• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL MURDER AT SHIJINSO KARYA IMAMURA MASAHIRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL MURDER AT SHIJINSO KARYA IMAMURA MASAHIRO"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL “MURDER AT SHIJINSO”

KARYA IMAMURA MASAHIRO

IMAMURA MASAHIRO NO SAKUHIN NO “SHIJINSO NO SATSUJIN” TO IU SHOUSETSU NO KOUZOU NO BUNSEKI

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana

dalam bidang Ilmu Sastra Jepang

Oleh:

Muhammad Puja Anhat 160708040

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)

ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL “MURDER AT SHIJINSO”

KARYA IMAMURA MASAHIRO

IMAMURA MASAHIRO NO SAKUHIN NO “SHIJINSO NO SATSUJIN” TO IU SHOUSETSU NO KOUZOU NO BUNSEKI

SKRIPSI

Skripsi ini ditujukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana dalam

bidang Ilmu Sastra Jepang Disetujui Oleh:

Pembimbing

NIP : 196910112002121001

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(3)
(4)
(5)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya penulis diberikan kesehatan selama mengikuti perkuliahan hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL “MURDER AT SHIJINSO” KARYA IMAMURA MASAHIRO” ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak terlepas dari bimbingan, dukungan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S, Ph.D., selaku ketua Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Mhd. Pujiono, SS., M.Hum., Ph.D., selaku dosen pembimbing sekaligus dosen penasehat akademik. Yang telah ikhlas memberikan dorongan dan meluangkan banyak waktu, pikiran, serta tenaga dalam membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik.

4. Dosen Penguji Ujian Skripsi yang telah menyediakan waktunya untuk membaca dan menguji skripsi ini.

(6)

ii

5. Para dosen pengajar dan staf pegawai di Fakultas Ilmu Budaya, khususnya program studi Sastra Jepang yang telah memberikan ilmu dan pendidikan kepada penulis selama perkuliahan sampai penulisan skripsi ini.

6. Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada Ibunda tercinta Yusriani Tati dan Ayahanda tersayang Cihamdany Suabdi yang telah membesarkan dan selalu mendukung, mendorong, memberikan nasehat, dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Dan kepada adik saya Muhammad Iqra’ yang telah membantu dan memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

7. Terima kasih kepada Salsabila yang telah meluangkan waktunya untuk membantu dan menemani penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

8. Terima kasih juga kepada para sahabat dari HMPM dan Nganu. Terima kasih juga kepada teman-teman dari stambuk 2016 yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Sehingga penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca.

Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat, khususnya bagi penulis dan bagi para mahasiswa/i Sastra Jepang

Medan, 8 Februari 2021 Penulis,

Muhammad Puja Anhat NIM: 160708040

(7)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan... 6

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ... 7

1.4.1 Tinjauan Pustaka ... 7

1.4.2 Kerangka Teori ... 9

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11

1.5.1 Tujuan Penelitian ... 11

1.5.2 Manfaat Penelitian ... 11

1.6 Metode Penelitian ... 12

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL “MURDER AT SHIJINSO” KARYA IMAMURA MASAHIRO DAN KAJIAN STRUKTURAL 2.1 Definisi Novel ... 14

2.2 Unsur-unsur Instrinsik dalam Novel ... 15

2.2.1 Tema ... 15

2.2.2 Alur ... 16

2.2.3 Penokohan ... 18

2.2.4 Latar ... 20

2.2.5 Sudut Pandang ... 23

2.2.6 Amanat ... 24

2.3 Pendekatan Struktural dalam Karya Sastra ... 24

(8)

iv

2.4 Biografi Pengarang ... 25

2.5 Sinopsis Cerita ... 26

BAB III ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL “MURDER AT SHIJINSO” KARYA IMAMURA MASAHIRO 3.1 Analisis Tema, Alur, Penokohan, Latar, Sudut Pandang dan Amanat yang ada dalam Novel “Murder at Shijinso” Karya Imamura Masahiro ... 32

3.1.1 Tema ... 32

3.1.2 Alur ... 33

3.1.3 Penokohan ... 47

3.1.4 Latar ... 66

3.1.5 Sudut Pandang ... 69

3.1.6 Amanat ... 70

3.2 Analisis Keterkaitan antara Tema, Alur, Penokohan, Latar, Sudut Pandang, dan Amanat dalam Novel “Murder at Shijinso” Karya Imamura Masahiro ... 72

3.2.1 Hubungan Tema dengan Alur ... 72

3.2.2 Hubungan Tema dengan Penokohan ... 73

3.2.3 Hubungan Tema dengan Latar ... 73

3.2.4 Hubungan Tema dengan Amanat ... 73

3.2.5 Hubungan Alur dengan Penokohan ... 74

3.2.6 Hubungan Alur dengan Latar ... 74

3.2.7 Hubungan Alur dengan Amanat ... 75

3.2.8 Hubungan Penokohan dengan Latar ... 75

3.2.9 Hubungan Penokohan dengan Amanat ... 75

3.2.10 Hubungan Sudut Pandang dengan Latar ... 76 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

(9)

v

4.1 Kesimpulan ... 77 4.2 Saran ... 78 DAFTAR PUSTAKA

ABSTRAK

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sastra adalah ekspresi pengalaman mistis dan estetis manusia melalui media bahasa sebagai kreativitasnya yang bersifat imajinatif (Sehandi, 2016:

16). Kata sastra berasal dari kata sansekerta yaitu sas yang berarti mengarahkan atau mengajarkan, tra yang menunjukkan alat atau sarana. Jika diartikan sastra adalah alat untuk mengajarkan atau juga sebagai sarana memberi petunjuk atau pengajaran (Rokhmansyah, 2014: 2). Pendapat tersebut juga dibenarkan Sumardjo dan Saini dalam Rokhmansyah (2014: 2), sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran yang konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

Nyoman Kutha Ratna dalam Sehandi (2016: 4) menyatakan bahwa sastra memiliki dua pengertian yaitu (1) sastra sebagai hasil karya seni, dan (2) sastra sebagai keseluruhan hasil karya, baik karya seni maupun sebagai ilmu.

Seperti yang dikatakan Nyoman Kutha Ratna bahwa sastra juga merupakan hasil dari sebuah karya seni. Pendapat ini diperkuat oleh Semi Atar dalam Sehandi (2016: 53) berpendapat bahwa karya sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

(11)

2

Melalui karya sastra, seseorang menyampaikan pandangannya terhadap kehidupan yang ada di sekitarnya. Di dalam karya sastra banyak nilai-nilai kehidupan yang ditemukan. Karya sastra sebagai produk budaya manusia berisi nilai-nilai yang hidup dan ada dalam masyarakat, selain itu sebagai hasil pengolahan jiwa sang pengarang karya sastra dihasilkan melalui proses perenungan panjang mengenai hakikat kehidupan.

Menurut Horace dalam Rokhmansyah (2014: 8), karya sastra berfungsi sebagai keindahan dan berguna, yang berarti karya sastra dapat memberikan rasa keindahan dan sekaligus kegunaan bagi penikmatnya. Dalam artian lain, karya sastra itu menghibur dan bermanfaat.

Menurut Sumardjo,dkk (1986: 17) Sastra dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu imajinatif dan non imajinatif. Sastra yang imajinatif meliputi puisi, prosa, dan drama. Sedangkan non imajinatif meliputi data yang real berupa berita dan sejarah lalu dikemas dalam tulisan yang estetis agar menarik minat pembaca.

Salah satu karya sastra imajinatif yang cukup populer untuk saat ini adalah novel. Novel merupakan karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan dan dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur instrinsiknya. Novel juga diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain disekilingnya dan menonjolkan watak dan sifat pelaku.

(12)

3

Nurgiyantoro (2019: 30) menyebutkan bahwa unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur instrinsik novel terdiri atas tema, amanat, tokoh dan penokohan, alur, latar, dan sudut pandang.

Unsur-unsur inilah yang secara langsung akan dijumpai oleh pembaca karya sastra. Penelitian sastra yang memfokuskan pembahasannya kepada unsur instrinsik biasanya akan menggunakan pendekatan strukturalisme. Menurut Suwardi Endaswara (2011: 49), strukturalisme pada dasarnya merupakan cara berfikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Teori strukturalisme memberi penekanan analisis unsur-unsur instrinsik pada novel.

Pada penelitian ini novel yang akan dibahas oleh penulis secara struktural adalah novel yang berjudul Murder at Shijinso karya Imamura Masahiro.

Novel dengan judul asli Shijinso no Satsujin ini pertama kali rilis di Jepang pada tahun 2017 oleh TOKYO SOGENSHA CO., LTD. Kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Faira Ammadea, dan diterbitkan oleh penerbit Haru pada tahun 2019.

Novel yang memiliki genre horor dan misteri ini menceritakan tentang Hamura Yuzuru seorang mahasiswa tingkat 1 jurusan Ekonomi di Universitas Shinko. Dia tergabung ke dalam klub pecinta misteri yang hanya beranggotakan dua orang yaitu dia dan Akechi Kyousuke. Akechi Kyousuke adalah senior Hamura meskipun berbeda fakultas. Akechi adalah seseorang yang gila dengan kisah-kisah misteri sehingga setiap hal yang ada di sekitarnya selalu dikaitkan dengan misteri. Karena hal tersebut dia bertingkah

(13)

4

seperti seorang detektif dan mendapatkan julukan Holmes Universitas Shinko.

Akechi tertarik dengan perkemahan musim panas yang dilakukan oleh klub peneliti film dan drama. Dengan insting detektifnya Akechi mengatakan pasti ada kasus yang akan terjadi pada perkemahan tersebut. Karena hal tersebut dia pun memohon kepada ketua klub peneliti film Shindou Ayumu untuk diikutsertakan tetapi permintaannya tersebut selalu ditolak. Ketika mereka sedang nongkrong di café, mereka didatangi oleh detektif perempuan terkenal yang juga merupakan mahasiswi Universitas Shinko yaitu Kenzaki Hiruko.

Kenzaki bernegosiasi dengan mereka untuk menjadi anggota tambahan pada perkemahan ini dikarenakan hampir semua anggota klub peneliti film dan klub drama tidak ingin pergi. Penyebabnya adalah catatan misterius yang tertinggal di ruangan klub. Karena hal tersebut pun Akechi bersedia untuk ikut dan membuat Hamura terlibat akan hal ini. Akan tetapi, pada malam harinya di hari pertama mereka langsung berhadapan dengan zombie-zombie yang tiba-tiba menyerang dan mengurung mereka di dalam vila. Tidak selesai dengan hal itu, salah satu anggota terbunuh dengan kondisi yang mengenaskan. Dan itu baru awal dari malam-malam panjang mereka untuk bertahan hidup dari serangan zombi dan sekaligus memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi di vila Shijinso.

Latar belakang penulis menjadikan novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro ini sebagai bahasan penelitian adalah karena pengarang mengajak pembacanya untuk ikut berpikir memecahkan kasus pembunuhan yang ada di Shijinso dan banyak trik-trik yang dilakukan si pembunuh untuk

(14)

5

mencapai tujuannya sehingga menambah kesan misteri dan detektif pada novel ini. Latar yang digambarkan oleh pengarang sangat baik dan jelas.

Dengan dukungan alur cerita yang baik, amanat yang disampaikan juga sangat jelas.

Berdasarkan uraian di latar belakang, penulis tertarik untuk meneliti unsur- unsur instrinsik dalam novel “MURDER AT SHIJINSO” dengan pendekatan struktural. Maka dari itu penulis membahas novel tersebut dengan judul

“ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL MURDER AT SHIJINSO KARYA IMAMURA MASAHIRO”.

1.2 Rumusan Masalah

Novel Murder at Shijinso ini mengangkat genre horor dan misteri. Novel ini menceritakan tentang Hamura Yuzuru seorang mahasiswa tingkat satu di Universitas Shinko. Dia tergabung ke dalam klub pecinta misteri yang hanya beranggotakan dua orang yaitu dia dan Akechi Kyousuke. Akechi Kyousuke adalah senior Hamura meskipun berbeda fakultas. Akechi adalah seseorang yang gila dengan kisah-kisah misteri sehingga setiap hal yang ada di sekitarnya selalu dikaitkan dengan misteri. Karena hal tersebut dia bertingkah seperti seorang detektif dan mendapatkan julukan Holmes Universitas Shinko.

Akechi dengan insting detektifnya merasa akan ada kasus yang menarik di perkemahan tersebut, sehingga dia memohon untuk ikut pergi tetapi selalu ditolak oleh ketua klub peneliti film. Ketika mereka sedang nongkrong di kafe mereka dihampiri oleh detektif wanita yang terkenal yaitu Kenzaki Hiruko. Kenzaki disini bernegosiasi dengan Akechi dan Hamura untuk ikut

(15)

6

pergi ke Shijinso sebagai orang pengganti karena klub peneliti film kekurangan anggota untuk pergi ke Shijinso. Akan tetapi, pada malam harinya di hari pertama mereka langsung berhadapan dengan zombie-zombie yang tiba-tiba menyerang dan mengurung mereka di dalam vila. Tidak selesai dengan hal itu, salah satu anggota terbunuh dengan kondisi yang mengenaskan. Dan itu baru sebuah awal dari malam-malam panjang mereka untuk bertahan hidup dari serangan zombie dan sekaligus memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi di vila Shijinso.

Novel “Murder at Shijinso ini” dibangun oleh struktur tema, latar, alur, penokohan, sudut pandang, dan amanat yang saling berkaitan.

Dari uraian yang tersebut, maka penulis merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang dan amanat yang ada dalam novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro?

2. Bagaimana keterkaitan antara tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, dan amanat dalam novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro?

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

Dari penjabaran rumusan masalah tersebut perlunya ruang lingkup pembahasan. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan pada penelitian tidak terlalu melebar dan berkembang terlalu jauh dari pembahasan, sehingga penulis dapat fokus dan pembahasan pada penelitian lebih terarah.

(16)

7

Dalam skripsi ini, penulis menggunakan novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro versi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Penerbit Haru pada Oktober 2019 dan diterjemahkan oleh Faira Ammadea yang menghasilkan sebanyak 412 halaman. Novel dengan judul asli Shijinso no Satsujin ini pertama kali diterbitkan di Jepang oleh penerbit TOKYO SOGENSHA CO.,LTD pada tahun 2017.

Dalam penelitian ini penulis hanya akan memfokuskan pada unsur instrinsik yang terkandung pada novel seperti tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat serta keterkaitan tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat. Dalam pengerjaannya penulis akan mecantumkan dan menganalisis beberapa cuplikan yang ada pada novel tersebut.

Pada BAB II penulis akan menjelaskan pengertian novel, unsur-unsur instrinsik pembangun novel, kajian struktural pada karya sastra, biografi pengarang, dan sinopsis novel “Murder at Shijinso”. Pada BAB III, akan dibahas mengenai analisis strukturalnya, dan keterkaitan antar unsur-unsur instrinsik pada novel tersebut.

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

1.4.1 Tinjauan Pustaka

Menurut Abrams dalam Fananie (2000: 112) pendekatan objektif adalah pendekatan yang berdasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan.

Pendekatan ini dilihat dari apa yang dimiliki oleh sastra itu sendiri berdasarkan aturan sastra yang berlaku. Aturan yang dimaksud seperti, bagian-bagian intrinsik sastra yang mencakup, diksi, rima struktur kalimat,

(17)

8

tema, plot, setting, karakter dan amanat. Kekuatan karya sastra dapat dinilai berdasarkan keterkaitan semua unsur-unsurnya. Karena dasar pendekatan objektif sudah tampak jelas, maka seringkali pendekatan ini disebut juga pendekatan struktural.

Abraham juga berpendapat strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan kajian hubungan antar unsur pembangun karya bersangkutan. Dalam hal ini karya sastra dianggap sebagai hal yang terstruktur atau tersusun. Karena karya sastra terbangun yang secara terstruktur berarti ada unsur-unsur yang berfungsi untuk membangun karya sastra tersebut (Nurgiyantoro, 2019: 59)

Penulis menggunakan dua skripsi sebagai rujukan yaitu “Analisis Struktural Novel Girl’s In The Dark Karya Akiyoshi Rikako” oleh Damanik (2019) pada novel ini disimpulkan bahwa tema pada novel Girl’s In The Dark yaitu hawa nafsu mempengaruhi perkembangan konflik antar tokoh, alur, dan latar pada cerita. “Analisis Struktural dalam Novel Yougisha X No Kenshin Karya Keigo Higashino” oleh Subakti (2018) disimpulkan bahwa keterkaitan antar unsur intrinsik dalam novel Yougisha X No Kenshin sudah dimulai sejak konflik antar tokohnya. Kedua skripsi tersebut sama-sama menggunakan kajian struktural akan tetapi dengan judul yang berbeda dan juga menjelaskan tentang unsur-unsur instrinsik yang ada di dalam novel seperti tema, alur, latar, sudut pandang, penokohan, dan amanat.

(18)

9 1.4.2 Kerangka Teori

Dalam menganalisis karya sastra dibutuhkan adanya teori untuk mendukung pendekatan yang sesuai digunakan oleh penulis. Teori ini digunakan sebagai tujuan dasar dalam pemikiran penulis agar mengerti, menjelaskan, dan memberi penilaian terhadap hal yang akan diteliti. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan struktural atau objektif.

Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, mesti fokus pada unsur-unsur instrinsik pembangunnya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi fungsi dan hubungan antar unsur instrinsik fiksi yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2019: 60).

Menurut Abraham dalam Rokhmansyah (2014: 10) menjelaskan pendekatan objektif memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, antar hubungan, dan totalitas. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik.

Pada penelitian ini digunakan pendekatan struktural untuk membahas strukturalisme dalam karya sastra. Pendekatan ini memberi perhatian penuh terhadap hal karya sastra. Pendekatan ini bertujuan untuk melihat karya sastra sebagai sebuah system dan nilai-nilai yang diberikan dalam unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Di dalam analisisnya, unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.

Pendekatan struktural yang diuraikan penulis di atas digunakan dalam menganalisis novel “Murder at Shijinso” yang bertujuan untuk memaparkan seteliti mungkin fungsi dan keterkaitan antar unsur karya sastra dalam novel tersebut. Dimana analisis ini menunjukkan keadaan penokohan, latar, tema,

(19)

10

sudut pandang, plot, dan lain-lain. Kemudian untuk membahas setiap unsur- unsurnya penulis akan menggunakan konsep tema menurut Aminuddin, konsep alur menurut Montage dan Hensaw, konsep latar, sudut pandang, dan tokoh menurut Nurgiyantoro, dan konsep amanat menurut Siswanto.

Menurut Aminuddin dalam Siswanto (2008: 16) tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperanan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Cara paling efektif untuk mengenali tema sebuah karya sastra adalah dengan mengamati secara teliti setiap konflik yang ada di dalamnya.

Montage dan Hensaw (Aminuddin, 2000: 84) menjelaskan bahwa tahapan peristiwa dalam alur suatu cerita tersusun kedalam tahapan Exposition, Inciting force, Rising Action, Crisis, Climax, dan Falling Action.

Nurgiyantoro (2019: 314) membagikan latar menjadi tiga, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.

Unsur pada penokohan meliputi tokoh, perwatakan, dan bagaimana penempatan tokoh tersebut kedalam cerita. Jenis-jenis tokoh dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan segi peranannya yaitu tokoh utama dan tokoh pembantu serta berdasarkan segi fungsi yaitu protagonis dan antagonis (Nurgiyantoro, 2019: 258-260).

Sudut pandang haruslah diperhitungkan kehadirannya, bentuknya, sebab pemilihan sudut pandang akan berpengaruh terhadap penyajian cerita.

Nurgiyantoro (2019: 347-359) membagi sudut pandang menjadi tiga, yaitu

(20)

11

sudut pandang persona ketiga “Dia”, sudut pandang persona pertama “Aku”, dan sudut pandang campuran.

Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra; pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar (Siswanto, 2008:162).

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.5.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemaparan rumusan masalah di atas, penulis merangkum tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Mendeskripsikan tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat dalam novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro.

2. Mendeskripsikan keterkaitan antar unsur tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, dan amanat, dalam novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro.

1.5.2 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Dapat menambah wawasan dan gambaran dalam bagi pembaca karya sastra mengenai struktur pembangun novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro.

2. Dapat memberikan pengkajian dan pengapresiasikan terhadap karya sastra dalam penggunaan pendekatan objektif.

(21)

12 1.6 Metode Penelitian

Dalam skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif. Menurut Nasir dalam Tantawi (2017:66) metode deskriptif adalah berupaya mendeskripsikan tentang situasi atau kejadian, gambaran, lukisan, secara sistematis, faktual, akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan anatara fenomena dengan fenomena pada objek diteliti.

Dalam penelitian ini akan dianalisis dan dijelaskan tentang masalah- masalah yang ada dalam novel “Murder at Shijinso” dengan menggunakan teori-teori yang sudah dipaparkan di atas. Dalam penelitian penulis juga menggunakan teknik pengumpulan data-data dengan metode studi kepustakaan (library research), pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara mengumpulkan dan menganalisis bahan-bahan penelitian dari skripsi dan buku yang menjadi refrensi dalam penelitian ini. Selain itu data juga dapat diperoleh melalui situs-situs internet.

Dalam melakukan penelitian ini penulis akan memaparkan langkah- langkahnya sebagai berikut:

1. Membaca novel yang merupakan sumber dari data penelitian.

2. Menentukan teori yang digunakan.

3. Menentukan metode pengumpulan data berdasarkan pada cuplikan atau dialog yang berhubungan dengan unsur-unsur instrinsik pada novel.

4. Menganalisis novel dengan cara mengambil beberapa cuplikan yang ada di dalam novel.

(22)

13

5. Membuat kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan.

(23)

14 BAB II

TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL “MURDER AT SHIJINSO”

KARYA IMAMURA MASAHIRO DAN KAJIAN STRUKTURAL

2.1 Definisi Novel

Sebagai bagian dari sastra, novel telah menarik banyak perhatian dan minat banyak kalangan terutama dari kalangan muda. Novel merupakan sebuah karya fiksi yang menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan dan dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur instrinsiknya seperti peristiwa, alur, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain yang semuanya juga bersifat imajinatif (Nurgiyantoro, 2019: 5). Selain itu Aziez dan Hasim (2010: 7) berpendapat novel merupakan sebuah genre sastra yang memiliki bentuk utama prosa yang menggambarkan kehidupan nyata dalam suatu plot yang cukup kompleks.

Dalam hal ini novel dijelaskan sebagai sebuah karya sastra berbentuk fiksi yang melibatkan imajinasi dan kehidupan yang dialami oleh pengarang itu sendiri dan dituangkan kedalam bentuk cerita, yang disusun melalui unsur- unsur instrinsik novel itu sendiri.

Nurgiyantoro (2019: 19-22) membagi novel menjadi dua yaitu novel serius dan novel populer. Novel serius adalah novel yang hanya populer pada masanya dan banyak penggemarnya, terutama dikalangan para remaja. Novel ini menampilkan masalah-masalah yang aktual dan selalu mengikuti zaman keluarnya novel tersebut, tetapi hanya pada tingkat permukaannya saja. Novel

(24)

15

populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Novel serius adalah novel yang menceritakan pengalaman dan permasalahan kehidupan yang dijelaskan sampai ke inti hakikat kehidupan yang universal.

Selain memberikan hiburan, novel serius juga bertujuan memberikan pengalaman berharga atau paling tidak mengajak pembaca untuk meresapi dan merenungkan secara lebih tentang permasalahan yang diangkat.

Novel “Murder at Shijinso” termasuk kedalam novel populer, karena novel ini membawa permasalahan yang ringan dan mengikuti zaman serta disukai oleh para kalangan remaja. Meskipun novel ini termasuk kedalam novel populer akan tetapi novel ini juga memiliki amanat-amanat yang terkandung didalamnya.

2.2 Unsur-unsur Instrinsik Novel

2.2.1 Tema

Istilah tema menurut Scharbach berasal dari bahasa Latin yang berarti

‘tempat meletakkan suatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang untuk memaparkan karya fiksi yang diciptakannya (Aminuddin, 2000: 91).

Menurut Aminuddin dalam Siswanto (2008: 161) tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan

(25)

16

kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa oleh pengarangnnya.

Brooks menjelaskan bahwa dalam mengapresiasikan tema suatu cerita apresiator harus memahami ilmu-ilmu humanis karena tema merupakan pendalaman dan hasil perenungan pengarang yang berkaitan dengan masalah kemanusiaan dan masalah lain yang bersifat universal. Dalam hal ini tema tidaklah berada di luar cerita tetapi berada di dalamnya. Akan tetapi meskipun termasuk kedalam cerita tidaklah terumus dalam satu atau dua kalimat tetapi tersebar dibalik unsur-unsur yang signifikan atau media pemapar prosa (Aminuddin, 2000: 92).

Berdasarkan beberapa pendapat yang diuraikan maka dapat disimpulkan bahwa tema adalah ide pokok atau gagasan utama yang menjadi pondasi suatu cerita pada karya sastra. Untuk mengetahui sebuah tema tentu tidaklah mudah. Karena dalam mengetahui sebuah tema, seorang pembaca harus tahu isi atau kesimpulan dari seluruh cerita yang dibuat oleh pengarang.

Novel “Murder at Shijinso” ini mengangkat tema misteri pembunuhan di vila Shijinso.

2.2.2 Alur

Menurut Abrams alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan- tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan para pelaku dalam suatu cerita (Siswanto, 2008: 159).

(26)

17

Pendapat ini juga sejalan dengan Nurgiyantoro yang mengatakan bahwa alur adalah berbagai peristiwa yang diseleksi dan diurutkan berdasarkan hubungan sebab akibat untuk mencapai efek tertentu dan sekaligus membangkitkan suspense dan surprise pada pembaca. Plot atau alur juga merupakan cerminan atau perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasa, dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan (2019: 168-169).

Montage dan Hensaw dalam Aminuddin (2000: 84) menjelaskan tahapan peristiwa dalam alur suatu cerita tersusun dalam beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Exposition, yaitu tahap awal yang berisi penjelasan tentang tempat terjadinya peristiwa serta perkenalan dari setiap pelaku yang mendukung cerita.

b. Inciting Force, yaitu tahap ketika timbul kekuatan, kehendak maupun prilaku yang bertentangan dari pelaku.

c. Rising Action, yaitu situasi menjadi karena pelaku-pelaku dalam cerita mulai berkonflik.

d. Crisis, yaitu situasi semakin panas dan para pelaku sudah diberi gambaran nasib oleh pengarangnya.

e. Climax, yaitu situasi puncak ketika konflik berada dalam kadar yang paling tinggi hingga para pelaku itu mendapatkan kadar nasibnya sendiri-sendiri.

(27)

18

f. Falling Action, yaitu kadar konflik sudah menurun hingga ketegangan dalam cerita mulai mereda sampai menuju conclusion atau penyelesaian cerita.

Nurgiyantoro (2019: 213-215) menjelaskan alur terbagi menjadi tiga jenis yaitu sebagai berikut:

1. Alur maju (Progresif), yaitu jika peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis yang menyebabkan terjadinya sebab akibat. Secara runtut cerita hal ini dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemunculan konflik), tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian).

2. Alur mundur (Flashback), yaitu urutan alur dalam karya fiksi tidak bersifat kronologis. Cerita tidak dimulai dari tahap awal, melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal dikisahkan.

3. Alur campuran, yaitu urutan alur bersifat kronologis akan tetapi sering adanya adegan-adegan yang bersifat kilas balik.

Berdasarkan uraian-uraian diatas novel “Murder at Shijinso” memiliki urutan cerita yang berurutan dimulai dari Exposition sampai Falling Action dan memiliki alur campuran.

2.2.3 Penokohan

(28)

19

Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh disebut penokohan (Aminuddin, 2000: 79).

Penokohan sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita.

Jones dalam Nurgiyantoro mengemukakan penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

Istilah “penokohan” lebih luas pengertiannya daripada “tokoh” dan

“perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan dan bagaimana penempatan atau pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas pada pembaca. Penokohan juga kadang menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam cerita (2019:247- 248).

Tokoh dapat dibedakan berdasarkan dari segi peran dan pentingnya seorang tokoh dalam cerita yaitu:

1. Tokoh Utama

Tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan.

Baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

2. Tokoh Tambahan

(29)

20

Tokoh yang jarang sekali muncul dalam cerita. Tokoh ini sering sekali digunakan sebagai pelengkap dalam cerita dan kemunculannya hanya ketika ada hubungan dengan tokoh utama baik itu langsung atau tidak.

Dilihat berdasarkan dari segi fungsinya Nurgiyantoro membagi tokoh dalam cerita menjadi dua yaitu:

1. Tokoh Protagonis

Tokoh yang paling dikagumi dan membawa nilai-nilai yang ideal bagi pembaca.

2. Tokoh Antagonis

Tokoh yang menyebabkan konflik dalam cerita dan memiliki sifat yang berlawanan dengan tokoh protagonis.

Dalam novel “Murder at Shijinso” banyak sekali tokoh yang terlibat tetapi tokoh utama dalam novel ini adalah Hamura Yuzuru karena hampir semua konflik dalam novel melibatkan dia.

2.2.4 Latar

Latar atau Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisik dan psikologis.

Setting dalam karya fiksi bukan hanya berupa tempat, waktu, peristiwa, suasana serta benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka,

(30)

21

maupun gaya hidup masyarakat dalam menanggapi suatu problema tertentu (Aminuddin, 2000: 67-68).

Kenny dalam Siswanto (2008: 149) mengungkapkan cakupan latar cerita dalam cerita fiksi yang meliputi penggambaran lokasi geografis, pemandangan, perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya sebuah tahun, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh.

Nurgiyantoro (2019: 314) menjelaskan bahwa latar dibedakan kedalam tiga jenis yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.

1. Latar tempat

Latar tempat menunjukkan terjadinya peristiwa tertentu yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama yang jelas.

Penggunaan latar tempat dengan nama-nama tertentu haruslah mencerminkan, atau paling tidak, tidak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan.

Dalam novel “Murder at Shijinso” latar tempat yang digunakan ada banyak tetapi yang paling sering digunakan dan menjadi tempat awal mula konflik adalah Vila Shijinso.

2. Latar Waktu

(31)

22

Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadi peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.

Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual dan waktu yang dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah.

Latar waktu dalam novel “Murder at Shijinso” adalah akhir bulan Agustus dan musim panas.

3. Latar Sosial

Latar sosial menunjukkan pada hal-hal yang berhubungan dengan prilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Hal tersebut dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap.

Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan misalnya rendah, menengah, atau atas.

Latar sosial dalam novel “Murder at Shijinso” adalah kehidupan sosial masyarakat Jepang pada umumnya seperti kepercayaan terhadap jimat dan hal-hal gaib. Selain itu adanya perbedaan status sosial antar tokoh. Seperti Nanamiya Kanemitsu yang merupakan orang kaya dan anak pemilik dari Vila Shijinso, berbeda dengan para tokoh yang lain yang rata-rata semuanya berasal dari kalangan menengah dan bawah.

(32)

23 2.2.5 Sudut Pandang

Menurut Siswanto sudut pandang adalah tempat pengarang memandang ceritanya. Dari tempat itulah pengarang bercerita tentang tokoh, peristiwa, tempat, waktu dengan gayanya sendiri (2008: 151).

Nurgiyantoro (2019: 346) membagi sudut pandang menjadi tiga yaitu:

1. Sudut pandang persona ketiga “Dia”

Penggunaan cerita dengan sudut pandang ketiga , gaya “dia”.

Pengarang adalah seseorang yang tidak terlibat atau berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata gantinya seperti ia, dia, mereka.

2. Sudut pandang persona pertama “Aku”

Penggunaan cerita dengan sudut pandang pertama, gaya “aku”.

Pengarang adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah “aku” tokoh yang mengisahkan kesadarannya sendiri, mengisahkan peristiwa dan tindakan yang diketahui atau dialaminya sendiri serta sikapnya terhadap tokoh lain terhadap pembaca.

3. Sudut pandang campuran

Penggunaan sudut pandang lebih dari satu teknik. Pengarang dapat berganti-ganti dari teknik yang satu ke teknik yang lain tergantung dari cerita yang dituliskannya.

(33)

24

Sudut pandang pada novel “Murder at Shijinso” menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku”. Pengarang ikut terlibat dalam cerita yang diceritakan.

2.2.6 Amanat

Amanat adalah gagasan atau pokok pikiran yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar (Siswanto, 2008: 162).

Dilihat dari pendapat diatas bisa dikatakan bahwa amanat adalah pesan moral dan nilai-nilai positif yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita yang ia sampaikan kepada pembaca.

2.3 Pendekatan Struktural dalam Karya Sastra

Menurut Satoto (1993 : 32) pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaitan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna. Pendekatan struktural merupakan pendekatan intrinsik yakni membicarakan karya tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam.

Menurut Teeuw analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makan menyeluruh (Siswanto, 2008: 185). Nurgiyantoro

(34)

25

berpendapat bahwa strukturalisme dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan kajian hubungan antarunsur intrinsik pembangun karya yang bersangkutan dan analisis struktural karya sastra dalam hal ini fiksi, mesti fokus pada unsur-unsur instrinsik pembangunnya. Ia dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur instrinsik yang bersangkutan.

Dengan pendekatan struktural penulis dapat menganalisis dan mengidentifikasi unsur-unsur instrinsik pada karya sastra. Sehingga penulis bisa mengetahui fungsi dan keterkaitan antar unsur instrinsik tersebut.

2.4 Biografi Pengarang

Imamura Masahiro (今村昌弘) lahir di Nagasaki pada tahun 1985. Setelah lulus dari fakultas kedokteran Universitas Okayama, dia bekerja di bidang radiografi sambil menulis novelnya. Pada usia yang ke-29, dia berhenti bekerja, dan berfokus untuk menyelesaikan novelnya.

Pada tahun 2017, Murder at Shijinso menyabet posisi pertama dalam penghargaan Ayuka Tetsuya Award yang merupakan acara tahunan untuk novel misteri yang tidak diterbitkan di Jepang. Didirikan pada tahun 1990 oleh Tokyo Sogensha , penerbit Jepang yang terutama menerbitkan buku- buku bergenre fiksi . Novel pemenang diterbitkan oleh penerbit dan pemenang menerima patung Arthur Conan Doyle. Selain itu dia juga mendapatkan posisi pertama pada Weekly Bunshun dalam kategori novel

(35)

26

misteri terbaik pada 2017, posisi pertama pada Authentic Mistery pada tahun 2018, dan masih banyak lagi. Novel Murder at Shijinso ini memiliki judul asli dalam Bahasa Jepang yaitu 屍人荘の殺人 (Shijinso no Satsujin) lalu novel tersebut diadaptasi dan diterjemahkan ke bahasa asing. Pada tahun 2019 novel ini diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama.

2.5 Sinopsis Cerita

Ketika Akechi dan Hamura sedang nongkrong di café Akechi bertanya pada Hamura apakah dia mempunyai rencana di akhir Agustus nanti. Hamura mengatakan tidak. Akechi menjelaskan sebenarnya di liburan musim panas ini klub peneliti film akan mengadakan acara menginap. Hamura yang merupakan mahasiswa baru tidak pernah mendengar tentang klub tersebut.

Akechi pun melanjutkan bahwa klub peneliti film menyewa vila di suatu tempat, lalu merekam film hantu. Mereka berencana membuat film pendek seperti ‘Paranormal Activity’. Setelah membuat film tersebut mereka pun berencana untuk menjualnya.

Tiba-tiba Akechi memiliki ide supaya mereka berdua bergabung dengan mereka. Hamura kaget dan bertanya-tanya mengapa Akechi memaksakan hal tersebut. Dia bilang sudah tiga kali memohon dan selalu ditolak. Hamura berpikir wajar saja mereka menolak, bagaimana mungkin mereka bisa menerima orang asing untuk masuk dalam kegiatan klub mereka.

Memasuki bulan Agustus Hamura dan Akechi hampir setiap hari nongkrong di kafe sekitaran kampus. Akechi menghela nafas karena

(36)

27

permintaanya ditolak lagi. Karena hal tersebut Hamura pun mengajaknya untuk melupakan hal tersebut. Ketika mereka sedang berbedebat seorang wanita mendatangi mereka. Wanita yang tinggi, langsing, dan cantik.

Seketika mereka berdua terpana dengan kecantikannya. Wanita tersebut duduk dan memperkenalkan diri. Namanya Kenzaki Hiruko mahasiswi tingkat dua Fakultas Sastra. Kenzaki ingin bernegosiasi dengan mereka berdua perihal klub peneliti film. Dia menjelaskan alasan kenapa Akechi selalu ditolak karena tujuan utama dari acara tersebut bukanlah membuat film melainkan semacam pesta keakraban sesama anggota klub, baik laki-laki maupun perempuan. Vila tersebut ternyata dipinjamkan oleh seorang alumni klub peneliti film. Namun, karena jumlah kamar yang terbatas, tidak semua anggota bisa ikut dalam acara tersebut. Namanya saja acara menginap bersama akan tetapi acara tersebut hanya untuk orang-orang yang diundang.

Karena hal tersebut tak ada tempat untuk orang luar.

Tetapi belakangan ini keadaannya berubah. Banyak anggota klub peneliti film yang menolak untuk pergi. Penyebabnya adalah sebuah surat ancaman yang diletakkan di klub peneliti film. Isi surat tersebut adalah ‘Siapa korban persembahan tahun ini?’. Kenzaki lanjut menjelaskan sebenarnya tahun lalu ada seorang mahasiswa yang ikut acara menginap tapi berakhir bunuh diri pada akhir liburan musim panas. Sehingga anggota klub peneliti film yang tahu akan surat tersebut merasa bahwa surat tersebut adalah kutukan.

Karena kekurangan anggota, ketua klub peneliti film juga mengajak beberapa mahasiswi dari klub drama. Karena merasa pembicaraan dalam

(37)

28

negosiasi ini terlalu lancar dan menguntungkan mereka, Hamura pun menanyakan apa keuntungan untuk Kenzaki tetapi dia menolak untuk memberitahunya dan mengganggap bahwa pertukaran informasi ini sebagai persyaratan.

Hamura, Akcehi, dan Kenzaki berjanji untuk bertemu di stasiun sekitaran kampus dan pergi naik kereta. Vila yang mereka tuju terletak di Prefektur S, tepatnya di dekat Danau Sabea. Pada saat menuruni tangga peron sesaat seseorang menyapa dari belakang. Dia adalah Shindo Ayumu dan Hoshikawa Reika. Shindo adalah ketua dari klub peneliti film dan Hoshikawa adalah pacarnya. Mereka dijemput oleh Kanno Yuito. Dia adalah pengurus dari vila tersebut. Ternyata di dalam mobil sudah anggota yang ikut acara penginapan ini mereka adalah Nabari, Takagi, dan Shizuhara. Ketika sudah sampai di vila mereka disambut oleh tiga orang alumni yaitu Deme Tobio, Tatsunami Haruya, dan anak pemilik vila Nanamiya Kanemitsu.

Dihari itu juga klub peneliti film melakukan syuting film pendek mereka.

Disitu juga Hamura baru mengetahui bahwa ada anggota klub peneliti film yang lain. Mereka adalah Kudamatsu Takako seorang perempuan berpenampilan khas gyaru dan Shigemoto Mitsuru seorang lelaki bertubuh tambun. Setelah selesai syuting mereka pun melakukan pesta barbekyu yang dipersiapkan Kanno. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba terdengar suara yang mengguncang hutan. Itu pasti Festival Musik Rock Danau Sabea. Disaat itu juga Hamura melihat tiga helicopter terbang melintasi vila mereka

(38)

29

Selesai pesta barbekyu acara uji nyali pun dimulai. Di uji nyali ini Shindo pun mengacak nomor urut untuk menentukan pasangan uji nyali. Nanamiya dan Kudamatsu, Akechi dan Shizuhara, Shindo dan Hoshikawa, Shigemoto dan Takagi, lalu Tatsunami dan Nabari, Hamura dan Kenzaki. Tempat yang menjadi tujuan uji nyali adalah kuil. Hamura dan Kenzaki mendapatkan nomor urut 4. Nanamiya dan Kudamatsu mendapatkan nomor urut 1. Setelah tim 1 pergi dilanjutkan tim 2 dengan jeda lima menit tiap tim. Setelah tim 3 pergi giliran Hamura dan Kenzaki pergi.

Ketika berjalan sekitar 15 menit. Di persimpangan jalan Hamura mendengar suara teriakan. Hamura berpikir tidak mungkin itu teriakan Akechi yang ketakutan. Tidak lama kemudian sebuah pemandangan luar biasa terlihat oleh Hamura. Dia menunjuk kearah lain kira-kira tiga ratus meter dari tempat mereka berdiri. Tampak bayangan orang-orang yang berjalan terhuyung-huyung dibawah cahaya lampu jalan yang tersebar di sana sini dan berjalan mengarah Hamura dan Kenzaki. Orang-orang itu terus melangkah jalanan yang luas itu.

Ketika Hamura mendekatinya dia diserang dan hampir digigit oleh orang- orang tersebut. Sekilas wajah mereka terlihat karena sorot lampu jalan. Wajah mereka terlihat seperti sorotan mata yang kehilangan fokus. Dari mulutnya terdengar suara geraman yang tidak jelas. Wajah dan bajunya, lengket karena noda darah yang sudah berubah kehitaman. Akan tetapi, yang paling parah adalah baunya. Bau busuk kuat yang terdiri dari campuran darah, lemak, dan entah apalagi menyerang hidung.

(39)

30

Detik itu juga Hamura merasa ini adalah bahaya. Karena nalurinya dia menarik tangan Kenzaki dan berlari sekencang mungkin dari orang-orang tersebut. Dari kejauhan Hamura melihat Shigemoto dan Takagi sedang berjalan setelah giliran mereka, Karena panik Hamura berteriak untuk kembali ke vila. Setelah mendengar teriakan tersebut mereka pun berlari kembali kearah vila. Ketika sudah sampai vila ternyata ada orang-orang aneh tersebut dan mencoba menyerang mereka, Hamura melirik ke belakang dan melihat banyak orang-orang turun dari gunung dan mengejar kami.

Mendadak dari semak-semak vila Nanamiya muncul tetapi tidak bersama Kudamatsu. Takagi pun bertanya dimana Kudamatsu, Nanamiya pun mengatakan mungkin dia sudah mati. Dia menerobos dari semak-semak dan meniggalkan Kudamatsu. Nanamiya melihat bahwa orang-orang itu memakan manusia. Shigemoto pun bergumam bahwa mereka adalah zombie.

Ketika di vila Hamura khawatir dan bertanya-tanya kemana Akechi dan Shizuhara karena tidak melihat mereka sama sekali. Dari kejauhan terlihat Akechi menggendong Shizuhara dan sedang dikejar oleh orang-orang tersebut. Pada saat sampai di vila Akechi dan Shizuhara dikempung lalu Akechi mendekati tangga, Hamura pun berusaha meraih tangannya untuk menyelamati rekannya tetapi dia melempar Shizuhara dan Akechi pun tenggelam dalam lautan zombie. Disaat itu Hamura merasa hampa dan putus asa karena kehilangan Akechi. Karena penyerbuan para zombi yang tidak ada habisnya mereka pun naik ke lantai dua dan membuat blokade yang dikomandoi oleh Shigemoto. Ketika mereka sedang membuat blokade Shindo

(40)

31

datang dan bertanya Hoshikawa tapi para peserta yang lain tidak melihat sama sekali. Shindo pun ingin membuka blokade namun dihalangin dan dia ditendang oleh Tatsunami. Dan menyadarkan Shindo bahwa Hoshikawa mungkin telah mati diserang zombi.

Selesai membangun blokade mereka semua pun berkumpul di ruang tengah lantai dua dan Kanno menyarankan mereka untuk kembali ke kamar masing-masing. Lalu Kanno pun meminta izin kepada Shindo untuk berada di kamar Hoshikawa karena dari situ dia bisa mengawasi para zombi yang ada di lantai satu. Esok paginya ketika mereka berkumpul di ruang tengah Kanno menyodorkan kertas yang dia dapatkan di depan pintu kamar Shindo ke Hamura dan Kenzaki. Isi kertas itu adalah tulisan ‘Terima kasih santapannya’.

Seketika Hamura pun tersadar bahwa tidak ada Shindo di ruang tengah. Dia pun menanyakan pada Kanno apa dia bisa dihubungi melalui telepon vila akan tetapi tidak ada respon sama sekali. Mereka semua pun berkumpul di kamar Shindo. Kanno membuka pintu kamar Shindo dengan kunci utama.

Ketika Kanno masuk dia merasa terkejut dan melihat Shindo telah tewas dengan kondisi wajah yang sudah tercabik-cabik.

Dan itu baru merupakan awal dari malam-malam panjang mereka semua di vila. Mencari pelaku pembunuhan dan bertahan hidup dari serangan para zombi.

(41)

32 BAB III

ANALISIS STRUKTURAL PADA NOVEL “MURDER AT SHIJINSO”

KARYA IMAMURA MASAHIRO

3.1 Analisis Tema, Alur, Penokohan, Latar, Sudut Pandang dan Amanat yang ada dalam Novel “Murder at Shijinso” karya Imamura Masahiro.

3.1.1 Tema

- Cuplikan halaman 170

Detik itu juga, bau tidak sedap menyergap hidung kami.”Uuuuugh…”

Kanno mengerang begitu melihat situasi dalam kamar. Aku mencoba mengintip lewat bahunya dan langsung disuguhui pemandangan yang tidak pernah terbayangkan.Darah berceceran di lantai, bahkan sampai menciprati langit-langit. Potongan-potongan daging berserakan. Mayat Shindo, yang kondisinya tercabik-cabik tidak karuan bagaikan lap kotor, dalam posisi tubuh seperti hendak menjulurkan tubuh ke beranda dari jendela yang terbuka.

Analisis:

Dari cuplikan di atas menjelaskan bahwa semua peserta perkemahan di Shijinso menemukan Shindo yang sudah tewas. Dengan kondisi tubuh yang beserakan dan tercabik-cabik bisa diduga bahwa Shindo telah tewas terbunuh oleh zombi yang menyerang dia. Pada saat itu juga peserta perkemhan

(42)

33

bertanya-tanya bagaimana bisa sebuah zombi bisa naik ke lantai dua padahal mereka sudah membuat blokade, hal ini menyebabkan timbulnya sebuah misteri. Dilihat dari analisis ini bisa disimpulkan bahwa tema yang diangkat dalam novel ini adalah misteri pembunuhan di vila Shijinso sesuai dengan judul novel tersebut.

3.1.2 Alur

Teori Montage dan Hensaw tentang alur yang berdasarkan tahapan yaitu:

a. Exposition

Cerita bermula ketika Hamura dan Akechi sedang berada di kantin kampus bermain permainan analisis. Setelah permainan tersebut berakhir seri, Akechi bertanya kepada Hamura apakah dia mempunyai rencana akhir Agustus nanti.

Hamura pun mengatakan tentu saja tidak ada. Lalu dia menceritakan pada Hamura bahwa Klub Peneliti Film akan membuat perkemahan musim panas di sebuah vila dan merekam film hantu. Akechi merasa akan ada kasus di vila tersebut dan juga dia sudah memohon kepada ketua Klub Peneliti Film agar diterima namun terus di tolak. Memasuki bulan Agustus Hamura dan Akechi jadi lebih sering pergi ke kafe dekat kampus. Ketika mereka sedang mengobrol tentang hal untuk bergabung ke Klub Peneliti Film mereka di datangi oleh seorang perempuan yang bernama Kenzaki Hiruko. Disini Kenzaki ingin melakukan negosiasi kepada Akechi tentang perkemahan Klub Peneliti Film tersebut. Dia menjelaskan bahwa banyak anggota Klub Peneliti Film yang menolak pergi dikarenakan adanya surat ancaman yang berisi

(43)

34

‘Siapa korban persembahan tahun ini?’. Dia juga menjelaskan alasan Akechi selalu ditolak bergabung adalah Akechi tidak memiliki angggota perempuan dalam klubnya. Lalu Kenzaki juga mengatakan tujuan dari perkemahan itu bukan untuk membuat film melainkan acara keakraban yang melibatkan anggota klub, baik laki-laki maupun perempuan.

Analisis:

Berdasarkan cerita di atas, dapat dilihat tahap Exposition yakni tahap awal yang berisi tentang perkenalan tempat terjadinya peristiwa dan perkenalan antar tokoh yang terlibat. Tahap awal ini tokoh yang diperkenalkan adalah Hamura Yuzuru, Akechi Kyousuke, dan Kenzaki Hiruko. Lalu pada tahap awal ini juga menjelaskan tentang tempat peristiwa pertemuan antar tokoh yaitu kafe di sekitaran Univeristas Shinko dengan latar waktu yang berada di awal bulan Agustus.

b. Inciting Force

Bermula ketika Hamura, Akechi dan Kenzaki pergi ke Shijinso. Mereka dijemput oleh Kanno merupakan pelayan di Shijinso. Ketika sudah tiba di Shijinso mereka disambut oleh para alumni Klub Peneliti Film yaitu Nanamiya, Deme, dan Tatsunami. Setelah itu Klub Peneliti Film melanjutkan syuting film di sebuah hotel tua di dekat Shijinso, lalu pada pukul 18.00 mereka mengadakan pesta barbekyu. Acara dilanjutkan dengan uji nyali. Para peserta sudah diacak dengan menggunakan undian yang dibuat oleh Shindo.

Satu per satu peserta pun pergi dengan jeda lima menit. Lalu pada giliran

(44)

35

keempat giliran Hamura dan Kenzaki yang pergi. Di perjalanan menuju kuil yang mereka tuju, dari kejauhan Hamura melihat orang-orang berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk dibawah lampu jalan. Mahluk- mahluk tersebut pun mendekati Hamura. Mereka menarik tangan Hamura ketika ditarik Hamura melihat wajah mereka sekilas dari sorot lampu jalan.

Hamura pun merasa aneh dengan penampilan karena mereka berdarah dan berbau busuk. Karena hal tersebut insting Hamura mengatakan mereka berbahaya dan Hamura menarik tangan Kenzak dan berteriak lari lalu menjauhi kerumunan tersebut

Analisis:

Pada tahapan ini muncul Inciting Force, yaitu tahapan yang dimana kekuatan, kehendak maupun prilaku yang bertentangan dari si pelaku timbul.

Prilaku yang bertentangan dari pelaku muncul saat Hamura menarik tangan Kenzaki untuk kabur dari kepungan zombi-zombi tersebut. Hamura yang merupakan seseorang yang pemalu pada Kenzaki berani menarik tangan Kenzaki pada saat akan menyelamatkan diri. Hamura juga yang biasanya berpikir berdasarkan logika kini mengikuti nalurinya yang merasa bahaya karena penyerbuan zombi-zombi tersebut. Dari hal tersebut juga muncul kekuatan untuk menyelamatkan diri.

c. Rising Action

Bermula ketika Kanno menyuruh para peserta untuk kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat sedangkan Kanno berpatroli. Para peserta

(45)

36

pun mengambil senjata yang tergantung di ruang tengah sebagai alat perlindungan diri. Ketika pagi para peserta berkumpul kembali di ruang tengah lantai 2. Akan tetapi Kanno memberitahukan kepada para peserta bahwa dia menemukan secarik kertas yang bertuliskan “Terima kasih atas makanannya” di depan pintu kamar Shindo. Lalu Hamura menyadari tidak hadirnya Shindo di ruang tengah. Kanno menelpon kamar Shindo tetapi tidak ada jawaban. Lalu Kenzaki mengusulkan untuk membangunkan semua penghuni di lantai 2 dikarenaka kamar Shindo berada di lantai 3. Ketika sudah di kamar Shindo, Kanno menggunakan kunci utama untuk membuka kamar Shindo. Setelah dibuka Kanno mengerang dan Hamura melihat bahwa Shindo sudah mati tercabik-cabik. Semua merasa bahwa Shindo mati karena di serang zombi. Ketika Kenzaki masuk Nanamiya mengatakan tangan Shindo bergerak. Lalu karena tidak ada yang berani menyerang Shindo, Takagi pun muncul dan tepat menusukkan tombaknya ke arah mata Shindo.

Setelah hal tersebut ketika ingin keluar Shizuhara yang tepat di samping pintu menemukan kertas bertuliskan “Selamat makan”. Lalu mereka kembali ke ruang tengah dan bertanya-tanya. Darimana zombi yang membunuh Shindo bisa masuk. Selama beberapa saat mereka memikirkan tersebut dan Kenzaki memberi usul untuk saling mencocokkan informasi yang ada tentang keadaan yang semalam.

Analisis:

Rising Action adalah situasi atau tahapan yang mulai memanas dikarenakan para pelaku dalam cerita sudah timbul konflik. Konflik terjadi

(46)

37

ketika Shindo tidak bisa dihubungi di dalam kamarnya. Lalu ketika dibuka kamarnya dia ditemukan tewas tercabik-cabik. Ketika Kenzaki masuk Nanamiya mengatakan tangannya bergerak. Lalu Shindo dibunuh lagi oleh Takagi. Setelah itu mereka berkumpul di ruang tengah dan berpikir bagaimana zombi tersebut bisa menyerang Shindo. Hal ini menyebabkan mereka saling mencurigai satu sama lain.

d. Crisis

Cuplikan kesimpulan halaman 264-278

Ketika Kanno datang dan berteriak di lorong. Dia mengatakan bahwa zombi sudah menembus pintu darurat lantai 2. Lalu Hamura yang mendengar teriakan Kanno mendadak terbangun dan terlintas di benaknya Kenzaki.

Ketika membuka pintu bersamaan pintu kamar sebelah juga terbuka yang ternyata adalah Shizuhara. Mereka mengikuti Kanno ke lantai 3 tepatnya ke kamar Nanamiya. Dia meminta tolong ke Nanamiya untuk segera membuka pintu kamarnya. Ketika Kanno menggedor pintu kamar Nanamiya sekilas Hamura melihat tangga tali di tangannya dan Hamura mengerti keadaan di lantai 2 sekarang. Pada saat pintu kamar Nanamiya terbuka bersamaan muncul Shigemoto. Setelah itu mereka semua masuk ke kamar Nanamiya yang dipimpin oleh Kanno. Hamura pun menjulurkan tubuhnya ke dan di bawah tampak sesosok bayangan manusia yang ternnyat Hiruko.

Hamura, Kanno, dan Nanamiya menahan tali di beranda untuk menyelamatkan Kenzaki. Lalu setelah menyelematkan Kenzaki mereka juga

(47)

38

menyelamatkan Takagi yang ada di sebelah kamar Kenzaki. Kanno berkata bahwa dia sudah mengunci pintu Area Selatan di lantai 2 untuk menahan zombi. Dan juga dia bilang sepertinya para zombi itu belum sampai ke ruang tengah. Lalu Shigemoto bertanya bagaimana dengan Tatsunami dan Nabari.

Kanno pun menjelaskan kalo dia belum mengecek ke kamar Nabari tetapi Kanno malah menemukan Tatsunami tewas terbunuh di ruang tengah. Pada saat itu Nanamiya merasa lemas dan putus asa.

Mereka melihat mayat Tatsunami yang kepalanya hancur. Disamping mayat Tatsunami ada tulisan “Tinggal seorang lagi. Aku pasti memangsanya”. Pada saat itu ketika Kenzaki melihat mayat Tatsunami dia pun pingsan. Setelah Kenzaki sadar, dia dan Hamura kembali berkumpul bersama peserta yang lainnya untuk mengumpulkan informasi pembunuhan Tatsunami. Kenzaki pun mengatakan bahwa dia diserang kantuk yang sangat hebat sehingga dia tidur sangat terlelap. Bahkan ketika zombi menghancurkan pintu darurat dia tidak sadarkan diri. Satu per satu yang lain pun mengatakan hal yang sama. Kenzaki pun berasumsi bahwa mereka semua diberikan obat tidur. Kekhawatiran pun langsung terlintas di wajah mereka semua.

Analisis:

Pada tahapan ini disebut dengan Crisis yaitu situasi yang sudah semakin memanas dan para tokoh seolah-olah sudah diberi gambaran nasib oleh pengarang. Di cuplikan tersebut dijelaskan bahwa para zombi sudah berhasil menembus pintu darurat lantai 2. Sehingga mempersempit area para tokoh

(48)

39

untuk bertahan hidup. Ketika Hamura dan tokoh yang lain sudah menyelamatkan Kenzaki dan Takagi, Kanno mengatakan bahwa dia menemukan Tatsunami tewas di ruang tengah lantai 2. Setelah mendengar kabar tersebut Nanamiya merasa terpuruk dan putus asa. Lalu disamping mayat Tatsunami ada catata yang bertuliskan “Tinggal seorang lagi, Aku pasti memangsanya” Hal ini menjelaskan akan ada satu korban lagi yang akan mati.

Nanamiya yang merupakan teman Tatsunami pun panik dan marah akan keadaan tersebut. Yang menjelaskan bahwa pembunuh selanjutnya akan membunuh Nanamiya. Lalu ketika mereka berkumpul Kenzaki mengatakan bahwa mereka diberi obat tidur melalui kopi yang semakin membuat Nanamiya curiga akan para tokoh yang lain.

e. Climax

- Cuplikan rangkuman halaman 334-355:

Bermula ketika Kenzaki dan Hamura sedang menyelidiki bagaimana pembunuhan dari Tatsunami. Ketika mereka sedang menyelidiki pintu yang menghubung Area Selatan dan Ruang Tengah hancur setengah karna serangan para zombi. Hamura pun menyuruh Kenzaki lari dan menahan pergerakan para zombi itu. Lalu dia melihat Deme yang sudah menjadi zombi.

Shizuhara datang dan tanpa ragu menyerang langsung tepat ke mata Deme.

Deme pun jatuh, Shizuhara dan Takagi menyelamatkan Hamura dan mengunci pintu Area Timur. Mereka pun berhasil menyelamatkan diri. Para tokoh yang masih hidup pun berkumpul di aula lift lantai. Kecuali Nanamiya

(49)

40

yang mengurung diri di kamarnya. Ketika mereka makan, Kanno merasa ada yang aneh karena biasanya ada musik dari kamar Tatsunami yang berputar.

Ketika selesai makan Shigemoto mengajak yang lain untuk menonton film yang ada di laptopnya supaya tidak merasa sepi. Ketika mendekati film klimaks Shigemoto mengatakan bahwa lagunya tiba-tiba berhenti secara tak wajar satu kali meskipun beberapa detik. Kenzaki pun menanyakan hal tersebut untuk mengumpulkan informasi. Setelah bertanya-tanya tentang informasi tersebut dia pun sekarang sudah memecahkan kasus tersebut dan mengetahui siapa pelakunya.

Tidak lama setelah itu terdengar suara benturan dari arah kamar Nanamiya lalu bunyi alarm. Yang sudah jelas berarti para zombi sudah menjebol pintu darurat lantai 3. Lalu Hamura dan Kanno pergi menyelamatkan Nanamiya agar tidak terkurung oleh zombi. Para zombi pun sudah menguasai Area Selatan sehingga Hamura dan Kanno pun mundur. Kenzaki pun mengusulkan agar melihat keadaan Nanamiya dari atap menggunakan kamera yang digantung tali. Setelah itu mereka melihat hasil rekamannya dan melihat Nanamiya sudah tersungkur di depan pintu kamarnya yang tidak hancur.

Kenzaki pun merasa kesal dan mengatakan tujuan si pelaku sudah tercapai dan Nanamiya pun tewas.

Analisis:

Pada tahap ini disebut Climax yaitu tahap yang dimana konflik sudah berada ditahap yang paling tinggi sehingga para pelaku mendapatkan kadar

(50)

41

nasibnya masing-masing. Situasi puncak disini bermula ketika Kenzaki sudah mengetahui trik pembunuhan Tatsunami tetapi belum mengetahui pelakunya.

Dalam hal ini juga menjelaskan bahwa bahwa para tokoh sudah semakin terpojok akan serangan para zombi mereka tinggal menunggu waktu saja para zombi menguasai area vila. Disaat yang bersamaan ketika mengetahui informasi Shigemoto tentang musik Tatsunami yang tiba-tiba Kenzaki juga sudah mengetahui siapa pelaku dari kasus-kasus tersebut.

f. Falling Action

-Cuplikan halaman 375:

Aaah, ternyata seperti itu.

“Pertama-tama, Hamura-kun mengantar saya kembali ke kamar.”

Aku mengangguk. “Benar. Saya melihat sendiri Hiruko-san membuka pintu dengan kartu kunci. Tidak salah lagi.”

Kini Hiruko-san bisa dikeluarkan dari daftar pelaku. Sisa tiga orang.

“Setelah kau bilang sempat bertemu dengan Takagi-san di koridor?”

“Ya. Aku kesulitan membuka pintu, jadi Hamura membantuku….”

Kembali aku mengangguk atas penjelasan Takagi itu. Takagi juga dikeluarkan dari daftar. Kelima pasang mata mereka yang sudah lolos kini tertuju kepada dua orang. Aku dan Shizuhara.

Mendadak aku seperti diliputi perasaan pasrah.

(51)

42

Ternayata selama ini Hiruko-san sudah menyadarinya. Bahwa aku berbohong. Namun aku tidak tahu sejauh mana dia tahu. Akankah dia mengetahui alasan dibalik kebohongan itu?

Sepasang matanya yang besar seakan mengunciku dengan tatapannya.

‘Nah Hamura-kun. Setelah itu kau bilang kembali ke lantai 3 bersama Shizuhara-san. Aku ingin kau menjawab pertanyaan ini: di antara kalian, siapa yang lebih dulu kembali ke kamar?”

Itu adalah ultimatum. Hanya kami berdua yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Aku….

“Itu Hamura-san”. Terdengar suara. “Saya melihat sendiri dia membuka pintu lalu masuk ke kamar. Saya yakin itu,” kata Shizuhara Fuyumi.

Dialah pelakunya.

Analisis:

Pada cuplikan diatas merupakan tahap Falling Action yaitu kadar konflik sudah menurun sehingga ketegangan dalam cerita sudah mulai mereda sampai menuju penyelesaian cerita. Tahap falling action pada cuplikan ini yaitu ketika Kenzaki Hiruko memberitahu analisisnya tentang pembunuhan yang terjadi di dalam vila. Kenzaki pun mengerucutkan pelakunya sehingga menjadi dua orang yaitu Hamura Yuzuru dan Shizuhara Fuyumi. Disini juga

(52)

43

diketahui bahwa Shizuhara adalah pelaku dari semua kasus pembunuhan di Shijinso.

- Cuplikan halaman 405

Pintu pun tertutup.

“Ah, Mifuyu… Mifuyu…” Takagi memanggil-manggil Shizuhara sambil menangis. Di bahu Shizuhara, yang kini meringkuk di lengan Takagi, tampak luka bekas gigitan yang cukup parah. Siapa pun langsung paham apa artinya.

“Ini namanya hokum karma.” Shizuhara bangkit, lalu perlahan mendorong Takagi. “Tolong jangan bersedih untuk saya, senpai. Siapa yang memangsa kelak akan menjadi mangsa. Ini juga semacam kelanjutan wahyu dari para dewa.” Dia mengambil tombak Takagi, lalu mundur sampai ujung atap.

“Mifuyu”.

“Maaf karena saya sudah menyusahkan Senpai. Teman-teman, sebenarnya kematian tidak menakutkan. Namun, kalau seperti ini terus malah akan memakan waktu terlalu lama bagi saya untuk pergi ke tempat Sachi-san. Jadi izinkan saya menyelesaikannya sendiri.” Sambil berkata demikian, tanpa ragu-ragu Shizuhara menghunjamkan tombak dalam- dalam ke matanya sendiri. Tubuhnya yang mungil tersungkur ke belakang, lalu seolah terlempar ke udara.

(53)

44

“Tidaaaaaaaaaaaaak!!!” Takagi menjerit histeris

Detik berikutnya, terdengar suara bruk jauh di bawah sana.

Suasana kembali hening.

Hujan reda. Empat jam kemudian, barulah helikopter milik regu penyelamat tiba.

Analisis:

Dari cuplikan di atas yang juga menjelaskan tahap falling action. Disini menjelaskan bagaimana Shizuhara yang sudah tergigit dan menganggap bahwa dia terkena karma dari dewa. Karena tahu apa yang terjadinya selanjutnya setelah tergigit Shizuhara pun melakukan bunuh diri. Hal tersebut membuat Takagi sangat bersedih karena kehilanga junior yang dia sayangi.

Lalu empat jam kemudian mereka diselamatkan oleh helicopter milik regu penyelamat.

Alur berdasarkan waktu menurut teori Nurgiyantoro - Cuplikan 1 halaman 13

Dia benar. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Di tengah-tengah para mahasiswa yang nyaris semuanya mengenakan kaus lengan pendek dan celana atau rok sebatas lutut, mahasiswi itu tampak mencolok dengan jaket parka putih lengan panjang yang dia kenakan.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam cuplikan diatas konflik yang terjadi termasuk dalam bentuk pertentangan pribadi yaitu pertentangan antara Masakado dengan pamannya.Dan dalam cuplikan tersebut konflik

Berikut adalah kehidupan tokoh Aomame dan hubungannya dengan orang lain di dalam masyarakat yang dapat dilihat melalui cuplikan berikut..

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan: (1) struktur novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra memiliki (a) tema: Hancurnya persaudaraan dua anak raja akibat rasa iri

karya Asma Nadia meliputi (1) unsur intrinsik yang berupa tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan amanat, (2) nilai religius yang berupa nilai

Dalam sudut pandang ini narator adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata gantinya: ia, dia,

Dengan sudut pandang tersebut, pengarang bebas untuk menonjolkan setiap tokoh secara detail; dan (3) terdapat nilai-nilai pendidikan dalam novel 5Cm yang dibedakan dalam (a)

Sudut pandang orang pertama menggunakan kata “ aku ” oleh pengarang digunakan dalam kalimat langsung dan tidak langsung sehingga membangun novel tersebut merupakan bentuk

Simpulan penelitian ini; 1 Novel Gedhong Setan karya Suparto Brata memiliki unsur intrinsik meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, bahasa, dan sudut pandang; sedangkan unsur