• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Sosial Masyarakat Desa Pantaibakti, Muaragembong

II. Kompleksitas Masalah Agraria Pantaibakti, Muaragembong

2.2. Struktur Sosial Masyarakat Desa Pantaibakti, Muaragembong

Masifnya transaksi oper garap pada tahun 1990-an secara otomatis menciptakan kompleksitas dalam penguasaan lahan garapan di Muaragembong, khususnya di Desa Pantaibakti. Berikut adalah lapisan penguasaan lahan garapan yangterdapat di Desa Pantaibakti, Muaragembong.

Gambar 3 Lapisan penguasaan lahan garapan

124 Berdasarkan wawancara dengan seorang tetua desa, WS pada 15 November 2018.

125 Berdasarkan wawancara dengan Kades Pantaibakti, Selasa 27 November 2018; Surat Perhutani No 308/058.2/Kam/Bgr/

Divre Janten – Juni 2018.

Lahan garapan di Desa PantaibaktiMuaragembong dikuasai oleh sebagian kecil masyarakat setempat (30 persen) dan sebagian besar oleh orang kota (70 persen)126. Orang kota ini kemudian menitipkan pengelolaan lahan yang dikuasai kepada orang desa, yang dikenal masyarakat sebagai kuasa. Kuasa-kuasa ini merupakan elite-elite desa yang memiliki modal network dan dulunya menjadi perantara transaksi oper garap ke orang di luar Muaragembong. Selain mengelola lahan garapan titipan orang kota, kuasa-kuasa ini juga menguasai lahan garapan sendiri. Pengelolaan yang dilakukan oleh penguasa lahan garapandan kuasa adalah menggarap sendiri, mengontrakkan lahan garapan kepada masyarakat setempat, dan dibujangkan.

Masyarakat setempat yang mengontrak lahan garapan sebagian besar menggarap sendiri dan sebagian lainnya mengupah orang lain untuk mengerjakan lahan. Terdapat beragam harga yang harus dibayarkan untuk biaya kontrak lahan garapan tambak, yang terbagi menjadi tambak abrasi (±500 ha) dan tambak biasa. Sekitar 70% dari tambak abrasi ini dimiliki oleh H Yasin yang adalah ayah dari Bupati Bekasi (2017-2022). H Yasin tidak melakukan pengelolaan apapun atas tambak garapannya, dan memberikan kuasa kepada orang Muaragembong H SF.

Biaya kontrak untuk tambak abrasi adalah Rp 750000- Rp 1000000 dan Rp 1500000- Rp 2500000 untuk tambak biasa, tergantung pada letak tambak yang dikontrak. Tambak biasa yang letaknya berdekatan dengan saluran air biasanya lebih mahal karena lebih produktif. Selain budidaya bandeng, petambak akan mendapatkan udang alam dari saluran air akan yang dapat dipanen setiap hari. Hasil panen bandengnya pun lebih banyak karena pertumbuhan bandeng di tambak ini lebih terkontrol.

Tambak yang letaknya ditengah dan jauh dari saluran air karena hanya mendapat hasil dari budidaya bandeng. Hasil panennya pun cenderung lebih sedikit karena benih hanya ditebar, dibiarkan, dan dipanen setelah 4-5 bulan kemudian.

Penambak di daerah abrasi tidak melakukan budidaya dan hanya mengambil udang yang berasal dari laut. Mereka membuat alat penangkap udang, yang dikenal dengan daengdan penajo. Daeng ini terbuat dari bambu dan waring yang biasanya berukuran 1x1,8x3 m.

Penajo adalah waring yang diarahkan sebagai jalan udang menuju daeng yang panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan. Biaya pembuatan 1 set daeng dan penajo adalah Rp 1000000. Rata-rata umur pakai daeng adalah 1-2 tahun yang bergantung pada perawatan waring, seperti menyikat lumut pada waring. Jarak antar daeng biasanya per 2 ha dan penambak memiliki strategi tersendiri menempatkan daenguntuk memperoleh hasil

126 Berdasarkan hasil FGD pada Senin, 12 November 2018.

maksimal. Jenis udang yang eksis di empang abrasi ini adalah udang peci, udang api, udang gala, udang windu (pancet).Adapun hasil panen yang didapat adalah sekitar 2-3 kg per ha pada musim hujan dan 0-1 kg per ha pada musim kemarau. Penambak biasanya mendapatkan tambahan dari rajungan dan ikan laut yang jumlahnya tidak menentu.

Berbeda hal dengan penambak di tambak biasa yang melakukan budidaya bandeng. Lahan dikeringkan dan diobat127dengan biaya Rp 1000000/ha, selanjutnya dibiarkan selama sebulan. Setelah ganggang128mulai tumbuh, penambak memasukkan kembali air ke dalam petak tambak. Selanjutnya, penambak akan menebar benih bandeng. Terdapat berbagai ukuran benih bandeng yang ditanami petambak, yaknisisiran (Rp 170/ekor), daun asam (Rp 200/ekor), gelang dan filter (Rp 250/ekor) , ramon dan bensol (Rp 300/ekor). Pemilihan ukuran benih bandeng yang akan ditanami tergantung pada petambak yang melakukan budidaya. Tetapi, petambak merasa lebih baik menggunakan benih sisiran karena benih akan lebih mudah beradaptasi dengan air empang.Setiap hektarnya membutuhkan 2000 ekor benih bandeng, dengan mortalitas pada umumnya 25-30%.

Penambak yang memiliki keterbatasan modal biasanya meminjam modal dalam bentuk benih dan pupuk pada pelele129dan dibayarkan setelah panen. Peminjaman modal membentuk ikatan antara penambak dan pelele. Pemeliharaan yang dilakukan biasanya adalah nyaer130, mengusir burung dan ular air yang memangsa ikan bandeng. Normalnya, panen dilakukan setelah bandeng berukuran 2-3 ekor/kg dengan hasil 600 kg/ha. Panen dilakukan oleh kuli jaring dengan upah penjaringan Rp 1000/kg. Hasil panen bandeng biasanya menjadi tabungan penambak dan kebutuhan harian penambak didapat dari udang alam. Penambak biasanya menggunakan daeng, tetapi jumlahnya tidak sebanyak di tambak abrasi. Mereka menempatkan daeng di dekat pintu air saja, biasanya 1-3 dalam 1 tambak. Daeng ini memiliki biaya pembuatan dan perawan yang sama dengan daeng di tambak abrasi. Rata-rata hasil udang alam yang didapat pada musim timuran1310-1 kg/ hadan baratan132>1kg/

ha.

Penambak pengontrak yang mengupah untuk pengelolaan tambak biasanya diberikan kepada kelompok-kelompok dengan sistem borongan. Untuk proses pengeringan lahan dibutuhkan biaya sekitar Rp 200000/ha, dan selanjutnya lahan dipupuk dengan upah sekitar Rp 30000/ha. Pekerjaan selanjutnya yang diupah secara borongan adalah

127 Pemberian pupuk di lahan untuk menumbuhkan ganggang sebagai makanan alami bandeng.

128 Tanaman air yang tumbuh secara alami dan didorong pertumbuhannya dengan memberi pupuk di lahan.

129 Tengkulak.

130 Membersihkan sisa-sisa pestisida dari dasar tambak.

131 Musim penghujan, biasanya pada bulan Januari-April.

132 Musim kemarau dan terjadi paceklik, biasanya pada bulan Mei-Desember.

nyaer, dibutuhkan biaya sekitar Rp 300000/ha. Terakhiradalah biaya kuli jaring saat panen bandeng, yakni Rp 1000/kg.

Tambak yang pengelolaannya dibujangkan adalah pengelolaan dengan menggunakan jasa buruh dengan pembagian keuntungan secara bagi hasil. Modal akan diberikan penuh oleh penguasa lahan, dan bujang hanya melakukan budidaya bandeng. Karena hasil dari tambak ditambah dengan udang alam dari saluran air, maka bagi hasil pun dibedakan antara bandeng dan udang. Persentase bagi hasil yang ada pun beragam, tergantung pada relasi yang terbentuk antara penguasa lahan dan bujang nya. Jika tambak dibujangkan pada saudara, bagi hasil keuntungan budidaya bandeng yang umum terjadi adalah 50:50. Tambak yang dibujangkan pada orang lain cenderung lebih menguntungkan penguasa lahan, bagi hasil yang umum terjadi adalah 5:1, 5 bagian untuk penguasa dan 1 bagian untuk bujang. Pembagain keuntungan ini sangat timpang, dimana bujang telah mencurahkan seluruh perhatian dan tenagnya mengelola tambak namun hasil yang didapat tidak sampai 20% dari keuntungan. Bagi hasil tersebut berlaku untuk bujang yang tanah garapannya dikuasakan pada orang desa. Bujang yang sekaligus menjadi kuasa orang luar Muaragembong mendapatkan bagi hasil yang lebih manusiawi, yakni 1:3, 1 bagian untuk bujang dan 3 bagian untuk penguasa lahan.

Setelah pembagian keuntungan bandeng yang timpang, pemilik masih melakukan bagi hasil untuk barng yang tidak dimodali olehnya, yakni bagi hasil udang. Bagi hasil udang dilakukan setiap hari setelah bujang menjual hasil udang pada pelelelokal yang berada di sekitaran tambak.

Bagi hasil udang yang umum terjadi di tambak biasa adalah 50:50 jika hasil udang di atas Rp 100000, dan tidak membagi hasil jika <Rp70000.

Berbeda dengan bagi hasil udang di tambak abrasi yang tetap 50:50, dan bujang hanya mendapat tambahan dari hasil lain seperti rajungan dan ikan laut yang kurang diminati.

Penambak akan menjual hasil tangkapannya pada pelele langganan, telah terbentuk karena kedekatan jarak dan kepercayaan satu sama lain. Terkhusus untuk tambak abrasi, penambak diharuskan menjualkan hasil tangkapannya pada Bos JK, mantu H SF, merupakan kuasa H Yasin penguasa lahan garapan abrasi terluas.

Diluar lapisan yang sudah tertera dalam Gambar 3, terdapat keluarga pengobor yang memanfaatkan saluran air sebagai sumber nafkah utamanya. Mereka memasang daeng dan bubu di saluran air pada sore hari, dan saat subuh mereka sudah harus mengangkat daeng dan hasilnya dijual ke pelele langganan. Hasilnya pun tidak mengecewakan, karena

akan cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Pada timuran, hasil tangkapan udang biasanya diatas 1 kg sehingga memungkinkan keluarga untuk menabung. Namun saat baratan, hasil tangkapan biasanya pada kisaran 0,5 kg atau dibawah angka tersebut.

2.2.2. Pola Nafkah Keluarga Penambak

Sebagai sumber nafkah utama, bekerja di tambak tidak serta merta waktu penambak dihabiskan hanya mengelola tambak. Terdapat penambak yang tinggal di saung sederhana di tengah tambak, sebahagian hanya penambak dan penambak beserta keluarga. Beberapa penambak lainnya hanya menginap saja pada malam hari, kemudian kembali ke rumah pada pagi hari setelah menjual hasil tangkapan udang. Mereka yang tinggal dan menginap di tambak adalah penambak yang mengelola lahan garapan yang luas dan dekat dengan aliran air. Pekerjaan mereka dimulai dari subuh, sekitar pukul 04.00-05.00 WIB mereka harus bangun dan mengangkat daeng. Pukul 05.00-06.00 WIB penambak akan memilah hasil tangkapan, seperti memilah beberapa jenis dan ukuran udang, megikat capit kepiting dan rajungan, serta ikan diluar budidaya. Selanjutnya, penambak mengantarkan hasil tangkapan pada pelele terdekat, umumnya berada di sekitar tambak. Untuk mobilitas, penambak abrasi biasanya menggunakan perahu motor dan penambak biasa menggunakan sepeda motor.

Pekerja yang membantu pelele akan menimbang dan memilah hasil tangkapan para penambak sesuai jenis dan ukuran, selanjutnya melaporkan nilai pada timbangan, dan pelele akan menuliskan total yang didapatkan penambak pada nota. Nota tersebut boleh ditukarkan saat itu juga pada pelele, atau ditukarkan saat membutuhkan uang tunai.

Penambak langganan Bos JK ini membuat tabungan yang dipercayakan dipegang Bos JK, dan boleh diambil kapan saja ketika penambak membutuhkan uang tunai. Beberapa penambak juga meminjam modal pada Bos JK dan menyicil dari hasil tangkapan udang setiap hari sesuai kemampuannya. Setelah menyelesaikan transaksi dengan pelele, para penambak biasanya bercengkerama satu sama lain di warung yang bersebelahan dengan tempat penimbangan Bos JK.

Transaksi biasanya selesai pada pukul 09.00, penambak pun kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Sebagian kembali untuk mengontrol kondisi tambak, seperti memeriksa kebocoran tanggul, memeriksa aliran air, membuka pintu air ketika pasang dan menutupnya ketika air surut, memeriksa waring pada alat penangkap, dan menjaga bandeng dari serangan hama seperti burung. Sebagian penambak

kembali ke rumah untuk memberikan hasil tangkapan udang pada istrinya. Istri biasanya telah menyediakan makanan dan menyajikan makanan untuk disantap ketika suaminya sampai di rumah. Setelah makan dan mengaso sesaat, penambak beristirahat dan tidur siang untuk memulihkan tenaganya. Pada sore hari sekitar pukul 16.00-17.00 WIB, penambak harus berada di tambak untuk menurunkan daeng.

Penambak akan berkeliling meminimalisir serangan hama terhadap bandeng bandeng. Setelah menurunkan daeng penambak kembali ke rumah atau saung untuk mandi dan makan malam, serta bercengkerama dengan anggota keluarga. Sekitar pukul 20.00 WIB penambak kembali ke saung tambak dan menginap karena harus mengangkat daeng keesokan dini hari. Sebelum tidur, penambak akan berkeliling memastikan tidak ada ular air yang berkeliaran mematok ikan bandeng mereka.

Istri-istri penambak pada umumnya menjadi ibu rumah tangga, dan mengandalkan penghasilan dari tambak. Sebagian istri penambak lainnya membantu perekonomian keluarga, yang kebanyakan adalah dengan berdagang. Komoditas yang didagangkan pun kurang beragam, yakni nasi uduk, bakso goreng, dan minuman dingin. Beberapa istri penambak pun hanya berdagang ketika musim paceklik, yakni berdagang gorengan dan lontong memutari beberapa kampung. Berbagai keterbatasan menjadi penyebab mereka tidak mampu membuka dan/atau mengembangkan dagangan mereka, seperti modal serta ketiadaan pasar. Penghasilan penambak pada timuran biasanya cenderung lebih dari kebutuhan, istri biasanya akan menabung dalam berbagai cara seperti menyimpan, membeli ternak, dan membeli emas. Ketika baratan yang cenderung paceklik, hasil harian tambak tidak mampu menutupi kebutuhan setiap harinya. Para istri biasanya meminjam terlebih dahulu pada saudara atau tetangga untuk memenuhi kebutuhan harian. Jika tidak ada lagi orang yang bisa dipinjami, mereka akan mengambil simpanan atau menjual ternak atau menjual emas yang mereka punya. Pengalaman demi pengalaman membentuk mereka untuk menabung sebagai cara berjaga-jaga, bukan untuk modal usaha.

Pelatihan yang dilakukan pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan dan tidak didukung oleh potensi desa. Pelaksanaan pelatihan memiliki kecenderungan ‘project approch’ yang hanya mementingkan laporan pada kertas dibanding kebutuhan lapang. Ketika masa pemerintahan mantan Kades Suwinta (2013-2018), dari Pemda Bekasi pernah memberikan pelatihan membuat sabun dari rumput laut. Pelatihan dilaksanakan sampai peserta menguasai setiap detail pembuatan sabun rumput laut. Pembuatan sabun rumput laut secara mandiri tidak berlanjut dikarenakan berbagai hal. Pertama, modal awal yang dibutuhkan untuk

pembuatan sabun rumput laut ini tidak didukung kemampuan finansial mereka. Kedua, para peserta pelatihan tidak memiliki kemudahan akses untuk mendapatkan bahan-bahan untuk pembuatan sabun rumput laut.

Ketika penelitian sedang berlangsung, pihak Pemda Bekasi mengadakan pelatihan pembuatan ikan asin kepada anggota PKK. Pelatihan hanya memberikan arahan bagaimana cara ‘memberi rasa’ pada ikan asin.

Setelah pelatihan selesai, usai sudah segala sesuatu tentang ikan asin berbagai varian tersebut. Tidak ada kelanjutan dari Pemda Bekasi, seperti pelatihan pengemasan produk (packageing), cara pemasaran produk (marketing), dan segala sesuatu tentang manajemen produk sehingga menguntungkan bagi mereka.

Beberapa istri penambak yang saya temui pun telah sering membuat ikan asin, namun hanya untuk konsumsi sendiri, dibagikan ke saudara, tetangga, dan hanya sedikit yang dijual. Ikan asin tidak banyak diperjual belikan karena mereka mampu membuat sendiri. Mereka tidak memiliki network sehingga tidak mampu menemukan pasar untuk menjual komoditas tersebut. Para pelele pun hanya fokus melanjutkan rantai pemasaran udang dan bandeng, karena banyaknya demand dan lebih menguntungkan secara finansial.

Sedikit berbeda dengan keluarga penambak, keluarga pengobor harus memiliki sumber nafkah lain yang dapat menopang penghidupannya.

Seperti salah satu keluarga pengobor yang saya temui, sang istri memberikan kredit barang pada tetangga, yang dibayarkan dengan cicilan mingguan. Keuntungan yang didapat dari barang berbeda, tergantung pada jenis barang yang dikredit. Semakin mahal barang semakin banyak pula keuntungan yang didapatkan. Setelah menjual hasil tangkapan udang, pengobor akan mencari hal apa saja yang bisa dilakukan di kampung untuk menambah pendapatan. Hal yang sering dilakukan adalah bekerja di bengkel, dan pada saat tertentu menjadi kuli bangunan.Biaya pengeluaran sehari-hari keluarga penambak relatif sama, yakni untuk makanan sehari-hari, jajan dan ongkos sekolah untuk anak-anak mereka, rokok dan bensin penambak. Beberapa keluarga penambak yang saya temui bercerita bahwa pengeluaran untuk makanan tidak terlalu memberatkan, mereka hanya perlu membeli beras dan sayuran, lauk biasanya mengambil dari sebagian hasil tangkapan suaminya. Pengeluaran terbesar mereka adalah jajan anak, yang setiap harinya menghabiskan sekitar Rp 15000-30000 untuk seorang anak.

Ketika paceklik dan hasil tangkapan tidak cukup memenuhi kebutuhan harian, keluarga akan mengontrol pengeluaran secara bersama, seperti mengurangi pembelian rokok dan mengurangi jajanan anak.