• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI SARJANA OLEH : NIM:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI SARJANA OLEH : NIM:"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/MAF‘ŪL BIH/ PADA SURAH

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/AZ-ZUMAR/

SKRIPSI SARJANA OLEH :

UISNAINI FADHILLAH SARAGIHU NIM: 140704011

PROGRAM STUDI SASTRA ARAB FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa peneliti panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat dan Salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya yang penuh keteguhan menegakkan kebenaran dan membawa risalah Islam ke dunia ini, semoga kita mendapatkan syafaatnya di kemudian hari kelak.

Aamiin ya Rabb al-‘alamin,

Syukur Alhamdulillah, atas izin Allah SWT dan juga dukungan, doa, dan motivasi dari keluarga, kerabat, juga dosen pembimbing yang telah banyak memberikan informasi sangat berguna bagi pembuatan skripsi, akhirnya peneliti mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul : “Analisis

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/Maf‘ūl Bih/

Pada Surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/Az-Zumar/” .

Skripsi ini merupakan salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya USU. Dalam penulisan skripsi ini peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan dalam penyajiannya karena kemampuan yang masih terbatas. Oleh karena, itu peneliti bersedia menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini di masa mendatang. Harapan peneliti semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti sendiri dan para pembaca serta bagi yang memerlukan di kemudian hari untuk melakukan penelitian yang sama.

Medan, April 2018 Peneliti,

UIsnaini Fadhillah Saragih 140704011

(3)

UCAPAN TERIMA KASIH

Syukur Alhamdulillah peneliti ucapkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat, ridha dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Selama penulisan skripsi ini peneliti mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak baik dalam bentuk material, moril, doa, juga motivasi. Maka, dalam kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara dan Ibu Prof. Dr. Ir. Rosmayati, M.S selaku Wakil Rektor I Bidang Kemahasiswaan dan Kealumnian.

2. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Drs. Mauly Purba, M.A., Ph.D., selaku Dekan I, Ibu Dra. Heristina Dewi, M.Pd., selaku Wakil Dekan II, dan Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., selaku Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Rahlina Muskar Nst, M.Hum, Ph.D., selaku Ketua Program Studi Bahasa Arab, Dosen Penasihat Akademik, sekaligus Dosen Pembimbing peneliti yang dengan ikhlas meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya yang penuh perhatian dan kesabaran untuk membimbing dan mengarahkan dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih sebesar-besarnya kepada Ibu, semoga Ibu slalu dalam lindungan Allah AWT.

4. Bapak Drs. Bahrum Saleh M.Ag., selaku Sekretaris Program Studi Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya USU.

5. Ibu Dr. Nursukma Suri, M.Ag., dan Bapak Drs. Suwarto, M,Hum., selaku Dosen Penguji.

6. Seluruh staf Pengajar Program Studi Bahasa Arab USU yang telah mendidik peneliti dan menuangkan Ilmunya selama masa perkuliahan.

7. Kak Fitri selaku Staf Administrasi Program Studi Bahasa Arab USU yang sudah membantu peneliti dalam hal administrasi.

8. Paling tercinta dan teristimewa untuk kedua orang tua peneliti, Ayahanda Rukun Saragih dan Ibunda Ratna Barus yang telah membesarkan dan

(4)

mendidik peneliti dengan seluruh kesabaran, kegigihan, dan perjuangan.

Terimakasih atas doa-doa yang tak pernah putus kalian panjatkan, serta motivasi dan semangat yang tiada hentinya kalian sampaikan. Semoga Allah slalu melindungi Ayahanda dan Ibunda.

9. Adik-adik tersayang Rizky Ananda Saragih dan Zikkry Amry Saragih serta keluarga besar Barus, Pika, Yola, Kak Juli dan lainnya, terimakasih atas motivasi, doa dan hiburannya kepada peneliti selama ini.

10. Teman curhat dan seperjuangan Hakimah, Lina, Aisyah, Ayumi, Anggi, Yuni, Kak Wani, yang tak lelah menerima keluh kesah peneliti, serta slalu memberi semangat, motivasi, doa, dan bantuan dari awal hingga akhir, juga teman sekost peneliti, Sarah yang menjawab segala pertanyaan peneliti sepenuh hati di setiap waktu.

11. Saudara seperjuangan seluruh Sastra Arab 014, Oce, Mawaddah, Buk Maya, Buk Iis, Ghayah, Ukh Rizka, Windi, Mutia, dan kawan-kawan seperjuangan lainnya yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu, terimakasih telah menjadi bagian dari hidup peneliti, semoga semua sukses dan persaudaraan kita tetap terjaga.

12. Sahabat Al-kautsar terkhusus Rizka Amelia Nasution,ahli Nahwu dan Sharaf di hati peneliti, terimakasih slalu menjawab segala pertanyaan peniliti di setiap jam, menit, detik dengan sabar melalui pesan singkat.

13. Sahabat-sahabat Merpati terkhusus Ulpe’tercinta beserta suami (Sehun), Lily, Pohan, Rizka, dan lainnya, terimakasih atas dukungan, bantuan dan doa kalian.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendo’akan peneliti sehingga dapat menyelesaikan Skripsi ini, semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan-Nya. Aamiin ya rabb al-‘alamin.

Medan, April 2018 Peneliti,

140704011

Isnaini Fadhillah Saragih

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR SINGKATAN ... vi

ABSTRAK ... vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.5 Metode Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Kajian Terdahulu ... 7

2.2 Landasan Teori ... 8

2.2.1 Kategori

ُﺔَﻤِﻠَﻜﻟﺍ

/al-kalimatu/ ‘kata’ ... 8

2.2.2 Pengertian

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/‘maf’ul bih’ ... 9

2.2.3 Syarat

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’... 10

2.2.4

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺔﻣﻼﻋ

/‘alāmatu al-i‘rāb maf‘ūl bih/ ‘tanda-tanda i’rabmaf’ul bih’ ... 12

2.2.5 Klasifikasi

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’ ... 17

2.2.6 Jumlah

ﻝْﻮُﻌْﻔَﻤِﻬِﺑ/

maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’ dalam kalimat ... 23

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29

3.1 Hasil ... 29

3.2 Bentuk-bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratun az-zumar/ .. 30

(6)

3.2.1 Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ pada

ﺔﻠﻤﺟ

ﺔﻴﻠﻌﻓ

/jumlah fi’liyyah/ dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/ ... 30

3.2.2 Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮْﻴِﻤَﻀٌﻠِﺼﱠﺘُﻣ

/ḍamīrun muttaṣilun/ pada

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/ dalam

ﺓﺭﻮﺳ ﺮﻣﺰﻟﺍ

/sūratunAz-Zumar/ ... 47

3.2.3 Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ٌﻝﱠﻭَﺆُﻣ ٌﺭَﺪْﺼَﻣ

/maṣdarun muˊawwalun/ dalam

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/ ... 56

3.2.4 Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ yang terdiri dari dua

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūl bihi/ dalam sebuah

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/ pada

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/ ... 58

3.2.5 Bentuk

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlun bihi/ berupa

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ yang terdiri dari dua

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūl bihi/ dalam sebuah

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/ pada

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/ ... 59

BAB IV PENUTUP ... 64

4.1 Kesimpulan ... 64

4.2 Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66 LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2

(7)

DAFTAR SINGKATAN SWT : Subhanahu Wa Ta’ala

SAW : Shalallahu ‘Alaihi Wasallam USU : Universitas Sumatera Utara FIB : Fakultas Ilmu Budaya

(8)

ABSTRAK

Isnani Fadhillah Saragih, (140704011) 2018.Analisis

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/Maf‘ūl Bih/ Pada Surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/Az-zumar/.

Penelitian ini membahas tentang klasifikasi maf’ūl bihdan‘alāmatul i‘rāb maf‘ūl bihdi dalam surah Az-zumar.Permasalahan yang diteliti adalah tentang jumlah maf‘ūl bih, klasifikasi maf‘ūl bih, dan ‘alāmatul i‘rāb maf‘ūl bih di dalam surah Az-zumar.Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui jumlah, klasifikasi dan

‘alāmatul i‘rāb maf‘ūl bih di dalam surah Az-zumar.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dan menggunakan metode deskriptif.

Penelitian ini menggunakan pendapat Al-Ghany(2010), Al-Ghulayaini(2013), Ni’mah (t.t) dan Araa’ni (2014) sebagai landasan teori. Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa terdapat 97 (sembilan puluh tujuh) maf‘ūl bih yang terdapat di dalam surah Az-zumar. Dari seluruh jumlah ini,peneliti menemukan bentuk

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ pada surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/az-zumar/ ada tiga bentuk, yaitu:

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ sebanyak 38 (tiga puluh delapan) kata dalam ayat (2, 41, 3, 4, 5, 38, 5, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 49, 8, 13, 23, 10, 20, 73, 8, 9, 9, 10, 11, 66, 67, 15, 42, 16, 17, 17, 18, 20, 21, 21, 22, 24, 29, 35, 36, 43, 43, 52, 53, 55, 18, 23, 58, 13, 72 dan 75),

ﻞِﺼﱠﺘُﻣ ﺮْﻴِﻤَﺿ

/ḍamīrun muttaṣilun/sebanyak 25 (dua puluhlima) kata dalam ayat (7, 21, 49, 40, 40, 40, 50, 18, 25, 38, 51, 61, 3, 51, 36, 59, 6, 6, 7, 16, 38, 57, 64, 38, 3 dan 49), dan

ٌﻝﱠﻭَﺆُﻣ ٌﺭَﺪْﺼَﻣ

/maṣdarun muˊawwalun/ sebanyak 3 (tiga) kata dalam ayat (4, 11 dan 17). Kemudian, peneliti menemukan dalam sebuah

ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ

/jumlah fi’liyyah/ terdapat 2 (dua)

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlunbihi/secara bersamaan pada

ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ

/sūratunAz-Zumar/. Kedua

ِﻪِﺑ ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlunbihi/ini ada yang berbentuk

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ sebanyak 2 (dua) kata dalam ayat (2 dan 14). Kemudian ada yang berbentuk

ﻞِﺼﱠﺘُﻣ ﺮْﻴِﻤَﺿ

/ḍamīrun muttaṣilun/dan

ﺮِﻫﺎَﻅ ﻢْﺳِﺍ

/isim ẓāhir/ sebanyak 9 (sembilan) kata dalam ayat (8, 21, 21, 49, 26, 35, 71, 74 dan 74). Selain itu, peneliti menemukan tanda i’rab bagi semua

ﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

ِﻪِﺑ

/maf‘ūlunbihi/tersebut dengan tanda naṣab berharkat fatḥah /a/ dan kasrah /i/.

(9)

ﺔﻳﺪﻳﺮﺠﺗ ﺓﺭﻮﺻ

) ﻪﻴﻏﺍﺮﺳ ﺔﻠﻴﻀﻓ ﻰﻨﻴﻨﺛﺇ ۱٤۰۷۰٤۰۱۱

۲۰۱۸ ( ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ ﻰﻓ ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﻞﻴﻠﺤﺗ .

.

ﻡﺎﺴﻗﺃ ﻦﻋ ﺚﺤﺒﻳ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﺓﺭﻮﺳ ﻰﻓ ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺏﺍﺮﻋﻹﺍ ﺔﻣ ﻼﻋ ﻭ ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

ﺍﺬﻫ .ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺎﻬﺘﻣﻼﻋﻭ ،ﻪﻣﺎﺴﻗﺃ ﻭ ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺔﻠﻤﺠﻟﺍ ﻰﻫ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﻩﺬﻫ ﻰﻓ ﺔﻠﺌﺴﻤﻟﺍ .ﺮﻣﺰﻟﺍ . ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ ﻰﻓ ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺔﻣﻼﻋﻭ ﻪﻣﺎﺴﻗﺃ ﻭ ﺔﻠﻤﺠﻟﺍ ﻢﻠﻌﻴﻟ ﺔﻳﺎﻏ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺚﺤﺒﻳ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ

ﻭ .ﻲﻔﻴﻛ ﺔﻘﻳﺮﻄﺑ ﻰﺒﺘﻜﻣ ) ﻰﻧﺎﻐﻟﺍ ﺔﻳﺮﻈﺘﺑ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ

۲۰۱۰ ) ﻦﻴﻴﻠﻐﻟﺍﻭ ،(

۲۰۱۳ ﺔﻤﻌﻨﻟﺍﻭ ،(

) ﻥﺃﺮﻟﺍﻭ (ﺱ.ﺩ) ۲۰۱٤

.(

) ﺪﺟﻮﺗ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﻰﻓ ﺔﺠﻴﺘﻨﻟﺍ ﺎﻣﺃﻭ ۷۹

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ( . ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ ﻰﻓ

) ﺮﻫﺎﻅ ﻢﺳﺍ ﻰﻫﻭ ،ﻞﻜﺷ ﺔﺛﻼﺛ ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ ﻰﻓ ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺪﺟﻮﺗ ﺔﻠﻤﺠﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﻦﻣ ﺎﻬﻠﻛ ﻭ ۳۸

(

) ﻞﻴﺼﺘﻣ ﺮﻴﻤﺿ ﻭ ،ﺕﺎﻤﻠﻛ

۲٥ ﺭﺪﺼﻣﻭ ،ﺕﺎﻤﻠﻛ ( ﻝﻭﺆﻣ

۳ ﻰﻓ ﺪﺟﻮﺗ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﻰﻓ ﻢﺛ .ﺕﺎﻤﻠﻛ

) ﻞﻴﺼﺘﻣ ﺮﻴﻤﺿ ﻭ ﺮﻫﺎﻅ ﻢﺳﺍ ﻭ،ﻦﻴﺘﻤﻠﻛ ﺮﻫﺎﻅ ﻢﺳﺍﻮﻫﻭ ،ﻦﻴﻟﻮﻌﻔﻣ ﻪﻟ ﺔﻴﻠﻌﻓ ﺔﻠﻤﺟ ۹

. ﺕﺎﻤﻠﻛ (

. ﺓﺮﺴﻜﻟﺍﻭ ﺔﺤﺘﻔﻟﺍ ﺐﺼﻨﻟﺍ ﺔﻣﻼﻌﺑ ﺮﻣﺰﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ ﻰﻓ ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺔﻣﻼﻋﻭ

(10)

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Pedoman transliterasi yang digunakan adalah Sistem Transliterasi Arab- Latin Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 158/1987 dan No. 0543 b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.

A. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan

Alif - tidak dilambangkan

bā` b -

tā` t -

ṡā` es (dengan titik di

atas)

Jīm j -

ḥā` ha (dengan titik di

bawah)

khā` k -

Dāl -

Żāl ż zet (dengan titik di

atas)

rā` r -

Zai z -

Sīn s -

Syīn sy -

ṡad es (dengan titik di

bawah)

ḍad de (dengan titik di

bawah)

ṭā` t (dengan titik di

(11)

bawah)

ẓa zet (dengan titik di

bawah)

ʻain koma terbalik (di

atas)

Gain g -

fā` f -

Qāf q -

kāf` k -

Lām l -

Mīm m -

Nūn n -

Wāwu w -

hā` h -

ء

Hamzah ` Apostrof

yā` y -

B. KonsonanRangkap

Konsonanrangkap, termasuk tanda syaddah, ditulisrangkap.

Contoh :

ﺔﻳﺪﻤﺣﺃ

ditulis Ahmadiyyah

C. Tā` marbutāhdi akhir kata

1. Bila dimatikan ditulis h, kecuali untuk kata-kata Arab yang sudah terserap menjadi bahasa Indonesia, seperti salat, zakat, dan sebagainya.

Contoh:

ﺔﻋﺎﻤﺟ

ditulis jamāʻah Bila dihidupkan ditulis t

(12)

Contoh:

ءﺎﻴﻟﻭﻷﺍ ﺔﻣﺍﺮﻛ

ditulis karāmatul auliyā`

D. Vokal pendek

Fathah ditulis “a” contoh:

ﺲﻨﻛ

ditulis kanasa Kasrah ditulis “i” contoh:

ﺡﺮﻓ

ditulis fariḥa Dhammah ditulis “u” contoh:

ﺐﺘﻛ

ditulis kutubun

E. Vokal Panjang

a panjang ditulis “ā”: contoh:

ﻡﺎﻧ

ditulis nāma i panjang ditulis “ī”: contoh:

ﺐﻳﺮﻗ

ditulis qarībun u panjang ditulis “ū”: contoh:

ﺭﻮﻄﻓ

ditulis fuṭūrun

F. Vokal Rangkap

Vokal rangkap

(fathah dan ya`) ditulis “ai”.

Contoh:

ﻦﻴﺑ

ditulis baina

Vokal Rangkap

(fathah dan waw) ditulis “au”.

Contoh:

ﻡﻮﺻ

ditulis ṣaumun

G. Vokal-vokal pendek yang berurutan dalam satu kata Dipisahkan dengan apostrof (`)

Contoh:

ﻢﺘﻧﺃﺃ

ditulis a`antum

H. Kata Sandang Alif + Lām

1. Bila diikuti huruf qamariyah ditulis al- Contoh :

ﻥﺍﺮﻘﻟﺃ

ditulis Al- Qur`ān

2. Bila diikuti huruf syamsiah, huruf pertama diganti dengan huruf syamsiah yang mengikutinya.

Contoh:

ﺲﻤﺸﻟﺍ

ditulis asy-syamsu

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa Arab merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat penutur Arab. Bahasa Arab ini biasanya tergolong ke dalam bahasa Arab ‘Ammiyah.

Selain itu, bahasa Arab juga merupakan bahasa Al-Qur’an, bahasa Ilmiah, dan bahasa dunia yaitu yang digunakan dalam sidang PBB (Persatuan Bangsa- Bangsa). Bahasa Arab ini tergolong ke dalam bahasa Arab Fushah.

Bahasa Arab Fushah merupakan bahasa yang digunakan oleh seluruh umat Islam yang ada di dunia ini sebagai bahasa ibadah, yaitu bahasa yang digunakan oleh seluruh umat Islam untuk melaksanakan shalat. Bahasa Arab juga menjadi bahasa yang paling mulia karena Allah Ta’ala menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an.

Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dapat dilihat di dalam surah Az- Zumar.

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) َﻥْﻮُﻘﱠﺘَﻳ ْﻢُﻬﱠﻠَﻌَﻟ ٍﺝَﻮِﻋ ﻱِﺫ َﺮْﻴَﻏ ﺎًﻴِﺑَﺮَﻋ ﺎًﻧﺍْﺮُﻗ ۲۸

(

/Qurˊānan ‘arabiyyan ghaira żī ‘iwajin la‘allahum yattaqūna/ ‘(Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab, tidak ada kebengkokan (di dalamnya), agar mereka bertakwa.’(Q.S. 39: 28).

Bahasa Arab Al-Qur’an itu merupakan susunan dari kata, frasa, klausa, kalimat juga wacana. Untuk mengetahui susunan dari kalimat-kalimat yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut, diperlukan pengetahuan Ilmu Nahwu.

Adapun Ilmu Nahwu menurut Dahlan (2006: 2) yaitu:

. ِءﺎَﻨِﺒﻟﺍَﻭ ِﺏﺍَﺮْﻋِﻹﺍ َﻦِﻣ ﺎَﻬِﺒْﻴِﻛْﺮَﺗ ﻝﺎَﺣ ِﺔﱠﻴِﺑَﺮَﻌﻟﺍ ِﺕﺎَﻤِﻠَﻜﻟﺍ ُﻡﺎَﻜْﺣَﺃ ﺎَﻬِﺑ ُﻑَﺮْﻌُﻳ ٍﺪِﻋﺍَﻮَﻘِﺑ ٌﻢْﻠِﻋ ُﻩﱡﺪَﺣ ُﻮْﺤﱠﻨﻟﺍ

(14)

/An-nahwu hadduhu ‘ilmun biqawā’idin yu’rafu bihā ahkāmu al-kalimāti al-

‘arabiyyati hālin tarkībihā min al-i‘rabi wa al-bināˊi./ ‘Ilmu Nahwu adalah ilmu tentang kaidah-kaidah gramatika untuk mengetahui bunyi harkat akhir dari kata- kata dalam bahasa Arab dan keadaan struktur kata tersebut dalam kalimat.’

Dalam mempelajari tata bahasa Arab, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai kategori kata. Menurut Al-Ghulayaini (2013: 29) kata dalam bahasa Arab dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori seperti berikut ini:

ٌﻑْﺮَﺣ َﻭ ،ٌﻞْﻌِﻓ َﻭ ،ٌﻢْﺳِﺍ : ٍﻡﺎَﺴْﻗَﺃ ُﺔَﺛ َﻼَﺛ َﻲِﻫَﻭ . ٍﺩَﺮْﻔُﻣ ﻰﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱡﻝُﺪَﻳ ٌﻆْﻔَﻟ ُﺔَﻤِﻠَﻜﻟﺍ

/Al-kalimatu lafẓun yadullu ‘alā ma‘nan mufradin. Wa hiya ṡalāṡatu aqsāmin:

ismun, wa fi‘lun, wa ḥarfun/ ‘Kata adalah sebuah ucapan yang dapat membawa makna tersendiri. Kata itu terdiri dari tiga kategori, yaitu: isim (nomina), fi’l (verba), dan harf (partikel).’

Ketiga macam kategori kata inilah di dalam bahasa Arab dapat membentuk susunan kata menjadi frasa, kalimat, dan menjadi wacana. Dalam bahasa Arab kalimat disebut dengan istilah jumlah. Kalimat (jumlah) di dalam bahasa Arab dapat dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah (2012: 61):

ٌﺔﱠﻴِﻠْﻌِﻓ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ َﻭ ٌ ﺔﱠﻴِﻤْﺳِﺇ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ : ِﻥﺎَﻋْﻮَﻧ ُﺔَﻠْﻤُﺠﻟﺍ

/Al-jumlatu naw‘āni: jumlatun ismiyyatun wa jumlatun fi’liyyatun/ ‘Kata (jumlah) dikategorikan ke dalam dua kategori: yaitu jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah’

Menurut ‘Abdullah (2012: 61) jumlah ismiyyah yakni:

ٍﻢْﺳِﺎِﺑ ُﺔَﺋﻭُﺪْﺒَﻤﻟﺍ ُﺔﻠﻤﺠﻟﺍ َﻲِﻫ َﻭ ٌﺔﱠﻴِﻤْﺳِﺍ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ

/Jumlatun ismiyyatun wa hiya al-jumlatu al-mabdūˊatu bi‍ˊismin/ ‘Jumlah ismiyyah adalah kalimat yang dimulai dengan isim’

Contoh:

ٌﺓَﺮْﻴِﺜَﻛ ُﺭﺎَﻫْﺯَﻷﺍ

/Al-azhāru kaṡīratun/ ‘Bunga-bunga itu banyak’

(15)

Struktur jumlah ismiyyah ini terdiri dari mubtada’ dan khabar. Adapun yang menjadi mubtada’ adalah kata

ﺭﺎَﻫْﺯَﻷﺍ

/al-azhāru/ ‘bunga-bunga’,sedangkan yang menjadi khabar adalah kata

ٌﺓَﺮْﻴِﺜَﻛ

/kaṡīratun/ ‘banyak’.

Menurut ‘Abdullah (2012: 60) yang disebut dengan jumlah fi’liyyah adalah:

ٍﻞْﻌِﻔِﺑ ُﺔَﺋْﻭُﺪْﺒَﻤﻟﺍ ُﺔَﻠْﻤُﺠﻟﺍ َﻲِﻫ َﻭ ﺔﱠﻴِﻠْﻌِﻓ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ

/Jumlatun fi’liyyatun wa hiya al-jumlatu al-mabdūˊatu bifi‘lin/ ‘Jumlah fi’liyyah adalah kalimat yang dimulai dengan fi’l.’

Contoh:

َﺭﺎَﺠْﺷَﻷﺍ ُﷲ َﻖَﻠَﺧ

/Khalaqa Allāhu al-asyjāra/ ‘Allah menciptakan pepohonan’

Adapun struktur kalimat di atas, yang menjadi fi’l adalah kata

َﻖَﻠَﺧ

/khalaqa/

‘menciptakan’, dan kata

ُﷲ

/Allah/ merupakan fa’il, sedangkan kata

َﺭﺎَﺠْﺷَﻷﺍ

/al- asyjāra/ ‘pepohonan’ merupakan maf’ul bih.

Dari struktur jumlah fi’liyyah tersebut di atas, dapat dilihat bahwa maf’ul bih itu terdiri dari

ﻞﻌﻓ

/fi’l/ ‘kata kerja’dan

ﻞﻋﺎﻓ

/fā’il/ ‘pelaku’. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ma’ṣhum (t.t: 192) yaitu:

ِﻞِﻋﺎَﻔﻟﺍ ُﻞْﻌِﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻊَﻘَﻳ ﻯِﺬﱠﻟﺍ ُﻢْﺳِﻻﺍ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ .

/Al-maf‘ūlu bihi al-ismu al-lażī yaqa‘u ‘alaihi fi‘lu al-fā‘ili/ ‘Maf’ul bih ialah isim yang menjadi sasaran perbuatan oleh pelaku.’

Dalam bahasa Arab, maf’ul bih dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Ghani (2010: 5) tentang maf’ul bih, yaitu:

ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗَﻭ ، ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗ َﻭ ،ﺍًﺮِﻫﺎَﻅ ﺎًﻤْﺳِﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻘَﻓ ٌﺓَﺮْﻴِﺜَﻛ ٌﺭَﻮُﺻ ِﻪِﺑ ِﻝْﻮُﻌْﻔَﻤْﻠِﻟ

ًﻼِﺼَﻔْﻨُﻣ

(16)

/Lilmaf‘ūli bihi ṣuwarun kaṡīratun faqad yakūnu isman ẓāhiran, wa qad yakūnu ḍamīran muttaṣilan, wa qad yakūnu ḍamīran munfaṣilan/‘Maf’ul bih terdiri dari tiga klasifikasi, yaitu terdiri dari isim ẓahir, ḍamir muttaṣil, dan ḍamir munfaṡil’

Contoh maf’ul bih isim ẓahir:

ٌﺪِﻟﺎَﺧ َﺢَﺘَﻓ

َﺓَﺮْﻴِﺤﻟﺍ

/Fataḥa khālidun al-ḥirata/ ‘Khalid menaklukkan Hirah’

Struktur jumlah ini terdiri dari fi’l, fa’il dan maf’ul bih. Adapun yang menjadi fi’l adalah kata

َﺢَﺘَﻓ

/fataḥa/

menaklukkan’, dan kata

ٌﺪِﻟﺎَﺧ

/khalidun/

‘khalid’ merupakan fa’il, sedangkan kata

َﺓَﺮْﻴِﺤﻟﺍ

/al-ḥirata/ ‘hirah’ merupakan maf’ul bih berupa isim ẓahir.

Dalam surah Az-Zumar, peneliti melihat ada hal yang sama seperti maf’ulbih di atas. Seperti di dalam ayat berikut ini:

ﺍﻮُﺒَﻨَﺘْﺟﺍ َﻦﻳِﺬﱠﻟﺍَﻭ َﺕﻮُﻏﺎﱠﻄﻟﺍ

: ﺮﻣﺰﻟﺍ) ِﺩﺎَﺒِﻋ ْﺮﱢﺸَﺒَﻓ ۚ ٰﻯَﺮْﺸُﺒْﻟﺍ ُﻢُﻬَﻟ ِ ﱠﷲ ﻰَﻟِﺇ ﺍﻮُﺑﺎَﻧَﺃَﻭ ﺎَﻫﻭُﺪُﺒْﻌَﻳ ﻥَﺃ ۱۷

(

/Wa allażīna ijtanabū aṭ-ṭāgūta an ya‘budūhā wa anābū ilā Allāhi lahumu al- busyrā, fabasysyir ‘ibādi/ ‘Mereka orang-orang yang menjauhi tagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas medapat berita gembira; sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku.’

(Q.S. 39: 17).

Pada kalimat

َﺕﻮُﻏﺎﱠﻄﻟﺍ ﺍﻮُﺒَﻨَﺘْﺟﺍ

/ijtanabū aṭ-ṭāgūta/ ‘mereka orang-orang yang menjauhi tagut

,

kata

ﺍﻮُﺒَﻨَﺘْﺟﺍ

/ijtanabū/ ‘menjauhi’ merupakan fi’l yang berbentuk jama’ yang berasal dari kata

َﺐَﻨَﺘْﺟﺍ

/ijtanaba/, kemudian karena kata tersebut berbentuk jama’ maka ditambahkan harf

/waw/ di akhir kata yang menunjukkan ḍamir muttaṣil

ﻢُﻫ

/hum/ ‘mereka’, sedangkan kata

َﺕﻮُﻏﺎﱠﻄﻟﺍ/

aṭ-ṭāgūta/ ‘ṭaghut’, merupakan maf’ul bih ẓahir. Jumlah maf’ul bih pada kalimat tersebut terdiri dari satu maf’ul bih.

Dari contoh di atas,peneliti tertarik untuk meneliti maf’ul bih yang terdapat di dalam surah Az-Zumar. Hal ini disebabkan ketika peneliti membaca Al-Qur’an, peneliti melihat di dalam ayat-ayat surah Az-Zumar banyak susunan kalimat (jumlah) yang mengandung unsur fi’l, fa’il, dan maf’ul bih.

(17)

1.2 Rumusan masalah

Adapun batasan masalah yang akan peneliti kaji adalah sebagai berikut:

1. Berapa jumlah

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ yang terdapat di dalam surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/az-zumar/?

2. Apa saja klasifikasi

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ yang terdapat di dalam surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/az-zumar/?

3. Bagaimana

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺔﻣﻼﻋ

/‘alāmatu al-i‘rāb maf‘ūl bih/ ‘tanda- tanda i’rabmaf’ul bih’ di dalam surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/Az-zumar/

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui jumlah

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ yang terdapat di dalam surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/az-zumar/.

2. Untuk mengetahui klasifikasi

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ yang terdapat di dalam surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/az-zumar/.

3. Untuk mengetahui

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺔﻣﻼﻋ

/‘alāmatu al-i‘rāb maf‘ūl bih/

‘tanda-tanda i’rabmaf’ul bih’ di dalam surah

ﺮﻣﺰﻟﺍ

/Az-zumar/

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menambah khazanah pengetahuan di bidang ilmu bahasa Arab, khususnya tentang kajian

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ di Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Untuk menambah referensi

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ di Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

1.5 METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang data primernya diperoleh dari Al-Qur’an yaitu Surah Az-Zumar surah ke-39 yang

(18)

terletak pada juz 23 dan 24. Sedangkan data skundernya diperoleh dari mengumpulkan buku-buku, kamus, jurnal, skripsi yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Menurut Moleong (2005: 11) metode deskriptif yaitu data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan karena adanya penerapan metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantitatif lainnya. (Meolong. 2005: 6).

Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang maf’ul bih oleh beberapa ahli bahasa Arab yaitu: Al-Ghany dalam bukunya Nahwu Al-kafi, Ni’mah dalam bukunya MulakhasQawa’idu Al-lughatu Al- Arabiyyah dan Al-Ghulayaini dalam bukunya Jami’u Addurus serta Araa’ni dalam bukunya Ilmu Nahwu Terjemahan Mutammimah Ajurumiyyah.

Dalam memindahkan aksara Arab ke aksara Latin dalam penelitian ini menggunakan pedoman transliterasi Arab-Latin yang berdasarkan SK Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 158/1987.

Adapun tahapan metode penelitian ini adalah:

1. Mengumpulkan bahan referensi berupa buku-buku, jurnal, makalah, baik yang berasal dari bahan cetak, digital ataupun elektronik.

2. Membaca berulang-ulang bahan-bahan referensi sehingga dapat dipahami terutama dalam permasalahan maf’ul bih.

3. Mengklasifikasikan data serta memasukkannya ke dalam kartu data.

4. Menganalisis data dan menguraikannya secara sistematis dalam bentuk laporan awal karya ilmiah.

5. Mendeskripsikan data-data dan hasil laporan awal lalu menyusunnya kembali secara sistematis dalam bentuk laporan akhir yaitu skripsi.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Terdahulu

Nadia Muid (2013) dalam penelitiannya tentang maf’ul bih, beliau mengkaji tentang maf’ul bih pada surah Ar-Rahman. Penelitian ini menemukan 19 kata yang berkedudukan sebagai maf’ul bih yang tersebar dalam 14 ayat. Adapun bentuk maf’ul bih pada surah Ar-Rahman memiliki tiga bentuk, yaitu isim zhahir sebanyak 12 buah, isim yang mabniy sebanyak 6 buah, dan dalam bentuk maṣdar mu’awwal 1 buah.

Amanah (1994) dalam penelitiannya tentang maf’ul bih, beliau mengkaji tentang study kontrastif maf’ul bih dalam bahsa Arab dengan objek dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwasanya perbedaan maf’ul bih dalam bahasa Arab wajib dibaca naṣab atau berbaris fatah sedangkan di dalam bahasa Indonesia tidak mengenal baris atau harkat, persamaannya terkadang suatu kalimat dalam bahasa Indonesia dapat mempunyai objek atau pelengkap penderita yang berupa kata ganti. Dalam bahasa Arab juga dijumpai kalimat yang mempunyai maf’ul bih yang berupa kata ganti atau ḍamir.

Dari kedua penelitian di atas, peneliti memperoleh gambaran tentang bentuk maf’ul bih dalam surah Ar-Rahman oleh Muid (2013) yaitu berupa isim zahir, isim mabniy, dan dalam bentuk maṣdar mu’awwal. Sedangkan dari penelitian Amanah (1994) diperoleh gambaran tentang pembagian maf’ul bih dalam bahasa Arab dan objek dalam bahasa Indonesia. Beliau menyebutkan bahwa maf’ul bih dalam kalimat bahasa Arab berstatus naṣab sehingga dalam membaca bunyi akhir dari maf’ul bih harus berharkat fatah, hal ini tidak ada dalam sebuah kata yang berkedudukan sebagai objek dalam kalimat bahasa Indonesia. Maf’ul bih dalam struktur kalimat bahasa Arab ada

(20)

yang merupakan kata ganti, demikian pula dalam bahasa Indonesia bahwa objek dapat terdiri dari kata ganti.

Adapun maf’ul bih yang akan peneliti bahas dalam penelitian ini berbeda dari kedua penelitian tersebut di atas. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui jumlah maf’ul bih di dalam surah Az-Zumar,serta mengklasifikasi maf’ul bih tersebut dan melihat ‘alamatul i’rab pada maf’ul bih. Perbedaan lainnya yaitu peneliti menggunakan teori Al-Ghanydan fu’ad ni’mah untuk menganalisis maf’ul bih dan menggunakan teori Araa’ni untuk menganalisis tanda i’rab pada maf’ul bih. Sedangkan penelitian terdahulu menggunakan teori Ainur Rafiq dengan objek berbeda yaitu surah Ar-Rahman dan menggunakan teori Mustafa Al-Ghulyaini dalam meneliti kontrastif maf’ul bih dalam bahasa Arab dan objek dalam bahasa Indonesia.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Kategori

ُﺔَﻤِﻠَﻜﻟﺍ

/al-kalimatu/ ‘kata’

Untuk mengetahui maf’ul bih, harus memahami macam-macam katadalam bahasa Arab terlebih dahulu. Menurut Al-Ghulayaini (2013: 29) kata dalam bahasa Arab dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori seperti berikut ini:

ٌﻑْﺮَﺣ َﻭ ،ٌﻞْﻌِﻓ َﻭ ،ٌﻢْﺳِﺍ :ﻡﺎَﺴْﻗَﺃ ُﺔَﺛ َﻼَﺛ َﻲِﻫَﻭ . ٍﺩَﺮْﻔُﻣ ﻰَﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱡﻝُﺪَﻳ ٌﻆْﻔَﻟ ُﺔَﻤِﻠَﻜﻟﺍ

/Al-kalimatu lafẓun yadullu ‘alā ma‘nan mufradin. Wa hiya ṡalāṡatu aqsām:

ismun, wa fi‘lun, wa ḥarfun/ ‘Kata adalah sebuah ucapan yang dapat membawa makna tersendiri. Kata itu terdiri dari tiga kategori, yaitu:

ﻢﺳﺇ

/isim/,

ﻞﻌﻓ

/fi’l/,dan

ﻑﺮﺣ

/harf/’

Isim menurut Al-Ghulayaini (2013: 29) yaitu:

ٍﻥﺎَﻣَﺰِﺒٍﻧِﺮَﺘْﻘُﻣ َﺮْﻴَﻏ ِﻪِﺴْﻔَﻧ ﻰِﻓ ﻰًﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩ ﺎَﻣ ُﻢْﺳِﻻﺍ .

/Al-ismu mā dalla ‘alā ma‘nan fī nafsihi ghairu muqtarinin bizamānin./ ‘Isim merupakan sesuatu yang menunjukkan arti pada dirinya, tanpa disertai oleh waktu.’

(21)

Adapun fi’l menurut Al-Ghulayaini (2013: 31) adalah:

ٍﻥﺎَﻣَﺰِﺑ ٍﻥِﺮَﺘْﻘُﻣ ِﻪِﺴْﻔَﻧ ﻰِﻓ ﻰًﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩ ﺎَﻣ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ .

/Al-fi‘lu mā dalla ‘alā ma‘nan fī nafsihi muqtarinin bizamānin/ ‘Fi’l merupakan kata yang menunjukkan arti pada dirinya yang memiliki waktu.’

Sedangkan harf menurut Anwar (2016: 4) yakni:

ﺎَﻫِﺮْﻴَﻐٮِﻓ ﻰًﻨْﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ ْﺖﱠﻟَﺩ ٌﺔَﻤِﻠَﻛ ُﻑْﺮَﺤﻟﺍ .

/Al-ḥarfu kalimatun dallat ‘alā ma‘nan fī ghairihā./ ‘Harf adalah kalimah (kata) yang menunjukkan makna apabila digabung dengan kalimah lainnya.’

2.2.2 Pengertian

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/‘maf’ul bih’

Secara linguistik, Al-khuli mengartikan objek sebagai maf’ul bih. Berikut pengertian maf’ul bih menurut Al-khulli (1992: 190):

ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻊَﻘَﻳ ﻯِﺬﱠﻟﺍ ُﻢْﺳِﻻﺍ :

/Al-maf‘ūlu bihi: al-ismu allażī yaqa‘u ‘alayhi al-fi‘lu/ ‘Maf’ul bih adalah isim yang menjadi sasaran suatu perbuatan (objek)’

Al-Ghulayaini (2013: 483) mengatakan maf’ul bih sebagai berikut:

ِﻞْﻌِﻔﻟﺍ ِﻞِﻋﺎَﻔﻟﺍ ٌﻞْﻌِﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻊَﻗَﻭ ٍﺊْﻴَﺷ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩ ٌﻢْﺳِﺍ َﻮُﻫ : ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ

/Al-maf‘ūlu bihi: huwa ismun dalla ‘alā syaiˊin waqa‘a ‘alayhi fi‘lun al -fā‘ili al-fi‘li/ ‘Maf’ul bih ialah: isim yang menjadi sasaran suatu perbuatan pelaku’

Hal yang sama mengenai maf’ul bih juga dikemukakan oleh Ghany (2010: 5) seperti berikut ini:

ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ِﻞِﻋﺎَﻔﻟ ُﻼْﻌِﻔﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻊَﻗَﻭ ْﻦَﻣَﻮُﻫ :

/Al-maf‘ūlu bihi: huwa man waqa‘a ‘alayhi al-fi‘lu al-fā‘ili/ ‘Maf’ul bih adalah isim yang menjadi sasaran perbuatan pelaku’

Contoh:

(22)

َﻢﱠﻠَﻌَﺗ ْﻦَﻣ ْﻢُﻛُﺮْﻴَﺧ َﻥﺍْﺮُﻘﻟﺍ

َﻢﱠﻠَﻋَﻭ ُﻩ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍﻭ ﻯﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﺩﻭﺍﺩ ﻮﺑﺃﻭ ﻢﻠﺴﻣ ﻭ ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ)

( ﺔﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ

/Khairukum man ta‘allama al-qurˊāna wa ‘allamahu (rawāhu al-bukhārī wa muslim wa abū dāwud wa at-tarmīżī wa an-nasāˊī wa ibnu majāh)/ ‘Sebaik- baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya(Riwayat Bukhari dan Muslim, At-tarmizi, An-nasa’i dan Ibnu majah)’

Pada kalimat di atas, kata

َﻥﺍْﺮُﻘﻟﺍ

/al-qurˊāna/ ‘Al-Qur’an’ merupakan maf’ul bih isim ẓahir, dan ḍamir muttaṣil

ُﻩ

/hu/ ‘dia’ merupakan maf’ul bih ḍamir muttaṣil dari fi’l

َﻢﱠﻠَﻋ

/‘allama/ ‘mempelajari’.

2.2.3 Syarat

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’

Syarat untuk membuat maf’ul bih yaitu terdiri dari fi’l dan fa’il (jumlah fi’liyyah). Jumlah fi’liyyah merupakan bagian dari jumlah mufidah. Dalam bahasa Indonesia, jumlah mufidah disebut dengan istilah kalimat sempurna.

Adapun kalimat sempurna (jumlah mufidah) menurut Ni’mah (t.t: 19) yaitu:

ُﺔَﻠْﻤُﺠﻟﺍ ُﻢِﺴَﻘْﻨَﺗ َﻭ ،ﺎًّﻣﺎَﺗ ﻰًﻨْﻌَﻣ َﺩﺎَﻓَﺃ َﻭ ،ٍﺮَﺜْﻛَﺃ ْﻭَﺃ ِﻦْﻴَﺘَﻤِﻠَﻛ ْﻦِﻣ ُﺐَﻛْﺮَﺗ ﺎَﻣ ﱡﻞُﻛ َﻰِﻫ ُﺓَﺪْﻴِﻔُﻤﻟﺍ ُﺔَﻠْﻤُﺠﻟﺍ ٌﺔﱠﻴِﻠْﻌِﻓ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ َﻭ ٌﺔﱠﻴِﻤْﺳِﺇ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ : ِﻦْﻴَﻤْﺴِﻗ

/Aljumlatu Al-mufīdatu hiya kullu mā tarkabu min kalimataini aw akṡarin wa

afāda ma‘nan tāmmān, wa tanqasimu al-jumlatu qismaini: jumlatun ismiyyatun wa jumlatun fi’liyyatun/ ‘Jumlah mufidah adalah setiap susunan dua kata atau lebih dan mengandung makna yang sempurna’, dan jumlah terbagi ke dalam dua kategori, yaitu jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah’

Ni’mah (t.t: 19) mengemukakan jumlah ismiyyah sebagai berikut:

ٍﺮْﻴِﻤَﻀِﺑ ْﻭَﺃ ٍﻢْﺳِﺎِﺑ ُﺃَﺪْﺒُﺗ ﻰِﺘﱠﻟﺍ َﻲِﻫ َﻭ : ٌﺔﱠﻴِﻤْﺳِﺇ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ

/Jumlatun ismiyyatun: wa hiya allatī tubdaˊu biismin aw bi ḍamīrin/ ‘Jumlah ismiyyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan isim atau dhamir’

(23)

Contoh:

ِﺔَﺒَﺘْﻜَﻤﻟﺍ ﻰِﻓ َﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ ُﺃَﺮْﻘَﻳ ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ

/Muḥammadun yaqra‘u al-majallata fī al- maktabati/ ‘Muhammad sedang membaca majalah di perpustakaan’

Kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang dimulai dengan isim, kata

ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ

/Muḥammadun/ ‘Muhammad’ merupakan fa’il, dan kata

ُﺃَﺮْﻘَﻳ

/yaqaraˊu/ ‘membaca’ adalah fi’l, sedangkan kata

َﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ

/al-majallata/

‘majalah’ adalah maf’ul bih.

Adapun jumlah fi’liyyah menurut Ni’mah (t.t: 19) adalah sebagai berikut:

ٍﻞْﻌِﻔِﺑ ُﺃَﺪْﺒُﺗ ﻰِﺘﱠﻟﺍ َﻰِﻫَﻭ : ٌﺔﱠﻴِﻠْﻌِﻓ ٌﺔَﻠْﻤُﺟ

/Jumlatun fi’liyyatun: wa hiya allatī tubadaˊu bifi’lin/‘Jumlah fi’liyyah adalah jumlah (kalimat) yang diawali dengan fi’l’

Contoh:

ِﺔَﺒَﺘْﻜَﻤﻟﺍ ﻰِﻓ َﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ ُﺃَﺮْﻘَﻳ

/Yaqaraˊu Muḥammadun al-majallata/

‘Muhammad membaca majalah di perpustakaan’

Kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang dimulai dengan fi’l. Kata

ُﺃَﺮْﻘَﻳ

/yaqraˊu/ ‘membaca’ sebagai fi’l, dan kata

ٌﺪﱠﻤَﺤُﻣ

/Muḥammadun/

‘Muhammad’ adalah fa’il. Sedangkan kata

َﺔﱠﻠَﺠَﻤﻟﺍ

/al-majallata/ ‘majalah’

merupakan maf’ul bih.

Striktur jumlah fi’liyyah di dalam bahasa Arab dapat terdiri dari fi’l dan fa’il, serta fi’l, fa’il, dan maf’ul bih.Fi’l sudah dikemukan pengertiannya, sedangkan fa’il menurut Araa’ini (2014: 122) yakni:

ِﻦْﻴَﻤْﺴِﻗ ﻰَﻠَﻋ َﻮُﻫَﻭ ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ِﻞْﻳِﻭْﺄَﺗ ﻰِﻓ ﺎَﻣ ْﻭَﺃ ٌﻞْﻌِﻓ ُﻪَﻠْﺒَﻗ ُﺭْﻮُﻛْﺬَﻤﻟﺍ ُﻉْﻮُﻓْﺮَﻤﻟﺍ ُﻢْﺳِﻻﺍ َﻮُﻫ ُﻞِﻋﺎَﻔﻟﺍ ٌﺮَﻤْﻀُﻣ َﻭ ٌﺮِﻫﺎَﻅ

/Al-fā‘ilu huwa al-ismu al-marfū‘u al-mażkūru qablahu fi’lun aw mā fī taˊwīli al-fi‘lu wa huwa ‘alā qismaini ẓāhirun wa muḍmarun/ ‘Fa’il ialah isim

(24)

marfu’ yang disebutkan terlebih dahulu fi’lnya atau lafazh yang mengandung takwilfi’l, dan fa’il itu terbagi atas dua bagian, yaitu fa’il yang ẓahir (ditampakkan) dan fa’il yang muḍmar (tersembunyi).

Contoh:

ُﷲ َﻝﺎَﻗ

/qāla Allāhu/ ‘Allahberfirman’

Pada contoh di atas, kata

ُﷲ

/Allāhu/ ‘Allah’ merupaka fa’il ẓahir yang terletak setelah fi’l.

Adapun maf’ul bih terletak pada suatu kalimat (jumlah) yang terdiri dari (

ﻞﻌﻓ)

fi’l dan (

ﻞﻋﺎﻓ)

fa’il. Hal ini sesusai dengan yang dikemukakan oleh Ni’mah (t.t: 66):

ﻞْﻌِﻔﻟﺍ ُﺓَﺭْﻮُﺻ ُﻪَﻌَﻣ ُﺮﱠﻴَﻐَﺘَﺗ َﻻَﻭ ِﻞِﻋﺎَﻔﻟﺍ ُﻞْﻌِﻓ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻊَﻗَﻭ ْﻦَﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱡﻝُﺪَﻳ ٌﺏْﻮُﺼْﻨَﻣ ٌﻢْﺳِﺍ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ

/Al-maf‘ūlu bih ismun manṣūbun yadullu ‘alā man waqa‘a ‘alaihi fi‘lu al- fā‘ili wa lā tataghayyaru ma‘ahu sūratun al-fi‘li/ ‘Maf’ul bih adalah isim berbaris fathah yang menjadi sasaran perbuatan pelaku, dan tidak merubah fi’l’

2.2.4

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ ﺏﺍﺮﻋﻻﺍ ﺔﻣﻼﻋ

/‘alāmatu al-i‘rāb maf‘ūl bih/ ‘tanda-tanda i’rabmaf’ul bih’

Menurut Anwar (2006: 11) i’rab ialah sebagai berikut:

ﺍًﺮْﻳِﺪْﻘَﺗ ْﻭَﺍ ﺎًﻈْﻔَﻟ ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋ ِﺔَﻠِﺧﺍﱠﺪﻟﺍ ِﻞِﻣﺍَﻮَﻌﻟﺍ ِﻑ َﻼِﺘْﺧِ ِﻻ ِﻢِﻠَﻜﻟﺍ ِﺮِﺧﺍَﻭَﺍ ُﺮْﻴِﻴْﻐَﺗ َﻮُﻫ ُﺏﺍَﺮْﻋِﻻﺍ

/I‘rābu huwa taghyīru awākhiri al-kalimi liikhtilāfi al-‘awāmili ad-dākhilati

‘alayhā lafẓan aw taqdīran/ ‘I’rab ialah perubahan akhir kalimah karena perbedaan amil yang memasukinya, baik secara lafaz ataupun secara perkiraan’

Maksudnya: i’rab itu mengubah syakal tiap-tiap akhir kalimah disesuaikan dengan fungsi amil yang memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafaznya atau hanya secara diperkirakan saja keberadaannya.

(25)

Adapun maf’ul bih adalah isim yang dibaca naṣab dan menunjukkan kepada yang dikenai pekerjaan (Wahyoedin: 2011: 143). I’rab naṣab sendiri memiliki lima alamat (tanda). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 27) yakni:

ِﻥْﻮﱡﻨﻟﺍ ُﻑْﺬَﺣَﻭ ُءﺎَﻴﻟﺍَﻭ ُﺓَﺮْﺴَﻜﻟﺍَﻭ ُﻒِﻟَﻷﺍَﻭ ُﻞْﺻَﻷﺍ َﻲِﻫَﻭ ُﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍَﻭ ٍﺕﺎَﻣ َﻼَﻋ ُﺲْﻤَﺧ ِﺐْﺼﱠﻨﻠِﻟَﻭ ِﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍ ِﻦَﻋ ٌﺔَﺒِﺋﺎَﻧ َﻲِﻫَﻭ

/Wa linniṣbi khamsu ‘alāmātin wa al-fatḥatu wa hiya al-aṣlu wa al-alifu wa al-kasratu wa al-yāˊu wa ḥażfu an-nūni wa hiya nāˊibatun ‘ani al -fatḥati/

‘I’rab naṣab memeliki lima tanda, yaitu fathah sebagai tanda asli, sedangkan alif, kasrah, ya, dan nun yang dihilangkan sebagai pengganti fathah.

Fathah menjadi tanda bagi i’rabnaṣab berada pada tiga tempat, yaitu isim mufrad, jama’ taksir dan fi’l muḍari’, seperti yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 27) berikut ini:

ْﻭَﺃ َﻥﺎَﻛ ﺎًﻓِﺮَﺼْﻨُﻣ ِﺩَﺮْﻔُﻤﻟﺍ ِﻢْﺳِﻹﺍ ﻰِﻓ َﻊِﺿﺍَﻮَﻣ ِﺔَﺛ َﻼَﺛ ﻰِﻓ ِﺐْﺼﱠﻨﻠِﻟ ًﺔَﻣ َﻼَﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍ ﺎﱠﻣَﺄَﻓ ٍﻑِﺮَﺼْﻨُﻣ َﺮْﻴَﻏ ْﻭَﺃ َﻥﺎَﻛ ﺎًﻓِﺮَﺼْﻨُﻣ ِﺮْﻴِﺴْﻜﱠﺘﻟﺍ ِﻊْﻤَﺟ ﻰِﻓ َﻭ ،ٍﻑِﺮَﺼْﻨُﻣ َﺮْﻴَﻏ

/Faammā al-fatḥatu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi fī ṡalāṡati mawāḍi‘i fī al- ismi al-mufradi munṣarifan kāna aw ghaira munṣarifin, wa fī jam‘i at-taksīr munṣarifan kāna aw ghaira munṣarifin/ ‘Fathah menjadi tanda bagi i’rabnaṣab berada pada tiga tempat, yaitu isim mufrad munṣarif atau ghairu munṣarif, jama’ taksir munṣarif atau ghairu munṡarif’

1. Pada isim mufrad, baik yang munṣarif (menerima tanwin) ataupun yang ghairu munṣarif (tidak menerima tanwin.

Contoh munṣarif:

ْﻮُﻘﱠﺘﻟﺍَﻭ ...

َﷲ ...

: ﺮﺸﺤﻟﺍ) ۱۸

(

/...Wa at-taqū Allāha.../ ‘...Bertakwalah kalian kepada Allah...’ (Al- Hasyr, 59: 18).

Lafaz

َﷲ

/Allāha/ dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih. Tanda naṣabnya adalah fathah ẓahir (yang tampak).

(26)

Contoh ghairu munṣarif:

ُﻪَﻟ ﺎَﻨْﺒَﻫَﻭَﻭ َﺏْﻮُﻘْﻌَﻳ َﻭ َﻕﺎَﺤْﺳِﺍ

...

: ﻡﺎﻌﻧﻻﺍ) ۸٤

(

/Wa wahabnā lahu isḥāqa wa ya‘qūba.../ ‘Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya...’ (Al-An’am, 6: 84).

Lafaz

َﻕﺎَﺤْﺳِﺍ

/Isḥāqa/dan

َﺏْﻮُﻘْﻌَﻳ

/Ya’qūba/ pada kalimat di atas dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih. Tanda naṣabnya adalah fathah ẓahir.

Contoh isim maqṣurah:

ﺎَﻧْﺪَﻋﺍَﻭ ْﺫِﺍَﻭ ﻰﺳﻮُﻣ

...

: ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ) ٥۱

(

/Wa iż wā‘adnā mūsā.../ ‘Ingatlah ketika kami berjanji kepada Musa...’

(Al-Baqarah, 2: 51).

Lafaz

ﻰﺳﻮُﻣ

/mūsā/ dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang diperkirakan kepada alif, sebab isim maqṣurah, yakni mu’tal alif.

2. Pada jamak taksir, baik yang munṣarif ataupun yang tidak munṣarif.

Contoh munṣarif:

ﻯَﺮَﺗَﻭ َﻝﺎَﺒِﺠﻟﺍ ...

: ﻞﻤﻨﻟﺍ) ۸۸

(

/Wa tarā al-jibāla.../ ‘Kamu lihat gunung-gunung itu...’ (Al-Naml, 27:

88).

Lafaz

َﻝﺎَﺒِﺠﻟﺍ

/al-jibāla/ ‘gunung’ adalah bentuk jama’ taksir yang munṣarif, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang ẓahir.

Contoh ghairu munṣarif:

ُ ّﷲ ُﻢُﻛَﺪَﻋَﻭ َﻢِﻧﺎَﻐَﻣ

...

: ﺢﺘﻔﻟﺍ) ۲۰

(

/Wa ‘adakumu Allāhu maghānimā.../ ‘Allah menjanjikan kepada kalian harta rampasan...’ (Al-Fath, 48: 20).

(27)

Lafaz

َﻢِﻧﺎَﻐَﻣ

/maghānima/ ‘harta rampasan’ adalah bentuk jama’ taksir yang ghairu munṣarif, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang ẓahir.

Contoh isim maqṣurah:

ﺍْﻮُﺤِﻜْﻧﺍَﻭ ﻰﻣﺎَﻳَﻻﺍ

...

: ﺭﻮﻨﻟﺍ) ۳۲

(

/Wā ankihū al-ayāmā.../ ‘Nikahkanlah orang-orang yang sendirian...’

(An-nur, 24: 32).

Lafaz

ﻰﻣﺎَﻳَﻻﺍ

/al-ayāmā/ ‘orang-orang yang sendirian’ adalah bentuk jama’ taksir, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, sedangkan tanda naṣabnya adalah fathah yang diperkirakan kepada alif maqṡurah, sebab mu’talalif.

3. Pada fi’l muḍari’ bila padanya kemasukan amil yang menaṣabkan dan pada huruf akhirnya tidak bertemu dengan sesuatu pun (dari alif ḍamir taṡniyah, wawu ḍamir jamak mużakkar, dan sebagainya). Adapun fi’l muḍari’ tidak termasuk klasifikasi maf’ul bih.

Kemudian alif menjadi tanda i’rab naṣab pada asma’ul sittah, seperti yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 30) berikut ini:

ِﺔﱠﺘﱢﺴﻟﺍ ِءﺎَﻤْﺳﻻﺍ ﻰِﻓ ِﺐْﺼﱠﻨﻠﻟ ًﺔَﻣَﻼﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُﻒِﻟﻻﺍ ﺎﱠﻣَﺃَﻭ

/Wa ammā al-alifu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi fī al-asmāˊi as-sittati/

‘Alif menjadi tanda i’rab naṣabasmaˊul sittah’

Contoh:

ُﻆَﻔْﺤَﻧَﻭ ...

ﺎَﻧﺎَﺧَﺍ ...

: ﻒﺳﻮﻳ) ٦٥

(

/...Wa naḥfaẓu akhānā.../ ‘...Kami akan dapat menjaga saudara kami...’

(Yusuf, 12: 65).

Lafaz

ﺎَﺧَﺍ

/akhā/ ‘saudara’ merupakan asmaˊul sittah, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dan tanda naṣabnya adalah alif.

Menurut Araa’ini (2014: 30) kasrah menjadi tanda bagi i’rab naṣab pada jama’ muannaṡ salim seperti berikut ini:

(28)

ﺎَﻣَﻭ ِﻢِﻟﺎﱠﺴﻟﺍ ِﺚﱠﻧَﺆُﻤﻟﺍ ِﻊْﻴِﻤَﺟ ﻰِﻓ ِﺔَﺤْﺘَﻔﻟﺍ ِﻦَﻋ ًﺔَﺑﺎَﻴِﻧ ِﺐْﺼﱠﻨﻠِﻟ ًﺔَﻣ َﻼَﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُﺓَﺮْﺴَﻜﻟﺍ ﺎﱠﻣَﺃَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻞِﻤُﺣ

/Wa ammā al-kasratu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi niyābatan ‘ani al- fatḥati fī jamī‘i al-muˊannaṡi as-sālimi wa mā ḥumila ‘alayhi/ ‘Kasrah menjadi tanda bagi i’rabnaṣab sebagai pengganti fathah pada jama’

muannaṡ salim dan yang dimahmulkan kepadanya.

Contoh:

ُﷲ َﻖَﻠَﺧ ِﺕﺍَﻭﺎَﻤﱠﺴﻟﺍ

...

: ﺕﻮﺒﻜﻨﻌﻟﺍ) ٤٤

(

/Khalaqa Allāhu as-samāwāti.../ ‘Allah menciptakan langit...’ (Al- Ankabut, 29: 44).

Lafaz

ِﺕﺍَﻭﺎَﻤﱠﺴﻟﺍ

/as-samāwāti/ ‘langit’ merupakan jama’ muannatṡ salim, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dantanda naṣabnya adalah kasrah.

Kemudian ya menjadi tanda bagi i’rab naṣab pada isim taṡniyah dan jama’ mużakkar salim. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Araa’ini (2014: 31) seperti berikut:

ِﻊْﻤَﺟ ﻰِﻓَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻞِﻤُﺣ ﺎَﻣَﻭ ﻰﱠﻨَﺜُﻤﻟﺍ ﻰِﻓ ِﻦْﻴَﻋْﻮُﺿْﻮَﻣ ﻰِﻓ ِﺐْﺼﱠﻨﻠﻟ ًﺔَﻣَﻼَﻋ ُﻥْﻮُﻜَﺘَﻓ ُءﺎَﻴﻟﺍ ﺎﱠﻣَﺃَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻞِﻤُﺣ ﺎَﻣَﻭ ِﻢِﻟﺎﱠﺴﻟﺍِﺮﱠﻛَﺬُﻤﻟﺍ

/Wa ammā al-yāˊu fatakūnu ‘alāmatan linnaṣbi fī mawḍū‘ayni fī al- muṡannā wa mā ḥumila ‘alaihi wa fī jam‘i al-mużakkari as-sālimi wa mā ḥumila ‘alaihi/ ‘Ya menjadi tanda bagi i’rabnaṣabberada pada dua tempat, isim taṡniyah dan yang dimahmulkan kepadanya, serta jama’

mużakkar salim dan yang dimahmulkan (disamakan)’

1. Pada isim taṡniyah Contoh:

ﺎَﻨْﻠَﻌْﺟﺍَﻭ ﺎَﻨﱠﺑَﺭ ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ

َﻚَﻟ ...

: ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ) ۱۲۸

(

/Rabbanā wāj‘alnā muslimayni laka.../ ‘Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau...’ (Al-Baqarah, 2: 128).

(29)

Lafaz

ِﻦْﻴَﻤِﻠْﺴُﻣ

/muslimayni/ ‘dua muslim’ merupakan isim taṣniyah, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dan tanda naṣabnya adalah ya.

2. Pada jama’ mużakkar salim Contoh:

ﻰِﺠْﻨُﻧ ...

َﻦْﻴِﻨِﻣْﺆُﻤﻟﺍ : ءﺎﻴﺒﻧﻻﺍ)

۸۸ (

/...Nunjī al-muˊminīna/ ‘...Kami selamatkan orang-orang yang beriman.’

(Al-Anbiya, 21: 88).

Lafaz

َﻦْﻴِﻨِﻣْﺆُﻤﻟﺍ ‘

orang-orang yang beriman’ merupakan jama’

mużakkar salim, dinaṣabkan karena menjadi maf’ul bih, dan tanda naṣabnya adalah ya.

2.2.5 Klasifikasi

ﻪﺑ ﻝﻮﻌﻔﻣ

/maf‘ūl bih/ ‘maf’ul bih’

Maf‘ul bih terdiri dari tiga klasifikasi, yaitu

ﺍًﺮِﻫﺎَﻅ ﺎًﻤْﺳِﺍ/

isman ẓāhiran/‘isim yang jelas’,

ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ/

ḍamīran muttaṣilan/ ‘ḍamir muttaṣil’,dan

ًﻼِﺼَﻔْﻨُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ/

ḍamīran munfaṣilan/’ ḍamir munfaṡil.’ Hal ini dikemukakan oleh Al-Ghany (2010: 5) seperti berikut:

ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗَﻭ ، ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻗ َﻭ ،ﺍًﺮِﻫﺎَﻅ ﺎًﻤْﺳِﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ْﺪَﻘَﻓ ٌﺓَﺮْﻴِﺜَﻛ ٌﺭﱠﻮُﺻ ِﻪِﺑ ِﻝْﻮُﻌْﻔَﻤْﻠِﻟ ًﻼِﺼَﻔْﻨُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ

/Lilmaf‘ūli bihi ṣuwwarun kaṡīratun faqad yakūnu isman ẓāhiran, wa qad yakūnu ḍamīran muttaṣilan, wa qad yakūnu ḍamīran munfaṣilan/‘Maf’ul bih terdiri dari tiga klasifikasi, yaitu terdiri dari isim ẓahir, ḍamir muttaṣil, dan ḍamir munfaṡil.’

1.

ٌﺮِﻫﺎَﻅ ٌﻢْﺳِﺍ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ

/al-maf‘ūlu bihi ismun ẓāhirun/ maf’ul bih isim yang ẓahir’

Isim ẓahir menurut Ghany (2010: 5) yaitu:

ﺍًﺭْﻮُﻛْﺬَﻣ ﺍًﺮِﻫﺎَﻅ ﺎًﻤْﺳِﺍ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ُﺚْﻴَﺣ

(30)

/Ḥayṡu yakūnu al-maf‘ūlu bihi isman ẓāhiran mażkūran:‘Maf’ul bih terdiri dari isim yang jelas disebutkan’

Isim ẓahir menurut Anwar (2006: 73) yaitu:

ٍﺪﱢﻴَﻗ َﻼِﺑ ُﻩﺎﱠﻤَﺴُﻣ ﻰَﻠَﻋ ﱠﻝَﺩﺎَﻣ ُﺮِﻫﺎﱠﻈﻟﺍﺎَﻓ

/Fa aẓ-ẓāhiru mā dalla ‘alā musammāhu bilā qayyidin/ ‘Isim ẓahir ialah kata yang menunjukkan kepada yang disebutnya tanpa ikatan.’

Contoh:

ُﷲ َﻦَﻌَﻟ َﻞُﺟﱠﺮﻟﺍ

ُﺲَﺒْﻠَﻳ َﺔَﺴْﺒِﻟ ُﺲَﺒْﻠَﺗ ُﺓَﺃْﺮَﻤﻟﺍَﻭ ،ِﺓَﺃْﺮَﻤﻟﺍ َﺔَﺴْﺒِﻟ

َﻦَﻌَﻟ ﺎَﻤَﻛ ،ِﻞُﺟﱠﺮﻟﺍ َﻦْﻴِﻬﱢﺒَﺸَﺘُﻤﻟﺍ

ِﻝﺎَﺟﱢﺮﻟﺎِﺑ ِءﺎَﺴﱢﻨﻟﺍ َﻦِﻣ ِﺕﺎَﻬﱢﺒَﺸَﺘُﻤﻟﺍَﻭ ،ِءﺎَﺴﱢﻨﻟﺎِﺑ ِﻝﺎَﺟﱢﺮﻟﺍ َﻦِﻣ )

( ﻢﻠﺴﻣ ﻭ ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ

/La‘ana Allāhu ar-rajula yalbasu libsata al-marˊati, wa al-marˊatu talbasu libsata ar-rajuli, kamā la‘ana al-mutasyabbihīna min ar-rijāli bi an-nisāˊi, wa al-mutasyabbihāti min an-nisāˊi bi ar-rijāli (rawāhu al- bukhārī wa muslim)/ ‘Allah melaknat seorang laki-laki yang berpakaian perempuan dan perempuan yang berpakaian laki-laki, dan Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki (Riwayat Bukhari dan Muslim)’

Pada kalimat tersebut, kata

َﻞُﺟﱠﺮﻟﺍ/

ar-rajula/ ‘seorang laki-laki’

merupakan maf’ul bih isim ẓahir dengan tanda naṣabnya fathah, dan

َﺔَﺴْﺒِﻟ

/libsata/ ‘pakaian’ maf’ul bih isim ẓahir dengan tanda naṣab fathah, sedangkan

ﻦْﻴِﻬﱢﺒَﺸَﺘُﻤﻟﺍ

/al-mutasyabbihīna/ ‘menyerupai’,merupakan maf’ul bih isim ẓahir dengan tanda naṣab ya.

2.

ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺎِﻬِﺒٌﻠِﺼﱠﺘُﻣ ٌﺮْﻴِﻤَﺿ

/maf‘ūlu bihi ḍamīr muttaṣil/ ‘maf’ul bih ḍamir muttaṣil’

Menurut Al-Ghany (2010: 97) ḍamir muttaṣil adalah sebagaimana berikut ini:

ﱠﻻِﺇ َﺪْﻌَﺑ َﻊَﻘَﻳ ْﻥَﺃ ﱡﺢِﺼَﻳ َﻻَﻭ ،ِﻡ َﻼَﻜﻟﺍ ِﻝﱠﻭَﺃ ﻰِﻓ َﻊَﻘَﻳ ْﻥَﺃ ُﻦِﻜْﻤُﻳ َﻻ ﻯِﺬﱠﻟﺍ َﻮُﻫ ُﻞِﺼﱠﺘُﻤﻟﺍ ُﺮْﻴِﻤﱠﻀﻟﺍ

. ٍﺔَﻤِﻠَﻜِﺑ ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ُﻥْﻮُﻜَﻳ َﻭ ِﺕﺎَﻤِﻠَﻜﻟﺍ ِﺮِﺧَﺍ ﻰِﻓ ﺎًﻤِﺋﺍَﺩ ُﻊَﻘَﻳ ﻯِﺬﱠﻟﺍ َﻮُﻫ :ﻯﺃ

/Aḍ-ḍamīru al-muttaṣilu huwa allażī lā yumkinu an yaqa‘a fī awwali al- kalāmi, wa lā yaṣiḥḥu an yaqa‘a ba‘da illā ay: huwa allażī yaqa‘u dāˊiman fī ākhiri al-kalīmāti wa yakūnu muttaṣīilan bikalimatin/‘Ḍamīr

(31)

tidak boleh terletak setelah

ﻻﺇ

. Artinya, ḍamir muttaṣil sering terletak di akhir kalimat dan bersambung dengan kata lainnya.’

Adapun ḍamir muttaṣil yang dapat menjadi maf’ul bih menurut Ghany (2010: 6) adalah seperti berikut:

- ِﻦْﻴَﻟْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﺔَﻟﺍﱠﺪﻟﺍ ﺎَﻧ - ِﻢﱢﻠَﻜَﺘُﻤﻟﺍ ُءﺎَﻳ)) : ًﻼِﺼﱠﺘُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ُﺚْﻴَﺣ (( ِﺐِﺋﺎَﻐﻟﺍ ُءﺎَﻫ - ِﺏﺎَﻄَﺨﻟﺍ ُﻑﺎَﻛ

/Ḥayṣu yakūnu al-maf‘ūlu bihi ḍamīran muttaṣilan: ((yāˊu al-mutakallim, nā ad-dālati ‘alā al-maf‘ūlaini, kāfu al-khaṭābi, hāˊu al-ghāˊibi)) ‘Maf’ul bih yang terdiri dari ḍamir muttaṣil ialah: ((ya’ mutakallim,na yang menunjukkan dua maf’ul, kaf khaṭab, ha gha’ib))’

Contoh maf’ul bih ḍamir muttaṣil:

ﻰِﻨَﺘْﻣﱠﺮَﻛ ُﺔَﻌِﻣﺎَﺠﻟﺍ

/Karramtanī al-jāmi‘atu/ ‘Engkau memuliakan aku yang berjamaah’

Pada kalimat

ﻰِﻨَﺘْﻣﱠﺮَﻛ

/karramtanī/ ‘engkau memuliakan aku’,

ِﻢﱢﻠَﻜَﺘُﻤﻟﺍُءﺎَﻳ

/yāˊu al-mutakallim/ merupakan maf’ul bih ḍamir muttaṣil dengan fi’l

ﻡﱠﺮَﻛ

/karrama/ ‘memuliakan’.

Contoh maf’ul bihḍamir muttaṣil di dalam Al-Qur’an:

َﻢﱠﻠَﻋ َﻥﺎَﻴَﺒﻟﺎُﻫ : ﻦﻤﺣﺮﻟﺍ) ٤

(

/’Allamahu albayāna/ ‘Mengajarinya pandai

berbicara.’ (Q.S. 55: 4).

Pada kalimat tersebut, ḍamir

ُﻩ

/hu/ ‘dia’ merupakan maf’ul bihḍamir muttaṣil yang berharakatḍammah dan berada di tempat naṣab maf’ul bih, dan kata

َﻥﺎَﻴَﺒﻟﺍ

/albayāna/ ‘berbicara’ merupakan maf’ul bih ẓahir dengan tanda naṣab fathah.

3.

ٌﻞِﺼَﻔْﻨُﻣ ٌﺮْﻴِﻤَﺿ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ

/al-maf‘ūlu bihi ḍamīrun munfaṣilun/ ‘maf’ul bih ḍamir munfaṣil’

(32)

Ḍamir munfaṣil menurut Ghany (2010: 95) adalah sebagai berikut:

ُﻦِﻜْﻤُﻳ َﻭ " ﱠﻻِﺇ" َﺪْﻌَﺑ َﻊَﻘَﻳ ْﻥَﺃ ُﻦِﻜْﻤُﻳَﻭ ،ِﻡَﻼَﻜﻟﺍ ِﻪِﺑ َءﺍَﺪَﺘْﺒُﻳ ْﻥَﺃ ﱡﺢِﺼَﻳ ﺎَﻣَﻮُﻫ ُﻞِﺼَﻔْﻨُﻤﻟﺍ ُﺮْﻴِﻤﱠﻀﻟﺍ ِﻡ َﻼَﻜﻟﺍ ِﻦَﻋ َﻞِﺼَﻔْﻨَﻳ ْﻥَﺃ

/Aḍ-ḍamīru al-munfaṣilu huwa mā yaṣiḥḥū an yubtadaˊa bihi al -kalāmi, wa yumkinu an yaqa‘a ba‘da “illā” wa yumkinu an yanfaṣila ‘an al- kalāmi/ ‘Ḍamir munfaṣil ialah dhamir yang dapat digunakan sebagai mubtada’,dan dapat terletak setelah

ﻻﺇ

serta memungkinkan untuk berpisah dari kata.’

Ḍamir munfaṣil yang dapat menjadi maf’ul bih menurut Ghany (2010: 6) adalah seperti berikut:

َﻱﺎﱠﻳِﺇ : ًﻼِﺼَﻔْﻨُﻣ ﺍًﺮْﻴِﻤَﺿ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ -

(( ﻢﱢﻠَﻜَﺘُﻤﻠﻟ)) ﺎَﻧﺎﱠﻳِﺇ َﻙﺎﱠﻳِﺇ -

ِﻙﺎﱠﻳِﺇ - ﺎَﻤُﻛﺎﱠﻳِﺇ - -

ْﻢُﻛﺎﱠﻳِﺇ - (( ﺐﻁﺎﺨﻤﻠﻟ)) ﱠﻦُﻛﺎﱠﻳِﺇ ُﻩﺎﱠﻳِﺇ -

ﺎَﻫﺎﱠﻳِﺇ - ﺎَﻤُﻫﺎﱠﻳِﺇ - ْﻢُﻫﺎﱠﻳِﺇ -

- .(( ﺐﺋﺎﻐﻠﻟ)) ﱠﻦُﻫﺎﱠﻳِﺇ

/Yakūnu al-maf‘ūlu bihi ḍamīran munfaṣilan: /iyyāya/, /iyyānā/

((lilmutakallim)), /iyyāka/, /iyyāki/, /iyyākumā/, /iyyākum/, /iyyākunna/, ((lilmukhāṭab)), /iyyāhu/, /iyyāha/, /iyyāhumā/, /iyyāhum/, /iyyāhunna/, ((lilghāˊib))/

Kepadaku, kepada kami ((mutakallim)), kepadamu laki- laki, kepadamu perempuan, kepada kamu berdua laki-laki/perempuan, kepada kalian laki-laki, kepada kalian perempuan ((mukhatab) kepadanya laki-laki, kepadanya perempuan, kepada mereka berdua laki- laki/perempuan, kepada mereka laki-laki, kepada mereka perempuan ((mukhatab))’

Contoh maf’ul bih ḍamir munfaṣil

َﻙﺎﱠﻳِﺇ َﻭ ُﺪُﺒْﻌَﻧ َﻙﺎﱠﻳِﺇ ) ُﻦْﻴِﻌَﺘْﺴَﻧ ٥

(

/Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn/ ‘Pada-Mu aku menyembah dan pada-Mu aku mohon pertolongan.’ (Q.S. 1: 5).

Pada kalimat tersebut, ḍamir

َﻙﺎﱠﻳِﺇ

/iyyāka/

pada-Mu’ merupakan maf’ul bih ḍamir munfaṣil yang berharakat fathah dan menduduki posisi naṣab maf’ul bih.

(33)

4.

ﺭْﻭُﺮْﺠَﻣ ْﺮَﺟ ُﺐْﻴِﻛْﺮﱠﺘﻟﺍ

/at-tarkību jar majrūr/ ‘susunan bih jar majrur’

Susunan jarmajrur juga dapat menjadi maf’ul bih. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Al-Ghulayaini (2013: 484) seperti berikut ini:

: ﻰﱠﻤَﺴُﻳ َﻭ : ِﻪِﺑ ٌﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ُﻪﱠﻧَﺃ ﻰَﻠَﻋ ُﺭْﻭُﺮْﺠَﻤﻟﺍ ُﺐِﺼَﺘْﻨَﻴَﻓ ﱢﺮَﺠﻟﺍ ٌﻑْﺮَﺣ ُﻂُﻘْﺴَﻳ ْﺪَﻗَﻭ (( ِﺾَﻓﺎَﺨﻟﺍ ِﻉْﺰَﻧ ﻰَﻠَﻋ ُﺏْﻮُﺼْﻨَﻤﻟﺍ))

/Wa qad yasqutu ḥarfun al-jarri fayantaṣibu al-majrūru ‘alā annahu maf‘ūlun bihi: wa yusammā: ((al-manṣūbu ‘alā naz‘in al-khāfaḍi))/

‘Kadang-kadang isim yang majrur menjadi maf’ul bih dengan dihilangkannya harf jar, dengan demikian isim tersebut menjadi naṣab.

Kemudian disebut “al-manṣūbu ‘alā naz‘in al-khāfaḍi” artinya berstatus naṣab dengan menghilangkan harfjar’

Contoh:

ُﺖْﻜَﺴْﻣَﺃ

َﻙِﺪَﻴِﺑ

/Amsaktu biyadika/ ‘Saya memegang tanganmu’

Kata

ُﺖْﻜَﺴْﻣَﺃ

/Amsaktu/ ‘saya memegang’ menjadi fi’l dan fa’il, kemudian kata

َﻙِﺪَﻴِﺑ

/biyadika/ ‘tanganmu’ merupakan jar dan majrur yang menjadi maf’ul bih berupa jar majrur.

Menurut Al-Ghulayaini yang diterjemahkan oleh Zuhri (1992: 242) hal seperti itu dapat terjadi karena sebagian dari fi’l ada yang tidak kuat untuk secara langsung menaṣabkanmaf’ul bih. Oleh karena itu dikuatkan dengan harf jar.

Contoh lainnya:

ُﺖْﺒَﺠَﻋ

ﺪِﻟﺎَﺧ ْﻦِﻣ

/‘Ajabtu min khālid/ ‘Aku heran terhadap Khalid’

Bila diucapkan menjadi

ُﺖْﺒَﺠَﻋ

ًﺍ

ﺪِﻟﺎَﺧ

/‘Ajabtu khālidan/, maka ucapan ini menurut bahasa tidak boleh, karena fi’llazim tidak dapat menaṣabkan secara langsung kepada maf’ul bih, kecuali dengan huruf iḍafah (ﺔﻓﺎﺿﻹﺎﻓﺮﺣ).

(34)

5.

ٌﻝﱠﻭَﺆُﻣ ٌﺭَﺪْﺼَﻣ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ

/maf‘ūlu bihi maṣdarun muˊawwalun/ ‘maf’ul bih maṣdar mu’awwal’

Berdasarkan bentukan kata maf’ul bih itu dapat terdiri dari maṣdar mu’awwal. Sebagaimana yang dikatakan Al-Ghany (2010: 21) seperti berikut:

ﻰِﻓ ِﻪِﻠْﻳِﻭْﺄَﺗ ﱠﻢِﺘُﻳ َﻭ ،ُﻪَﻠْﺒَﻗ ﱟﻱِﺭَﺪْﺼَﻣ ٍﻑْﺮَﺣ َﻊَﻣ ِﻞْﻌِﻔﻟﺍ َﻦِﻣ ًﻻﱠﻭَﺆُﻣ ﺍًﺭَﺪْﺼَﻣ ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻤﻟﺍ ﻲِﺗْﺄَﻳ . ِﻪِﺑ ُﻝْﻮُﻌْﻔَﻣ ٍﺐْﺼَﻧ ﱢﻞَﺤَﻣ

/Yaˊtī al-maf‘ūlu bihi maṣdaran muˊawwalan min al -fi‘li ma‘a ḥarfin maṣdariyyin qablahu, wa yutimma taˊwīlihi fī ma ḥalli naṣbin maf‘ūlun bih/ ‘Maf’ul bih maṣdar mu’awwal berasal dari fi’l dan harf maṣdar sebelumnya, dan ta’wilnya menduduki posisi maf’ul bih.’

Adapun yang dimakasud dengan maṣdar mu’awwal menurut Ni’mah (t.t: 68) terdiri dari seperti berikut ini:

(( ﺎَﻫُﺮَﺒَﺧ َﻭ ﺎَﻬُﻤْﺳِﺇ َﻭ ﱠﻥَﺃ)) ْﻦِﻣ ْﻭَﺃ (( ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ َﻭ ْﻥَﺃ)) ْﻦِﻣ ًﻻﱠﻭَﺆُﻣ ﺍًﺭَﺪْﺼَﻣ

/Maṣdaran muˊawwalan min ((an wa al-fi‘lu)) aw min ((anna wa ismuhā wa khabaruhā))/ ‘Maṣdar mu’awwal terdiri darian dan fi’lnya, atau dari isim dan khabarnya’

ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ َﻭ ْﻥَﺃ

/An wa al-fi’lu/ ‘An dan fi’l’

Contoh:

ُﺪْﻳِﺮُﻳ ُﷲَﻭ َﺏْﻮُﺘَﻳ ْﻥَﺃ

) ﺎًﻤْﻴِﻈَﻋ ًﻼْﻴَﻣ ﺍْﻮُﻠْﻴِﻤَﺗ ْﻥَﺃ ِﺕﺍَﻮَﻬﱠﺸﻟﺍ َﻥْﻮُﻌِﺒﱠﺘَﻳ َﻦْﻳِﺬﱠﻟﺍ ُﺪْﻳِﺮُﻳ َﻭ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ۲۷

(

/Wa Allāhu yurīdu an yatūba ‘alaykum wa yurīdu allażīna yattabi‘ūna asy-syahawāti an tamīlū maylan ‘aẓīman/ ‘Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran)’ (Q. S: 4: 27).

Pada kalimat di atas, bentukan kata

َﺏْﻮُﺘَﻳ ْﻥَﺃ

/an yatūba/ merupakan maṣdar mu’awwal yang apabila dita’wilkan menjadi

َﺔَﺑْﻮﱠﺘﻟﺍ

/attawbata/

yang dapat menduduki posisi maf’ul bih.

Referensi

Dokumen terkait

Rekam medis dapat diperlakukan sebagai alat bukti sah surat apabila ia berisi tentang hal-hal yang relevan dengan perkara, dalam hal ini apabila memuat hasil

Hasbi Ash-Shiddieqy, dia mengatakan bahwa ummat yang terbaik adalah umat yang terus menerus tanpa bosan menyuruh kepada yangma’ruf yakni apa yang dinilai baik

Namun apabila limbah hasil produksi dapat di gunakan kembali sebagai bahan campuran beton, maka akan mengurangi jumlah bahan utama yang di gunakan, di dalam

Usulan untuk perbaikan cacat pemasangan Alat Peniup Udara yang tidak sentris atau dalam posisi miring adalah dengan rutin melakukan tindakan perawatan preventive

Kelima; bahan baku untuk industri rakik lokan di Kampung Tanjung Medan umumnya selalu tersedia dengan kualitas sangat baik, bahan baku dibeli pada orang lain yang

Bila hasil inspeksi/pemeriksaan personil dan peralatan ternyata belum memenuhi persyaratan, maka penyedia dapat melaksanakan pekerjaan dengan syarat personil dan

dalam kategori kurang sekali sebanyak 15 siswa (75 %), siswa yang masuk dalam kategori kurang sebanyak 4 siswa (20 %), siswa yang masuk dalam kategori cukup sebanyal 1 siswa (5

Tugas akhir yang berjudul “Analisis Pemilihan Moda Transportasi Alternatif Akibat Gangguan Operasional Kereta Commuter Indonesia Pada Rute Red Line Jakarta Kota -