• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAR JAWABAN REKONSILIASI BANK

Dalam dokumen Modul Lab Auditing (Halaman 37-45)

Keterangan 31 Mei 2010 Saldo Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 30 Juni 2010 Saldo Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000 b. Out Standing Check (Mei) Rp (172.400.000) Rp (172.400.000)

Out Standing Check (Juni) Rp 161.200.000 Rp(161.200.000) c. Kredit Memo (Mei) Rp (6.000.000) Rp 6.000.000

Kredit Memo (Juni) Rp (8.000.000) Rp (8.000.000) d. Debit Memo (Mei) Rp 1.200.000 Rp 1.200.000

Debit Memo (Juni) Rp (1.600.000) Rp 1.600.000 e. Cek Kosong (Mei) Rp 12.000.000 Rp 12.000.000

Cek Kosong (Juni) Rp 14.000.000 Rp 14.000.000 f. Koreksi Kesalahan Rp 900.000 Rp 900.000 Saldo per-book PT. S I Rp 376.800.000 Rp 1.480.700.000 Rp 1.243.500.000 Rp 614.000.000 Jurnal Penyesuaian Kas Rp 8.000.000 Pendapatan Giro Rp 8.000.000 Biaya Bank Rp 1.600.000 Kas Rp 1.600.000 Piutang Rp 14.000.000 Kas Rp 14.000.000 Piutang/Penjualan Rp 900.000 Kas Rp 900.000 Atau Biaya Bank Rp 1.600.000 Piutang Rp 14.900.000 Pendapatan Giro Rp 8.000.000 Kas Rp 8.500.000

Langkah – langkah:

1. Langkah pertama untuk mengerjakan rekonsiliasi ini adalah membuat table dengan lima

kolom. Untuk kolom pertama digunakan untuk kolom Keterangan, kolom yang kedua digunakan untuk mengisikan Saldo per 31 Mei 2010, kolom yang ketiga digunakan untuk mengisikan transaksi Penerimaan selama bulan Juni 2010, kolom yang keempat

digunakan untuk mengisikan transaksi Pengeluaran selama bulan Juni 2010 dan kolom yang terahkir digunakan untuk mengisikan Saldo per 30 Juni 2010.

2. Langkah yang kedua adalah mengisikan laporan saldo yang berasal dari catatan bank. Berikan judul “Saldo Bank” di kolom Keterangan, untuk kolom saldo per 31 Mei 2010 di isi sebesar Rp 381.100.000, untuk kolom penerimaan selama Juni 2010 diisi sebesar Rp 1.408.700.000, untuk kolom pengeluaran selama bulan Juni 2010 diisi sebesar Rp 1.243.100.000, dan kolom saldo per 30 Juni 2010 diisi sebesar Rp 546.700.000. Saldo per 30 Juni 2010 diperoleh dari perhitungan, sbb :

Saldo 31 Mei 2010 Rp 381.100.000 Penerimaan selama bulan Juni Rp 1.408.700.000 Rp 1.789.800.000 Pengeluaran selama bulan Juni Rp (1.243.100.000) Saldo 30 Juni 2010 Rp 546.700.000

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan Saldo 31 Mei 2010 Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 Saldo 30 Juni 2010 Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000

3. Langkah yang ketiga adalah mencatat dari perbandingan laporan bank dan catatan perusahaan. Yang dijelaskan pada langkah keempat dan seterusnya. Dalam hal ini kita menggunakan asumsi perusahaan selalu benar, jadi dari laporan bank harus menyesuaikan dengan catatan perusahaan.

4. Langkah yang keempat adalah mengerjakan Deposit in Transit.

Deposit in Transit merupakan uang perusahaan yang disetorkan ke pihak Bank namun masih dalam perjalanan belum diterima dan belum dicatat oleh bank. Deposit in Transit ini merupakan penerimaan bagi perusahaan karena menambah saldo kas perusahaan yang ada di bank.

Kasus Deposit in Transit untuk bulan maret ini yaitu perusahaan menyetor uang ke bank pada tanggal 31 Mei 2010 dan sudah dicatat oleh pihak perusahaan sebagai setoran, namun karena sesuatu hal setoran tersebut baru sampai di bank setelah bank tutup. Bank baru mencatat adanya setoran dari perusahaan pada tanggal 1 Juni 2010, karena pada rekonsiliasi mengacu pada teori perusahaan selalu benar maka bank mengikuti catatan perusahaan yaitu dengan mencatat adanya setoran di bulan Mei sehingga menambah saldo 31 Mei 2010 sebesar Rp 160.000.000. Karena bank mengikuti catatan perusahaan maka penerimaan Juni 2010 harus dikurangi sebesar Rp (160.000.000).

Deposit in transit untuk bulan Juni 2010 secara langsung dicatat oleh pihak bank sehingga menambah penerimaan di bulan Juni 2010 sebesar Rp 220.000.000.sehingga saldo per 30 Juni 2010 bertambah sebesar Rp 220.000.000.

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan 31 Mei 2010 Saldo Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 30 Juni 2010 Saldo Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000

5. Langkah yang kelima adalah mengerjakan Out Standing Cek.

Out Standing Cek adalah cek yang beredar, maksudnya adalah perusahaan telah menyetujui untuk mengeluarkan sejumlah cek akan tetapi oleh si penerima cek, cek tersebut belum dicairkan.

• Kasus Out Standing Cek pada bulan Mei ini yaitu perusahan telah mengeluarkan sebuah cek dengan nominal Rp 172.400.000 dan telah dicatat sebagai pengeluaran perusahaan di bulan Mei. Namun cek tersebut baru dicairkan oleh si penerima cek pada bulan Juni 2010 dan Bank mencatat adanya pengeluaran baru di bulan Juni. Mengingat teori Rekonsiliasi bahwa catatan perusahaan selalu benar maka Bank mengikuti catatan perusahaan dengan mengurangi saldo per 31 Mei sebesar Rp (172.400.000). Karena telah dicatat pada saldo per 31 Mei 2010 maka pengeluaran bulan Juni 2008 harus dikurangi sebesar Rp (172.400.000). Untuk menandakan bahwa pengeluaran berkurang maka nominal Out Standing Cek pada kolom pengeluaran Juni 2010 diberi tanda kurung / negatif.

Kasus Out Standing cek di bulan Juni, karena pengeluaran dan pencairan cek terjadi di bulan yang sama maka langsung dicatat menambah pengeluaran bulan Juni 2010 sebesar Rp 161.200.000 dan mengurangi saldo per 30 Juni 2010 sebesar Rp (161.200.000).

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan Saldo 31 Mei 2010 Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 Saldo 30 Juni 2010 Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000 b. Out Standing Check (Mei) Rp (172.400.000) Rp (172.400.000)

Out Standing Check (Juni) Rp 161.200.000 Rp(161.200.000)

6. Kredit Memo merupakan penerimaan bagi perusahaan contohnya adalah pendapatan bunga.

Kasus kredit memo pada bulan Mei 2010 adalah perusahaan mendapatkan pendapatan

bunga dari bank dan dicatat oleh bank sebagai pendapatan bunga untuk perusahaan di bulan Mei 2010. Namun perusahaan baru mengetahui jika dirinya mendapatkan pendapatan bunga di bulan Juni 2010 dan sekaligus mencatatnya. Sehingga bank harus menyesuaikan dengan catatan perusahaan dengan mengurangi saldo per 31 Mei 2010 sebesar Rp (6.000.000) dari pendapatan bunga dan mencatat sebagai penerimaan dari pendapatan bunga di bulan Juni 2010 sebesar Rp 6.000.000.

• Kasus Kredit Memo di bulan Juni yaitu perusahaan mendapatkan pendapatan bunga untuk bulan Juni dari Bank. Namun perusahaan baru mengetahuinya dibulan Juli 2010, karena rekonsiliasi ini hanya mencatat kejadian yang terjadi di bulan Mei dan Juni 2010 saja maka bank mencatat sesuai dengan catatan perusahaan dengan mengurangi penerimaan di bulan Juni sebesar Rp (8.000.000) dan berpengaruh terhadap jumlah saldo yang juga berkurang sebesar Rp (8.000.000).

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan 31 Mei 2010 Saldo Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 30 Juni 2010 Saldo Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000 b. Out Standing Check (Mei) Rp (172.400.000) Rp (172.400.000)

Out Standing Check (Juni) Rp 161.200.000 Rp(161.200.000) c. Kredit Memo (Mei) Rp (6.000.000) Rp 6.000.000

Kredit Memo (Juni) Rp (8.000.000) Rp (8.000.000)

7. Debit memo merupakan pengeluaran bagi pihak perusahaan, contohnya adalah biaya administrasi.

Kasus debit memo untuk bulan Mei 2010 yaitu perusahaan memperoleh tagihan biaya

administrasi sebesar Rp 1.200.000atas uang yang ada di Bank pada bulan Mei 2010 dan sudah dicatat oleh bank. Namun perusahaan baru mengetahui adanya tagihan biaya administrasi dan mencatatnya di bulan Juni 2010. Sehingga bank harus menyesuaikan catatan perusahaan dengan menambahkan kembali saldo 31 Mei 2010 sebesar Rp 1.200.000 dan mencatat adanya biaya administrasi pada pengeluaran di bulan Juni 2010 sebesar Rp 1.200.000.

• Kasus Debit Memo di bulan Juni 2010 yaitu perusahaan mendapatkan tagihan biaya

administrasi untuk bulan Juni dari Bank. Namun perusahaan baru mengetahuinya dibulan Juli 2010, karena rekonsiliasi ini hanya mencatat kejadian yang terjadi di bulan Mei dan Juni 2010 saja maka bank mencatat sesuai dengan catatan perusahaan yaitu dengan mengurangi pengeluaran di bulan Juni sebesar Rp (1.600.000) dan berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah saldo 30April 2007 sebesar Rp 1.600.000.

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan 31 Mei 2008 Saldo Penerimaan Juni 2008 Pengeluaran Juni 2008 30 Juni 2008 Saldo Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000 b. Out Standing Check (Mei) Rp (172.400.000) Rp (172.400.000)

Out Standing Check (Juni) Rp 161.200.000 Rp(161.200.000) c. Kredit Memo (Mei) Rp (6.000.000) Rp 6.000.000

Kredit Memo (Juni) Rp (8.000.000) Rp (8.000.000) d. Debit Memo (Mei) Rp 1.200.000 Rp 1.200.000

Debit Memo (Juni) Rp (1.600.000) Rp 1.600.000

8. Cek kosong adalah sebuah cek yang ketika dicairkan oleh si penerima cek, cek tersebut tidak memiliki dana yang sesuai dengan nominal cek atau malah tidak mempunyai dana sama sekali di bank tersebut.

• Untuk kasus cek kosong bulan Mei 2010 yaitu perusahaan mendapatkan cek pada bulan

Mei 2010 dan sudah dicatat sebagai pendapatan di bulan Mei 2010. Namun setelah dikonfirmasi ke pihak bank pada bulan Juni 2010 cek tersebut kosong. Bank mencatat sesuai dengan catatan dari perusahaan yaitu dengan menambah saldo 31 Mei 2010 sebesar Rp 12.000.000, karena cek tersebut kosong maka harus dinolkan dengan cara menambah pengeluaran di bulan Juni 2010 sebesar Rp 12.000.000.

Untuk kasus Cek Kosong di bulan Juni 2010 sama seperti yang terjadi di bulan Mei

2010, cek tersebut baru dikonfirmasi di bulan Juli 2010 sedangkan catatan rekonsiliasi ini hanya mencatat kejadian yang terjadi di bulan Mei dan Juni 2010 saja. Sehingga bank mencatat sesuai dengan catatan dari perusahaan yaitu menambah penerimaan di bulan Juni 2010 sebesar Rp 14.000.000 dan berpengaruh terhadap bertambahnya saldo 30 Juni 2010 sebesar Rp 14.000.000.

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan 31 Mei 2010 Saldo Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 30 Juni 2010 Saldo Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000 b. Out Standing Check (Mei) Rp (172.400.000) Rp (172.400.000)

Out Standing Check (Juni) Rp 161.200.000 Rp(161.200.000) c. Kredit Memo (Mei) Rp (6.000.000) Rp 6.000.000

Kredit Memo (Juni) Rp (8.000.000) Rp (8.000.000) d. Debit Memo (Mei) Rp 1.200.000 Rp 1.200.000

Debit Memo (Juni) Rp (1.600.000) Rp 1.600.000 e. Cek Kosong (Mei) Rp 12.000.000 Rp 12.000.000

Cek Kosong (Juni) Rp 14.000.000 Rp 14.000.000

9. Koreksi kesalahan yang terjadi pada kasus rekonsiliasi ini yaitu over statement dimana perusahaan mencatat melebihi nominal yang sesungguhnya sebesar Rp 900.000. Pencatatan yang dilakukan oleh pihak bank harus mengikuti catatan perusahaan dengan menambah saldo bulan Mei 2010 sebesar Rp 900.000 dan berpengaruh langsung terhadap saldo bulan Juni 2010 bertambah sebesar Rp 900.000.

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan 31 Mei 2010 Saldo Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 30 Juni 2010 Saldo Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000 b. Out Standing Check (Mei) Rp (172.400.000) Rp (172.400.000)

Out Standing Check (Juni) Rp 161.200.000 Rp(161.200.000) c. Kredit Memo (Mei) Rp (6.000.000) Rp 6.000.000

Kredit Memo (Juni) Rp (8.000.000) Rp (8.000.000) d. Debit Memo (Mei) Rp 1.200.000 Rp 1.200.000

Debit Memo (Juni) Rp (1.600.000) Rp 1.600.000 e. Cek Kosong (Mei) Rp 12.000.000 Rp 12.000.000

10. Dari keterangan diatas didapatkan jumlah Saldo perbook PT. Putra Bagaskara Indonesia yang terdiri dari Saldo per 31 Mei 2008, Penerimaan selama bulan juni 2008, Pengeluaran selama bulan juni 2008 dan Saldo per 30 juni 2008.

Dari keterangan tersebut, diisikan pada masing-masing kolom sbb:

Keterangan 31 Mei 2010 Saldo Penerimaan Juni 2010 Pengeluaran Juni 2010 30 Juni 2010 Saldo Saldo Bank Rp 381.100.000 Rp 1.408.700.000 Rp 1.243.100.000 Rp 546.700.000 a. Deposit In Transit (Mei) Rp 160.000.000 Rp (160.000.000)

Deposit In Transit (Juni) Rp 220.000.000 Rp 220.000.000 b. Out Standing Check (Mei) Rp (172.400.000) Rp (172.400.000)

Out Standing Check (Juni) Rp 161.200.000 Rp(161.200.000) c. Kredit Memo (Mei) Rp (6.000.000) Rp 6.000.000

Kredit Memo (Juni) Rp (8.000.000) Rp (8.000.000) d. Debit Memo (Mei) Rp 1.200.000 Rp 1.200.000

Debit Memo (Juni) Rp (1.600.000) Rp 1.600.000 e. Cek Kosong (Mei) Rp 12.000.000 Rp 12.000.000

Cek Kosong (Juni) Rp 14.000.000 Rp 14.000.000 f. Koreksi Kesalahan Rp 900.000 Rp 900.000 Saldo per-book PT. P B I Rp 376.800.000 Rp 1.480.700.000 Rp 1.243.500.000 Rp 614.000.000

Maka dari perolehan tersebut didapatkan hasil yang sama dengan catatan perusahaan sbb:

Saldo 31 Mei 2010 Rp 376.800.000 Penerimaan selama bulan Juni Rp 1.480.700.000 Rp 1.857.500.000 Pengeluaran selama bulan Juni Rp 1.243.500.000 Saldo 30 Juni 2010 Rp 614.000.000

I. PENGERTIAN PIUTANG

Standar Akuntansi Keuangan menggolongkan piutang menurut sumber terjadinya dalam 2 kategori yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain

 Piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit

 Piutang lain-lain adalah piutang yang timbul dari transaksi diluar kegiatan usaha normal perusahaan.

Piutang dinyatakan sejumlah tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan pada neraca didikuti dengan penyisihan untuk piutang yang tidak dapat ditagih.

Jenis-jenis piutang dalam suatu perusahaan dapat berupa :

• Piutang Usaha

• Piutang Pegawai

• Piutang Direksi

• Piutang Pemegang Saham

• Piutang Perusahaan Afiliasi

• Piutang lain-lain

II. TUJUAN PEMERIKSAAN (AUDIT OBJECTIVES) PIUTANG

1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control) yang

baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas

2. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (keotentikan) daripada

piutang.

3. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan cukup

tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih)

4. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip

akuntansi yang berlaku umum di Indonesia

III.MEMBUAT KKP PIUTANG

Dalam membuat KKP dalam pemeriksaan piutang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jenis pemeriksaan kas dan pemeriksaan lainnya. Untuk format Top Schedule dan test transaksi tidak ada perubahan namun dalam Supporting Schedule akan kita buat sebagai Analisis Umur Piutang yang berfungsi untuk menjelaskan angka yang ada dalam adjusted balance juga untuk melihat jumlah piutang, mengetahui periode jatuh tempo hutang dan

Format Supporting Schedule Piutang :

PT. LABAMEN

ANALISIS UMUR PIUTANG No PelangganNama Konf. JumlahRp MenunggakBelum

Rp

31-60 hari

Rp 61-90 hariRp 91-120 hariRp >120 hariRp

Dibuat oleh :

Tanggal : Direview oleh:Tanggal : Client :Tanggal : Periode :Index :

PT. LABAMEN INDONESIA

Dalam dokumen Modul Lab Auditing (Halaman 37-45)

Dokumen terkait