• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SEJARAH PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN, TUGAS,

E. Latihan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014

TENTANG HAK CIPTA Pasal 1

(1) Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 113

(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/

atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/

atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA

2022 Penulis:

Haidan Moch. Kristanto

MODUL

MUATAN TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA

INSPEKTORAT JENDERAL

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM

PELATIHAN MTSL METODE E-LEARNING

BPSDM KUMHAM Press

Jalan Raya Gandul No. 4 Cinere-Depok 16512

Telepon (021) 7540077, 754124; Faksimili (021) 7543709, 7546120 Laman: http://bpsdm.kemenkumham.go.id

Cetakan I : 2022

Perancang Sampul : Maria Mahardhika Penata Letak : Maria Mahardhika

Ilustrasi Sampul : freepik.com & pixabay.com x+46 hlm; 18 x 25 cm

ISBN:

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip dan memublikasikan

sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin penerbit.

Dicetak oleh:

PERCETAKAN POHON CAHAYA

Isi di luar tanggung jawab percetakan Haidan

Moch. Kristanto

MODUL

MUATAN TEKNIS SUBSTANSI LEMBAGA

INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM

PELATIHAN MTSL METODE E-LEARNING

KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya review modul Pelatihan Muatan Teknis Substansi dan Lembaga (MTSL) berjudul

“MTSL Inspektorat Jenderal” sesuai Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia telah terselesaikan. Modul ini disusun untuk membekali para peserta pelatihan dan pembaca agar mengetahui dan memahami salah satu tugas dan fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Modul “MTSL Inspektorat Jenderal” merupakan strategi pendokumentasian pengetahuan tacit yang menjadi bagian dari aset intelektual organisasi. Langkah ini dilakukan untuk memberikan sumber–sumber pengetahuan yang dapat disebarluaskan sekaligus dipindahtempatkan atau direplikasi guna meningkatkan kinerja individu maupun organisasi. Keberadaan modul “MTSL Inspektorat Jenderal” dapat mendukung proses pembelajaran mandiri, pengayaan materi pelatihan dan peningkatan kemampuan organisasi dalam konteks pengembangan kompetensi yang terintegrasi (Corporate University) dengan pengembangan karir.

Modul “MTSL Inspektorat Jenderal” pada artinya dapat menjadi sumber belajar guna memenuhi hak dan kewajiban pengembangan kompetensi paling sedikit 20 Jam Pelajaran (JP) dalam 1 tahun bagi setiap pegawai. Hal ini sebagai implementasi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dalam kesempatan ini, kami atas nama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan Hak Asasi Manusia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan dan kontribusinya dalam penyelesaian modul ini. Segala kritik dan saran sangat kami harapkan guna meningkatkan kualitas Pelatihan MTSL ini. Semoga modul ini dapat memberikan kontribusi positif bagi para pembacanya dan para pegawai di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Selamat Membaca. Salam Pembelajar.

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya masih diberikan kesempatan untuk melaksanakan amanah dalam rangka review modul dan bahan ajar Muatan Teknis Substansi dan Lembaga (MTSL) Inspektorat Jenderal.

Keberagaman bidang tugas dan fungsi pada Kementerian Hukum dan HAM terlihat dengan adanya 11 (sebelas) Unit Utama Eselon I dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM sebagai perwakilan kementerian di daerah/

provinsi. Untuk bidang tugas dan fungsi diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Berkaitan dengan hal tersebut, untuk melaksanakan pengembangan dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia perlu diselenggarakan Pelatihan MTSL. Dalam pelaksanaan Pelatihan MTSL maka dilakukan review terhadap modul dan bahan ajar pelatihan yang secara teknis penulisan mengacu pada Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, dan subtansi modul sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 41 Tahun 2021.

Demikian review modul dan bahan ajar MTSL Inspektorat Jenderal, dengan harapan modul ini dapat bermanfaat serta meningkatkan kompetensi bagi peserta pelatihan dan ASN di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ... v

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Deskripsi Singkat ... 4

C. Manfaat Modul Bagi Peserta ... 4

D. Tujuan Pembelajaran ... 4

E. Materi pokok dan Sub materi pokok ... 5

F. Petunjuk Belajar ... 5

BAB II SEJARAH PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI INSPEKTORAT JENDERAL ... 7

A. Sejarah Pembentukan Inspektorat Jenderal. ... 7

B. Kedudukan, Tugas, fungsi Inspektorat Jenderal ... 8

C. Susunan Organisasi dan Struktur Organisasi ... 10

D. Dukungan Manajemen Sekretariat Inspektorat Jenderal ... 11

E. Latihan ... 11

F. Rangkuman ... 11

G. Evaluasi ... 12

H. Umpan Balik ... 12

BAB III SUSUNAN ORGANISASI SEKRETARIAT INSPEKTORAT, TUGAS INSPEKTORAT WILAYAH DAN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL ... 13

A. Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat ... 13

B. Inspektorat Wilayah ... 15

C. Kelompok jabatan Fungsional ... 18

D. Latihan ... 22

E. Rangkuman ... 22

F. Evaluasi ... 23

G. Umpan Balik ... 23

BAB IV PENYELENGGARAAN PENGAWASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM ... 25

A. Sistem Pengendalian dan Pengawasan Intern ... 25

B. Tujuan, Sasaran dan Bentuk Pengawasan ... 27

C. Peran Inspektorat Jenderal Mewujudkan Penyelenggaraan Kepemerintahan Yang Baik Dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik ... 29

D. Kebijakan Pengawasan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Tahun 2022 ... 33

E. Strategi Pengawasan Intern ... 36

F. Latihan ... 37

G. Rangkuman ... 37

H. Evaluasi ... 38

J. Umpan Balik ... 38

BAB IV PENUTUP ... 39

A. Kesimpulan ... 39

B. Tindak Lanjut ... 40

KUNCI JAWABAN ... 41

A. Jawaban Evaluasi Bab II ... 41

B. Jawaban Evaluasi Bab III ... 41

C. Jawaban Ebaluasi bab III ... 41

GLOSARIUM ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 45

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab Pendahuluan ini memaparkan latar belakang meliputi proses penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik diperlukan adanya langkah pembaharuan. Kementerian Hukum dan HAM merespon perubahan melalui penyederhanan tata kelola birokrasi dengan mengganti Permenkumham tentang Organisasi dan tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Pentingnya peran Inspektorat dalam hal pengawasan intern pemerintahan menyangkut aspek-aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business prosess), yang dilakukan oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) guna memberikan perlindungan dan pelayanan terhadap masyarakat.

A. Latar Belakang

Perubahan yang cepat dan tidak terduga membuka pandangan dan pikiran atas tuntutan adanya paradigma baru yang menghantarkan perjalanan menuju Tata Kelola Pemerintahan yang Baik (Good Government Governance) yaitu, menuju Pemerintahan yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Terselenggaranya “Good Government Governance”

merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara.

Dalam rangka itulah diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan legitimasi sehingga penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dapat berlangsung secara berdayaguna, berhasilguna, bersih dan bertanggungjawab, serta bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Sebagai institusi pengawasan, Inspektorat Jenderal mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun peningkatan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) pada setiap satuan kerja yang menjadi rentang kendali pengawasannya. Melalui upaya peningkatan SPIP akan berdampak

pada perbaikan pengawasan secara mandiri oleh setiap satuan kerja di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Sedangkan dampak positipnya secara sistematis adalah adanya perbaikan pada Sistem Akuntablitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP).

Inspektorat Jenderal sebagai unsur pengawas intern di Kementerian Hukum dan HAM berperan dalam mengarahkan seluruh kegiatan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif, efisien dan ekonomis, segala sumber daya dimanfaatkan dan dilindungi, data dan laporan dapat dipercaya dan disajikan secara wajar, serta ditaatinya segala ketentuan yang berlaku. Inspektorat Jenderal sebagai Aparat Pengawasan Internal Kementerian berperan sebagai Quality Assurance yaitu menjamin bahwa suatu pelaksanaan Kegiatan yang ada pada satuan kerja bebas dari penyimpangan dalam mencapai tujuan organisasi. Hal ini merupakan perkembangan dari perubahan paradigma pengawasan yang dilakukan oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP).

Semula paradigma pengawasan bersifat Watchdogs dengan orientasi untuk menemukan penyimpangan saja tanpa memberikan rekomendasi perbaikan.

Perkembangan selanjutnya paradigma pengawasan ibarat seorang teknisi yang memeriksa Kualitas suatu barang, jika tidak sesuai standar maka akan dilakukan perbaikan seperlunya. dimana saat auditor jika menemukan penyimpangan atau kesalahan maka akan memberikan rekomendasi untuk memperbaiki. dan sebagai seorang dokter yang mendiagnosis penyakit pasien, dokter tidak akan bisa menemukan obat yang tepat jika informasi yang di dapat tidak lengkap disinilah satuan harus bersikap jujur dalam pelaksanaan Audit sehingga Auditor dapat memberikan rekomendasi yang tepat sehingga penyimpangan atau kesalahan tidak terulang atau terjadi lagi dimasa yang akan datang.

Titik berat pelaksanaan tugas pengawasannya adalah melakukan tindakan preventif yaitu mencegah terjadi kesalahan Dimana seorang pengawas Aparat pengawasan Intern Pemerintah (APIP) bertindak sebagai konsultan dengan cara mendampingi Satuan Kerja dalam Pelaksanaan

program dan kegiatan pada Satuan Kerja baik tingkat pusat, wilayah maupun Satuan Kerja di daerah (Unit Pelaksana Teknis), dan jika telah terjadi kesalahan maka akan diberikan rekomendasi untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut dan dijadikan pelajaran agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang di masa yang akan datang.

Percepatan reformasi birokrasi terus dilakukan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dengan tujuan meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat, guna mendukung reformasi birokrasi tersebut perubahan organisasi dan tata kelola dalam sistem pemerintahan di Indonesia menjadi sebuah keniscayaan, sebagai langkah strategis untuk membangun Aparatur Sipil Negara agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional.

Aparatur juga perlu semakin menyadari bahwa rakyat yang memberi amanah menghendaki agar pemerintah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dalam menanggulangi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sebagaimana diamanatkan oleh TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN, dan dipertegas melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi merupakan peluang sekaligus tantangan yang harus ditangani secara sistematis dan berkelanjutan, melalui tata kelola pemerintahan yang baik dalam pengelolaan administrasi publik dan pelaksanaan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai perwujudan responsibilitas dan sensitivitas pemerintah terhadap tuntutan dan aspirasi masyarakat.

Mata Pelatihan Muatan Teknis Substansi Lembaga selajutnya disebut MTSL bertujuan untuk membentuk persepsi diri sebagai PNS yang profesional untuk meningkatkan kinerja organisasi dan pelayanan publik yang prima.

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka disusunlah revisi atas modul Muatan Teknis substansi Lembaga Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan tujuan untuk memperbaharui terkait dengan adanya perubahan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

B. Deskripsi Singkat

Mata Pelatihan ini membahas Muatan Teknis Substansi Lembaga Inspektorat Jenderal dengan pembahasan melipuiti Sejarah Pembentukan, kedudukan, tugas, dan fungsi Inspektorat Jenderal; Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat, Tugas Inspektorat Wilayah, dan Kelompok Jabatan Fungsional; dan Penyelenggaraan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Metode Pembelajaran meliputi Ceramah, Tanya Jawab, Diskusi, Tugas Mandiri dan Kuis dengan menggunakan Aplikasi e-learning BPSDM Hukum dan HAM.

C. Manfaat Modul Bagi Peserta

Modul ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi peserta pelatihan dalam memahami Muatan Teknis Substansi Lembaga Inspektorat Jenderal melalui pembahasan Sejarah Pembentukan, kedudukan, tugas, dan fungsi Inspektorat Jenderal; Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat, Tugas Inspektorat Wilayah, dan Kelompok Jabatan Fungsional;

dan Penyelenggaraan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

D. Tujuan Pembelajaran

a. Hasil Belajar

Setelah mengikuti pembelajaran mata pelatihan ini peserta memahami Muatan Teknis Substansi Lembaga Inspektorat Jenderal melalui pembahasan Sejarah Pembentukan, kedudukan, tugas, dan fungsi Inspektorat Jenderal; Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat, Tugas Inspektorat Wilayah, dan Kelompok Jabatan Fungsional; dan Penyelenggaraan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

b. Indikator hasil Belajar

1) Menjelaskan Sejarah Pembentukan, Kedudukan, tugas, fungsi, Inspektorat Jenderal ;

2) Menjelaskan Strategi Pengawasan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik;

E. Materi pokok dan Sub materi pokok

1. Sejarah Pembentukan, Kedudukan, Tugas, dan fungsi Inspektorat Jenderal;

1.1. Sejarah Pembentukan Inspektorat Jenderal.

1.2. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Inspektorat Jenderal 1.3. Susunan Organisasi Inspektorat Jenderal

1.4. Dukungan Manajemen Sekretariat Inspektorat Jenderal

2. Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat, Tugas Inspektorat Wilayah, dan Kelompok Jabatan Fungsional;

2.1. Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat 2.2. Inspektorat Wilayah

2.3. Kelompok Jabatan Fungsional

3. Penyelenggaraan Pengawasan Inspektorat Jenderal 3.1. Sistem Pengendalian dan Pengawasan Intern 3.2. Tujuan, sasaran, dan Bentuk Pengawasan

3.3. Peran Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam mewujudkan penyelenggaraan Kepemerintahan Yang Baik

3.4. Kebijakan Pengawasan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Tahun 2022 3.5. Strategi Pengawasan Intern.

F. Petunjuk Belajar

Untuk dapat mempelajari dengan baik mata pelatihan ini, peserta pelatihan perlu mengikuti beberapa petunjuk belajar sebagai berikut :

1. Peserta mendownload dan mempelajari modul terlebih dahulu pada saat login sebelum mengikuti pembelajaran di kelas e-Learning.

2. Pelajari setiap bab secara bertahap, mulai dari Bab I Pendahuluan s.d.

Bab IV

3. Mengikuti kegiatan diskusi dalam proses pembelajaran dengan widyaiswara/fasilitator dan sesama peserta pelatihan dalam kelas e-learning yang telah disediakan.

4. Peserta disarankan mempelajari bahan-bahan dari sumber pembelajaran yang lainnya.

5. Keberhasilan Pembelajaran mata pelatihan ini dapat diukur dari kemampuan peserta memahami Muatan Teknis Substansi Lembaga Inspektorat Jenderal.

BAB II

SEJARAH PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI INSPEKTORAT JENDERAL

Setelah mempelajari bab ini peserta pelatihan dapat menjelaskan :

Sejarah Pembentukan, Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Ham RI

Pada bab ini membahas tentang Sejarah Pembentukan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM; Kedudukan, Tugas, dan Fungsi sebagai unsur pengawas intern di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Susunan organisasi Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, yang memiliki 7 (tujuh) unit eselon II dipimpin oleh Jabatan Pimpinan Tinggi (Pimpinan tinggi pratama). Pada subbab terakhir Unit Sekretariat Inspektorat Jenderal yang bertugas memberikan dukungan manajemen terhadap pelaksanaan tugas satuan organisasi di lingkungan Inspektorat Jenderal.

A. Sejarah Pembentukan Inspektorat Jenderal.

Sejarah pembentukan Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM RI, dimulai pada tahun 1953, ketika fungsi pengawasan dilaksanakan oleh pejabat-pejabat tertentu di lingkungan Departemen Kehakiman yang ditunjuk berdasarkan “Bijblad” 10773 jo 11552, Tambahan Lembaran Negara 1953 nomor 443 dan Keputusan Presiden nomor 180/1953-T.L.N 1953 nomor 465. Saat itu dilakukan inspeksi-inspeksi kas di lingkungan Departemen Kehakiman yang diadakan pada waktu-waktu tertentu atau sewaktu-waktu bila dianggap perlu.

Selanjutnya di tahun 1954, berdasarkan surat edaran Menteri Keuangan tanggal 20 Oktober 1953 Nomor 248372/G.T., fungsi pengawasan dilakukan suatu jabatan struktural, yakni Sub Bagian Pengawasan, yang merupakan

Sub Bagian Keuangan Departemen Kehakiman dengan tugas. Adapun tugas sub. bagian ini adalah:

a) Melakukan inspeksi-inspeksi;

b) Mengawasi penerimaan-penerimaan Negara dan penyetorannya ke Kas Negara.

Pada akhir tahun 1966, organisasi pengawasan dalam lingkungan Departemen Kehakiman mulai berkembang, dengan dibentuknya Inspektorat Jenderal berdasarkan Keputusan Presiden no. 170 tahun 1966 pasal 2 ayat (6), yang merupakan alat pelaksana utama Pengawasan Departemen, dengan tugas pokok membantu Menteri dalam melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas dari semua unit dalam lingkungan Departemen Kehakiman. Sebagai Inspektur Jenderal Kehakiman pertama ditunjuk Oesman Sahidi, SH.

Sehubungan dengan adanya penataan kembali organisasi Departemen, maka Departemen Kehakiman mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan kedudukan, tugas, fungsi dan susunan organisasi (nomenklatur) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden.

Dengan ditetapkannya Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, maka Nomenklatur Departemen Hukum dan HAM RI berubah menjadi Kementerian Hukum dan HAM, sehingga nomenklatur Inspektorat Jenderal Departemen Hukum dan HAM berubah menjadi Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM dan terdapat pula beberapa perubahan dalam struktur organisasinya. Dalam kedudukannya di Kementerian Hukum dan HAM.

B. Kedudukan, Tugas, fungsi Inspektorat Jenderal

Kedudukan tugas dan fungsi Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia selanjutnya disebut (Itjen Kemenkumham RI) merupakan unsur pengawas intern di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dipimpin oleh Inspektur Jenderal.

Hal tersebut diatur berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor 41 tahun 2021 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Perubahan organisasi dan tata kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia telah mendapat persetujuan tertulis dari menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang aparatur negara melalui Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor B/251/M.KT.01/2021 tanggal 31 Maret 2021 hal Penyederhanaan Birokrasi di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Sehingga Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 29 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 24 Tahun 2018 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 29 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dinyatakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, sebagai mana dinyatakan pada pasal 481

Inspektorat Jenderal selaku Pengawas Intern di Kementerian Hukum dan HAM menjalankan fungsi-fungsi yang diselenggarakannya adalah : a. penyusunan kebijakan teknis pengawasan intern di lingkungan

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

b. pelaksanaan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya;

c. pelaksanaan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia;

d. penyusunan laporan hasil pengawasan di lingkungan Kementerian

e. pelaksanaan administrasi Inspektorat Jenderal; dan

f. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

C. Susunan Organisasi dan Struktur Organisasi

Susunan Organisasi Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia terdiri atas:

a. Sekretariat Inspektorat Jenderal;

b. Inspektorat Wilayah I;

c. Inspektorat Wilayah II;

d. Inspektorat Wilayah III;

e. Inspektorat Wilayah IV;

f. Inspektorat Wilayah V; dan g. Inspektorat Wilayah VI.

Struktur Organisasi Inspektorat Jenderal kementerian Hukum dan HAM RI :

Gambar 1.

Bagan Struktur Organisasi Inspektorat Jenderal Kementerian Hukum dan HAM RI (sumber : Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 41 Tahun 2021 Tentang Organisasi dan

Tata Kerja kementerian Hukum dan HAM RI)

D. Dukungan Manajemen Sekretariat Inspektorat Jenderal

Unit sekretariat Inspektorat Jenderal dipimpin oleh Sekretaris Inspektorat Jenderal. Unit ini mempunyai tugas memberikan dukungan manajemen terhadap pelaksanaan tugas satuan organisasi di lingkungan Inspektorat Jenderal. Dalam melaksanakan tugas tersebut, sekretariat Inspektorat Jenderal menyelenggarakan fungsi:

a. koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran;

b. koordinasi dan fasilitasi pembentukan peraturan perundang-undangan, penataan kelembagaan, ketatalaksanaan dan reformasi birokrasi;

c. evaluasi dan penyusunan laporan kinerja;

d. pembinaan dan pengelolaan urusan kepegawaian;

e. pengelolaan urusan keuangan dan revisi daftar isian pelaksanaan anggaran;

f. pengelolaan urusan barang milik negara;

g. pelaksanaan urusan hubungan masyarakat, kerja sama, dan keprotokolan;

h. pelaksanaan urusan ketatausahaan, keprotokolan, dan kerumahtanggaan;

i. pengelolaan sistem informasi pengawasan dan layananpengaduan;

j. pengelolaan laporan harta kekayaan aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; dan

k. koordinasi penyusunan program kerja pengawasan tahunan.

E. Latihan

1. Jelaskan tugas dan fungsi Inspektorat Jenderal.. !

2. Jelaskan Susunan dan Struktur Organisasi Inspektorat Jenderal !

F. Rangkuman

1. Inspektorat Jenderal (Itjen.) adalah unsur pengawas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Itjen mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pelaksanaan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi

reviu, evaluasi, pemantauan dan kegiatan pengawasan lainnya;

2. Inspektorat Jenderal terdiri atas 7 (tujuh) unit eselon II, yaitu Sekretariat Inspektorat Jenderal dan 6 (enam) Inspektorat Wilayah yang dibagi pada wilayah kerja tertentu.

3. Unit sekretariat Inspektorat Jenderal mempunyai tugas memberikan dukungan Manajemen kepada seluruh satuan organisasi di lingkungan Inspektorat Jenderal. Sedangkan Inspektorat Wilayah (I sampai dengan VI), menyelenggarakan fungsi penyusunan kebijakan teknis pengawasan intern di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

G. Evaluasi

Diskusikan dalam kelompok anda bagaimana Dukungan manajemen yang diberikan oleh sekretariat Inspektorat ? Jelaskan

H. Umpan Balik

Apabila anda telah mampu mengerjakan latihan dan evaluasi dengan benar, maka anda telah memenuhi kriteria belajar tuntas pada bab ini.

Namun apabila belum, maka anda dapat melakukan pendalaman kembali terhadap materi yang telah diuraikan pada Bab II ini.

BAB III

SUSUNAN ORGANISASI SEKRETARIAT INSPEKTORAT, TUGAS INSPEKTORAT WILAYAH

DAN KELOMPOKJABATAN FUNGSIONAL

Setelah mempelajari bab ini peserta pelatihan dapat menjelaskan :

Susunan Organisasi Inspektorat, Tugas, Fungsi Inspektorat Wilayah dan Kelompok Jabatan Fungsional

Pada bab ini membahas tentang Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat yang merupakan Jantung penggerak pada unit Inspektorat Jenderal yang mempunyai

Pada bab ini membahas tentang Susunan Organisasi Sekretariat Inspektorat yang merupakan Jantung penggerak pada unit Inspektorat Jenderal yang mempunyai

Dokumen terkait