• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM LEMBAGA PERTANIAN SEHAT 5.1. Sejarah Lembaga Pertanian Sehat Dompet Dhuafa Republika

5.5 Kegiatan Supply Chain Management Beras SAE di Lembaga Pertanian Sehat

5.5.1 Lembaga Pertanian Sehat Sebagai Supplier

Rantai supplier merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, dimana rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah dan bahan penolong. Lembaga Pertanian Sehat memberikan bahan mentah Beras SAE berupa bibit yang merupakan hasil penelitian dari lembaga, memberikan bantuan bahan baku berupa alat-alat pertanian seperti cangkul, arit dan lain sebagainya kepada petani binaan yang dianggap petani mustahik atau kurang mampu. Lembaga Pertanian Sehat juga memberikan bahan penolong berupa pestisida ramah lingkungan dan penyuluhan-penyuluhan agar produksi beras yang dihasilkan dapat maksimal, selain itu juga Lembaga Pertanian Sehat di rantai supplier menetapkan standar mutu Beras SAE berdasarkan pedoman Standar Nasional Indonesia (SNI).

Standar Mutu Beras SAE

Standar mutu merupakan suatu dasar penilaian baik bagi produsen maupun konsumen. Standar mutu Beras SAE sangat diperlukan karena dengan adanya standar mutu tersebut baik LPS, produsen maupun konsumen mendapatkan kejelasan mengenai mutu beras yang diharapkan. Bagi LPS, standar mutu Beras SAE ini memberikan kejelasan kualitas yang bagaimana yang diinginkan, begitu juga bagi produsen mendapatkan kejelasan beras yang bagaimana yang harus mereka hasilkan, sedangkan bagi konsumen mereka akan mendapatkan beras sesuai mutu yang diinginkan. Dengan demikian, dengan standar mutu ini diharapkan akan tercipta nilai kepuasan transaksi maupun konsumsi. Selain itu, standar mutu Beras SAE ini bisa digunakan untuk pembinaan petani-petani calon penghasil Beras SAE. Penyusunan konsep standar mutu Beras SAE ini dilakukan dengan mengacu kepada Standar Nasional Indonesia tentang beras giling dan hasil pengukuran kemurnian rata-rata beras yang dihasilkan oleh penggilingan yang menjadi mitra LPS.

Istilah-istilah yang digunakan dalam penentuan standar mutu Beras SAE ini diantaranya :

65 1) Bekatul adalah lapisan terluar dari beras pecah kulit yang terdiri dari

pericarp, testa, aleuron.

2) Derajat sosoh adalah tingkat terlepasnya lapisan bekatul dan lembaga dari butir beras.

3) Derajat sosoh 100 % adalah tingkat terlepasnya seluruh lapisan bekatul dari lembaga.

4) Derajat sosoh 90 % adalah tingkat terlepasnya sebagian besar lapisan bekatul dan lembaga dari butir beras sehingga sisa yang belum terlepas sebesar 10 %.

5) Kadar air adalah jumlah kandungan air di dalam butir beras yang dinyatakan dalam satuan persen dari berat basah (wet basis).

6) Butir kepala adalah butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih besar atau sama dengan 0,50 bagian dari panjang rata-rata butir beras utuh.

7) Butir utuh adalah beras baik sehat maupun cacat yang utuh, tidak ada yang patah sama sama sekali.

8) Butir patah adalah butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 0,60 bagian tetapi lebih besar dari 0,25 bagian panjang rata-rata butir beras utuh.

9) Menir adalah butir beras patah, baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih kecil atau sama dengan 0,25 bagian butir beras utuh.

10)Butir merah adalah butir beras utuh, kepala, patah, maupun menir yang berwarna merah akibat faktor genetis.

11)Butir kuning adalah butir beras utuh, kepala, patah, maupun menir yang berwarna merah akibat proses fisis atau aktifitas mikroorganisme.

12)Butir mengapur adalah butir beras yang separuh bagian atau lebih berwarna putih seperti kapur dan bertekstur lunak disebabkan oleh faktor fisiologis.

13)Butir rusak adalah butir beras utuh, kepala, patah, maupun menir yang berwarna putih/bening, putih mengapur, kuning dan berwarna merah yang mempunyai lebih dari satu bintik yang merupakan noktah. Beras yang

66 berbintik kecil tunggal yang tidak potensial (kemungkinan tidak menjadi rusak), tidak termasuk butir rusak.

14)Benda asing adalah benda-benda yang tidak tergolong beras, misalnya butir tanah, pasir, kerikil, jerami, malai, biji-bijian lain dan bangkai serangga

15)Butir gabah adalah butir beras yang sekamnya belum terkelupas atau hanya terkelupas sebagian.

16)Komposisi campuran adalah perbandingan takaran antara beras bernasi pulen denan beras beraroma.

Syarat umum yang digunakan dalam pengukuran standar mutu Beras SAE diantaranya :

a) Bebas dari bahan dan penyakit

b) Bebas dari bau apek, asam, atau bau-bau tidak sedap lainnya. c) Beraroma wangi pandan wangi

d) Bebas dari campuran bekatul

e) Bebas dari residu bahan kimia yang membahayakan

Syarat khusus yang digunakan dalam pengukuran standar mutu Beras SAE dapat dilihat pada Tabel 7 dibawah berikut :

Tabel 7. Spesifikasi Persyaratan Mutu Beras SAE

No Komponen Mutu Satuan Spesifikasi

1 Derajat Sosoh (%) 90

2 Kadar air (maks) (%) 14

3 Beras kepala (min) (%) 90

4 Butir utuh (min) (%) 60

5 Butir patah (maks) (%) 8

6 Butir menir (maks) (%) 2

7 Butir merah (maks) (%) 0

8 Butir kuning (maks) (%) 0

9 Butir mengapur (maks) (%) 1

10 Benda asing (maks) (%) 0

11 Butir gabah (maks) (butir/100 gr) 0 12 Komposisi campuran

(pulen:wangi)

67 5.5.2 Lembaga Pertanian Sehat Sebagai Manufacturer

Beras yang sudah dihasilkan oleh Petani binaan Lembaga Pertanian akan dicampur di penggilingan yang menjalin kerjasama dengan lembaga. Di penggilingan tersebut semua beras yang dihasilkan oleh petani-petani binaan akan dicampur menjadi satu. Dalam tahapan penggilingan tersebut Lembaga Pertanian Sehat sebagai manufacturer menerapkan standar operasional produksi Beras SAE yang memiliki quality control (QC) yang ketat. Diharapkan dengan adanya standar operasional yang ketat beras yang dihasilkan merupakan beras yang sesuai dengan keinginan konsumen yaitu beras yang sehat, aman dan enak.

Standar Operasional Prosedur Produksi Beras SAE

Konsumsi pangan bebas residu pestisida sudah saatnya dikenal oleh masyarakat. Bahaya yang timbul terhadap kesehatan manusia akibat mengkonsumsi produk pangan yang mengandung residu perlu diwaspadai. Untuk mendukung ke arah kebiasaan konsumsi tersebut perlu diciptakan produk makanan bebas residu pestisida, sehingga masyarakat bisa menentukan pilihan.

Standar Operasional Prosedur (SOP) Beras SAE meliputi prosedur pengadaan Gabah Kering Panen (GKP) bebas pestisida. Beras bebas residu yang dibuat dengan menggunakan teknologi pertanian ramah lingkungan, bukan beras biasa dan bukan beras organik. Beras SAE diproduksi oleh Gapoktan Silih Asih dan berada dibawah pengawasan (QC) bidang produksi lembaga pertanian sehat. Prosedur-prosedur yang dilakukan antara lain :

1. Pengadaan Gabah Kering Panen (GKP) Bebas Pestisida

 Gabah yang digunakan adalah gabah berkualitas baik (warna coklat kekuningan, tidak banyak kotoran, baru) dari hasil panen sawah yang menerapkan sistem budidaya yang berteknologi ramah lingkungan, tidak menggunakan pestisida kimia berbahaya.

 Gabah yang diproses dari varietas yang diperlukan (jenis aromatik dan IR). 2. Penjemuran Gabah

 Penjemuran dilakukan di tempat khusus penjemuran.

 Ketebalan gundukan gabah saat dijemur harus sama (± 2 cm).

 Dilakukan pembalikan secara berkala saat di penjemuran (minimal 2 jam sekali)

68  Penjemuran dilakukan ± 2 hari dengan interval sekitar 3-4 ja (tergantung

cuaca)

 Kadar air mencapai 14-15%.

3. Penyimpanan Gabah di Lumbung/Gudang

 Gabah harus disimpan dulu di gudang penyimpanan karena tidak bisa langsung digiling untuk menhindari beras pecah.

 Dalam penyimpanan, gabah dimasukkan kedalam karung, dan mencantumkan tanggal panen dan tanggal masuk gudang.

 Sistem penyimpanan di gudang menggunakan sistem FIFO (First In First Out).

 Lamanya penyimpanan gabah di gudang tidak lebih dari 3 bulan.

 Tempat penyimpanan/gudang harus bersih, beraerasi baik, kering/tidak lembab, streril dari hama pengganggu (tikus, kecoa, kutu beras, dan sebagainya).

4. Giling 1 : pecah kulit gabah dan penyaringan gabah pecah kulit.

 Merupakan proses pertama dalam kegiatan melepas kulit gabah sehingga terbentuk beras.

 Penggunaan penggilingan yang sesuai dengan bentuk dan jumlah gabah yang digiling.

 Dalam proses ini akan mengeluarkan waste (sekam, dedak, bekatul, dan debu/dust).

5. Giling 2 : Penyosohan beras

 Proses kedua dalam kegiatan penggilingan merupakan proses pemberihan fisik beras dari kotoran sekaligus meningkatkan kualitas warna pada beras dengan menggunakan mesin sosoh (polisher).

 Untuk Beras SAE tidak dilakukan pemolesan berkali-kali untuk menghindari terkelupasnya kulit ari beras.

 Walau warna Beras SAE kelihatan kusam, tetapi pada saat beras dimasak akan menjadi putih dan wangi.

6. Proses pengayakan beras

 Memisahkan beras dengan menir dan beras pecah (broken) dengan menggunakan alat (pengayak).

69  Dalam proses ini akan mengeluarkan hasil samping berupa menir.

7. Penyortiran beras kepala

 Memisahkan beras kepala kualitas 1 dengan menggunakan kualitas 2 dengan menggunakan alat (pengayak).

 Dalam proses ini akan mengeluarkan hasil samping berupa beras kualitas 2 8. Pencampuran/mixing, timbang dan pengemasan

 Setelah beras kualitas 1 sudah terpisah akan dilakukan pencampuran dengan beras kualitas 1 (dengan jenis berbeda) untuk menghasilkan Beras SAE, komposisi disesuaikan.

 Dilakukan penimbangan sesuai jumlah (netto kemasan) dan pengemasan.  Proses ini akan menghasilkan Beras SAE dengan berbagai kemasan (2,5

kg, 5 kg, 20 kg, 25 kg).

9. Gudang produk jadi dan pengangkutan

 Gudang merupakan tempat penyimpanan sementara sebelum Beras SAE didistribusikan.

 Gudang harus bersih, beraerasi baik, higienis, kering/tidak lembab. Steril dari hama gudang (tikus, kecoa, kepinding, kutu beras dan sejenisnya) dan aman.

 Sistem penyimpanan di gudang menggunakan sistem FIFO.

 Pengangkutan atau distribusi merupakan kegiatan penyaluran Beras SAE ke wilayah lain (diluar gudang penyimpanan).

 Bagian pengangkutan atau distribusi harus mengisi kartu stock Beras SAE di gudang penyimpanan.

Standar operasional prosedur ini dibuat oleh bagian produksi diperiksa oleh manajer, disetujui oleh direktur Lembaga Pertanian Sehat. SOP ini juga disetujui oleh produsen Beras SAE (Gapoktan Silih Asih). Standar operasional prosedur ini bisa ditinjau kembali dan direvisi apabila diperlukan. SOP ini dibuat dan disusun dalam upaya memberikan panduan baku bagi proses agar bisa berjalan dengan optimal. Alur proses produksi Beras SAE dapat dilihat pada Lampiran 2.

Beras yang telah diangkut dari tempat penggilan ke gudang Lembaga Pertanian Sehat langkah selanjutnya adalah pengemasan Beras SAE tersebut.

70 Dalam tahapan pengemasan Lembaga Pertanian Sehat juga menerapkan beberapa standar yang berpedoman standar nasional. Beberapa standar yang ditetapkan Lembaga Pertanian dalam kegiatan pengemasan adalah syarat berat timbangan dan syarat kemasan yang digunakan termasuk juga harga yang ditetapkan Lembaga Pertanian Sehat.

Syarat berat timbangan yang digunakan dalam pengukuran standar mutu Beras SAE diantaranya :

a. Alat yang dipakai untuk menimbang produk Beras SAE telah dikalibrasi oleh yang berwenang secara berkala.

b. Berat hasil timbang Beras SAE harus sesuai dengan berat yang tercantum pada kemasan yang digunakan, yaitu :

 Kemasan 2,5 kg, hasil timbang ≥ 2,5 kg

 Kemasan 5 kg, hasil timbang ≥ 5 kg

 Kemasan 20 kg, hasil timbang ≥ 20 kg

 Kemasan 25 kg, hasil timbang ≥ 25 kg

 Kemasan 50 kg, hasil timbang ≥ 50 kg

Syarat kemasan yang digunakan dalam pengukuran standar mutu Beras SAE diantaranya :

a. Kemasan yang digunakan untuk mengemas Beras SAE adalah :

 Kemasan 2,5 kg, kantung plastik PE ukuran (24 x 40) cm2

 Kemasan 5 kg, kantung plastik PE ukuran (27 x 50) cm2

 Kemasan 20 kg, karung plastik transparan ukuran (40 x 70) cm2

 Kemasan 25 kg, karung plastik transparan ukuran (45 x 90) cm2

71 b. Desain label pada setiap kemasan adalah :

c. Kualitas tinta cetak harus bersih (tidak buram) dan tidak luntur. d. Bahan kemasan tidak mudah rusak atau robek.

Untuk lebih detail mengenai harga Beras SAE mulai dari tingkat agen sampai ke tingak eceran terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 dibawah ini :

Tabel 8. Daftar Harga Beras SAE

No Ukuran Harga Agen HR1* HET**

1 2,5 Kg Rp 20.000 Rp 22.000 Rp 25.000 2 5 Kg Rp 39.000 Rp 45.000 Rp 50.000

3 20 Kg Rp 150.000 Rp 173.000 Rp 180.000 4 25 Kg Rp 180.000 Rp 250.000 Rp 210.000 Ket : Harga berlaku untuk wilayah JABODETABEKPUNCUR,

wilayah lain akan dikenakan beban angkut pengiriman. *HR1 : Harga Reseller Pertama

*HET : Harga Eceran Tertinggi