• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERIALISME)

6.2 Tolong Menolong yang Menyandingkan Keharmonisasian Akuntansi Akuntansi

Diskursus tentang sinergisitas akuntansi dan cinta bukanlah sesuatu yang baru dalam literatur penelitian non-mainstream. Meskipun secara umum, hampir semua pihak melihat akuntansi dan cinta dalam landasan filosofis yang berbeda, namun berbagai perkembangan ilmu pengetahuan yang bertumpu pada aspek selain materi atau melampaui materi (beyond materialism) telah membuktikan bahwa keduanya memiliki peluang untuk duduk bersanding dalam satu visi yang sama (Lihat Kamayanti, 2012; Sylvia, 2014; Wahyuni, 2014).

Kamayanti (2012) dalam tulisannya meletakkan cinta pada tempat yang berbeda di dalam akuntansi. Cinta masih berkaitan dengan etika, moral, dan nilai-nilai keagamaan, tapi semua nilai tersebut diletakkan pada proses pembelajaran di kelas. Cinta dengan segala dimensinya dijadikan sebagai dasar dalam arsitektur pembelajaran akuntansi. Pada tahun 2012, Konferensi Pendidikan Akuntansi yang diadakan di Universitas Brawijaya Malang secara resmi meletakkan Pancasila sebagai ruh bagi pendidikan akuntansi di Indonesia.

Pancasila dalam konteks ini adalah rumahnya cinta, dimana lima sila tersebut

merupakan implikasi dari cinta. Cinta sebagai manifestasi nilai tauhid hadir dalam sila yang pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Implikasi nyata cinta dalam akuntansi hadir dalam sila ke lima, yaitu Kadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Artinya, pendidikan akuntansi yang diajarkan di institusi pendidikan mestinya bernilai ketuhanan atau patuh dan tunduk pada ajaran-ajaran Tuhan dan bermuara pada penciptaan kemaslahatan, kesejataheraan, dan keadilan sosial bagi seluruh manusia (Kamayanti, 2012). Jika diterjemahkan dalam individu (accounting man), cinta akan menjadikan seorang akuntan menjadi pribadi yang kritis dan tidak bisa melihat serta membiarkan terjadinya ketidakadilan. Paolo Friera, seorang tokoh pendidikan Brazil dalam tulisan Kamayanti berujar “Orang-orang kritis adalah orang yang penuh cinta, karena mereka tidak bisa diam ketika melihat ketidakadilan”.

Sylvia (2014) memberikan contoh upaya sarat cinta oleh akademisi dan praktisi akuntansi untuk menyeimbangkan akuntansi yang materialis dengan mengangkat nilai-nilai etika, moral, spritualitas, budaya lokal, serta altruisme ke dalam akuntansi. Dalam ranah kebelengguannya, pembuat standar akuntansi yang selayaknya mengatur praktik akuntansi yang sehat, ternyata belum dapat sepenuhnya mempertimbangkan kepentingan masyarakat umum tetapi lebih banyak mengakomodasi kepentingan perusahaan yang terimbas oleh standar yang dirumuskan oleh dewan pembuat standar. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran yang lebih besar untuk dapat menghadirkan nilai-nilai penyeimbang bagi akuntansi sehingga tidak hanya berdiri di atas kepentingan pemberi modal tapi juga lebih bersifat humanis dan spiritual. Cinta akan membuat akuntansi berempati kepada stakeholder bukan akuntansi yang materialistis tapi menjalankan akuntansi untuk menggapai ridho Illahi.

Hadirnya cinta dalam akuntansi sebagai sebuah kebutuhan selalu identik dengan berbagai problem sosial yang disebabkan oleh praktik akuntansi konvensional. Krisis, ketidakadilan, kapitalisme, dan berbagai permasalahan lainnya merupakan fondasi kebutuhan akuntansi atas cinta. Wahyuni (2014) yang konsen terhadap persoalan akuntansi dan cinta mencoba memetakan potensi hadirnya cinta dalam interpretasi pedagang atas laba. Hasilnya, laba bagi sebagian pedagang sudah bukan lagi perkara nilai uang atau kelebihan dari pokok modal yang dikeluarkan. Laba bagi mereka memiliki makna transendental, berdimensi ketuhanan, dan bersifat non materi. Kesehatan, kebahagiaan, dan semua anugerah dari Tuhan yang melancarkan proses bisnis dipandang sebagai laba. Prilaku seperti ini melepaskan pelaku bisnis dari cinta dunia dan berorientasi pada kebutuhan akhirat.

Laba atau keuntungan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Sebagaimana perusahaan di era teknologi ini tidak hanya berkonsentrasi pada perolehan laba saja tetapi lebih memperhatikan lingkungan alam dan masyarakat sekitar perusahaan, termasuk hal-hal yang dapat diberikan kembali ke masyarakat (Dewi, 2014:616). Demikian keuntungan yang didapatkan, dirasakan dan dinikmati oleh pak H. Nassa dengan keluarga benar-benar membawa banyak keberkahan. Begitu juga yang dirasakan oleh salah satu karyawan ARCOG bernama ibu Rahma yang memasukkan beberapa persediaan air mineral botol untuk disedup oleh semua orang di ARCOG khusunya bagian ruangan umum. Adanya sebuah pemisahan tempat agar memudahkan bagi ibu Rahma bisa mengambil dan memasukkannya kembali yang masih tersisa kedalam kardus di gudang tempat penyimpanan ketika dia (ibu Rahma) hendak balik ke rumah sesuai dengan pergantian shift kerja dengan shift berikutnya. Jadi hal ini lebih mudah baginya (ibu Rahma) bisa mengontrol

sendiri dan melaporkan kepada bagian kasir berdasarkan jumlah botol yang terjual mulai dari pagi hingga jam 2-3 siang hari.

Walau tak membagi hasil penjualan kepada pemilik rumah makan serta mengambil semua jumlah nilai uang yang harus dia (ibu Rahma) terima, namun tidak menjadi beban atau hal semacamnya bagi pemilik rumah makan karena beranggapan bahwa tidaklah sesuatu yang menjadi rugi jika dia (ibu Rahma) tidak membagi hasilnya yang rumah makan ARCOG sendiri juga telah mendapatkan hasil dari penjualan air mineral botol untuk dibagian ruangan VIP dan di jam waktu lainnya. Seperti salah satu percakapan berikut si peneliti dengan beliau (ibu Rahma);

“Saya kasih masuk air botol itu 10 dos ji. Tiap pagi itu, kasih keluar mi dari kardus baru atur di meja. Jadi tidak makan listrik karena tidak masuk kulkas. Kalau ada yang mau dingin, tinggal ambil yang di ruang VIP punya rumah makan. Hasilnya juga diterima semua yang laku baru tidak ada pembagian hasil karena disimpan saja diatas meja. Kalau saya mau pulang, ambil kembali itu sisanya kasih masuk di dos. Jadi bisa ki tau sendiri ki bagian ta’ yang mana. Kalau laku sekian, bilang sekian juga di kasir. Pak Haji juga tidak pernah tuntut minta bagiannya karena ada ji juga didapat yang di VIP atau jam lainnya”.

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “inilah perniagaan yang tidak akan merugi dan binasa, bahkan (inilah) perniagaan yang paling agung, paling tinggi dan paling utama, yaitu perniagaan (untuk mencari) ridha Allah, meraih balasan pahala-Nya yang besar, serta keselamatan dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Ini mereka (raih) dengan mengikhlaskan (niat mereka) dalam mengerjakan amal-amal (shalih) serta tidak mengharapkan tujuan-tujuan yang buruk dan rusak sedikitpun” (kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal 689).

Selain ibu Rahma, ada juga pak Kadir yang merupakan orang luar atau non karyawan rumah makan ARCOG. Beliau berperan sebagai pedagang buah mangga manis yang dagangannya dijual ditengah-tengah teras antara ruang VIP dengan ruang umum. Beliau menggunakan fasilitas sebagian teras rumah makan

ARCOG dengan ukuran sekitar 1x1 meter atau lebih tepatnya sebesar transportasi becak bagian depannya saja tanpa roda belakang sebagai tempat penyimpanan buah mangga dagangannya, seperti pada gambar dibawah ini;

Gambar 6.2.1. Gambar pak Kadir sedang memotong buah mangga pesanan salah satu pelanggan rumah makan ARCOG sebagai makanan penutup

Pak Kadir menggunakan sebagian fasilitas tersebut tanpa mengeluarkan biaya sewa tempat serupiah pun kepada pemilik rumah makan ARCOG. Tak pernah sekalipun juga pak Kadir diminta oleh pemilik usaha untuk ikut membantu karyawan rumah makan sebagai bayarannya. Yang terpenting baginya adalah selama pak Kadir tetap menjaga kebersihan dan tidak memaksakan pelanggan rumah makan untuk membeli barang dagangannya yang akan membuat pelanggan jadi kabur atau semacamnya, maka itu tidaklah menjadi masalah baginya. Namun hal ini juga membantu rumah makan ARCOG sebagian dari sisi kepuasan pelanggan yang datang karena selesai menyantap coto atau konronya, mereka juga bisa makan makanan penutup buah mangga sambil duduk-duduk sejenak sebelum meninggalkan tempat makannya.

Kepuasan pelanggan dan kepuasan pak Kadir (pedagang buah mangga) merupakan keberkahan yang diperoleh pemilik usaha rumah makan ARCOG juga. Berkah itu sendiri tidak bisa diukur secara nominal selayaknya perusahaan

menghitung laba. Makna berkah itu semata-mata mengharap ridho Allah, karena Allah akan mendatangkan sumber pendapatan yang diluar dugaan (Luayyi, 2014:29). Artinya, hal ini dimaksud tidak hanya berorientasi pada nilai-nilai angka material tetapi laba yang berorientasi pada trasendental. Dengan demikian, akuntansi menjadi tidak sekedar suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan angka-angka dan cintapun tidak lagi hanya beroperasi dalam wilayah nonmaterial di dalam diri manusia. Akuntansi saat ini telah mendapati dirinya dalam sebuah ‘tuntutan’ untuk tidak dikerangkeng dalam ruh materialisme yang selalu bermuara pada profit oriented. Sementara cinta bukan juga merupakan sebuah hal yang abstrak sehingga menerjemahkannya ke dalam dunia nyata, terutama dalam disiplin ilmu akuntansi dianggap mustahil. Para penempuh jalan sufi melihat cinta sebagai inti dari kehidupan sebab Tuhan menciptakan segala sesuatu yang ada dalam kehidupan dengan cinta. Karenanya, semua aspek dalam kehidupan, termasuk pengetahuan akuntansi memiliki dimensi cinta dalam konsep dan bentuknya sendiri. Dengan demikian, akuntansi dan cinta sangat mungkin bersanding dengan harmonis. Bahkan, menyandingkan akuntansi dan cinta dalam satu singgasana bukan hanya sangat mungkin, tapi juga menjadi suatu kebutuhan di dalam dunia bisnis di era ini.

Dengan demikian, kita dapat menarik benang merah bahwa akuntansi dan cinta dalam praktik akuntansi saat ini merupakan sebuah kebutuhan dan keniscayaan. Akuntansi membutuhkan cinta untuk mendidik sikap, mental, moral, dan prilaku accounting man untuk bersikap jujur, peduli, dan berkasih sayang terhadap sesama manusia dan alam semesata. Akuntansi yang bernafaskan cinta melepaskan diri accounting man dari sifat cinta dunia dan kepentingan diri kepada sikap alturisme yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.

6.3 Jujur dan Amanah yang Menciptakan Sebuah Manifestasi Pada