Nur Sulistiyaningsih
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret e-mail: [email protected]
Article Info Article of OSC 2022
Article history: Abstract
This study aims to examine the validity of marriage for the giving of dowries in the metaverse world from the perspective of Islamic law.
Observing marriage is a sacred bond, in addition to the rapid and dynamic development of technology, so this research is important to do to highlight the validity of marriage. This article was compiled using a normative legal research method using a conceptual approach and a statutory approach. Sources of research information using secondary legal materials, namely legal books, legal articles, journals and provisions of laws and regulations related to the topic being studied. The technique of collecting legal materials is carried out using content analysis and drawing conclusions using deduction to answer the formulation of the problem. The results of the analysis and discussion, the author concludes that the giving of a dowry in the form of money in the metaverse must meet the requirements for a valid dowry, namely: valuable property, the object is sacred and can be taken advantage of the goods are not ghasab goods, not goods whose circumstances are not clear and are money owned. In addition, there should be no elements of gharar, dharar and qimar.
If these conditions are not met, then the marriage contract is still valid, but the dowry is invalid, and the husband should replace it with another dowry object agreed with his wife.
Keywords: Legality of Marriage, Dowry, Money, Metaverse, Islamic Law
Received May 17th, 2022 Accepted June 05th, 2022 Published Nov 17th, 2022
Copyright © 2022
OSC 2022 - FHISIP Universitas Terbuka, Indonesia
The 4th Open Society Conference
PENDAHULUAN
Perkawinan merupakan akad suci yang menghalalkan dan membatasi hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Islam sangat memuliakan dan menghargai kedudukan seorang perempuan dengan memberi hak-hak kepadanya, salah satunya pemberian mahar/mas kawin (Fitri, 2018). Mahar bukanlah pembayaran yang seolah-olah menjadikan perempuan yang hendak dinikahi telah dibeli seperti barang, namun pemberian mahaw tersebut dalam syari’at Islam dimaksudkan untuk mengangkat harkat dan derajat kaum perempuan yang sejak zaman jahiliyah telah diinjak-injak harga dirinya. Dengan adanya mahar status perempuan tidak dianggap sebagai barang yang diperjualbelikan (Saebani, 2001).
Namun dalam implementasi pemberian mahar, ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukumnya. Sebagian mengatakan sebagai rukun dan sebagian yang lain menjadikannya sebagai syarat. Misalnya Ibnu Rusyd, dalam Bidayah al Mujtahid ia mengatakan bahwa Mahar merupakan syarat sahnya perkawinan (Amir Nuruddin & Azhari Akmal Tarigan, 2004: 65). Sebaliknya, menurut salah satu mazhab Syafii mengatakan bahwa mahar merupakan rukun nikah. Berbeda pula dengan pernyataan Kompilasi Hukum Islam sebagai salah satu kitab rujukan utama para hakim Agama di Pengadilan agama (PA) yang mengatakan bahwa mahar bukan rukun juga bukan syarat.
Teknologi digital yang berkembang pesat sejak tahun 2021 adalah Metaverse. Gaung Metaverse dimulai ketika Facebook resmi berganti nama menjadi Meta, sebagai bentuk bisnis baru teknologi digital berbasia virtual and augmented reality (VR/AR) (Arkeman, 2022).
Metaverse merupakan ruang digital yang yang memungkinkan para penggunanya dapat berinteraksi dengan orang lain secara realtime dan merasakan pengalaman seperti di dunia nyata. Dalam dunia Metaverse ini, pengguna satu dapat bertemu secara virtual dengan pengguna lain yang sedang daring dalam dunia digital 3D (tiga dimensi). Setiap pengguna
“diwakili” oleh avatar 3D. Inilah yang membedakan Metaverse dengan internet 2D.
Dalam penelitian ini, Penulis tertarik mengkaji tentang pemberian mahar berupa uang di dunia Metaverse. Bitcoin yang merupakan aset kripto paling populer di dunia Metaverse, kegunaannya juga berkembang menjadi mahar (mas kawin). Pasangan Jordan Simanjuntak dan Johana Dwi Utami menjadikan Bitcoin sebagai mas kawin perkawinan yang digelar pada 11 Desember 2021 (Putriadita, 2022).
Tidak hanya pemberian mahar saja, di tahun 2022, ada pasangan India yang melangsungkan perkawinan dengan dihadiri oleh 500 tamu di Metaverse (Pertiwi, 2022).
Selanjutnya, Pada 2 Juli 2022, yang notabene masih masa pandemi, ada pasangan suami istri di Yogyakarta yang memanfaatkan Metaverse untuk menggelar resepsi perkawinan.
Berdasarkan beberapa fenomena ini, Metaverse berkembang dan sangat diminati oleh masyarakat untuk kehidupan sosial mereka, contohnya adalah memberikan mahar uang dan trend menyelenggarakan perkawinan di Metaverse.
Terkait dengan pemberian mahar uang di Metaverse, ada beberapa hal yang perlu dicermati dan dikaji lebih mendalam mengenai regulasi dalam perspektif hukum Islam.
Mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Terlebih lagi, cryptocurrency yang notabene digunakan sebagai mata uang dan alat transaksi di Metaverse telah diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, ada permasalahan yang urgen untuk dikaji yaitu mengenai keabsahan perkawinan sehubungan dengan pemberian mahar berupa uang di dunia Metaverse dalam perspektif hukum Islam. Hal ini sebagai bukti bahwa hukum islam mampu mengimbangi perkembangan zaman, salah satunya dunia Metaverse yang berimplikasi tidak hanya pada aspek sosial, melainkan juga ekonomi, politik dan agama.
99 OSC 2022 Theme 1: Cyber Security Challenges In Law Perspective ISBN: 978-602-392-329-8 e-ISBN: 978-602-392-330-4
The 4th Open Society Conference
METODOLOGI
Artikel ini disusun menggunakan metode penelitian hukum normatif. Pendekatan penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. Dalam penelitian hukum tidak dikenal adanya data, sebab dalam penelitian hukum khususnya yuridis normatif sumber penelitian hukum diperoleh dari kepustakaan bukan dari lapangan, untuk itu istilah yang dikenal adalah bahan hukum (Marzuki, 2008). Dalam penelitian hukum normatif bahan pustaka merupakan bahan dasar yang dalam ilmu penelitian umumnya disebut bahan hukum sekunder. Sumber informasi penelitian menggunakan bahan hukum sekunder, yaitu buku-buku hukum, artikel hukum, jurnal, dan ketentuan peraturan perundangan-undangan terkait keabsahan perkawinan terkait pemberian mahar dalam hukum Islam. Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan dengan menggunakan analisis substansi (content analysis) serta penarikan kesimpulan menggunakan deduksi untuk menjawab rumusan permasalahan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Mahar atau mas kawin tidak menjadi salah satu syarat dan rukun perkawinan sehingga sebuah perkawinan tanpa mahar dan atau tanpa menyebut mahar pada saat akad nikah berlangsung tetap sah sepanjang memenuhi syarat dan rukun perkawinan. Namun demikian, kedudukan mahar sangat penting dalam perkawinan karena merupakan pemberian wajib dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan yang diucapkan saat akad nikah berlangsung ataupun yang tidak diucapkan (Maris, 2016).
Selanjutnya, dalam hukum Islam ada 2 macam mahar, yaitu: mahar musamma dan mahar mitsil (Halomoan, 2015).
1. Mahar musamma adalah mahar yang disepakati oleh pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang disebutkan dalam redaksi adat. Dr. H. Abd. Rahman Ghazali mendefenisikan bahwa mahar musamma adalah mahar yang sudah disebut atau dijanjikan kadar dan besarnya ketika akad nikah (Abdurrahman, 2006)
2. Mahar mitsil adalah mahar yang tidak disebutkan besar kadarnya pada saat sebelum maupun ketika terjadi pernikahan, atau mahar yang diukur (sepadan) dengan mahar yang telah diterima oleh keluarga terdekat, dengan mengingat status sosial, kecantikan dan sebagainya.
Mahar musamma dapat dibayar tunai dalam akad nikah atau sesudahnya, dapat pula dibayar bertangguh, sesuai persetujuan dua belah pihak. Sementara mahar mitsil biasanya dibayar tunai dalam akad nikah dan dapat pula dibayar bertangguh, sesuai persetujuan kedua belah pihak (Sarong, 2005).
Dalam fiqh munakahat telah disebutkan ada beberapa macam syarat sahnya mahar yang diberikan kepada calon istri, adapun syarat tersebut sebagai berikut. (Mubarok, 2002)
1. Harta berharga. Tidak sah mahar dengan yang tidak berharga walaupun tidak ada ketentuan banyak atau sedikitnya mahar, mahar sedikit tapi bernilai tetap sah disebut mahar.
2. Barangnya suci dan bisa diambil manfaatnya. Tidak sah mahar dengan memberikan khamar, babi, atau darah, karena semua itu haram dan tidak berharga/suci.
3. Barangnya bukan barang ghasab. Ghasab artinya mengambil barang orang lain tanpa seizinnya namun tidak bermaksud untuk memilikinya karena berniat untuk mengembalikannya kelak. Memberikan mahar dengan barang ghasab tidak sah.
4. Bukan barang yang tidak jelas keadaannya. Tidak sah mahar dengan barang yang tidak jelas keadaannya, atau tidak disebutkan jenisnya.
The 4th Open Society Conference
Penyebutan secara jelas tentang jumlah mahar, kadarnya, dibayar tunai atau bertangguh dalam akad nikah hukumnya sunnah. Ketentuan ini senada dengan Kompilasi Hukum Islam juga dijelaskan bahwa (Tarigan, 2004):
1. Pasal 35 yaitu (1) apabila suami yang mentalak isterinya qabla ad-Dukhu>l wajib membayar setengah mahar telah ditetapkan dalam akad nikah. (2) Apabila suami meninggal qabla al-dukhul, seluruh mahar telah ditetapkan menjadi hak penuh isterinya.
(3) Apabila perceraian terjadi qabla al-dukhul akan tetapi besarnya mahar belum ditetapkan, maka suami wajib membayar mahar mitsil.
2. Pasal 36 yaitu apabila mahar hilang sebelum diserahkan, mahar dapat diganti dengan barang lain sama bentuk dan jenisnya, atau dengan barang lain yang sama nilainya, atau dengan uang senilai dengan harga mahar yang hilang.
3. Pasal 37 yaitu apabila terjadi selisih pendapat mengenai jenis dan nilai mahar yang ditetapkan, penyelesainya diajukan Pengadilan Agama.
4. Pasal 38 yaitu (1) Apabila mahar yang diserahkan mengandung cacat atau kurang, tetapi calon mempelai wanita tetap bersedia menerimanya tanpa syarat, maka penyerahan mahar dianggap lunas. (2) Apabila isteri menolak untuk menerima mahar karena cacat, maka suami harus menggatinya dengan mahar lain yang tidak cacat. Selama penggantinya belum diserahkan, mahar masih dianggap belum dibayar.
Mahar boleh berupa uang, perhiasan, perabotan rumah tangga, binatang, jasa, harta perdagangan, atau benda-benda lainnya yang mempunyai harga. Diisyaratkan bahwa mahar harus diketahui secara jelas dan detail misalnya seratus lira atau secara global semisal sepotong emas, atau sekarung gandum (Mughniyah, 1999). Senada dengan pendapat Jaih Mubarok, menurut Ahmad Sarwat, secara umum ulama sepakat bahwa mahar harus memenuhi syarat tertentu agar sah dijadikan sebagai mahar:
1. Benda halal yang suci. Suatu benda yang akan dijadikan mahar harus terhindar dari unsur-unsur haram, karena itu mahar harus bisa dimiliki atau diperjual belikan atau dimanfaatkan, maka tidak sah mahar dengan minuman keras, babi, darah dan bangkai karena diharamkan agama Islam.
2. Benda yang berharga. Tidak sah mahar yang tidak memiliki harga. Maksudnya adalah mahar tidak boleh diambil dari benda-benda yang halal namun tidak ada harganya atau tidak bisa dinikmati oleh penerimanya, misalnya sampah, buah dan sayuran yang busuk dan lain-lain. Karena perbuatan itu berarti mempermudah perintah agama, seharusnya mahar diambil dari usaha terbaik calon suami, sebagaimana perintah infaq yang harus dikeluarkan dari hasil terbaik dari kerja seseorang.
3. Benda yang dimiliki. Mahar juga harus berupa benda yang dimiliki oleh seseorang dan dapat diserahkan kepada pengantin perempuan tersebut, dengan demikian mahar tidak boleh seperti burung yang terbang di udara atau ikan yang di laut yang belum dimiliki, karena yang demikian itu mengandung unsur tipuan, sebagaimana tidak diperbolehkannya jual beli atas sesuatu yang tidak bisa dimiliki (Ghaza, 2015)
Mahar yang rusak bisa terjadi karena barang itu sendiri atau karena sifat-sifat dari barang tersebut tidak diketahi atau sulit diserahkan, mahar yang rusak karena zatnya sendiri yaitu seperti khamar yang rusak karena sulit dimiliki atau diketahui, pada dasarnya disamakan dengan jual beli yang mengandung lima persoalan pokok (Sahrani, 2014).
1. Barangnya tidak boleh dimiliki 2. Mahar digabungkan dengan jual beli 3. Penggabungan mahar dan pemberian 4. Cacat pada mahar
5. Persyaratan dalam mahar
101 OSC 2022 Theme 1: Cyber Security Challenges In Law Perspective ISBN: 978-602-392-329-8 e-ISBN: 978-602-392-330-4
The 4th Open Society Conference
Seiring berkembangnya teknologi, saat ini dunia metaverse sedang menjadi sorotan.
Dengan teknologi metaverse yang ditunjang teknologi internet 5G, proses kolaborasi secara daring dirasa lebih mudah dan efektif. Dunia metaverse seperti dua sisi mata uang yang memiliki dampak positif dan negatif. Umumnya, metaverse sangat identic dan berkaitan dengan kripto yang sering digunakan sebagai pembayaran transaksi di metaverse. Namun, kontroversi asset kripto, yang merupakan mata uang di dunia metaverse menjadi topik hangat di tahun 2021. Ada yang pro dan kontra mengenai penggunaan crypocurrency sebagai mata uang. Sejumlah pemerintahan negara telah melarang aktivitas perdagangan kripto.
Setelah melewati pembahasan panjang, Majelis Ulama Indonesia melalui Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia ke-VII yang berlangsung dari 9-11 November 2021 menetapkan bahwa penggunaan cryptocurrency atau mata uang kripto hukumnya haram (redaksi, 2021). Adapun isi Keputusan MUI mengenai cryptocurrency, adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang hukumnya haram, karena mengandung gharar, dharar dan bertentangan dengan Undang-Undang nomor 7 tahun 2011 dan Peraturan Bank Indonesia nomor 17 tahun 2015.
2. Cryptocurrency sebagai komoditi/aset digital tidak sah diperjualbelikan karena mengandung gharar, dharar, qimar dan tidak memenuhi syarat sil’ah secara syar’i, yaitu:
ada wujud fisik, memiliki nilai, diketahui jumlahnya secara pasti, hak milik dan bisa diserahkan ke pembeli.
3. Cryptocurrency sebagai komoditi/aset yang memenuhi syarat sebagai sil’ah dan memiliki underlying serta memiliki manfaat yang jelas hukumnya sah untuk diperjualbelikan.
Pada akhir 2021, ada seorang pria yang memberikan mahar berupa bitcoin untuk mempelai wanitanya. Selanjutnya, pada tahun 2022, pasangan di India telah melangsungkan perkawinan yang dihadiri 500 tamu undangan di metaverse. Hal ini mengindikasikan bahwa dunia Metaverse sangat berkembang dan diminati, sehingga urgen untuk dibuatkan model regulasi yang jelas sebagai bentuk kepastian hukum bagi para penggunanya. Salah satunya tentang pemberian mahar uang di dunia metaverse, yang memang belum ada pengaturan yuridisnya.
Lalu bagaimana jika ke depan ada pasangan muslim yang ingin memberikan mahar berupa uang di dunia metaverse? Apakah hal tersebut diperbolehkan dan perkawinannya sah?
Mengingat, MUI telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang. Mencermati hasil fatwa MUI pada poin 1 dan 2, jika mahar uang tersebut mengandung gharar dan dharar tentu saja tidak diperbolehkan.
Gharar dalam hukum Islam berarti keraguan, tipuan atau tindakan yang bertujuan untuk merugikan orang lain. Gharar juga dapat diartikan suatu akad yang mengandung unsur penipuan karena tidak adanya kepastian, baik mengenai ada atau tidak adanya objek akad, besar kecilnya jumlah, maupun kemampuan menyerahkan objek yang disebutkan di dalam akad tersebut.
Dharar berarti transaksi yang dapat menimbulkan kerusakan, kerugian, ataupun ada unsur penganiayaan. Dharar memiliki dampak yang dapat mengakibatkan terjadinya pemindahan hak kepemilikan secara bathil. Menurut keterangan dari Ubadah bin Shomit, sesungguhnya Rasululloh SAW menghukumi bahwa tidak boleh seseorang merusak (diri, harta, kehormatan) orang lain.
Menurut Penulis, jika mempelai laki-laki tidak bertujuan untuk membuat tipu muslihat, keraguan dan merugikan orang lain serta mampu membuktikan bahwa mahar uang yang akan diberikan kepada mempelai wanita bersifat jelas dan pasti, hukumnya boleh. Tujuan
The 4th Open Society Conference
perkawinan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah, dan pemindahan kepemilikan mahar dalam kondisi ini bukan merupakan transaksi jual beli karena mahar adalah pemberian dari suami kepada istri atas apa yang telah disepakati.
Pada poin 2, jika cryptocurrency berlaku sebagai komoditi/aset digital tidak sah diperjualbelikan karena mengandung gharar, dharar, qimar dan tidak memenuhi syarat sil’ah secara syar’i, yaitu: ada wujud fisik, memiliki nilai, diketahui jumlahnya secara pasti, hak milik dan bisa diserahkan ke pembeli. Dalam hal ini, ada penambahan kriteria mengenai alasan mengapa MUI mengharamkan cryptocurrency. Adapun Qimar merupakan suatu bentuk permainan yang didalamnya dipersyaratkan. Secara ilustrasi diartikan jika salah seorang pemain menang, maka ia akan mengambil keuntungan dari pemain yang kalah dan sebaliknya.
Prinsip ini juga sejalan dengan syarat sah mahar yang telah dikemukakan Penulis.
Ada pengecualian terkait kebolehan cryptocurrency yang digunakan sebagai komoditi/asset. Objeknya harus memenuhi syarat sebagai sil’ah dan memiliki underlying serta memiliki manfaat yang jelas hukumnya sah untuk diperjualbelikan. Jika dikaitkan dengan mahar yang akan diberikan dalam perkawinan, jika cryptocurrency memenuhi syarat sebagai sil’ah dan memiliki underlying, hukumnya sah. Apalagi tujuan dan manfaatnya jelas sebagai mahar dalam perkawinan.
Selanjutnya, berdasarkan syarat sah mahar, jika objek uang di Metaverse memenuhi kualifikasi sebagai harta berharga, barangnya suci dan dapat diambil manfaatnya, barangnya bukan barang ghasab, bukan barang yang tidak jelas keadaannya dan merupakan uang yang dimiliki. Jika proses pemberian mahar uang tidak mengakibatkan kerugian, syarat mahar tersebut sah dan terpenuhi.
Dalam perkembangannya, ternyata tidak hanya cryptocurrency yang berlaku sebagai mata uang dalam Metaverse, melainkan rupiah juga sedang dikembangkan oleh beberapa bank. Saat ini, Bank Nasional Indonesia (BNI) menyatakan dalam melakukan transaksi komersial di dalam metaverse akan dilakukan dengan mata uang rupiah, jadi tidak harus cryptocurrency (Pratomo, 2022). Pernyataan ini semakin membuktikan jika ke depan, mata uang rupiah akan digunakan sebagai alat transaksi, bahkan dapat digunakan dan difungsikan sebagai mahar dalam perkawinan.
Menurut analisis Penulis, mahar bukan termasuk rukun dan syarat perkawinan. Namun demikian, pemberian mahar merupakan suatu kewajiban bagi calon suami terhadap calon istrinya ketika hendak melangsungkan perkawinan. Menurut seluruh mazhab, kecuali madzab Malikiyah, mensyaratkan bahwa mahar harus diketahui secara jelas dan riil atau secara global mengenai jumlahnya. Apabila tidak terpenuhi syarat tersebut, akad perkawinan tetap sah tetapi mahar tersebut batal. Sedangkan menurut Malikiyah, berpendapat jika syarat mahar tersebut tidak terpenuhi, maka akad perkawinannyanya fasid (tidak sah) dan di-faskh sebelum terjadi percampuran, tetapi bila terjadi percampuran maka akad dinyatakan sah dengan menggunakan mahar mitsil.
SIMPULAN
Di dunia Metaverse yang sedang tren sejak tahun 2021, setiap orang dapat membangun jaringan dan berinteraksi secara virtual hologram. Banyak peluang untuk menghasilkan uang yang notabene dapat dijadikan dalam mahar perkawinan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, penulis bersimpulan bahwa pemberian mahar berupa uang di Metaverse harus memenuhi syarat sah mahar, yaitu harta berharga, barangnya suci dan dapat diambil manfaatnya, barangnya bukan barang ghasab, bukan barang yang tidak jelas keadaannya, dan merupakan uang yang dimiliki. Selain itu tidak boleh ada unsur gharar, dharar, dan qimar.
Jika tidak terpenuhi syarat tersebut, akad perkawinan tetap sah tetapi mahar tersebut batal dan
103 OSC 2022 Theme 1: Cyber Security Challenges In Law Perspective ISBN: 978-602-392-329-8 e-ISBN: 978-602-392-330-4
The 4th Open Society Conference
sebaiknya suami mengganti dengan objek mahar lain yang disepakati dengan istrinya. Hingga saat ini, belum ada pengaturan yuridis yang mengatur mengenai Metaverse secara jelas dan rinci, padahal perkembangannya sangat dinamis. Selain memiliki banyak peluang dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Namun, ada beberapa dampak negatif lainnya yang menyertai sehingga peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk andil dalam membuat perangkat hukum yang terkait dengan inovasi pada teknologi informasi atau teknologi digital saat ini.
Perlu adanya pembaharuan hukum dan pengembangan digital authority untuk memastikan adanya sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan digital yang menjamin kepastian hukum.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, A. b. (2006). Syarah Bulughul Marom. Jakarta: Pustaka Azzam.
Arkeman, Y. (2022, June 27). Retrieved from Republika.id:
https://www.republika.id/posts/23931/bersiap-mengarungi-metaverse
Fitri, A. B. (2018). Eksistensi Mahar Pernikahan dalam Islam. Jurnal Usratuna Volume 2 Nomor 1, 29.
Ghaza, L. U. (2015). Tafsir Ahkam. Ciputat: UIN Press.
Halomoan, P. (2015). PENETAPAN MAHAR TERHADAP KELANGSUNGAN PERNIKAHAN DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM. JURIS Volume 14, Nomor 2, 112.
Maris, H. (2016). Konsep Mahar dalam Perspektif Hukum Fikih dan Perundang-Undangan.
Jurnal Yudisial Vol. 9 No. 1, 22.
Marzuki, P. M. (2008). Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Mubarok, J. (2002). Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah Asasi. Jakarta: Raja Grafindi Persada.
Mughniyah, A. M. (1999). Fiqih lima mazhab: Ja'fari, Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambal.
Indonesia: Lentera Basritama.
Pertiwi, W. K. (2022, June 27). tekno.kompas.com. Retrieved from kompas.com:
https://tekno.kompas.com/read/2022/02/16/10010027/kemeriahan-pernikahan-perdana-di-metaverse-yang-dihadiri-500-tamu?page=all
Pratomo, G. Y. (2022, February 15). Retrieved from Liputan6.com:
https://www.liputan6.com/crypto/read/4887791/bni-tetap-pakai-rupiah-meski-buka-cabang-di-metaverse
Putriadita, D. (2022, June 26). investasi.kontan.co.id. Retrieved from kontan.co.id:
https://investasi.kontan.co.id/news/bitcoin-rp-719-juta-dijadikan-sebagai-mas-kawin redaksi. (2021, November 12). Retrieved from mui.or.id:
https://mui.or.id/berita/32209/keputusan-fatwa-hukum-uang-kripto-atau-cryptocurrency/
The 4th Open Society Conference
Saebani, B. A. (2001). Fiqh Munakahat 1. Bandung: Pustaka Setia.
Sahrani, T. d. (2014). Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap. Jakarta: Rajawali Pers . Sarong, H. A. (2005). Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Banda Aceh: Yayasan Pena.
Tarigan, A. N. (2004). Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media Group.
The 4th Open Society Conference OSC 2022
Faculty of Law, Social and Political Sciences
Universitas Terbuka 105