• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Perhutanan Sosial di Hutan Kuta Tandingan

IV. Ragam Masalah dalam Implementasi Proyek Perhutanan Sosial

1.1. Latar Perhutanan Sosial di Hutan Kuta Tandingan

Menebang dua batang pohon berarti dua malam di kantor polisi. Kalimat itu menjadi inti kisah Pak Ape157 yang berdiam di Hutan Kuta Tandingan sejak tahun 1997, tepatnya di Dusun Cibinong, Desa Parung Mulya. Pada tahun 2016, ia dikriminalisasi karena menebang dua pohon pornish yang ia tanam sendiri. Berikut tuturan Pak Ape ketika menceritakan ulang proses interogasi di kantor polisi:

“Nebang apa kamu, diambil ke sini. Saya nebang akasia pornish, pak. Tanaman siapa?

Tanaman saya sendiri. Kok bisa gitu, kan itu tempat Perhutani. Pan Perhutani udah habis ditebang, saya udah nanem”, (Pak Ape, 47 tahun).

Tapi siapa peduli pohon ditanam siapa. Hutan produksi di bawah kuasa negara.

Perhutani adalah tangan juga mata negara di wilayah hutan. Memata-matai, mengitimidasi, hingga mengkriminalsiasi petani yang mencoba mencari hidup di tanah negara adalah narasi keseharian. Kisah pak Ape bukan yang pertama. Jauh sebelumnya Petani telah hidup dalam kekhawatiran, terutama setelah Perhutani menggulirkan program Penanaman Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada tahun 2007. PHBM dijalankan Perhutani dengan cara menanam di area hutan yang telah dibersihkan petani dan menjadi kebun. Jarak tanam seharusnya 6m x 2m, namun menyusut menjadi 3m x 3m, bahkan 2m x 2m. Petani kesulitan dan hampir tidak dapat menanam apapun di tanah garapan yang menghidupinya selama ini.

Petani kemudian merespon dengan cara mencabuti pohon-pohon yang ditanam Perhutani. Akibatnya 7 orang petani dikiriminalisasi pada tahun 2008. Perlawanan ini membuat Perhutani semakin menjadi-jadi dalam menduduki lahan garapan petani.

Tahun 2010 Perhutani kembali merusak tanaman utama warga seperti pete, pisang,

156 Kata “Kuta Tandingan” saya gunakan dalam naskah ini mengikuti penyebutan yang digunakan warga setempat atas wilayah hutan yang mereka kelolah dan sebagai tempat berumah.

157 Dalam naskah ini nama narasumber disamarkan untuk melindungi privasi mereka.

jeruk jengkol, dan berbagai tanaman lainnya hingga merusak ladang-ladang warga.

Terjadi proses duduk-menduduki158, tuduh-menuduh antara Perhutani dan para petani atau dengan kata lain negara dan masyarakat dalam satu garis yang saling serang-menyerang.

Tentu saja ini bukan suatu pertarungan yang seimbang, sebagaiamana dalam banyak kasus, ketika negara berhadapan dengan petani, negara selalu jauh lebih unggul.

Perhutani semakin agresif. Para petani dikenakan sanksi jika merusak/mencabut tanaman kayu Perhutani. Mereka diintimidasi dan dikriminalisasi Perhutani agar tidak melakukan hal yang disebutkan tadi. Sebaliknya ketika perhutani merusak kebun dan ladang warga, tidak ada hukum apapun yang berlaku. Akibat perlakuan Perhutani ini sebagian petani berangsur-angsur keluar, pergi meninggalkan Dusun Cibinong. Dari ribuan Kepala Keluarga (KK) sebelum tahun 2008 menyusut menjadi hanya sekitar seratusan KK setelah tahun 2010.

Di samping menghadapi Perhutani yang makin beringas, petani juga berhadapan dengan korporasi. Tahun 2008 aparat negara (Satpol PP, TNI dan Polisi) bersatu padu membongkar rumah warga dan sebuah gereja di dusun Pasir Ipis, Kiara Ayam dan Cikebu. Pembongkaran ini didanai oleh PT KAWAI159. Selain itu petani juga berkonflik dengan PT Pertiwi Lestari (PTPL). Konflik bermula dari Dusun Cisadang, Desa Wanajaya.

Bibit konflik mulai disebar sejak tahun 1996 ketika perubahan hak guna usaha (HGU) atas nama PT. Tanjung Krisik Makmur menjadi PTPL disetujui Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat melalui surat No. 525/346/Binus kepada Dirjen Perkebunan di Jakarta. Dua tahun kemudian kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Karawang menerbitkan HGB untuk PTPL160. Berdasarkan HGB tersebut, PTPL kemudian secara sewenang-wenang memagari dan memasang plang di tanah garapan warga.

Ketegangan antara petani dan perusahaan berlanjut hingga terjadi konflik terbuka di tahun 2014. 7 orang warga dikriminalisasi karena konflik tersebut. Simpati pun akhirya berdatangan dari warga lingkar hutan lainnya, termasuk dari Desa Parung Mulya yang selama ini merasa diperlakukan tidak adil oleh Perum Perhutani161. Mereka didesak untuk menyingkir dari hutan yang telah mereka kelolah sejak tahun 1970-an, bahkan

158 Duduk-menduduki saya maksudkan sebagai suatu proses saling mengokupasi antara petani dan perhutani. Merujuk pada bagaimana mula masuknya petani ke kawasan hutan yang telah menjadi wilayah kelolah perhutani yang kemudian digarap warga. Namun ketika tanah-tanah yang telah digarap terang, bersih dan tidak lagi menjadi hutan atau belukar, Perhutani mencoba mengambil alih kembali tanah-tanah tersebut melalui skema penanaman pohon yang tidak adil sebab tidak ada tanah tersisa bagi warga untuk menanam tanaman yang dapat menopang kehidupan sehari-hari. Semua yang ditanam perhutani adalah tanaman keras (kayu-kayuan) yang masa panenya tahunan—meskipun ada mekanisme bagi hasil— tentu mematikan petani. Sebab tidak ada hal yang dapat menopang kebutuhan makan dan hidup sehari-hari. Selain itu pada kenyataannya apa yang disebut bagi hasil antara “Perhutani dan Petani” tidak berjalan sebagaimana harusnya. Di sisi lain tanaman penopang hidup tidak dapat tumbuh di sela pohon dengan jarak tanam sepadat 2 atau 3 kali 2.

159 Informasi ini diperoleh dari FGD I yang dilaksanakan pada tanggal 12 November 2018 di Dusun Cibenda, Desa Parung Mulya. PT KAWAI adalah perusahaan Jepang yang memproduksi alat musik piano dan berproduksi di kawasan industri Karawang.

160 Selengkapnya mengenai konflik antara PTPL dan Petani dapat dibaca dalam Lisda Septiani. 2017. Analisis Konflik Lahan Antara Petani Karawang dengan PT.Pertiwi Lestari (Kasus pada Petani Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat), [Skripsi]. Bogor (ID): IPB

161 Perum Perhutani tidak memenuhi janji pembagian dari program Penanaman Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) di Desa Parung Mulya, merusak tanaman warga dan mengkriminalisasi petani.

jauh sebelum 1970162. Tetapi para petani tak henti melakukan penyesuaian-penyesuain yang pada dasarnya merupakan bentuk perlawanan khas petani yang oleh Scott (1985) diistilahkan sebagai perlawanan sehari-hari (everyday forms of resistance)163 sebagai respon atas represi negara dan korporasi. Di sela-sela perlawanan keseharian itu, intensitas ketegangan ternyata terus meningkat. Petani lingkar hutan menyebut masa-masa ini—sepanjang tahun 2010 hingga 2016—sebagai masa berjuang164, kulminasi dari resistensi sehari-hari pecah menjadi perlawanan terogranisir.

Petani semakin sadar akan posisinya yang terepresi dalam peta konflik perebutan sumber daya hutan. Memicu perlawanan sosial (social struggle) yang lebih terorganisir hingga membentuk Organisasi Tani Lokal (OTL) Serikat Tani Teluk Jambe Bersatu (STTB) pada tahun 2016. Solidaritas mengalami eskalasi, pun demikian intensitas ketegangan antara petani dengan PTPL. Sepanjang masa berjuang ini dipenuhi berbagai aksi.

STTB kemudian menjadi alat juang petani lingkar hutan menghadapi kesewenang-wenangan korporasi yang diwakili PTPL dan Negara diwakili Perum Perhutani.

Perlawanan terbuka petani dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari menghadang/

menghalangi penggusaran oleh PTPL, aksi ke lembaga-lembaga pemerintahan di Kabupaten Karawang, sampai aksi kubur diri depan istana negara. Aksi kubur diri inilah yang paling menyita perhatian masyarakat umum, media dan menuai respon Persiden.

Beberapa perwakilan petani STTB akhirnya bertemu Persiden Joko Widodo, Sofjan Djalil (Menteri Agraria dan Tata Ruang), juga Teten Masduki (saat masih menjabat Kepala KSP). Dari pertemuan tersebut, Presiden Jokowi berjanji akan menyelesaikan konflik agraria serta mengembalikan lahan rumah dan persawahan milik petani.

Presiden Jokowi berjanji akan mengembalikan petani ke Telukjambe Barat, jika bukan merelokasinya ke wilayah baru di Kecamatan Telukjambe Timur. Para petani yang berkonflik dengan PTPL akan mendapatkan penggantian lahan. Terhadap petani lainnya, diterbitkan SK IPHPS sebagai dasar yang membolehkan mereka menggarap kebun atau sawah yang selama ini masuk dalam kawasan hutan yang diklaim Perhutani. Sedangkan lahan objek sengketa (konflik) petani vs PTPL akan diberikan kepada PTPL (Septiani, 2017). Dengan demikian, pada dasarnya pemenang konflik ini adalah korporasi (PTPL) yang berhasil merebut tanah garapan warga.

Pemerintah merespon gerakan tani dengan cara mengeluarkan Surat Keputusan (SK) perhutanan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan petani lingkar hutan, namun dalam kasus ini tampaknya berfungsi juga sebagai “obat nyeri” peredam aksi.

Perhutanan sosial merupakan salah satu skema dari program unggulan Jokowi-JK terkait reforma agraria, khususnya pemberian akses (acces reform agrarian) kepada

162 Dokumen tertua yang saya temukan menunjukkan bahwa masyarakat telah menggarap tanah dalam kawasan hutan di dusun Cibinong yang saat ini telah menjadi bagian dari Desa Parung Mulya sejak tahun 1978. Ini merupakan usaha pencatatan yang dilakukan Perhutani. Dalam surat-surat pernyataan tanah garapan ini bahkan ditemukan ada warga yang telah mengelolah hutan selama lebih dari 30 tahun sebelum surat pernyataan tersebut dibuat. Warga telah menggarap tanah dikawasan hutan sejak tahun 1945.

163 Lebih lanjut mengenai ini lihat James C. Scott.1985. Weapons of the Weak; Everyday Forms of Peasant Resistance. New Haven: Yale University Pr

164 Ini disampaikan sendiri oleh para petani saat FGD I, 12 November 2018.

petani lingkar hutan dengan diberikan hak penguasaan hutan (forest tenure right) mengingat ketimpangan dalam penguasaan hutan sangat tinggi. Alokasi izin pemanfaatan hutan sebanyak 68% diberikan kepada industri yang hanya dimiliki segelintir orang, sementara izin pemanfaatan hutan untuk masyarakat hanya sebesar 1%.165 Berdasarkan situasi timpang inilah perhutanan sosial lahir untuk memberikan akses kelola atas sumberdaya hutan kepada masyarakat. Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani hutan mengingat masih ada 10,2 juta orang miskin yang hidup di sekitar hutan, angka ini setara dengan 36,73 % dari jumlah penduduk miskin di Indonesia166.

Skema perhutanan sosial terdiri dari lima jenis yaitu Hutan Desa (HD), Kemitraan, Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Adat (HA) dan HKm (Hutan Kemasyarakatan). Skema terkahir inilah yang diterapkan di wilayah hutan Kuta Tandingan. Pada 1 November 2017, Presiden Joko Widodo menyerahkan langsung SK No. 530/MENLHK-PSKL/PKPS/

PSL.0/10/2017 kepada petani Teluk Jambe167. SK tersebut mengizinkan tanah kawasan hutan seluas 1.566 Ha dikelolah oleh 783 kepala keluarga (KK) petani. SK tersebut tidak sepenuhnya dilatari agenda Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial (RAPS) karena telah didahului perjuangan dan konflik antara petani dengan PTPL seperti telah dijelaskan di atas. Meski demikian, SK ini setidak-tidaknya dapat berfungsi sebagai perisai bagi petani untuk menghindari berbagai upaya kriminalisasi.

Menimbang konteks lahirnya SK IPHPS yang tidak sepenuhnya bebas dari pertarungan adalah preskripsi untuk memandangnya secara skeptis mengingat tidak ada satupun produk hukum yang berhasil menjadi obat mujarab (panachea) bagi setiap persoalan yang dihadapi petani. Meragukan daya SK IPHPS atau pemberian legalitas dari negara untuk menyelesaikan persoalan agraria di kawasan hutan adalah wajar; bahwa perampasan tanah garapan petani (hutan negara) yang kemudian jatuh ke tangan korporasi seperti yang dilakukan PTPL sangat mungkin berulang di masa depan.

Sebagaimana diketahui, ekspansi kapital tidak mungkin berhenti, terlebih terhadap kawasan hutan yang menjadi objek pengaturan SK IPHPS ternyata berbatasan langsung dengan beberapa kawasan industri di Karawang. Maka pertarungan “perusahaan vis a vis petani vis a vis negara” masih sangat mungkin terjadi di masa yang akan datang. Petani keluarga di bagian Selatan, dalam pandangan sebagian ahli, adalah kelas yang secara historis dieksploitasi oleh kapital dan negara. Merekalah elemen inti dalam akumulasi yang dijalankan sejak zaman kolonial hingga rezim pembangunisme yang pada situasi terkini menjadi korban penjarahan, atau “pengurangan petani kecil (depeaseantisasi) secara global” (Bernstein, 2015: 120). Di sisi lain, petani pada masyarakatnya sendiri (peaseant society) terbagi dalam kelas yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tentu saja berpengaruh pada kemampuan (daya tahan) dan respons atas pengaturan,

165 Sumber kementerian LHK, 2016 dalam presentase Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ditjen Perhutanan Sosial Dan Kemitraan Lingkungan di Kendari, 27 September 2017

166 Ibid

167 Petani Hutan Kuta Tandingan dikenal juag sebagai Petani Teluk Jambe terutama media massa selalu menggunakan kata Teluk Jambe untuk menggambarkan petani lingkar Hutan Kuta Tandingan yang selama ini berkonflik dengan PTPL, Perhutani, melakukan aksi dan memperjuangkan haknya.

ekspansi modal dan pertarungan perebutan sumber daya berupa hutan.

Perum Perhutani sendiri, sebagai bagian dari pertarungan ini, hingga kini belum menghentikan aktivitasnya meski SK IPH telah diterbitkan. Kayu milik Perhutani—

yang ditanam dalam area SK IPHPS—dengan kerapatan tinggi tak kunjung dipanen.

Kayu-kayu itu dibiarkan begitu saja sehingga menghalangi para petani penerima SK IPHPS yang akan menggarap tanah. Situasi ini menunjukkan bahwa hinga saat ini hutan masih menjadi area pertarungan. Upaya penguasaan hutan tampaknya masih akan terus berlangsung dan melibatkan berbagai aktor dari kelas sosial dan kepentingan yang berbeda-beda. Pertarungan ini pada giliranya dapat menyusutkan ruang (shrinking space) wilayah hutan jika tidak ditangani secara tepat.

Uraian di atas adalah gambaran untuk mempertanyakan signifikansi terbitnya SK IPHPS bagi petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Mandiri Teluk Jambe Bersatu (GKTMTB) yang berada di Desa Parung Mulya Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang. Selain bertarung dalam pengelolaan hutan yang tak kunjung selesai, saat ini mereka juga terkepung oleh perluasan kawasan industri dan pertumbuhan kota. Maka memeriksa situasi situasi sosial-ekonomi pasca penerbitan SK IPHPS menjadi penting untuk memahami seberapa jauh program RAPS Jokowi-JK mampu mentransformasi kehidupan petani di tingkat desa dan mengamankan hutan dari proses penyusutan. SK IPHPS tidak akan berguna jika tidak ada upaya perubahan ke arah yang lebih baik. Sebaliknya, sebagai satu agenda pemerintah, hal-hal yang bersifat politis tentu tidak terpisahkan dari kebijakan ini. Terciptanya sengkarut baru sebagai konsekuensi pengaturan hutan sangat mungkin melahirkan bentuk-bentuk pertarungan, permasalahan agraria baru dalam usaha penguasaan hutan.