalah:

1. Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

Spesifikasi Stasiun Kerja BSA :

Panjang : 160 cm

Lebar : 80 cm

Ketinggian minimum : 65 cm Ketinggian maksimum : 125 cm Beban maksimum : 70 kg

Gambar 21. Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly 2. Stasiun Kerja Forging

Spesifikasi Stasiun Kerja Forging:

Meja Kerja berbentuk trapesium Dimensi bagian atas : 91 cm x 33 cm Dimensi bagian bawah: 54 cm x 96 cm Tinggi : 60 cm

Dimensi Mesin : 91 cm x 30 cm x 66 cm Motor : 220 V, 1400 rpm, 1/2 HP

Gambar 22. Stasiun Kerja Forging 3. Stasiun Kerja Blending

Spesifikasi Stasiun Kerja Blending : Dimensi : 150 cm x 80 cm x 120 cm Motor : 220 V, 1400 rpm, 2 HP, 50 Hz Gear box : Worm Gear Rasio 1 : 60

Gambar 23. Stasiun Kerja Bending

(39)

4. Stasiun Kerja Finishing

Stasiun Kerja Finishing merupakan gabungan dari meja adjustable dengan bangku polishing emas / perak dan mesin grinding untuk perhiasan.

Spesifikasi Mesin Poles :

Tegangan : 220 V, 110 V, 50/60 Hz Berat : 21 kg

Poles motor : ½ HP Hisap motor : ½ HP Daya listrik : 370 W Kecepatan : 2300 rpm

Gambar 24. Mesin Poles

Spesifikasi Stasiun Kerja Finishing :

Panjang : 160 cm

Lebar : 80 cm

Ketinggian minimum : 65 cm Ketinggian maksimum : 125 cm Beban maksimum : 70 kg

Gambar 25. Stasiun Kerja Finishing

(40)

4.3 Sikap Kerja Setelah Perbaikan

Perhitungan skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) dilakukan setelah merekam postur tubuh pekerja saat melakukan pekerjaannya. Sikap kerja yang sudah direkam sebagaimana terlihat pada gambar berikut:

Gambar 26. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

Gambar 27. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Forging

(41)

Gambar 28. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Blending

Gambar 29. Postur Kerja pada Stasiun Kerja Finishing

(42)

4.4 Skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan Level Resiko

Pengukuran skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan level resiko dilakukan dengan menggunakan REBA Employee Assessment Worksheet, dengan hasil perhitungan pada masing-masing Stasiun Kerja sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 6 berikut:

Tabel 6. Perhitungan Skor REBA dan Level Resiko Langkah Segmen

Tubuh Skor

SK. BSA Skor

SK. Forging Skor

SK. Blending Skor SK. Finishing

1 Leher 2 1 1 1

2 Punggung 2 2 2 1

3 Kaki 1 1 1 1

4 Skor A 3 2 2 1

5 Skor Beban 0 0 0 0

6 3 + 0 = 3 2 + 0 = 2 2 + 0 = 2 1 + 0 = 1

7 Lengan Atas 2 2 2 2

8 Lengan Bawah 1 1 1 1

9 Pergelangan

Tangan 1 1 1 1

10 Skor B 1 1 1 1

11 Skor Coupling 0 0 0 0

12 1 + 0 = 1 1 + 0 = 1 1 + 0 = 1 1 + 0 = 1

13 Skor Activity 1 1 1 1

14 Skor C 2 1 1 1

15 Nilai REBA 3 2 2 2

Level Resiko Rendah Rendah Rendah Rendah

4.5 Desain Tata Letak Stasiun Kerja Baru

Dalam merancang Tata Letak Stasiun Kerja baru di UKM SILVER 999 digunakan Metode Systematic Layout Planning (SLP) dengan bantuan software BLOCPLAN 90 untuk mendapatkan alternatif layout nya. Data yang telah diolah dengan Metode SLP selanjutnya dilakukan komputasi hingga mendapatkan alternatif layout dengan nilai R­score

(43)

yang paling mendekati 1, dan diperoleh hasil desain Tata Letak Stasiun Kerja yang sudah diterapkan di UKM SILVER 999 sebagaimana terlihat pada Gambar 30 berikut:

Gambar 30. Desain Tata Letak Stasiun Kerja Baru

Adapun jarak lintasan produksi dari Tata Letak Stasiun Kerja yang baru ditunjukkan dalam Tabel 7 berikut:

(44)

Tabel 7. Jarak Lintasan Produksi

No Dari Stasiun

Kerja Ke Stasiun

Kerja Jarak yang dilintasi (m)

Jarak Perpindahan

(m)

Frekwensi Perpindahan

Total Jarak Perpindahan

(m) 1 Stasiun Kerja

Burning, Shaping dan Assembly

Stasiun Kerja

Forging (1/2 x 0,8) + 0,25 + 0,25 + 1,2 + (1/2 x 0,45)

2,32 1 2,32

2 Stasiun Kerja

Forging Stasiun Kerja

Blending (1/2 x 0,45) + 1,2 + 1,9 +

(1/2 x 0,8) 3,72 3 11,16

3 Stasiun Kerja

Blending Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

(1/2 x 0,8) + 1,9 + 0,25 + 0,25 + (1/2 x 0,8)

3,20 1 3,20

4 Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

Stasiun Kerja Finishing

(1/2 x 0,8) + 0,25 + 0,25 + 1,65 + 1,1 + 0,25 + 0,6 + (1/2 x 0,7)

4,85 2 9,70

Total Jarak Lintasan Produksi 26,38

(45)
(46)

BAB V

PENGUJIAN

5.1 Pengujian Capaian Luaran

Pengujian yang dilakukan terhadap capaian luaran penelitian di- peroleh hasil sebagai berikut:

1. Dari hasil kuesioner Nordic Body Map (NBM) terlihat bahwa seluruh pekerja pada semua Stasiun Kerja tidak merasakan sakit.

Hal ini menunjukkan bahwa Stasiun Kerja baru yang diterapkan di UKM Silver 999 sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja.

2. Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly

Stasiun Kerja yang merupakan gabungan dari proses pelebur an dan perakitan ini sudah memberikan hasil capaian yang maksimal, yakni menjadikan luas area produksi lebih efisien. Stasiun Kerja lebih ergonomis dimana posisi pekerja lebih aman dan nyaman saat bekerja, selain itu meja kerja adjustable dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerja. Peralatan kerja terletak di dekat stasiun kerja dan disesuaikan kebutuhan pekerjanya. Posisi alat angkut material ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.

(47)

3. Stasiuan Kerja Forging

Stasiun Kerja Forging yang baru lebih cepat dan sistem kerjanya dibuat otomatis dengan menggunakan daya motor ½ HP, sehingga dapat mengurangi tenaga fisik pekerja dibandingkan dengan Stasiun Kerja lama yang masih manual.

4. Stasiun Kerja Blending

Stasiun Kerja Blending yang baru memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:

a. Dimensi mesin: 150 cm x 80 cm x 120 cm jauh lebih kecil dari mesin yang lama, sehingga pengaturan tata letak bisa dijadikan satu lantai produksi dengan Stasiun Kerja yang lain. Hal ini menjadikan proses material handling bisa lebih singkat.

b. Mesin Roll Mill yang baru dilengkapi dengan skala yang mu- dah dilihat pekerja, sehingga pekerja dapat dengan mudah memposisikan rolnya.

c. Mesin Roll Mill juga dilengkapi dengan tempat sliding produk yang sangat bermanfaat untuk mengurangi waktu produksi, dimana pekerja tidak harus berdiri dan beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil benda kerja, karena benda kerja bergerak ke arah operator.

d. Operasional mesin pada Stasiun Kerja ini menggunakan saklar kaki untuk on­off, sehingga pekerja tidak perlu menghidupkan / mematikan mesin dengan tangan.

e. Proses pembentukan kawat menjadi jauh lebih mudah ka- rena proses penarikannya dibantu mesin dengan kecepatan tarik yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Mesin ini dilengkapi dengan Gear Box 1 : 60, dibandingkan sistem lama yang ditarik oleh pekerja secara manual dan membutuhkan tenaga yang kuat. Jika pekerja menarik kawat dengan diameter yang kecil dan membutuhkan kecepatan yang lebih rendah untuk menghindari putusnya kawat, Stasiun Kerja ini juga dilengkapi Box Panel dan pengatur kecepatan putar an sehingga pekerja dapat melakukan setting kecepatan ke level yang lebih rendah.

(48)

f. Pada saat pembentukan kawat diperlukan arah tarik yang bolak balik, Stasiun Kerja ini sudah dilengkapi dengan contactor pengatur arah putaran yang diletakkan di posisi yang nyaman untuk pekerja.

g. Untuk mengantisipasi putusnya kawat karena posisinya yang tidak lurus pada saat proses penarikan, Stasiun Kerja ini juga dilengkapi dengan stand cetakan kawat (Tungstand), yang dilengkapi dengan sistem bearing yang mampu merubah posisi secara horisontal dan vertikal.

5. Stasiun Kerja Finishing

Stasiun Kerja Finishing berupa mesin poles baru yang diletakkan pada meja adjustable. Mesin poles yang baru ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan UKM mitra. Dan hasil capaiannya adalah skrap pe rak yang dihasilkan pada saat pengerjaan tidak berhamburan karena mesin poles ini dilengkapi vacum yang dapat menyedot skrap secara langsung dan menempatkan pada wadah mesin poles.

Suara yang keluar dari mesin poles yang baru ini lebih halus dan tidak menimbulkan kebisingan, serta cahaya lampu yang berada di dalam mesin poles ini membuat pekerja dapat melaksanakan pekerjaannya dengan lebih jelas dan optimal.

6. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly adalah 3 dengan level resiko rendah.

7. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiuan Kerja Forging, Stasiun Kerja Blending dan Stasiun Kerja Finishing adalah 2 dengan level resiko rendah.

8. Hasil penerapan tata letak baru di UKM SILVER 999 menunjukkan bahwa di dalam ruangan seluas 18,75 m2 dapat diatur tata letak dari semua Stasiun Kerja di area produksi ini. Dari perancangan tata letak fasilitas pada lantai produksi di UKM Silver 999 dengan meng gunakan Metode SLP dan bantuan software BLOCPLAN 90 diperoleh capaian bahwa layout yang baru dapat mengurangi jarak lintasan produksi dari yang sebelumnya sejauh 51,35 meter berkurang menjadi 26,38 meter. Pengurangan jarak lintasan sebesar 24,97 meter atau sebesar 48,6 %.

(49)

5.2 Produktivitas

Data waktu proses produksi dalam menyelesaikan sepuluh buah produk cincin perak dengan menggunakan Stasiun Kerja lama dan Stasiun Kerja baru ditabelkan sebagai berikut:

Tabel 8. Waktu Proses Produksi

No Proses Waktu (Jam) Prosentase

Penurunan

Lama Baru

1 Peleburan 1 0,5 50 %

2 Perakitan 8 3,5 56 %

3 Tempa 2 1 50 %

4 Blendes 3 1 67 %

5 Poles 2 2 0 %

16 8

a. Produktivitas Stasiun Kerja Lama

Dalam pembuatan 10 cincin perak masing-masing seberat 7 gram dibutuhkan waktu seperti yang tercantum pada Tabel 3 (1 hari = 8 jam kerja). Biaya-biaya yang dikeluarkan adalah sebagai berikut:

1. Pembelian bahan baku 70 gram perak @ Rp. 10.000,-

= Rp. 700.000,- 2. Biaya tenaga kerja 2 hari @ Rp. 150.000,-

= Rp. 300.000,- 3. Biaya overhead (listrik, gas, Konsumsi) = Rp. 100.000,-

Total = Rp. 1.100.000,-

Harga jual setiap cincin adalah Rp. 225.000,- Sehingga nilai jual 10 cincin adalah Rp. 2.250.000,-

Maka produktivitas dalam produksi 10 cincin perak dengan menggunakan Stasiun Kerja lama adalah:

b. Produktivitas Stasiun Kerja Baru

Dalam pembuatan 10 cincin perak tersebut membutuhkan waktu yang lebih singkat, seperti yang terlihat pada Tabel 3. Sehingga

(50)

dalam waktu yang sama bisa dihasilkan 20 produk cincin.

Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan 20 cincin adalah : 1. Pembelian bahan baku 140 gram perak @ Rp. 10.000,-

= Rp. 1.400.000,- 2. Biaya tenaga kerja 2 hari @ Rp. 150.000,-

= Rp. 300.000,- 3. Biaya overhead (listrik, gas, Konsumsi)

= Rp. 150.000,- Total = Rp. 1.850.000,- Harga jual setiap cincin adalah Rp. 225.000,-

Sehingga nilai jual 20 cincin adalah Rp. 4.500.000,-

Maka produktivitas dalam jangka waktu kerja yang sama (produksi 20 cincin perak) dengan menggunakan Stasiun Kerja baru adalah :

Jadi dalam jangka waktu yang sama, produktivitas pembuatan cincin perak naik dari 204,5 % menjadi 243,2 %.

Penghasilan (Omzet) UKM mitra dengan menggunakan Stasiun Kerja baru juga meningkat 2 kali lipat, yakni dari Rp. 2.250.000,- menjadi Rp. 4.500.000,-.

Produktivitas pembuatan produk kerajinan perhiasan perak ini cukup tinggi, karena dalam proses pembuatannya dibutuhkan keahlian / keterampilan yang tinggi.

(51)
(52)

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan data Nordic Body Map di UKM SILVER 999 dapat diketahui tingkat keluhan musculoskeletal disorders pekerja di UKM ini.

Dengan menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) dike- tahui bahwa pada stasiun kerja existing memiliki level resiko menengah dan tinggi, sehingga perlu dibuat desain stasiun kerja baru.

Melalui pengukuran data antropometri tubuh pekerja di UKM ini di hasilkan desain stasiun kerja yang ergonomis. Dengan stasiun kerja yang adjustable, pekerja merasa lebih nyaman karena stasiun kerja yang baru dapat menyesuaikan dimensi tubuhnya pada saat posisi bekerja. Sehingga apabila pekerja merasa nyaman, hal ini dapat meningkatkan produktivitas UKM ini.

6.2 Rekomendasi

Brainstorming dengan pekerja UKM SILVER 999 dan memasukkan aspek antropometri tubuh pekerja merupakan pengembangan stasiun

(53)

kerja baru yang ergonomis, sehingga pekerja bisa merasa nyaman da lam melaksanakan pekerjaannya. Namun kekurangan yang dapat dicatat adalah penelitian ini tidak mempertimbangkan faktor bentuk dan keindahan produk perhiasannya. Sehingga ke depannya UKM harus memperhatikan faktor-faktor tersebut terkait dengan produk yang dihasilkan.

Yang dapat dikembangkan dari penelitian ini adalah melakukan pene litian lebih lanjut terhadap semua bidang kerajinan yaitu kerajinan perhiasan, kayu, gerabah, dan kaca, terkait stasiun kerjanya. Kesulitan yang bisa dihadapi adalah mengumpulkan seluruh keinginan UKM untuk membuat desain stasiun kerja sesuai dengan karakter bidang kerajinannya masing-masing.

6.3 Dokumentasi

Dari hasil kuesioner Nordic Body Map terlihat bahwa seluruh pekerja pada semua stasiun kerja tidak merasakan sakit. Hal ini menunjukkan bahwa stasiun kerja baru yang diterapkan di UKM SILVER 999 sudah ergonomis dan mampu mengurangi keluhan musculoskeletal pekerja.

Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly yang merupakan gabungan dari proses peleburan dan perakitan ini sudah memberikan hasil capaian yang maksimal, yakni menjadikan luas area produksi lebih efisien. Stasiun kerja lebih ergonomis dimana posisi pekerja lebih aman dan nyaman saat bekerja, selain itu meja kerja adjustable dapat disesuaikan dengan kebutuhan pekerja. Peralatan kerja terletak di dekat stasiun kerja dan disesuaikan kebutuhan pekerjanya. Posisi alat angkut material ditujukan untuk meminimalkan gerakan dan mengurangi tenaga fisik / ketidaknyamanan pekerja.

Stasiun Kerja Forging yang baru lebih cepat dan sistem kerjanya dibuat otomatis dengan menggunakan daya motor ½ HP, sehingga dapat mengurangi tenaga fisik pekerja dibandingkan dengan stasiun kerja lama yang masih manual.

Stasiun Kerja Blending yang baru memiliki dimensi mesin: 150 cm x 80 cm x 120 cm jauh lebih kecil dari mesin yang lama, sehingga pengaturan tata letak bisa dijadikan satu lantai produksi dengan stasiun kerja yang lain. Hal ini menjadikan proses material handling bisa lebih singkat.

(54)

Staiun Kerja Finishing berupa mesin poles baru yang diletakkan pada meja adjustable. Mesin poles yang baru ini sudah disesuaikan de- ngan kebutuhan UKM mitra. Dan hasil capaiannya adalah skrap perak yang dihasilkan pada saat pengerjaan tidak berhamburan karena mesin poles ini dilengkapi vacum yang dapat menyedot skrap secara langsung dan menempatkan pada wadah mesin poles. Suara yang keluar dari mesin poles yang baru ini lebih halus dan tidak menimbulkan kebisingan, serta cahaya lampu yang berada di dalam mesin poles ini membuat pekerja da- pat melaksanakan pekerjaannya dengan lebih jelas dan optimal.

Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiun Kerja Burning, Shaping dan Assembly adalah 3 dengan level resiko rendah. Hasil skor Rapid Entire Body Assessment (REBA) pada Stasiuan Kerja Forging, Stasiun Kerja Blending dan Stasiun Kerja Finishing adalah 2 dengan level resiko rendah.

Hasil penerapan tata letak baru di UKM SILVER 999 menunjukkan bahwa di dalam ruangan seluas 18,75 m2 dapat diatur tata letak dari semua stasiun kerja di area produksi ini. Dari perancangan tata letak fasilitas pada lantai produksi di UKM ini dengan menggunakan Metode SLP dan bantuan software BLOCPLAN 90 diperoleh capaian bahwa layout yang baru dapat mengurangi jarak lintasan produksi dari yang sebelumnya sejauh sejauh 51,35 meter berkurang menjadi 26,38 meter. Pengurangan jarak lintasan sebesar 24,97 meter atau sebesar 48,6 %.

Terjadi peningkatan produktivitas dari yang sebelumnya meng- gunakan Stasiun Kerja lama sebesar 204,5 %, setelah menggunakan Stasiun Kerja baru yang ergonomis meningkat menjadi 243,2 %.

Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dihasilkan berupa Stasiun Kerja ergonomis sudah diimplementasikan di UKM SILVER 999 sesuai dengan tata letak fasilitas yang dirancang, sebagaimana terlihat dalam gambar berikut:

(55)

Gambar 31. Desain Stasiun Kerja Ergonomis

Gambar 32. Tata Letak Stasiun Kerja Ergonomis

(56)

Daftar Pustaka

1. Bosch. (2012). Ergonomics Guidebook for Manual Production System 3.0.

Url: https://www.valin.com/documents/pdf/Bosch-Ergonomic- Guidebook.pdf

2. Hadiguna, R. A., and Setiawan, H. (2008). Tata Letak Pabrik, Yogyakarta: CV. Andi Offset. ISBN: 978-979-29-0275-4.

3. Hignett, S., and McAtamney, L. (2000). Rapid Entire Body Assessment (REBA), Journal of Applied Ergonomics, 31(2), 201- 205. DOI: 10.1016/s0003-6870(99)00039-3.

Url: http://europepmc.org/article/med/10711982

4. Nurmianto, E. (2004). Ergonomi : Konsep Dasar dan Aplikasinya, Surabaya: Guna Widya. ISBN: 979-545-007-7

5. Plantard, P., Shum, H.P.H., Le Pierres, A.S., and Multon, F. (2017).

Validation of An Ergonomic Assessment Method Using Kinect Data in Real Workplace Conditions, Journal of Applied Ergonomics, (65), 562-569. DOI: 10.1016/j.apergo.2016.10.015.

Url: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S000368701630240X?

via%3Dihub

6. Restuputri, D. P. (2017). Metode REBA untuk Pencegahan Musculoskeletal Disorder Tenaga Kerja, Jurnal Teknik Industri, 18(1), 19-28. DOI: 10.22219/JTIUMM.Vol18.No1.19-28.

Url: https://ejournal.umm.ac.id/index.php/industri/article/view/4417 7. Rofieq, M. (2018). Ergonomic Workstations for Handicraft Product

made from Fluorescent Lamp Waste, International Mechanical and Industrial Engineering Conference (IMIEC), 204(03001), 1-9. DOI:

10.1051/matecconf/201820403001.

Url: https://www.matec-conferences.org/articles/matecconf/abs/2018/63 /matecconf_imiec2018_03001

8. Stanton, N., Hedge, A., Brookhuis, K., Salas, E., and Hendrick, H.

(2004). Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods, Boca Raton: CRC Press. ISBN: 0-415-28700-6.

Referensi

Dokumen terkait

Salah satunya adalah dengan menggunakan algoritma backpropagation untuk mendapatkan nilai prediksi kondisi keuangan yang dapat digunakan untuk membantu menentukan perencanaan

Hasil penelitian ini, yaitu kesalahan pada tataran ejaan dalam majalah Pandawa IAIN Surakarta, terdapat kesalahan penulisan huruf kapital, kata yang dicetak

hak untuk setiap individu tetap terwujud dan penindaasan dapat dihindarkan, menjaga agar perekonomian dapat tumbuh, dan mengalami perkembangan yang teratur dan

Syukur Alhamdulillah terucap ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat-Nya sehingga dengan segala keterbatasan waktu, tenaga, dan pikiran yang dimiliki, akhirnya

Berdasarkan Berita Acara Pembukaan dan Evaluasi Penawaran Administrasi dan Teknis (File I) Nomor : BA- 921/PPBJ/2012 tanggal 21 Mei 2012 serta Berita Acara Pembukaan dan

Berdasarkan Berita Acara Pembukaan dan Evaluasi Penawaran Administrasi dan Teknis (File I) Jasa Ahli Hukum Negosiasi Pinjaman Nomor : BA- 1050/PPBJ/2012 tanggal 7 Juni

Penjelasan : Harga penawaran untuk pekerjaan bongkaran sudah termasuk biaya untuk membuang bongkaran tersebut ke lokasi lain. Lokasi tempat pembuangan bongkaran

Pada hari ini Jumat tanggal Delapan bulan Juni tahun dua ribu dua belas, dimulai pukul 16.01 WITA, bertempat di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Selong,