BAB 2 PRINSIP PERAMBUAN MARKA DAN DELINEASI
2.4. Latihan
1. Sebutkan peraturan yang memberikan peran perlengkapan jalan pada jalan yang berkeselamatan!
2. Uraikan pedoman yang menjadi dasar dalam melakukan rekayasa keselamatan jalan baik pada tahap perencanaan jalan, konstruksi jalan dan operasional jalan, di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga!
3. Apakah arti dari penggunaan rambu, marka dan delineasi yang berhubungan dengan keselamatan jalan?
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 13
BAB 3
PERAMBUAN
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 14
3. Perambuan
Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu:
- menjelaskan jenis rambu
- menjelaskan desain dan pemilihan rambu - menjelaskan penempatan rambu 3.1. Jenis Rambu
Rambu merupakan salah satu perlengkapan jalan. Menurut bentuknya terdapat 2 (dua) macam yaitu rambu konvensional dan rambu elektronik. Sedangkan menurut jenisnya, dibedakan seperti di bawah ini:
Rambu peringatan, digunakan untuk memberi peringatan kemungkinan ada bahaya di jalan atau tempat berbahaya pada jalan dan untuk menginformasikan sifat bahaya.
Rambu larangan, digunakan untuk menyatakan perbuatan yang dilarang dilakukan oleh pengguna jalan.
Rambu perintah, digunakan untuk menyatakan perintah yang wajib dilakukan oleh pengguna jalan.
Rambu petunjuk, digunakan untuk memandu pengguna jalan saat melakukan perjalanan atau memberikan informasi lain kepada pengguna jalan.
Selain rambu tetap/permanen terdapat juga rambu sementara yang umumnya digunakan hanya sementara tidak permanen, misalnya saat ada pekerjaan
pekerjaan jalan atau lainnya.
Pada rambu sementara yang berupa rambu peringatan, rambu larangan, rambu perintah dan rambu petunjuk, mempunyai bentuk, lambang, warna, arti, ukuran daun rambu, serta ukuran dan jenis huruf, angka dan simbol, sama dengan rambu
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 15
yang tetap. Hanya pada rambu peringatan sementara, mempunyai warna dasar berbeda dengan yang tetap, yaitu warna dasar jingga dan bukan kuning.
Di samping itu, terdapat papan tambahan yang merupakan papan yang memberikan penjelasan lebih lanjut dari suatu rambu yang berisi ketentuan waktu, jarak, jenis kendaraan dan ketentuan lainnya yang dipasang untuk melengkapi rambu lalu lintas jalan.
Rambu konvensional terdiri atas : 1. daun rambu dan
2. tiang rambu.
Setiap daun rambu wajib dipasang stiker logo perhubungan.
Tiang rambu mempunyai 4(empat) jenis, yaitu:
1. tiang tunggal, 2. tiang F,
3. tiang kupu-kupu dengan tiang tunggal dan 4. tiang gawang/portal
a. Rambu Peringatan
Rambu ini memiliki warna dasar kuning dan garis tepi, simbol hitam.
Gambar 1 Rambu Peringatan
b. Rambu Larangan
Rambu ini mempunyai warna dasar putih, garis tepi dan kata-kata merah, serta lambang/huruf/angka hitam.
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 16
Gambar 2 Rambu Larangan
c. Rambu Perintah
Rambu ini mempunyai warna dasar biru dan garis tepi/ lambang/
huruf/ angka serta kata-kata putih.
Gambar 3 Rambu Perintah
d. Rambu Petunjuk
Warna dasar rambu ini bermacam-macam, yaitu: hijau, biru, coklat atau putih. Bentuk dari rambu ini juga bermacam-macam: umumnya segi empat, bisa juga segi enam.
Gambar 4 Rambu Petunjuk
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 17
e. Rambu peringatan sementara
Rambu peringatan sementara ini mempunyai warna dasar jingga.
Sedangkan rambu sementara lainnya mempunyai bentuk, lambang, warna, arti, ukuran daun rambu, serta ukuran dan jenis huruf, angka dan simbol sama seperti pada rambu tetap.
Gambar 5 Rambu Sementara
3.2. Desain dan Pemilihan Rambu
Rambu yang efektif harus memenuhi hal-hal berikut:
1. Memenuhi kebutuhan.
2. Menarik perhatian dan mendapat respek pengguna jalan.
3. Memberikan pesan yang sederhana dan mudah dimengerti.
4. Menyediakan waktu cukup kepada pengguna jalan dalam memberikan respon.
Ukuran rambu bergantung pada jarak keterbacaan legenda, dan waktu yang diperlukan untuk membacanya.
Rambu harus terlihat dan terbaca dari suatu jarak berkendara, ekuivalen dengan waktu membaca. Jarak maksimal keterbacaan rambu, dengan anggapan bahwa tidak ada gangguan objek yang menghalangi, dapat diperhitungkan. Jarak minimal keterbacaan rambu bergantung pada perpindahan sudut dari garis pandang lurus-ke-depan pengemudi. Penelitian menunjukkan bahwa begitu sebuah rambu berada di luar sudut pandang sejauh 10 derajat di sisi mana pun, atau 5 derajat di atas garis pandang lurus- ke-depan pengemudi, rambu tidak lagi terbaca dengan nyaman.
Waktu yang dibutuhkan saat berkendara pada kecepatan lalu lintas tertentu harus cukup bagi pengemudi untuk membaca pesan rambu. Waktu baca yang diterima secara umum adalah dari 0,3 detik per kata untuk kata pendek, sederhana dan dikenali (seperti kata-kata pada rambu peringatan atau perintah)
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 18
sampai 0,7 detik untuk kata yang kurang dikenal, seperti nama pada rambu petunjuk arah.
Sebagai aturan umum:
sediakan 2 detik agar rambu terbaca.
sediakan 2 detik perjalanan antar rambu yang berurutan.
batasi maksimal 5 baris informasi di semua rambu.
hanya gunakan huruf standar.
selalu gunakan material yang reflektif untuk bagian muka rambu.
Rambu harus berukuran memadai dan ditempatkan dengan benar, supaya pengemudi dapat membaca dan mengambil tindakan sesuai pesannya. Jeda antara rambu yang berturut-turut harus diatur supaya pengemudi dapat mengerti pesan rambu itu. Sebagai panduan dasar, rambu berturut-turut harus diberi jeda sedikitnya 0.6 V meter, dimana V adalah 85 persentil kecepatan kendaraan yang melalui rambu dalam satuan km/jam.
Ukuran daun rambu perlu memperhatikan kecepatan sebagai berikut:
Tabel 1 Ukuran Rambu Berdasarkan Kecepatan
Satu tiang hanya dapat dipasang maksimum 2(dua) daun rambu.
Bangunan, utilitas, media informasi, iklan, pepohonan, atau benda-benda lain dilarang menghalangi keberadaan rambu berakibat mengurangi atau menghilangkan arti rambu.
Pertimbangan yang harus diperhatikan dalam perencanaan dan pemasangan rambu:
1. Keseragaman bentuk dan ukuran rambu
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 19
Keseragaman dalam alat kontrol lalu lintas memudahkan tugas pengemudi untuk mengenal, memahami dan memberikan respon.
Konsistensi dalam penerapan bentuk dan ukuran rambu akan menghasilkan konsistensi persepsi dan respon pengemudi.
2. Desain rambu
Warna, bentuk, ukuran, dan tingkat retrorefleksi yang memenuhi standar akan menarik perhatian pengguna jalan, mudah dipahami dan memberikan waktu yang cukup bagi pengemudi dalam memberikan respon.
3. Lokasi rambu
Lokasi rambu berhubungan dengan pengemudi sehingga pengemudi yang berjalan dengan kecepatan normal dapat memiliki waktu yang cukup dalam memberikan respon.
4. Operasi rambu
Rambu yang benar pada lokasi yang tepat akan memenuhi kebutuhan lalu lintas dan penggunaannya perlu konsisten.
5. Pemeliharaan rambu
Pemeliharaan rambu diperlukan agar rambu tetap berfungsi baik.
Pemeliharaan rambu jalan dilaksanakan untuk memastikan kebutuhan penggantian rambu jika diperlukan.
Pemeliharaan fisik perlengkapan jalan dimaksudkan untuk mempertahankan kinerja ‘keterbacaan’ dan ‘keterlihatan’, agar fungsi rambu dapat dipertahankan Pemeliharaan rambu dilakukan secara berkala dan insidentil.
Pemeliharaan berkala dilakukan paling sedikit setiap 6 bulan: yaitu dengan menghilangkan benda-benda yang mengganggu fungsi rambu dan membersihkan rambu.
Pemeliharaan insidentil dilakukan bila ada kerusakan rambu.
Umur teknis rambu paling lama 5 tahun
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 20
3.3. Penempatan Rambu
Persyaratan minimal penempatan lateral sebuah rambu adalah agar bebas dari kerusakan akibat lalu lintas yang lewat. Namun, rambu tidak seharusnya dipindahkan secara lateral lebih dari kebutuhan karena akan kehilangan wibawa dan waktu baca yang efektif.
Untuk rambu yang diletakkan di sisi jalan, tinggi minimal di area perdesaan diatur oleh kebutuhan untuk melihat rambu di atas tanaman di sisi jalan dan bebas dari cipratan lumpur. Di area perkotaan, ada kebutuhan untuk dapat melihat rambu di atas mobil yang diparkir dan warung. Bagian bawah rambu harus cukup tinggi (lebih dari 2,2 m) sehingga tidak menjadi hazard bagi pejalan kaki. Rambu yang diletakkan terlalu tinggi dapat berada di luar sinar lampu besar pada malam hari, atau dapat tersamar oleh pepohonan di sisi jalan. Tentunya semua rambu harus menghadap ke pengemudi/pengendara.
Penempatan rambu dilakukan sedemikian rupa, sehingga mudah terlihat dengan jelas bagi pemakai jalan dan tidak merintangi lalu-lintas kendaraan atau pejalan kaki.
Umumnya, rambu ditempatkan di sebelah kiri menurut arah lalu lintas, pada jarak tertentu dari tepi paling luar bahu jalan atau jalur lalu lintas kendaraan dan tidak merintangi lalu lintas kendaraan atau pejalan kaki (paling sedikit 60 cm diukur dari bagian terluar daun rambu ke tepi paling luar bahu jalan dan harus tetap pada rumaja).
Jika dipasang pada median, dapat ditempatkan dengan jarak paling sedikit 30 cm diukur dari bagian terluar daun rambu ke tepi paling luar kiri dan kanan median.
Selanjutnya dengan pertimbangan teknis tertentu, rambu dapat ditempatkan di sebelah kanan atau di atas ruang manfaat jalan.
Lokasi penempatan rambu, khususnya rambu pengaturan, menunjukkan titik dimana kendali atau pengaturan dari rambu tersebut berlaku. Beberapa rambu lain, (seperti rambu pengarah di persimpangan) menunjukkan adanya persimpangan atau potensi hazard lainnya. Lokasi penempatan rambu di sepanjang jalan sudah tetap, jadi letak dan ukurannya harus dipilih secara cermat sehingga memberikan pengemudi/pengendara selang waktu untuk melihat dan membaca rambu, serta bereaksi terhadap rambu tersebut.
Rambu lain memberi peringatan dini akan hazard, titik pengambilan keputusan dan pengendalian peraturan.
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 21
Jarak standar untuk rambu sebelum hazard atau titik pengambilan keputusan biasanya sekitar 50 m (perkotaan) sampai 200 m (pedesaan), bergantung pada kecepatan pendekat dan karakteristik hazard.
Penempatan rambu harus didesain memenuhi beberapa prinsip dasar yaitu:
tidak menghalangi jarak pandang,
tidak saling menghalangi,
harus berada dalam jangkauan penglihatan pengguna jalan,
harus ditempatkan dan dioperasikan dengan cara yang seragam dan konsisten serta tidak memasang rambu yang tidak diperlukan.
Penempatan rambu membutuhkan jarak yang cukup bagi pengguna jalan untuk mengambil keputusan yang tepat. Salah satu faktor penting terkait kebutuhan jarak tersebut adalah kecepatan lalu lintas. Dalam keadaan biasa, rambu ditempatkan ada sisi badan jalan sesuai arah pergerakan lalu lintas, dan untuk tujuan tertentu, juga dapat ditempatkan di atas badan jalan (portal). Khusus untuk rambu petunjuk arah dan rute dapat digunakan secara berulang sesuai kebutuhan karena dapat mendorong lalu lintas yang efisien dengan selalu menyediakan informasi lokasi kepada pengguna jalan.
Rambu pengarah tikungan (CAM) ditempatkan dengan ketinggian 120 cm diukur dari permukaan jalan sampai dengan sisi daun rambu bagian bawah, dan diletakkan di sisi tikungan luar dan dipasang sedikitnya 3 buah. Jika tidak terdapat bahu jalan, dapat dipasang di badan jalan.
Rambu ditempatkan paling tinggi 265 cm dan paling rendah 175 cm diukur dari permukaan jalan tertinggi sampai dengan sisi daun rambu bagian bawah atau papan tambahan bagian bawah jika rambu dilengkapi dengan papan tambahan.
Jika ada fasilitas pejalan kaki, diukur dari permukaan fasilitas pejalan kaki tersebut.
Jika rambu ditempatkan di atas rumaja, ketinggian rambu paling rendah 500 cm diukur dari permukaan jalan tertinggi sampai dengan sisi daun rambu bagian bawah atau papan tambahan bagian bawah.
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 22
Gambar 6 Penempatan Rambu Tiang F dan Tiang Portal
Pada jalan lurus, posisi rambu diputar maksimum 5° menghadap permukaan jalan dari posisi tegak lurus sumbu jalan sesuai arah lalu lintas, kecuali rambu pengarah tikungan, rambu larangan berhenti dan rambu larangan parkir.
Rambu pengarah tikungan ditempatkan dengan posisi rambu diputar maksimum 3° menghadap permukaan jalan dari posisi tegak lurus sumbu jalan sesuai arus lalu lintas.
a. Rambu Peringatan
Ditempatkan sebelum atau pada lokasi kemungkinan ada bahaya.
Tabel 2 Penempatan Rambu Peringatan berdasarkan Kecepatan
b. Rambu Larangan
Rambu larangan ditempatkan pada awal bagian jalan dimulainya larangan.
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 23
Panjang pemberlakuan rambu larangan parkir dan berhenti adalah 30 meter dari titik pemasangan rambu searah lalu lintas atau sesuai dengan yang dinyatakan dalam papan tambahan. Rambu-rambu ini dapat ditempatkan secara berulang.
c. Rambu Perintah
Rambu perintah ditempatkan sedekat mungkin pada awal dan/atau pada berakhirnya perintah.
d. Rambu Petunjuk
Semua rambu petunjuk kecuali rambu papan nama jalan, ditempatkan sedemikian rupa sehingga mempunyai daya guna sebesar-besarnya dengan memperhatikan keadaan jalan dan kondisi lalu lintas.
Untuk menyatakan jarak, dapat dilengkapi dengan papan tambahan atau dicantumkan pada rambu itu sendiri.
Rambu dapat diulangi dengan ketentuan jarak antara rambu dan obyek yang dinyatakan pada rambu, dengan papan tambahan.
e. Rambu Sementara
o Rambu sementara dapat ditempatkan pada bagian jalan sebelum, di dan sesudah lokasi bagian jalan yang rusak, keadaan tertentu, dan kegiatan tertentu.
o Rambu sementara yang ditempatkan sebelum lokasi berupa rambu peringatan.
o Rambu sementara yang ditempatkan pada lokasinya berupa rambu perintah atau rambu larangan.
o Rambu sementara yang ditempatkan sesudah lokasinya menyatakan akhir berlakunya rambu perintah atau larangan tersebut.
o Rambu sementara dapat dilengkapi dengan papan tambahan sesuai kebutuhan.
Contoh pemasangan rambu, seperti gambar di bawah ini.
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 24
Gambar 7 Pemasangan rambu di tepid an di median jalan
3.4. Rangkuman
Rambu merupakan salah satu perlengkapan jalan. Menurut bentuknya terdapat 2 (dua)macam yaitu rambu konvensional dan rambu elektronik.
Sedangkan menurut jenisnya, dibedakan seperti di bawah ini:
Rambu peringatan
Rambu larangan
Rambu perintah
Rambu petunjuk
Selain rambu tetap/permanen terdapat juga rambu sementara yang umumnya digunakan hanya sementara tidak permanen, misalnya saat ada pekerjaan
pekerjaan jalan atau lainnya.
Pada rambu sementara yang berupa rambu peringatan, rambu larangan, rambu perintah dan rambu petunjuk, mempunyai bentuk, lambang, warna, arti, ukuran daun rambu, serta ukuran dan jenis huruf, angka dan simbol, sama dengan rambu yang tetap. Hanya pada rambu peringatan sementara, mempunyai warna dasar berbeda dengan yang tetap, yaitu warna dasar jingga dan bukan kuning.
Di samping itu, terdapat papan tambahan yang merupakan papan yang memberikan penjelasan lebih lanjut dari suatu rambu yang berisi ketentuan waktu, jarak, jenis kendaraan dan ketentuan lainnya yang dipasang untuk melengkapi rambu lalu lintas jalan.
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 25
Rambu konvensional terdiri atas : 1. daun rambu dan
2. tiang rambu.
Setiap daun rambu wajib dipasang stiker logo perhubungan.
Tiang rambu mempunyai 4(empat) jenis, yaitu:
1. tiang tunggal, 2. tiang F,
3. tiang kupu-kupu dengan tiang tunggal dan 4. tiang gawang/portal
Rambu yang efektif harus memenuhi hal-hal berikut:
1. Memenuhi kebutuhan.
2. Menarik perhatian dan mendapat respek pengguna jalan.
3. Memberikan pesan yang sederhana dan mudah dimengerti.
4. Menyediakan waktu cukup kepada pengguna jalan dalam memberikan respon.
Ukuran rambu bergantung pada jarak keterbacaan legenda, dan waktu yang diperlukan untuk membacanya.
Rambu harus terlihat dan terbaca dari suatu jarak berkendara, ekuivalen dengan waktu membaca. Jarak maksimal keterbacaan rambu, dengan anggapan bahwa tidak ada gangguan objek yang menghalangi, dapat diperhitungkan. Jarak minimal keterbacaan rambu bergantung pada perpindahan sudut dari garis pandang lurus-ke-depan pengemudi.
Sebagai aturan umum:
sediakan 2 detik agar rambu terbaca.
sediakan 2 detik perjalanan antar rambu yang berurutan.
batasi maksimal 5 baris informasi di semua rambu.
hanya gunakan huruf standar.
selalu gunakan material yang reflektif untuk bagian muka rambu.
Rambu harus berukuran memadai dan ditempatkan dengan benar, supaya pengemudi dapat membaca dan mengambil tindakan sesuai pesannya. Jeda
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 26
antara rambu yang berturut-turut harus diatur supaya pengemudi dapat mengerti pesan rambu itu.
Satu tiang hanya dapat dipasang maksimum 2(dua) daun rambu.
Bangunan, utilitas, media informasi, iklan, pepohonan, atau benda-benda lain dilarang menghalangi keberadaan rambu berakibat mengurangi atau menghilangkan arti rambu.
Pertimbangan yang harus diperhatikan dalam perencanaan dan pemasangan rambu:
1. Keseragaman bentuk dan ukuran rambu 2. Desain rambu
3. Lokasi rambu 4. Operasi rambu 5. Pemeliharaan rambu
Persyaratan minimal penempatan lateral sebuah rambu adalah agar bebas dari kerusakan akibat lalu lintas yang lewat. Namun, rambu tidak seharusnya dipindahkan secara lateral lebih dari kebutuhan karena akan kehilangan wibawa dan waktu baca yang efektif.
Untuk rambu yang diletakkan di sisi jalan, tinggi minimal di area perdesaan diatur oleh kebutuhan untuk melihat rambu di atas tanaman di sisi jalan dan bebas dari cipratan lumpur. Di area perkotaan, ada kebutuhan untuk dapat melihat rambu di atas mobil yang diparkir dan warung. Bagian bawah rambu harus cukup tinggi (lebih dari 2,2 m) sehingga tidak menjadi hazard bagi pejalan kaki. Rambu yang diletakkan terlalu tinggi dapat berada di luar sinar lampu besar pada malam hari, atau dapat tersamar oleh pepohonan di sisi jalan.
Jarak standar untuk rambu sebelum hazard atau titik pengambilan keputusan biasanya sekitar 50 m (perkotaan) sampai 200 m (pedesaan), bergantung pada kecepatan pendekat dan karakteristik hazard. Tentunya semua rambu harus menghadap ke pengemudi/pengendara.
Penempatan rambu dilakukan sedemikian rupa, sehingga mudah terlihat dengan jelas bagi pemakai jalan dan tidak merintangi lalu-lintas kendaraan atau pejalan kaki.
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 27
Umumnya rambu ditempatkan di sebelah kiri menurut arah lalu lintas, pada jarak tertentu dari tepi paling luar bahu jalan atau jalur lalu lintas kendaraan.
Selanjutnya dengan pertimbangan teknis tertentu, rambu dapat ditempatkan di sebelah kanan atau di atas ruang manfaat jalan.
Lokasi penempatan rambu, khususnya rambu pengaturan, menunjukkan titik dimana kendali atau pengaturan dari rambu tersebut berlaku.
Penempatan rambu harus didesain memenuhi beberapa prinsip dasar yaitu:
tidak menghalangi jarak pandang,
tidak saling menghalangi,
harus berada dalam jangkauan penglihatan pengguna jalan,
harus ditempatkan dan dioperasikan dengan cara yang seragam dan konsisten serta tidak memasang rambu yang tidak diperlukan.
Penempatan rambu membutuhkan jarak yang cukup bagi pengguna jalan untuk mengambil keputusan yang tepat. Salah satu faktor penting terkait kebutuhan jarak tersebut adalah kecepatan lalu lintas.
3.5. Latihan
1. Uraikan rambu yang digunakan pada jalan yang berkeselamatan menurut jenisnya!
2. Sebutkan rambu yang umumnya digunakan pada saat ada pelaksanaan pekerjaan jalan atau lainnya.dan jelaskan perbedaannya dengan rambu yang tetap!
3. Apakah fungsi papan tambahan yang dipasang untuk melengkapi rambu lalu lintas jalan?
4. Uraikan tentang Rambu konvensional ! 5. Apakah persyaratan Rambu yang efektif ?
6. Pertimbangan apa saja yang harus diperhatikan dalam perencanaan dan pemasangan rambu?
7. Jelaskan prinsip dasar penempatan rambu dalam rangka menunjang keselamatan jalan!
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 28
BAB 4
MARKA
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 29
4. Marka
Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari materi ini, peserta diklat diharapkan mampu:
- menjelaskan jenis rambu - menjelaskan marka berupa peralatan
- menjelaskan marka berupa tanda - menjelaskan penempatan marka 4.1. Jenis Marka
Marka jalan memiliki fungsi yang penting dalam menyediakan petunjuk dan informasi untuk pengguna jalan. Pada beberapa kondisi, marka jalan digunakan sebagai unsur untuk melengkapi perlengkapan jalan lainnya, misalnya rambu atau marka lainnya. Pada kondisi yang lain, marka jalan digunakan sendiri untuk, secara efektif, menyampaikan peraturan, petunjuk atau peringatan.
Marka jalan dapat berupa: peralatan atau tanda. Marka jalan dapat berwarna putih, di mana pengguna jalan wajib mengikuti perintah atau larangan sesuai bentuknya, warna kuning, di mana pengguna jalan dilarang berhenti pada area tersebut, warna merah, di mana menyatakan keperluan atau tanda khusus, dan warna lainnya (hijau atau coklat), di mana menyatakan daerah kepentingan khusus yang harus dilengkapi dengan rambu dan/atau petunjuk.
Marka jalan berupa peralatan meliputi: paku jalan, alat pengarah lalu lintas dan pembagi lajur atau jalur.
Marka jalan berupa tanda meliputi: marka-marka membujur, melintang, serong, lambang, kotak kuning dan lainnya.
Marka Jalan dibuat dengan menggunakan bahan berupa:
cat;
MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 30
termoplastic;
coldplastic; atau
prefabricated marking.
Marka Jalan harus terbuat dari bahan yang tidak licin, dan harus mampu memantulkan cahaya (retroreflective) dan memenuhi persyaratan teknis sesuai spesifikasi teknik marka jalan serta memiliki ketebalan paling rendah 2 (dua) milimeter dan paling tinggi 30 (tiga puluh) milimeter di atas permukaan jalan.
Kelebihan dari marka yang ada diperkerasan adalah terletak di atas jalan, di mana perhatian dari pengemudi/pengendara tercurah penuh sehingga mampu menyediakan informasi penting tanpa mengalihkan perhatian dari jalan. Marka pada perkerasan memberikan delineasi menerus bagi jalur kendaraan.
Namun, marka pada perkerasan akan kurang terlihat dalam cuaca buruk, terutama di malam hari atau tidak terlihat karena adanya genangan air atau endapan lumpur. Marka reflektif yang menonjol dan garis tepi taktil dapat membantu mengatasi masalah ini.
Marka perkerasan juga rentan pudar akibat gesekan dengan roda kendaraan, efek sinar matahari serta panas tinggi. Garis marka termoplastik dapat membantu mengatasi masalah ini.
Ketahanan marka dipengaruhi oleh karakteristik material, volume lalu lintas dan lokasi.
Selain Kendaraan Bermotor Umum dalam trayek, setiap Kendaraan Bermotor dapat berhenti di setiap Jalan, kecuali:
a. terdapat rambu larangan berhenti dan/atau Marka Jalan yang bergaris utuh;
b. pada tempat tertentu yang dapat membahayakan keamanan, keselamatan serta mengganggu Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; dan/atau
c. di jalan tol.
Penggunaan Jalan Selain untuk Kegiatan Lalu Lintas yang mengakibatkan penutupan Jalan dapat diizinkan jika ada jalan alternatif. Dimana Pengalihan arus
Penggunaan Jalan Selain untuk Kegiatan Lalu Lintas yang mengakibatkan penutupan Jalan dapat diizinkan jika ada jalan alternatif. Dimana Pengalihan arus