III. KONSEKUENSI-KONSEKUENSI YANG DITANGGUNG
3.3. Pasawahan memandang masa depan
Memandang jauh ke depan, proyeksi demi proyeksi terus dilakukan oleh SPP dalam membangun basis anggotanya yang tersebar di 5 daerah kabupaten/kota. Sedari dulu Pasawahan sudah menjadi pilot project dari proyeksi yang direncakan tersebut.
Maka tak heran lokasi ini selalu menjadi daya tarik para pegiat agraria. Pasawahan tak henti-henti kedatangan tamu dari petani di berbagai daerah, aktivis agraria, hingga akademisi nasional bahkan mancanegara.
3.3.1. Pembangunan Sekolah: Sekolah untuk Pulang bukan Pergi
Salah satu yang menjadi daya tarik Pasawahan adalah sekolah yang didirikan oleh SPP. Menyadari bahwa pendidikan merupakan elemen terpenting dalam pembangunan pedesaan, maka beberapa tokoh OTL berinisiatif untuk membangun sekolah secara swadaya. Dua jenjang sekolah dibangun sekaligus yaitu SMP Plus dan SMK Pertanian Pasawahan.
Alasan sederhana sekolah ini dibangun adalah karena sekolah-sekolah yang ada letaknya terlalu jauh.
Hal yang menarik yang muncul adalah nilai-nilai yang selalu ditanamkan oleh sekolah ini. Sekolah ini menanamkan kurikulum yang dekat dengan keseharian mereka. Maka tak heran jika status yang dipilih adalah SMK Pertanian, karena sebagian besar anak-anak yang bersekolah berasal dari keluarga petani. Harapan terbesar sekolah ini tentu saja menghasilkan putra-putri menjadii tenaga produktif dalam dunia pertanian.
Prinsip yang selalu ditanamkan adalah bahwa sekolah bukan arena reproduksi tenaga kerja buruh-buruh perkotaan. Sekolah mengajarkan untuk pulang, artinya paska sekolah mereka kembali untuk membantu dunia pertanian yang selama ini digeluti oleh keluarganya di desa.
Oleh karenanya, sekolah ini tidak menerapkan sistem ranking atau menempatkan murid sebagai insan pengejar angka semata. Sekolah ini tidak menganggap murid sebagai “bejana kosong” yang harus diisi oleh “air pengetahuan” yang berasal dari kurikulum umum. Sekolah ini
mencoba untuk menerapkan prinsip kesadaran kritis untuk mengasah kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif dalam menjawab tantangan di dunia pertanian.
Namun yang disayangkan bahwa hari ini arus globalisasi lebih deras dibanding pembangunan pertanian di desa. Alumni sekolah mendapatkan tawaran yang lebih praktis untuk menjadi buruh-buruh di kota dibanding mengembangkan dunia pertanian di Pasawahan. Hal ini menunjukan bahwa dunia pertanian di Pasawahan tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Akan tetapi dengan larinya mereka ke kota tidak serta merta memotong satu generasi petani di Pasawahan. Ilmu untuk kembali selalu tertanam di benak mereka. Bisa jadi mereka sedang menunggu momen untuk menjadi petani. Karena secara rasional diversifikasi pekerjaan menjadi penting di desa saat ini untuk membantu perekonomian keluarga. Mereka sedang menunggu giliran untuk mengelola tanah yang tidak cukup luas. Hanya saja tantangannya, apakah mereka betul-betul akan kembali menjadi tenaga produktif di dunia pertanian atau pergi selamanya dan melapas tanah-tanah pertanian yang sudah diperjuangkan!
3.3.2 Revitalisasi Kelembagaan Ekonomi: Koperasi
Koperasi sudah jauh-jauh hari sudah menjadi proyeksi kelembagaan ekonomi yang diidam-idamkan dalam konsepsi ekonomi nasional yang berdasarkan sosialisme kooperatif. Bapak Koperasi Indonesia M Hatta (1960:83) dalam meyakinkan Indonesia dapat mengembangkan koperasi karena mempunyai tiga anasir. (1) Cita-cita Sosialisme Barat yang mengemukakan dasar-dasar perikemanusiaan dengan pelaksanaan demokrasi ekonomi penggenapi demokrasi politik. (2) Ajaran Islam yang menggemukakan dasar-dasar keadlilan dan persaudaraan serta penilaian yang tinggi kepada manusia pribadi sebagai makhluk Allah.110 (3) Gotong royong sebagai pembawaan masyarakat Indonesia yang asli.
Modal ketiga anasir tersebut semuanya terdapat di Desa Pasawahan.
Hanya saja permasalahannya bukan pada konsepsi koperasi yang ditanamkan pada anggotanya, melainkan pada praktik keseharian yang seringkali diabaikan. Pada tahun 2017, sempat terbentuk Koperasi dengan nama Koperasi Sauyunan. Berdasarkan jenis usahanya, koperasi ini tergolong dalam koperasi simpan pinjam. Akan tetapi salah satu pegiat koperasi waktu itu sering berkelakar jika “koperasi ini berjenis koperasi pinjam saja, karena jarang ada yang menyimpan. Hahahaha”. Dari kelakar tersebut sebenarnya titik letak permasalahan koperasi di mana pun, yaitu
110 Terjemahan pidato yang disampaikan dalam bahasa Inggris pada pertemuan dari para pemimpin politik, para bankir, dan para ahli pertanian di New York, tanggal 6 Juni 1960. Diterbitkan kembali dalam buku yang disunting oleh Hadi Soesastro dkk. 2005. Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir. Jakarta (ID):
ISEI.
masalah aliran distribusi permodalan anggotanya.
Selain modal finansial, kacakapan menjadi modal penting pengelola koperasi itu. Koperasi diisi oleh orang-orang tua yang kurang berpengalaman mengelola keuangan. Untung saja Pasawahan masih mempunyai sekolah yang mencetak kader muda yang mempunyai energi lebih dan terkonsentrasi di dunia pertanian. Beberapa lulusan SMK Pasawahan yang juga mengenyam dunia pendidikan perkuliahan mencoba mengubah bentuk koperasi menjadi koperasi produksi dari koperasi simpan pinjam.
Upaya tersebut demi mengontrol harga panen yang terus dimainkan oleh tengkulak. Akan tetapi perang dagang kecil dimainkan oleh pebisnis lokal dengan “membakar uang”. Artinya mereka mencoba menarik para petani agar menjual hasil panennya kepada mereka dengan cara menaikan harga jual dari petani lebih tinggi dari harga yang ditetapkan oleh koperasi. Hal tersebut tentu saja membunuh koperasi secara perlahan.
Oleh karenanya demi mempersiapkan koperasi ini terbentuk secara permanen, sekitar kurang dari 30 anggota dimasukan ke dalam Koperasi Kredit Mekar Jaya yang terletak di desa tetangga, Desa Kalijaya. Koperasi ini juga bagian dari OTL SPP, namun menjadi percontohan dari koperasi lain. Pada tahun 2018 saja, aset yang terkumpul sudah mencapai 1.6 miliar rupiah. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari seorang figur yang cakap mengelola koperasi. Pemimpin OTL Kalijaya dan Koperasi Mekar Jaya tergolong tegas dan transparan dengan kemampuan retorika yang baik.
Keberhasilan ini pun tidak terlepas dari strategi dagang yang dijalankan.
Berbeda dengan kebanyakan, mereka mengganggap tengkulak sebagai mitra bisnis bahkan masuk dalam keanggotaan koperasi. Mereka tidak membabat habis rantai perdagangan tengkulak tersebut melainkan bekerja sama mengintervensi jalur bisnis tersebut.
Akan tetapi keberhasilan dari koperasi ini sebenarnya adalah keberhasilan untuk mengkonversi nilai-nilai individualisme kedalam semangat kolektivime. Kendati manusia juga sebagai makhluk rasional yang mendahulukan kepentingan individunya, tapi semangat kolektivisme dengan mendahulukan kepentingan bersama telah lahir paska pendudukan yang dilakukan juga di Desa Kalijaya. Tujuan individu tidaklah bertentangan dengan tujuan kolektif, bahkan satu frekuensi yaitu kesejahteraan bersama.