BAB I PENDAHULUAN
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang data primernya diperoleh dari Al-Qur’an yaitu Surah Az-Zumar surah ke-39 yang
terletak pada juz 23 dan 24. Sedangkan data skundernya diperoleh dari mengumpulkan buku-buku, kamus, jurnal, skripsi yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Menurut Moleong (2005: 11) metode deskriptif yaitu data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan karena adanya penerapan metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantitatif lainnya. (Meolong. 2005: 6).
Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang maf’ul bih oleh beberapa ahli bahasa Arab yaitu: Al-Ghany dalam bukunya Nahwu kafi, Ni’mah dalam bukunya MulakhasQawa’idu lughatu Al-Arabiyyah dan Al-Ghulayaini dalam bukunya Jami’u Addurus serta Araa’ni dalam bukunya Ilmu Nahwu Terjemahan Mutammimah Ajurumiyyah.
Dalam memindahkan aksara Arab ke aksara Latin dalam penelitian ini menggunakan pedoman transliterasi Arab-Latin yang berdasarkan SK Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 158/1987.
Adapun tahapan metode penelitian ini adalah:
1. Mengumpulkan bahan referensi berupa buku-buku, jurnal, makalah, baik yang berasal dari bahan cetak, digital ataupun elektronik.
2. Membaca berulang-ulang bahan-bahan referensi sehingga dapat dipahami terutama dalam permasalahan maf’ul bih.
3. Mengklasifikasikan data serta memasukkannya ke dalam kartu data.
4. Menganalisis data dan menguraikannya secara sistematis dalam bentuk laporan awal karya ilmiah.
5. Mendeskripsikan data-data dan hasil laporan awal lalu menyusunnya kembali secara sistematis dalam bentuk laporan akhir yaitu skripsi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Terdahulu
Nadia Muid (2013) dalam penelitiannya tentang maf’ul bih, beliau mengkaji tentang maf’ul bih pada surah Ar-Rahman. Penelitian ini menemukan 19 kata yang berkedudukan sebagai maf’ul bih yang tersebar dalam 14 ayat. Adapun bentuk maf’ul bih pada surah Ar-Rahman memiliki tiga bentuk, yaitu isim zhahir sebanyak 12 buah, isim yang mabniy sebanyak 6 buah, dan dalam bentuk maṣdar mu’awwal 1 buah.
Amanah (1994) dalam penelitiannya tentang maf’ul bih, beliau mengkaji tentang study kontrastif maf’ul bih dalam bahsa Arab dengan objek dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwasanya perbedaan maf’ul bih dalam bahasa Arab wajib dibaca naṣab atau berbaris fatah sedangkan di dalam bahasa Indonesia tidak mengenal baris atau harkat, persamaannya terkadang suatu kalimat dalam bahasa Indonesia dapat mempunyai objek atau pelengkap penderita yang berupa kata ganti. Dalam bahasa Arab juga dijumpai kalimat yang mempunyai maf’ul bih yang berupa kata ganti atau ḍamir.
Dari kedua penelitian di atas, peneliti memperoleh gambaran tentang bentuk maf’ul bih dalam surah Ar-Rahman oleh Muid (2013) yaitu berupa isim zahir, isim mabniy, dan dalam bentuk maṣdar mu’awwal. Sedangkan dari penelitian Amanah (1994) diperoleh gambaran tentang pembagian maf’ul bih dalam bahasa Arab dan objek dalam bahasa Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa maf’ul bih dalam kalimat bahasa Arab berstatus naṣab sehingga dalam membaca bunyi akhir dari maf’ul bih harus berharkat fatah, hal ini tidak ada dalam sebuah kata yang berkedudukan sebagai objek dalam kalimat bahasa Indonesia. Maf’ul bih dalam struktur kalimat bahasa Arab ada
yang merupakan kata ganti, demikian pula dalam bahasa Indonesia bahwa objek dapat terdiri dari kata ganti.
Adapun maf’ul bih yang akan peneliti bahas dalam penelitian ini berbeda dari kedua penelitian tersebut di atas. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui jumlah maf’ul bih di dalam surah Az-Zumar,serta mengklasifikasi maf’ul bih tersebut dan melihat ‘alamatul i’rab pada maf’ul bih. Perbedaan lainnya yaitu peneliti menggunakan teori Al-Ghanydan fu’ad ni’mah untuk menganalisis maf’ul bih dan menggunakan teori Araa’ni untuk menganalisis tanda i’rab pada maf’ul bih. Sedangkan penelitian terdahulu menggunakan teori Ainur Rafiq dengan objek berbeda yaitu surah Ar-Rahman dan menggunakan teori Mustafa Al-Ghulyaini dalam meneliti kontrastif maf’ul bih dalam bahasa Arab dan objek dalam bahasa Indonesia.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Kategori
ُﺔَﻤِﻠَﻜﻟﺍ
/al-kalimatu/ ‘kata’Untuk mengetahui maf’ul bih, harus memahami macam-macam katadalam bahasa Arab terlebih dahulu. Menurut Al-Ghulayaini (2013: 29) kata dalam bahasa Arab dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori seperti berikut ini:
ٌﻑْﺮَﺣ َﻭ ،ٌﻞْﻌِﻓ َﻭ ،ٌﻢْﺳِﺍ :ﻡﺎَﺴْﻗَﺃ ُﺔَﺛ َﻼَﺛ َﻲِﻫَﻭ . ٍﺩَﺮْﻔُﻣ ﻰَﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱡﻝُﺪَﻳ ٌﻆْﻔَﻟ ُﺔَﻤِﻠَﻜﻟﺍ
/Al-kalimatu lafẓun yadullu ‘alā ma‘nan mufradin. Wa hiya ṡalāṡatu aqsām:ismun, wa fi‘lun, wa ḥarfun/ ‘Kata adalah sebuah ucapan yang dapat membawa makna tersendiri. Kata itu terdiri dari tiga kategori, yaitu:
ﻢﺳﺇ
/isim/,ﻞﻌﻓ
/fi’l/,danﻑﺮﺣ
/harf/’Isim menurut Al-Ghulayaini (2013: 29) yaitu:
ٍﻥﺎَﻣَﺰِﺒٍﻧِﺮَﺘْﻘُﻣ َﺮْﻴَﻏ ِﻪِﺴْﻔَﻧ ﻰِﻓ ﻰًﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩ ﺎَﻣ ُﻢْﺳِﻻﺍ .
/Al-ismu mā dalla ‘alā ma‘nan fī nafsihi ghairu muqtarinin bizamānin./ ‘Isim merupakan sesuatu yang menunjukkan arti pada dirinya, tanpa disertai oleh waktu.’
Adapun fi’l menurut Al-Ghulayaini (2013: 31) adalah:
ٍﻥﺎَﻣَﺰِﺑ ٍﻥِﺮَﺘْﻘُﻣ ِﻪِﺴْﻔَﻧ ﻰِﻓ ﻰًﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩ ﺎَﻣ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ .
/Al-fi‘lu mā dalla ‘alā ma‘nan fī nafsihi muqtarinin bizamānin/ ‘Fi’l merupakan kata yang menunjukkan arti pada dirinya yang memiliki waktu.’
Sedangkan harf menurut Anwar (2016: 4) yakni:
ﺎَﻫِﺮْﻴَﻐٮِﻓ ﻰًﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ْﺖﱠﻟَﺩ ٌﺔَﻤِﻠَﻛ ُﻑْﺮَﺤﻟﺍ .
/Al-ḥarfu kalimatun dallat ‘alā ma‘nan fī ghairihā./ ‘Harf adalah kalimah (kata) yang menunjukkan makna apabila digabung dengan kalimah lainnya.’
2.2.2 Pengertian
ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ
/maf‘ūl bih/‘maf’ul bih’Secara linguistik, Al-khuli mengartikan objek sebagai maf’ul bih. Berikut pengertian maf’ul bih menurut Al-khulli (1992: 190):
ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻊَﻘَﻳ ﻯِﺬﱠﻟﺍ ُﻢْﺳِﻻﺍ :
/Al-maf‘ūlu bihi: al-ismu allażī yaqa‘u ‘alayhi al-fi‘lu/ ‘Maf’ul bih adalah isim yang menjadi sasaran suatu perbuatan (objek)’
Al-Ghulayaini (2013: 483) mengatakan maf’ul bih sebagai berikut:
ِﻞْﻌِﻔﻟﺍ ِﻞِﻋﺎَﻔﻟﺍ ٌﻞْﻌِﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻊَﻗَﻭ ٍﺊْﻴَﺷ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩ ٌﻢْﺳِﺍ َﻮُﻫ : ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ
/Al-maf‘ūlu bihi: huwa ismun dalla ‘alā syaiˊin waqa‘a ‘alayhi fi‘lun al -fā‘ili al-fi‘li/ ‘Maf’ul bih ialah: isim yang menjadi sasaran suatu perbuatan pelaku’Hal yang sama mengenai maf’ul bih juga dikemukakan oleh Ghany (2010: 5) seperti berikut ini:
ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ِﻞِﻋﺎَﻔﻟ ُﻼْﻌِﻔﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻊَﻗَﻭ ْﻦَﻣَﻮُﻫ :
/Al-maf‘ūlu bihi: huwa man waqa‘a ‘alayhi al-fi‘lu al-fā‘ili/ ‘Maf’ul bih adalah isim yang menjadi sasaran perbuatan pelaku’
Contoh:
َﻢﱠﻠَﻌَﺗ ْﻦَﻣ ْﻢُﻛُﺮْﻴَﺧ َﻥﺍْﺮُﻘﻟﺍ
َﻢﱠﻠَﻋَﻭ ُﻩ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍﻭ ﻯﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﺩﻭﺍﺩ ﻮﺑﺃﻭ ﻢﻠﺴﻣ ﻭ ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ)
( ﺔﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ
/Khairukum man ta‘allama al-qurˊāna wa ‘allamahu (rawāhu al-bukhārī wa muslim wa abū dāwud wa at-tarmīżī wa an-nasāˊī wa ibnu majāh)/ ‘Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya(Riwayat Bukhari dan Muslim, At-tarmizi, An-nasa’i dan Ibnu majah)’
Pada kalimat di atas, kata
َﻥﺍْﺮُﻘﻟﺍ
/al-qurˊāna/ ‘Al-Qur’an’ merupakan maf’ul bih isim ẓahir, dan ḍamir muttaṣilُﻩ
/hu/ ‘dia’ merupakan maf’ul bih ḍamir muttaṣil dari fi’lَﻢﱠﻠَﻋ
/‘allama/ ‘mempelajari’.2.2.3 Syarat
ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ
/maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’Syarat untuk membuat maf’ul bih yaitu terdiri dari fi’l dan fa’il (jumlah fi’liyyah). Jumlah fi’liyyah merupakan bagian dari jumlah mufidah. Dalam bahasa Indonesia, jumlah mufidah disebut dengan istilah kalimat sempurna.
Adapun kalimat sempurna (jumlah mufidah) menurut Ni’mah (t.t: 19) yaitu:
ُﺔَﻠْﻤُﺠﻟﺍ ُﻢِﺴَﻘْﻨَﺗ َﻭ ،ﺎًّﻣﺎَﺗ ﻰًﻨْﻌَﻣ َﺩﺎَﻓَﺃ َﻭ ،ٍﺮَﺜْﻛَﺃ ْﻭَﺃ ِﻦْﻴَﺘَﻤِﻠَﻛ ْﻦِﻣ ُﺐَﻛْﺮَﺗ ﺎَﻣ ﱡﻞُﻛ َﻰِﻫ ُﺓَﺪْﻴِﻔُﻤﻟﺍ ُﺔَﻠْﻤُﺠﻟﺍ ٌﺔﱠﻴِﻠْﻌِﻓ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ َﻭ ٌﺔﱠﻴِﻤْﺳِﺇ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ : ِﻦْﻴَﻤْﺴِﻗ
/Aljumlatu Al-mufīdatu hiya kullu mā tarkabu min kalimataini aw akṡarin waafāda ma‘nan tāmmān, wa tanqasimu al-jumlatu qismaini: jumlatun ismiyyatun wa jumlatun fi’liyyatun/ ‘Jumlah mufidah adalah setiap susunan dua kata atau lebih dan mengandung makna yang sempurna’, dan jumlah terbagi ke dalam dua kategori, yaitu jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah’
Ni’mah (t.t: 19) mengemukakan jumlah ismiyyah sebagai berikut:
ٍﺮْﻴِﻤَﻀِﺑ ْﻭَﺃ ٍﻢْﺳِﺎِﺑ ُﺃَﺪْﺒُﺗ ﻰِﺘﱠﻟﺍ َﻲِﻫ َﻭ : ٌﺔﱠﻴِﻤْﺳِﺇ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ
/Jumlatun ismiyyatun: wa hiya allatī tubdaˊu biismin aw bi ḍamīrin/ ‘Jumlah ismiyyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan isim atau dhamir’Contoh:
ِﺔَﺒَﺘْﻜَﻤﻟﺍ ﻰِﻓ َﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ ُﺃَﺮْﻘَﻳ ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ
/Muḥammadun yaqra‘u majallata fī al-maktabati/ ‘Muhammad sedang membaca majalah di perpustakaan’Kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang dimulai dengan isim, kata
ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ
/Muḥammadun/ ‘Muhammad’ merupakan fa’il, dan kataُﺃَﺮْﻘَﻳ
/yaqaraˊu/ ‘membaca’ adalah fi’l, sedangkan kataَﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ
/al-majallata/‘majalah’ adalah maf’ul bih.
Adapun jumlah fi’liyyah menurut Ni’mah (t.t: 19) adalah sebagai berikut:
ٍﻞْﻌِﻔِﺑ ُﺃَﺪْﺒُﺗ ﻰِﺘﱠﻟﺍ َﻰِﻫَﻭ : ٌﺔﱠﻴِﻠْﻌِﻓ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ
/Jumlatun fi’liyyatun: wa hiya allatī tubadaˊu bifi’lin/‘Jumlah fi’liyyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan fi’l’Contoh:
ِﺔَﺒَﺘْﻜَﻤﻟﺍ ﻰِﻓ َﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ ُﺃَﺮْﻘَﻳ
/Yaqaraˊu Muḥammadun al-majallata/‘Muhammad membaca majalah di perpustakaan’
Kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang dimulai dengan fi’l. Kata
ُﺃَﺮْﻘَﻳ
/yaqraˊu/ ‘membaca’ sebagai fi’l, dan kataٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ
/Muḥammadun/‘Muhammad’ adalah fa’il. Sedangkan kata
َﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ
/al-majallata/ ‘majalah’merupakan maf’ul bih.
Striktur jumlah fi’liyyah di dalam bahasa Arab dapat terdiri dari fi’l dan fa’il, serta fi’l, fa’il, dan maf’ul bih.Fi’l sudah dikemukan pengertiannya, sedangkan fa’il menurut Araa’ini (2014: 122) yakni:
ِﻦْﻴَﻤْﺴِﻗ ﻰَﻠَﻋ َﻮُﻫَﻭ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ِﻞْﻳِﻭْﺄَﺗ ﻰِﻓ ﺎَﻣ ْﻭَﺃ ٌﻞْﻌِﻓ ُﻪَﻠْﺒَﻗ ُﺭْﻮُﻛْﺬَﻤﻟﺍ ُﻉْﻮُﻓْﺮَﻤﻟﺍ ُﻢْﺳِﻻﺍ َﻮُﻫ ُﻞِﻋﺎَﻔﻟﺍ ٌﺮَﻤْﻀُﻣ َﻭ ٌﺮِﻫﺎَﻅ
/Al-fā‘ilu huwa al-ismu al-marfū‘u al-mażkūru qablahu fi’lun aw mā fī taˊwīli al-fi‘lu wa huwa ‘alā qismaini ẓāhirun wa muḍmarun/ ‘Fa’il ialah isim
marfu’ yang disebutkan terlebih dahulu fi’lnya atau lafazh yang mengandung takwilfi’l, dan fa’il itu terbagi atas dua bagian, yaitu fa’il yang ẓahir (ditampakkan) dan fa’il yang muḍmar (tersembunyi).
Contoh:
ُﷲ َﻝﺎَﻗ
/qāla Allāhu/ ‘Allahberfirman’Pada contoh di atas, kata
ُﷲ
/Allāhu/ ‘Allah’ merupaka fa’il ẓahir yang terletak setelah fi’l.Adapun maf’ul bih terletak pada suatu kalimat (jumlah) yang terdiri dari (
ﻞﻌﻓ)
fi’l dan (ﻞﻋﺎﻓ)
fa’il. Hal ini sesusai dengan yang dikemukakan oleh Ni’mah (t.t: 66):ﻞْﻌِﻔﻟﺍ ُﺓَﺭْﻮُﺻ ُﻪَﻌَﻣ ُﺮﱠﻴَﻐَﺘَﺗ َﻻَﻭ ِﻞِﻋﺎَﻔﻟﺍ ُﻞْﻌِﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻊَﻗَﻭ ْﻦَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱡﻝُﺪَﻳ ٌﺏْﻮُﺼْﻨَﻣ ٌﻢْﺳِﺍ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ
/Al-maf‘ūlu bih ismun manṣūbun yadullu ‘alā man waqa‘a ‘alaihi fi‘lu al-fā‘ili wa lā tataghayyaru ma‘ahu sūratun al-fi‘li/ ‘Maf’ul bih adalah isim berbaris fathah yang menjadi sasaran perbuatan pelaku, dan tidak merubah fi’l’2.2.4
ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺔﻣﻼﻋ
/‘alāmatu al-i‘rāb maf‘ūl bih/ ‘tanda-tanda i’rabmaf’ul bih’Menurut Anwar (2006: 11) i’rab ialah sebagai berikut:
ﺍًﺮْﻳِﺪْﻘَﺗ ْﻭَﺍ ﺎًﻈْﻔَﻟ ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋ ِﺔَﻠِﺧﺍﱠﺪﻟﺍ ِﻞِﻣﺍَﻮَﻌﻟﺍ ِﻑ َﻼِﺘْﺧِ ِﻻ ِﻢِﻠَﻜﻟﺍ ِﺮِﺧﺍَﻭَﺍ ُﺮْﻴِﻴْﻐَﺗ َﻮُﻫ ُﺏﺍَﺮْﻋِﻻﺍ
/I‘rābu huwa taghyīru awākhiri al-kalimi liikhtilāfi al-‘awāmili ad-dākhilati‘alayhā lafẓan aw taqdīran/ ‘I’rab ialah perubahan akhir kalimah karena perbedaan amil yang memasukinya, baik secara lafaz ataupun secara perkiraan’
Maksudnya: i’rab itu mengubah syakal tiap-tiap akhir kalimah disesuaikan dengan fungsi amil yang memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafaznya atau hanya secara diperkirakan saja keberadaannya.
Adapun maf’ul bih adalah isim yang dibaca naṣab dan menunjukkan kepada yang dikenai pekerjaan (Wahyoedin: 2011: 143). I’rab naṣab sendiri memiliki lima alamat (tanda). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 27) yakni:
ِﻥْﻮﱡﻨﻟﺍ ُﻑْﺬَﺣَﻭ ُءﺎَﻴﻟﺍَﻭ ُﺓَﺮْﺴَﻜﻟﺍَﻭ ُﻒِﻟَﻷﺍَﻭ ُﻞْﺻَﻷﺍ َﻲِﻫَﻭ ُﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍَﻭ ٍﺕﺎَﻣ َﻼَﻋ ُﺲْﻤَﺧ ِﺐْﺼﱠﻨﻠِﻟَﻭ ِﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍ ِﻦَﻋ ٌﺔَﺒِﺋﺎَﻧ َﻲِﻫَﻭ
/Wa linniṣbi khamsu ‘alāmātin wa al-fatḥatu wa hiya al-aṣlu wa al-alifu wa al-kasratu wa al-yāˊu wa ḥażfu an-nūni wa hiya nāˊibatun ‘ani al -fatḥati/‘I’rab naṣab memeliki lima tanda, yaitu fathah sebagai tanda asli, sedangkan alif, kasrah, ya, dan nun yang dihilangkan sebagai pengganti fathah.
Fathah menjadi tanda bagi i’rabnaṣab berada pada tiga tempat, yaitu isim mufrad, jama’ taksir dan fi’l muḍari’, seperti yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 27) berikut ini:
ْﻭَﺃ َﻥﺎَﻛ ﺎًﻓِﺮَﺼْﻨُﻣ ِﺩَﺮْﻔُﻤﻟﺍ ِﻢْﺳِﻹﺍ ﻰِﻓ َﻊِﺿﺍَﻮَﻣ ِﺔَﺛ َﻼَﺛ ﻰِﻓ ِﺐْﺼﱠﻨﻠِﻟ ًﺔَﻣ َﻼَﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍ ﺎﱠﻣَﺄَﻓ ٍﻑِﺮَﺼْﻨُﻣ َﺮْﻴَﻏ ْﻭَﺃ َﻥﺎَﻛ ﺎًﻓِﺮَﺼْﻨُﻣ ِﺮْﻴِﺴْﻜﱠﺘﻟﺍ ِﻊْﻤَﺟ ﻰِﻓ َﻭ ،ٍﻑِﺮَﺼْﻨُﻣ َﺮْﻴَﻏ
/Faammā fatḥatu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi fī ṡalāṡati mawāḍi‘i fī al-ismi al-mufradi munṣarifan kāna aw ghaira munṣarifin, wa fī jam‘i at-taksīr munṣarifan kāna aw ghaira munṣarifin/ ‘Fathah menjadi tanda bagi i’rabnaṣab berada pada tiga tempat, yaitu isim mufrad munṣarif atau ghairu munṣarif, jama’ taksir munṣarif atau ghairu munṡarif’1. Pada isim mufrad, baik yang munṣarif (menerima tanwin) ataupun yang ghairu munṣarif (tidak menerima tanwin.
Contoh munṣarif:
ْﻮُﻘﱠﺘﻟﺍَﻭ ...
َﷲ ...
: ﺮﺸﺤﻟﺍ) ۱۸
(
/...Wa at-taqū Allāha.../ ‘...Bertakwalah kalian kepada Allah...’ (Al-Hasyr, 59: 18).
Lafaz
َﷲ
/Allāha/ dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih. Tanda naṣabnya adalah fathah ẓahir (yang tampak).Contoh ghairu munṣarif:
/Wa wahabnā lahu isḥāqa wa ya‘qūba.../ ‘Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya...’ (Al-An’am, 6: 84).
Lafaz
َﻕﺎَﺤْﺳِﺍ
/Isḥāqa/danَﺏْﻮُﻘْﻌَﻳ
/Ya’qūba/ pada kalimat di atas dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih. Tanda naṣabnya adalah fathah ẓahir.Contoh isim maqṣurah:
ﺎَﻧْﺪَﻋﺍَﻭ ْﺫِﺍَﻭ
/Wa iż wā‘adnā mūsā.../ ‘Ingatlah ketika kami berjanji kepada Musa...’
(Al-Baqarah, 2: 51).
Lafaz
ﻰﺳﻮُﻣ
/mūsā/ dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang diperkirakan kepada alif, sebab isim maqṣurah, yakni mu’tal alif.2. Pada jamak taksir, baik yang munṣarif ataupun yang tidak munṣarif.
Contoh munṣarif:
/Wa tarā al-jibāla.../ ‘Kamu lihat gunung-gunung itu...’ (Al-Naml, 27:
88).
Lafaz
َﻝﺎَﺒِﺠﻟﺍ
/al-jibāla/ ‘gunung’ adalah bentuk jama’ taksir yang munṣarif, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang ẓahir.Contoh ghairu munṣarif:
ُ ّﷲ ُﻢُﻛَﺪَﻋَﻭ
/Wa ‘adakumu Allāhu maghānimā.../ ‘Allah menjanjikan kepada kalian harta rampasan...’ (Al-Fath, 48: 20).
Lafaz
َﻢِﻧﺎَﻐَﻣ
/maghānima/ ‘harta rampasan’ adalah bentuk jama’ taksir yang ghairu munṣarif, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang ẓahir.Contoh isim maqṣurah:
ﺍْﻮُﺤِﻜْﻧﺍَﻭ ﻰﻣﺎَﻳَﻻﺍ
...
: ﺭﻮﻨﻟﺍ) ۳۲
(
/Wā ankihū al-ayāmā.../ ‘Nikahkanlah orang-orang yang sendirian...’
(An-nur, 24: 32).
Lafaz
ﻰﻣﺎَﻳَﻻﺍ
/al-ayāmā/ ‘orang-orang yang sendirian’ adalah bentuk jama’ taksir, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang diperkirakan kepada alif maqṡurah, sebab mu’talalif.3. Pada fi’l muḍari’ bila padanya kemasukan amil yang menaṣabkan dan pada huruf akhirnya tidak bertemu dengan sesuatu pun (dari alif ḍamir taṡniyah, wawu ḍamir jamak mużakkar, dan sebagainya). Adapun fi’l muḍari’ tidak termasuk klasifikasi maf’ul bih.
Kemudian alif menjadi tanda i’rab naṣab pada asma’ul sittah, seperti yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 30) berikut ini:
ِﺔﱠﺘﱢﺴﻟﺍ ِءﺎَﻤْﺳﻻﺍ ﻰِﻓ ِﺐْﺼﱠﻨﻠﻟ ًﺔَﻣَﻼﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُﻒِﻟﻻﺍ ﺎﱠﻣَﺃَﻭ
/Wa ammā al-alifu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi fī al-asmāˊi as-sittati/‘Alif menjadi tanda i’rab naṣabasmaˊul sittah’
Contoh:
ُﻆَﻔْﺤَﻧَﻭ ...
ﺎَﻧﺎَﺧَﺍ ...
: ﻒﺳﻮﻳ) ٦٥
(
/...Wa naḥfaẓu akhānā.../ ‘...Kami akan dapat menjaga saudara kami...’
(Yusuf, 12: 65).
Lafaz
ﺎَﺧَﺍ
/akhā/ ‘saudara’ merupakan asmaˊul sittah, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dan tanda naṣabnya adalah alif.Menurut Araa’ini (2014: 30) kasrah menjadi tanda bagi i’rab naṣab pada jama’ muannaṡ salim seperti berikut ini:
ﺎَﻣَﻭ ِﻢِﻟﺎﱠﺴﻟﺍ ِﺚﱠﻧَﺆُﻤﻟﺍ ِﻊْﻴِﻤَﺟ ﻰِﻓ ِﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍ ِﻦَﻋ ًﺔَﺑﺎَﻴِﻧ ِﺐْﺼﱠﻨﻠِﻟ ًﺔَﻣ َﻼَﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُﺓَﺮْﺴَﻜﻟﺍ ﺎﱠﻣَﺃَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻞِﻤُﺣ
/Wa ammā kasratu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi niyābatan ‘ani al-fatḥati fī jamī‘i al-muˊannaṡi as-sālimi wa mā ḥumila ‘alayhi/ ‘Kasrah menjadi tanda bagi i’rabnaṣab sebagai pengganti fathah pada jama’muannaṡ salim dan yang dimahmulkan kepadanya.
Contoh:
/Khalaqa Allāhu as-samāwāti.../ ‘Allah menciptakan langit...’ (Al-Ankabut, 29: 44).
Lafaz
ِﺕﺍَﻭﺎَﻤﱠﺴﻟﺍ
/as-samāwāti/ ‘langit’ merupakan jama’ muannatṡ salim, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dantanda naṣabnya adalah kasrah.Kemudian ya menjadi tanda bagi i’rab naṣab pada isim taṡniyah dan jama’ mużakkar salim. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 31) seperti berikut:
ِﻊْﻤَﺟ ﻰِﻓَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻞِﻤُﺣ ﺎَﻣَﻭ ﻰﱠﻨَﺜُﻤﻟﺍ ﻰِﻓ ِﻦْﻴَﻋْﻮُﺿْﻮَﻣ ﻰِﻓ ِﺐْﺼﱠﻨﻠﻟ ًﺔَﻣَﻼَﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُءﺎَﻴﻟﺍ ﺎﱠﻣَﺃَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻞِﻤُﺣ ﺎَﻣَﻭ ِﻢِﻟﺎﱠﺴﻟﺍِﺮﱠﻛَﺬُﻤﻟﺍ
/Wa ammā yāˊu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi fī mawḍū‘ayni fī al-muṡannā wa mā ḥumila ‘alaihi wa fī jam‘i al-mużakkari as-sālimi wa mā ḥumila ‘alaihi/ ‘Ya menjadi tanda bagi i’rabnaṣabberada pada dua tempat, isim taṡniyah dan yang dimahmulkan kepadanya, serta jama’mużakkar salim dan yang dimahmulkan (disamakan)’
1. Pada isim taṡniyah
/Rabbanā wāj‘alnā muslimayni laka.../ ‘Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau...’ (Al-Baqarah, 2: 128).
Lafaz
ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ
/muslimayni/ ‘dua muslim’ merupakan isim taṣniyah, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dan tanda naṣabnya adalah ya.2. Pada jama’ mużakkar salim Contoh:
ﻰِﺠْﻨُﻧ ...
َﻦْﻴِﻨِﻣْﺆُﻤﻟﺍ : ءﺎﻴﺒﻧﻻﺍ)
۸۸ (
/...Nunjī al-muˊminīna/ ‘...Kami selamatkan orang-orang yang beriman.’
(Al-Anbiya, 21: 88).
Lafaz
َﻦْﻴِﻨِﻣْﺆُﻤﻟﺍ ‘
orang-orang yang beriman’ merupakan jama’mużakkar salim, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dan tanda naṣabnya adalah ya.
2.2.5 Klasifikasi
ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ
/maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’Maf‘ul bih terdiri dari tiga klasifikasi, yaitu
ﺍًﺮِﻫﺎَﻅ ﺎًﻤْﺳِﺍ/
isman ẓāhiran/‘isim yang jelas’,ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ/
ḍamīran muttaṣilan/ ‘ḍamir muttaṣil’,danًﻼِﺼَﻔْﻨُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ/
ḍamīran munfaṣilan/’ ḍamir munfaṡil.’ Hal ini dikemukakan oleh Al-Ghany (2010: 5) seperti berikut:ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗَﻭ ، ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗ َﻭ ،ﺍًﺮِﻫﺎَﻅ ﺎًﻤْﺳِﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻘَﻓ ٌﺓَﺮْﻴِﺜَﻛ ٌﺭﱠﻮُﺻ ِﻪِﺑ ِﻝْﻮُﻌْﻔَﻤْﻠِﻟ ًﻼِﺼَﻔْﻨُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ
/Lilmaf‘ūli bihi ṣuwwarun kaṡīratun faqad yakūnu isman ẓāhiran, wa qad yakūnu ḍamīran muttaṣilan, wa qad yakūnu ḍamīran munfaṣilan/‘Maf’ul bih terdiri dari tiga klasifikasi, yaitu terdiri dari isim ẓahir, ḍamir muttaṣil, dan ḍamir munfaṡil.’1.
ٌﺮِﻫﺎَﻅ ٌﻢْﺳِﺍ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ
/al-maf‘ūlu bihi ismun ẓāhirun/ maf’ul bih isim yang ẓahir’Isim ẓahir menurut Ghany (2010: 5) yaitu:
ﺍًﺭْﻮُﻛْﺬَﻣ ﺍًﺮِﻫﺎَﻅ ﺎًﻤْﺳِﺍ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ُﺚْﻴَﺣ
/Ḥayṡu yakūnu al-maf‘ūlu bihi isman ẓāhiran mażkūran:‘Maf’ul bih terdiri dari isim yang jelas disebutkan’
Isim ẓahir menurut Anwar (2006: 73) yaitu:
ٍﺪﱢﻴَﻗ َﻼِﺑ ُﻩﺎﱠﻤَﺴُﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩﺎَﻣ ُﺮِﻫﺎﱠﻈﻟﺍﺎَﻓ
/Fa aẓ-ẓāhiru mā dalla ‘alā musammāhu bilā qayyidin/ ‘Isim ẓahir ialah kata yang menunjukkan kepada yang disebutnya tanpa ikatan.’Contoh:
/La‘ana Allāhu ar-rajula yalbasu libsata al-marˊati, wa al-marˊatu talbasu libsata ar-rajuli, kamā la‘ana al-mutasyabbihīna min ar-rijāli bi an-nisāˊi, wa mutasyabbihāti min an-nisāˊi bi ar-rijāli (rawāhu al-bukhārī wa muslim)/ ‘Allah melaknat seorang laki-laki yang berpakaian perempuan dan perempuan yang berpakaian laki-laki, dan Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki (Riwayat Bukhari dan Muslim)’
Pada kalimat tersebut, kata
َﻞُﺟﱠﺮﻟﺍ/
ar-rajula/ ‘seorang laki-laki’merupakan maf’ul bih isim ẓahir dengan tanda naṣabnya fathah, dan
َﺔَﺴْﺒِﻟ
/libsata/ ‘pakaian’ maf’ul bih isim ẓahir dengan tanda naṣab fathah, sedangkanﻦْﻴِﻬﱢﺒَﺸَﺘُﻤﻟﺍ
/al-mutasyabbihīna/ ‘menyerupai’,merupakan maf’ul bih isim ẓahir dengan tanda naṣab ya.2.
ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺎِﻬِﺒٌﻠِﺼﱠﺘُﻣ ٌﺮْﻴِﻤَﺿ
/maf‘ūlu bihi ḍamīr muttaṣil/ ‘maf’ul bih ḍamir muttaṣil’Menurut Al-Ghany (2010: 97) ḍamir muttaṣil adalah sebagaimana berikut ini:
ﱠﻻِﺇ َﺪْﻌَﺑ َﻊَﻘَﻳ ْﻥَﺃ ﱡﺢِﺼَﻳ َﻻَﻭ ،ِﻡ َﻼَﻜﻟﺍ ِﻝﱠﻭَﺃ ﻰِﻓ َﻊَﻘَﻳ ْﻥَﺃ ُﻦِﻜْﻤُﻳ َﻻ ﻯِﺬﱠﻟﺍ َﻮُﻫ ُﻞِﺼﱠﺘُﻤﻟﺍ ُﺮْﻴِﻤﱠﻀﻟﺍ
. ٍﺔَﻤِﻠَﻜِﺑ ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ُﻥْﻮُﻜَﻳ َﻭ ِﺕﺎَﻤِﻠَﻜﻟﺍ ِﺮِﺧَﺍ ﻰِﻓ ﺎًﻤِﺋﺍَﺩ ُﻊَﻘَﻳ ﻯِﺬﱠﻟﺍ َﻮُﻫ :ﻯﺃ
/Aḍ-ḍamīru muttaṣilu huwa allażī lā yumkinu an yaqa‘a fī awwali al-kalāmi, wa lā yaṣiḥḥu an yaqa‘a ba‘da illā ay: huwa allażī yaqa‘u dāˊiman fī ākhiri al-kalīmāti wa yakūnu muttaṣīilan bikalimatin/‘Ḍamīrtidak boleh terletak setelah
ﻻﺇ
. Artinya, ḍamir muttaṣil sering terletak di akhir kalimat dan bersambung dengan kata lainnya.’Adapun ḍamir muttaṣil yang dapat menjadi maf’ul bih menurut Ghany (2010: 6) adalah seperti berikut:
- ِﻦْﻴَﻟْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﺔَﻟﺍﱠﺪﻟﺍ ﺎَﻧ - ِﻢﱢﻠَﻜَﺘُﻤﻟﺍ ُءﺎَﻳ)) : ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ُﺚْﻴَﺣ (( ِﺐِﺋﺎَﻐﻟﺍ ُءﺎَﻫ - ِﺏﺎَﻄَﺨﻟﺍ ُﻑﺎَﻛ
/Ḥayṣu yakūnu al-maf‘ūlu bihi ḍamīran muttaṣilan: ((yāˊu al-mutakallim, nā ad-dālati ‘alā al-maf‘ūlaini, kāfu al-khaṭābi, hāˊu al-ghāˊibi)) ‘Maf’ul bih yang terdiri dari ḍamir muttaṣil ialah: ((ya’ mutakallim,na yang menunjukkan dua maf’ul, kaf khaṭab, ha gha’ib))’
Contoh maf’ul bih ḍamir muttaṣil:
ﻰِﻨَﺘْﻣﱠﺮَﻛ ُﺔَﻌِﻣﺎَﺠﻟﺍ
/Karramtanī al-jāmi‘atu/ ‘Engkau memuliakan aku yang berjamaah’
Pada kalimat
ﻰِﻨَﺘْﻣﱠﺮَﻛ
/karramtanī/ ‘engkau memuliakan aku’,ِﻢﱢﻠَﻜَﺘُﻤﻟﺍُءﺎَﻳ
/yāˊu al-mutakallim/ merupakan maf’ul bih ḍamir muttaṣil dengan fi’lﻡﱠﺮَﻛ
/karrama/ ‘memuliakan’.Contoh maf’ul bihḍamir muttaṣil di dalam Al-Qur’an:
َﻢﱠﻠَﻋ َﻥﺎَﻴَﺒﻟﺎُﻫ : ﻦﻤﺣﺮﻟﺍ) ٤
(
/’Allamahu albayāna/ ‘Mengajarinya pandaiberbicara.’ (Q.S. 55: 4).
Pada kalimat tersebut, ḍamir
ُﻩ
/hu/ ‘dia’ merupakan maf’ul bihḍamir muttaṣil yang berharakatḍammah dan berada di tempat naṣab maf’ul bih, dan kataَﻥﺎَﻴَﺒﻟﺍ
/albayāna/ ‘berbicara’ merupakan maf’ul bih ẓahir dengan tanda naṣab fathah.3.
ٌﻞِﺼَﻔْﻨُﻣ ٌﺮْﻴِﻤَﺿ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ
/al-maf‘ūlu bihi ḍamīrun munfaṣilun/ ‘maf’ul bih ḍamir munfaṣil’Ḍamir munfaṣil menurut Ghany (2010: 95) adalah sebagai berikut:
ُﻦِﻜْﻤُﻳ َﻭ " ﱠﻻِﺇ" َﺪْﻌَﺑ َﻊَﻘَﻳ ْﻥَﺃ ُﻦِﻜْﻤُﻳَﻭ ،ِﻡَﻼَﻜﻟﺍ ِﻪِﺑ َءﺍَﺪَﺘْﺒُﻳ ْﻥَﺃ ﱡﺢِﺼَﻳ ﺎَﻣَﻮُﻫ ُﻞِﺼَﻔْﻨُﻤﻟﺍ ُﺮْﻴِﻤﱠﻀﻟﺍ ِﻡ َﻼَﻜﻟﺍ ِﻦَﻋ َﻞِﺼَﻔْﻨَﻳ ْﻥَﺃ
/Aḍ-ḍamīru al-munfaṣilu huwa mā yaṣiḥḥū an yubtadaˊa bihi al -kalāmi, wa yumkinu an yaqa‘a ba‘da “illā” wa yumkinu an yanfaṣila ‘an al-kalāmi/ ‘Ḍamir munfaṣil ialah dhamir yang dapat digunakan sebagai mubtada’,dan dapat terletak setelahﻻﺇ
serta memungkinkan untuk berpisah dari kata.’Ḍamir munfaṣil yang dapat menjadi maf’ul bih menurut Ghany (2010: 6) adalah seperti berikut:
َﻱﺎﱠﻳِﺇ : ًﻼِﺼَﻔْﻨُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ
((lilmutakallim)), /iyyāka/, /iyyāki/, /iyyākumā/, /iyyākum/, /iyyākunna/, ((lilmukhāṭab)), /iyyāhu/, /iyyāha/, /iyyāhumā/, /iyyāhum/, /iyyāhunna/, ((lilghāˊib))/
‘
Kepadaku, kepada kami ((mutakallim)), kepadamu laki-laki, kepadamu perempuan, kepada kamu berdua laki-laki/perempuan, kepada kalian laki-laki, kepada kalian perempuan ((mukhatab) kepadanya laki, kepadanya perempuan, kepada mereka berdua laki-laki/perempuan, kepada mereka laki-laki, kepada mereka perempuan ((mukhatab))’Contoh maf’ul bih ḍamir munfaṣil
َﻙﺎﱠﻳِﺇ
/Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn/ ‘Pada-Mu aku menyembah dan pada-Mu aku mohon pertolongan.’ (Q.S. 1: 5).
Pada kalimat tersebut, ḍamir
َﻙﺎﱠﻳِﺇ
/iyyāka/‘
pada-Mu’ merupakan maf’ul bih ḍamir munfaṣil yang berharakat fathah dan menduduki posisi naṣab maf’ul bih.4.
ﺭْﻭُﺮْﺠَﻣ ْﺮَﺟ ُﺐْﻴِﻛْﺮﱠﺘﻟﺍ
/at-tarkību jar majrūr/ ‘susunan bih jar majrur’Susunan jarmajrur juga dapat menjadi maf’ul bih. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Al-Ghulayaini (2013: 484) seperti berikut ini:
: ﻰﱠﻤَﺴُﻳ َﻭ : ِﻪِﺑ ٌﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ُﻪﱠﻧَﺃ ﻰَﻠَﻋ ُﺭْﻭُﺮْﺠَﻤﻟﺍ ُﺐِﺼَﺘْﻨَﻴَﻓ ﱢﺮَﺠﻟﺍ ٌﻑْﺮَﺣ ُﻂُﻘْﺴَﻳ ْﺪَﻗَﻭ (( ِﺾَﻓﺎَﺨﻟﺍ ِﻉْﺰَﻧ ﻰَﻠَﻋ ُﺏْﻮُﺼْﻨَﻤﻟﺍ))
/Wa qad yasqutu ḥarfun al-jarri fayantaṣibu al-majrūru ‘alā annahu maf‘ūlun bihi: wa yusammā: ((al-manṣūbu ‘alā naz‘in al-khāfaḍi))/‘Kadang-kadang isim yang majrur menjadi maf’ul bih dengan
‘Kadang-kadang isim yang majrur menjadi maf’ul bih dengan