• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah ﻝْﻮُﻌْﻔَﻤِﻬِﺑ/ maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’ dalam kalimat

Dalam dokumen SKRIPSI SARJANA OLEH : NIM: (Halaman 35-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.6 Jumlah ﻝْﻮُﻌْﻔَﻤِﻬِﺑ/ maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’ dalam kalimat

Dalam struktur kalimat bahasa Arab, adakalanya maf’ul bih (objek) terdiri dari satu, dua, atau 3 maf’ul bih dalam suatu kalimat.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ghany (2010: 6), yaitu sebagai berikut:

: ِﻞْﻌِﻔﻟﺍ ٍﺔَﻌْﻴِﺒَﻁ ﻰَﻟِﺇ ُﻊِﺟﺍَﺭ َﻚِﻟَﺫَﻭ َﺮَﺜْﻛَﺃ ْﻭَﺃ ِﻥَﻻْﻮُﻌْﻔَﻣ ْﻭَﺃ ُﺪِﺣﺍَﻭ ِﻪﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ِﺔَﻠْﻤُﺠﻟﺍ ﻰِﻓ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗ

ٍﺮَﺜْﻛَ ِﻷ ﺎًﻳ ﱢﺪَﻌُﺘُﻣ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗ َﻭ ُﺪِﺣﺍَﻭ ِﻪِﺑ ٍﻝْﻮُﻌْﻔَﻤِﻟ ًﺎﻳّﺪَﻌَﺘُﻣ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻘَﻓ

/Qad yakūnu fī al-jumlati maf‘ūlu bih wāḥidu aw maf‘ūlāni aw akṡara wa żalika rāji‘u ilā ṭabī‘atin al-fī‘li: faqad yakūnu al-fi‘lu muta‘addiyan limaf‘ūlin bihi wāḥidu wa qad yakūnu muta‘addiyan liˊakṡarin/ ‘Dalam suatu kalimat bahasa Arab, ada kalanya objek (maf’ul bih) terdiri dari satu, dua, atau lebih. Keadaan ini terdapat pada jumlah yang fi’lnya merupakan fi’l muta’addi. Fi’l muta’addi ada yang terdiri dari satu maf’ul bih dan ada yang terdiri dari beberapa maf’ul bih.

Menurut Al-Ghany (2010: 24) yang dikatakan fi’l muta’addi adalah sebagai berikut:

،ًﻼِﻋﺎَﻓ ُﻊَﻓْﺮَﻳ ﺎًﻀْﻳَﺃ َﻭ ُﺮَﺜْﻛَﺃ ْﻭَﺃ ِﻪِﺑ ِﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ﻰَﻟِﺇ ُﺝﺎَﺘْﺤَﻳ ﻯِﺬﱠﻟﺍ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ َﻮُﻫ ﻯﱢﺪَﻌَﺘُﻤﻟﺍ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ﺎَﻣ ﺎَﻬْﻨِﻣ َﻭ ،ِﻦْﻴَﻟْﻮُﻌْﻔَﻣ ُﺐِﺼْﻨَﻳ ﺎَﻣ ﺎَﻬْﻨِﻣ َﻭ ،ﺍًﺪِﺣﺍَﻭ ِﻪِﺑ ًﻻْﻮُﻌْﻔَﻣ ُﺐِﺼْﻨَﻳ ﺎَﻣ ﺎَﻬْﻨِﻣ ُﺔَﻳﱢﺪَﻌَﺘُﻤﻟﺍ ُﻝﺎَﻌْﻓَﻷﺍَﻭ ﻞْﻴِﻋﺎَﻔَﻣ ٌﺔَﺛ َﻼَﺛ ُﺐِﺼْﻨَﻳ

/Al-fi’li al-muta‘addī huwa al-fi‘lu allaẓī yaḥtāju ilā maf‘ūli bihi aw akṡaru wa ayḍan yarfa‘u fā‘ilan, wa al-af‘ālu al-muta‘addiyatu minhā mā yanṣibu maf‘ūlan bihi wāḥidan, wa minhā mā yanṣibu maf‘ūlaini, wa minhā mā yanṣibu ṡalāsatun mafā‘īl/‘Fi’l muta’addi adalah fi’l yang memerlukan satu atau lebih maf’ul bih di dalam kalimat tersebut dan juga merafa’kan fa’il. Fi’l muta’addi terdiri dari satu maf’ul bih, dua maf’ul bih, dan tiga maf’ul bih.

Adapun fi’l-fi’l yang terdiri dari dua maf’ul bih menurut Ni’mah (t.t: 68) adalah sebagai berikut:

Fi’l-fi’l yang terdiri dari dua maf’ul bih yang asalnya adalah mubtada’ dan khabar:

َﺐِﺴَﺣ - َﻝﺎَﺧ- ﱠﻦَﻅ : ﱠﻦَﻈﻟﺍ ﻝﺎَﻌْﻓَﺃ َﻢَﻋَﺯ

ْﺐَﻫ - َﻞَﻌَﺟ

-/Af‘ālu aẓ-ẓanna: ẓanna, khāla, ḥasiba, za‘ama, ja‘ala, hab/ ‘Af’al ẓan:

menyangka, menyangka, mengira, mengira, menyangka, sangkalah!’

Contoh:

ُﺖْﻨَﻨَﻅ ﺎًﻤِﺋﺎَﻧ َﻞُﺟﱠﺮﻟﺍ

/Ẓanantu ar-rajula nāˊiman/ ‘Aku menyangka laki-laki itu tidur’

Kalimat di atas merupakan contoh maf’ul bih yang terdiri dari dua maf’ul bih dari af’al ẓanna. Kata

َﻞُﺟﱠﺮﻟﺍ

/ar-rujala/ ‘laki-laki’ merupakan maf’ul bih awal dengan tanda naṣab fathah, sedangkan kata

ﺎًﻤِﺋﺎَﻧ

/nāˊiman/ ‘tidur’ merupakan maf’ul bih ṡani dengan tanda naṣab fathah.

ﻯَﺃَﺭ : ﻦْﻴِﻘَﻴﻟﺍ ﻝﺎَﻌْﻓَﺃ َﻢِﻠَﻋ

َﺪَﺟَﻭ -( ﻢﻠﻋِﺇ ﻰﻨﻌﻤﺑ) ﻢﱠﻠَﻌَﺗ - ﻰَﻔْﻟَﺃ

/Af‘ālu al-yaqīn: raˊā, ‘alima, wajada, alfā, ta‘allam (bima‘na i‘lam)/‘Af’alu yaqin: mengetahui, mendapati, mendapati, mengetahui, ketahuilah’

Contoh:

ﺍًﺩﺎَﻬِﺟ َﺓﺎَﻴَﺤﻟﺍ ِﻢﱠﻠَﻌَﺗ

/Ta‘allami al-ḥayāta jihādan/ ‘Ketahuilah hidup itu jihad’

Kalimat di atas merupakan contoh maf’ul bih yang terdiri dari dua maf’ulbih dari af’al yaqin. Kata

َﺓﺎَﻴَﺤﻟﺍ

/al-ḥayāta/ ‘hidup’ merupakan maf’ul bih awwal dengan tanda naṣab fathah, sedangkan kata

ﺍًﺩﺎَﻬِﺟ

/jihādan/ ‘jihad’ merupakan maf’ul bih ṡani dengan tanda naṣab fathah.

ﺬِﺨَﺗ - َﺬَﺨﱠﺗﺍ - ﱠﺩَﺭ - َﻞَﻌَﺟ - َﻝﱠﻮَﺣ - َﺮﱠﻴّﺻ : ﻞﻳﻮﺤﺘﻟﺍ ﻝﺎَﻌْﻓَﺃ

/Af‘ālu at-taḥwīl: ṣayyara, ḥawwala, ja‘ala, radda, ittakhaża, takhiża/

‘Af’al tahwil: menjadikan, merubah, menjadikan, mengembalikan, menjadikan, menjadikan’

Contoh:

ُﷲ َﺬَﺨﱠﺗﺍَﻭ ًﻼْﻴِﻠَﺧ َﻢْﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ

: ءﺎﺴﻨﻟﺍ) ۱۲٥

(

/Wa ittakhaża Allāhu ibrāhīma khalīlan/ ‘Allah telah mengambil Ibrahim sebagai kekasih’ (An-Nisa: 125)

Kalimat di atas merupakan contoh maf’ul bih yang terdiri dari dua maf’ul bih dari af’al tahwil. Kata

َﻢْﻴِﻫﺍَﺮْﺑِﺇ

/Ibrahīma/ ‘Ibrahim’ merupakan

maf’ul bih awal dengan tanda naṣabfathah, dan kata

ًﻼْﻴِﻠَﺧ

/khalīlan/

‘kekasih’ merupakan maf’ul bih ṡani dengan tanda naṣab fathah.

Fi’l-fi’l yang terdiri dari dua maf’ul bih yang tidak bisa dimasuki mubtada’ dan khabar:

ﺎَﺴَﻛ َﺲَﺒْﻟَﺃ - ﻰَﻄْﻋَﺃ َﺢَﻨَﻣ -

َﻝَﺄَﺳ َﻊَﻨَﻣ

-/Kasā, albasa, a’ṭā, manaḥa, saˊala, mana‘a, ‘allama/

‘Memakaikan/menyelimuti, memakaikan/menyelimuti, memberikan, memberikan, meminta, mencegah’

Contoh:

ﺎًﺑﺎَﻴِﺛ َﺮْﻴِﻘَﻔﻟﺍ ُﺖْﺴَﺒﻟﺍ

/Albastu al-faqīra ṡiyāban/ ‘Saya memakainkan baju pada seorang faqir’

Pada kalimat di atas, kata

َﺮْﻴِﻘَﻔﻟﺍ

/al-faqīra/ ‘seorang faqir’ merupakan maf’ul bih awal dengan tanda naṣab fathah, sedangkan kata

ﺎًﺑﺎَﻴِﺛ

/ṡiyāban/

merupakan maf’ul bih ṡani dengan tanda naṣab fathah.

Selain itu, yang dapat menjadi maf’ul bih ialah memuta’addikanfi’l.

Hal ini sesuai dengan yang dikatan oleh Ni’mah (t.t: 79) seperti berikut ini:

ٍﺔَﻴِﻧﺎَﺜٍﻔْﻴِﻌْﻀَﺘِﺑ ْﻭَﺃ ِﻪِﻟﱠﻭَﺃ ﻰِﻓ ٍﺓَﺰْﻤَﻫ ٍﺓَﺩﺎَﻳِﺰِﺑ ِﻪِﺑ ٍﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ﻰَﻟِﺇ ﻯﱠﺪَﻌَﺘَﻳ ْﺪَﻗ ُﻡِﺯﻼَﻟﺍ ﻰِﺛ َﻼﱡﺜﻟﺍ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ

/Al-fi‘lu aṡ-ṡulāṡī al-lāzīmu qad yata‘addā ilā maf‘ūlin bihi biziyādatin hamzatin fī awwalihi aw bitaḍ‘īfin ṡāniyatin/ ‘Fi’l ṡulaṡi lazim terkadang bisa menjadi muta’addi kepada satu maf’ul bih dengan menambahkan hamzah pada awalnya atau dengan mentasydidkan huruf yang kedua’

Contoh:

ُﻕْﺪﱢﺼﻟﺍ ﺎَﺠَﻧ

/najā aṣ-ṣidqu/ ‘kejujuran telah selamat’, bila

ditambahkan alif di awalnya menjadi

ُﻪَﺒِﺣﺎَﺻ ُﻕْﺪﱢﺼﻟﺍ ﻰَﺠْﻧَﺃ

/anjā aṣ-ṣidqu ṣāḥibahu/ ‘kejujuran menyelamatkan orang yang jujur’,bila ditasydidkan

huruf yang kedua menjadi

ُﻪَﺒِﺣﺎَﺻ ُﻕْﺪﱢﺼﻟﺍ ﻰﱠﺠَﻧ

/najjā aṣ-ṣidqu ṣāḥibahu/

‘kejujuran menyelamatkan orang yang jujur’.

Fi’l ṡulaṡi lazim juga dapat menjadi muta’addi dengan menambahkan alif setelah huruf pertama. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ni’mah (t.t: 79) seperti berikut:

ُﻒِﻟَﺃ ﻰﱠﻤَﺴُﺗ ُﻪْﻨِﻣ ِﻝﱠﻭَﻻﺍ ِﻑْﺮَﺤﻟﺍ َﺪْﻌَﺑ ُﻒِﻟَﺃ ٍﺓَﺩﺎَﻳِﺰِﺑ ُﻡِﺯ ﱠﻼﻟﺍ ﻰِﺛ َﻼﱡﺜﻟﺍ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ﻯﱠﺪَﻌَﺘَﻳ ﺎَﻤَﻛ ِﺔَﻠِﻋﺎَﻔَﻤﻟﺍ

/Kamā yata‘addā fi‘lu aṡ-ṡulāṡī lāzimu biziyādatin alifu ba‘da al-ḥarfi al-awwali minhu tusammā alifu al-mafā‘ilata/ ‘Fi’l ṡulaṡi lazim juga dapat menjadi muta’addi dengan menambahkan alif setelah huruf pertama yang dinamakan dengan alif mufa’alah’

Contoh:

ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ َﺲَﻠَﺟ

/Jalasa Muḥammadun/ ‘Muhammad telah duduk’, jika ditambahkan dengan alif setelah huruf pertama maka menjadi

َﺲَﻟﺎَﺟ

َﺭﺎَﻴْﺧَﻷﺍٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ

/jālasa Muḥammadun al-akhyāra/ ‘Muhammad sedang

duduk-duduk bersama orang-orang yang baik.

Kemudian fi’l ṡulaṡi muta’addi ke satu maf’ul bih terkadang menjadi muta’addi ke dua maf’ulbih dengan menambahkan hamzah atau tasydid.

Seperti yang dikemukakan oleh Ni’mah (t.t 79) seperti berikut:

ِﻦْﻴَﻟْﻮُﻌْﻔَﻣ ﻰَﻟِﺇ ِﻒْﻴِﻌْﻀﱠﺘﻟﺍَﻭ ِﺓَﺰْﻤَﻬﻟﺎِﺑ ﻯﱠﺪَﻌَﺘَﻳ ْﺪَﻗ ٍﺪِﺣﺍَﻭ ٍﻝْﻮُﻌْﻔَﻤِﻟ ﻯﱢﺪَﻌَﺘُﻤﻟﺍ ﻰِﺛ َﻼﱡﺜﻟﺍ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ

/Al-fi‘lu aṡ-ṡulāṡi muta‘addī limaf‘ūlin wāḥidin qad yata‘addā bi al-hamzati wa at-taḍ‘īfi ilā maf‘ūlaini/ ‘Fi’l ṡulaṡi muta’addi yang terdiri dari satu maf’ul bih terkadang menjadi muta’addi yang dapat membuat dua maf’ulbih dengan menambahkan hamzah atau tasydid’

Contoh:

َﺱْﺭﱠﺪﻟﺍ ُﺐِﻟﺎﱠﻄﻟﺍ َﻢِﻬَﻓ

/fahima aṭ-ṭālibu ad-darsa/ ‘pelajar itu memahami pelajaran’, jika ditambahkan dengan hamzah maka menjadi

ُﺖْﻤَﻬْﻓَﺃ

َﺱْﺭﱠﺪﻟﺎَﺒِﻟﺎﱠﻄﻟﺍ

/afhamtu aṭ-ṭāliba ad-darsa/ ‘aku memahamkan pelajaran itu kepada pelajar’, kemudian jika ditasydidkan maka menjadi

ُﺖْﻤﱠﻬَﻓ َﺱْﺭﱠﺪﻟﺎَﺒِﻟﺎﱠﻄﻟﺍ

/fahhamtu aṭ-ṭāliba ad-darsa/ ‘aku memahamkan pelajaran itu kepada pelajar’

Kemudian sebagian fi’l muta’addi yang terdiri dari dua maf’ul terkadang menjadi muta’addi yang terdiri dari tiga maf’ul. Seperti yang dikemukakan oleh Ni’mah (t.t: 80) seperti berikut:

ٍﺔَﺛ َﻼَﺛ ﻰَﻟِﺇ ﺔَﻳﱢﺪَﻌَﺘُﻣ ِﻒْﻴِﻌْﻀﱠﺘﻟﺍَﻭ ِﺓَﺰْﻤَﻬﻟ ﺎِﺑ ُﺮْﻴِﺼَﺗ ْﺪَﻗ ِﻦْﻴَﻟْﻮُﻌْﻔَﻣ ﻰَﻟِﺇ ِﺔَﻳﱢﺪَﻌَﺘُﻤﻟﺍ ِﻝﺎَﻌْﻓَﻷﺍ َﺾْﻌَﺑ ٍﻞْﻴِﻋﺎَﻔَﻣ

/Ba‘ḍa al-af‘āli al-muta‘addiyati ilā maf‘ūlaini qad taṣīru bi al-hamzati wa at-taḍ‘īfi muta‘addiyatin ilā ṡalāṡatin mafā‘īlin/ ‘Sebagian fi’l muta’addi yang terdiri dari dua maf’ul terkadang menjadi muta’addi yang terdiri dari tiga maf’ul dengan menambahkan hamzah atau tasydid’

– َﺄَﺒْﻧَﺃ – َﺄﱠﺒَﻧ – ﻯَﺭﺃ – َﻢَﻠْﻋَﺃ : َﻰِﻫ َﻭ ٌﺔَﻌْﺒَﺳ ﺎَﻫُﺩَﺪَﻋ ِﻞْﻴِﻋﺎَﻔَﻣ ِﺔَﺛَﻼَﺛ ﻰَﻟِﺇ ِﺔَﻳﱢﺪَﻌَﺘُﻤﻟﺍ ُﻝﺎَﻌْﻓَﻻﺍَﻭ َﺙﱠﺪَﺣ – َﺮَﺒْﺧَﺃ – َﺮﱠﺒَﺧ

/Wa al-af‘ālu al-muta‘addiyati ilā ṡalāṡatin mafā‘īli ‘adaduhā sab‘atun wa hiya: a‘lama, arā, nabbaˊa, anbaˊa, khabbara, akhbara , ḥaddaṡa/

‘Fi’l-fi’l yang muta’addi yang terdiri dari tiga maf’ul bih jumlahnya ada tujuh, yaitu: memberitahu, memperlihatkan, memberitahu, memberitahu, memberitahu, memberitahu, memberitahu’

Contoh:

ُﺖْﻤَﻠْﻋَﺃ ﺎًﺤْﻴِﺤَﺻ َﺮَﺒَﺨﻟﺍ ﺎًّﻴِﻠَﻋ

/A‘lamtu ‘aliyyan al-khabara ṣaḥīḥan/ ‘Aku memberitahu Ali bahwa berita itu benar’

Kata

ﺎًّﻴِﻠَﻋ

/‘Aliyyan/ ‘Ali’ merupakan maf’ul bih awal dengan tanda naṣab fathah, kemudian kata

ﺮَﺒَﺨﻟﺍ

/al-khabara/ ‘berita’ merupakan maf’ul bih ṡani dengan tanda naṣab fathah dan kata

ﺎًﺤْﻴِﺤَﺻ

/ṣaḥiḥan/ ‘benar’

adalah maf’ul bih ṡaliṡ dengan tanda naṣab fathah.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil

Berdasarkan data yang diperoleh dari Al-Qur’an

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/ sūratunAz-Zumar/, peneliti menemukan ada 97 (sembilan puluh tujuh)

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/. Dari seluruh jumlah ini,peneliti menemukan bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/

dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/ ada tiga bentuk, yaitu:

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/,

ﻞِﺼﱠﺘُﻣﺮْﻴِﻤَﺿ

/ḍamīrun muttaṣilun/, dan

ٌﻝﱠﻭَﺆُﻣ ٌﺭَﺪْﺼَﻣ

/maṣdarun muˊawwalun/.

Masing-masing ketiga bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ ini dapat dilihat dalam ayat-ayat yang tertera dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/ sebagai berikut:

1.

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam bentuk

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ terdiri dari 53 (lima puluh tiga) kata yang terdapat dalam ayat: 2, 41, 3, 4, 5, 38, 5, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 49, 8, 13, 23, 10, 20, 73, 8, 9, 9, 10, 11, 66, 67, 15, 42, 16, 17, 17, 18, 20, 21, 21, 22, 24, 29, 35, 36, 43, 43, 52, 53, 55, 18, 23, 58, 13, 72 dan 75.

2.

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam bentuk

ﻞِﺼﱠﺘُﻣ ﺮْﻴِﻤَﺿ

/ḍamīrun muttaṣilun/ terdiri dari 25 (dua puluh lima) kata yang terdapat dalam ayat: 7, 21, 49, 40, 40, 40, 50, 18, 25, 38, 51, 61, 3, 51, 36, 59, 6, 6, 7, 16, 38, 57, 64, 38, 3 dan 49.

3.

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam bentuk

ٌﻝﱠﻭَﺆُﻣ ٌﺭَﺪْﺼَﻣ

/maṣdarun muˊawwalun/

terdiri dari 3 (tiga) kata yang terdapat dalam ayat: 4, 11 dan 17.

Kemudian, peneliti menemukan dalam sebuah

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/

terdapat 2 (dua)

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ secara bersamaan pada

ﺓﺭﻮﺳ

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/sūratunAz-Zumar/. Kedua

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ ini ada yang berbentuk

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/, terdiri dari 2 (dua) kata yang terdapat dalam ayat 2 dan 14.

Kemudian ada yang berbentuk

ﻞِﺼﱠﺘُﻣ ﺮْﻴِﻤَﺿ

/ḍamīrun muttaṣilun/ dan

ﻢْﺳِﺍ ﺮِﻫﺎَﻅ

/isim ẓāhir/ terdiri dari 9 (sembilan) kata yang terdapat dalam ayat: 8, 21, 21, 49, 26, 35, 71, 74 dan 74.

Selain itu, peneliti menemukan tanda i’rab atau kasus bagi semua

ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ِﻪِﺑ

/maf‘ūlun bihi/ tersebut dengan tanda naṣab berharkat fatḥah /a/ dan kasrah /i/.

3.2 Bentuk-bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/ sūratunAz-Zumar/

Kedudukan

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam struktur kalimat bahasa Arab dapat diketahui dalam struktur

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/. Dalam

ﺓﺭﻮﺳ

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/sūratunAz-Zumar/ peneliti menemukan ada 3 (tiga) bentuk

ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

ِﻪِﺑ

/maf‘ūlun bihi/, yaitu bentuk

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/,

ﻞِﺼﱠﺘُﻣ ﺮْﻴِﻤَﺿ

/ḍamīrun muttaṣilun/ dan

ٌﻝﱠﻭَﺆُﻣ ٌﺭَﺪْﺼَﻣ

/maṣdarun muˊawwalun/.

Dalam struktur

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/ biasanya terdapat hanya satu

ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ِﻪِﺑ

/maf‘ūlun bihi/, tetapi di dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/, peneliti menemukan 2 (dua)

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam sebuah

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/.

Agar pembahasan ini lebih terperinci, maka peneliti akan menjelaskan data tentang bentuk-bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ yang terdiri dari satu kata dalam

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/ yang ada pada

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/. Selain itu, peneliti akan menjelaskan data tentang bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ yang terdiri dari dua kata dalam

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/.

3.2.1 Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ pada

ﺔﻠﻤﺟ

ﺔﻴﻠﻌﻓ

/jumlah fi’liyyah/ dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/.

Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir yang terdiri dari satu kata pada

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/ dan

ﺔﻠﻤﺟ ﺔﻴﻤﺳﺍ

/jumlah ismiyyah/dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/ terdapat 53 (lima puluh tiga) kata dalam ayat: 2, 41, 3, 4, 5, 38, 5, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 49, 8, 13, 23, 10, 20, 73, 8, 9, 9, 10, 11, 66, 67, 15, 42, 16, 17, 17, 18, 20, 21, 21, 22, 24, 29, 35, 36, 43, 43, 52, 53, 55, 18, 23, 58, 13, 72 dan 75.

Untuk melihat keberadaan

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam bentuk

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ berikut dapat dijelaskan seperti di bawah ini:

1. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 2:

ﺎّﻧِﺇ َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ َﻚْﻴَﻟِﺇ ﺎَﻨْﻟَﺰﻧَﺃ ﱢﻖَﺤْﻟﺎِﺑ

...

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ۲

(

/Innā anzalnā ilayka al-kitāba bi-alḥaqqi.../ ‘Sesunguhnya Kami menurunkan Kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran.’ (Q.S.

39: 2).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

َﻝَﺰﻧَﺃ

/anzala/ ‘menurunkan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr muttaṣil berupa ḥarf

ﺎَﻧ

/nā/ ‘kami’ yang menunjukkan ḍhamir

ُﻦْﺤَﻧ

/naḥnu/ ‘kami’ sebagai ḍamīr mutakallim pada fi’l māḍi

َﻝَﺰﻧَﺃ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ

/al-kitāba/ ‘buku’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

Hal yang sama dapat dilihat dalam ayat 41, yaitu kata

َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ.

2. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 3:

َﻦﻳِﺬﱠﻟﺍَﻭ ...

ﺍﻭُﺬَﺨﱠﺗﺍ ِﻪِﻧﻭُﺩ ﻦِﻣ َءﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ

...

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ۳

(

/...Wa allażīna ittakhażū min dūnihi awliyāˊa.../ ‘...Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia’ (Q.S. 39: 3).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

ﺬَﺨﱠﺗﺍ

/ittakhaża/ ‘mengambil’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr muttaṣil berupa ḥarf

/waw/ jama’ yang menunjukkan ḍamīr

ﻢﻫ

/hum/

‘mereka’ sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l māḍī

ﺬَﺨﱠﺗﺍ

.Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َءﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ

/awliyāˊa/ ‘pelindung’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َءﺎَﻴِﻟْﻭَﺃ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

3. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 4:

ﻥَﺃ ...

ﺍًﺪَﻟَﻭ َﺬِﺨﱠﺘَﻳ ...

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ٤

(

/... An yattakhiża waladan.../ ‘...Hendak mengambil anak...’ (Q.S. 39: 4).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

َﺬِﺨﱠﺘَﻳ

/yattakhiża/ ‘mengambil’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l muḍāri’

َﺬِﺨﱠﺘَﻳ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

ﺍًﺪَﻟَﻭ

/waladan/

‘anak’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

ﺍًﺪَﻟَﻭ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

4. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 5:

ِﺕﺍَﻭﺎَﻤﱠﺴﻟﺎَﻘَﻠَﺧ

ۖ ﱢﻖَﺤْﻟﺎِﺑ َﺽْﺭَ ْﻷﺍَﻭ ...

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ٥

(

/Khalaqa as-samāwāti wa al-arḍa bi al-ḥaqqi/‘Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar...’ (Q.S. 39: 5).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

َﻖَﻠَﺧ

/khalaqa/ ‘menciptakan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’sebagai ḍamīr gāˊib pada

fi’l māḍi

َﻖَﻠَﺧ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

ِﺕﺍَﻭﺎَﻤﱠﺴﻟﺍ

/as-samāwāti/ ‘langit’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

ِﺕﺍَﻭﺎَﻤﱠﺴﻟﺍ

adalah naṣab dengan harkat kasrah /i/. Hal yang sama dapat dilihat dalam ayat 38, yaitu kata

ِﺕﺍَﻭﺎَﻤﱠﺴﻟﺍ.

/...Yukawwiru al-layla ‘alā an-nahāri.../ ‘...Dia memasukkan malam atas siang...’

(Q.S. 39:5).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

ﺭﱢﻮَﻜُﻳ

/yukawwiru/ ‘memasukkan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’ sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l muḍāri’

ﺭﱢﻮَﻜُﻳ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﻞْﻴﱠﻠﻟﺍ

/al-layla/

‘malam’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﻞْﻴﱠﻠﻟﺍ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/. Dalamkalimat ini maf’ul bih-nya terdiri dari satu.

َﺭﺎَﻬﱠﻨﻟﺍ ُﺭﱢﻮَﻜُﻳ ...

/...Yukawwiru an-nahāra ‘alā al-layli.../‘...Memasukkan siang atas malam...’

(Q.S. 39: 5).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

ﺭﱢﻮَﻜُﻳ

/yukawwiru/ ‘memasukkan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’ sebagai ḍamīr gāˊib pada

/...Sakhkhara asy-syamsa wa al-qamara.../‘...Menundukkan matahari dan bulan...’(Q.S. 39: 5).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

َﺮﱠﺨَﺳ

/sakhkhara/ ‘menundukkan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l māḍi

َﺮﱠﺨَﺳ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺲْﻤﱠﺸﻟﺍ

/asy-syamsa/

‘matahari’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺲْﻤﱠﺸﻟﺍ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

َﻞَﻌَﺟ

/ja‘ala/ ‘menciptakan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l māḍi

َﻞَﻌَﺟ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺝْﻭَﺯ

/zawja/ ‘pasangan’

yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺝْﻭَﺯ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

َﻝَﺰﻧَﺃ ...

/...Anzala lakum min al-an‘āmi ṡamāniyata azwājin.../ ‘...Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu...’ (Q.S. 39: 6).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

َﻝَﺰﻧَﺃ

/anzala/ ‘menurunkan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’ sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l

māḍi

َﻝَﺰﻧَﺃ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺔَﻴِﻧﺎَﻤَﺛ

/ṡamāniyata/

‘delapan’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺔَﻴِﻧﺎَﻤَﺛ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

6. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 7:

َﻭ ٰﻰَﺿْﺮَﻳ َﻻ ِﻩِﺩﺎَﺒِﻌِﻟ

َﺮْﻔُﻜْﻟﺍ : ﺮﻣﺰﻟﺍ) ...

۷ (

/...Wa lā yarḍā li‘ibādihi al-kufra.../ ‘...Dia tidak meridhai kekafiran hamba-hamba-Nya...’ (Q.S. 39: 7).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

ٰﻰَﺿْﺮَﻳ

/yarḍā/ ‘meridhai’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l muḍāri’

ٰﻰَﺿْﺮَﻳ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺮْﻔُﻜْﻟﺍ

/al-kufra/

‘kafir’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺮْﻔُﻜْﻟﺍ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/. Dalamkalimat ini maf’ul bih-nya terdiri dari satu.

َﻭ ...

َﺭْﺯِﻭ ٌﺓَﺭِﺯﺍَﻭ ُﺭِﺰَﺗ َﻻ ٰﻯَﺮْﺧُﺃ

...

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ۷

(

/...Wa lā taziru wāziratun wizra ukhrā.../ ‘...Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain...’(Q.S. 39: 7).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

ُﺭِﺰَﺗ

/taziru/ ‘memikul’, dan yang menjadi fa’il adalah kata

ٌﺓَﺭِﺯﺍَﻭ

/wāziratun/ ‘orang yang berdosa’ yang terletak setelah fi’l muḍāri’

ُﺭِﺰَﺗ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺭْﺯِﻭ

/wizra/ ‘dosa’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺭْﺯِﻭ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

7. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 8:

/Wa iżā massa al-insāna ḍurrun.../ ‘Dan apabila manusia ditimpa bencana...’

(Q.S. 39: 8).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

ﱠﺲَﻣ

/massa/ ‘ditimpa’, dan yang menjadi fa’il adalah kata

ﱞﺮُﺿ

/ḍurrun/ ‘bencana’ yang terletak setelah maf’ul bih

.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﻥﺎَﺴﻧِ ْﻹﺍ

/al-insāna/ ‘manusia’ yang merupakan isim ẓāhir.

Adapun tanda i’rab dari kata

َﻥﺎَﺴﻧِ ْﻹﺍ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/. Hal yang sama dapat dilihat dalam ayat 49, yaitu kata

َﻥﺎَﺴﻧِ ْﻹﺍ.

ُﻪﱠﺑَﺭ ﺎَﻋَﺩ ...

/...Da‘ā rabbahu munīban ilaihi.../ ‘...Dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali (taat) kepada-Nya...’ (Q.S. 39: 8).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

ﺎَﻋَﺩ

/da‘ā/ ‘memanggil’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’ sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l māḍi

ﺎَﻋَﺩ.

Sedangkan yang menjadi maf’ul bih adalah kata

ﱠﺏَﺭ

/rabba/ ‘Tuhan’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

ﱠﺏَﺭ

adalah naṣab dengan harkat fathah /a/.Hal yang sama dapat dilihat dalam ayat 13, 23, 10, 20, dan 73, yaitu kata

ﱠﺏَﺭ.

/...Wa ja‘ala lillāhi andādan.../‘...Diadakannya sekutu-sekutu bagi Allah...’(Q.S.

39: 8).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja māḍi

َﻞَﻌَﺟ

/ja‘ala/ ‘diadakan’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l māḍi

َﻞَﻌَﺟ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

ﺍًﺩﺍَﺪﻧَﺃ

/andādā/ ‘sekutu-sekutu’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

ﺍًﺩﺍَﺪﻧَﺃ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

8. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 9:

َﺓَﺮِﺧ ْﻵﺍ ُﺭَﺬْﺤَﻳ ...

...

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ۹

(

/...Yaḥżaru al-ākhirata.../‘...Takut kepada (azab) akhirat...’ (Q.S. 39: 9).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

ُﺭَﺬْﺤَﻳ

/yaḥżaru/ ‘takut’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’ sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l muḍāri’

ُﺭَﺬْﺤَﻳ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺓَﺮِﺧ ْﻵﺍ

/al-ākhirata/

‘akhirat’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺓَﺮِﺧ ْﻵﺍ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

َﺔَﻤْﺣَﺭ ﻮُﺟْﺮَﻳ ...

ۗ ِﻪﱢﺑَﺭ ...

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ۹

(

/...Yarjū raḥmata rabbihi.../...Mengharapkan rahmat Tuhannya’ (Q.S. 39: 9).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

ُﺭَﺬْﺤَﻳ

/yaḥżaru/ ‘takut’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustaṭir berupa ḍamīr

َﻮُﻫ

/huwa/ ‘dia’sebagai ḍamīr gāˊib pada fi’l muḍāri’

ُﺭَﺬْﺤَﻳ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﺔَﻤْﺣَﺭ

/raḥmata/

‘rahmat’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﺔَﻤْﺣَﺭ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

9. Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ dalam ayat 10:

/...Innamā yuwaffā aṣ-ṣābirūna ajrahum.../ ‘...Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya...’ (Q.S. 39: 10).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’ majhul

ﻰﱠﻓَﻮُﻳ

/yuwaffā/ ‘disempurnakan’, dan yang menjadi nā’ibul fa’il adalah kata

َﻥﻭُﺮِﺑﺎﱠﺼﻟﺍ

/aṣ-ṡābirūna/

orang-orang yang sabar’ yang terletak setelah fi’l muḍāri’ majhul

ﻰﱠﻓَﻮُﻳ.

Sedangkanyang menjadi maf’ul bih adalah kata

ﺮْﺟَﺃ

/ajra/ ‘pahala’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

ﺮْﺟَﺃ

adalah naṣab dengan harkat fatḥah /a/.

/...An a‘buda Allāha.../ ‘...Agar aku menyembah Allah...’ (Q.S. 39: 11).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun kata yang menunjukkan fi’l dalam ayat tersebut berupa kata kerja muḍāri’

َﺪُﺒْﻋَﺃ

/a‘buda/ ‘menyembah’, dan yang menjadi fa’il adalah bentuk isim ḍamīr mustatir berupa ḍamīr

ﺎَﻧَﺃ

/anā/ ‘saya’ sebagai ḍamīr mutakallim pada fi’l muḍāri’

َﺪُﺒْﻋَﺃ.

Sedangkan yang menjadi maf’ul bih adalah kata

َﱠﷲ

/Allāha/

‘Allah’ yang merupakan isim ẓāhir. Adapun tanda i’rab dari kata

َﱠﷲ

adalah naṣab dengan harkat fathah /a/. Hal yang sama dapat dilihat dalam ayat 66 dan 67, yaitu kata

َﱠﷲ.

/...Khasirū anfusahum.../ ‘...Orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri...”

(Q.S. 39: 15).

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il

Data di atas merupakan struktur jumlah fi’liyyah yang terdiri dari fi’l, fa’il

Dalam dokumen SKRIPSI SARJANA OLEH : NIM: (Halaman 35-0)