• Tidak ada hasil yang ditemukan

KABUPATEN SERANG PROVINSI BANTEN

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Analisis Pengembangan Perikanan Gillnet di Perairan Pantai Karangantu, Kabupaten Serang - Provinsi Banten.

Nama Mahasiswa : Mohamad Nomor Pokok : C551040274 Program Studi : Teknologi Kelautan

Disetujui, Komisi Pembimbing :

Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M. Sc. Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja Ketua Anggota

Diketahui,

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana, Teknologi Kelautan,

Prof. Dr. Ir. John Haluan, M. Sc. Prof. Dr. Ir. Khairil A, Notodiputro, MS .

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga usulan rencana penelitian ini dapat diseleseikan dengan baik dan tepat waktu.

Laporan hasil penelitian (tesis) ini merupakan tugas yang disyaratkan untuk mendapatkan gelar Magister Sains (M.Si) yang berjudul “Analisis Pengembangan Perikanan Gillnet di Perairan Karangantu, Kabupaten Serang - Provinsi Banten”. Penulis mengucapkan terima kasih kepada komisi pembimbing yaitu Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, MSc. (ketua) dan Prof. Dr. Ir. Daniel R. Monintja (anggota). Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. John Haluan MSc. selaku Ketua Program Studi, Dr. Sulaeman Martasuganda, MSc. Selaku dosen penguji, dosen-dosen dan rekan-rekan mahasiswa Program Studi Teknologi Kelautan (TKL) SPs IPB serta semua pihak atas bantuan moril dan materil sehingga tesis ini dapat dirampungkan.

Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan dan penyempurnaan tesis ini selanjutnya. Semoga bermanfaat dan berhasil. Terima kasih.

Bogor, September 2006

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman LEMBAR PENGESAHAN... i PRAKATA... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR LAMPIRAN... vi 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Perumusan Masala h... 3 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 4 1.4 Ruang Lingkup Penelitian... 4 1.5 Kerangka Pemikiran ... 5 1.6 Hipotesis ... 5

2 TINJAUAN PUSTAKA... 6 2.1 Kondisi Perairan dan Perikanan di Tempat Penelitian... 6 2.2 Potensi Sumberdaya Perikanan (SdP) dan Tingkat Pemanfaatan... 6 2.3 Daerah Penangkapan Ikan (DPI)... 7 2.4 Intensitas dan Musim Penangkapan Ikan... 8 2.5 Perikanan Gillnet... 8 2.5.1 Kapal perikanan... 9 2.5.2 Nelayan... 9 2.5.3 Alat tangkap dan selektivitas gillnet ... 10 2.6 Fungsi Produksi Cobb-Douglas... 13 2.7 Penanganan dan Pengolahan... 16 2.8 Pemasaran... 17 2.9 Ekonomi dan Finansial... 17 2.10 Komponen Penunjang Perikanan Gillnet... 18 2.11 Pengembangan Perikanan Gillnet ... 18 2.12 Metode SWOT (Strengths Weaknesses Opportunities Threats)... 19 2.13 Analytical Hierachy Process (AHP)...23 3 METODOLOGI... 25 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian... 25 3.2 Metode Penelitian... 25 3.3 Jenis dan Sumber Data... 25 3.4 Metode Analisis Data... 26 3.4.1 Analisis perikanan gillnet ... 27 3.4.2 Analisis fungsi produksi Cobb-Douglas... 27 3.4.3 Analisis produktivitas gillnet...30 3.4.4 Analisis penanganan dan pengolahan...30

Halaman 3.4.5 Analisis pemasaran... 30 3.4.6 Analisis ekonomi dan finansial... 30 3.4.7 Analisis komponen penunjang perikanan gillnet... 31 3.4.8 Analisis kebijakan dan kelembagaan (pengembangan)... 31

4 HASIL DAN PEMBAHASAN... 33 4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian... 33 4.1.1 Kondisi geofisik, wilayah dan kependudukan... 33 4.1.2 Kondisi dan potensi ekonomi... 33 4.1.3 Kondisi sarana dan prasarana... ... 34 4.2 Keadaan Umum Perairan dan Perikanan Tangkap Daerah Penelitian... 35 4.3 Potensi Sumberdaya Perikanan (SdP) dan Tingkat Pemanfaatan... 36 4.4 Daerah Penangkapan Ikan (DPI)... 37 4.5 Intensitas dan Musim Penangkapan... 38 4.6 Perikanan Gillnet... 38 4.6.1 Kapal/perahu perikanan... 38 4.6.2 Alat tangkap gillnet... 39 4.6.3 Nelayan... 45 4.6.4 Volume dan nilai produksi hasil tangkapan... 46 4.7 Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas... 47 4.8 Analisis Perikanan Gillnet.... 48 4.9 Analisis Produktivitas gillnet... 55 4.10 Analisis Penanganan dan Pengolahan... 57 4.11 Analisis Ekonomi dan Finansial... 58 4.12 Analisis Pemasaran... 61 4.12.1 Langgan dan sistem bagi hasil... 63 4.12.2 Bakul dan pemasaran hasil tangkapan... 63 4.13 Analisis Komponen Penunjang Perikanan Gillnet... 64 4.13.1 Tempat pelelangan ikan (TPI)... 64 4.13.2 Perusahaan perikanan... 66 4.13.3 Lembaga keuangan... 66 4.13.4 Koperasi unit desa (KUD)... 67 4.13.5 Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Serang... 67 4.13.6 Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serang... 69 4.13.7 Kebijakan perikanan tangkap Kabupaten Serang... 70 4.13.8 Masalah komponen penunjang perikanan gillnet... 71 4.14 Analisis Kebijakan dan Kelembagaan... 74 4.15 Analisis Kebijakan Pengembangan Perikanan Gillnet... 75 5 KESIMPULAN DAN SARAN... 82 5.1 Kesimpulan... 82 5.2 Saran... 84 DAFTAR PUSTAKA... 85 LAMPIRAN... 87

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 1. Diagram matriks SWOT dan kemungkinan strategi yang sesuai... 22 2. Rekapitulasi data yang dicantumkan dalam penelitian... 29

3. Jumlah armada penangkapan ikan gillnet di Perairan Karangantu Serang,

Tahun 1999-2004... 39 4. Jumlah nelayan dan alat tangkap gillnet Karangantu, Tahun1999-2004... 40 5. Jenis-jenis nama jaring gillnet (data terbanyak) yang digunakan

di Karangantu ... 41 6. Perincian jumlah nelayan di Karangantu Serang, Tahun 1999-2004... 45 7. Volume dan nilai produksi hasil tangkapan gillnet di

Karangantu, Tahun 1999-2004... 46 8. Hasil tangkapan per unit upaya penangkapan gillnet di PPP Karangantu,

Tahun 2000-2005... 54 9. Jumlah trip menurut jumlah dan jenis armada penangkapan

di PPP Karangantu, Tahun 2000-2004... 56

10.Volume produksi dan jenis olahan perikanan gillnet di Pelabuhan

Perikanan Pantai Karangantu, Tahun 2000-2004... 56 11.Jenis ikan yang dominan tertangkap dengan alat tangkap gillnet,

di Perairan Karangantu... 56 12.Daftar peraturan perikanan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah

Kabupaten Serang diera otonomi daerah... 68 13. Komponen perikanan gillnet Kabupaten Serang... 73

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman 1. Kerangka pemikiran... 5

2. Posisi perikanan gillnet pada berbagai kondisi... 20 3. Skema analisis pengembangan perikanan gillnet dengan metode AHP... 32 4. Gillnet multifillament yang digunakan di Karangantu... 44 5. Gillnet monofillament yang digunakan di Karangantu... 44 6. Perkembangan unit perikanan gillnet di Karangantu... 49 7. Kecenderungan perkembangan unit perikanan gillnet

di Karangantu dan persamaan regresinya... 49 8. Perkembangan produksi hasil tangkapan, harga dan nilai produksi

Hasil Tangkapan Perikanan Gillnet di Karangantu... 50 9. Kecenderungan perkembangan produksi hasil hangkapan,

harga dan Nilai Produksi Hasil Tangkapan Perikanan Gillnet

di Karangantu dan Persamaan Regresinya……….. 51 10. Perkembangan jumlah upaya tangkapan (effort),

produktivitas (CPUE) dan nilai produtivitas (CPUE)

perikanan gillnet Karangantu... 52 11. Kecenderungan perkembangan jumlah upaya

tangkapan (effort), produktivitas (CPUE) dan nilai produtivitas (CPUE) perikanan gillnet

di Karangantu dan persamaan regresinya………... 52 12. Hubungan antara produktivitas (CPUE) dengan upaya

tangkapannya (effort) perikanan gillnet di Karangantu... 54 13. Hubungan antara hasil tangkapan (produksi/ catch)

dengan upaya tangkapannya (effort) perikanan gillnet di Karangantu... 54 14. Skema pemasaran hasil tangkapan di Karangantu... 62 15. Diagram alir pengembangan perikanan gillnet di Perairan Karangantu... 76

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman 1. Peta daerah Kabupaten Serang, Provinsi Banten... 87 2. Peta daerah penangkapan ikan (DPI) Karangantu, Serang... 88 3. Dokumentasi kapal/perahu perikanan Karangantu... 89 4. Dokumentasi alat tangkap gillnet Karangantu... 89 5. Dokumentasi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Karangantu...90 6. Dokumentasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangantu... 90 7. Hasil pengolahan data (statistik dengan minitab)... 91 8. Perhitungan analisis ekonomi dan finansial... 93 9. Analisis pengembangan kebijakan dengan metode SWOT.... 96 10. Argumen nilai skala banding berpasangan antar saran-

saran implikasi pengembangan perikanan gillnet

di Perairan Karangantu... 97 11. Perhitungan penentuan bobot pada penilaian

perbandingan berpasangan... 99 12. Prioritas kebijakan pengembangan perikanan gillnet di Karangantu... 101

17 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia terdiri dari 17.000 pulau dengan panjang pantai sekitar 81.000 km, yang berarti Indonesia mempunyai daerah continental shelf yang luas sehingga mempunyai peluang yang besar untuk menggali dan mengembangkan sumberdaya perikanan laut terutama perikanan pantai. Besar potensi sumberdaya ikan di perairan Indonesia diperkirakan 6,4 juta ton/tahun (Dahuri, 2002).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan menyatakan bahwa dalam pengelolaan sumberdaya ikan, pemerintah menetapkan ketentuan-ketentuan mengenai jumlah dan jenis ikan yang boleh ditangkap, oleh karena itu setiap wilayah perairan yang dimanfaatkan untuk usaha penangkapan ikan perlu diketahui jumlah potensi dan tingkat pemanfaatannya, jumlah perikanan tangkapnya dan upaya-upaya penangkapannya (Dahuri, 2002).

Daerah penangkapan ikan (DPI) perikanan pantai Karangantu, Kabupaten Serang - Provinsi Banten adalah di daerah Perairan Teluk Banten. Teluk Banten terletak 90 km di sebelah barat Ibukota Jakarta dan memiliki panjang pantai sekitar 55,62 km. Kawasan pantainya meliputi di bagian barat sepanjang 16,62 km dialokasikan untuk kegiatan industri, sementara sisanya sepanjang 39 km dialokasikan untuk kegiatan perikanan (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serang, 2004). Teluk ini mempunyai ekosistem yang sangat penting yaitu hamparan padang lamun, terumbu karang serta adanya kawasan lindung untuk satwa burung di Pulau Dua. Teluk Banten dikelilingi oleh empat kecamatan yang berada di pesisir dengan batas-batasnya adalah Kecamatan Tirtayasa, sebelah barat adalah Kecamatan Bojonegara, sebelah barat daya adalah Kecamatan Kramatwatu dan sebelah selatan adala h Kecamatan Kasemen. Di Kecamatan Kasemen terdapat pelabuhan pantai bernama Pelabuhan Pantai Karangantu. Alat tangkap yang digunakan di Perairan Karangantu ini paling banyak adalah jaring insang (gillnet), payang, pancing (pancing ulur dan pancing panjang/rawai) dan bagan (tancap dan perahu). Diketahui bahwa alat tangkap gillnet adalah alat tangkap ikan yang selektif, efisien menguntungkan

dan berwawasan lingkungan (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serang, 2004).

Jaring insang (gillnet) adalah ala t tangkap ikan yang terbuat dari jaring satu lapis yang berbentuk persegi panjang, agar dapat terentang pada tepi atas lembaran jaring diberi pelampung, sedangkan ditepi bawah diberi pemberat. Ada beberapa gillnet yaitu gillnet dasar, permukaan, hanyut dan gillnet lingkar. Di Perairan Karangantu gillnet yang banyak digunakan adalah jenis gillnet dasar.

Kabupaten Serang merupakan salah satu daerah yang terletak di Provinsi Banten yang memiliki potensi perikanan cukup besar. Berdasarkan data statistik Dinas Perikanan Kabupaten Serang tahun 1999, produksi perikanan Kabupaten Serang sebesar 22.143,6 ton yang berasal dari penangkapan di laut sebesar 9.469 ton, penangkapan di perairan umum sebesar 878,0 ton dan budidaya di tambak sebesar 11.151,8 ton, kola m sebesar 433,8 ton serta sawah sebesar 210,0 ton (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serang, 2004).

Perikanan pantai di Perairan Karangantu, Kabupaten Serang umumnya tergolong nelayan kecil, menggunakan kapal/perahu perikanan kecil, berinvestasi kecil serta berpendidikan rendah dan kebanyakan menggunakan alat tangkap gillnet dan perkembangannya pada waktu yang lalu menunjukkan perkembangan yang cukup baik, selektif serta cukup menguntungkan (Dinas Perikanan dan Kalautan Kabupaten Serang, 2004).

Menurut Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serang (2004) umumnya permasalahan yang dihadapi oleh nelayan gillnet di Perairan Karangantu adalah upaya penangkapan yang besar, tetapi produksi hasil tangkapannya semakin menurun, kondisi dan jenis gillnet yang digunakan beragam serta daerah penangkapan ikan yang semakin terbatas dengan semakin bertambahnya alat tangkap yang digunakan.

Pengembangan perikanan dan kelautan saat ini menjadi andalan bagi Bangsa Indonesia untuk melakukan pemulihan ekonomi akibat krisis ekonomi sejak tahun 1997. Sesuai dengan desentralisasi sebagaimana tertuang dalam Undang- undang No. 22 tahun 1999 mengenai Otonomi Daerah. Maka pengelolaan sumberdaya perikanan dan kelautan lebih banyak didelegasikan kepada Pemerintah daerah. Hal ini tentu

saja akan memberikan peluang yang lebih besar bagi daerah untuk mengelola dan memanfaatkan potensi kelautan yang dimiliki. Namun disisi lain juga menciptakan kemungkinan eksploitasi sumberdaya hanya untuk memacu pendapatan daerah tanpa memperhatikan aspek lain. Dengan demikaian Pemerintah Daerah Serang dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang untuk memanfaatkan wilayahnya secara optimal dan berkelanjutan sehingga menjadikan daerah yang maju, makmur dan berkeadilan khususnya dibidang perikanan dan kelautannya.

Keberhasilan pengembangan perikanan tangkap tidak hanya ditentukan tiga sub-sistem utamanya, yakni : 1) Produksi, 2) Penanganan hasil dan pengolahan, serta 3) Pemasaran, tetapi juga oleh sub -sistem penunjangnya yang meliputi prasarana dan sarana, finansial (keuangan), sumberdaya manusia dan IPTEK, kebijakan serta hukum dan kelembagaan.

1.2 Perumusan Masalah

Adapun permasalahan-permasalahan yang dikemukakan disini mengacu kepada beberapa penelitian sebelumnya pada daerah Kabupaten Serang dan daerah lainnya dan juga berdasarkan kepada pengamatan awal di tempat penelitian.

Penelitian mengenai unit penangkapan gillnet dan prospek pengembangannya di Indramayu mendapatkan hasil bahwa dari 5 unit alat tangkap yang umum digunakan di daerah ini maka gillnet merupakan alat tangkap yang paling dominan digunakan dengan upaya penangkapan yang dilakukan nelayan gillnet saat ini yaitu sebesar 11.209,1 trip/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa dengan jumlah alat tangkap gillnet yang ada masih dapat melakukan operasi penangkapan ikan. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha, perikanan gillnet di Indramayu layak secara finansial untuk dikembangkan. Hal ini terlihat dari nilai NPV, net B/C dan IRR yang diperoleh semuanya memenuhi kriteria kelayakan, dengan NPV = 0, net B/C= 1 dan IRR = tingkat suku bunga (Novela, 2004).

Pada pengamatan awal permasalahan yang dihadapi nelayan gillnet di Perairan Pantai Karangantu, Kabupaten Serang-Provinsi Banten kaitannya dengan pengembangan perikanan gillnet adalah menurunnya sumberdaya perikanan akibat besarnya eksploitasi ikan di daerah ini, kondisi kapal, kinerja kru kapal, kondisi alat

tangkap gillnet (terdiri dari empat jenis gillnet: gillnet gilnet, gillnet silir, gillnet rampus dan gillnet ciker, perbedaan tersebut terletak pada mesh perimeter dan ukuran luas jaring gillnet, ukuran mesin (PK), ukuran kapal (GT), jumlah ABK nelayan, jumlah biaya operasi per trip dan konsumsi BBM) daerah operasi penangkapan ikan, menurunnya produksi hasil tangkapan dan tidak berfungsinya KUD di daerah tersebut, serta pemasaran hasil produksi yang terbatas. Belum dimanfaatkannnya fasilitas tempat pelelengan ikan dan pelabuhan perikanan dan faktor keamanan di perairan yang belum memadai serta semakin terbatasnya daerah penangkapan ikan (DPI). Di Karangantu, Kabupaten Serang digunakan 4 (empat ) jenis jaring gillnet yaitu gilnet, silir, rampus dan ciler. Perbedaan tersebut terketak pada ukuran luas dan mesh perimeter jaring, ukuran mesin dan besar kapal, jumlah konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam hal perbedaannya terletak pada jarak daerah penangkapannya, jumlah nelayan (ABK), serta biaya per operasi /trip, perbedaan tersebut dapat berpengaruh pada jumlah produksinya (Suganda, 2003).

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan :

(1) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas perikanan gillnet di Perairan Karangantu, Kabupaten Serang - Provinsi Banten.

(2) Menganalisis kinerja ekonomi perikanan gillnet di Perairan Pantai Karangantu, Kabupaten Serang – Provinsi Banten saat ini.

(3) Merumuskan alternatif kebijakan pengembangan perikanan gillnet di Perairan Pantai Karangantu, Kabupaten Serang – Provinsi Banten.

Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumber informasi dan bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kabupaten Serang dalam merencanakan dan melaksanakan pengembangan perikanan gillnet, khususnya di Perairan Pantai Karangantu.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang Lingkup dari penelitian ini meliputi analisis potensi dan produktivitas, analisis teknis, analisis ekonomi dan finansial, analisis tingkat pemanfaatan meliputi

unit penangkapan dan hasil tangkapan secara keseluruhan yang akan diterapkan dalam pengembangan perikanan gillnet di Perairan Pantai Karangantu, Kabupaten Serang – Provinsi Banten.

1.5 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini didasari pada potensi sumberdaya perikanan yang ada di perairan pantai Karangantu, Kabupaten Serang-Provinsi Banten diperlihatkan seperti pada Gambar 1, sebagai berikut :

Gambar 1. Kerangka pemikiran.

1.6 Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah : Perikanan gillnet di Perairan Pantai Karangantu, Kabupaten Serang - Provinsi Banten masih dapat dikembangkan.

Kondisi Perikanan gillnet

Faktor-faktor yang berpengaruh pada produksi perikanan gillnet Permasalahan :

• Upaya penangkapan besar, produksi menurun

• Kondisi, jenis dan ukuran Kapal dan alat tangkap gillnet serta jumlah ABK nelayan yang beragam • Daerah Penangkapan yang

semakin terbatas.

Faktor internal

Faktor eksternal

Metode SWOT dan AHP

• Unit Perikanan gillnet • Produktivitas gillnet

• Penanganan dan Pengolahan • Ekonomi dan Finansial • Pemasaran

• Kebijakan dan Kelembagaan yang ada (Pengembangan). Faktor-faktor yang paling berpengaruh

pada produksi perikanan gillnet Fungsi produksi Cobb-Douglas

Analisis

Pertimbangan Kebijakan Pengembangan Perikanan gillnet

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Perairan dan Perikanan di Tempat Penelitian

Perairan Karangantu terletak di Pantai Utara Jawa Barat, cakupan wilayah dibatasi 5?49’45” LS sampai dengan 6?02’00” LS dan 106?03’20” BT sampai dengan 106?16’00”BT. Kedalaman perairan antara 2 sampai dengan 13 meter, tetapi dibagian mulut teluk dapat mencapai 20 meter. Dasar perairan pasir berlumpur terutama dibagian dekat pantai yang landai. Di perairan ini mengalir beberapa sungai yaitu Sungai Wadas, Domas, Soge, Kemayungan, Baros, Banten dan Sungai Pelabuhan, terutama sungai pelabuhan telah lama tersumbat yang menyebabkan pendangkalan semakin tinggi di bagian muaranya. Di peraiaran juga banyak ditemukan padang lamun yang tumbuh pada perairan yang dangkal dengan dasar berpasir (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Serang, 2004).

Dalam Undang-Undang No. 31 tahun 2004 mengenai perikanan, definisi dari perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan, sedangkan yang dimaksud dengan usaha perikanan adalah semua usaha perorangan/badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan ikan, termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersial. Adapun penangkapan ikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat/cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal atau memuat, menyimpan, mendinginkan, mengolah atau mengawetkan.

2.2 Potensi Sumberdaya Perikanan (SdP) dan Tingkat Pemanfaatan

Potensi sumberdaya ikan merupakan modal dasar pembangunan dan pengembangan perikanan dan kelautan. Potensi perikanan dan kelautan di Kabupaten Serang yaitu ikan pelagis kecil dan sedang antara lain teri, lemuru, tongkol, kembung, tembang, layang, selar, pepetek dan lain- lain, dengan potensi lestari sebesar 1319 ton per tahun dan tingkat pemanfaatannya yang tinggi dan pernah mencapai 124% pada tahun 1993 termasuk upaya tangkap lebih (over fishing). Upaya penangkapan dikatakan over fishing jika upaya tangkapannya menghasilkan tangkapan ikan melebihi potensi yang diperbolehkan. Potensi yang diperbolehkan adalah 80 % dari

potensi lestari, sedangkan potensi lestari adalah 50% dari potensi biomassa ikan yang ada pada suatu perairan (Dahuri, 2002).

Potensi sumberdaya perikanan dalam suatu wilayah perairan perlu diketahui untuk optimalisasi pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya. Jika sumberdaya yang dieksploitasi melebihi dari potensi lestarinya maka dikhawatirkan akan terjadi penurunan biomassa yang dapat mengakibatkan hilangnya sumberdaya tersebut. Setiap bentuk pamanfaatan yang bersifat eksploitatif terhadap sumberdaya hayati ikan akan mempengaruhi sistem keseimbangan dari suatu ekosistem. Pemanfaatan yang hanya menekankan pada kepentingan ekonomis saja dapat menyebabkan pergeseran keseimbangan dari tipe “K” (ekosistem yang aliran energi dan siklus materinya seimbang dan efisien) ke tipe “r” (ekosistem yang aliran energi dan siklus materinya seimbang dan boros), sehingga produktivitas dan daya dukungnya berkurang (Tuwo, 2001).

Penentuan potensi lestari (MSY) dan upaya optimum hanya dapat dilakukan jika parameter b pada persamaan Z = a + bX bernilai negatif, yang artinya penambahan effort akan menyebabkan penurunan produktivitas (CPUE). Jika diperoleh slope b bernilai positif maka tidak dapat ditentukan besarnya pendugaan stok maupun effort optimum, tetapi dapat disimpulkan bahwa jumlah effort masih dapat ditingkatkan untuk memperbesar produksi hasil tangkapan (Sparre and Venema, 1992).

2.3 Daerah Penangkapan Ikan (DPI)

Daerah penangkapan ikan (fishing ground) adalah suatu wilayah perairan yang merupakan tempat ikan biasa berkumpul dan tempat inilah nelayan menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan dapat dikatakan menguntungkan jika sumberdaya perikanan yang ada didalamnya tersedia cukup tinggi, stoknya mudah tumbuh dan berkembang serta dapat diketahui musim dan daerah penyebaran/pergerakannya. Pengetahuan tentang lokasi sumberdaya ikan memegang peranan yang penting dalam menangkap ikan dan hendaknya memiliki kekhususan dan keistimewaan tersendiri yang memungkinkan berbagai kemudahan bagi pengoperasian alat tangkap, kemudahan bagi para nelayan untuk bekerja serta kemudahan lainnya, dengan

mengetahui daerah penangkapan ikan maka nelayan tidak pergi mencari ikan (berburu) dengan tidak pasti tapi mengambil ikan (Gunarso, 1996 yang diacu dalam Sasmita, 1997). Nelayan di tempat penelitian dalam penentuan daerah penangkapan ikan biasanya hanya mengandalkan pengetahuan tradisional (sederhana) dan berpedoman pada faktor- faktor alam secara turun-menurun, yaitu seperti adanya burung-burung yang terbang diatas perairan atau riak di air yang menandakan adanya ikan di kolom perairan laut serta tingkah laku ikan yang sudah diketahui yaitu dimana ikan memijah dan dimana ikan biasa berkelompok mencari makan, untuk ikan- ikan pelagis kecil dan sedang banyak terdapat di Selat Sunda dan di sekitar bagian luar Teluk Banten.

2.4 Intensitas dan Musim Penangkapan Ikan

Intensitas penangkapan ikan oleh nelayan sangat dipengaruhi oleh keadaan musim angin. Pada saat bertiup angin barat (musim barat), angin dan gelombang belum begitu besar sehingga masih ada nelayan yang melaut. Hal ini

terjadi pada bulan September hingga Desember. Sedangkan pada saat angin bertiup dari arah timur (musim timur) yang terjadi pada bulan April sampai

Agustus, hasil tangkapan oleh nelayan meningkat. Musim timur ini oleh nelayan setempat biasa disebut sebagai musim ikan. Angin Utara terjadi antara

bulan Januari hingga bulan Maret dan dikenal dengan musim utara. Nelayan setempat biasa menyebut musim utara ini dengan musim paceklik karena hasil

tangkapan rata-rata sedikit bahkan tidak jarang pulang dengan tanpa membawa hasil tangkapan serta pada musim ini disertai angin dan gelombang

tinggi yang dapat membahayakan nelayan. Waktu penangkapan ikan dilakukan setiap hari dan sepanjang waktu dari pagi hingga malam hari, kecuali Hari Jum’at dilakukan hanya dimalam hari (Syamsuddin, 1995).

2.5 Perikanan Gillnet

Kegiatan perikanan gillnet di Perairan Karangantu, Kabupaten Serang - Provinsi Banten adalah kegiatan perikanan rakyat yang belum mengarah kepada industri perikanan. Alat tangkap yang digunakan tergolong sederhana dan relatif berukuran kecil seperti rampus (gillnet), jaring kejer dan jaring klitik, bagan (liftnet) dan macam- macam pancing tangan (hand line) (Novela, 2004).

2.5.1 Kapal perikanan

Kapal perikanan gillnet yang digunakan untuk usaha penangkapan di lokasi penelitian umumnya adalah perahu motor tempel yang berukuran kecil dengan panjang 6 hingga 8 meter, lebar 1,5 sampai 2 meter dan memiliki kedalaman 0,6 hingga 1,2 meter, sedangkan kapal motor (in board) mulai digunakan sebaga i pengganti kapal motor tempel karena alasan keselamatan (bersenggolan) dan keamanan. Alat penggerak yang digunakan berkekuatan rata-rata berkisar antara 8- 20 PK dari berbagai merek mesin, tetapi yang paling umum digunakan adalah merek Dongfeng. Armada penangkapan ikan umumnya hanya berukuran 2 hingga 4 GT (Gross Tonnage) (Suganda, 2003).

2.5.2 Nelayan

Nelayan adalah masyarakat yang bermata pencaharian sehari- hari mengeksploitasi sumberdaya hayati laut seperti ikan/binatang lair lain/tumbuhan air. Berdasarkan pemilikan alat tangkap yang digunakan untuk usaha penagkapan, nelayan dapat dibagi menjadi nelayan pemilik dan nelayan buruh, nelayan pemilik adalah nelayan yang memiliki unit penangkapan ikan yang biasa disebut juragan, sedangkan nelayan buruh adalah nelayan yang bekerja menangkap ikan dengan menggunakan alat penangkapan ikan yang bukan miliknya sendiri, sedangkan nelayan penuh adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya hanya dari kegiatan penangkapan ikan, adapun nelayan sambilan didefinisikan sebagai nelayan yang hanya sebagian hidupnya saja bermata pencaharian menjadi nelayan tetapi di lain waktu beralih profesi. Nelayan di Karangantu, umumnya nelayan buruh, satu alat

Dokumen terkait