• Tidak ada hasil yang ditemukan

VIII KESIMPULAN DAN SARAN

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1.2 Perumusan Masalah

Perkembangan lingkungan industri yang dinamis pada era global seperti sekarang ini menjadi pemicu bagi banyak organisasi perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki, serta mengidentifikasi faktor kunci sukses untuk unggul dalam persaingan yang semakin kompetitif. Teknologi yang juga berkembang pesat menjadi sebuah kekuatan untuk diterapkan dalam iklim persaingan. Usaha-usaha yang dilakukan pada akhirnya diarahkan untuk memberikan produk terbaik kepada konsumen.

Pada dasarnya konsumen mengharapkan dapat memperoleh produk yang memiliki manfaat pada tingkat harga yang dapat diterima. Untuk mewujudkan keinginan konsumen tersebut maka setiap perusahaan berusaha secara optimal untuk menggunakan seluruh asset dan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan value terhadap harapan konsumen. Implementasi upaya ini tentunya menimbulkan konsekuensi biaya yang berbeda di setiap perusahaan termasuk para pesaingnya. Untuk dapat menawarkan produk yang menarik dengan tingkat harga yang bersaing, setiap perusahaan harus berusaha menekan atau mereduksi seluruh biaya tanpa mengurangi kualitas produk maupun standar yang sudah ditetapkan.

5 Salah satu upaya untuk mereduksi biaya tersebut adalah melalui optimalisasi distribusi material dari pemasok, aliran material dalam proses produksi sampai dengan distribusi produk ke tangan konsumen. Distribusi yang optimal dalam hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep Supply Chain

Management. Supply Chain Management sesungguhnya bukan merupakan suatu

konsep yang baru. Supply Chain Management merupakan pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut berlangsung secara transparan. Supply Chain Management merupakan suatu konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logistik

Faktor kunci untuk mengoptimalkan Supply Chain Management adalah menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat di antara mata rantai, pergerakan barang efektif dan efesien yang menghasilkan kepuasan maksimal para pelanggan. Hal ini menunjukkan harus ada kerja sama yang erat antara pelaku dalam rantai pasokan, yang penting adalah adanya kesadaran dan kesediaan dari masing-masing pelaku untuk melakukannya agar rantai pasokan dapat berjalan lancar.

Sebagai suatu lembaga yang bergerak secara mandiri dan profesional, Lembaga Pertanian Sehat memiliki beberapa permasalahan dalam kegiatannya sehingga berdampak terhadap kemampuan lembaga dalam menghasilkan laba dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Diantara permasalahan yang ada yaitu belum terintegrasinya antar mata rantai maupun fungsi di Lembaga Pertanian Sehat dengan petani di lapangan maupun konsumen akhir yang menyebabkan ketidakefesienan dalam kegiatan dan hasil produksi sehingga berimplikasi pada peningkatan biaya. Adapun rantai kegiatan Supply Chain

Sehat-6 Agen-Konsumen. Di rantai kegiatan Supply Chain Management Lembaga Pertanian Sehat berperan sebagai supplier, manufakturer dan distributor.

Sebagai supplier Lembaga Pertanian Sehat menyediakan bibit unggul, obat-obatan yang ramah lingkungan dan memberikan penyuluhan-penyuluhan ke petani-petani binaan. Sebagai manufacturer beras yang sudah dihasilkan oleh petani diolah kembali oleh Lembaga Pertanian Sehat dengan mencampur beras di tempat penggilingan yang telah bekerja sama dengan Lembaga Pertanian Sehat dan mengemasnya kembali ke tempat yang sudah ditentukan dengan ukuran-ukuran tertentu, sedangkan sebagai distributor menyalurkan beras yang sudah dihasilkan dan dikemas, ke agen-agen yang telah menjalin kerjasama ataupun ke konsumen yang memesan langsung ke kantor Lembaga Pertanian Sehat dalam jumlah tertentu.

Banyaknya fungsi yang dilakukan Lembaga Pertanian Sehat dalam mata rantai kegiatan Supply Chain Management seharusnya mengakibatkan pergerakan barang menjadi lebih efektif dan alur informasi yang diterima menjadi lebih tepat dan akurat, akan tetapi yang terjadi di lapangan menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Berdasarkan wawancara di Lembaga Pertanian Sehat alur informasi mengenai jumlah Beras SAE yang terjual di setiap agen kurang cepat diterima oleh pihak lembaga dan adanya pengeluaran biaya yang cukup besar mengenai pengiriman Beras SAE dari kantor yang berada di Bogor ke agen-agen yang ada berada di sekitar Jakarta, Tangerang dan Depok.

Dengan demikian diperlukan perbaikan manajemen yang memandang keseluruhan kegiatan baik dari pemerolehan bahan baku, proses pengirimannya sampai ke konsumen (pelanggan) maupun proses pengembalian produk (return), dengan lebih terintegrasi, sehingga perusahaan dapat bertahan dan meningkatkan produktivitasnya di tengah pasar yang kompetitif. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kegiatan Supply Chain

Management Lembaga Pertanian Sehat, sehingga Lembaga Pertanian Sehat dapat

lebih mengetahui kondisi atau posisinya dalam menentukan ukuran-ukuran pelaksanaan (performance metric) yang tepat agar dapat memperoleh keuntungan dalam jangka pendek dan jangka panjang.

7 1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyusun Supply Chain Management yang dilakukan oleh Lembaga Pertanian Sehat pada produk beras SAE.

2. Menganalisis prioritas kegiatan Supply Chain Management beras SAE di Lembaga Pertanian Sehat.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan, antara lain :

1. Bagi Lembaga Pertanian Sehat, hasil analisis ini dapat digunakan sebagai masukan dan pertimbangan dalam menjalankan operasional perusahaan dan dalam membuat rencana kerja selanjutnya.

2. Bagi penelitian-penelitian selanjutnya guna sebagai bahan referensi atau sumber informasi.

3. Bagi penulis, sebagai syarat kelulusan sarjana, untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama kuliah dan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai Supply Chain Management.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan pada Lembaga Pertanian Sehat yang terletak di JL. Rancamaya No 22 Harjasari, Bogor Selatan. Pengamatan mengenai kegiatan

Supply Chain Management dilakukan pada mata rantai supplier, manufacturer

dan distributor, hal ini dikarenakan Lembaga Pertanian Sehat memfokuskan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Komoditas Beras

Tumbuhan padi (Oriza Sativa L.) termasuk golongan tumbuhan Gramineae yaitu tumbuhan yang ditandai dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu bubungnya ditutup oleh buku. Panjangnya ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih panjang daripada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas tumbuh daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagian atas ujung dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi apa yang disebutkan lugulae (lidah) daun, dan bagian yang terpanjang dan terbesar menjadi kelopak (Siregar 1981).

Tumbuhan padi bersifat merumpun, artinya tanaman-tanamannya anak-beranak. Bibit yang hanya sebatang saja ditanamkan dalam waktu sangat singkat telah dapat membentuk satu dapuran, dimana terdapat 20-30 atau lebih anakan/tunas-tunas baru. Kecepatan anak-beranak yang begitu pesat bisa menimbulkan kesulitan untuk mengetahui manakah di antara sejumlah batang-batangnya dalam satu rumpun itu yang merupakan batang utamanya, dan mana yang merupakan batang-batang dari anak/tunas baru.

Kata "beras" mengacu pada bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam secara anatomi disebut palea (bagian yang ditutupi) dan

lemma (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen

padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras. Berikut ini penjelasan mengenai anatomi, kandungan, macam dan warna beras menurut siregar (1981), yaitu : Anatomi beras

Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari : 1. Aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan

kulit.

9 3. Embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

Kandungan beras

Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:

1. Amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang.

2. Amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket. Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Macam dan Warna Beras

Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.

1. Beras Putih yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.

2. Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.

3. Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.

4. Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.

5. Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.

Beberapa jenis beras mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (misalnya 'Cianjur Pandanwangi' atau 'Rajalele'). Bau ini disebabkan beras melepaskan

10 senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.

Aspek pangan

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Selain itu, beras merupakan komponen penting beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan Air tajin. Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung rice bran. Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen dengan sebutan tepung mata beras.

Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong. Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang bewarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Murdani (2008) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2 gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg)4.

Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, sernutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang. Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan, peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik-peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif

4

11 lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

Dalam pengertian sehari–hari yang dimaksud beras adalah gabah yang bagian kulitnya sudah dibuang dengan cara digiling dan disosoh menggunakan alat pengupas dan penggiling (huller) serta penyosoh (polisher). Gabah yang hanya terkupas bagian kulit luarnya (sekam), disebut beras pecah kulit (brown rice). Sedangkan beras pecah kulit yang seluruh atau sebagian dari kulit arinya telah dipisahkan dalam proses penyosohan, disebut beras giling (milled rice).

Beras yang biasa dikonsumsi atau dijual di pasar adalah dalam bentuk beras giling. Beras merupakan bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Beras memiliki rasa yang enak sesuai dengan selera masyarakat Indonesia dan memiliki kandungan gizi lebih tinggi daripada jagung, kentang dan ketela. Beras termasuk komoditas strategis karena ketahanan pangan Indonesia bertumpu pada produksi beras dengan jumlah yang aman, harga terjangkau dan bergizi. Pemenuhan kebutuhan pangan tergantung pada produksi beras dalam negeri namun apabila belum terpenuhi maka dilakukan impor beras.

2.1.1. Varietas Unggul

Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani padi. Hal ini dikarenakan varietas unggul adalah galur hasil pemuliaan yang mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus, seperti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan dan mutu produk tinggi. Pengembangan varietas padi unggulan harus tetap dilakukan agar tercipta varietas-varietas padi unggul yang tidak hanya ditujukan pada pemenuhan keinginan petani tetapi juga keinginan konsumen beras.

12 Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2008)5 varietas unggul terdiri dari beberapa macam diantaranya:

1) Varietas Unggul Nasional (UNGNAS) atau Varietas Unggul Biasa (improved national variety) atau Varietas Unggul Bogor seperti Bengawan, Si Gadis, Remaja dan Jelita. Varietas ini dihasilkan oleh Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Bogor sebelum tahun 1965 dan mempunyai daya produksi sedang. 2) Varietas Unggul Baru (VUB)

Kelompok tanaman padi yang memiliki karakteristik umur kisaran 100 - 135 hari setelah sebar (HSS), anakan banyak (> 20 tunas/rumpun) dan bermalai agak lebat (± 150 butir gabah/malai). Varietas ini diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1967, diantaranya berasal dari Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Filipina. Varietas ini mempunyai daya produksi yang tinggi dan responsif terhadap pemupukan tinggi (high yielding variety). 3) Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB)

Kelompok tanaman padi yang memiliki karakteristik postur tanaman tegap, berdaun lebar dan berwarna hijau tua, beranak sedikit (< 15 tunas/rumpun), berumur 100-135 HSS, bermalai lebat (± 250 butir gabah/malai) dan berpotensi hasil lebih dari 8 ton gabah kering giling/ha.

4) Varietas Unggul Hibrida (VUH)

Kelompok tanaman padi yang terbentuk dari individu-individu generasi pertama (F1) asal suatu kombinasi persilangan dan memiliki karakteristik potensi hasil lebih tinggi dari varietas unggul inhibrida yang mendominasi areal pertanaman produksi padi.

5) Varietas Unggul Lokal

Varietas yang telah ada dan dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani serta menjadi milik masyarakat dan dikuasai negara. Varietas ini tidak termasuk Varietas Unggul Nasional (UNGNAS), tetapi di daerah tertentu mampu menghasilkan padi lebih tinggi atau menyamai padi UNGNAS.

5

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2008. Varietas Unggul Padi Sawah : Pengertian dan Aspek Terkait. Bank Pengetahuan Padi Indonesia.

13 Dari berbagai varietas yang diatas ada yang dibudidayakan secara konvensional dan ada juga yang membudidayakannya secara organik. Secara konvensional berarti tanaman padi tersebut dibudidayakan dengan menggunakan obat-obatan, pupuk kimia, pestisida dengan sesuai dosis yang dianjurkan malah sebagian besar memberikan dosis yang berlebihan, sedangkan membudidayakan secara organik adalah keseluruhan sistem manajemen produksi pertanian yang menghindari penggunaan pupuk, pestisida sintetis dan organisme rekayasa genetik (GMO atau transgenik), meminimalkan polusi udara, tanah, dan air serta mengutamakan kesehatan dan produktivitas tanaman, binatang dan manusia.

Dalam pelaksanaannya, pertanian organik mengurangi pemakaian masukan dari luar (external input) dengan jalan meniadakan penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetis. Sebagai gantinya, sistem pertanian organik, memanfaatkan sumber daya alami berupa pupuk organik, pestisida botani dan penggunaan bibit lokal atau yang bukan hasil rekayasa genetik. Dengan demikian pertanian organik dapat didefinisikan sebagai “ sistem pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan agro-ekosistem, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologis tanah; dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis, biologis dan kultural”.

2.1.2. Beras Aromatika (Fragrant Rice)

Padi atau beras aromatika adalah padi atau beras yang mengandung unsur aroma, pulen, wangi dan enak. Varietas padi yang bersifat aromatik misalnya padi Varietas Unggul Lokal Rojolele, Pandan Wangi, Mentikwangi dan Gandamana6. Penanaman padi aromatik dapat memberikan nilai tambah bagi petani karena harganya lebih mahal dari harga padi biasa (tidak beraroma). Namun penanaman padi tersebut kurang berkembang karena umurnya relatif lebih panjang dan hasilnya tidak setinggi Varietas Unggul Nasional sehingga tidak cukup memenuhi permintaan pasar. Sementara tuntutan masyarakat produsen dan konsumen terhadap bahan pangan khususnya beras semakin meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan pemenuhan tuntutan pangan harus

6

Balai Penelitian Tanaman Padi Jawa Tengah. 2008. Padi Aromatik Varietas Sintanur. Bank Pengetahuan Padi Indonesia.

14 didukung dengan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi, tahan hama/penyakit dan berkualitas baik. Pemerintah melalui Badan Litbang Pertanian berupaya mengembangkan Varietas Unggul Baru yang bersifat aromatik diantaranya Bengawan Solo dan Sintanur.

2.1.3. Beras SAE (Sehat, Aman, Enak)

Beras SAE diproduksi dengan menggunakan teknologi pertanian ramah lingkungan. Hasil analisa dan uji laboratorium di Laboratorium BB Biogen Bogor menyatakan bahwa beras SAE bebas residu pestisida golongan Organoklorin, Organophospate, Karbamat, dan Piretroid. Beras SAE memiliki karakteristik yang khas; warna beras tidak terlalu putih tetapi jika dimasak memiliki warna nasi yang putih, pulen dan wangi, sehingga Beras SAE termasuk beras aromatika.

Beras SAE adalah beras yang dihasilkan oleh petani-petani binaan Lembaga Pertanian Sehat di 3 Kecamatan di Kabupaten Bogor, yaitu : Kecamatan Cigombong, Kecamatan Caringin dan Kecamatan Cijeruk. Teknis budidaya padi SAE sendiri kurang lebih sama dengan budidaya padi yang bukan organik. Hanya mulai dari pemilihan benih sampai proses pemanenan dilakukan secara ramah lingkungan. Lembaga Pertanian Sehat memberikan pengetahuan teknologi-teknologi yang ramah lingkungan kepada petani binaan seperti : cara bercocok tanam terpadu dengan teknik legowo dan penggunaan bibit muda, pelatihan teknik dan praktik membuat kompos dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk serta teknik pembuatan pestisida nabati sebagai pengendali hama tanaman. Diharapkan dengan pelatihan-pelatihan tersebut para petani lebih memperhatikan kualitas beras yang dihasilkannya. Kualitas yang diharapakan yaitu yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan oleh Lembaga Pertanian Sehat yang secara garis besar merupakan beras yang tidak mengandung residu pestisida kimia yang kecil.

Beras yang dikonsumsi setiap hari sangat berpotensi mengandung residu pestisida berbahaya. Menurut hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa sebagian besar beras yang dihasilkan dari jalur Pantura-Jawa Barat telah tercemar 5 jenis residu insektisida berbahaya, yaitu Klorporifos, Lindan, Endosulfan, BPMC, dan Karbofuran dengan residu yang telah melebihi batas aman. Residu pestisida kimia yang terdapat dalam bahan pangan yang dikonsumsi akan

15 terakumulasi dalam tubuh dan dapat membahayakan kesehatan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan aktif yang bersifat racun dari pestisida kimia tidak terbuang ke luar tubuh, tetapi akan terakumulasi di dalam jaringan dan dapat memicu timbulnya kangker, penurunan kesuburan, gangguan fungsi syaraf, kerusakan hati, ginjal, dan paru-paru7. Oleh karena itulah Lembaga Pertanian Sehat selalu melakukan penyuluhan-penyuluhan agar petani binaan menghasilkan beras yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan terutama dalam hal yang terkait dengan kesehatan.

Selama dalam proses budidaya padi untuk menghasilkan Beras SAE, Lembaga Pertanian Sehat juga melakukan proses pendampingan, baik yang bersifat rutin pertemuan kelompok ataupun yang tidak rutin berupa kunjungan ke lokasi penanaman maupun kunjungan ke rumah-rumah petani. Pendampingan rutin dilakukan melalui pertemuan kelompok setiap satu minggu sekali secara bergiliran.

2.2. Tinjauan Studi Terdahulu

2.2.1. Studi Empiris Mengenai Supply Chain Management

Dari penelitian Noviyanti (2005) dengan judul Analisis Efesiensi Supply

Chain Produk Benih Padi Pada PT. Sang Hyang Seri (Persero) didapat beberapa

permasalahan dalam kegiatan yang berdampak terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa permasalahan tersebut antara lain : pemanfaatan aset yang belum optimal dan kurang terintegrasinya antar mata rantai maupun fungsi yang terdapat dalam perusahaan. Berpijak dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Supply Chain Management dengan menggunakan AHP dan SCOR sehingga proses kegiatan yang ada dilakukan secara optimal guna mengefesiensi kegiatan.

Berdasarkan tujuh faktor supply chain, PT. Sang Hyang Seri (Persero) berada dalam kondisi perencanaan, pemerolehan sumber, pelaksanaan produksi, keberadaan toko, transportasi dan penjualan yang sedang, sedangkan spesifikasi

7 http://www.gemafajar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=47:beras- sae&catid=34:dummy [12 Januari 2010]

16 teknologi masih rendah. Keberadaan atau situasi ini disebabkan kurang terintegrasinya antara setiap mata rantai dalam sistem sehingga diperlukannya manajemen supply chain.

Penelitian Arisandi (2006) dengan judul Analisis Sistem Pasokan Buah-Buahan Ke Ritel Modern Supply Chain Management (Kasus PT. Moena Putra