R 2.2Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum
MATERI PELATIHAN : 3 PERANCANGAN PEMBELAJARAN DAN PENILAIANPERANCANGAN PEMBELAJARAN DAN
B. LEMBAR KERJA PERANCANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kompetensi Dasar : 1.3 Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
2.1 Meniru perilaku jujur, disiplin bertanggung jawab, peduli, santun dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa hindu Buddha dan Islam dalam kehidupannya sekarang
3.1 Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam lingkup regional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik)
4.3 Mengobservasi dan menyajikan bentuk- bentuk dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat sekitar
Topik /Tema : Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia Sub Topik/Tema : Konektivitas antar ruang dan waktu
Tujuan
Pembelajaran : 1. Mendeskripsikan keterkaitan antar aspek ruang dan aspek waktu dalam kehidupan sosial, budaya dan ekonomi 2. Menganalisa aspek keruangan hubungannya dengan waktu dan keberlanjutan
manusia
3. Melalui penugasan, siswa dapat menyajikan data hasil pengamatan tentang keterkaitan antar ruang dan waktu
Alokasi Waktu : 1x pertemuan ( 3 JP)
Tahapan Pembelajaran Kegiatan
Mengamati Amati gambar berikut, kemudian baca wacana yang ada, untuk bahan diskusi dengan teman yang ada di kelompokmu,
Mengumpulkan Informasi
Gunakan buku/sumber lain yang dapat membantumu menjawab pertanyaan berikut:
Jelaskan makna judul dari informasi di atas : PASCA BANJIR WASPADAI EROSI” Mengapa badai Christ yang terjadi di Australia dapat berdampak bagi
Indonesia? Gunakan Atlas Dunia untuk membantumu menjawab permasalahan yang ada!
Renungkan sebentar tentang aktivitasmu dalam kehidupan sehari-hari. Adakah kegiatanmu itu dapat berakibat terhadap perubahan cuaca?
Identifikasi kegiatan semua aktivitas kelompokmu itu yang dapat mengakibatkan perubahan cuaca
Apa yang dapat kamu lakukan sebagai upaya penyelamatan bumi kita, khususnya yang berhubungan dengan iklim dan cuaca
Menurut prediksi kamu, perlukah orang di Indonesia mengubah desain rumah sehingga aman untuk ditempati di segala musim?
Jelaskan tentang makna dua kalimat terakhir dan bagaimana mengatasi masalah yang ada
Mengasosiasikan Susun semua informasi di kegiatan no 3 di atas menjadi laporan secara tertulis Tuliskan sumber lain (judul, pengarang, penerbit) yang kamu jadikan rujukan
dalam mengumpulkan informasi
Tambahkan gambar, ilustrasi/sketsa yang dapat memperjelas jawabanmu Mengkomunikasikan Lakukan pemajangan hasil diskusi kelompok
Presentasikan di depan kelas secara bergiliran
HANDOUT
Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan ilmiah atau scientific approach pada proses pembelajaran.Pendekatan scientific termasuk pembelajaran inkuiri yang bernafaskan konstruktivisme. Sasaran pembelajaran dengan pendekatan ilmiah mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses) psikologis yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Sementara itu, keterampilan diperoleh melalui aktivitas: mengamati menanya, menalar, menyaji, dan mencipta (Permendikbud nomor 65 tahun 2013).
Menurut McCollum (2009) dijelaskan bahwa komponen-komponen penting dalam mengajar menggunakan pendekatan saintifik diantaranya adalah guru harus menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa keingintahuan (Foster a sense of wonder), meningkatkan keterampilan mengamati (Encourage observation), melakukan analisis ( Push for analysis) dan berkomunikasi (Require communication). Untuk mempelajari bagaimana pembelajaran IPS berbasis pendekatan saintifik, berikut ini diuraikan dengan singkat konsep pembelajaran IPS dan pendekatan scientific dan implementasi pendekatan scientific pada pembelajaran IPS.
Pada Permendikbud no 81A Tahun 2013, proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan. Jika dihubungkan dengan komponen pada pendekatan sintifik diatas maka ke lima pengalaman belajar ini merupakan penerapan pendekatan saintik pada pembelajaran. A. Pendekatan Saintfik pada Pembelajaran IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial.
IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Disamping itu, tujuan pendidikan IPS menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya, semangat kebangsaan, patriotisme, serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah NKRI. IPA juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya, serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara.
Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Uraian mengenai aktivitas siswa dalam mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasikan telah dibahas pada materi pelatihan 1, untuk menambah pengetahuan tentang penerapannya pada pembelajaran IPS khususnya IPS ada beberapa hal yang spesifik untuk dipelajari.
pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa keingintahuan (Foster a sense of wonder), meningkatkan keterampilan mengamati (Encourage observation), melakukan analisis (Push for analysis) dan berkomunikasi (Require communication). Meningkatkan rasa keingintahuan. Semua pengetahuan dan pemahaman dimulai dari rasa ingin tahu dari peserta didik tentang ’siapa, apa, dan dimana‘ atau “who, what dan where” dari apa yang ada di sekitar peserta didik. Pada kurikulum 2013, peserta didik dilatih rasa keingintahuannya sampai ’mengapa dan bagaimana’atau “why”and “how”.
Pada pembelajaran rasa keingintahuan ini dapat difasilitasi dalam kegiatan tanya jawab baik mulai dari kegiatan pendahuluan kegiatan inti dan penutup. Selain tanya jawab, dapat juga dengan melalui memberikan suatu masalah, fakta-fakta atau kejadian alam yang ada di sekitar peserta didik.
1. Mengamati
Pembiasaan kegiatan mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik dapat menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang disajikan oleh guru (Sudarwan, 2013). Menurut Nuryani, 1995 mengamati merupakan kegiatan mengidentifikasi ciri-ciri objek tertentu dengan alat inderanya secara teliti, menggunakan fakta yang relevan dan memadai dari hasil pengamatan, menggunakan alat atau bahan sebagai alat untuk mengamati objek dalam rangka pengumpulan data atau informasi. Pengamatan yang dilakukan hanya menggunakan indera disebut pengamatan kualitatif, sedangkan pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur disebut pengamatan kuantitatif. Untuk meningkatkan keterampilan mengamati, maka didalam pembelajaran sebaiknya dimunculkan kegiatan yang memungkinkan siswa mengunakan berbagai panca indranya untuk mencatat hasil pengamatan.
2. Menganalisis
Wonder grows with understanding and understanding come of analysis. ( Mc. Collum,2009). Analisis dapat berupa analisis kuantitatif dan kualitatif. Peserta didik perlu dilatih dan dibiasakan melakukan analisas data yang sesuai dengan tingkat kemampuannya. Misalnya data pengamatan yang diperoleh sendiri. Berikan kesempatan kepada peserta untuk meninjau kembali hasil pengamatan dan mereka dilatih membuat pola-pola atau grafik dari data yang diperolehnya. Latih peserta untuk melakukan klasifikasi, menghubungkan dan menghitung.
3. Mengkomunikasikan
Pada pendekatan scientific guru diharapkan memberi kesempatan untuk mengkomunikasikan yang peserta didik telah pelajari.