BAB III METODOLOGI PENELITIAN
F. Prosedur Penelitian
2. Lembaga-lembaga Peradilan Kasunanan sebelum
di bawah pengawasan dan campur tangan kolonial. Menurut pemerintah kolonial, peradilan dan kepolisian yang berdasarkan hukum Jawa tidak menunjukkan hasil yang maksimal. Jalannya peradilan dan kepolisian di Praja Kasunanan masih banyak ditemui kekurangan-kekurangan. Hal ini mengakibatkan keadaan di Surakarta memburuk dan membahayakan ketentraman dan keamanan, serta merugikan adat-istiadat, kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat. Dari realita yang ada, terjadi persetujuan antara Menteri Negara, J.F.W. van Nes dan Susuhunan
untuk menetapkan dasar-dasar dan ketentuan-ketentuan tentang jalannya peradilan dan kepolisian di Praja Surakarta (Staatsblad van Nederlandsch Indie 1847 nomor 30: 2).
2. Lembaga-Lembaga Peradilan Kasunanan sebelum penetrasi Pemerintah Kolonial Belanda
Keraton Kasunanan Surakarta sebagai suatu bentuk kerajaan, memiliki sebuah struktur pemerintahan yang tersusun atas beberapa lembaga, diantaranya adalah lembaga pengadilan. Secara kelembagaan, pengadilan keraton merupakan lembaga yang memberikan kontribusi dalam upaya menegakkan hukum,
commit to user
menciptakan keamanan dan ketertiban di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Selain itu, sistem peradilan keraton adalah lembaga penegak hukum yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan tindak kejahatan yang dapat mengancam eksistensi kekuasaan raja.
Lembaga pengadilan merupakan bentuk sistem hukum yang mengatur ketertiban dan keamanan kerajaan. Kebutuhan ini mutlak perlu dilaksakan untuk kesejahteraan rakyat. Keraton Kasunanan Surakarta sebagai kelanjutan Kerajaan Mataram memiliki sistem peradilan yang dijalankan menurut aturan dan norma yang telah disepakati antara Raja-Raja Kasunanan dengan Pemerintah Kolonial
Belanda (Riyanto, 1996: 17).
Peradilan Swapraja Kasunanan Surakarta memiliki empat lembaga peradilan, yaitu: Pengadilan (Raad) Balemangu, Pengadilan (Raad) Pradata
Kadipaten, Pengadilan (Raad) Surambi dan Pengadilan (Raad) Pradata (Serat
Perjanjian Dalem Nata, hal.41). a Pengadilan Balemangu
Pengadilan Balemangu sudah ada sejak Keraton Mataram berada di Kartasura. Pengadilan Balemangu diselenggarakan di kepatihan dan dipimpin oleh patih sebagai hakim kepala. Apabila ada penduduk Jawa melakukan tindak kejahatan atau pelanggaran hukum, meskipun orang tersebut bekerja di kantor Pemerintah Kolonial Belanda, perkaranya harus diselesaikan di Pengadilan
BalemangguKepatihan (Serat Perjanjian Dalem Nata, bab 7 dan 8).
Pengadilan Balemangu ditugaskan untuk menjalankan pengadilan
administratif. Pada perkembangan selanjutnya, pengadilan ini hanya khusus
menangani persoalan agraria diantara para lurah. Dengan bekel-bekel desa serta pengadilan antara priyayi tinggi dan priyayi rendahan. Pengadilan Balemangu
merupakan mahkamah patih dan nayaka-nayakanya (nayaka njaba dan njero). Proses pengadilannya berlangsung di Balemangu yang terletak di halaman tempat tinggal patih. Sifat Pengadilan Balemangu bertolak belakang dengan Pengadilan
Pradata yang menangani masalah kriminal (Rouffaer, 1931: 636).
Pengadilan Balemangu di Keraton Kasunanan Surakarta diketuai oleh seorang raden adipati, dibantu 8 orang wedana, yaitu empat orang wedana njawi
commit to user
dan empat orang wedana lebet. Wedana jawi bertugas menyelesaikan pekerjaan di luar wilayah keraton, mereka juga menjaga pintu yang terletak di alun-alun atau
pelataran luas di depan istana raja. Wedana lebet bertugas di dalam keraton.
Petugas ini bertugas menyelesaikan pekerjaan di lingkungan kedaton. Seorang
jaksa dari kepatihan dan mantri sadasa merupakan pembantu raden adipati untuk
menangani perkara yang diputuskan menurut Angger Sepuluh atau Angger Sadasa
(Winter, 1844: 101).
Pengadilan Balemangu dihapus dari Pemerintahan Keraton Kasunanan Surakarta sejak tahun 1847. Hal ini merupakan implikasi dari perjanjian antara
Sunan dengan Residen J.F.W van Nes. Sebelum Pengadilan Balemangu dihapus,
kepala pengadilannya menyelesaikan perkara-perkara yang terkait dengan tuan tanah dan bekel, namun setelah tahun 1847, wewenang kepala Pengadilan
Balemangu sebagai ketua Pengadilan Pradata Negeri yang menangani berbagai
masalah (Thieme, 1917: 109).
b Pengadilan Pradata Kadipaten
Pengadilan Pradata Kadipaten terdiri dari beberapa pangeran dan
tumenggung yang akan diangkat oleh Sri Paduka Susuhunan. Semua perselisihan
diantara sentana dalem, dan perselisihan dimana para sentana dalem menjadi pihak yang digugat, akan diselesaikan melalui pengadilan ini. Mengenai keputusan kadipaten dapat diajukan appel (banding) kepada Pradata (Staatsblad 1847 nomor 30, hal. 2).
Pradata Kadipaten merupakan lembaga pengadilan yang menangani
perkara sejumlah pangeran dan pejabat keraton yang diangkat berdasarkan keinginan Sunan. Semua anggota keluarga Sunan, sampai keturunan ke empat yang melakukan kejahatan atau pelanggaran diajukan ke Pengadilan Kadipaten. Anggota dalam pengadilan Pradata Kadipaten dipegang oleh seorang ketua
pepatih dalem. Pengadilan Kadipaten harus mengirimkan keputusannya kepada
penguasa kerajaan atau pejabat pangreh praja untuk mendapat persetujuan. Keputusan hukuman mati dari Pengadilan Kadipaten memerlukan tanda tangan
Sunan, termasuk fiat executio (ijin melakukan eksekusi) dari Gubernur Jendral
commit to user
Pengadilan PradataKadipaten merupakan forum privilegiatum bagi para
sentana dalem, artinya pengadilan untuk orang yang haknya terlebih dari yang
lain, seperti keturunannya raja berpangkat mantri, haknya terlebih dari orang lain sesamanya mantri yang berasal dari orang kecil. Mantri keturunan ratu tidak boleh ditarik di muka Politierol atau Landraad, melainkan diadili oleh pengadilan raja sendiri (Bromartani, 30 April 1911).
Bangsawan yang berhak mendapat forum privilegiatum, antara lain: 1) Bini-bini sah atau tidak sah dari raja yang masih memerintah, 2) Bini-bini sah dari raja yang telah pernah memerintah, 3) Sanak saudara atau sanak kawin dari raja-raja yang masih dan tidak memerintah, e) Mangkubumi, Hoofd Pangoeloe, Bupati Nayoko, Bupati Patih Kadipaten dan bini padmi dan selir mereka serta
nyai arie wedono keparak (Staatsblad van Nederlandsch Indie 1903 no. 8).
Kasus yang dilakukan oleh bangsawan yang mendapat hak forum
privilegiatum tidak ditangani hakim di Pengadilan Rol Polisi (Rol Polisi
merupakan badan peradilan yang didirikan sejak tahun 1903 sebagai Lembaga Peradilan Gubernemen. Rol Polisi berwenang dalam menangani masalah pelanggaran kecil yang dilakuakan oleh kawula dalem sedangkan pelanggaran yang dilakukan rakyat di wilayah Gubernemen diselesaikan melalui Landraad, yang dikepalai oleh hakim bangsawan (Bromartani, 30 April 1911).
c Pengadilan Surambi
Pengadilan Surambi sudah ada sejak jaman Kerajaan Mataram di Kartasura. Ketua Pengadilan Surambi adalah mas penghulu atau ulama tinggi
Keraton Kasunanan Surakarta. Pengadilan Surambi menangani masalah nikah, talak, maskawin, nafkah, gono-gini, sengketa perkawinan, waris dan wasiat
(Staatsblad van Nederlandsch Indie 1930 nomor 6). Penghulu bekerja sama dengan 8 orang ketib, dan enam orang modin, dua atau tiga orang ngulomo
(ilmuwan agama), seorang kori (penjaga pintu) dan seorang jaksa. Jaksa
Pengadilan Surambi menjatuhkan vonis menurut kitab hukum Arab yang disebut
kitab.
Tugas dan wewenang Pengadilan Surambi didasarkan pada piagam perjanjian yang ditandatangani oleh Sunan Paku Buwana II (1726-1749) pada
commit to user
tanggal 9 April 1746. Tugas dan wewenang tersebut ditujukan kepada Kyai Kasan Besari di Tegalsari, Panaraga. Dari piagam tersebut menjelaskan bahwa tugas dan wewenang Pengadilan Surambi sangat luas. Berikut kutipan dari piagam tersebut yang diawali dengan kalimat: “…. Penget layang manira parintah papacak …” (Pawarti Soerakarta, 1939: 90).
Terjemahannya: “….. surat perintah yang ditujukan kepadamu……” Kemudian dilanjutkan dengan kalimat :
“lan manira wenangake Kyai Kasan Besari angukumi salaki-rabi kang wus kangge kaya lakune nagara, kaya nafkah, waris, talak, lan sapepadane kaya utang putang, titip gadhe, lan sepadhane den ukumana kalawan adil, amung bab kisas lan kethok iku ora manira wenangake, lan
manira idini pasha” (Pawarti Soerakarta, 1939: 90).
Terjemahannya:
“Dan kuberikan wewenang kepada Kyai Kasan Besari untuk
mengatur masalah perkawinan yang sudah berlaku di negara, seperti nafkah, warisan, cerai, hutang piutang, gadai menggadai, agar supaya diberi hukuman yang adil, tetapi hukum kisas dan potong tidak diijinkan, yang
boleh hanya hukuman puasa” (Pawarti Soerakarta, 1939: 90).
Juga diterangkan dalam Kabar Paprentahantahun1932 sebagai berikut: “Pengadilan Dalem ingkang kapasrahan ing pangulon punika
ageng sanget, kajawi amriksa tuwin amutusai sadaya prakawis para paben
ing ngatasing panguwaos bab warisan, salaki-rabi, pegatan, gana-gini, warisan, tuwin sapanunggilipun ugi kabubuhan amancasi karampunganipun Rad Pradata, Balemangu ingkang kauluraken wonten ing Rad Surambi Dalem, manawi dereng andadosaken panarimanipun ingkang sami
prakawisan” (Kabar Paprentahan, 1932: 90). Terjemahannya:
“Pengadilan yang diserahkan kepada Penghulu mempunyai tugas yang berat, selain memeriksa serta memutuskan semua perkara semua perkara dalam penguasaan masalah warisan, perkawinan, perceraian, gono-gini, juga berwenang menyelesaikan perkara banding dari pengadilan Pradata, dan Balemangu apabila belum menjadikan terima bagi yang
berperkara” (Kabar Paprentahan, 1932: 90).
Perkembangan selanjutnya pada masa Pemerintahan Paku Buwana VII, Pengadilan Surambi hanya diberi wewenang menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan agama Islam seperti dalam Staasblad tahun 1847 sebagai berikut:
commit to user
”Kang dadi panggedhening Surambi, mas Pangulu akanthi ngulama
sawatara, dadiya kancane ambeneri apadene kang gawe Pangulu lan kancane mau. Sarta anamtokake keh sethithiking kang angrembug prakara ana ing Surambi, atas Ingkang Sinuhun kangjeng Susuhunan, ingkang
kagungan pangawasa” (StaasbladvanNederlandsIndie1847nomor 30: 2).
Terjemahannya:
“Yang jadi pembesar Surambi adalah mas Penghulu dengan ulama
tinggi, yang menjadi teman dalam membenarkan apa yang menjadi keputusan Penghulu. Serta menentukan banyak sedikitnya perkara dalam
pengadilan Surambi di bawah kekuasaan Kanjeng Susuhunan” (Staasblad
vanNederlandsIndie1847nomor 30: 2).
Disamping kewenangan tersebut diatas kekuasaan dalam Serat Angger Gunung
juga disebutkan:
”Dene wong kang oleh parentah, yen kongsi atatu utawa mati
mangka ahli warise ora trima, iya mulura padune menyang Pradataningsun, banjur kaunggahake ing Surambi mangka dadi panggugat mau, iya banjur
ukumane apa saukumane Raja pati” (Roorda, 1844: 88).
Terjemahannya:
“Apabila orang yang mendapat perintah luka atau mati padahal
saudaranya tidak terima, maka urusannya diselesaikan di pengadilan Pradata, kemudian banding di pengadilan Surambi, kemudian diberikan
hukuman yang setara dengan hukum mati”(Roorda, 1844: 88).
Pada masa akhir Pemerintahan Paku Buwana VII kewenangan Pengadilan Surambi semakin dipersempit, karena lembaga pengadilan ini bukan lagi sebagai Pengadilan bandingan dari dua lembaga pengadilan yang lain. Bahkan kewenangan mengadili perkara-perkara selain perkara keluarga seperti: pernikahan, perceraian dan warisan tidak diperkenankan. Selain dari perkara-perkara yang telah disebutkan, termasuk perkara-perkara kriminal tidak boleh ditangani oleh Pengadilan Surambi. Mengenai hal itu dapat dilihat pada kutipan berikut ini:
“Perkara kang dadi bubuhane Surambi angrampungi iki sarupane
bab salaki-rabi, talak, waris, wasiat, sarta para padu liyane kang saking awit salaki-rabi, talak, wasiat, wau, apadene wewenange Surambi angrampungi prakara liyane iku, utawa matrapi paukuman marang sarupane kadurjanan iku ing saiki kasuwak, sarta banget kapacuhan, ora kena
commit to user Terjemahannya:
“Perkara yang menjadi wewenang pengadilan Surambi berupa
masalah pernikahan, perceraian, pembagian harta, serta perselisihan lain yang diakibatkan masalah perkawinan, perceraian, pembagian warisan. Surambi juga tidak boleh mengurusi perkara kriminal dan dilarang keras
untuk melakukan hukuman itu” (Kabar Paprentahan, 1932: 91).
Dari penjelasan tersebut, jelas bahwa kekuasaan Pengadilan Surambi
telah dibatasi dan hanya mengurus perkara kekeluargaan antara lain: salaki-rabi,
talak, waris, wasiat. Pengadilan ini sudah tidak berwenang mengurusi masalah
kadurjanan (kriminal).
Surambi mengalami pengurangan tugas dan wewenangnya, dalam pelaksanaan Pengadilan Surambi juga mengalami perubahan jumlah orang yang menjalankan Pengadilan Surambi. Setelah terjadi perubahan, pegawai Pengadilan
Surambi terdiri dari penghulu kepala sebagai ketua dan beberapa pegawai
keagamaan sebagai anggota. Adanya pelimpahan perkara yang tidak dapat diselesaikan baik di Pengadilan Pradata maupun di Pengadilan Balemangu
kepada Pengadilan Surambi menunjukkan adanya percampuran antara hukum yang bersifat khusus dan umum. Sebenarnya percampuran tersebut tidak menjadi masalah bagi Pengadilan Surambi, karena Pengadilan Surambi yang mendasarkan pada kitab Al Quran dan Hadits memuat semua permasalahan hidup manusia semenjak ia lahir sampai meninggal dunia.
Keputusan pengadilan surambi dapat dimintakan banding ke Pengadilan
PradataGedhe, tersirat dalam teks berikut:
“Pangadilan Pradata Gedhe kabubuhan mariksa lan ngrampungi
kang dhisik dhewe sarupane prakara padu lan kadurjanan sarta kabubuhan amancasi karampungan Raad Surambi, Kabupaten, lan Kadipaten banding
ana pangadilan Pradata Gedhe” (Rijksblaad Surakarta1930nomor 6: 101).
Terjemhannya:
“Pengadilan Pradata Gedhe berwenang memeriksa dan menyelesaikan perkara perselisihan dan kriminal dan berwenang menyelesaikan banding dari pengadilan Surambi, Kabupaten dan Kadipaten” (Rijksblaad Surakarta1930nomor 6: 101).
commit to user d Pengadilan Pradata.
Pengadilan Pradata adalah merupakan salah satu pengadilan tertua di Kasunanan Surakarta selain Surambi. Pengadilan Pradata berwenang untuk menangani perkara-perkara kriminal, misalnya, pembunuhan, penyiksaan, dan sejenisnya. Lembaga pengadilan ini mempunyai susunan sebagai berikut: (1) Ketua : Seorang Wedana Jaksa, (2) Pembantu: Dua belas orang Mantri Jaksa, yang terdiri dari: (a) Seorang dari Kepatihan, (b) Seorang dari Kadipaten Anom, (c) Seorang dari Pangulon, (d) Seorang dari Prajurit, dan (e) Delapan abdi dalem
Bupati Nayaka (Serat Nitik Keprajan, 1936: 156).
Hari untuk Pengadilan Pradata adalah kamis, dimana jaksa sebagai penuntut dan raja sebagai hakim. Hari untuk perkara sipil adalah senin (Rouffaer, 1932: 66). Sejak pemerintahan Paku Buwono IV, wedana jaksa diberi gelar
Raden Tumenggung, sebelumnya hanya bergelar Raden Ngabehi. Bagi Pengadilan
Pradata, buku hukumnya adalah Nawala Pradata, Angger Ageng, Angger
Arubiru dan Angger Sepuluh (Rouffaer, 1932: 72).
Dalam perkembangannya, Pengadilan Pradata mendapatkan pelimpahan perkara dengan dihapuskannya Pengadilan Balemangu pada tahun 1847. Pengadilan Pradata ini juga dibentuk di luar ibukota Keraton Kasunanan Surakarta seperti di daerah Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura, dan Sragen. Pengadilan-pengadilan Pradata di daerah tersebut diberi otonomi oleh
Sunan pada tahun 1847 atas desakan Residen Keuchenius (1871-1875).
Dibentuknya pengadilan-pengadilan di daerah tersebut bertujuan untuk membatasi kekuasaan pengadilan di pusat. Sejumlah bupati yang memimpin di daerah-daerah tersebut diangkat oleh Sunan atas persetujuan dari Residen. Mengenai tugas dari para bupati dan patih dalem sudah ditetapkan oleh Sunan. Keamanan dan ketentraman di daerah-daerah menjadi tanggung jawab para bupati kepada
pepatih dalem. (Staasblad van Nederlands Indie 1847 nomor 30).
Akibat dihapuskannya Pengadilan Balemangu, maka Pengadilan Pradata
kebanjiran urusan atau perkara. Kecuali ditambah hari sidangnya, juga didirikan 2 bagian dari pengadilan tersebut, antara lain: (a) Urusan Perkara Pidana. Dikepalai oleh Kliwon Jaksa Kriminil, yang bersidang pada hari rabu dan sabtu, (b) Urusan
commit to user
Perkara Perdata. Dikepalai oleh Kliwon Jaksa Sipil, yang bersidang pada hari
selasa.
Tempat bersidang juga dipindah, yang awalnya paseban pradatan di
Alun-Alun Utara, pindah ke Bale Arja di depan kepatihan (Rouffaer, 1932: 76).
Pengadilan Pradata di bagi menjadi beberapa bagian tersebut, juga bertujuan untuk membatasi pengadilan yang berada di pusat. Pengadilan Pradata pusat disebut Pradata Gedhe, sedangkan di tiap-tiap kabupaten disebut Pradata
Kadipaten (Sahid, 2009: 27).