• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latihan 7

Dalam dokumen SURAT PENCATATAN CIPTAAN (Halaman 114-0)

BAB VII BEBERAPA KONSEPSI TOPOLOGI DI R

D. Latihan 7

1. Jika π‘₯ οƒŽ (0, 1) dan ο₯ = π‘šπ‘–π‘› {π‘₯, 1 βˆ’ π‘₯}. Tunjukkan jika |𝑒 βˆ’ π‘₯| ο€Όο₯

maka 𝑒 οƒŽ (0, 1).

2. Tunjukkan bahwa interval (π‘Ž,ο‚₯) dan (βˆ’ο‚₯, π‘Ž) adalah buka, dan interval [π‘Ž,ο‚₯) dan (βˆ’ο‚₯, π‘Ž] adalah tutup.

3. Tulislah bukti sifat himpunan buka (ii) dengan menggunakan induksi matematika.

4. Buktikan bahwa jika 𝐺𝑛 = (0, 1 +1 n) untuk 𝑛 οƒŽ 𝑁 maka



ο‚₯

=1 n

Gn

= (0, 1]

5. Tunjukkan bahwa himpunan semua bilangan asli 𝑁 adalah tutup.

6. Tunjukkan bahwa 𝐴 = { 1n | 𝑛 οƒŽ 𝑁 } tidak tutup, tetapi 𝐴 βˆͺ {0}

himpunan tutup.

7. Tunjukkan bahwa himpunan bilangan rasional 𝑄 tidak buka atau tidak tutup.

8. Tunjukkan bahwa jika 𝐺 himpunan buka dan 𝐹 himpunan tutup maka 𝐺/ 𝐹 adalah himpunan buka dan 𝐹/𝐺 adalah himpunan tutup.

9. Tunjukkan bahwa 𝐴  𝑅 buka jika dan hanya jika setiap titik di 𝐴 merupakan titik interior 𝐴.

10. Tunjukkan bahwa setiap himpunan 𝐴 dan 𝐴𝑐 memiliki tepat sama titik boundary.

11. Tunjukkan bahwa 𝐺  𝑅 himpunan buka jika 𝐺 tidak memuat titik boundary-nya.

12. Tunjukkan bahwa 𝐹  𝑅 himpunan tutup jika 𝐹 memuat semua titik boundary-nya.

13. Jika 𝐴  𝑅 maka tunjukkan bahwa π΄π‘œ adalah himpunan buka dan π΄π‘œ merupakan himpunan buka terbesar yang dimuat 𝐴.

100 | Bab VII Beberapa konsepsi topologi di R

14. Tunjukkan bahwa titik 𝑧 οƒŽ 𝐴o jika dan hanya jika 𝑧 titik interior 𝐴.

15. Misalkan 𝐴 dan 𝐡 subset 𝑅. Tunjukkan bahwa (a) π΄π‘œοƒ 𝐴

(b) (π΄π‘œ)π‘œ = π΄π‘œ

(c) (𝐴 ∩ 𝐡)𝑂 = π΄π‘œ ∩ π΅π‘œ (d) (π΄π‘œ βˆͺ π΅π‘œ)  (𝐴 βˆͺ 𝐡)𝑂

16. Tunjukkan bahwa titik 𝑀 οƒŽS jika dan hanya jika 𝑀 merupakan titik interior 𝑆 atau titik boundary 𝑆.

17. Berikan contoh 𝐴  𝑅 sedemikian hingga π΄π‘œ =  dan A = 𝑅.

18. Jika 𝐺 himpunan buka dan π‘₯ οƒŽ 𝐺 maka tunjukkan bahwa Ax dan Bx pada bukti teorema 𝐡. 7.3 tidak kosong.

19. Tunjukkan bahwa setiap titik pada himpunan Cantor merupakan titik cluster dari 𝐹.

20. Tunjukkan bahwa setiap setiap titik pada himpunan Cantor merupakan titik cluster dari 𝐹𝑐.

21. Tunjukkan bahwa himpunan Cantor merupakan barisan interval tersarang.

22. Tunjukkan bahwa himpunan Cantor tidak kosong

23. Tunjukkan bahwa setiap titik pada himpunan Cantor merupakan titik cluster dari Fc.

24. Tunjukkan bahwa himpunan Cantor merupakan barisan interval tersarang.

25. Tunjukkan bahwa himpunan Cantor tidak kosong.

BAB VIII

BARISAN DAN LIMIT BARISAN REAL

Pada bab ini dibahas mengenai barisan secara konseptual yang akan menghasilkan beberapa karakteristik yang dimilikinya. Mengingat kembali bahwa yang dimaksud dengan suatu barisan pada suatu himpunan 𝑆 adalah suatu fungsi dari himpunan 𝑁 = {1, 2, 3, . . . } dengan daerah hasilnya di 𝑆. Selanjutnya dalam bab ini hanya diperhatikan barisan di 𝑅.

A. Definisi dan Terminologi

Definisi A.8.1: Barisan bilangan real adalah suatu fungsi dari himpunan 𝑁 dengan daerah hasil yang termuat di 𝑅.

Dengan kata lain, suatu barisan di 𝑅 memasangkan setiap bilangan asli 𝑛 = 1, 2, 3, … secara tunggal dengan bilangan real. Bilangan real yang diperoleh tersebut disebut elemen, atau nilai, atau suku dari barisan tersebut. Hal yang biasa untuk menuliskan elemen dari 𝑅 yang berpasangan dengan nilai 𝑋, dengan suatu simbol seperti π‘₯𝑛 (atau π‘Žπ‘›, atau 𝑧𝑛). Jadi bila 𝑋: 𝑁 β†’ 𝑅 suatu barisan, sering kali nilai 𝑋 pada 𝑛 ditulis dengan π‘₯𝑛, dari pada 𝑋(𝑛), sering kali barisan ini ditulis dengan notasi

𝑋, (π‘₯𝑛) , ( π‘₯𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁)

digunakannya kurung untuk menyatakan bahwa urutan barisan tersebut diturunkan dari 𝑁. Jadi, dibedakan antara penulisan 𝑋 = (π‘₯𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁), yang suku-sukunya mempunyai urutan dan himpunan

102 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan

nilai-nilai dari barisan tersebut { π‘₯𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁} yang urutannya tidak diperhatikan. Sebagai ilustrasi, barisan 𝑋 ∢= ( ( βˆ’1 )𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁) yang suku-sukunya berganti-ganti -1 dan 1, sedangkan himpunan nilai barisan tersebut { ( βˆ’1 )𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁} sama dengan {βˆ’1, 1}.

Dalam mendefinisikan barisan sering lebih mudah dengan menulis secara berurutan suku-sukunya, dan berhenti setelah aturan formasinya kelihatan. Jadi kita boleh menulis

𝑋 ∢= (1 2,1

4,1 6,1

8 … )

Meskipun metode yang lebih baik adalah bentuk umum 𝑋 = ( 1

2𝑛 ∢ 𝑛 ∈ 𝑁)

atau secara sederhana 𝑋 = (2𝑛1) cara lain menentukan nilai π‘₯1dan memberi rumus untuk π‘₯𝑛+1 (𝑛 β‰₯ 1) secara umum dapat ditetapkan π‘₯1 dan memberikan rumus untuk π‘₯𝑛+1 dari π‘₯1, π‘₯2,…,π‘₯𝑛. barisan ini dikatan secara induktif atau rekursif.

Definisi A.8.2: Barisan 𝑋 = (π‘₯𝑛) dalam 𝑅 adalah konvergen pada π‘₯ ∈R atau π‘™π‘–π‘šπ‘–π‘‘ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘–(𝒙𝒏) jika setiap ο₯> 0 maka terdapat bilangan asli 𝐾(ο₯) untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾(ο₯) maka suku-suku π‘₯𝑛 memenuhi

|π‘₯π‘›βˆ’ x| < πœ€. Jika barisan memiliki limit disebut bahwa barisannya konvergen, jika limitnya tidak ada maka barisannya divergen.

Catatan:

Notasi 𝐾(ο₯) digunakan untuk menekankan 𝐾 bergantung pada ο₯.

Namun sering kali lebih mudah untuk menuliskan 𝐾 daripada 𝐾(ο₯).

Dalam banyak nilai β€œkecil” nilai ο₯ dari K untuk jarak |π‘₯π‘›βˆ’ x| antara 𝒙𝒏 dan π‘₯ kurang dari ο₯ untuk semua 𝑛 β‰₯ π‘˜ = 𝐾(ο₯)

πΏπ‘–π‘š 𝑋 = π‘₯ atau π‘™π‘–π‘š 𝒙𝒏 = π‘₯.

digunakan simbol 𝒙𝒏 β†’ 𝐱 menunjukkan secara intuitif nilai 𝒙𝒏

β€œmendekati” bilangan π‘₯ seperti 𝑛 β†’ ∞.

Adalah penting untuk menyadari bahwa konvergensi (atau divergensi) dari suatu barisan 𝑋 = (π‘₯𝑛) hanya bergantung pada 'β€˜perilaku akhir’ dari ketentuan. Dengan ini kita berarti bahwa jika, untuk setiap bilangan asli π‘š, kita menjatuhkan suku π‘š pertama dari barisan, maka barisan yang dihasilkan π‘‹π‘š menyatu jika dan hanya jika barisan orisinal menyatu, dan dalam hal ini, batasnya adalah sama. Kami akan menyatakan ini secara resmi setelah kami memperkenalkan gagasan β€˜ekor’ dari suatu barisan.

Definisi A.8.3

Jika 𝑋 = (π‘₯1, π‘₯2, … , π‘₯𝑛, … ) adalah barisan bilangan real dan jika π‘š adalah bilangan asli, maka π‘š βˆ’ π‘’π‘˜π‘œπ‘Ÿ dari 𝑋 adalah barisan π‘‹π‘š = (π‘‹π‘š+𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁) = (π‘‹π‘š+1, π‘‹π‘š+2, … )

Sebagai ilustrasi 3 βˆ’ π‘’π‘˜π‘œπ‘Ÿ barisan dari 𝑋 = (2,4,6,8,10, . . .2𝑛, . . . ) adalah barisan 𝑋3 = (8,10,12, . . .2𝑛 + 6, . . . )

B. Beberapa Teorema

Teorema B.8.1(πΎπ‘’π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› πΏπ‘–π‘šπ‘–π‘‘): Suatu barisan di R memiliki paling banyak satu limit.

104 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan

Bukti:

Misalkan untuk π‘₯β€² dan π‘₯β€²β€² kedua Limit dari (𝒙𝒏) untuk setiap ο₯ο€Ύ 0 terdapat 𝑲, sedemikian hingga |π‘₯π’βˆ’ 𝐱′| < ο₯

𝟐 untuk semua 𝑛 ο‚³ 𝐾’ , dan 𝐾” sedemikian hingga |π’™π’βˆ’ 𝒙"| < ο₯

𝟐 untuk semua 𝑛 ο‚³ 𝐾” . Ambil K yang lebih besar dari 𝐾’ dan 𝐾” kemudian untuk 𝑛 ο‚³ 𝐾 kita diterapkan ketidak samaan segitiga untuk mendapatkan

|π’™β€²βˆ’ π‘₯β€²β€²| = |π’™β€²βˆ’ 𝒙𝒏 + π’™π’βˆ’ 𝒙"|

≀ |π’™β€²βˆ’ 𝒙𝒏| + |π’™π’βˆ’ 𝒙"| < ο₯

2+ο₯

2= πœ€

karena ο₯ >0 adalah sebarang bilangan positif disimpulkan bahwa π’™β€²βˆ’ 𝒙′′ = 0 untuk π‘₯ ∈ 𝑅 π‘‘π‘Žπ‘› ο₯ο€Ύ 0 disebut ο₯βˆ’ π‘›π‘’π‘–π‘”β„Žπ‘π‘œπ‘Ÿβ„Žπ‘œπ‘œπ‘‘ dari x yaitu himpunan π‘‰πœ€ (π‘₯) = {𝑒 ∈ 𝑅: |𝑒 βˆ’ π‘₯ | < ο₯}. Karena 𝑒 ∈ π‘‰πœ€ (π‘₯) ekuivalen | 𝑒 βˆ’ π‘₯| <ο₯ definisi konvergen dari barisan dapat diformulasikan dalam hal suku-suku terdekatnya. Barisan 𝒙𝒏

konvergen ke π‘₯ akan diberikan dalam pernyataan berbeda pada beberapa teorema berikut.

Teorema B.8.2

𝑋 = (π‘₯𝑛) adalah barisan bilangan real dan π‘₯ ∈ 𝑅 Pernyataan berikut ekuivalen.

(a) 𝑋 π‘˜π‘œπ‘›π‘£π‘’π‘Ÿπ‘”π‘’π‘› π‘˜π‘’ π‘₯.

(b) untuk setiap ο₯ >0, terdapat bilangan asli 𝐾 sehingga untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾, suku-suku π‘₯𝑛 memenuhi |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < ο₯.

(c) untuk setiap ο₯ > 0, terdapat bilangan asli 𝐾 sehingga untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾, suku-suku π‘₯𝑛 memenuhi π‘₯ βˆ’ ο₯ < π‘₯𝑛 < π‘₯ + πœ€.

(d) untuk setiap ο₯βˆ’ π‘›π‘’π‘–π‘”β„Žπ‘π‘œπ‘Ÿβ„Žπ‘œπ‘œπ‘‘ π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘₯, β€²π‘‰πœ€ (π‘₯)β€² terdapat bilangan asli 𝐾 sehingga untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾, suku-suku π‘₯𝑛 milik π‘‰πœ€(π‘₯).

Bukti:

Ekivalensi dari (a) dan (b) merupakan definisi. Sedangkan ekivalensi dari (b), (c), dan (d) mengikuti implikasi berikut:

(a) β‡’ (b) Jelas (dari definisi).

(b) β‡’ (c) |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| <ο₯ ⇔ -ο₯ < π‘₯𝑛- π‘₯ <ο₯ ⇔ π‘₯ - ο₯ < π‘₯𝑛 < π‘₯ + ο₯. (c) β‡’ (d) π‘₯ βˆ’ ο₯ < π‘₯𝑛 < π‘₯ + ο₯ ⇔ π‘₯𝑛 οƒŽ (π‘₯ - ο₯, π‘₯ + ο₯) ⇔ π‘₯𝑛 οƒŽ 𝑉ο₯ (π‘₯).

(d) β‡’ (a) π‘₯𝑛 οƒŽ 𝑉ο₯ (π‘₯) ⇔ π‘₯ βˆ’ ο₯ < π‘₯𝑛 ο€Ό π‘₯ + ο₯⇔ |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| <ο₯. Catatan:

Definisi limit barisan bilangan real digunakan untuk membuktikan bahwa nilai π‘₯ yang telah ditetapkan merupakan limit. Hal ini tidak menentukan berapa nilai limit seharusnya. Sehingga diperlukan latihan untuk sampai kepada dugaan (conjecture) nilai limit dengan perhitungan langsung suku-suku barisan tersebut. Dalam hal ini komputer akan sangat membantu.

Namun demikian untuk menunjukkan bahwa suatu barisan 𝑋 = (π‘₯𝑛) tidak konvergen ke π‘₯, cukup dengan memilih πœ€0 > 0 sehingga berapa pun nilai 𝐾 yang diambil, diperoleh suatu π‘›π‘˜ > 𝐾 sehingga π‘₯π‘›π‘˜ tidak terletak dalam π‘‰πœ€ (π‘₯).

106 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan

Teorema B.8.3: Misalkan 𝑋 = (π‘₯𝑛 ∢ 𝑛 ∈ 𝑁) suatu barisan bilangan real dan π‘š ∈ 𝑁. Maka π‘’π‘˜π‘œπ‘Ÿ βˆ’ π‘š adalah π‘‹π‘š = (π‘₯π‘š+𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁) dari 𝑋 konvergen jika dan hanya jika 𝑋 konvergen, dalam hal ini, lim π‘‹π‘š = lim 𝑋.

Bukti:

Ambil sebarang 𝑝 ∈ 𝑁,

suku ke-𝑝 dari π‘‹π‘š merupakan suku ke (𝑝 + π‘š) dari 𝑋.

Dengan cara yang sama bila π‘ž > π‘š, maka suku ke-π‘ž dari 𝑋 merupakan suku ke (π‘ž βˆ’ π‘š) dari π‘‹π‘š.

Asumsikan 𝑋 konvergen ke π‘₯. Maka untuk sebarang πœ€ > 0, bila suku-suku dari 𝑋 untuk 𝑛 β‰₯ 𝐾(πœ€) memenuhi |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < πœ€, maka suku-suku dari π‘‹π‘š dengan π‘˜ β‰₯ 𝐾(πœ€) βˆ’ π‘š memenuhi |π‘₯π‘˜ βˆ’ π‘₯| < πœ€. Jadi kita dapat memilih πΎπ‘š (πœ€) = 𝐾(πœ€) βˆ’ π‘š, sehingga π‘‹π‘š juga konvergen ke π‘₯.

Sebaliknya, bila suku-suku dari π‘‹π‘š untuk π‘˜ β‰₯ πΎπ‘š (πœ€) memenuhi

|π‘₯π‘˜ βˆ’ π‘₯| < πœ€, maka suku-suku dari 𝑋 dengan 𝑛 β‰₯ 𝐾(πœ€) + π‘š memenuhi

|π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < πœ€.

Jadi kita dapat memilih 𝐾 (πœ€) = πΎπ‘š (πœ€) + π‘š.

Karena itu, 𝑋 konvergen ke π‘₯ jika dan hanya jika π‘‹π‘š konvergen ke π‘₯.

Kadang-kadang kita akan mengatakan suatu barisan 𝑋 pada akhirnya mempunyai sifat tertentu bila beberapa ekor 𝑋 mempunyai sifat tersebut. Sebagai contoh, kita katakan bahwa barisan (3, 4,5, 5, 5, . . . ,5, . . . ) pada akhirnya β€œkonstan”. Di lain pihak, barisan (3, 5, 3, 5, . . . , 3, 5, . . . ) pada akhirnya tidaklah konstan.

Gagasan kekonvergenan dapat pula dinyatakan dengan begini: Suatu barisan 𝑋 konvergen ke π‘₯ jika dan hanya jika suku-suku dari 𝑋 pada akhirnya terletak di dalam πœ€ βˆ’ π‘›π‘’π‘–π‘”π‘π‘œπ‘Ÿβ„Žπ‘œπ‘œπ‘‘ dari π‘₯.

Dalam menetapkan bahwa bilangan π‘₯ adalah limit dari suatu barisan (𝑋𝑛), kita sering mencoba untuk menyederhanakan perbedaan

|π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| sebelum mempertimbangkan suatu πœ€ > 0 dan menemukan 𝐾(πœ€) sebagaimana disyaratkan oleh definisi limit. Ini dilakukan di beberapa contoh yang dibahas di bawah. Hasil selanjutnya adalah pernyataan yang lebih formal dari ide ini, dan contoh-contoh yang mengikuti menggunakan pendekatan ini.

Teorema B.8.4

Misalkan 𝑋𝑛 barisan bilangan real dan π‘₯ ∈ 𝑅. Bila (π‘Žπ‘›) merupakan suatu barisan bilangan real positif dengan π‘™π‘–π‘š (π‘Žπ‘›) = 0 dan jika untuk suatu konstanta 𝐢 > 0 dan suatu π‘š ∈ 𝑁, dan berlaku

|π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < πΆπ‘Žπ‘› untuk semua 𝑛 β‰₯ π‘š maka π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛) = π‘₯

Bukti :

Misalkan diberikan πœ€ > 0, karena lim (π‘Žπ‘›) = 0, maka terdapat bilangan asli 𝐾 = 𝐾 (πœ€/𝐢), sehingga bila 𝑛 β‰₯ 𝐾 maka

π‘Žπ‘› = |π‘Žπ‘›βˆ’ 0| < πœ€/𝐢.

Karena itu hal ini mengakibatkan bila 𝑛 β‰₯ 𝐾dan 𝑛 β‰₯ π‘š, maka

|π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| ≀ πΆπ‘Žπ‘› < 𝐢(πœ€/𝐢) = πœ€ atau |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < πœ€ Karena πœ€ > 0 sebarang, disimpulkan bahwa π‘₯ = π‘™π‘–π‘š (𝑋𝑛)

108 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan

Maka sepuluh suku pertama barisan Fibonacci dapat dilihat sebagai 𝐹 = (1, 1, 2, 3,5, 8, 13, 21, 34, 55, . . . )

Sekarang akan kita kenalkan cara-cara penting dalam mengkonstruksi barisan baru dari barisan-barisan yang diberikan.

Contoh C.8.2

oleh karena itu dapat ditegaskan bahwa barisan (1

𝑛) konvergen ke 0.

(b) π‘™π‘–π‘š ( 𝟏

π’πŸ+𝟏) = 0,

Diberikan sebarang ο₯ > 0. Untuk menentukan 𝐾, pertama perhatikan bahwa jika 𝑛 Ο΅ 𝑁 maka

| 𝟏

π’πŸ+𝟏| < 𝟏

π’πŸ β‰€πŸ

𝒏 sekarang pilih 𝐾 sedemikian hingga 1

𝐾 <ο₯. Seperti pada poin (a) di

Jadi telah ditunjukkan bahwa limit dari barisan tersebut 0.

(c) π‘™π‘–π‘š (πŸ‘π’+𝟐

𝒏+𝟏) = 3

Diberikan ο₯ > 0, akan didapatkan ketidaksamaan

|πŸ‘π’+𝟐

𝒏+𝟏 βˆ’ πŸ‘| < ο₯ (8.1) apabila nilai 𝑛 cukup besar,

Pertama menyederhanakan ekspresi di bagian kiri.

110 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan dan disini (8.1) berlaku. Dengan demikian limit dari barisan tersebut adalah 3. jika diberikan sebarang πœ€ > 0 dapat dilihat bahwa

𝑏𝑛 < πœ€β‡” 𝑛 𝑙𝑛 𝑏 < ln πœ€β‡” 𝑛 > ln πœ€

ln 𝑏.

(ketidaksamaan terakhir adalah kebalikannya karena ln 𝑏 < 0) jadi jika dipilih bilangan asli 𝐾 dengan 𝐾 >ln πœ€

Catatan: Permainan K(ο₯) dalam konvergensi barisan, salah satu cara untuk menjaga hubungan antara ο₯ dan K sebagai permainan yang disebut 𝐾(ο₯). Dalam permainan ini pemain A menegaskan bahwa angka π‘₯ tertentu adalah limit dari suatu barisan (π‘₯𝑛). Pemain B menantang pernyataan ini dengan memberikan pemain A nilai tertentu untuk ο₯ > 𝟎 pemain A harus menanggapi tantangan dengan menghasilkan nilai K sedemikian rupa sehingga |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < ο₯ untuk semua 𝑛 > 𝐾. Jika pemain A selalu mampu menemukan nilai K yang memenuhi, maka dia menang, namun jika pemain B dapat memberikan nilai spesifik ο₯ > 𝟎 untuk pemain A tidak dapat merespon secara memadai, maka pemain B menang dan kami menyimpulkan bahwa barisannya konvergen ke π‘₯.

Untuk menunjukkan bahwa π‘₯ = (π‘₯𝑛) tidak konvergen ke π‘₯ cukup ditunjukkan sebuah bilangan ο₯𝟎 > 0 sehingga tidak dapat memilih bilangan asli K. Seorang dapat menemukan π’π’Œ yang memenuhi π’π’Œ β‰₯ π’Œ seperti |π’™π’π’Œβˆ’ 𝒙| β‰₯ ο₯𝟎 (akan di bahas lebih rinci dalam bab 13)

Contoh C.8.3

Barisan (0, 2, 0, 2, . . , 0, 2, … ) tidak konvergen ke 0.

Jika pemain A menegaskan bahwa 0 adalah limit dari barisan ia akan kehilangan permainan K(ο₯) ketika pemain B memberi nilai ο₯ < 𝟐 untuk memastikan maka pemain B memberi nilai ο₯0 = 1 maka pemain A tidak dapat menemukan bilangan K. selanjutnya pemain B merespon dengan memilih bilangan genap 𝑛 > 𝐾. nilai yang sesuai adalah 𝒙𝒏 = 2 maka dari itu |π’™π’βˆ’ 𝟎| = 2 > 1 maka 0 bukan limit barisan.

112 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan memberikan bukti kedua yang mengilustrasikan penggunaan πΎπ‘’π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘›π‘œπ‘’π‘™π‘™π‘– (lihat contoh 5 bab 2).

Khususnya, jika 𝑏 = 0,8, sehingga π‘Ž = 0,25, dan jika kita diberikan πœ€ = 0,01, maka ketidaksamaan sebelumnya memberi kita 𝐾(πœ€) =0,014 = 400. Membandingkan dengan contoh 𝐢8.2. (𝑒), dimana kita memperoleh 𝐾 = 21, kita melihat metode estimasi tidak memberikan nilai β€œterbaik” dari 𝐾. Namun, untuk tujuan menetapkan limit, ukuran 𝐾 tidak terduga.

(c) Bila 𝐢 > 0, maka lim(𝑐𝑛) = 1.

Untuk kasus 𝐢 = 1 mudah karena lim(𝑐1𝑛) = 1 merupakan barisan konstan (1, 1, 1, . . . ) yang jelas konvergen ke 1.

Bila 𝑐 > 1, maka 𝑐1𝑛 = 1 + 𝑑𝑛 untuk suatu 𝑑𝑛 > 0. Dengan menggunakan π‘˜π‘’π‘‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘›π‘œπ‘’π‘™π‘™π‘– π‘π‘œπ‘›π‘‘π‘œβ„Ž 5 (π‘π‘Žπ‘ 2 β„Žπ‘Žπ‘™. 31)

C = (1+ 𝑑𝑛)𝑛 β‰₯ 1 + 𝑛𝑑𝑛 untuk 𝑛 ∈ 𝑁

Karenanya 𝑐 βˆ’ 1 β‰₯ 𝑛𝑑𝑛, sehingga 𝑑𝑛 ≀ (c βˆ’ 1)/n. Akibatnya akan mempunyai

|𝑐1π‘›βˆ’ 1| = 𝑑𝑛 ≀ (𝑐 βˆ’ 1)1

𝑛 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁.

Dengan menggunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Žπ΅. 8.4 diperoleh lim(𝑐1𝑛) = 1 maka c > 1.

Sedangkan bila 0 < C < 1; maka (𝑐𝑛1) = 1/(1 + β„Žπ‘›) untuk suatu β„Žπ‘› >

0. Dengan menggunakan π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘›π‘œπ‘’π‘™π‘™π‘– diperoleh

𝑐 = 1

(1 + β„Žπ‘›)𝑛 ≀ 1

1 + π‘›β„Žπ‘› < 1 π‘›β„Žπ‘›

yang diikuti oleh 0 < β„Žπ‘› < 1/𝑛𝑐 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁. Karenanya kita mempunyai

0 < 1 – 𝐢1𝑛 = β„Žπ‘›

1 + β„Žπ‘› < β„Žπ‘› < 1 𝑛𝑐 Sehingga:

|𝐢1π‘›βˆ’ 1| < (1

𝑐)1

𝑛 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁.

Dengan menggunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 8.4 diperoleh, π‘™π‘–π‘š(𝑐𝑛1) = 1 apabila 0 < c < 1.

(d) π‘™π‘–π‘š (𝑛𝑛1) = 1.

Karena 𝑛𝑛1 > 1 untuk 𝑛 > 1. Akibatnya dapat ditulis

114 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan menurut sifat π΄π‘Ÿπ‘β„Žπ‘–π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘  terdapat bilangan asli π‘πœ€ sehingga 𝑁2

πœ€ < πœ€2.

1. Barisan (π‘₯𝑛) didefinisikan oleh rumus suku ke – n. Tuliskan lima suku pertama dalam setiap barisan berikut:

(a) π‘₯𝑛 ∢= 1 + (βˆ’1)𝑛

2. Diberikan beberapa suku pertama barisan (π‘₯𝑛) berikut. Suku-suku barisan tersebut membentuk pola bilangan, sehingga Suku- suku-suku berikutnya dapat ditentukan. Tentukan Rumus untuk suku-suku ke-n dari barisan π‘₯𝑛 tersebut.

(a) 5,7,9,11, . .. 5. Gunakan definisi limit dari barisan untuk menunjukkan

berlakunya limit-limit berikut.

116 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan

7. Misalkan π‘₯𝑛 ∢= 1

ln(𝑛+1) untuk 𝑛 ∈ 𝑁

(a) Gunakan definisi limit untuk menunjukkan lim (π‘₯𝑛) = 0 (b) Temukan nilai spesifik 𝐾(πœ€) seperti yang diperlukan dalam

definisi limit untuk masing-masing (i) πœ€ = 1

2 (ii) πœ€ = 1

10

8. Buktikan bahwa lim (π‘₯𝑛) = 0 jika dan hanya jika (|π‘₯𝑛|) = 0. Berikan contoh untuk menunjukkan bahwa kekonvergennan dari (|π‘₯𝑛|) tidak mengimplikasikan kekonvergenan dari (π‘₯𝑛).

9. Tunjukkan bahwa jika π‘₯𝑛 β‰₯ 0 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁 dan lim (π‘₯𝑛) =

18. Jika lim (xn) = π‘₯ > 0, tunjukkan bahwa terdapat bilangan asli K sedemikian hingga jika n β‰₯ K, maka 1

2π‘₯ < π‘₯𝑛 < 2π‘₯.

118 | Bab VIII Barisan dan Limit Barisan

< π‘π‘™π‘Žπ‘›π‘˜ >

BAB IX

KEKONVERGENAN BARISAN BILANGAN REAL A. Definisi dan Terminologi

Pada bagian ini akan diperoleh beberapa hasil yang memungkinkan untuk mengevaluasi limit-limit barisan bilangan real tertentu. Hasil ini akan memperluas koleksi sifat-sifat barisan konvergen. Dimulai dengan membangun sifat-sifat penting dari barisan konvergen yang akan diperlukan di bagian ini dan selanjutnya.

Definisi A.9.1: Barisan bilangan real 𝑋 = (π‘₯𝑛) dikatakan terbatas jika ada bilangan real 𝑀 > 0 sedemikian hingga |π‘₯𝑛| ≀ 𝑀 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁.

Jadi, barisan (π‘₯𝑛) terbatas jika dan hanya jika {π‘₯𝑛: 𝑛 ∈ 𝑁} nilai-nilainya adalah subset terbatas dari 𝑅.

Sekarang akan didefinisikan operasi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian barisan. Definisi ini akan memudahkan kita dalam memeriksa bagaimana proses limit berinteraksi dengan operasi-operasi tersebut.

Definisi A.9.2: Jika 𝑋 = (𝑋𝑛), π‘Œ = (π‘Œπ‘›) dan 𝑍 = (𝑍𝑛) adalah barisan bilangan real serta 𝑐 ∈ 𝑅, maka didefinisikan jumlah, selisih, perkalian dan pembagian sebagai berikut:

(i) 𝑋 + π‘Œ: = (π‘₯𝑛+ 𝑦𝑛) (ii) 𝑋 βˆ’ π‘Œ ≔ (π‘₯𝑛 βˆ’ 𝑦𝑛) (iii) 𝑋. π‘Œ: = (π‘₯𝑛. 𝑦𝑛) (iv) 𝑐𝑋 ≔ (𝑐π‘₯𝑛).

120 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

(v) 𝑋/𝑍 = (π‘₯𝑛/𝑧𝑛), dengan 𝑧𝑛 β‰  0 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁

B. Beberapa Teorema

Teorema B.9.1: Barisan bilangan real yang konvergen adalah terbatas Bukti:

Anggaplah π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛) = π‘₯ dan misalkan πœ€ = 1. Maka ada bilangan asli 𝐾 = 𝐾(1) sedemikian hingga |π‘₯𝑛 βˆ’ π‘₯| < 1 untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾. Dengan menerapkan Ketidaksamaan segitiga untuk 𝑛 β‰₯ 𝐾 diperoleh

|π‘₯𝑛| = |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯ + π‘₯| ≀ |π‘₯𝑛 βˆ’ π‘₯| + |π‘₯| < 1 + |π‘₯|

Jika diatur,

𝑀 ≔ sup {|π‘₯1|, |π‘₯2|, … , |π‘₯π‘˜βˆ’1|, 1 + |π‘₯|}

Maka berlakulah bahwa |π‘₯𝑛| ≀ 𝑀 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁.

Catatan:

Model pembuktian lain menggunakan Bahasa πœ€ βˆ’ π‘›π‘’π‘–π‘”β„Žπ‘π‘œπ‘Ÿβ„Žπ‘œπ‘œπ‘‘ π‘₯ Barisan bilangan real (π‘₯𝑛) konvergen adalah terbatas.

Jika π‘‰πœ€(π‘₯) adalah πœ€ βˆ’ π‘›π‘’π‘–π‘”β„Žπ‘π‘œπ‘Ÿβ„Žπ‘œπ‘œπ‘‘ π‘₯ dengan π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛) = π‘₯, maka semua kecuali sejumlah terhingga dari suku-suku barisan milik π‘‰πœ€(π‘₯). Oleh karena itu, karena π‘‰πœ€(π‘₯) dengan jelas terbatas dan himpunan terhingga juga terbatas, maka barisannya terbatas.

Teorema B.9.2: (a) Misalkan 𝑋 = (π‘₯𝑛) π‘‘π‘Žπ‘› π‘Œ = (𝑦𝑛) merupakan barisan bilangan real yang masing-masing konvergen ke π‘₯ dan 𝑦, dan misalkan 𝑐 ∈ 𝑅. Maka barisan 𝑋 + π‘Œ, 𝑋 βˆ’ π‘Œ, 𝑋. π‘Œ, π‘‘π‘Žπ‘› 𝑐𝑋 masing-masing konvergen ke π‘₯ + 𝑦, π‘₯ βˆ’ 𝑦, π‘₯𝑦, π‘‘π‘Žπ‘› 𝑐π‘₯.

(b) Jika 𝑋 = (π‘₯𝑛) konvergen ke π‘₯ dan 𝑍 = (𝑧𝑛) adalah barisan bilangan real tidak nol yang konvergen ke 𝑧 dan jika 𝑧 β‰  0, maka hasil bagi barisan 𝑋/𝑍 konvergen ke π‘₯/𝑧.

Bukti:

(a) Untuk menunjukkan bahwa lim(π‘₯𝑛+ 𝑦𝑛) = π‘₯ + 𝑦, perlu diperkirakan besarnya |(π‘₯𝑛+ 𝑦𝑛) βˆ’ (π‘₯ + 𝑦)|. Untuk melakukan ini digunakan π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘”π‘–π‘‘π‘–π‘”π‘Ž 𝐡. 3.2 untuk mendapatkan

|(π‘₯𝑛+ 𝑦𝑛) βˆ’ (π‘₯ + 𝑦)| = |(π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯) + (π‘¦π‘›βˆ’ 𝑦)|

≀ |(π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯) + (π‘¦π‘›βˆ’ 𝑦)|

Karena (π‘₯𝑛) ⟢ π‘₯ jika πœ€ > 0 terdapat bilangan asli 𝐾1 sehingga jika 𝑛 β‰₯ 𝐾1, maka |π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < πœ€/2;

Begitu juga karena (𝑦𝑛) ⟢ 𝑦 ada bilangan asli 𝐾2 sehingga jika 𝑛 β‰₯ 𝐾2, maka |π‘¦π‘›βˆ’ 𝑦| < πœ€/2. Oleh karena itu jika dipilih 𝐾(πœ€) ≔ sup {𝐾1, 𝐾2}, berarti bahwa jika 𝑛 β‰₯ 𝐾(πœ€) maka,

|(π‘₯𝑛+ 𝑦𝑛) βˆ’ (π‘₯ βˆ’ 𝑦)| ≀ |(π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯) + (π‘¦π‘›βˆ’ 𝑦)| < 1 2πœ€ +1

2πœ€ = πœ€

Karena πœ€ > 0 sebarang, dapat disimpulkan bahwa 𝑋 + π‘Œ = (π‘₯𝑛 + 𝑦𝑛) konvergen ke π‘₯ + 𝑦.

Dengan argumen yang sama dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa 𝑋 βˆ’ π‘Œ = (π‘₯π‘›βˆ’ 𝑦𝑛) konvergen ke (π‘₯ βˆ’ 𝑦).

Untuk menunjukkan bahwa 𝑋. π‘Œ = (π‘₯𝑛. 𝑦𝑛) konvergen ke π‘₯𝑦, dibuat perkiraan besarnya,

|π‘₯π‘›π‘¦π‘›βˆ’ π‘₯𝑦| ≀ |(π‘₯π‘›π‘¦π‘›βˆ’ π‘₯𝑛𝑦) + (π‘₯𝑛𝑦 βˆ’ π‘₯𝑦)|

≀ |π‘₯𝑛(𝑦𝑛 βˆ’ 𝑦) + (π‘₯𝑛 βˆ’ π‘₯)𝑦| = |π‘₯𝑛||(π‘¦π‘›βˆ’ 𝑦)| + |(π‘₯𝑛 βˆ’ π‘₯)||𝑦|

122 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

Menurut π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.1 terdapat bilangan real 𝑀1 > 0 seperti pada

|π‘₯𝑛| ≀ 𝑀1 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁 dan jika ditetapkan 𝑀 ≔ sup {𝑀1, |𝑦| }. Maka diperoleh,

|π‘₯π‘›π‘¦π‘›βˆ’ π‘₯𝑦| ≀ 𝑀|𝑦𝑛 βˆ’ 𝑦| + 𝑀|π‘₯𝑛 βˆ’ π‘₯|

Dari kekonvergenan 𝑋 dan π‘Œ kita simpulkan bahwa jika πœ€ > 0 diberikan, maka ada bilangan asli 𝐾1 dan 𝐾2 sehingga jika 𝑛 β‰₯ 𝐾1 maka

|π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| < πœ€/2𝑀, dan jika 𝑛 β‰₯ 𝐾2 maka |π‘¦π‘›βˆ’ 𝑦| < πœ€/2𝑀. Sekarang jika dimisalkan 𝐾(πœ€) = sup {𝐾1, 𝐾2}; maka untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾(πœ€) disimpulkan bahwa

|π‘₯π‘›π‘¦π‘›βˆ’ π‘₯𝑦| ≀ 𝑀|𝑦𝑛 βˆ’ 𝑦| + 𝑀|π‘₯𝑛 βˆ’ π‘₯|

< 𝑀 ( πœ€

2𝑀) + 𝑀 ( πœ€

2𝑀) = πœ€

Karena πœ€ > 0 adalah sebarang, ini membuktikan bahwa barisan bilangan real 𝑋. π‘Œ = (π‘₯𝑛𝑦𝑛) kenvergen ke π‘₯𝑦.

Dengan cara yang sama dapat dibuktikan bahwa 𝑐𝑋 = (𝑐π‘₯𝑛) konvergen ke 𝑐π‘₯.

Atau tanpa mengurangi keumuman dapat mengambil π‘Œ menjadi barisan konstan (𝑐, 𝑐, 𝑐, . . . . ). maka didapat barisan π‘Œ. 𝑋 = (𝑐π‘₯𝑛) konvergen ke 𝑐π‘₯.

(b) selanjutnya akan ditunjukkan bahwa jika 𝑍 = (𝑧𝑛) merupakan barisan bilangan tidak nol yang konvergen dengan π‘™π‘–π‘šπ‘–π‘‘ 𝑧 tidak nol, maka barisan (1/𝑧𝑛) konvergen ke-kebalikannya yaitu 1/𝑧.

Pertama-tama misalkan 𝛼 =1

2|𝑧| berarti bahwa 𝛼 > 0. Karena lim(𝑧𝑛) = 𝑧, ada bilangan 𝐾1 sedemikian hingga jika 𝑛 β‰₯ 𝐾1 maka

|π‘§π‘›βˆ’ 𝑧| < 𝛼. Dengan menggunakan πΆπ‘œπ‘Ÿπ‘œπ‘™π‘™π‘Žπ‘Ÿπ‘¦ 𝑩. πŸ‘. πŸ‘ (𝑖) dari

(π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘˜π‘ π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘Žπ‘› π‘ π‘’π‘”π‘–π‘‘π‘–π‘”π‘Ž) yang βˆ’π›Ό ≀ βˆ’|π‘§π‘›βˆ’ 𝑧| ≀ |𝑧𝑛| βˆ’ |𝑧|untuk 𝑛 β‰₯

Sekarang, jika diberikan πœ€ > 0, ada bilangan asli 𝐾2 sehingga jika 𝑛 β‰₯ 𝐾2 maka |𝑧𝑛𝑧| < 1

2πœ€|𝑧|2. Oleh karena itu, jika ditetapkan 𝐾(πœ€) = sup {𝐾1, 𝐾2}, maka |𝑧1

π‘›βˆ’1

𝑧| < πœ€ untuk semua 𝑛 > 𝐾(πœ€) Karena πœ€ > 0 sebarang, maka

lim (1

Beberapa hasil perhitungan di atas, π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.2 dapat diperluas, untuk sejumlah terhingga barisan konvergen dengan menggunakan πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘ π‘– π‘€π‘Žπ‘‘π‘’π‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘˜π‘Ž.

124 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

Oleh karena itu, jika π‘˜ ∈ 𝑁 dan jika 𝐴 = (π‘Žπ‘›) adalah barisan yang konvergen, maka

(3) lim(π‘Žπ‘›π‘˜) = (π‘™π‘–π‘š(π‘Žπ‘›))π‘˜ bukti sebagai latihan.

Teorema B.9.3: Jika 𝑋 = (π‘₯𝑛) adalah barisan bilangan real konvergen dan jika π‘₯𝑛 β‰₯ 0 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁, maka π‘₯ = lim(π‘₯𝑛) β‰₯ 0.

Bukti:

Anggaplah kesimpulannya tidak benar dan bahwa π‘₯ < 0; maka πœ€ ≔ βˆ’π‘₯ adalah positif. Karena 𝑋 konvergen ke π‘₯, ada bilangan asli K sedemikian hingga π‘₯ βˆ’ πœ€ < π‘₯𝑛 < π‘₯ + πœ€ untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾.

Secara khusus, diperoleh π‘₯π‘˜ < π‘₯ + πœ€ = π‘₯ + (βˆ’π‘₯) = 0. Tetapi ini bertentangan dengan hipotesis bahwa π‘₯𝑛 β‰₯ 0 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁.

Dengan demikian, kontradiksi. Jadi haruslah π‘₯ β‰₯ 0.

Teorema B.9.4: Jika 𝑋 = (π‘₯𝑛) dan π‘Œ = (𝑦𝑛) adalah barisan bilangan real konvergen dan jika π‘₯𝑛 ≀ 𝑦𝑛 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁, maka π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛) ≀ π‘™π‘–π‘š(𝑦𝑛).

Bukti:

Misalkan 𝑧𝑛 = π‘¦π‘›βˆ’ π‘₯𝑛 berarti 𝑍 = (𝑧𝑛) = π‘Œ – 𝑋 dan 𝑧𝑛 β‰₯ 0 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁 menggunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.2 dan 𝐡. 9.3 diperoleh,

0 ≀ π‘™π‘–π‘š 𝑍 = π‘™π‘–π‘š(𝑦𝑛) βˆ’ π‘™π‘–π‘š(π‘₯𝑛), sehingga π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛) ≀ π‘™π‘–π‘š(𝑦𝑛).

Hasil selanjutnya menegaskan bahwa jika semua suku-suku dari barisan konvergen memenuhi ketidaksamaan yang berbentuk

π‘Ž ≀ π‘₯𝑛 ≀ 𝑏, maka limit dari barisan itu memenuhi ketidaksamaan yang sama.

Teorema B.9.5: Jika 𝑋 = (π‘₯𝑛) adalah barisan bilangan real konvergen dan jika π‘Ž ≀ π‘₯𝑛 ≀ 𝑏 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁, maka π‘Ž ≀ π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛) ≀ 𝑏.

Bukti:

Misalkan π‘Œ adalah barisan konstan (𝑏, 𝑏, 𝑏 … … . ) π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.4 mengimplikasikan itu π‘™π‘–π‘š 𝑋 ≀ π‘™π‘–π‘š π‘Œ = 𝑏 demikian pula dengan cara yang sama dapat ditunjukkan bahwa π‘Ž ≀ lim X.

Hasil selanjutnyan menegaskan jika barisan Y diperas antara dua barisan itu konvergen ke batas yang sama, maka itu juga harus menyatu dengan batas ini.

Teorema B.9.6 (Squeeze): Misalkan itu 𝑋 = (π‘₯𝑛), π‘Œ = (𝑦𝑛) dan 𝑍 = (𝑧𝑛) adalah barisan bilangan real sedemikian hingga π‘₯𝑛 ≀ 𝑦𝑛 ≀ 𝑧𝑛 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁 dan π‘™π‘–π‘š(π‘₯𝑛) = π‘™π‘–π‘š(𝑧𝑛). Maka π‘Œ = (𝑦𝑛) adalah konvergen dan π‘™π‘–π‘š(π‘₯𝑛) = π‘™π‘–π‘š(𝑦𝑛) = π‘™π‘–π‘š (𝑧𝑛).

Bukti:

Misalkan 𝑀 = π‘™π‘–π‘š(π‘₯𝑛) = π‘™π‘–π‘š (𝑧𝑛), jika diberikan πœ€ > 0, maka akibat kekonvergenan 𝑋 dan 𝑍 ke 𝑀, bahwa ada bilangan asli 𝐾 sedemikian hingga untuk semua 𝑛 β‰₯ π‘˜ maka,

|π‘₯π‘›βˆ’ 𝑀| < πœ€ π‘‘π‘Žπ‘› |𝑧𝑛 βˆ’ 𝑀| < πœ€ Menurut hipotesis,

126 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

π‘₯𝑛 ≀ 𝑦𝑛 ≀ 𝑧𝑛 ⇔ π‘₯𝑛 βˆ’ 𝑀 ≀ π‘¦π‘›βˆ’ 𝑀 ≀ 𝑧𝑛 βˆ’ 𝑀

βˆ’πœ€ < π‘¦π‘›βˆ’ 𝑀 < πœ€

Untuk semua 𝑛 β‰₯ π‘˜. Karena πœ€ > 0 sebarang, ini berarti bahwa lim(𝑦𝑛) = 𝑀

Teorema B.9.7: Misalkan barisan 𝑋 = (π‘₯𝑛) konvergen ke π‘₯, maka barisan nilai mutlak (|π‘₯𝑛|) konvergen ke |π‘₯|, yaitu bila π‘₯ = π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛), maka |π‘₯| = π‘™π‘–π‘š (|π‘₯𝑛|)

Bukti :

Menggunakan sifat ketaksamaan segitiga diperoleh ||π‘₯𝑛| βˆ’ |π‘₯|| ≀

|π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯| untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁. Selanjutnya kekonvergenan dari (|π‘₯𝑛|) ke |π‘₯| suatu akibat langsung dari kekonvergenan dari (π‘₯𝑛) ke π‘₯.

Teorema B.9.8: Misalkan barisan bilangan real 𝑋 = (π‘₯𝑛)

konvergen ke π‘₯ dan π‘₯𝑛 β‰₯ 0 , untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁. Maka barisan akar pangkat dua (√π‘₯𝑛) konvergen dan π‘™π‘–π‘š (√π‘₯𝑛) = √ π‘₯.

Bukti:

Dari π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.3 diperoleh bahwa π‘₯ = π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛) β‰₯ 0.

Sekarang kita tinjau dua kasus (𝑖) π‘₯ = 0 dan (𝑖𝑖) π‘₯ > 0.

(i) Misalkan π‘₯ = 0, dan πœ€ > 0 sebarang diberikan. Karena π‘₯𝑛 β†’ 0 maka terdapat 𝐾 ∈ 𝑁 sehingga 0 ≀ π‘₯𝑛 = π‘₯𝑛 βˆ’ 0 < πœ€2.

Karena itu [π‘™π‘–β„Žπ‘Žπ‘‘ π‘π‘œπ‘›π‘‘π‘œβ„Ž 4(𝑖) β„Žπ‘Žπ‘™. 30], 0 ≀ √π‘₯𝑛 ≀ πœ€ untuk 𝑛 β‰₯ 𝐾.

Karena πœ€ > 0 sebarang, maka (√π‘₯𝑛) β†’ 0.

(ii) Bila π‘₯ > 0, maka √π‘₯ > 0 dan kita mempunyai

√π‘₯π‘›βˆ’ √π‘₯ = (√π‘₯π‘›βˆ’ √π‘₯)(√π‘₯𝑛+ √π‘₯

√π‘₯𝑛+ √π‘₯ = π‘₯π‘›βˆ’ π‘₯

√π‘₯𝑛+ √π‘₯ Karena √π‘₯𝑛+ √π‘₯ β‰₯ √π‘₯ > 0, maka

|√π‘₯𝑛 βˆ’ √π‘₯| ≀ 1

√π‘₯|π‘₯𝑛 βˆ’ π‘₯|

Kekonvergenan dari √π‘₯𝑛 β†’ √π‘₯ merupakan akibat dari fakta π‘₯𝑛 β†’ π‘₯.

Teorema B.9.9: Misalkan (π‘₯𝑛) adalah barisan bilangan real positif sedemikian hingga 𝐿 = π‘™π‘–π‘š(π‘₯𝑛+1/π‘₯𝑛) ada. Jika 𝐿 < 1, maka (π‘₯𝑛)

konvergen dan π‘™π‘–π‘š(π‘₯𝑛) = 0.

Bukti:

Dengan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.3 yang mengikuti bahwa 𝐿 β‰₯ 0. Misalkan r bilangan sedemikian hingga 𝐿 < π‘Ÿ < 1, dan misalkan πœ€ = π‘Ÿ βˆ’ 𝐿 > 0.

Ada 𝐾 ∈ 𝑁 sehingga jika 𝑛 β‰₯ 𝐾 maka

|π‘₯𝑛+1

π‘₯𝑛 βˆ’ 𝐿| < πœ€ Argumen ini dapat diikuti sebagai berikut:

bahwa jika 𝑛 β‰₯ 𝐾, maka

π‘₯𝑛+1

π‘₯𝑛 < 𝐿 + πœ€ = 𝐿 + (π‘Ÿ βˆ’ 𝐿) = π‘Ÿ atau π‘₯𝑛+1

π‘₯𝑛 < π‘Ÿ atau π‘₯𝑛+1 < π‘₯π‘›π‘Ÿ Karena itu, jika 𝑛 β‰₯ 𝐾, diperoleh

0 < π‘₯𝑛+1 < π‘₯π‘›π‘Ÿ < π‘₯π‘›βˆ’1π‘Ÿ2 < β‹― < π‘₯π‘˜π‘Ÿπ‘›βˆ’π‘˜+1

Jika diatur 𝐢 ≔ π‘₯π‘˜/π‘Ÿπ‘˜, kita melihat bahwa 0 < π‘₯𝑛+1 < π‘₯π‘˜π‘Ÿπ‘›βˆ’π‘˜+1 = πΆπ‘Ÿπ‘›+1 untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾. Karena 0 < π‘Ÿ < 1, ini menurut contoh 𝐢. 8.4(𝑏) bahwa lim(π‘Ÿπ‘›) = 0 dan karena itu dari π‘‡π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 8.4 bahwa lim(π‘₯𝑛) = 0

128 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

C. Contoh-Contoh Contoh C.9.1

Jika, 𝑋 dan π‘Œ adalah barisan bilangan real 𝑋 ≔ (2, 4, 6, … , 2𝑛), π‘‘π‘Žπ‘› π‘Œ ≔ (1 tidak didefinisikan karena beberapa suku dari 𝑍 ada yang nol.

πΆπ‘Žπ‘‘π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘›:

Jika barisan bilangan real diperoleh dengan menerapkan operasi sesuai dengan 𝑑𝑒𝑓𝑖𝑛𝑖𝑠𝑖 𝐴. 9.2 maka limit barisan tersebut dapat diprediksi kekonvergenannya.

Contoh C.9.2:

(a) Barisan bilangan real (n) divergen.

Menggunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.1, andaikan barisan 𝑋 = (𝑛) konvergen, maka terdapat bilangan real 𝑀 > 0 sehingga 𝑛 = |𝑛| < 𝑀 untuk semua 𝑛 ∈ N. Tetapi hal ini bertentangan dengan π‘ π‘–π‘“π‘Žπ‘‘ π΄π‘Ÿπ‘β„Žπ‘–π‘šπ‘’π‘‘π‘’π‘ . Jadi haruslah (𝑛) divergen.

(b) Barisan ((βˆ’1) ) divergen.

Barisan ini terbatas (ambil 𝑀 = 2), sehingga tidak dapat digunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.1. Karena itu, andaikan 𝑋 = ((βˆ’1)𝑛) konvergen dan a = π‘™π‘–π‘š 𝑋. Misalkan πœ€ = 1, maka terdapat 𝐾1 sedemikian hingga |(βˆ’1)𝑛 βˆ’ π‘Ž| < 1, untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝐾1. Tetapi bila 𝑛 ganjil dan 𝑛 β‰₯ 𝐾1, hal ini memberikan |βˆ’1 βˆ’ π‘Ž| <

1 , sehingga βˆ’2 < a < 0. Sedangkan bila n genap dan 𝑛 β‰₯ 𝐾1, hal ini memberikan |1 βˆ’ π‘Ž | < 1 sehingga 0 < π‘Ž < 2. Karena π‘Ž tidak mungkin memenuhi kedua ketaksamaan tersebut, maka pengandaian bahwa 𝑋 konvergen menghasilkan hal yang kontradiksi. Jadi Haruslah 𝑋 divergen.

(c) π‘™π‘–π‘š (2𝑛+1

𝑛 ) = 2

Misalkan 𝑋 = (2 ) dan π‘Œ = (1 𝑛⁄ ) kemudian ((2𝑛 + 1) 𝑛⁄ ) = 𝑋 + π‘Œ Dengan menggunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.2 (π‘Ž) diperoleh bahwa

π‘™π‘–π‘š (𝑋 + π‘Œ) = π‘™π‘–π‘š 𝑋 + π‘™π‘–π‘š π‘Œ = 2 + 0 = 2

(d) lim (2𝑛 + 1⁄𝑛 + 5) = 2

Karena barisan (2𝑛 + 1) dan (𝑛 + 5) tidak onvergen, kita tidak dapat menggunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.1 (𝑏) secara langsung. Tetapi kita dapat melakukan yang berikut

2𝑛 + 1

𝑛 + 5 =2 + 1 𝑛⁄ 1 + 5 𝑛⁄

130 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

yang memberikan 𝑋 = 2 + 1 𝑛⁄ dan 𝑍 = 1 + 5 𝑛⁄ sehingga π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.1 (𝑏) dapat digunakan.

(π‘†π‘’π‘™π‘–π‘‘π‘–π‘˜π‘– π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘™π‘’π‘π‘–β„Ž π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘™π‘’ π‘ π‘¦π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘ βˆ’ π‘ π‘¦π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’π‘  π‘‘π‘–π‘π‘’π‘›π‘’β„Žπ‘–). Selanjutnya diperoleh π‘™π‘–π‘š 𝑋 = 2 dan π‘™π‘–π‘š 𝑍 = 1 β‰  0, jadi

π‘™π‘–π‘š (2𝑛 + 1 𝑛 + 5⁄ ) = 2 1⁄ = 2

(e) π‘™π‘–π‘š (𝑛2𝑛2+1) = 0

Disini π‘‡π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.2(𝑏) tidak dapat digunakan secara langsung, Perhatikan persamaan berikut

2𝑛

𝑛2+ 1= 2 𝑛 + 1 𝑛⁄

(mengapa ?). Tetapi karena (𝑛 + 1 𝑛⁄ ) tidak konvergen 2𝑛

𝑛2+ 1=

2⁄𝑛 1 + 1 𝑛⁄ 2

dengan menggunakan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.2(𝑏), π‘™π‘–π‘š(2 𝑛⁄ ) = 0 dan π‘™π‘–π‘š (1 + 1 𝑛⁄ ) = 1 β‰  0 maka π‘™π‘–π‘š (2𝑛2 ⁄(𝑛2+ 1)) = 0 1⁄ = 0

(f) π‘™π‘–π‘š (sin 𝑛

𝑛 ) = 0

Di sini π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.2(𝑏) tidak dapat digunakan secara langsung.

Tetapi perlu dicatat bahwa βˆ’1 ≀ 𝑠𝑖𝑛 𝑛 ≀ 1, maka

βˆ’1

𝑛 ≀sin 𝑛

𝑛 ≀1

𝑛 untuk semua 𝑛 ∈ 𝑁.

Karena π‘™π‘–π‘š(βˆ’ 1 𝑛⁄ ) = 0 = π‘™π‘–π‘š(1 𝑛⁄ ), dengan menggunakan

π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž π‘ π‘žπ‘’π‘’π‘’π‘§π‘’ diperoleh bahwa π‘™π‘–π‘š (

Sebagai ilustrasi penggunaan π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.9, lim (𝑛

2𝑛) = 0

132 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

D. Latihan 9

1. Untuk π‘₯𝑛 yang diberikan berikut, tunjukkan kekonvergenan atau kedivergenan dari 𝑋 = (π‘₯𝑛)

2. Berikan contoh barisan 𝑋 dan π‘Œ yang divergen, tetapi jumlahnya 𝑋 + π‘Œ konvergen.

3. Berikan contoh barisan 𝑋 dan π‘Œ yang divergen, tetapi perkaliannya 𝑋 βˆ™ π‘Œ konvergen

4. Tunjukkan bahwa bila 𝑋 dan π‘Œ barisan sedemikian hingga 𝑋 dan 𝑋 + π‘Œ konvergen, maka π‘Œ konvergen.

5. Tunjukkan bahwa bila 𝑋 dan π‘Œ barisan sedemikian hingga 𝑋 konvergen ke π‘₯ β‰  0 dan π‘‹π‘Œ konvergen, maka π‘Œ konvergen.

6. Tunjukkan bahwa barisan berikut tidak konvergen.

(a) (2𝑛)

(b) ((βˆ’1)𝑛𝑛2)

7. Tentukan limit dari barisan-barisan berikut:

(a) π‘™π‘–π‘š ((2 +1

8. Jika (𝑏𝑛) barisan yang terbatas dan lim (π‘Žπ‘›) = 0, maka tunjukkan lim (π‘Žπ‘›π‘π‘›) = 0, jelaskan mengapa π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.2 tidak bisa digunakan.

9. Jelaskan mengapa hasil persamaan (3) sebelum π‘‘π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 𝐡. 9.3 tidak bisa digunakan untuk menghitung limit dari barisan ((1 + 1 𝑛⁄ )𝑛)

10. Misalkan 𝑦𝑛 = βˆšπ‘› + 1 βˆ’ βˆšπ‘› untuk 𝑛 ∈ 𝑁. Tunjukkan bahwa (𝑦𝑛) dan (βˆšπ‘›π‘¦π‘›) konvergen.

11. Tentukan limit barisan berikut.

(a) (√4𝑛2+ 𝑛 βˆ’ 2𝑛) (b) (βˆšπ‘›2+ 5𝑛 βˆ’ 𝑛)

12. Tentukan limit barisan berikut.

(a) lim ((3βˆšπ‘›)1⁄2𝑛) (b) lim ((𝑛 + 1)1⁄ln (𝑛+1))

13. jika 0 < π‘Ž < 𝑏, tentukan lim (π‘Žπ‘›+1+𝑏𝑛+1

π‘Žπ‘›+𝑏𝑛 )

14. jika π‘Ž > 0, 𝑏 > 0, maka tunjukkan π‘™π‘–π‘š ( √(𝑛 + π‘Ž)(𝑛 + 𝑏) βˆ’ 𝑛) = (π‘Ž + 𝑏)

⁄2

15. Gunakan teorema 𝐡. 9.6 (π‘ π‘žπ‘’π‘’π‘’π‘§π‘’) untuk menentukan limit sebagai berikut,

(a) (𝑛1⁄𝑛2) (b) ((𝑛!)1⁄𝑛2)

16. Misalkan 𝑧𝑛 = (π‘Žπ‘›+ 𝑏𝑛)1⁄𝑛 dengan 0 < π‘Ž < 𝑏, maka π‘™π‘–π‘š(𝑧𝑛) = 𝑏.

134 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

17. Gunakan π‘‡π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘’π‘šπ‘Ž 3.2.11 pada barisan-barisan berikut, bila π‘Ž, 𝑏 memenuhi 0 < π‘Ž < 1 dan 𝑏 > 1

(a) (π‘Žπ‘›) (b) (𝑏𝑛

2𝑛) (c) (𝑛

𝑏𝑛) (d) (23𝑛⁄32𝑛)

18. (a). Berikan contoh barisan bilangan positif (π‘₯𝑛) yang konvergen sehingga π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛+1

π‘₯𝑛 ) = 1

(b). Berikan pula contoh barisan divergen dengan sifat tersebut. (Jadi, sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi).

19. Misalkan 𝑋 = (π‘₯𝑛) barisan bilangan positif sehingga π‘™π‘–π‘š ( π‘₯𝑛+1

π‘₯𝑛 ) = 𝐿 > 1. Tunjukkan bahwa 𝑋 barisan tak terbatas, karenanya 𝑋 tidak konvergen.

20. Selidiki konvergensi barisan-barisan berikut, bila π‘Ž, 𝑏 memenuhi 0 < π‘Ž < 1 dan 𝑏 > 1

(a) (𝑛2π‘Žπ‘›) (b) (𝑏𝑛

𝑛2) (c) (𝑏𝑛

𝑛!) (d) (𝑛!

𝑛𝑛)

21. Misalkan (π‘₯𝑛) barisan bilangan positif dengan π‘™π‘–π‘š (π‘₯𝑛1⁄𝑛) = 𝐿 < 1. Tunjukkan bahwa terdapat bilangan dengan 0 < π‘Ÿ <

1 sehingga 0 < π‘₯𝑛 < π‘Ÿ untuk suatu 𝑛 ∈ 𝑁 yang cukup besar.

Gunakan ini untuk menunjukkan lim (π‘₯𝑛) = 0.

22. (a) Berikan contoh barisan bilangan positif (π‘₯𝑛) yang konvergen sehingga lim (π‘₯𝑛1⁄𝑛) = 1.

(b) Berikan contoh barisan bilangan positif (π‘₯𝑛) yang divergen sehingga lim (π‘₯𝑛1⁄𝑛) = 1. (Jadi, sifat ini tidak dapat digunakan untuk uji konvergensi).

23. Misalkan (π‘₯𝑛) barisan konvergen dan (𝑦𝑛) barisan sehingga untuk sebarang πœ€ > 0 terdapat 𝑀 sehingga | π‘₯π‘›βˆ’ 𝑦𝑛| < πœ€ untuk semua 𝑛 β‰₯ 𝑀. Apakah hal ini mengakibatkan (𝑦𝑛) konvergen?

24. Tunjukkan (π‘₯𝑛) dan (𝑦𝑛) merupakan barisan yang konvergen, maka barisan (𝑒𝑛) dan (𝑣𝑛) didefinisikan dengan (𝑒𝑛) = sup{π‘₯𝑛, 𝑦𝑛} dan 𝑣𝑛 = inf{π‘₯𝑛, 𝑦𝑛} juga konvergen.

25. Misalkan (π‘₯𝑛), (𝑦𝑛) dan (𝑧𝑛) adalah barisan konvergen, maka barisan (𝑀𝑛) di definisikan dengan (𝑀𝑛) = mid(π‘₯𝑛, 𝑦𝑛, 𝑧𝑛) juga konvergen.

136 | Bab IX Kekonvergenan Barisan Bilangan Real

< π’ƒπ’π’‚π’π’Œ >

Dalam dokumen SURAT PENCATATAN CIPTAAN (Halaman 114-0)

Dokumen terkait