• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

9. Risiko kualitas dan daya saing produk

1.1 Latar Belakang

Tujuan perusahaan adalah memakmurkan pemilik perusahaan atau pemegang saham. Tujuan ini dapat diwujudkan dengan memaksimalkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham. Peran eksekutif dalam perusahaan adalah memaksimalkan kinerja keuangan, pertumbuhan keuangan dan pengelolaan risiko. Ketiga peran tersebut adalah upaya memaksimalkan nilai perusahaan.

Saat ini manajer perusahaan memiliki tugas mangelola risiko. Karena kompleknya kegiatan perusahaan yang dipicu perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi menyebabkan perusahaan harus mengantisipasi risiko. Ketidakpastian atau risiko tidak akan terlepas dari kegiatan perusahaan. Kemanapun kita mengelak untuk menghindari risiko, maka di situ akan berhadapan dengan risiko baru.

Risiko merupakan kemungkinan timbulnya kerugian. Kata kemungkinan itu menunjukkan kondisi yang tidak pasti. Risiko harus dikelola sehingga perusahaan dapat meminimalkan kerugian. Perusahaan berhadapan dengan risiko usaha dan risiko nonusaha. Risiko usaha adalah risiko yang berkaitan dengan kegiatan/ usaha perusahaan sedangkan risiko nonusaha adalah risiko yang tidak dapat dikendalikan perusahaan.

Banyak cara yang dilakukan perusahaan untuk menghidari risiko-risiko yang terjadi, yaitu dengan penerapan manajemen risiko. Dimulai pada tahun 2000, banyak cara yang dilakukan untuk membujuk perusahaan khususnya industri keuangan untuk menerapkan manajemen risiko. Contohnya Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission (COSO) tahun 2004 meluncurkan Enterprise Risk Management Integrated Framework. Pada tahun yang sama New York Stock Exchange (NYSE) menerbitkan tata kelola perusahaan yang mensyaratkan komite audit melibatkan kekeliruan risiko. Tahun 2010 the Securities dan Exhange Commission (SEC) mensosialisasikan peraturan baru untuk meningkatkan risiko termasuk pengungkapan dan laporan tahunan.

Praktik manajemen risiko di Indonesia masih terbilang baru. Praktik ini sendiri masih digabungkan dengan Good Corporate Governance (GCG) sehingga belum efektif. Tahun 2012 Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) mengeluarkan pedoman Manajemen risiko berbasis Governance yang terpisah dari Pedoman GCG. Pedoman ini banyak mengacu pada ISO 31000 yang membuat tiga aspek yaitu aspek struktural, aspek operasional, dan aspek perawatan. Hingga Agustus 2012, pedoman ini tampaknya masih belum disahkan sebagai pedoman resmi.

Manajemen risiko harus memadai agar dapat digunakan sebagai alat pengambil keputusan yang cermat dan tepat. Permintaan stakeholder terhadap pengungkapan yang lebih transparan membuat perusahaan melakukan perluasan mengenai informasi-informasi keuangan dan non-keuangan yang dianggap relevan.

Perusahaan yang memiliki tingkat risiko tinggi maka nilai perusahaan akan rendah. Sebaliknya jika perusahaan memiliki tingkat risiko rendah maka nilai perusahaan akan tinggi. Nilai perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham.

Banyak penelitian terdahulu menemukan bahwa manajemen risiko berpengaruh terhadap nilai perusahaan seperti Penelitian Bertinetti, Cavezzali, dan Gardenal (2013) menemukan bahwa Enterprise Risk Management (ERM) berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan pada perusahaan keuangan dan nonkeuangan di Eropa. Penerapan ERM bermanfaat bagi perusahaan untuk meningkatkan laba dan harga saham, meningkatkan efisiensi modal, dan membuat sinergi diantara aktivitas manajemen risiko.

Penelitian yang dilakukan Hoyt, Moore and Liebenberg (2008) menemukan bahwa hubungan positif antara nilai perusahaan dengan ERM. ERM signifikan secara statistik dan ekonomi kira-kira 17% atas nilai perusahaan. Penelitian ini menggunakan akronim seperti “Enterprise risk managemet, chief risk officer, risk committe, strategic risk management, consolidated risk management, holistik risk management, integrated risk management”. Tobin’s Q sebagai proksi nilai perusahaan. Perusahaan yang menerapkan ERM akan lebih mengerti kumpulan risiko inheren dalam aktivitas bisnis yang berbeda. ERM bermanfaat menambah efisiensi modal dan return on equity.

Penelitian yang dilakukan Widodo, Rohman, dan Yudawijaya (2013), menemukan bahwa Risiko pemberdayaan berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan sedangkan risiko keuangan dan risiko operasional berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan tambang. Perusahaan yang mampu mengungkapkan risiko keuangan pada laporan tahunan adalah perusahaan yang memiliki profitabiliatas besar. Perusahaan yang menyediakan informasi pengungkapan risiko operasional sehingga perusahaan memiliki nilai yang tinggi terhadap stakeholder. Semakin banyak risiko pemberdayaan yang diungkapkan, maka semakin tinggi pula nilai perusahaan.

Sanjaya dan Linawati (2015) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa secara bersama-sama ERM dan variabel kontrol yang terdiri dari ukuran perusahaan serta leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Namun secara parsial ERM tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Sedangkan ukuran perusahaan dan leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Namun penelitian yang dilakukan Sekerci (2014) menemukan bahwa tidak signifikan hubungan ERM dengan nilai perusahaan setelah pengendalian atas faktor-faktor lain nilai perusahaan. Ketidaksignifikan hasil menunjukkan bahwa shareholders tidak perhatian banyak mengenai penerapan ERM. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang dikirimkan kepada 150 perusahaan terbuka di negara Nordic. Nilai perusahaan diproksikan dengan rasio Tobin’s Q. ERM dapat menambah return on eqity dan nilai shareholder dengan disediakan modal untuk aktivitas perusahaan yang memiliki tingginya risiko.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Widodo, Rohman, dan Yudawijaya (2013) yang dilakukan untuk meneliti bahwa pengungkapan

manajemen risiko berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan transportasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Widodo, Rohman, dan Yudawijaya (2013) adalah tahun penelitiannya, variabel dependen yang digunakan dalam penelitiannya adalah nilai perusahaan diproksikan dengan profitabilitas perusahaan, sedangkan penelitian ini menggunakan Tobin’s Q. Sampel penelitiannya adalah perusahaan tambang sedangkan penelitian ini perusahaan transportasi.

Objek penelitian ini memilih perusahaan transportasi terdaftar di BEI karena sektor transportasi sebagai dasar pembangunan ekonomi, perkembangan masyarakat dan pertumbuhan industrialisasi. Sektor ini sangat penting karena negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat membutuhkan adanya sarana transportasi yang memadai sebagai penghubung aktivitas ekonomi, distribusi kebutuhan hidup masyarakat luas dan distribusi pemerataan penduduk dengan adanya aktivitas transmigrasi dan urbanisasi. Dalam transportasi masalah risiko (risk) sering terjadi baik yang menyangkut jiwa manusia maupun barang-barang muatan serta alat angkutnya. Kerugian dalam pengangkutan yang menimpa penumpang dan barang sangat besar apabila tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Pengungkapan Manajemen Risiko Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Transportasi Yang Terdaftar Di BEI”

Dokumen terkait