• Tidak ada hasil yang ditemukan

Legislasi dan Kebijakan Hukum Pidana 2016

1. Kecepatan dan komitmen pemerintah dalam merampungkan segera pembahasan RKUHP patut diapresiasi. Namun bila melihat hasil kesepakatan pembahasan, Buku II masih memiliki problem krusial yang tidak terlalu dalam dikaji oleh Panitia Kerja RKUHP. Selain itu, problem distribusi pemidanaan dalam RKUHP masih cenderung meningkatkan sanksi pemenjaraan dibanding sanksi pidana yang lebih mendorong alternatif pidana kemerdekaan (alternative to imprisonment) seperti dalam kerangka tujuan pemidanaan. Hal ini justru bertolak belakang dengan sikap pemerintah yang sebelumnya selalu mengampanyekan adanya alternatif jenis penghukuman hukuman baru, misalnya dalam bentuk, denda, ganti rugi dan kerja sosial dalam RKUHP.

2. Merespon peristiwa bom dan serangan di kawasan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016, pemerintah kemudian melakukan langkah-langkah kebijakan terkait politik hukum nasional. Pada akhir Januari 2016, pemerintah kemudian memfinalkan RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan di Februari 2016 pemerintah menyerahkan naskah rancangan tersebut kepada DPR secara terbatas. Ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan dalam RUU Terorisme, beberapa diantaranya adalah: mengenai mekanisme pengawasan terhadap upaya paksa, penahanan Incommunicado, masa penangkapan dan penahanan yang menjadi sangat panjang. Hal lain yang justru dilupakan dalam pembahasan ini adalah mengenai ha –hak korban dalam tindak pidana terorisme.

3. Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) meminta agar Pemerintah dan DPR berhati–hati dalam membahas RUU Larangan Minuman Beralkohol (Minol). Pembahasan yang baik dan berdasarkan riset yang mendalam terhadap RUU Larangan Minol ini akan dapat mencegah terjadinya inflasi peraturan pidana yang tidak perlu. Inflasi aturan pidana saat ini sedang terjadi dan di masa depan

121

secara faktual telah menyebabkan beban pembiayaan Negara dan juga beban ekonomi bagi masyarakat Indonesia.

4. Salah satu upaya untuk menghadirkan pelrindungan komprehensif bagi perempuan korban kekerasan dan korban kekerasan seksual, Komnas Perempuan menyusun draft RUU tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang dimulai sejak 2014. RUU PKS sendiri memiliki catatan diantaranya mengenai kejelasan rumusan tindak pidana dan proporsi ancaman pidana pelaku kekerasan seksual dan juga diperlukan adanya harmonisasi dengan aturan lain yang telah ataupun sedang akan diatur dalam KUHP ataupun R KUHP.

5. Pada 2016 DPR RI akhirnya mengesahkan Revisi UU ITE yang telah di bahas Panja Komisi I DPR dengan Pemerintah. Setelah melewati 2 kali rapat kerja dan 5 kali rapat di Panitia Kerja Komisi I DPR, akhirnya menyelesaikan pembahasan RUU Perubahan UU ITE pada Selasa 30 Agustus 2016. Arah perubahan UU ITE dapat dikatakan setengah hati karena dari awal pemerintah memang memiliki banyak kepentingan terutama ada upaya yang ditujukan untuk melegitimasi kepentingan pemerintah agar sikap kritis masyarakat Indonesia dikekang dengan menambahkan kewenangan- kewenangan baru Pemerintah. Semua revisi lebih banyak memberikan kewenangan-kewenangan baru kepada pemerintah.

7.5.

Kebijakan dan Implementasi Hak Saksi dan Korban di Indonesia

1. Dari segi implementasi perlindungan saksi korban, secara nasional, perkembangan di 2016 yang terlihat berada dalam lingkup kewenangan LPSK. Tidak ada satupun catatan secara nasional terkait implementasi perlindungan saksi dan korban di Indonesia selain yang dilakukan oleh LPSK. ICJR masih mendorong lembaga-lembaga yang memiliki mandat perlindungan saksi dan korban untuk melaporkan dan mengintegrasikan data-data perlindungan saksi dan korban di Indonesia. Dari sisi regulasi diperlukan beberapa revisi terutama PP No. 44 Tahun 2009 dan Keputusan Menteri Keuangan No. 983/KMK.01/1983 tentang Tata Cara Pembayaran Ganti Kerugian.

2. Praktik pemberian restitusi cukup jamak dipraktikkan dan umumnya dilakukan baik dari sisi korban kejahatan, jaksa penuntut umum ataupun difasilitasi melalui LPSK. Selama 2016, restitusi yang telah berhasil difasilitasi oleh LPSK adalah sebanyak 152 kasus dengan total restitusi yang sebesar Rp. 3,205,229,396. Namun dikarenakan ketidakmampuan para pelaku untuk membayar restitusi, permohonan restitusi yang dapat dieksekusi pada 2016 hanya sebesar Rp. 1.008.634.000.

3. Pada 2016 seharusnya merupakan momen penting dalam hal implementasi hak-hak korban korban terorisme. Indonesia pada dasarnya sudah lebih siap untuk merespon penanganan korban dan hak–hak korban kejahatan terorisme idealnya juga telah dapat diimplementasikan dengan baik. Dalam kasus serangan terorisme di Sarinah-Thamrin yang terjadi pada awal 2016, hak – hak kompensasi korban terorisme malah diabaikan meski para Korban sudah mengajukan permohonan Kompensasi secara resmi.

4. Pada 2016, beberapa institusi penegak hukum masih menemukan beberapa persoalan terakit dengan implementasi Justice Collaborator (JC) yang mencakup persyaratan JC, prosedur pengajuan, lembaga yang menetapkan status JC maupun dalam hal perlindungan dan reward bagi JC. Meski menemui banyak persoalan, namun jika dilihat dari data pemberian status JC di beberapa Intitusi, instrumen JC masih diharapkan oleh para pelaku yang berniat membantu aparat penegak hukum. Persoalan ini juga memicu perbedaan cara pandang tentang JC, terutama perbedaan memahami peran JC diantara Jaksa Penuntut Umum dengan Pengadilan. Untuk mengatasi perbedaan cara pandang ini, institusi penegak hukum perlu untuk duduk bersama untuk menyamakan persepsi tentang peran JC dalam penegakkan hukum pidana.

122

5. Meskipun whistle blower merupakan salah satu pendukung penitng dalam penegakan hukum pidana, namun perlindungan terhadap WB kurang mendapatkan perhatian yang serius sepanjang 2016. Dari sisi kebijakan belum ada regulasi baru yang memberikan proteksi lebih kuat paska revisi UU Perlindungan saksi dan Korban, UU No 31 tahun 2014. Pada 2016 ini juga terjadi peningkatan orang–orang yang menerima status WB. Pada 2016, LPSK telah memberikan perlindungan terhadap telah memberikan perlindungan kepada 36 orang yang berstatus WB terkait berbagai kasus tindak pidana seperti korupsi, penganiayaan, penyiksaan dan lain-lain. 6. Sepanjang 2016, juga terjadi peningkatan terhadap akses layanan rehabilitasi bagi korban tindak

pidana, terutama untuk anak korban kejahatan, korban pelanggaran HAM berat, dan korban terorisme. Layanan rehabilitasi ini difokuskan kepada layanan dalam bentuk bantuan medis, psikologis, maupun psikososial.

123

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Jurnal

Ajeng Gandini K, Siti Hardiyani dan Supriyadi W. Eddyono dkk, Progress Report #1 Pembahasan RUU Terorisme di Panitia Khusus (Pansus) Komisi I DPR RI, Jakarta : ICJR, Desember 2016

Anggara, Supriyadi W. Eddyono, Ajeng Gandini K, Distribusi Ancaman PidanaDalam R KUHP dan Implikasinya, Jakarta : ICJR, Oktober 2016

BNN, Laporan Akhir Survei Nasional Perkembangan Penyalahguna Narkoba Tahun Anggaran 2014, 2014. Jonathan Clough, Principles of Cybercrime, New York; Cambridge University Press

Laporan Monitoring ICJR, Pembahasan RKUHP oleh Panja Komisi III DPR dan Pemerintah, Rabu 14 Desember 2016.

Laporan Monitoring ICJR, Pembahasan RKUHP oleh Panja Komisi III DPR dan Pemerintah, Selasa 13 Desember 2016

Laporan Tahunan 2016 Mahkamah Agung Republik Indonesia

Supriyadi W. Eddyono, Erasmus A.T. Napitupulu, dan Anggara., Meninjau Rehabilitasi Pengguna Narkotika dalam Praktik Peradilan : Implementasi SEMA dan SEJA Terkait Penempatan Pengguna Narkotika dalam Lembaga Rehabilitasi di Surabaya, Jakarta : ICJR dan Rumah Cemara, Agustus 2016

Unicef Indonesia, Ringkasan Kajian : Respon Terhadap HIV & AIDS, Oktober 2012.

Komnas Perempuan, Kekhususan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, Bagian 8 Pengaturan Tindak Pidana Kekerasan Seksual dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, 2016

Link Berita Terkait

CNN Indonesia, Pemerintah Bakal Revisi PP Terkait Remisi Narapidana, http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160614135942-20-138078/pemerintah-bakal-revisi- pp-terkait-remisi-narapidana/

Elsam, Penyiksaan sebagai Manifestasi Dominasi dan Kuasa Aparat Penegak Hukum Indonesia, http://elsam.or.id/2016/06/penyiksaan-sebagai-manifestasi-dominasi-dan-kuasa-aparat-penegak- hukum-indonesia/

Forum legislator: Tarik-Ulur ‘UU Lara ga Mi u a Beralkohol , “elasa “eptember 2016 yang juga dihadiri Ketua Apindo Bidang Kebijakan PubliK Danang Girindrawardana, dan Ketua YLKI Tulus Abadi di Gedung DPR RI Jakarta

ICJR, Praktek Penyiksaan Masih Menjadi Bagian Dalam Penegakan Hukum Pidana di Indonesia, http://icjr.or.id/praktek-penyiksaan-masih-menjadi-bagian-dalam-penegakan-hukum-pidana-di- indonesia/

---, Mendorong Penegakan Pertanggungjawaban Korporasi dalam Perkara Pidana : Perma No 13 tahun 2016 dan Tantangannya, http://icjr.or.id/mendorong-penegakan-pertanggungjawaban- korporasi-dalam-perkara-pidana-perma-no-13-tahun-2016-dan-tantangannya/

Kompas, Buwas: Pengguna Narkoba di Indonesia Meningkat hingga 5,9 Juta Orang, 11 Januari 2016,

diakses melalui :

http://regional.kompas.com/read/2016/01/11/14313191/Buwas.Pengguna.Narkoba.di.Indonesia. Meningkat.hingga.5.9.Juta.Orang

124

Republika, Panja RUU LMB Sepakati Penggolongan

Minol,http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/06/23/o96sge282-panja-ruu- lmb-sepakati-penggolongan-minol

Sambutan Presiden Republik Indonesia, Pada Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Penanganan Narkoba Tahun 2015, Di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan Tanggal 4 Februari 2015

Tempo, Laki-Laki Paling Banyak Jadi Terlapor Kasus UU ITE, https://m.tempo.co/read/news/2016/12/29/172831059/laki-laki-paling-banyak-jadi-terlapor- kasus-uu-ite

Tribun Medan, Buwas: Setiap Hari 30-40 Orang Mati Akibat Narkoba, http://medan.tribunnews.com/2016/01/20/buwas-setiap-hari-30-40-orang-mati-akibat-narkoba Tribun Jabar, Revisi UU ITE Masih Ancam Pengguna Media Sosial,

http://jabar.tribunnews.com/2016/12/04/revisi-uu-ite-masih-ancam-pengguna-media- sosial?page=all

Tribun Medan, KontraS: 105 Luka dan 13 Meninggal Akibat Kekerasan Sepanjang 2016, http://medan.tribunnews.com/2016/12/29/kontras-105-luka-dan-13-meninggal-akibat-

kekerasan-sepanjang-2016

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=8712&Itemid=26 http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly/year/2016/month/12

http://www.infonawacita.com/menkominfo-kasus-pelanggaran-uu-ite-terbanyak-di-ntb/

http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly/year/2016/month/12 diakses pada 25 Januari 2017, Pukul 10.52 WIB.

http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly/year/2016/month/12 diakses pada 25 Januari 2017, Pukul 11.01 WIB. http://informatics-informatika.blogspot.co.id/2015/05/packet-sniffing.html] http://wikidpr.org/news/ruu-larangan-minuman-beralkohol---rapat-pleno-baleg http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/11739 http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/12393 http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/12405 http://wikidpr.org/news/pikiran-rakyat-soal-larangan-minol-ppp-kehendaki-pengecualian http://www.dpr.go.id/berita/detail/id/14107dan http://www.mampu.or.id/id/photo/komnas-perempuan-serahkan-draft-ruu-pks-kepada-dpd-ri http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/09/06/pembahasan-ruu-minuman-beralkohol-cakup-4- aspek-379285.

125

PROFIL PENULIS

Supriyadi Widodo Eddyono, saat ini aktif sebagai peneliti senior dan menjabat sebagai Direktur Eksekutif di ICJR. Aktif di Koalisi Perlindungan Saksi dan Korban – yang sejak awal melakukan advokasi terhadap proses legislasi UU Perlindungan Saksi dan Korban – . Selain itu pernah berkarya di Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) sebagai Koordinasi Bidang Hukum dan pernah menjadi Tenaga Ahli di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Ajeng Gandini Kamilah,peneliti di Institute for Criminal Justice Reform (ICJR). Sempat berkarya sementara di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Barat, serta melakukan penelitian bersama Center for Detention Studies (CDS) terkait isu Pemasyarakatan. Saat ini sedang memfokuskan diri pada penelitian tentang perkawinan usia anak, Rancangan KUHAP dan Rancangan KUHP.

Erasmus A.T. Napitupulu, lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung yang saat ini berkarya sebagai Peneliti di Institute for Criminal Justice Reform (ICJR). Aktif dalam advokasi beberapa peraturan perundang-undangan dan isu hukum nasional, salah satunya Rancangan KUHAP dan Rancangan KUHP.

PROFIL EDITOR

Anggara, Lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Anggota dari Jaringan Pembela Hukum Media Asia Tenggara (SEA Media Legal Defence Network) dan International Media Lawyers Association (IMLA). Saat ini merupakan peneliti senior serta mengemban jabatan sebagai Ketua Badan Pengurus di ICJR. Sebelumnya merupakan pengacara publik di Lembaga Bantuan Hukum Bandung (LBH Bandung), juga pernah berkarya di LPSK, AJI, PBHI dan Peradi.

126

PROFIL ICJR

Institute for Criminal Justice Reform, disingkat ICJR, merupakan lembaga kajian independen yang memfokuskan diri pada reformasi hukum pidana, reformasi sistem peradilan pidana, dan reformasi hukum pada umumnya di Indonesia.

Salah satu masalah krusial yang dihadapi Indonesia pada masa transisi saat ini adalah mereformasi hukum dan sistem peradilan pidananya ke arah yang demokratis. Di masa lalu hukum pidana dan peradilan pidana lebih digunakan sebagai alat penompang kekuasaan yang otoriter, selain digunakan juga untuk kepentingan rekayasa sosial. Kini saatnya orientasi dan instrumentasi hukum pidana sebagai alat kekuasaan itu dirubah ke arah penopang bagi bekerjanya sistem politik yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia. Inilah tantangan yang dihadapi dalam rangka penataan kembali hukum pidana dan peradilan pidana di masa transisi saat ini.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, maka diperlukan usaha yang terencana dan sistematis guna menjawab tantangan baru itu. Suatu grand design bagi reformasi sistem peradilan pidana dan hukum pada umumnya harus mulai diprakarsai. Sistem peradilan pidana seperti diketahui menduduki tempat yang sangat strategis dalam kerangka membangun the Rule of Law, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Sebab demokrasi hanya dapat berfungsi dengan benar apabila ada pelembagaan terhadap konsep the Rule of Law. Reformasi sistem peradilan pidana yang

erorie tasi pada perli du ga hak asasi a usia de ga de ikia erupaka conditio sine quo non de ga proses pele agaa de okratisasi di asa transisi saat ini.

Langkah-langkah dalam melakukan transformasi hukum dan sistem peradilan pidana agar menjadi lebih efektif memang sedang berjalan saat ini. Tetapi usaha itu perlu mendapat dukungan yang lebih luas. Institutefor Criminal Justice Reform (ICJR) berusaha mengambil prakarsa mendukung langkah-langkah tersebut. Memberi dukungan dalam konteks membangun penghormatan terhadap

the Rule of Law dan secara bersamaan membangun budaya hak asasi manusia dalam sistem peradilan pidana. Inilah alasan kehadiran ICJR

Sekertariat

Jl. Siaga II No. 6F. Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan – 12510 Phone/Fax : 0217945455

Email : [email protected] http://icjr.or.id | @icjrid