TINJAUAN PUSTAKA
9. Risiko kualitas dan daya saing produk
2.1.7 Nilai Perusahaan
Perusahaan merupakan organisasi yang mencari keuntungan, maka tujuan dari perusahaan biasanya dinyatakan dalam bentuk uang. Terdapat dua tujuan utama perusahaan yaitu memaksimalkan keuntungan dan memaksimalkan kemakmuran.
Tujuan memaksimalkan kemakmuran adalah memaksimalkan nilai dari perusahaan. Tujuan ini dapat pula diartikan nilai sekarang dari perusahaan itu terhadap prospek masa depannya. Menurut Gitosudarmo dan Basri (2002:12) suatu pedoman dalam memaksimalkan kemakmuran atau nilai perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Menghindari risiko yang tinggi
Bila perusahaan sedang melaksanakan operasi berjangka panjang, maka harus dihindarkan tingkat risiko yang tinggi. Proyek-proyek yang memiliki kemungkinan laba yang tinggi tetapi mengandung risiko yang tinggi perlu dihindarkan. Menerima proyek-proyek tersebut berarti suatu kegagalan dapat mematahkan kelangsungan hidup perusahaan.
2. Membayarkan Dividen
Pada saat perusahaan sedang mengalami pertumbuhan, dividen kemungkinan kecil, agar perusahaan dapat memupuk dana yang diperlukan. Pada saat perusahaan berada pada maturity, sedangkan kebutuhan dana tidak begitu besar, maka dividen yang dibayarkan dapat diperbesar.
3. Mengusahakan Pertumbuhan
Apabila perusahaan dapat mengembangkan penjualan/market share , hal ini dapat berakibat keselamatan usaha di dalam persaingan. Volume penjualan yang luas, stabil dan diverfikasi,dan perubahan preferensi konsumen maupun penurunan permintaan. Dari alasan-alasan tersebut maka perusahaan dapat memaksimumkan kemaksuran secara terus- menerus.
4. Mempertahankan tingginya harga pasar sahan
Manajer harus selalu mendorong masyarakat agar bersedia menanamkan dananya ke perusahaan. Dengan pemilihan investasi tepat, maka perusahaan akan ditunjuk sebagai tempat penanam modal yang bijaksana.
Nilai perusahaan dapat diukur dengan suatu rasio yang disebut rasio nilai pasar. Rasio nilai pasar (market value ratios) adalah sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham perusahaan dengan laba, arus kas, dan nilai buku per sahamnya. Rasio ini memberikan indikasi bagi manajemen tentang bagaimana pandangan investor terhadap risiko dan prospek perusahaan di masa depan (Brigham dan Houston, 2012:150).
Menurut Brigham dan Houston (2012:150) terdapat beberapa pendekatan analisis rasio market value yaitu :
1. Price Earning Ratio (PER) yaitu perbandingan antara harga saham di pasar perdana dengan pendapatan yang diterima.
2. Price Book Value (PBV) yaitu rasio yang menunjukkan apakah harga saham (harga pasarnya) diperdagangkan di atas atau di bawah nilai buku saham tersebut.
3. Dividend Yield Ratio yaitu rasio yang menunjukkan tingkat penghasilan berjalan yang diperoleh dari investasi saham.
4. Dividen Payout Ratio (DPR) yaitu rasio yang menunjukkan besarnya laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Dalam penelitian Bertinetti, Cavezzali, dan Gardenal (2013), bahwa nilai perusahaan diproksikan dengan Tobin’s Q karena mencerminkan ekspetasi pasar dan ukuran kinerja lainnya. Tobin’s Q dinilai bisa memberikan informasi paling baik, karena dalam Tobin’s Q memasukkan semua unsur hutang dan modal saham perusahaan, tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya ekuitas perusahaan yang dimasukkan namun seluruh aset perusahaan. Dengan memasukkan seluruh aset perusahaan berarti perusahaan tidak hanya terfokus pada satu tipe investor saja yaitu investor dalam bentuk saham namun juga untuk kreditur, karena sumber pembiayaan operasional perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya saja tetapi juga dari pinjaman yang diberikan oleh kreditur.
Tobin’s Q atau Q ratio atau Q Teori adalah rasio atau teori yang pada tahun 1969 diperkenalkan pertama kali oleh James Tobin. James Tobin adalah seorang ekonom Amerika yang sukses mendapatkan nobel dalam bidang ekonomi dengan hipotesisnya, nilai pasar dari suatu perusahaan seharusnya sama dengan biaya ganti aset perusahaan tersebut sehingga terciptalah keadaan yang ekuilibrium.
Rumus Tobin’s Q yaitu penjumlahan dari ME dan DEBT dibagi dengan TA dimana ME bisa dicari dengan mengkalikan jumlah saham biasa perusahaan yang beredar di akhir tahun dengan harga penutupan saham (closing price) di akhir tahun, DEBT dihitung dengan cara (Total Utang + Persediaan – Aset Lancar) dan TA merupakan nilai buku total aset perusahaan. Rumus tersebut dituliskan sebagai berikut:
Tobin's Q=(ME+DEBT)TA
Rumus di atas telah disesuaikan dengan kondisi transaksi keuangan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Tobin’s q < 1 Menggambarkan bahwa saham dalam kondisi undervalued. Manajemen telah gagal dalam mengelola aset perusahaan. Potensi pertumbuhan investasi rendah. Tobin’s q = 1 Menggambarkan bahwa saham dalam kondisi average. Manajemen stagnan dalam mengelola aset. Potensi pertumbuhan investasi tidak berkembang. Tobin’s q > 1 Menggambarkan bahwa saham dalam kondisi overvalued. Manajemen berhasil dalam mengelola aset perusahaan. Potensi pertumbuhan investasi tinggi. 2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Dasar atau acuan yang berupa teori-teori atau temuan-temuan dari hasil penelitian sebelumnya merupakan hal yang sangat penting dan dapat dijadikan
sebagai data pendukung. Salah satu data pendukung adalah penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan yang sedang dibahas dalam penelitian ini. Dalam hal ini, fokus penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah terkait dengan masalah manajemen risiko. Oleh karena itu, peneliti melakukan langkah kajian terhadap beberapa hasil penelitian berupa tesis dan jurnal-jurnal akuntansi.
Penelitian tentang manajemen risiko diantaranya penelitian Sanjaya dan Linawati (2015), Sekerci (2014), Bertinetti, Cavezzali, dan Gardenal (2013), Widodo, Rohman dan Yudawijaya (2013) dan Hoyt, Moore and Liebenberg (2008).
Sanjaya dan Linawati (2015) menyajikan penelitian mengenai penerapan Enterprise Risk Management dan variabel kontrol terhadap nilai perusahaan disektor Keuangan. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat pengaruh signifikan ERM dan variabel kontrol secara bersama-sama terhadap nilai perusahaan dan tidak berpengaruh signifikan ERM terhadap nilai perusahaan sedangkan variabel kontrol berpengaruh signidkan terhadap nilai perusahaan
Referensi Tesis dari Sekerci (2014) dengan judul Does Enterprise Risk Management Create Value for firms?: Evidence from Nordic Countries. Nordic countries adalah negara wilayah eropa timur dan atlantik utara seperti Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia. Penelitian ini menyelidiki pengaruh penerapan ERM terhadap nilai perusahaan. Hasilnya tidak menemukan hubungan signifikan antara ERM dengan nilai perusahaan. Survey yang dilakukan sekerci bahwa shareholders tidak melakukan banyak untuk penerapan ERM dan manfaat
ERM dapat menutupi biaya tinggi, tetapi tidak membawa keuntungan untuk perusahaan.
Rujukan penelitian yang ke tiga yaitu jurnal dari Bertinetti, Cavezzali, dan Gardenal (2013) dengan judul Pengaruh penerapan Enterprise Risk Management terhadap nilai perusahaan pada Perusahaan Eropa. Jurnal ini menggunakan Tobin’s Q sebagai variabel dependen dan variabel independen adalah Enterprise Risk Management. Variabel kontrol penelitian ini termasuk size, leverage, sales growth, ROA, dividends, dan BETA. Hasil penelitian ini bahwa penerapan ERM berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Variabel kontrol size, leverage, ROA dan BETA berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan sedangkan sales growth dan dividends tidak berpengaruh terhadap Tobin’s Q.
Widodo, Rohman dan Yudawijaya (2013) dengan judul penelitian Pengaruh Pengungkapan Manajemen Risiko Terhadap Nilai Perusahaan Bukti empiris dari Pasar Modal Indonesia. Variabel dependen adalah nilai perusahaan diproksikan dengan Return On Asset (ROA) dan variabel independen adalah risiko keuangan, risiko operasional, dan risiko pemberdayaan. Objek penelitian adalah menguji pengungkapan manajemen risiko terhadap nilai perusahaan. Pengujian dilakukan dengan regresi berganda dan hasilnya bahwa sebanyak 49 dari 60 perusahaan telah mengungkapkan manajemen risiko, pengungkapan yang paling banyak adalah risiko keuangan dan operasional dan secara parsial risiko pemberdayaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan dan risiko keuangan dan operasional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Penelitian terdahulu berikutnya yang dilakukan oleh Hoyt, Moore and. Liebenberg (2008) dengan judul The value of Enterprice Risk Management : Evidence from the U.S. Insurance Industry. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ERM berpengaruh terhadap size, dan institutional ownership dan hubungan negatif dengan reinsurance use dan leverage. Penelitian ini juga menilai pengaruh ERM terhadap Tobin’s Q, proksi standar untuk nilai perusahaan. Dengan demikian, ditemukan bahwa ERM berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Untuk memudahkan pemahaman, penelitian terdahulu dituangkan dalam tabel 2.1 yang disusun berdasarkan tahun terkini hingga terdahulu. Berikut disajikan tabel 2.1 tentang ringkasan penelitian terdahulu.
Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Penelitian Variabel
Penelitian Indikator Teknik Analisis Hasil Penelitian 1 Sanjaya dan Linawati (2015) Pengaruh Penerapan Enterprise Risk Management dan Variabel kontrol Terhadap Nilai Perusahaan di Sektor Keuangan Variabel Dependen: Nilai Perusahaan Variabel Independen: Pengungkapan ERM Variabel Kontrol Ukuran Perusahaan dan Leverage Nilai perusahaan diukur dengan menggunakan Tobin’s Q ERM diukur dengan pencarian frase “Enterprise Risk Management” Ukuran perusahaan diukur dengan jumlah aset, leverage diukur dengan leverage ratio Teknik pengujian:Uji asumsi klasik, yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolineritas, uji heteroskedasitas dan uji autokorelasi Teknik analisis data : regresi linear berganda (OLS) a. Terdapat pengaruh signifikan ERM dan variabel kontrol secara bersama-sama terhadap nilai perusahaan di sektor keuangan b. Tidak berpengaruh signifikan ERM terhadap nilai perusahaan sedangkan variabel kontrol berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan di sektor keuangan
2. Sekerci (2014) Does Enterprise risk Management create value for firms?: Evidence from Nordic Countries Variable Dependent: Firm Value Variable Independent: ERM
Firm values used Tobin’s Q ERM is dummy variable Two Stage Least Square (2SLS) Regression
The main finding of the paper is that value creation of ERM is not supported after controlling for other determinants of firm value and endogeneity bias. The findings are highly consistent over different specifications.
3 Bertinetti, Cavezzali and Gardenal (2013)
The effect of the enterprise risk management
implementation on the firm value of European companies
Variable Dependen: The Firm Value Variable Independen: ERM adoption
The firm value used Tobin’s Q ERM is set equal to 1 in
correspondence of the first evidence of ERM adoption
Tobins’s Q Ratio A fix effect panel regression
This paper find a positive statistically significant relation between the ERM adoption and firm value. As for the probability that a firm engages in ERM protocol, we find size, the company beta dan profitability (ROA) are statically significant determinants. 4. Widodo,Rohman dan Yudawijaya (2013) PENGARUH PENGUNGKAPAN MANAJEMEN RISIKO TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Bukti Empiris dari Pasar Modal Indonesia)
Variabel Dependen: Nilai perusahaan diproksikan dengan profitabilitas perusahaan Variabel Independen: a. Risiko Keuangan b. Risiko Operasional c. Risiko Pemberdayaan Profitabiliatas diukur dengan menggunakan Return on Asset (ROA) Risiko keuangan, risiko operasional, risiko pemberdayaan diukur manual analisis dengan cara beri nilai 1 apabila risiko diungkapkan, nilai 0 jika risiko tidak diungkapkan Pengujian Regresi berganda a. Berdasarkan jumlah populasi sebesar 60 perusahaan tambang di Indonesia sebanyak 49 perusahaan telah mengungkapkan manajemen risiko b. Bentuk pengungkapan yang paling banyak adalah risiko keuangan dan risiko operasional c. Risiko pemberdayaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan tambang. Sedangkan risiko keuangan dan risiko operasional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan 5. Hoyt, Moore and. Liebenberg (2008)
The value of Enterprise Risk Management : Evidence from the U.S. Insurance Industry Variable Dependent: ERM Variable Independent: Firm Value ERM is a dummy variable equal to one for firm the engage in ERM. Firm value used Tobin’s Q ratio
Regression Analysis
This paper find a positive relation between firm value and the use of ERM. ERM premium is statically and economically significant and approximately 17 % percent of firm value. Sumber :Hasil ringkasan peneliti