Tokoh Bicara
4. Lembaga-lembaga Penegakan HAM di Indonesia
Lembaga-lembaga yang dipersiapkan untuk penegakan HAM di Indonesia.
a. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
Komnas HAM dibentuk melalui Keppres Nomor 5 Tahun 1993, kemudian dikukuhkan lagi melalui UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM hal ini dilakukan untuk mengukuhkan independensi Komnas HAM. Tujuan dibentuknya Komnas HAM adalah untuk:
1) mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM sesuai dengan Pancasila, UUD 1945 dan Piagam PBB, serta Deklarasi Universal HAM, dan
2) meningkatkan perlindungan dan penegakan HAM guna
berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya bepartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. (Pasal 75 UU No. 39 Tahun 1999)
Untuk mencapai tujuan tersebut Komnas HAM melaksanakan fungsi Pengkajian, Penelitian, penyuluhan, pemantauan dan fungsi mediasi tentang HAM. Komnas HAM dibentuk di Jakarta dan dapat mendirikan perwakilan di daerah, yang diprioritaskan di daerah-daerah yang rawan pelanggaran HAM.
Menurut ketentuan pasal 90 UU no. 39 Tahun 1999 setiap orang atau sekelompok orang berhak mengajukan laporan dan pengaduan baik secara lisan maupun tertulis kepada Komnas HAM, apabila mempunyai alasan yang kuat bahwa Hak asasinya telah dilanggar. Apabila pengaduan dilakukan oleh pihak lain maka pengaduan harus disertai dengan persetujuan dari pihak yang dilanggar hak asasinya, kecuali untuk pelanggaran HAM tertentu berdasarkan pertimbangan Komnas HAM.
Selanjutnya menurut ketentuan pasal 94 UU No. 39 Tahun 1999, pihak pengadu, korban, saksi atau pihak lainnya yang terkait dengan pelanggaran HAM wajib memenuhi permintaan Komnas HAM. Apabila pihak-pihak tersebut tidak memenuhi pemanggilan atau menolak memberi keterangan, maka Komnas HAM dapat meminta ketua poengadilan yang bersangkutan melakukan pemanggilan secara paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Pengadilan Hak Asasi Manusia
Menurut ketentuan UU No. 26 Tahun 2000 Pengadilan Hak Asasi Manusia merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Peradilan Umum dan berkedudukan di daerah kabupaten atau kota. Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara “pelanggaran HAM yang berat”. Pelanggaran HAM yang berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan
dengan maksud menghancurkan atau memusnhakan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama dengan cara:
2) mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok,
3) menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan
mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya,
4) memaksakan tindakan-tindkan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok
5) memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain. (pasal 8 UU No. 26 Tahun 2000)
Sedangkan yang dimaksud kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa hal-hal sebagai berikut.
1) Pembunuhan. 2) Pemusnahan. 3) Perbudakan.
4) Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa.
5) Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional.
6) Penyiksaan.
7) Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk kekerasan seksual lain yang setara.
8) Penganiyaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin, atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional.
10)Kejahatan apartheid. (pasal 9 UU No. 26 Tahun 2000).
Penenutuan kompetensi Pengadilan HAM ini sangat penting guna mencegah terjadinya tumpang tindih kewenangan antara Pengadilan HAM dan Pengadilan Pidana. Pengadilan HAM Indinesia mulai di gelar pertama kalinya pada tanggal 14 Maret 2002 yang mengadili pelanggaran HAM berat yang terjadi di Timor Timur Pasca Jajak Pendapat.
c. Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc
Berhubung Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum UU No. 26 Tahun 2000 diundangkan (tidak menganut asas retroaktif), maka dapat dibentuk Pengadilan HAM Ad Hoc atas usul Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan peristiwa tertentu dengan keputusan Presiden. DPR mengusulkan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc berdasarkan pada dugaan telah terjadi pelanggaran HAM yang berat yang dibatasi oleh locus dan tempus delicti (tempat dan waktu kejadian) tertentu, yang terjadi sebelum diundangkan UU No. 16 Tahun 2000.
Dimulainya peradilan HAM ad hoc merupakan salah satu lembar sejarah baru dalam dunia peradilan di Indonesia, yang tidak saja mendapat perhatian di tanah air bahkan mendapat perhatian dunia internasional. Dengan Pengadilan HAM ad hoc dimungkinkan kasus-kasus pelanggaran HAM yang berat dimasa orde baru, seperti tragedi Tanjung Priuk, Tragedi Talangsari s di Lampung, tragedi Timika di Irian, tragedi Jajak Pendapat Di Timor Timur, dan lain-lain dapat diproses.
d. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
UU No. 26 Tahun 2000 memberikan alternatif penyelesaian pelanggaran HAM yang berat, di luar Pengadilan HAM, yaitu melalui
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, yang dibentuk dengan undang- undang. Melalui komisi ini diharapkan perkara-perkara pelanggaran HAM yang berat yang terjadi di masa lalu dapat segera dituntaskan, dengan penyelesaian yang dpat diterima oleh semua pihak.
Dengan adanya pengadilan HAM dan Komisi kebenaran dan Rekonsiliasi tersebut diharpakan upaya-upaya penegakan HAM di Indonesia dapat berjalan dengan baik.
Rangkaian acara pemeiksaan dan pemutusan perkara
pelanggaran HAM yang berat, menurut UU No. 26 Tahun 2000 terdiri atas beberapa tahap, yaitu:
1) Tahap Penyelidikan, yang berwenang melakukan penyelidikan adalah Komnas HAM. Setelah melakukan penyelidikan, apabila Komnas HAM berpendapat bahwa terdapat bukti permulaan yang cukup, telah terjadi peristiwa pelanggaran HAM yang berat, maka kesimpulan hasil penyelidikan disampaikan kepada penyidik.
2) Tahap Penyidikan, kewenangan penyidikan pelanggaran HAM berat berada di tanagan jaksa agung. Jaksa Agung dapat mengangkat “penyidik ad hoc” yang terdiri atas unsur pemerintah dan masyarakat. Penyidik berwenang melakukan penangkapan dan penahanan untuk kepentingan penyidikan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan pelanggaran HAM yang berat berdasarkan bukti permulaan yang cukup
3) Tahap Penuntutan, Penuntutan dilakukan oleh Jaksa Agung. Dalam pelaksanaan tugasnya Jaksa Agung dapat mengangkat “penuntut umum ad hoc”. Penuntutan wajib dilakukan oleh penuntut umum paling lambat 70 hari terhitung sejak hasil penyidikan diterima.
4) Tahap pemeriksaan di muka sidang, perkara pelanggaran HAM yang berat, diperiksa dan diputuskan oelh Pengadilan HAM dalam waktu paling lama 180 hari terhitung sejak perkara dilimpahkan. Apabila perkara pelanggaran HAM yang berat dimohonkan banding ke pengadilan tinggi HAM, maka perkara tersebut diperiksa dan
diputus dalam waktu paling lama 90 hari. Apabila dimohonkan Kasasi ke Mahkamah Agung, pekara tersebut harus sudah diperiksa dan diputus dalam waktu paling lama 90 hari.
Apabila terjadi suatu pelanggaran HAM yang berat yang berwenang menerima laporan dan pengaduan adalah Komnas HAM.
Hak-hak asasi manusia dibataskan sebagai nilai-nilai dan prinsip-prinsip etis memberikan makna untuk hubungan-hubungan antara orang seorang, demikian pula untuk kehidupan individual dan sosial mereka. Seorang manusia bukanlah individu yang terisolasi, demikian pula dengan martabat manusia tidaklah secara ekslusif (khusus) bersifat individual. Martabat manusia meliputi semua matra (aspek) sosial dan kolektif, serta penyisipannya ke dalam lingkungan alam dan budaya. Adalah berdasarkan penghormatan seseorang kepada orang lain, maka kewajiban untuk membuat tindakan sendiri serasi dengan keseluruhan HAM sehingga hubungan-hubungan sosial dapat adil, sopan, dan bersifat kewarganegaraan serta mempunyai dasar hukum dan etik.
HAM memampukan kita untuk “HIDUP BERSAMA” secara
damai mengatasi konflik-konflik perseorangan dan sosial,
mengharmoniskan moralitas individual dengan hukum-hukum dan hak- hak yang mengatur hubungan-hubungan sosial itu.
C. Rangkuman
1. Hak Asasi Manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa manusia semenjak lahir yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Hak Asasi Manusia merupakan anugerah-Nya yang wajib dihoramati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Dengan demikian, maka Hak Asasi Manusia itu merupakan hak yang
2. Munculnya kesadaran tentang Hak Asasi Manusia dipicu dari munculnya kesewenang-wenangan dan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan oleh penguasa terhadap rakyatnya dan tidak
seimbangnya kedudukan antarmanusia. Kesadaran tentang
pentingnya penghormatan terhadap hak-hak yang dimiliki manusia
tercermin dalam Piagam Magna Charta (1215), Habeas Corpus Act
(1679), Bill of Right (1689), Declaration of Independence (1776),
Declaration des droit de l,homme et du citoyen (1789), dan juga
konsep four freedom dari Roselvelt. Melalui Universal Declaration of
Human Right (PBB 1948) pengakuan dan jaminan tentang Hak Asasi Manusia lebih dimantapakan secara internasional dan menjadi tonggak HAM yang terus dikembangkan di kemudian hari.
3. Hak asasi manusia berkembang menurut tingkat kemajuan kebudayaan. Dewasa ini hak asasi manusia meliputi berbagai bidang
sebagai berikut: Hak asasi pribadi (personal rights), Hak asasi
ekonomi (property rights), Hak asasi mendapatkan pengayoman dan
perlakukan yang sama dalam keadilan dan pemerintahan, atau dapat
disebut sebagai hak persamaan hukum (rihts of legalequality). Hak
asasi politik (political rihts), Hak asasi sosial dan kebudayaan (social
and culture rights), dan Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata
peradilan dan perlindungan hukum (procedural rights).
4. Penegakan HAM di Indonesia sebagai upaya sadar untuk melindungi dan melalui lembaga-lembaga yang dipersiapkan untuk penegakan HAM di Indonesia, antara lain: (1)Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), (2) Pengadilan Hak Asasi Manusia; (3) Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc; dan (4) Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
5. HAM memampukan kita untuk “HIDUP BERSAMA” secara damai
mengatasi konflik-konflik perseorangan dan sosial,
mengharmoniskan moralitas individual dengan hukum-hukum dan hak-hak yang mengatur hubungan-hubungan sosial itu.
D. Tes Formatif