• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELEBUR BERSAMA REALITAS, MENGUMPULKAN SERPIHAN- SERPIHAN-SERPIHAN MAKNA

4.11 Lebur Dalam Realitas: Lakon Empat Hari Perkelanaan

seagama maupun yang tidak seagama (Panjaitan, 2014:93), serta harus mampu memposisikan atau mendudukkan orang lain sama pentingnya dengan diri sendiri (Panjaitan, 2014:90).

sedang belajar dipekerjakan apalagi tahu bahwa saya mahasiswi datang jauh-jauh dari kota seberang yakni kota Kendari ke kota Makassar untuk belajar.

Walaupun dari pak H. Nassa sendiri tidak menjadi masalah melihat saya yang memiliki tekad yang besar mau bergabung dengan mereka.

Gambar 4.5.1. Berfoto bersama pemilik rumah makan ARCOG (pak H. Nassa dan ibu Hj.

Suharni) ditengah-tengah waktu pagi hari sebelum ramai padatnya pembeli

Bersama dan berada ditengah-tengah mereka (karyawan) di rumah makan aroma coto gagak tidak membuatku berlama-lama menyesuaikan dan akrab dengan mereka. Tiga minggu terakhir ini sebelum pergantian tahun baru masuk 2017, saya sudah sering bolak balik ke sana hanya untuk mewawancarai pemilik yakni pak H. Nassa dengan ibu Hj. Suharni karena waktu yang mereka miliki agak kurang kalau hanya untuk duduk berdiskusi lama-lama dengan pewawancara yang sebenarnya waktu itu bisa dimanfaatkan membantu karyawan lainnya.

Pemilik usaha memang tidak hanya duduk santai di rumah dan menunggu hasil penjualan setiap harinya. Tapi mereka juga ikut membantu dalam mengelola bersama-sama dengan karyawan sekaligus mengajarkan kepada mereka arti kebersamaan meraih kesuksesan. Menurut Yulia (2014:18)

kriteria atau ukuran seorang pemimpin dikatakan sukses apabila dalam dunia kerjanya dicintai oleh orang-orang yang dipimpinnya, mampu menampung dan menyalurkan aspirasi orang-orang yang dipimpinnya dan selalu bermusyawarah dalam memutuskan hal-hal yang menyangkut kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Selain itu, seorang pemimpin harus menjadi suri tauladan yang baik dalam aktifitas yang dilakukan. Memberikan contoh kedisiplinan kepada bawahan atau karyawan.

Sungguh suatu mengesankan dan mengharukan bisa kenal dan bekerja sama dengan mereka semua. Ramah, lucu, gotong royong, saling membahu antar sesama, memberi kepada yang membutuhkan, perhatian dan semangat yang tinggi, mandiri, sikap yang tenang dalam bekerja, tidak pernah terlihat gegabah, rasa peduli yang tinggi, ketulusan dan keikhlasannyanya pada rumah makan aroma coto gagak terpancar dari sikap dan perilaku yang mereka miliki.

Perilaku ini ibarat sistem yang sudah dirancang dengan teknologi canggih namun semua alami tanpa ada desakan apapun dari pemilik usaha. Dari sikap inilah, pimpinan selalu memberi bonus kepada mereka selain mendapat gaji harian yang dinilai berprestasi dalam bekerja setiap harinya, dari segi pekerjaan, perilaku, sikap dan kejujuran menjadi modal utama sebagai penialaian dari pimpinan kepada mereka. Modal manusia dirujuk sebagai faktor penyebab sukses perusahaan. Kendati tidak berwujud, modal yang satu ini menyimpan kekuatan yang lebih besar dibanding aset berwujud (Firdanianty, tanpa tahun)

Tidak ragu-ragu pemilik usaha memberikan kepercayaan yang penuh kepada mereka walau dari awal berkenalan dengan pemilik, hatiku mengatakan bahwa aku berada ditempat yang pas. Wulan (2010:75-76) mengungkakan bahwa belajar mendengarkan hati karena hati bisa dijadikan teman bicara jika kita dalam kesusahan. Walaupun ia mengatakan tentang keburukan, itu lebih

baik sehingga kita siap saat menerima kenyataannya. Dengan berusaha selalu mendengarkan hati, manusia dapat menjadi yang ia inginkan.

Unik tapi menyenangkan. Itulah yang saya rasakan karena pada akhirnya juga saya bisa masuk dan ikut bergabung bekerja dengan mereka untuk observasi secara langsung. Semua karyawan memiliki tanggungjawab yang berbeda-beda namun tetap saling membantu yang lainya seperti membungkus lombok tumis untuk yang membeli dibungkus cotonya dibawa pulang, atau menyimpan jeruk ke meja-meja yang sudah dipotong-potong, membuat juz jeruk manis, memotong ketupat panas yang baru datang dan langsung dikerja, mengisi bawang-bawang di mangkuk kecil sebagai pasangan coto dan lain sebagainya agar pekerjaan tersebut bisa cepat selesai sehingga nantinya tidak membuat pelanggan atau pengunjung menunggu terlalu lama jika memesan menu atau menunggu meja makan dibersihkan bekas pengunjung sebelumnya.

Selama bekerja disana, ada tiga pekerjaan yang belum pernah saya kerjakan, yakni sebagai kasir, membuat bumbu dan membantu mencuci mangkuk kotor. Setiap baru mau masuk ke tempat pencucian, selalu saja kena teguran dari karyawan lainnya dengan alasan bahwa pakaian yang saya kenakan nanti basah. Walaupun saya mengelak mengatakan tidak apa-apa, tapi tetap saja tidak diperbolehkan. Pak H. Nassa sendiri juga memberi kebebasan untuk mengerjakan pekerjaan lainnya terkecuali bagian cuci mangkuk dengan kasir. Karena pada dasarnya memang semua karyawan yang baru masuk di beri training beberapa bulan yang nantinya dilihat bagian apa yag cocok baginya.

Jadi, tidak semua karyawan bisa menjadi kasir dan menjadi kasir juga tidak perlu semua yang menangani walaupun ada pergantian shift, namun tetap memiliki batas seperti juga pada bagian yang lainnya yang masing-masing pekerjaan memiliki penanggungjawab oleh individu tersebut.

Tidak ada yang saling mengharapkan, semua berbondong-bondong mengerjakan apa yang mereka lihat. Menganggap bahwa tempat kerja mereka itu adalah rumah sendiri. Jadi, mengerjakan semua bidang pekerjaan tidaklah menjadi persoalan bagi mereka. Intinya, pekerjaan itu tidak boleh didiamkan dan harus segera diselesaikan. Meninggalkan pekerjaan, membuat pelangan jadi berkurang karena keterlambatan pelayanan dan kebersihan ruangan yang mereka utamakan adalah pelayanan dan kebersihan rumah makan sehingga membuat mereka harus memperhatikan setiap bagian tanpa merasa terpaksa namun tulus dan ikhlas sebagaimana percakapan diwaktu istrirahat dan makan siang bersama dengan salah satu karyawan bagian pelayan dengan memiliki latar belakang pendidikan Strata 1 (S1) keguruan sebelum bercerita mengenai rumah makan, sempat curhat sedikit mengenai kehidupannya sebelumnya seperti berikut ini;

“kita disini sama semua ji. Tidak ada itu bilang menyuruh-nyuruh kerjakan itu bagian atau tanggungjawabnya. Apa yang dilhat didepan ta langsung dikerja. tidak baku harap-harap juga. Karena yang rugi juga kita ji sendiri kalau tidak beres itu pekerjaan” ucap ibu Dg. Mene (yang memiliki tanggungjawab bagian nasi) dengan senyum khasnya yang tidak pernah lepas ketika berbicara dengan orang lain.

Pemaparan dari ibu Dg. Mene tersebut menceritakan bahwa apa yang telah dipaparkan oleh pak H. Nassa dan ibu Hj. Suharni sebelumnya benar-benar sesuai dengan realitas yang ada di rumah makan aroma coto gagak. Sang pemilik usaha benar-benar memperhatikan tidak hanya usahanya, tetapi juga semua karyawan yang ditanamkan nilai-nilai agama, cinta, spiritual, kebaikan dan kebersamaan, serta kelurga yang tidak terabaikan. Sebagian pengusahan banyak yang kurang memperhatikan keluarganya sendiri ketika sudah menikmati kejayaannya di dunia bisnis yang meroket sehingga membuat anak-anak jadi

kurang cinta dan kasih sayang. Padahal kajayaan sebuah usaha di ukur dari segala aspek disekitarnya.

Berbicara mengenai cinta, mungkin pemilik usaha aroma coto gagak jelas tidak begitu paham akan arti cinta jika dilontarkan dengan pendapatan perusahaan yang merujuk pada akuntansi rumah makan aroma coto gagak.

Akan tetapi secara tidak langsung bahwa mereka telah menerapkan itu semua walau hanya bentuk pembukuan yang sederhana tetapi mempunyai pengaruh besar buat mereka walaupun belum dengan standar akuntansi yang ada.

Sebagaimana pernyataan Narsa (2012) bahwa usahawan tidak atau belum memiliki dan menerapkan catatan akuntansi dengan ketat dan disiplin dengan pembukuan yang sistematis dan teratur.