• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kegiatan Lembaga Pertanian Sehat Dalam Supply Chain Management Beras Sehat “SAE”

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Kegiatan Lembaga Pertanian Sehat Dalam Supply Chain Management Beras Sehat “SAE”"

Copied!
232
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEGIATAN LEMBAGA PERTANIAN SEHAT DALAM

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

BERAS SEHAT “SAE”

SKRIPSI

MUHAMMAD PINTOR NASUTION H34066089

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

RINGKASAN

MUHAMMAD PINTOR NASUTION. Analisis Kegiatan Lembaga Pertanian Sehat Dalam Supply Chain Management Beras Sehat “SAE” (Dibawah Bimbingan HENY. K. DARYANTO).

Trend kehidupan masyarakat dewasa ini menunjukkan bahwa mengkonsumsi beras bukan hanya sekedar dikonsumsi, tetapi juga manfaat yang dihasilkan dari mengkonsumsi beras tersebut. Hal ini seiring dengan semakin meningkatnya tingkat kesadaran pendidikan masyarakat serta kesadaran akan pentingnya kesehatan. Gaya hidup sehat memang menjadi pedoman baru kehidupan modern saat ini. Kekhawatiran timbulnya penyakit, pencemaran, ditambah kesadaran terhadap lingkungan menjadi salah satu penyebabnya. Oleh karena itu masyarakat mencari pangan yang lebih aman dan sehat untuk hidup yang lebih baik.

Lembaga Pertanian Sehat merupakan salah satu lembaga yang fokus dalam pertanian yang sehat dan ramah lingkungan. Lembaga ini juga adalah salah satu lembaga yang mengembangkan bisnis usaha beras organik dari hulu sampai hilir. Beras organik yang dihasilkan Lembaga Pertanian Sehat diberi nama Beras SAE yang artinya beras yang Sehat, Aman dan Enak. Beras SAE adalah produk beras yang tidak mengandung residu pestisida berbahaya (dibawah ambang batas kandungan pestisida yang boleh dikonsumsi oleh manusia). Sehat karena diolah dengan teknologi pertanian ramah lingkungan, Aman karena bebas residu pestisida berbahaya, Enak karena rasa nasinya yang pulen dan mempunyai aroma pandan.

Perkembangan lingkungan industri yang dinamis pada era global seperti sekarang ini menjadi pemicu bagi banyak organisasi perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki, serta mengidentifikasi faktor kunci sukses untuk unggul dalam persaingan yang semakin kompetitif. Teknologi yang juga berkembang pesat menjadi sebuah kekuatan untuk diterapkan dalam iklim persaingan. Usaha-usaha yang dilakukan pada akhirnya diarahkan untuk memberikan produk terbaik kepada konsumen.

(3)

Faktor kunci untuk mengoptimalkan Supply Chain Management adalah menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat di antara mata rantai, pergerakan barang efektif dan efesien yang menghasilkan kepuasan maksimal para pelanggan. Hal ini menunjukkan harus ada kerja sama yang erat antara pelaku dalam rantai pasokan, yang penting adalah adanya kesadaran dan kesediaan dari masing-masing pelaku untuk melakukannya agar rantai pasokan dapat berjalan lancar

Penelitian ini bertujuan 1) Mengidentifikasi faktor-faktor penyusun Supply Chain Management yang dilakukan oleh Lembaga Pertanian Sehat pada produk beras SAE. 2)Menganalisis prioritas kegiatan Supply Chain Management beras SAE di Lembaga Pertanian Sehat. Penelitian ini merupakan studi kasus di Lembaga Pertanian Sehat yang terletak di Jl. Rancamaya No 22 Harjasari, Bogor Selatan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara dengan pihak Lembaga Pertanian Sehat yang mengetahui permasalahan kegiatan Supply Chain Management secara langsung. Pengolahan data dilakukan dengan metode PHA dan berdasarkan kerangka kerja PHA. Data yang diperoleh melalui kuesioner kemudian diolah dengan menggunakan program

komputer “Expert Choice2000”.

Berdasarkan hasil penelitian, Lembaga Pertanian Sehat dalam menjalankan kegiatan supply chain management memiliki dua tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang pertama adalah mempertahankan kualitas beras. Tujuan ini merupakan tujuan jangka pendek yang ingin dicapai oleh pihak Lembaga Pertanian Sehat, karena dengan selalu mempertahankan kualitas Beras SAE yang sesuai dengan standar maka kepercayaan konsumen akan produk Beras SAE ini akan selalu ada dan Lembaga Pertanian Sehat tidak kehilangan konsumen-konsumennya, sedangkan tujuan yang kedua adalah mendapatkan jalur distribusi yang lebih efesien. Tujuan ini merupakan tujuan jangka panjang dari Lembaga Pertanian Sehat yang dilakukan dengan mempersiapkan sebuah stratetegi yang terencana dan sinergis antara pihak Lembaga Pertanian Sehat dengan petani dan konsumen. Tidak lupa juga selalu melakukan evaluasi dari setiap jalur distribusi yang telah dilakukan dan melakukan pengawasan yang ketat.

(4)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Kegiatan Lembaga Pertanian Sehat Dalam Supply Chain Management Beras Sehat SAE” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini

Bogor, Maret 2010

Muhammad Pintor Nasution

(5)

ANALISIS KEGIATAN LEMBAGA PERTANIAN SEHAT

DALAM SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

BERAS SEHAT “SAE”

MUHAMMAD PINTOR NASUTION H3406089

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)

Judul Skripsi : Analisis Kegiatan Lembaga Pertanian Sehat Dalam Supply Chain ManagementBeras Sehat “SAE”

Nama : Muhammad Pintor Nasution NRP : H34066089

Disetujui, Pembimbing

Dr. Ir. Heny K.S Daryanto, MEc NIP. 196109161986012001

Diketahui

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP 195809081984031002

(7)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah membimbing hamba-hambanya menuju kebahagian melalui Rasul-Nya dan Al-Quran al Karim. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Syukur alhamdulillah penulis ucapkan atas terselesaikannya penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Kegiatan Lembaga Pertanian Sehat Dalam Supply Chain Management Beras Sehat SAE”. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Upaya memberikan yang terbaik telah dilakukan secara optimal dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi berbagai pihak yang terkait dan bagi pembaca pada umumnya.

Bogor, Maret 2010

Muhammad Pintor Nasution

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 20 Juni 1985. Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak H.Parlindungan Nasution dan Ibu Dra. Hj. Mimmy Farida Pohan, MAP.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 066433 Medan pada tahun 1997 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2000 di SLTPN 13 Medan. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMUN 8 Medan pada tahun 2002 diselesaikan di SMUN 2 Panyabungan pada tahun 2003.

Penulis diterima pada Program Studi Pengelola Perkebunan, Fakultas Pertanian melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2003 dan menyelesaikannya pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyelesian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sebagai bentuk rasa syukur kpada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada kepada:

1. Dr. Ir. Heny K.S Daryanto, MEc selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

2. Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen evaluator pada kolokium proposal penelitian penulis yang telah meluangkan waktu untuk menyampaikan masukan dan saran.

3. Tintin Sarianti. SP, MM dan Rahmat Yanuar SP, MM selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

4. Kedua orangtua, kakak dan adik (Kak Minda, Kak Ade, Weny) untuk setiap dukungan, inspirasi, cinta kasih dan doa yang diberikan. Semoga ini bisa

menjadi persembahan yang terbaik.

5. Lembaga Pertanian Sehat yang memberikan saya kesempatan untuk melakukan penelitian.

6. Keluarga Bapak Togap dan Bunda Diah beserta anak (Bani dan Abi) atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis.

7. Galih, Risman, Tyaz, Anggie, Moch Fajar, Andina, Balqis, Erni, Tami, Fitri, Yuli dan Teman-teman Ekstensi Agribisnis angkatan 1 atas semangat dan sharing selama penelitian hingga penulisan skripsi, serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terimakasih atas bantuannya.

8. Teman-teman seperantauan The LonchenG’s (Aidil Azhari, Ryan Hidayat, Recta Maulana, Rahmat Rizki Nst, Dani Bayu Angkat, Rahmat Hamdani) yang selalu memberikan motivasi dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

(10)
(11)

5.5. Kegiatan SCM Beras SAE di LPS ... 63

5.5.1. LPS sebagai Supplier ... 63

5.5.2. LPS sebagai Manufacturer ... 67

5.5.3. LPS sebagai Supplier ... 71

VI IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR PENYUSUNAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT LPS ... 74

6.1. Identifikasi Tujuan LPS dalam Melakukan Kegiatan SCM ... 74

6.2. Identifikasi Faktor-faktor Penyusun Kegiatan Supply Chain Managemen LPS ... 75

VII ANALISIS PRIORITAS KEGIATAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT LPS ... 85

7.1. Analisis Hasil Pengolahan Horizontal ... 85

7.1.1. Analisis Hasil Pengolahan Horizontal Tujaun ... 85

7.1.2. Analisis Hasil Pengolahan Horizontal Antar Elemen Faktor Kegiatan SCM ... 86

7.1.3. Analisis Hasil Pengolahan Horizontal Antar Elemen SubFaktor Kegiatan SCM ... 91

7.2. Analisis Pengolahan Hasil Vertikal ... 101

VIII KESIMPULAN DAN SARAN ... 104

8.1. Kesimpulan ... 104

8.2. Saran ... 105

DAFTAR PUSTAKA ... 106

(12)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman 1. Perkembangan Areal Panen, Produktivitas

dan Produksi Padi di Indonesia Tahun 2004-2008 ... 1

2. Studi Terdahulu yang Berkaitan dengan Penelitian... 22

3. Nilai Skala Banding Secara Berbandingan ... 53

4. Nilai Indeks Acak (RI) Matriks Berorde Dua sampai Delapan ... 56

5. Enam Bidang Kegiatan Pokok LPS ... 60

6. Produk Unggulan LPS ... 63

7. Spesifikasi Persyaratan Mutu Beras SAE ... 66

8. Daftar Harga Beras SAE ... 71

9. Susunan Bobot dan Prioritas Hasil Pengolahan Horozontal antar Elemen Tingkat Dua ... 85

10. Hasil Pengolahan Horizontal Elemen Kegiatan SCM ... 87

11. Hasil Pengolahan Horizontal Antar Elemen Sub Faktor untuk Tujuan Mendapatkan Jalur Distribusi yang Efisien ... 91

(13)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman 1. Flowchart Proses Rekayasa Ulang

Supply Chain Management ... 39

2. Implementasi Supply Chain Management ... 41

3. Bagan Kerangka Pemikiran Oprasional ... 48

4. Model Struktur Hierarki Proses Hierarki Analitik ... 51

5. Matriks Pendapat Individu ... 54

6. Matriks Pendapat Gabungan ... 54

7. Hubungan Komunikasi Kepada Agen-Agen ... 73

8. Model Hierarki Keputusan Kegiatan Supply Chain Management di Lembaga Pertanian Sehat ... 82

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

(15)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komoditas pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi sumber daya manusia suatu bangsa termasuk Indonesia. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar (228.523.300 orang1) harus mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Pangan, khususnya beras merupakan komoditas yang penting dan strategis, karena merupakan kebutuhan pokok manusia yang hakiki yang setiap saat harus dapat dipenuhi. Kebutuhan pangan perlu diupayakan ketersediaannya dalam jumlah yang cukup, mutu yang layak, dan aman dikonsumsi.

Tahun 2008 Indonesia mengalami swasembada beras dan mengurangi

sama sekali impor berasnya2. Terjadinya swasembada beras di tahun 2008 merupakan usaha bersama yang dilakukan semua pihak, baik dari pemerintah

yang mendukung dan dari petani yang siap menerima dukungan pemerintah. Pemerintah yang siap membantu untuk menaikkan produktivitas petani dan petani yang siap menaikkan produksi padi Indonesia dan memperluas lahan yang dimilikinya. Pemerintah menggalakkan kembali penyuluh-penyuluh pertanian di lapangan dan memberikan subsidi pupuk dengan cara yang langsung ke petani, sedangkan petani memanfaatkan sebaik-baiknya program yang telah dilakukan oleh pemerintah. Perkembangan areal panen, produksi dan produktivitas padi Indonesia tahun 2004-2008 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Areal Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Indonesia Tahun 2004-2008

2004 11.922.974 4,536 54.088.468

2005 11.839.060 4,574 54.151.097

2006 11.786.430 4,620 54.454.937

2007 12.147.637 4,705 57.157.435

2008 12.343.617 4,893 60.279.897

Sumber : www.bps.go.id/sector/agri/pangan [18 Februari 2009]

1 http://demografi.bps.go.id/proyeksi [27 Januari 2009] 2

(16)

2 Tabel 1 menunjukkan pada tahun 2004-2008 rata-rata tingkat produktivitas padi di Indonesia adalah sebesar 4,665 Ton/Ha. Begitu juga dengan produksi padi secara nasional di Indonesia dari tahun 2004-2008 mengalami peningkatan produksi dengan nilai rata-rata sebesar 56.026.367 Ton. Meskipun produksi padi Indonesia beberapa tahun ini mengalami peningkatan, namun jumlah produksi tersebut belum dapat mengimbangi jumlah konsumsi beras penduduk Indonesia. Tingginya konsumsi beras mengakibatkan permintaan beras di dalam negeri tinggi dan tidak seimbang dengan ketersediaan beras.

Mayoritas masyarakat Indonesia masih kuat mengidentikkan pangan dengan beras, sehingga mementingkan tersedianya beras dalam jumlah yang cukup. Menurut data Badan Pusat Statistik, tahun 2007 rata-rata konsumsi beras yang mencakup konsumsi langsung rumah tangga, konsumsi industri makanan, kebutuhan benih dan kegunaan lain mencapai 115,5 kilogram per kapita per tahun. Pada tahun 2006 konsumsi beras nasional lebih rendah dibandingkan tahun 2005 yaitu dari 116,95 menjadi 115,33. Konsumsi beras nasional dinilai sangat tinggi dibandingkan negara lainnya di Asia seperti Jepang hanya 60 kilogram per

kapita per tahun dan Malaysia 80 kilogram per kapita per tahun3.

Gaya hidup masyarakat dewasa ini menunjukkan bahwa mengkonsumsi beras bukan hanya sekedar dikonsumsi, tetapi juga manfaat yang dihasilkan dari

mengkonsumsi beras tersebut. Hal ini seiring dengan semakin meningkatnya tingkat kesadaran pendidikan masyarakat serta kesadaran akan pentingnya kesehatan. Gaya hidup sehat memang menjadi pedoman baru kehidupan modern saat ini. Kekhawatiran timbulnya penyakit, pencemaran, ditambah kesadaran terhadap lingkungan menjadi salah satu penyebabnya. Oleh karena itu masyarakat mencari pangan yang lebih aman dan sehat untuk hidup yang lebih baik.

Pangan organik menjadi salah satu cara tepat yang sesuai kriteria. Bahkan, gaya hidup organik belakangan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga masyarakat global. Mulai dari masyarakat di Amerika Serikat, hingga Eropa. Dari Indonesia sampai ke negeri sakura, berkembang hampir ke seluruh Asia, Australia dan Selandia Baru.

3

(17)

3 Pangan organik yang dikonsumsi saat ini adalah hasil dari pertanian organik. Dari sinilah muncul terobosan baru untuk membudidayakan beras organik. Beras organik, seperti halnya pangan sejenis lainnya, senantiasa dibutuhkan oleh tubuh untuk meningkatkan kualitas kesehatan. Untuk menjadi sehat, minimal kita dapat mulai dengan apa yang kita makan sehari-hari. Apalagi, komposisi nasi (beras) menjadi makanan yang dikonsumsi setiap hari secara dominan, oleh karenanya nasi atau beras begitu berpengaruh bagi kesehatan. Beras organik merupakan beras yang ditanam di tanah yang ramah lingkungan. Proses pertumbuhannya tidak menggunakan pestisida kimia. Beras ini tumbuh di lahan yang sudah terbebas dari kontaminasi pestisida dengan ekosistem yang terjaga, dengan rentang waktu antara 5 tahun sampai 15 tahun.

Selain harus mengembalikan ekosistem tanah, beras sehat ini juga mensyaratkan adanya lahan yang jauh dari polusi, seperti asap knalpot motor, limbah pabrik, dan pencemaran lainnya. Sistem pengairan harus baik dan tidak boleh bercampur dengan lahan pertanian yang belum organik. Disamping itu lahan-lahan pertanian yang berada di sekitarnya pun tidak boleh menggunakan

pestisida. Beberapa ciri maupun karakteristik beras organik dapat dideteksi melalui aromanya yang wangi, tampilan fisiknya yang bersih, licin dan putih. Rasanya pun gurih, tahan lama waktu matang serta kualitasnya lebih baik dari

beras impor lainnya. Bahkan, bila dikonsumsi beras ini akan cepat mengenyangkan (LPS 2005)

Berkembangnya pertanian organik mendukung program pemerintah dalam hal keamanan pangan yaitu suatu kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia. Ini sesuai dengan UU No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 yang menegaskan bahwa pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor meliputi produksi, pengolahan, distribusi hingga konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang serta terjamin keamanannya.

(18)

4 satu lembaga yang mengembangkan bisnis usaha beras organik dari hulu sampai hilir. Beras organik yang dihasilkan Lembaga Pertanian Sehat diberi nama Beras SAE yang artinya beras yang Sehat, Aman dan Enak. Beras SAE adalah produk beras yang tidak mengandung residu pestisida berbahaya (dibawah ambang batas kandungan pestisida yang boleh dikonsumsi oleh manusia). Sehat karena diolah dengan teknologi pertanian ramah lingkungan, Aman karena bebas residu pestisida berbahaya, Enak karena rasa nasinya yang pulen dan mempunyai aroma pandan. Beras SAE memiliki karakteristik yang khas; warna beras tidak terlalu putih tetapi jika dimasak memiliki warna nasi yang putih, pulen dan wangi. Beras SAE diproduksi dengan menggunakan teknologi pertanian ramah lingkungan. Hasil analisa dan uji laboratorium di Laboratorium BB Biogen Bogor menyatakan bahwa Beras SAE bebas residu pestisida golongan Organoklorin, Organophospate, Karbamat, dan Piretroid.

1.2 Perumusan Masalah

Perkembangan lingkungan industri yang dinamis pada era global seperti

sekarang ini menjadi pemicu bagi banyak organisasi perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki, serta mengidentifikasi faktor kunci sukses untuk unggul dalam persaingan yang semakin kompetitif. Teknologi yang juga berkembang

pesat menjadi sebuah kekuatan untuk diterapkan dalam iklim persaingan. Usaha-usaha yang dilakukan pada akhirnya diarahkan untuk memberikan produk terbaik kepada konsumen.

(19)

5 Salah satu upaya untuk mereduksi biaya tersebut adalah melalui optimalisasi distribusi material dari pemasok, aliran material dalam proses produksi sampai dengan distribusi produk ke tangan konsumen. Distribusi yang optimal dalam hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep Supply Chain Management. Supply Chain Management sesungguhnya bukan merupakan suatu konsep yang baru. Supply Chain Management merupakan pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut berlangsung secara transparan. Supply Chain Management merupakan suatu konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logistik

Faktor kunci untuk mengoptimalkan Supply Chain Management adalah

menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat di antara mata rantai, pergerakan barang efektif dan efesien yang menghasilkan kepuasan maksimal para pelanggan. Hal ini menunjukkan harus ada kerja sama yang erat

antara pelaku dalam rantai pasokan, yang penting adalah adanya kesadaran dan kesediaan dari masing-masing pelaku untuk melakukannya agar rantai pasokan dapat berjalan lancar.

(20)

Sehat-6 Agen-Konsumen. Di rantai kegiatan Supply Chain Management Lembaga Pertanian Sehat berperan sebagai supplier, manufakturer dan distributor.

Sebagai supplier Lembaga Pertanian Sehat menyediakan bibit unggul, obat-obatan yang ramah lingkungan dan memberikan penyuluhan-penyuluhan ke petani-petani binaan. Sebagai manufacturer beras yang sudah dihasilkan oleh petani diolah kembali oleh Lembaga Pertanian Sehat dengan mencampur beras di tempat penggilingan yang telah bekerja sama dengan Lembaga Pertanian Sehat dan mengemasnya kembali ke tempat yang sudah ditentukan dengan ukuran-ukuran tertentu, sedangkan sebagai distributor menyalurkan beras yang sudah dihasilkan dan dikemas, ke agen-agen yang telah menjalin kerjasama ataupun ke konsumen yang memesan langsung ke kantor Lembaga Pertanian Sehat dalam jumlah tertentu.

Banyaknya fungsi yang dilakukan Lembaga Pertanian Sehat dalam mata rantai kegiatan Supply Chain Management seharusnya mengakibatkan pergerakan barang menjadi lebih efektif dan alur informasi yang diterima menjadi lebih tepat dan akurat, akan tetapi yang terjadi di lapangan menunjukkan keadaan yang

sebaliknya. Berdasarkan wawancara di Lembaga Pertanian Sehat alur informasi mengenai jumlah Beras SAE yang terjual di setiap agen kurang cepat diterima oleh pihak lembaga dan adanya pengeluaran biaya yang cukup besar mengenai

pengiriman Beras SAE dari kantor yang berada di Bogor ke agen-agen yang ada berada di sekitar Jakarta, Tangerang dan Depok.

(21)

7 1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi faktor-faktor penyusun Supply Chain Management yang dilakukan oleh Lembaga Pertanian Sehat pada produk beras SAE.

2. Menganalisis prioritas kegiatan Supply Chain Management beras SAE di Lembaga Pertanian Sehat.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan, antara lain :

1. Bagi Lembaga Pertanian Sehat, hasil analisis ini dapat digunakan sebagai masukan dan pertimbangan dalam menjalankan operasional perusahaan dan dalam membuat rencana kerja selanjutnya.

2. Bagi penelitian-penelitian selanjutnya guna sebagai bahan referensi atau sumber informasi.

3. Bagi penulis, sebagai syarat kelulusan sarjana, untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama kuliah dan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai Supply Chain Management.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

(22)

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Komoditas Beras

Tumbuhan padi (Oriza Sativa L.) termasuk golongan tumbuhan Gramineae yaitu tumbuhan yang ditandai dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu bubungnya ditutup oleh buku. Panjangnya ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih panjang daripada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas tumbuh daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagian atas ujung dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi apa yang disebutkan lugulae (lidah) daun, dan bagian yang terpanjang dan terbesar menjadi kelopak (Siregar 1981).

Tumbuhan padi bersifat merumpun, artinya tanaman-tanamannya anak-beranak. Bibit yang hanya sebatang saja ditanamkan dalam waktu sangat singkat telah dapat membentuk satu dapuran, dimana terdapat 20-30 atau lebih anakan/tunas-tunas baru. Kecepatan anak-beranak yang begitu pesat bisa menimbulkan kesulitan untuk mengetahui manakah di antara sejumlah

batang-batangnya dalam satu rumpun itu yang merupakan batang utamanya, dan mana yang merupakan batang-batang dari anak/tunas baru.

Kata "beras" mengacu pada bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam. Sekam secara anatomi disebut palea (bagian yang ditutupi) dan lemma (bagian yang menutupi). Pada salah satu tahap pemrosesan hasil panen padi, gabah ditumbuk dengan lesung atau digiling sehingga bagian luarnya (kulit gabah) terlepas dari isinya. Bagian isi inilah, yang berwarna putih, kemerahan, ungu, atau bahkan hitam, yang disebut beras. Berikut ini penjelasan mengenai anatomi, kandungan, macam dan warna beras menurut siregar (1981), yaitu : Anatomi beras

Beras sendiri secara biologi adalah bagian biji padi yang terdiri dari : 1. Aleuron, lapis terluar yang sering kali ikut terbuang dalam proses pemisahan

kulit.

(23)

9 3. Embrio, yang merupakan calon tanaman baru (dalam beras tidak dapat tumbuh lagi, kecuali dengan bantuan teknik kultur jaringan). Dalam bahasa sehari-hari, embrio disebut sebagai mata beras.

Kandungan beras

Sebagaimana bulir serealia lain, bagian terbesar beras didominasi oleh pati (sekitar 80-85%). Beras juga mengandung protein, vitamin (terutama pada bagian aleuron), mineral, dan air. Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat:

1. Amilosa, pati dengan struktur tidak bercabang.

2. Amilopektin, pati dengan struktur bercabang dan cenderung bersifat lengket. Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna (transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencar-pencar (tidak berlekatan) dan keras.

Macam dan Warna Beras

Warna beras yang berbeda-beda diatur secara genetik, akibat perbedaan

gen yang mengatur warna aleuron, warna endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.

1. Beras Putih yang berwarna putih agak transparan karena hanya memiliki

sedikit aleuron, dan kandungan amilosa umumnya sekitar 20%. Beras ini mendominasi pasar beras.

2. Beras merah, akibat aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu.

3. Beras hitam, sangat langka, disebabkan aleuron dan endospermia memproduksi antosianin dengan intensitas tinggi sehingga berwarna ungu pekat mendekati hitam.

4. Ketan (atau beras ketan), berwarna putih, tidak transparan, seluruh atau hampir seluruh patinya merupakan amilopektin.

5. Ketan hitam, merupakan versi ketan dari beras hitam.

(24)

10 senyawa aromatik yang memberikan efek wangi. Sifat ini diatur secara genetik dan menjadi objek rekayasa genetika beras.

Aspek pangan

Beras dimanfaatkan terutama untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Selain itu, beras merupakan komponen penting beras kencur dan param. Minuman yang populer dari olahan beras adalah arak dan Air tajin. Dalam bidang industri pangan, beras diolah menjadi tepung beras. Sosohan beras (lapisan aleuron), yang memiliki kandungan gizi tinggi, diolah menjadi tepung rice bran. Bagian embrio juga diolah menjadi suplemen dengan sebutan tepung mata beras.

Untuk kepentingan diet, beras dijadikan sebagai salah satu sumber pangan bebas gluten dalam bentuk berondong. Di antara berbagai jenis beras yang ada di Indonesia, beras yang bewarna merah atau beras merah diyakini memiliki khasiat sebagai obat. Beras merah yang telah dikenal sejak tahun 2800 SM ini, oleh para tabib saat itu dipercaya memiliki nilai nilai medis yang dapat memulihkan kembali rasa tenang dan damai. Meski, dibandingkan dengan beras putih,

kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah (78,9 gr : 75,7 gr), tetapi hasil analisis Murdani (2008) menunjukkan nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih (349 kal : 353 kal). Selain lebih kaya protein (6,8 gr : 8,2

gr), hal tersebut mungkin disebabkan kandungan tiaminnya yang lebih tinggi (0,12 mg : 0,31 mg)4.

Kekurangan tiamin bisa mengganggu sistem saraf dan jantung, dalam keadaan berat dinamakan beri-beri, dengan gejala awal nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, sembelit, mudah lelah, sernutan, jantung berdebar, dan refleks berkurang. Unsur gizi lain yang terdapat pada beras merah adalah fosfor (243 mg per 100 gr bahan) dan selenium. Selenium merupakan elemen kelumit (trace element) yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase. Enzim ini berperan sebagai katalisator dalam pemecahan, peroksida menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik-peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang mampu mengoksidasi asam lemak tidak jenuh dalam membran sel hingga merusak membran tersebut, menyebabkan kanker, dan penyakit degeneratif

4

(25)

11 lainnya. Karena kemampuannya itulah banyak pakar mengatakan bahan ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degeneratif lain.

Dalam pengertian sehari–hari yang dimaksud beras adalah gabah yang bagian kulitnya sudah dibuang dengan cara digiling dan disosoh menggunakan alat pengupas dan penggiling (huller) serta penyosoh (polisher). Gabah yang hanya terkupas bagian kulit luarnya (sekam), disebut beras pecah kulit (brown rice). Sedangkan beras pecah kulit yang seluruh atau sebagian dari kulit arinya telah dipisahkan dalam proses penyosohan, disebut beras giling (milled rice).

Beras yang biasa dikonsumsi atau dijual di pasar adalah dalam bentuk beras giling. Beras merupakan bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Beras memiliki rasa yang enak sesuai dengan selera masyarakat Indonesia dan memiliki kandungan gizi lebih tinggi daripada jagung, kentang dan ketela. Beras termasuk komoditas strategis karena ketahanan pangan Indonesia bertumpu pada produksi beras dengan jumlah yang aman, harga terjangkau dan bergizi. Pemenuhan kebutuhan pangan tergantung pada produksi beras dalam

negeri namun apabila belum terpenuhi maka dilakukan impor beras.

2.1.1. Varietas Unggul

(26)

12 Menurut Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (2008)5 varietas unggul terdiri dari beberapa macam diantaranya:

1) Varietas Unggul Nasional (UNGNAS) atau Varietas Unggul Biasa (improved national variety) atau Varietas Unggul Bogor seperti Bengawan, Si Gadis, Remaja dan Jelita. Varietas ini dihasilkan oleh Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Bogor sebelum tahun 1965 dan mempunyai daya produksi sedang. 2) Varietas Unggul Baru (VUB)

Kelompok tanaman padi yang memiliki karakteristik umur kisaran 100 - 135 hari setelah sebar (HSS), anakan banyak (> 20 tunas/rumpun) dan bermalai agak lebat (± 150 butir gabah/malai). Varietas ini diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1967, diantaranya berasal dari Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Filipina. Varietas ini mempunyai daya produksi yang tinggi dan responsif terhadap pemupukan tinggi (high yielding variety). 3) Varietas Unggul Tipe Baru (VUTB)

Kelompok tanaman padi yang memiliki karakteristik postur tanaman tegap, berdaun lebar dan berwarna hijau tua, beranak sedikit (< 15 tunas/rumpun),

berumur 100-135 HSS, bermalai lebat (± 250 butir gabah/malai) dan berpotensi hasil lebih dari 8 ton gabah kering giling/ha.

4) Varietas Unggul Hibrida (VUH)

Kelompok tanaman padi yang terbentuk dari individu-individu generasi pertama (F1) asal suatu kombinasi persilangan dan memiliki karakteristik potensi hasil lebih tinggi dari varietas unggul inhibrida yang mendominasi areal pertanaman produksi padi.

5) Varietas Unggul Lokal

Varietas yang telah ada dan dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani serta menjadi milik masyarakat dan dikuasai negara. Varietas ini tidak termasuk Varietas Unggul Nasional (UNGNAS), tetapi di daerah tertentu mampu menghasilkan padi lebih tinggi atau menyamai padi UNGNAS.

5

(27)

13 Dari berbagai varietas yang diatas ada yang dibudidayakan secara konvensional dan ada juga yang membudidayakannya secara organik. Secara konvensional berarti tanaman padi tersebut dibudidayakan dengan menggunakan obat-obatan, pupuk kimia, pestisida dengan sesuai dosis yang dianjurkan malah sebagian besar memberikan dosis yang berlebihan, sedangkan membudidayakan secara organik adalah keseluruhan sistem manajemen produksi pertanian yang menghindari penggunaan pupuk, pestisida sintetis dan organisme rekayasa genetik (GMO atau transgenik), meminimalkan polusi udara, tanah, dan air serta mengutamakan kesehatan dan produktivitas tanaman, binatang dan manusia.

Dalam pelaksanaannya, pertanian organik mengurangi pemakaian masukan dari luar (external input) dengan jalan meniadakan penggunaan pupuk dan pestisida kimia sintetis. Sebagai gantinya, sistem pertanian organik, memanfaatkan sumber daya alami berupa pupuk organik, pestisida botani dan penggunaan bibit lokal atau yang bukan hasil rekayasa genetik. Dengan demikian pertanian organik dapat didefinisikan sebagai “ sistem pengelolaan produksi pertanian yang holistik yang mendorong dan meningkatkan kesehatan

agro-ekosistem, termasuk biodiversitas, siklus biologi dan aktivitas biologis tanah; dengan menekankan pada penggunaan input dari dalam dan menggunakan cara-cara mekanis, biologis dan kultural”.

2.1.2. Beras Aromatika (Fragrant Rice)

Padi atau beras aromatika adalah padi atau beras yang mengandung unsur aroma, pulen, wangi dan enak. Varietas padi yang bersifat aromatik misalnya padi

Varietas Unggul Lokal Rojolele, Pandan Wangi, Mentikwangi dan Gandamana6.

Penanaman padi aromatik dapat memberikan nilai tambah bagi petani karena harganya lebih mahal dari harga padi biasa (tidak beraroma). Namun penanaman

padi tersebut kurang berkembang karena umurnya relatif lebih panjang dan hasilnya tidak setinggi Varietas Unggul Nasional sehingga tidak cukup memenuhi permintaan pasar. Sementara tuntutan masyarakat produsen dan konsumen terhadap bahan pangan khususnya beras semakin meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Keberhasilan pemenuhan tuntutan pangan harus

6

(28)

14 didukung dengan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi, tahan hama/penyakit dan berkualitas baik. Pemerintah melalui Badan Litbang Pertanian berupaya mengembangkan Varietas Unggul Baru yang bersifat aromatik diantaranya Bengawan Solo dan Sintanur.

2.1.3. Beras SAE (Sehat, Aman, Enak)

Beras SAE diproduksi dengan menggunakan teknologi pertanian ramah lingkungan. Hasil analisa dan uji laboratorium di Laboratorium BB Biogen Bogor menyatakan bahwa beras SAE bebas residu pestisida golongan Organoklorin,

Organophospate, Karbamat, dan Piretroid. Beras SAE memiliki karakteristik yang khas; warna beras tidak terlalu putih tetapi jika dimasak memiliki warna nasi yang

putih, pulen dan wangi, sehingga Beras SAE termasuk beras aromatika.

Beras SAE adalah beras yang dihasilkan oleh petani-petani binaan Lembaga Pertanian Sehat di 3 Kecamatan di Kabupaten Bogor, yaitu : Kecamatan Cigombong, Kecamatan Caringin dan Kecamatan Cijeruk. Teknis budidaya padi SAE sendiri kurang lebih sama dengan budidaya padi yang bukan organik. Hanya mulai dari pemilihan benih sampai proses pemanenan dilakukan secara ramah

lingkungan. Lembaga Pertanian Sehat memberikan pengetahuan teknologi-teknologi yang ramah lingkungan kepada petani binaan seperti : cara bercocok

tanam terpadu dengan teknik legowo dan penggunaan bibit muda, pelatihan teknik dan praktik membuat kompos dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk serta teknik pembuatan pestisida nabati sebagai pengendali hama tanaman. Diharapkan dengan pelatihan-pelatihan tersebut para petani lebih memperhatikan kualitas beras yang dihasilkannya. Kualitas yang diharapakan yaitu yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan oleh Lembaga Pertanian Sehat yang secara garis besar merupakan beras yang tidak mengandung residu pestisida kimia yang kecil.

(29)

15 terakumulasi dalam tubuh dan dapat membahayakan kesehatan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan aktif yang bersifat racun dari pestisida kimia tidak terbuang ke luar tubuh, tetapi akan terakumulasi di dalam jaringan dan dapat memicu timbulnya kangker, penurunan kesuburan, gangguan fungsi syaraf, kerusakan hati, ginjal, dan paru-paru7. Oleh karena itulah Lembaga Pertanian Sehat selalu melakukan penyuluhan-penyuluhan agar petani binaan menghasilkan beras yang sesuai dengan standar mutu yang telah ditentukan terutama dalam hal yang terkait dengan kesehatan.

Selama dalam proses budidaya padi untuk menghasilkan Beras SAE, Lembaga Pertanian Sehat juga melakukan proses pendampingan, baik yang bersifat rutin pertemuan kelompok ataupun yang tidak rutin berupa kunjungan ke lokasi penanaman maupun kunjungan ke rumah-rumah petani. Pendampingan rutin dilakukan melalui pertemuan kelompok setiap satu minggu sekali secara bergiliran.

2.2. Tinjauan Studi Terdahulu

2.2.1. Studi Empiris Mengenai Supply Chain Management

Dari penelitian Noviyanti (2005) dengan judul Analisis Efesiensi Supply Chain Produk Benih Padi Pada PT. Sang Hyang Seri (Persero) didapat beberapa

permasalahan dalam kegiatan yang berdampak terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa permasalahan tersebut antara lain : pemanfaatan aset yang belum optimal dan kurang terintegrasinya antar mata rantai maupun fungsi yang terdapat dalam perusahaan. Berpijak dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Supply Chain Management dengan menggunakan AHP dan SCOR sehingga proses kegiatan yang ada dilakukan secara optimal guna mengefesiensi kegiatan.

Berdasarkan tujuh faktor supply chain, PT. Sang Hyang Seri (Persero) berada dalam kondisi perencanaan, pemerolehan sumber, pelaksanaan produksi, keberadaan toko, transportasi dan penjualan yang sedang, sedangkan spesifikasi

7 http://www.gemafajar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=47:beras-

(30)

16 teknologi masih rendah. Keberadaan atau situasi ini disebabkan kurang terintegrasinya antara setiap mata rantai dalam sistem sehingga diperlukannya manajemen supply chain.

Penelitian Arisandi (2006) dengan judul Analisis Sistem Pasokan Buah-Buahan Ke Ritel Modern Supply Chain Management (Kasus PT. Moena Putra Nusantara, Pondok Melati, Bekasi) bertujuan untuk (1) Mengetahui dan mengidentifikasi mekanisme sistem pengadaan dan pemasokan buah dalam memenuhi permintaan ritel modern. (2) Mengetahui struktur biaya pengadaan dan pemasokan yang dikeluarkan oleh perusahaan. (3) Mengetahui biaya imbangan. (4) Mengetahui marjin pemasaran beberapa komoditas buah, dan (5) Mengetahui hubungan Kelembagaan anggota rantai pasokan.

Pada penelitian ini jenis buah yang dipilih sebagai contoh kasus penelitian dalam perhitungan marjin pemasaran adalah jambu biji merah dan semangka merah. Berdasarkan hasil perhitungan marjin pemasaran dapat diketahui bahwa tingkat marjiin pemasaran jambu biji merah pada sistem saluran pemasaran 1 dan 2 sebesar 73,45 % . Dengan kata lain, konsumen akhir harus mengeluarkan 73,45

% biaya tambahan dengan harga jual petani untuk mengkonsumsi produk tersebut yang didapatkan dari ritel, sedangkan untuk semangka merah tingkat marjin pemasarannya pada sistem saluran pemasaran 1 dan 2 berbeda yaitu sebesar

62,75 % dan 54,15 %dari harga konsumen akhir. Hal ini karena biaya produksi ditingkat produsen pada sistem saluran pemasaran tersebut berbeda.

Penelitian Usman (2007) yang berjudul Analisis Kinerja Supply Chain Management Susu Cair Ultra High Temparature Full Cream (Studi Kasus di PT. Ultra Jaya Milk Industry and Trading, Kabupaten Bandung) secara keseluruhan tujuan penelitian ini adalah menganalisis kinerja perusahaan dalam proses aplikasi SCM dalam meningkatkan daya saing perusahaan. Metode yang digunakan dalam proses analisis data adalah bersifat deskriptif analitik yang dipadukan dengan analisis kuantitatif dan disajikan dalam bentuk tabulasi.

(31)

17 unutk jumlah total plate count adalah lebih 15x106 unit/ml, untuk kadar total solid kurang dari 10.0 dan untuk berat jenis kurang dari 1.028 g/ml. Berdasarkan hasil analisis diagram p Chart untuk total solid, pada periode tahun 2006 untuk pasokan susu segar yang berasal dari KPBS menunjukkan kondisi terkendali dengan rata-rata proses pengamatan 0.000 untuk mutu TS susu segar yang berasal dari KUD Sarwa Mukti terdapat kondisi di luar kendali mutu dengan rata-rata proses 0.639 hal ini berada di atas batas kendali maksimal sebesar 0.906 dengan frekuensi 3 kali sehingga kondisi ini dinyatakan tidak terkendali.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini pertama adalah mekanisme pengadaan bahan telah berjalan dengan baik dengan memperhatikan aspek mutu, harga, jumlah, dan waktu. Status kendali mutu total plate count dan berat jenis berada di luar kendali dan status kendali mutu total solid dalam kondisi terkendali. Tak ada kuota pasokan susu segar sehingga pemasok dapat mengirim susu segar dalam jumlah dan waktu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Mekanisme penetapan harga susu segar diterapkan oleh perusahaan berdasarkan mutu susu segar. Tingkat perputaran persediaan pada periode 2006 berkisar antara 1-2 kali dalam

satu bulan. Implikasi penerapan pola procurement supply chain cost perusahaan dapat melakukan cost saving sebesar Rp 30.096.000,00/tahun dan apabila menggunakan waktu rata-rata dalam proses perpendekan waktu proyek,

perusahaan akan memperoleh tambahan pendapatan penjualan sebesar Rp 168.911.504,00/tahun.

(32)

18 terima kurang dari 300 rupiah, dan petani dengan jumlah TM lebih dari 150 pohon.

Berdasarkan analisis regresi logistik diketahui bahwa ada variabel bebas yang mempengaruhi tingkat kesediaan petani untuk berpartisipasi dalam SCM yaitu jumlah TM yang diusahakan (X1), harga yang diterima (X2), keanggotaan koperasi (X3), pendidikan terakhir (X4), dan jumlah tanggungan dalam keluarga (X5). Pada taraf nyata (α) sebesar lima persen, diketahui bahwa variabel yang mempengaruhi kesediaan petani untuk berpartisipasi dalam SCM adalah variabel keanggotaan koperasi dan jumlah tanggungan dalam keluarga. Variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap kesediaan petani dalam menerapkan SCM adalah variabel harga tertinggi yang diterima, dan pendididkan terakhir.

Dari peneltian didapatkan nilai p (p-value) lebih besar dari nilai taraf nyata (α). Nilai log likelihood sebesar -14,096 artinya model yang diperoleh sudah baik. Nilai p pada Hosmer-Lemeshow adalah 0,285 artinya tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diduga dengan klasifikasi yang diamati. Nilai uji G sebesar 18,435 dengan nilai p = 0,002 menunjukkan bahwa ada

sekurang-kurangnya satu variabel yang berpengaruh nyata terhadap kesediaan petani untuk berpartisipasi dalam SCM. Persentase kebenaran model sebesar 89 persen, artinya sebesar 89 persen kesediaan petani untuk berpartisipasi dalam SCM dapat

dijelaskan oleh variabel harga yang diterima petani, keanggotaan koperasi, jumlah TM yang diusahakan, jumlah tanggungan dalam keluarga dan pendidikan terakhir. Sisanya sebesar sebelas persen dijelaskan oleh komponen error.

Dari keempat skripsi didapat persamaan bahwa topik yang diangkat sama, yakni sama-sama membahas tentang Supply Chain Management. Sedangkan perbedaan dari ketiga tersebut adalah dari alat analisis yang digunakan dan produk yang akan di teliti. Pada penelitian ini menggunakan alat analisis yang sama dengan Noviyanty yaitu AHP, karena permasalahan yang dihadapi hampir sama dengan yang di Lembaga Pertanian Sehat.

2.2.2. Studi Empiris Mengenai Beras

(33)

19 bertujuan : 1) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor internal dan eksternal Kelompok Tani Cibeureum Jempol Mulyaharja; serta 2) Menganalisis strategi terbaik yang dapat diterapkan dalam rangka pengembangan usaha beras organik pada Kelompok Tani Cibeureum Jempol Mulyaharja.

Penelitian di Kelompok Tani Cibeureum Jempol Mulyaharja ini dilakukan secara sengaja (purposive). Data analisis melalui perumusan strategi yang terdiri tahap masukan, tahap pemaduan dan tahap pemilihan strategi. Alat analisis yang digunakan adalah matriks EFE (Eksternal Factor Evaluation), matriks IFE (Internal Factor Evaluation), matriks SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, and Threats), matriks I-E (Internal-Eksternal) dan matriks QSP (Quantitative Strategic Planning).

Pada faktor eksternal peluang yang paling utama dapat dimanfaatkan adalah adanya program pemerintah “Go Organic” dengan nilai skor sebesar 0,396 dan nilai rating sebesar 4,000, sedangkan untuk ancaman terbesar yang harus diwaspadai Kelompok Tani Cibeureum Jempol Mulyaharja adalah tingkat daya beli masyarakat yang masih rendah dengan nilai skor sebesar 0,337 dan nilai

rating sebesar 3,333. Dari faktor EFE dan IFE dihasilkan nilai rata-rata EFE sebesar 3,300 dan IFE sebesar 2,506 sehingga menempatkan Kelompok Tani Cibeureum Jempol Mulyaharja pada sel 2. Posisi ini menggambarkan bahwa

Kelompok Tani Cibeureum Jempol Mulyaharja berada dalam kondisi tumbuh dan harus lebih dibina lagi.

Penelitian Astuti (2008) yang berjudul Analisis Preferensi dan Kepuasan Konsumen Terhadap Beras di Kecamatan MulyoRejo, Surabaya, Jawa Timur mempunyai tujuan diantaranya : 1) Mengkaji karakteristik konsumen beras, 2) Menganalisis proses pengambilan keputusan yang dilakukan konsumen dalam pembelian beras, 3) Menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut-atribut beras, 4) Menganalisis kepuasan konsumen terhadap atribut-atribut beras, dan 5) Menyusun rekomendasi bauran pemasaran yang sesuai berdasarkan perilaku konsumen.

(34)

20 terkait dengan konsumsi beras. Beberapa perbedaan karakteristik responden berdasarkan kelas sosial terkait tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga per bulan. Semakin tinggi kelas sosial, tingkat pendidikan dan rata-rata pendapatan per bulan keluarganya akan semakin tinggi hal ini mempengaruhi perilaku konsumen dalam mengkonsumsi beras.

Motivasi utama mengkonsumsi beras adalah kebiasaan, responden mendapatkan informasi sebagian besar dari penjual, namun informasi yang paling dipercaya adalah informasi dari diri sendiri (ingatan). Pertimbangan awal yang utama bagi kelas bawah dalam membeli beras adalah harga beras, sedangkan bagi kelas menengah dan kelas atas adalah penampakan fisik. Beras yang dikonsumsi adalah beras domestik dan pembelian direncanakan. Kelas bawah melakukan pembelian hampir setiap hari dan tempat pembelian terbanyak adalah warung. Kelas menengah melakukan pembelian sebulan sekali dan tempat pembelian terbanyak adalah supermarket/mall. Sebagian besar responden berniat pembelian berulang. Semakin tinggi kelas sosial, rata-rata harga beras yang dikonsumsi semakin tinggi.

Penelitian Murdani (2008) dengan judul Analisis Usahatani dan Pemasaran Beras Varietas Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru (Kasus Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) bertujuan untuk

mengkaji keragaan usahatani dan menganalisis pendapatan usahatani padi Varietas Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru, menganalisis saluran pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran dan efisiensi pemasaran pada masing-masing lembaga pemasaran beras Varietas Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru di Kecamatan Warungkondang. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang usahatani dan pemasaran beras Varietas Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru di Kecamatan Warungkondang. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis pendapatan, analisis R/C ratio, analisis marjin, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran.

(35)

21 tahun diketahui pendapatan atas biaya tunai per hektar usahatani Pandan Wangi lebih kecil daripada Varietas Unggul Baru. Hal ini dikarenakan selisih antara penerimaan usahatani padi Varietas Unggul Baru dengan padi Pandan Wangi lebih besar daripada selisih antara total biaya tunai padi Varietas Unggul Baru dengan padi Pandan Wangi. Pendapatan atas biaya total per hektar per tahun padi Pandan Wangi lebih besar daripada padi Varietas Unggul Baru. Hal ini dikarenakan selisih antara penerimaan usahatani padi Varietas Unggul Baru dengan padi Pandan Wangi lebih kecil daripada selisih antara biaya total padi Varietas Unggul Baru dengan padi Pandan Wangi.

Saluran pemasaran beras Pandan Wangi dan beras Varietas Unggul Baru di daerah penelitian berbeda. Pemasaran beras Pandan Wangi terdiri dari dua saluran yaitu (1) petani - pedagang di Pasar Tani Deptan - konsumen dan (2) petani - Gapoktan Citra Sawargi - CV. Quasindo - retail - konsumen. Pemasaran beras Varietas Unggul Baru terdiri dari tiga saluran yaitu (1) petani - pedagang pengumpul - konsumen ; (2) petani - pedagang pengumpul - pedagang besar (grosir) - konsumen dan (3) petani - pedagang pengumpul - pedagang pengecer -

konsumen. Lembaga-lembaga pemasaran tersebut melakukan fungsi-fungsi pemasaran seperti fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas.

Dari ketiga skripsi yang diatas, produk yang diteliti adalah beras. Ketiga

(36)

22 Tabel 2. Studi Terdahulu yang Berkaitan dengan Penelitian

Nama Penulis Tahun Judul Metode Analisis

Mona Noviyanti 2005 Analisis Efisiensi Supply Chain

Produk Benih Padi Pada PT. Sang Hyang Seri (Persero)

SCOR, AHP

Harris Sofyan

Arisandi

2006 Analisis Sistem Pasokan

Buah-Buahan Ke Ritel Modern Supply

Chain Management (Kasus PT. Moena Putra Nusantara, Pondok Melati, Bekasi)

Margin Tataniaga.

Nova Juita 2007 Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Kesediaan High Temparature Full Cream

(Studi Kasus di PT. Ultra Jaya

Dian Murdani 2008 Analisis Usahatani dan

Pemasaran Beras Varietas

2008 Analisis Preferensi dan

(37)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Supply Chain (SC)

Supply Chain (rantai pasokan) adalah suatu kelembagaan yang menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini

juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi yang saling berhubungan yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang tersebut. Kata “penyaluran” mungkin kurang tepat karena istilah supply meliputi juga proses perubahan barang tersebut, misalnya dari bahan mentah menjadi barang jadi (Indrajit dan Djokopranoto, 2002).

Dalam Tunggal (2008), Supply Chain terdiri atas 3 elemen yang saling terikat satu sama lain, yaitu :

1. Struktur jaringan Supply Chain

Jaringan kerja anggota dan hubungan dengan anggota Supply Chain lainnya. 2. Proses bisnis Supply Chain

Aktivitas-aktivitas yang menghasilkan nilai keluaran tertentu bagi pelanggan. 3. Komponen manajemen Supply Chain

Variabel-variabel manajerial dimana proses bisnis disatukan dan disusun sepanjang Supply Chain.

Pelaksanaan Supply Chain meliputi pengenalan anggota Supply Chain dengan siapa dia berhubungan, proses apa yang perlu dihubungkan dengan tiap

anggota inti dan jenis penggabungan apa yang diterapkan pada tiap proses hubungan tersebut. Tujuannya adalah memaksimalkan persaingan dan keuntungan

bagi perusahaan dan seluruh anggotanya, termasuk pelanggan akhir.

Dalam manajemen rantai pasokan terdapat enam faktor kunci manajemen rantai pasokan dalam pengusahaan rantai pasokan yang optimal. Enam faktor kunci tersebut antara lain :

1. Memfokuskan pada pelanggan dan konsumen. 2. Menciptakan dan membagi nilai.

(38)

24 4. Memastikan proses logistik dan distribusi yang efektif.

5. Memiliki strategi informasi dan komunikasi. 6. Membangun hubungan yang efektif.

Enam prinsip kunci di atas digunakan untuk mengetahui cara pandang anggota rantai pasokan terhadap rantai pasokan yang telah berjalan sehingga dapat diidentifikasi bagian dalam rantai pasokan yang memerlukan perbaikan. Perbaikan pada salah satu anggota rantai pasokan untuk memberikan perhatian secara langsung meningkatkan penampilan keseluruhan rantai pasokan.

3.1.2 Struktur Jaringan Supply Chain

Menurut Tunggal (2008) anggota Supply Chain meliputi semua perusahaan dan organisasi yang berhubungan dengan perusahaan utama baik secara langsung maupun tidak langsung melalui supplier atau pelanggannya dari point of origin hingga point of consumption. Primary members (anggota primer) adalah semua perusahaan/unit bisnis strategik yang benar-benar menjalankan aktivitas operasional dan manajerial dalam proses bisnis yang dirancang untuk menghasilkan keluaran tertentu bagi pelanggan atau pasar. Secondary member (anggota sekunder) adalah perusahaan-perusahaan yang menyediakan sumber daya, pengetahuan, utilitas atau aset-aset bagi anggota primer di Supply Chain,

misalnya: agen-agen ekspedisi yang menyewakan truk, bank-bank yang memberi pinjaman uang bagi retail, perusahaan-perusahaan yang menyediakan peralatan produksi, pencetak brosur dan semua anggota yang tidak secara langsung berpartisipasi atau memberi nilai tambah proses dari perubahan-perubahan masukan menjadi keluaran untuk pelanggan akhir.

(39)

25 Semua supplier adalah anggota sekunder, sedangkan point of consumption adalah titik dimana tidak ada pelanggan utama.

3.1.3 Proses Bisnis Supply Chain

Bila dua perusahaan membina hubungan, aktivitas-aktivitas internal mereka akan terhubung dan tersusun bersama di antara keduanya, sebagai contoh aktivitas internal perusahaan dihubungkan dan mempengaruhi akitivitas internal distributor dan sebaliknya juga dapat berhubungan dengan aktivitas retail. Akhirnya, aktivitas retail berhubungan dan mempengaruhi pelanggan akhir. Dengan demikian, keberhasilan Supply Chain Management memerlukan perusahaan dalam fungsi individual untuk menyatukan aktivitas-aktivitas pada proses bisnis inti supply chain dan mengkoordinasikannya.

Sebelum menguraikan proses bisnis inti supply chain yang terdiri dari delapan proses, perlu ditambahkan keberhasilan supply chain management juga memerlukan :

 Dukungan sumber daya manusia, kepemimpinan dan komitmen untuk

berubah

 Memahami sejauh mana perubahan yang diperlukan.

 Menyetujui visi dan proses inti proses supply chain management.

 Komitmen pada perlunya sumberdaya dan kekuasaan atau wewenang untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berikuti ini akan diuraikan proses-proses bisnis inti supply chain management menurut Tunggal (2008) :

1. Customer Relationship Management (CRM)

(40)

26 untuk menganalisa pelayanan seperti apa yang akan diberikan pada pelanggan tersebut juga keuntungan yang diperoleh.

2. Customer Service Managament (CSM)

Customer Service Managament merupakan sumber tunggal informasi pelanggan yang mengurus persetujuan produk dan jasa. Customer service memberitahukan pelanggan informasi mengenai tanggal pengiriman dan ketersediaan produk melalui hubungannya dengan bagian produksi dan distribusi. Pelayanan setelah penjualan juga diperlukan, intinya harus secara efesien membantu pelanggan mengenai aplikasi dan rekomendasi produk. 3. Demand Management

Proses ini harus menyeimbangkan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan supply perusahaan, menentukan apa yang akan dibeli pelanggan dan kapan. Sistem managament demand yang baik menggunakan data point-of-sale dan data pelanggan “inti” untuk mengurangi ketidakpastian dan aliran yang efisien melalui supply chain.

4. Customer Pesanan Fulfillment

Proses penyelesaian ini secara efektif memerlukan integrasi rencana kerja antara produksi, distribusi dan transportasi. Hubungan dengan rekan kerja yakni anggota primer supply chain dan anggota sekunder diperlukan untuk

memenuhi kebutuhan pelanggan dan mengurangi total biaya kirim pelanggan. 5. Manufacturing Flow Management

(41)

27 merekayasa ulang proses, perubahan dalam desain produk dan perhatian pada rangkaian produk.

6. Procurement

Membina hubungan jangka panjang dengan sekelompok supplier dalam arti hubungan win-win relationship akan mengubah sistem beli tradisional. Melibatkan supplier sejak tahap desain produk akan mengurangi siklus pemgembangan produk dan juga koordinasi antara engineering, purchasing, dan supplier pada tahap akhir desain. Untuk mempercepat transfer data dan komunikasi, purchasing dapat menggunakan fasilitas EDC (Electronic Data Change).

7. Pengembangan produk dan komersialisasi

Untuk mengurangi waktu masuknya produk ke pangsa pasar, pelanggan dan supplier seharusnya dimasukkan kedalam proses pengembangan produk. Bila siklus produk termasuk singkat maka produk yang tepat harus dikembangkan dan diproduksi pada waktu singkat dan tepat agar perusahaan kuat bersaing. Manager pengembangan produk dan komersialisasi sebaiknya :

- Mengkoordinasikan dengan CRM untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang telah tertampung maupun yang belum ditampung.

- Memilih material dan supplier yang berhubungan dengan bagian procurement.

- Mengembangkan teknologi produksi dan aliran produksi untuk mengakses kemampuan produksi dan integrasi ke dalam aliran supply chain yang terbaik untuk penggabungan produk/pasar.

8. Retur

(42)

28 gagal. Selain itu, perlengkapan yang digunakan untuk scarp dan waste dari bagian produksi diukur pada waktu organisasi menerima uang cash.

Ringkasnya, tujuan atau hasil dari proses SCM ini adalah :

- Mengembangkan team yang berfokus pada pelanggan sehingga dapat memberikan persetujuan produk dan jasa yang menguntungkan kedua belah pihak pada pelanggan penting secara strategik.

- Membuat kontak hubungan yang secara efesien menangani pertanyaan-pertanyaan dari semua pelanggan.

- Secara terus menerus mengumpulkan, menyusun dan meng-update permintaan pelanggan untuk menyesuaikan demand dengan supply.

- Mengembangkan sistem produksi fleksibel yang tanggap secara tepat pada perubahan kondisi pasar.

- Mengatur hubungan supplier sehinga quick response dan perbaikan berkesinambungan dapat berjalan lancar.

- Pengiriman pesanan tepat waktu dan waktu 100%

- Minimasi waktu siklus ketersediaan retur (return to avalaible).

3.1.4 Komponen-Komponen Supply Chain Management

Komponen-komponen manajemen bersifat kritis dan fundamental bagi keberhasilan Supply Chain Management karena dibutuhkan untuk menunjukkan dan menentukan bagaimana setiap jaringan proses disatukan dan disusun. Tingkat integrasi dan manajemen sebuah jaringan proses bisnis merupakan fungsi dari angka dan tingkat yang disusun dari rendah sampai yang tinggi dari komponen manajemen yang ditambahkan ke jaringan. Penambahan komponen-komponen atau peningkatan tingkat tiap komponen-komponen dapat meningkatkan tingkat integrasi dari jaringan proses bisnis.

Rekayasa ulang proses bisnis dan hubungan buyer-supplier menganjurkan diperbanyak kemungkinan komponen yang harus menerima perhatian manajerial ketika mengatur hubungan Supply Chain. Tiap komponen dapat memiliki beberapa subkomponen dimana kepentingannya dapat berubah-ubah sesuai dengan proses yang sedang disusun, tetapi komponen-komponen utamanya

(43)

29 1) Metode perencanaan dan pengendalian

2) Struktur aliran kerja/aktivitas kerja 3) Struktur organisasi

4) Struktur fasilitas aliran komunikasi dan informasi 5) Struktur aliran produk

6) Metode manajemen

7) Struktur wewenang (power) dan kepemimpinan (leadership) 8) Struktur risiko dan reward

9) Budaya dan sikap

Metode Perencanaan dan Pengendalian

Perencanaan dan pengendalian operasi merupakan kunci untuk menuntun organisasi atau Supply Chain ke arah yang diinginkan. Perencanaan yang meliputi

banyak aspek akan berpengaruh penting pada keberhasilan Supply Chain. Walaupun komponen-komponen yang berbeda dapat ditekankan pada waktu yang berbeda selama siklus pelaksanaan Supply Chain, tetapi dengan adanya perencanaan, pelaksanaannya akan melebihi tahap-tahap tersebut. Aspek pengendalian sendiri berfungsi sebagai kinerja pengukuran terbaik untuk mengukur keberhasilan Supply Chain.

Struktur Aliran kerja/Aktivitas Kerja

Struktur aliran kerja/aktivitas kerja menunjukkan bagaimana perusahaan menyampaikan tugas-tugas dan aktivitas-aktivitasnya. Tingkat integrasi proses-proses yang melalui Supply Chain merupakan pengukuran struktur organisasi.

Struktur Organisasi

Struktur organisasi dapat berdasarkan perusahaan individu dan Supply Chain. Kegunaan dari tim cross-functional menyarankan suatu pendekatan proses. Bila tim ini melewati perbatasan organisasi, misalnya personil supplier dalam pabrik, Supply Chain tersebut seharusnya menjadi lebih bersatu.

Struktur Fasilitas Aliran Komunikasi dan Informasi

(44)

30  Struktur Fasilitas Aliran Produk

Struktur fasilitas aliran produk berhubungan dengan jaringan struktur sourcing, produksi dan distribusi Supply Chain. Dengan pengurangan persediaan, lebih sedikit gudang yang dibutuhkan. Persediaan memang diperlukan dalam sistem, tetapi penyimpanan sejumlah persediaan pada bagian tertentu kadang-kadang bisa tidak proporsional. Bila persediaan barang belum jadi atau barang setengah jadi lebih murah daripada persediaan barang jadi, anggota-anggota upstream akan lebih banyak terbebani. Rasionalnya jaringan Supply Chain telah melibatkan seluruh anggota.

Pokok persoalan struktur produk termasuk bagaimana mengkoordinasi perkembangan produk baru, yaitu melalui Supply Chain dan portfolio produk. Kekurangan koordinasi dalam perkembangan produk baru dapat mengakibatkan

ketidakefesienan dalam produksi, tetapi juga berisiko atas pemberian informasi yang tidak tepat. Kerumitan produk akan mempengaruhi jumlah supplier atas komponen-komponen yang berbeda dan tantangan dari penyatuan Supply Chain.

Metode Manajemen

Metode manajemen meliputi filosogi perusahaan dan teknik manajemen. Sulit untuk menyatukan struktur organisasi top-down dengan struktur bottom-up. Tingkat keterlibatan manajemen dalam operasi sehari-hari dapat berbeda antar anggota Supply Chain.

Struktur Wewenang dan Kepemimpinan

Struktur wewenang dan kepemimpinan melalui Supply Chain akan

mempengaruhi formatnya. Satu pemimpin yang kuat akan mengendalikan arah Supply Chain. Selama ini oleh ada satu atau dua pemimpin yang kuat di antara perusahaan-perusahaan karena latihan atau kekurangan tenaga akan mempengaruhi tingkat komitmen dari anggota-anggota Supply Chain lainnya.

Sharing Risiko dan Reward

(45)

31  Budaya dan Sikap

Menghubungkan budaya dan sikap-sikap individu memerlukan waktu, tetapi diperlukan beberapa tingkat Supply Chain sebagai jaringan yang terkoordinasi. Aspek-aspek budaya meliputi bagaimana pegawai dihargai dan digabungkan ke dalam manajemen dari perusahaan tersebut.

Rancangan Supply Chain (Supply Chain Design)

Manajemen suatu perusahaan seharusnya terlibat dalam proses rancangan Supply Chain saat sedang memperkenalkan produk baru atau ketika keberadaan Supply Chain mengecewakan. Proses rancangan Supply Chain menurut Tunggal (2008) :

1. Membuat tujuan Supply Chain 2. Merumuskan strategi Supply Chain

3. Menentukan alternatif struktur Supply Chain 4. Mengevaluasi alternatif struktur Supply Chain 5. Memilih struktur Supply Chain

6. Menentukan alternatif untuk anggota-anggota individu Supply Chain 7. Mengevaluasi dan memilih anggota-anggota individu Supply Chain 8. Mengukur dan mengevaluasi hasil Supply Chain

9. Mengevaluasi alternatif Supply Chain bila kinerja tujuan tidak tercapai atau terdapat pilihan-pilihan baru yang lebih menarik.

Perspektif Pengusaha

Pengusaha memiliki kekuatan pasar bila pelanggan membeli produknya. Pada kasus ini, retail dan pedagang grosir akan merasa khawatir terhadap pasar, bisa jadi karena keberadaan pengusaha baru dan produk-produk baru yang akan turut bersaing menarik pelanggan juga. Dengan meningkatnya penggabungan pengusaha, pedagang grosir, dan retail baik nasional maupun global akan menghasilkan kekuatan pada retail bila mereka telah mengakses sejumlah besar konsumen. Penggabungan pengusaha menghasilkan pengurangan sekumpulan supplier global yang memproduksi barang-barang ke para konsumen.

Pengusaha kecil kurang dikenal akan menemukan kesulitan menarik anggota Supply Chain baik untuk keberadaannya di pasaran maupun penawaran

Gambar

Tabel 2. Studi Terdahulu yang Berkaitan dengan Penelitian
Gambar 1. Flowchart Proses Rekayasa Ulang Supply Chain Management
Gambar 2. Implementasi Supply Chain Management
Gambar 3. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pelaku-pelaku yang terlibat dalam pemasaran beras adalah petani padi yang menjual seluruh hasil panennya ke penggilingan padi, penggilingan padi yang menjual beras ke

Di dalam tulisan ini disajikan pokok-pokok bahasan yang meliputi pengertian supply chain management (SCM), pengukuran kinerja SCM, pengertian bisnis online

Berdasarkan..penelitian..yang telah dilakukan pada Toko Grosir Amelia,..maka..dapat.disimpulkan beberapa hal bahwa sistem yang telah dibuat dengan penerapan supply

Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Komoditas Cabai Merah Besar Di Kabupaten Jember.. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen

Hasil penelitian rantai pasok berjaring (network supply chain) dan pengendalian persediaan beras organik ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi rantai pasok

KESIMPULAN REKOMENDASI DAN PEMBATASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka supply chain management sektor pertanian dalam membangun ketahanan pangan Kabupaten Sumedang

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, supply chain management tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja bisnis; Kedua, total quality management berpengaruh

xvi Analisis Pengukuran Kinerja Supply Chain Management Komoditas Telur Ayam Ras di Jogja Telor Komaruzaman 13660010 Program Studi Teknik Industri Fakultas Sains dan Teknologi UIN