BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL “MURDER AT
2.2 Unsur-unsur Instrinsik dalam Novel
2.2.4 Latar
Latar atau Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisik dan psikologis.
Setting dalam karya fiksi bukan hanya berupa tempat, waktu, peristiwa, suasana serta benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka,
21
maupun gaya hidup masyarakat dalam menanggapi suatu problema tertentu (Aminuddin, 2000: 67-68).
Kenny dalam Siswanto (2008: 149) mengungkapkan cakupan latar cerita dalam cerita fiksi yang meliputi penggambaran lokasi geografis, pemandangan, perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya sebuah tahun, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh.
Nurgiyantoro (2019: 314) menjelaskan bahwa latar dibedakan kedalam tiga jenis yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
1. Latar tempat
Latar tempat menunjukkan terjadinya peristiwa tertentu yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama yang jelas.
Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan, atau paling tidak, tidak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan.
Dalam novel “Murder at Shijinso” latar tempat yang digunakan ada banyak tetapi yang paling sering digunakan dan menjadi tempat awal mula konflik adalah Vila Shijinso.
2. Latar Waktu
22
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadi peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.
Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual dan waktu yang dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.
Latar waktu dalam novel “Murder at Shijinso” adalah akhir bulan Agustus dan musim panas.
3. Latar Sosial
Latar sosial menunjukkan pada hal-hal yang berhubungan dengan prilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Hal tersebut dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap.
Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan misalnya rendah, menengah, atau atas.
Latar sosial dalam novel “Murder at Shijinso” adalah kehidupan sosial masyarakat Jepang pada umumnya seperti kepercayaan terhadap jimat dan hal-hal gaib. Selain itu adanya perbedaan status sosial antar tokoh. Seperti Nanamiya Kanemitsu yang merupakan orang kaya dan anak pemilik dari Vila Shijinso, berbeda dengan para tokoh yang lain yang rata-rata semuanya berasal dari kalangan menengah dan bawah.
23 2.2.5 Sudut Pandang
Menurut Siswanto sudut pandang adalah tempat pengarang memandang ceritanya. Dari tempat itulah pengarang bercerita tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu dengan gayanya sendiri (2008: 151).
Nurgiyantoro (2019: 346) membagi sudut pandang menjadi tiga yaitu:
1. Sudut pandang persona ketiga “Dia”
Penggunaan cerita dengan sudut pandang ketiga , gaya “dia”.
Pengarang adalah seseorang yang tidak terlibat atau berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata gantinya seperti ia, dia, mereka.
2. Sudut pandang persona pertama “Aku”
Penggunaan cerita dengan sudut pandang pertama, gaya “aku”.
Pengarang adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah “aku” tokoh yang mengisahkan kesadarannya sendiri, mengisahkan peristiwa dan tindakan yang diketahui atau dialaminya sendiri serta sikapnya terhadap tokoh lain terhadap pembaca.
3. Sudut pandang campuran
Penggunaan sudut pandang lebih dari satu teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain tergantung dari cerita yang dituliskannya.
24
Sudut pandang pada novel “Murder at Shijinso” menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku”. Pengarang ikut terlibat dalam cerita yang diceritakan.
2.2.6 Amanat
Amanat adalah gagasan atau pokok pikiran yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar (Siswanto, 2008: 162).
Dilihat dari pendapat diatas bisa dikatakan bahwa amanat adalah pesan moral dan nilai-nilai positif yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita yang ia sampaikan kepada pembaca.
2.3 Pendekatan Struktural dalam Karya Sastra
Menurut Satoto (1993 : 32) pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaitan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna. Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik yakni membicarakan karya tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam.
Menurut Teeuw analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makan menyeluruh (Siswanto, 2008: 185). Nurgiyantoro
25
berpendapat bahwa strukturalisme dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan kajian hubungan antarunsur intrinsik pembangun karya yang bersangkutan dan analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi, mesti fokus pada unsur-unsur instrinsik pembangunnya. Ia dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur instrinsik yang bersangkutan.
Dengan pendekatan struktural penulis dapat menganalisis dan mengidentifikasi unsur-unsur instrinsik pada karya sastra. Sehingga penulis bisa mengetahui fungsi dan keterkaitan antar unsur instrinsik tersebut.
2.4 Biografi Pengarang
Imamura Masahiro (今村昌弘) lahir di Nagasaki pada tahun 1985. Setelah lulus dari fakultas kedokteran Universitas Okayama, dia bekerja di bidang radiografi sambil menulis novelnya. Pada usia yang ke-29, dia berhenti bekerja, dan berfokus untuk menyelesaikan novelnya.
Pada tahun 2017, Murder at Shijinso menyabet posisi pertama dalam penghargaan Ayuka Tetsuya Award yang merupakan acara tahunan untuk novel misteri yang tidak diterbitkan di Jepang. Didirikan pada tahun 1990 oleh Tokyo Sogensha , penerbit Jepang yang terutama menerbitkan buku-buku bergenre fiksi . Novel pemenang diterbitkan oleh penerbit dan pemenang menerima patung Arthur Conan Doyle. Selain itu dia juga mendapatkan posisi pertama pada Weekly Bunshun dalam kategori novel
26
misteri terbaik pada 2017, posisi pertama pada Authentic Mistery pada tahun 2018, dan masih banyak lagi. Novel Murder at Shijinso ini memiliki judul asli dalam Bahasa Jepang yaitu 屍人荘の殺人 (Shijinso no Satsujin) lalu novel tersebut diadaptasi dan diterjemahkan ke bahasa asing. Pada tahun 2019 novel ini diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama.
2.5 Sinopsis Cerita
Ketika Akechi dan Hamura sedang nongkrong di café Akechi bertanya pada Hamura apakah dia mempunyai rencana di akhir Agustus nanti. Hamura mengatakan tidak. Akechi menjelaskan sebenarnya di liburan musim panas ini klub peneliti film akan mengadakan acara menginap. Hamura yang merupakan mahasiswa baru tidak pernah mendengar tentang klub tersebut.
Akechi pun melanjutkan bahwa klub peneliti film menyewa vila di suatu tempat, lalu merekam film hantu. Mereka berencana membuat film pendek seperti ‘Paranormal Activity’. Setelah membuat film tersebut mereka pun berencana untuk menjualnya.
Tiba-tiba Akechi memiliki ide supaya mereka berdua bergabung dengan mereka. Hamura kaget dan bertanya-tanya mengapa Akechi memaksakan hal tersebut. Dia bilang sudah tiga kali memohon dan selalu ditolak. Hamura berpikir wajar saja mereka menolak, bagaimana mungkin mereka bisa menerima orang asing untuk masuk dalam kegiatan klub mereka.
Memasuki bulan Agustus Hamura dan Akechi hampir setiap hari nongkrong di kafe sekitaran kampus. Akechi menghela nafas karena
27
permintaanya ditolak lagi. Karena hal tersebut Hamura pun mengajaknya untuk melupakan hal tersebut. Ketika mereka sedang berbedebat seorang wanita mendatangi mereka. Wanita yang tinggi, langsing, dan cantik.
Seketika mereka berdua terpana dengan kecantikannya. Wanita tersebut duduk dan memperkenalkan diri. Namanya Kenzaki Hiruko mahasiswi tingkat dua Fakultas Sastra. Kenzaki ingin bernegosiasi dengan mereka berdua perihal klub peneliti film. Dia menjelaskan alasan kenapa Akechi selalu ditolak karena tujuan utama dari acara tersebut bukanlah membuat film melainkan semacam pesta keakraban sesama anggota klub, baik laki-laki maupun perempuan. Vila tersebut ternyata dipinjamkan oleh seorang alumni klub peneliti film. Namun, karena jumlah kamar yang terbatas, tidak semua anggota bisa ikut dalam acara tersebut. Namanya saja acara menginap bersama akan tetapi acara tersebut hanya untuk orang-orang yang diundang.
Karena hal tersebut tak ada tempat untuk orang luar.
Tetapi belakangan ini keadaannya berubah. Banyak anggota klub peneliti film yang menolak untuk pergi. Penyebabnya adalah sebuah surat ancaman yang diletakkan di klub peneliti film. Isi surat tersebut adalah ‘Siapa korban persembahan tahun ini?’. Kenzaki lanjut menjelaskan sebenarnya tahun lalu ada seorang mahasiswa yang ikut acara menginap tapi berakhir bunuh diri pada akhir liburan musim panas. Sehingga anggota klub peneliti film yang tahu akan surat tersebut merasa bahwa surat tersebut adalah kutukan.
Karena kekurangan anggota, ketua klub peneliti film juga mengajak beberapa mahasiswi dari klub drama. Karena merasa pembicaraan dalam
28
negosiasi ini terlalu lancar dan menguntungkan mereka, Hamura pun menanyakan apa keuntungan untuk Kenzaki tetapi dia menolak untuk memberitahunya dan mengganggap bahwa pertukaran informasi ini sebagai persyaratan.
Hamura, Akcehi, dan Kenzaki berjanji untuk bertemu di stasiun sekitaran kampus dan pergi naik kereta. Vila yang mereka tuju terletak di Prefektur S, tepatnya di dekat Danau Sabea. Pada saat menuruni tangga peron sesaat seseorang menyapa dari belakang. Dia adalah Shindo Ayumu dan Hoshikawa Reika. Shindo adalah ketua dari klub peneliti film dan Hoshikawa adalah pacarnya. Mereka dijemput oleh Kanno Yuito. Dia adalah pengurus dari vila tersebut. Ternyata di dalam mobil sudah anggota yang ikut acara penginapan ini mereka adalah Nabari, Takagi, dan Shizuhara. Ketika sudah sampai di vila mereka disambut oleh tiga orang alumni yaitu Deme Tobio, Tatsunami Haruya, dan anak pemilik vila Nanamiya Kanemitsu.
Dihari itu juga klub peneliti film melakukan syuting film pendek mereka.
Disitu juga Hamura baru mengetahui bahwa ada anggota klub peneliti film yang lain. Mereka adalah Kudamatsu Takako seorang perempuan berpenampilan khas gyaru dan Shigemoto Mitsuru seorang lelaki bertubuh tambun. Setelah selesai syuting mereka pun melakukan pesta barbekyu yang dipersiapkan Kanno. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba terdengar suara yang mengguncang hutan. Itu pasti Festival Musik Rock Danau Sabea. Disaat itu juga Hamura melihat tiga helicopter terbang melintasi vila mereka
29
Selesai pesta barbekyu acara uji nyali pun dimulai. Di uji nyali ini Shindo pun mengacak nomor urut untuk menentukan pasangan uji nyali. Nanamiya dan Kudamatsu, Akechi dan Shizuhara, Shindo dan Hoshikawa, Shigemoto dan Takagi, lalu Tatsunami dan Nabari, Hamura dan Kenzaki. Tempat yang menjadi tujuan uji nyali adalah kuil. Hamura dan Kenzaki mendapatkan nomor urut 4. Nanamiya dan Kudamatsu mendapatkan nomor urut 1. Setelah tim 1 pergi dilanjutkan tim 2 dengan jeda lima menit tiap tim. Setelah tim 3 pergi giliran Hamura dan Kenzaki pergi.
Ketika berjalan sekitar 15 menit. Di persimpangan jalan Hamura mendengar suara teriakan. Hamura berpikir tidak mungkin itu teriakan Akechi yang ketakutan. Tidak lama kemudian sebuah pemandangan luar biasa terlihat oleh Hamura. Dia menunjuk kearah lain kira-kira tiga ratus meter dari tempat mereka berdiri. Tampak bayangan orang-orang yang berjalan terhuyung-huyung dibawah cahaya lampu jalan yang tersebar di sana sini dan berjalan mengarah Hamura dan Kenzaki. Orang-orang itu terus melangkah jalanan yang luas itu.
Ketika Hamura mendekatinya dia diserang dan hampir digigit oleh orang-orang tersebut. Sekilas wajah mereka terlihat karena sorot lampu jalan. Wajah mereka terlihat seperti sorotan mata yang kehilangan fokus. Dari mulutnya terdengar suara geraman yang tidak jelas. Wajah dan bajunya, lengket karena noda darah yang sudah berubah kehitaman. Akan tetapi, yang paling parah adalah baunya. Bau busuk kuat yang terdiri dari campuran darah, lemak, dan entah apalagi menyerang hidung.
30
Detik itu juga Hamura merasa ini adalah bahaya. Karena nalurinya dia menarik tangan Kenzaki dan berlari sekencang mungkin dari orang-orang tersebut. Dari kejauhan Hamura melihat Shigemoto dan Takagi sedang berjalan setelah giliran mereka, Karena panik Hamura berteriak untuk kembali ke vila. Setelah mendengar teriakan tersebut mereka pun berlari kembali kearah vila. Ketika sudah sampai vila ternyata ada orang-orang aneh tersebut dan mencoba menyerang mereka, Hamura melirik ke belakang dan melihat banyak orang-orang turun dari gunung dan mengejar kami.
Mendadak dari semak-semak vila Nanamiya muncul tetapi tidak bersama Kudamatsu. Takagi pun bertanya dimana Kudamatsu, Nanamiya pun mengatakan mungkin dia sudah mati. Dia menerobos dari semak-semak dan meniggalkan Kudamatsu. Nanamiya melihat bahwa orang-orang itu memakan manusia. Shigemoto pun bergumam bahwa mereka adalah zombie.
Ketika di vila Hamura khawatir dan bertanya-tanya kemana Akechi dan Shizuhara karena tidak melihat mereka sama sekali. Dari kejauhan terlihat Akechi menggendong Shizuhara dan sedang dikejar oleh orang-orang tersebut. Pada saat sampai di vila Akechi dan Shizuhara dikempung lalu Akechi mendekati tangga, Hamura pun berusaha meraih tangannya untuk menyelamati rekannya tetapi dia melempar Shizuhara dan Akechi pun tenggelam dalam lautan zombie. Disaat itu Hamura merasa hampa dan putus asa karena kehilangan Akechi. Karena penyerbuan para zombi yang tidak ada habisnya mereka pun naik ke lantai dua dan membuat blokade yang dikomandoi oleh Shigemoto. Ketika mereka sedang membuat blokade Shindo
31
datang dan bertanya Hoshikawa tapi para peserta yang lain tidak melihat sama sekali. Shindo pun ingin membuka blokade namun dihalangin dan dia ditendang oleh Tatsunami. Dan menyadarkan Shindo bahwa Hoshikawa mungkin telah mati diserang zombi.
Selesai membangun blokade mereka semua pun berkumpul di ruang tengah lantai dua dan Kanno menyarankan mereka untuk kembali ke kamar masing-masing. Lalu Kanno pun meminta izin kepada Shindo untuk berada di kamar Hoshikawa karena dari situ dia bisa mengawasi para zombi yang ada di lantai satu. Esok paginya ketika mereka berkumpul di ruang tengah Kanno menyodorkan kertas yang dia dapatkan di depan pintu kamar Shindo ke Hamura dan Kenzaki. Isi kertas itu adalah tulisan ‘Terima kasih santapannya’.
Seketika Hamura pun tersadar bahwa tidak ada Shindo di ruang tengah. Dia pun menanyakan pada Kanno apa dia bisa dihubungi melalui telepon vila akan tetapi tidak ada respon sama sekali. Mereka semua pun berkumpul di kamar Shindo. Kanno membuka pintu kamar Shindo dengan kunci utama.
Ketika Kanno masuk dia merasa terkejut dan melihat Shindo telah tewas dengan kondisi wajah yang sudah tercabik-cabik.
Dan itu baru merupakan awal dari malam-malam panjang mereka semua di vila. Mencari pelaku pembunuhan dan bertahan hidup dari serangan para zombi.
32 BAB III
ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL “MURDER AT SHIJINSO”
KARYA IMAMURA MASAHIRO
3.1 Analisis Tema, Alur, Penokohan, Latar, Sudut Pandang dan Amanat yang ada dalam Novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro.
3.1.1 Tema
- Cuplikan halaman 170
Detik itu juga, bau tidak sedap menyergap hidung kami.”Uuuuugh…”
Kanno mengerang begitu melihat situasi dalam kamar. Aku mencoba mengintip lewat bahunya dan langsung disuguhui pemandangan yang tidak pernah terbayangkan.Darah berceceran di lantai, bahkan sampai menciprati langit-langit. Potongan-potongan daging berserakan. Mayat Shindo, yang kondisinya tercabik-cabik tidak karuan bagaikan lap kotor, dalam posisi tubuh seperti hendak menjulurkan tubuh ke beranda dari jendela yang terbuka.
Analisis:
Dari cuplikan di atas menjelaskan bahwa semua peserta perkemahan di Shijinso menemukan Shindo yang sudah tewas. Dengan kondisi tubuh yang beserakan dan tercabik-cabik bisa diduga bahwa Shindo telah tewas terbunuh oleh zombi yang menyerang dia. Pada saat itu juga peserta perkemhan
33
bertanya-tanya bagaimana bisa sebuah zombi bisa naik ke lantai dua padahal mereka sudah membuat blokade, hal ini menyebabkan timbulnya sebuah misteri. Dilihat dari analisis ini bisa disimpulkan bahwa tema yang diangkat dalam novel ini adalah misteri pembunuhan di vila Shijinso sesuai dengan judul novel tersebut.
3.1.2 Alur
Teori Montage dan Hensaw tentang alur yang berdasarkan tahapan yaitu:
a. Exposition
Cerita bermula ketika Hamura dan Akechi sedang berada di kantin kampus bermain permainan analisis. Setelah permainan tersebut berakhir seri, Akechi bertanya kepada Hamura apakah dia mempunyai rencana akhir Agustus nanti.
Hamura pun mengatakan tentu saja tidak ada. Lalu dia menceritakan pada Hamura bahwa Klub Peneliti Film akan membuat perkemahan musim panas di sebuah vila dan merekam film hantu. Akechi merasa akan ada kasus di vila tersebut dan juga dia sudah memohon kepada ketua Klub Peneliti Film agar diterima namun terus di tolak. Memasuki bulan Agustus Hamura dan Akechi jadi lebih sering pergi ke kafe dekat kampus. Ketika mereka sedang mengobrol tentang hal untuk bergabung ke Klub Peneliti Film mereka di datangi oleh seorang perempuan yang bernama Kenzaki Hiruko. Disini Kenzaki ingin melakukan negosiasi kepada Akechi tentang perkemahan Klub Peneliti Film tersebut. Dia menjelaskan bahwa banyak anggota Klub Peneliti Film yang menolak pergi dikarenakan adanya surat ancaman yang berisi
34
‘Siapa korban persembahan tahun ini?’. Dia juga menjelaskan alasan Akechi selalu ditolak bergabung adalah Akechi tidak memiliki angggota perempuan dalam klubnya. Lalu Kenzaki juga mengatakan tujuan dari perkemahan itu bukan untuk membuat film melainkan acara keakraban yang melibatkan anggota klub, baik laki-laki maupun perempuan.
Analisis:
Berdasarkan cerita di atas, dapat dilihat tahap Exposition yakni tahap awal yang berisi tentang perkenalan tempat terjadinya peristiwa dan perkenalan antar tokoh yang terlibat. Tahap awal ini tokoh yang diperkenalkan adalah Hamura Yuzuru, Akechi Kyousuke, dan Kenzaki Hiruko. Lalu pada tahap awal ini juga menjelaskan tentang tempat peristiwa pertemuan antar tokoh yaitu kafe di sekitaran Univeristas Shinko dengan latar waktu yang berada di awal bulan Agustus.
b. Inciting Force
Bermula ketika Hamura, Akechi dan Kenzaki pergi ke Shijinso. Mereka dijemput oleh Kanno merupakan pelayan di Shijinso. Ketika sudah tiba di Shijinso mereka disambut oleh para alumni Klub Peneliti Film yaitu Nanamiya, Deme, dan Tatsunami. Setelah itu Klub Peneliti Film melanjutkan syuting film di sebuah hotel tua di dekat Shijinso, lalu pada pukul 18.00 mereka mengadakan pesta barbekyu. Acara dilanjutkan dengan uji nyali. Para peserta sudah diacak dengan menggunakan undian yang dibuat oleh Shindo.
Satu per satu peserta pun pergi dengan jeda lima menit. Lalu pada giliran
35
keempat giliran Hamura dan Kenzaki yang pergi. Di perjalanan menuju kuil yang mereka tuju, dari kejauhan Hamura melihat orang-orang berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk dibawah lampu jalan. Mahluk-mahluk tersebut pun mendekati Hamura. Mereka menarik tangan Hamura ketika ditarik Hamura melihat wajah mereka sekilas dari sorot lampu jalan.
Hamura pun merasa aneh dengan penampilan karena mereka berdarah dan berbau busuk. Karena hal tersebut insting Hamura mengatakan mereka berbahaya dan Hamura menarik tangan Kenzak dan berteriak lari lalu menjauhi kerumunan tersebut
Analisis:
Pada tahapan ini muncul Inciting Force, yaitu tahapan yang dimana kekuatan, kehendak maupun prilaku yang bertentangan dari si pelaku timbul.
Prilaku yang bertentangan dari pelaku muncul saat Hamura menarik tangan Kenzaki untuk kabur dari kepungan zombi-zombi tersebut. Hamura yang merupakan seseorang yang pemalu pada Kenzaki berani menarik tangan Kenzaki pada saat akan menyelamatkan diri. Hamura juga yang biasanya berpikir berdasarkan logika kini mengikuti nalurinya yang merasa bahaya karena penyerbuan zombi-zombi tersebut. Dari hal tersebut juga muncul kekuatan untuk menyelamatkan diri.
c. Rising Action
Bermula ketika Kanno menyuruh para peserta untuk kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat sedangkan Kanno berpatroli. Para peserta
36
pun mengambil senjata yang tergantung di ruang tengah sebagai alat perlindungan diri. Ketika pagi para peserta berkumpul kembali di ruang tengah lantai 2. Akan tetapi Kanno memberitahukan kepada para peserta bahwa dia menemukan secarik kertas yang bertuliskan “Terima kasih atas makanannya” di depan pintu kamar Shindo. Lalu Hamura menyadari tidak hadirnya Shindo di ruang tengah. Kanno menelpon kamar Shindo tetapi tidak ada jawaban. Lalu Kenzaki mengusulkan untuk membangunkan semua penghuni di lantai 2 dikarenaka kamar Shindo berada di lantai 3. Ketika sudah di kamar Shindo, Kanno menggunakan kunci utama untuk membuka kamar Shindo. Setelah dibuka Kanno mengerang dan Hamura melihat bahwa Shindo sudah mati tercabik-cabik. Semua merasa bahwa Shindo mati karena di serang zombi. Ketika Kenzaki masuk Nanamiya mengatakan tangan Shindo bergerak. Lalu karena tidak ada yang berani menyerang Shindo,
pun mengambil senjata yang tergantung di ruang tengah sebagai alat perlindungan diri. Ketika pagi para peserta berkumpul kembali di ruang tengah lantai 2. Akan tetapi Kanno memberitahukan kepada para peserta bahwa dia menemukan secarik kertas yang bertuliskan “Terima kasih atas makanannya” di depan pintu kamar Shindo. Lalu Hamura menyadari tidak hadirnya Shindo di ruang tengah. Kanno menelpon kamar Shindo tetapi tidak ada jawaban. Lalu Kenzaki mengusulkan untuk membangunkan semua penghuni di lantai 2 dikarenaka kamar Shindo berada di lantai 3. Ketika sudah di kamar Shindo, Kanno menggunakan kunci utama untuk membuka kamar Shindo. Setelah dibuka Kanno mengerang dan Hamura melihat bahwa Shindo sudah mati tercabik-cabik. Semua merasa bahwa Shindo mati karena di serang zombi. Ketika Kenzaki masuk Nanamiya mengatakan tangan Shindo bergerak. Lalu karena tidak ada yang berani menyerang Shindo,