• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HARMONISASI RAMBU DAN MARKA SERTA PEMBUATANNYA

5.2. Pembuatan Rambu dan Marka

Pemeliharaan rambu dilakukan secara berkala dan insidentil.

a. Pemeliharaan berkala dilakukan paling sedikit setiap 6 bulan: yaitu dengan menghilangkan benda-benda yang mengganggu fungsi rambu dan membersihkan rambu.

b. Pemeliharaan insidentil dilakukan bila ada kerusakan rambu.

Penghapusan rambu ditentukan berdasarkan:

a. Umur teknis

b. Kebijakan pengaturan lalu lintas

c. Keberadaan fisik rambu (rusak atau hilang).

Umur teknis rambu paling lama 5 tahun.

Pembuatan rambu lalu lintas dilakukan oleh badan usaha yang telah memenuhi persyaratan yang terdaftar sebagai badan usaha pembuat rambu lalu lintas.

Pemeliharaan marka dilakukan dengan cara: berkala dan insidentil.

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 50

a. Pemeliharaan berkala adalah mengganti marka jalan yang rusak dengan yang baru untuk memberi jaminan keamanan atau keselamatan bagi pengguna jalan.

b. Pemeliharaan insidentil meliputi:

1. Melakukan pemantauan terhadap unjuk kerja marka jalan dan penggantian bila tidak sesuai dengan fungsinya; dan

2. Melakukan penentuan dan penetapan jenis dan jumlah marka jalan yang memerlukan pemeliharaan dan perbaikan.

Persyaratan penghapusan marka jalan ditentukan berdasarkan:

a. Umur teknis, paling lama 2 tahun.

b. Kebijakan pengaturan lalu lintas; bila terjadi perubahan pengaturan lalu lintas yang ditentukan oleh pejabat yang berwenang.

c. Keberadaan fisik marka, meliputi pelapisan ulang perkerasan jalan atau hilang.

Pembuatan marka dilakukan oleh badan usaha yang telah memenuhi persyaratan, yang terdaftar sebagai badan usaha pembuat rambu lalu lintas.

5.3. Rangkuman

Tujuan dari pemasangan fasilitas perlengkapan jalan adalah untuk meningkatkan keselamatan jalan dan menyediakan pergerakan yang teratur terhadap pengguna jalan. Fasilitas perlengkapan jalan memberi informasi kepada pengguna jalan tentang peraturan dan petunjuk yang diperlukan untuk mencapai arus lalu lintas yang selamat, seragam dan beroperasi dengan efisien.

Marka pada perkerasan bisa tidak terlihat jelas untuk sementara karena adanya kendaraan di depan, akibat kemacetan lalu lintas. Genangan air di jalan akan mengurangi efektivitas pantulan cahaya dari marka garis pada malam hari.

Karena itu, jangan terlalu bergantung pada efektivitas marka di perkerasan, khususnya di lokasi berpotensi hazard. Memperkecil kekurangan-kekurangan tersebut, dapat dilakukan dengan memasang rambu di sisi jalan dan/atau memasang marka reflektif yang menonjol dan dapat juga dengan pengulangan marka, misalnya marka lambang panah.

Koordinasi antara rambu dan marka jalan sangat diperlukan mengingat rambu lalu lintas dan marka jalan sama-sama berfungsi untuk mengarahkan arus dan untuk meningkatkan keselamatan jalan dan menyediakan pergerakan yang

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 51

teratur terhadap pengguna jalan tetapi diperlukan adanya koordinasi dalam pemasangannya sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda.

Marka melintang berupa garis utuh menyatakan batas berhenti kendaraan yang diwajibkan oleh alat pemberi isyarat lalu lintas atau rambu larangan berjalan terus.

Marka melintang ditempatkan bersama dengan rambu larangan berjalan terus atau wajib berhenti sesaat pada tempat yang memungkinkan pengemudi dapat melihat dengan jelas lalu lintas yang datang dari cabang persimpangan lain.

Marka Melintang berupa garis berhenti juga dapat dilengkapi dengan garis membujur atau tulisan “STOP” pada permukaan jalan.

Marka melintang berupa garis putus-putus menyatakan batas berhenti kendaraan sewaktu mendahulukan kendaran lain, yang diwajibkan oleh rambu larangan berjalan terus karena wajib memberi prioritas kepada arus lalu lintas dari arah yang diberi prioritas.

Marka lambang berupa panah, segitiga, atau tulisan, dipergunakan untuk mengulangi maksud rambu-rambu lalu lintas atau untuk memberitahu pengguna jalan yang tidak

Pemeliharaan rambu dilakukan secara berkala dan insidentil.

a. Pemeliharaan berkala dilakukan paling sedikit setiap 6 bulan: yaitu dengan menghilangkan benda-benda yang mengganggu fungsi rambu dan membersihkan rambu.

b. Pemeliharaan insidentil dilakukan bila ada kerusakan rambu.

Penghapusan rambu ditentukan berdasarkan:

a. Umur teknis

b. Kebijakan pengaturan lalu lintas

c. Keberadaan fisik rambu (rusak atau hilang).

Umur teknis rambu paling lama 5 tahun.

Pembuatan rambu lalu lintas dilakukan oleh badan usaha yang telah memenuhi persyaratan yang terdaftar sebagai badan usaha pembuat rambu lalu lintas.

Pemeliharaan marka dilakukan dengan cara: berkala dan insidentil.

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 52

1. Pemeliharaan berkala adalah mengganti marka jalan yang rusak dengan yang baru untuk memberi jaminan keamanan atau keselamatan bagi pengguna jalan.

2. Pemeliharaan insidentil meliputi:

a. Melakukan pemantauan terhadap unjuk kerja marka jalan dan penggantian bila tidak sesuai dengan fungsinya; dan

b. Melakukan penentuan dan penetapan jenis dan jumlah marka jalan yang memerlukan pemeliharaan dan perbaikan.

Persyaratan penghapusan marka jalan ditentukan berdasarkan:

1. Umur teknis, paling lama 2 tahun.

2. Kebijakan pengaturan lalu lintas; bila terjadi perubahan pengaturan lalu lintas yang ditentukan oleh pejabat yang berwenang.

3. Keberadaan fisik marka, meliputi pelapisan ulang perkerasan jalan atau hilang.

5.4. Latihan

1. Sebutkan tujuan dari pemasangan fasilitas perlengkapan jalan berupa rambu dan marka jalan?

2. Apakah manfaatnya koordinasi antara rambu dan marka jalan?Uraikan dengan contoh!

3. Uraikan pelaksanaan pemeliharaan rambu sebelum penghapusan rambu!

4. Uraikan pelaksanaan pemeliharaan marka sebelum penghapusan marka!

5. Sebutkan persyaratan penghapusan rambu dan marka jalan!

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 53

BAB 6

DELINEASI

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 54

6. Delineasi

Indikator Keberhasilan

Setelah mempelajari materi ini, peserta diklat diharapkan mampu:

- menjelaskan prinsip tentang delineasi - menjelaskan perangkat delineasi 6.1. Prinsip tentang Delineasi

Delineasi adalah istilah yang diberikan untuk penempatan rambu, marka, dan perlengkapan jalan lainnya untuk memandu pengemudi/pengendara, agar dapat berlalu lintas dengan lebih berkeselamatan, yaitu:

 Mengendalikan pergerakan kendaraan dengan memberi informasi visual kepada pengemudi/pengendara tentang berbagai batasan pada jalan yang akan dilalui;

 Mengatur arah berkendara, serta perpindahan lajur dan menyiap;

 Menandai lajur atau zona untuk membelok atau parkir dapat diizinkan, diharuskan, atau dilarang;

 Meningkatkan kedisiplinan terhadap lajur, terutama di malam hari; dan

 Membantu mengidentifikasi potensial hazard, seperti jembatan sempit dan tikungan tajam.

Delineasi sangat penting dalam pengoperasian sistem jalan yang efisien dan berkeselamatan. Delineasi penting untuk memandu pengemudi/pengendara tetap melaju di dalam badan jalan dan membantu dalam pengambilan keputusan tentang ke mana harus bergerak (sebagai navigasi) dan kecepatan kendaraan (kendali). Delineasi yang baik membuat pengemudi/pengendara mampu menjaga kendaraan berada dalam lajur lalu lintas (delineasi jarak pendek) dan membantu merencanakan rute mengemudi (delineasi jarak panjang).

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 55

Delineasi adalah suatu pola informasi yang terstruktur untuk menuntun pergerakan kendaraan secara berkeselamatan pada sepenggal jalan, baik untuk kondisi siang dan malam maupun dalam kondisi kering dan basah. Delineasi yang efektif dapat memperbaiki efisiensi dan keselamatan sistem jalan raya melalui perbaikan: informasi bagi pengemudi, kenyamanan mengemudi dan arus lalu lintas.

Delineasi jarak pendek dapat mengendalikan penempatan kendaraan dan untuk mengidentifikasi batas pergerakan yang ditentukan dengan aman. Perlengkapan delineasi ini antara lain: marka dan penanda pada permukaan jalan peringatan.

Sedangkan delineasi jarak panjang untuk mengantisipasi alinyemen jalan, mengatur arah perjalanan dan mengenali situasi yang berpotensi bahaya.

Perlengkapan delineasi ini antara lain patok pengarah, rambu dan penanda alinyemen. Sedangkan Delineasi jarak panjang memungkinkan pengemudi/

pengendara untuk merencanakan rute berkendara sehingga delineasi harus konsisten dan menerus. Delineasi diterapkan di sepanjang jalan.

6.2. Perangkat Delineasi

Perangkat yang umum digunakan untuk delineasi, selain dari rambu dan marka yang telah dibahas sebelumnya, antara lain:

a. Paku jalan (RRPM/mata kucing)

Paku jalan merupakan perangkat reflektif yang melekat di atas permukaan jalan. Dengan sedikit ditinggikan, paku jalan ini memberi permukaan reflektif bagi lalu lintas yang mendekat. Paku jalan memberikan delineasi malam hari yang lebih baik daripada pemasangan marka garis tengah dan tepi, khususnya saat hujan.

b. Patok pengarah dan reflektor (delineator pada patok)

Patok pengarah adalah patok ringan dengan tinggi antara 0,9-1,2 m, umumnya ditempatkan 1 m (0,6-3 m) dari tepi jalan. Patok ini berbiaya rendah, mudah dibawa, dan dapat dipasang maupun diganti dengan biaya rendah. Di Indonesia patok ini harus tahan panas dan kelembaban, serta tahan hujan lebat. Patok ini tidak boleh menimbulkan hazard/bahaya bagi pemakai jalan. Patok beton yang banyak digunakan tidak memenuhi faktor keselamatan. Lebih baik menggunakan material lain, seperti plastik, karet, serat kaca, atau aluminium/beton tipis.

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 56

Patok ini dapat digunakan sebagai perangkat tunggal (misal untuk menandai gorong-gorong), namun paling efektif dipasang secara menerus di sepanjang jalan. Untuk delineasi jarak panjang yang baik, pengemudi/pengendara harus dapat melihat sedikitnya dua hingga tiga pasang patok pengarah dalam jarak pandang.

Pada patok pengarah harus dipasang bahan yang reflektif, delineator.

Reflektor/delineator membantu delineasi jarak panjang di malam hari dan berbahan plastik. Delineator harus cukup lebar agar terlihat dari jauh, terutama di malam hari, dan cukup tinggi agar terhindar dari cipratan air jalan.

c. Marka hazard

Marka ini berupa papan chevron berwarna hitam-putih. Marka ini mengarahkan lalu lintas ke arah kiri, kanan, atau ke dua arah. Marka hazard dapat digunakan di lokasi mana pun yang membutuhkan delineasi lebih baik. Marka ini dapat digunakan di ujung pulau lalu lintas, ujung median, dan di sisi jalan sekitar tikungan.

d. Rambu pengarah tikungan (CAM = Chevron Alignment Marker/

Chevron)

Chevron ini berupa rambu chevron tunggal dengan warna hitam-kuning yang sangat kontras. Penggunaan rambu chevron dibatasi pada lokasi yang membutuhkan delineasi tambahan untuk memandu pengemudi melewati tikungan di bawah standar. Marka ini tidak digunakan pada lokasi-lokasi seperti pulau lalu lintas, atau bundaran – di sini harus digunakan marka hazard. Rambu chevron memberikan informasi jarak jauh yang baik di tikungan. Marka ini berpotensi menurunkan tingkat kecelakaan hingga 30%.

Rangkaian rambu chevron ditempatkan di lingkar luar tikungan yang di bawah standar, sekitar 1 meter dari tepi bahu jalan. Rambu chevron pertama ditempatkan pada atau dekat titik singgung (tangent point) dan Rambu chevron berikutnya harus ditempatkan pada lokasi dimana sedikitnya tiga rambu tersebut selalu terlihat oleh pengemudi/

pengendara yang mendekat.

Penanda lebar adalah rambu garis diagonal hitam kuning yang memberikan delineasi reflektif dari hazard khusus. Marka ini digunakan

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 57

berpasangan untuk hazard seperti abutment jembatan, pilar underpass, gorong-gorong, dan hazard di jalan yang menciptakan penyempitan.

Gambar 24 Rambu Penanda Lebar, digunakan untuk jalur yang menyempit

e. Delineasi tikungan

Umumnya, untuk jalan yang terhitung lebar, perangkat delienasi harus ditempatkan dengan urutan prioritas sebagai berikut:

1) Garis marka tengah 2) Garis marka tepi

3) Delienator reflektif pada patok pengarah dan pagar keselamatan 4) Rambu penanda bahaya/lebar (hitam putih)

5) Rambu peringatan pengarah tikungan (CAM)

Namun, garis marka tengah jangan digunakan kecuali perkerasan sedikitnya selebar 5.5 m dan garis tepi hanya boleh dipasang jika ada garis tengah. Memberi garis tepi (dengan atau tanpa garis tengah) di jalan sempit menimbulkan risiko pengemudi diarahkan oleh garis tepi di kiri dan ini meningkatkan risiko tabrakan depan-depan.

Untuk jalan dengan lebar perkerasan kurang dari 5.5 m, perangkat pertama yang digunakan adalah patok pengarah. Untuk jalan di medan berbukit, garis tepi dapat digunakan disisi jalan yang bertebing menurun, sebagai tingkat delienasi pertama dari turunan berbahaya.

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 58

6.3. Rangkuman

Delineasi adalah istilah yang diberikan untuk penempatan rambu, marka, dan perlengkapan jalan lainnya untuk memandu pengemudi/pengendara, agar dapat berlalu lintas dengan lebih berkeselamatan.

Delineasi penting untuk memandu pengemudi/pengendara tetap melaju di dalam badan jalan dan membantu dalam pengambilan keputusan tentang ke mana harus bergerak (sebagai navigasi) dan kecepatan kendaraan (kendali).

Delineasi yang baik membuat pengemudi/pengendara mampu menjaga kendaraan berada dalam lajur lalu lintas (delineasi jarak pendek) dan membantu merencanakan rute mengemudi (delineasi jarak panjang).

Delineasi jarak pendek dapat mengendalikan penempatan kendaraan dan untuk mengidentifikasi batas pergerakan yang ditentukan dengan aman. Perlengkapan delineasi ini antara lain: marka dan penanda pada permukaan jalan peringatan.

Sedangkan delineasi jarak panjang untuk mengantisipasi alinyemen jalan, mengatur arah perjalanan dan mengenali situasi yang berpotensi bahaya.

Perangkat delineasi yang umum antara lain patok pengarah, rambu dan penanda alinyemen. Sedangkan Delineasi jarak panjang memungkinkan pengemudi/

pengendara untuk merencanakan rute berkendara sehingga delineasi harus konsisten dan menerus. Delineasi diterapkan di sepanjang jalan.

Perangkat yang umum digunakan untuk delineasi, selain dari rambu dan marka yang telah dibahas sebelumnya, antara lain:

a. Paku jalan (RRPM/mata kucing)

b. Patok pengarah dan reflektor (delineator pada patok) c. Marka hazard

d. Rambu pengarah tikungan (CAM=chevron alignment marker/chevron) e. Delineasi tikungan

6.4. Latihan

1. Jelaskan peran delineasi dalam jalan yang berkeselamatan!

2. Uraikan hubungan antara delineasi dan pengoperasian system jalan yang efektif dan berkeselamatan!

3. Uraikan perangkat delineasi!

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 59

4. Uraikan perangkat delineasi yang akan ditempatkan pada jalan yang terhitung lebar sesuai urutan prioritas!

5. Jelaskan perangkat delineasi yang digunakan untuk jalan dengan lebar perkerasan kurang dari 5.50 M pertama!

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 60

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri PU No 19 Tahun 2011 Tentang Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Jalan.

Peraturan Menteri PU N0 11 Tahun 2010 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Laik Fungsi Jalan.

Instruksi Direktur Jenderal Bina Marga No. 02/in/db/2012 Tentang Panduan Teknis Rekayasa Keselamatan Jalan.

Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 13 Tahun 2014 tentang Rambu Lalu Lintas

Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 34 Tahun 2014 tentang Marka Jalan.

Petunjuk Pelaksanaan Kelaikan fungsi Jalan No. 09/P/BM/2014 dan SE Dirjen Bina Marga No 15/SE/Db/2004.

Pedoman Perencanaan geometri jalan perkotaan RSNI T – 14 – 2004 Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No. 038?T/BM/1997

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 61

GLOSARIUM

Lalu lintas dan angkutan jalan adalah satu kesatuan system terdiri atas lalu lintas, angkutan jalan, jaringan lalu lintas dan angkutan jalan, prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, kendaraan, pengemudi, pengguna jalan, serta pengelolaannya.

Rambu lalu lintas adalah bagian perlengkapan Jalan yang berupa lambang, huruf, angka, kalimat, dan/atau perpaduan yang berfungsi sebagai peringatan, larangan, perintah, atau petunjuk bagi pengguna jalan.

Daun rambu adalah pelat alumunium atau bahan lainnya yang memenuhi persyaratan teknis tempat ditempelkan/dilekatkannya rambu.

Tiang rambu adalah batangan logam atau bahan lainnya untuk menempelkan atau melekatkan daun rambu.

Retro reflektif adalah sistem pemantulan cahaya di mana sinar yang dating dipantulkan kembali sejajar ke arah sinar dating, terutama pada malam hari atau cuaca gelap.

Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan jalan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas.

Pulau lalu lintas adalah bagian jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan, dapat berupa marka jalan atau bagian jalan yang ditinggikan.

Delineasi adalah istilah yang diberikan untuk penempatan rambu, marka, dan perlengkapan jalan lainnya untuk memandu pengemudi/pengendara, agar dapat berlalu lintas dengan lebih berkeselamatan

Pengguna jalan adalah orang yang menggunakan jalan untuk berlalu lintas.

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja, melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian harta benda.

Keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan adalah suatu keadaan terhindarnya setiap orang dari risiko kecelakaan selama berlalu lintas yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan dan/atau lingkungan.

MODUL 7 | RAMBU, MARKA, DAN DELINESI 62

Tim Penyusun

Ir. Agus Nugroho, MM Ir. Dwi Sapto Haryanto Ir. Erwin Kusnandar, MT

Ir. Janny Agustin, M.Sc Ir. Joulla Marsela, MM Drs. Rozali Ahmad, M.Sc

Dokumen terkait