BAB II PROFIL ORGANISASI KAMMI
A. Tinjauan Tentang Akhlak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.52 Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti adat kebiasaan, perangai, tabiat, dan muru’ah. Akhlak juga dapat diartikan sebagai budi pekerti, watak, tabiat. Sedangkan dalam bahasa Inggris akhlak sering diterjemahkan sebagai character.53Akhlak dalam kehidupan sehari-hari sering disebut dengan etika atau moral akan tetapi, akhlak memiliki cakupan makna yang lebih luas.
Pengertian akhlak menurut para ulama diantaranya:
a. Ibnu Al-Jauzari, akhlak adalah etika yang dipilih seseorang atau dikenal dengan istilah karakter pada diri, sehingga akhlak adalah etika yang menjadi pilihan dan diusahakan oleh seseorang.54
b. Imam Al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadannya lahir perbuatan-perbuatan yang spontan, tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran. Jika sifat tersebut melahirkan perbuatan yang terpuji menurut ketentuan agama dan akal dinamakan akhlak yang baik, dan jika menimbulkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk.55
c. Ibnu Maskawaih, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dahulu. Keadaan akhlak terbagi menjadi dua yaitu berasal dari tabiat aslinya dan diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang.
52 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2000), hlm.
253.
53 Samsul Munir Amin, Ilmu Akhlak, (Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 1.
54 Ibid., hlm. 2.
55 Ibid., hlm. 3.
40
Dari pengertian akhlak diatas dapat diambil kesimpulan, akhlak adalah keadaan seseorang untuk melakukan sesuatu hal tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan.
2. Ruang Lingkup Akhlak
Ruang lingkup akhlak meliputi akhlak manusia terhadap Allah SWT, akhlak manusia terhadap sesama manusia, dan akhlak manusia dengan alam semesta.
a. Akhlak Manusia Terhadap Allah SWT
Allah SWT yang telah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi, termasuk manusia dengan segala kebutuhannya. Oleh karena itu, Allah SWT adalah Tuhan yang harus disembah dan diagungkan. Akhlak terhadap Allah SWT adalah bentuk keseluruhan tingkah laku, perkataan, dan suara hati dalam menyembah dan mengagungkan Sang Pencipta.
Diantara bentuk-bentuk akhlak manusia terhadap Allah Swt. yaitu mentauhidkan Allah SWT beribadah kepada Allah SWT, berzikir, berdoa, bersyukur atas nikmat Allah SWT mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT.
b. Akhlak Manusia Kepada Sesama Manusia
Akhlak manusia kepada sesama manusia diantaranya pertama, akhlak kepada Rasulullah SAW mencintai Rasulullah SAW dengan sepenuh hati, mengikuti segala sunnahnya, serta selalu bershalawat kepada beliau dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan. Kedua, akhlak kepada kedua orang tua menyayangi mereka, bertutur kata dengan lemah lembut dan berbakti kepada keduanya serta selalu mendoakannya.
Ketiga, akhlak terhadap guru yaitu menghormatinya, mendengarkan dan mempraktikkan ajaran baiknya dan selalu mendoakan yang terbaik karena guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandung. Keempat, akhlak terhadap diri sendiri yaitu menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, menjaga diri agar selalu sehat dengan mengatur pola makan, menutup aurat, berpakaian yang
41
sopan, menjadikan diri sebagai orang yang ikhlas, pemaaf, jujur, amanah dan melakukan akhlak-akhlak terpuji lainnya.
Kelima, akhlak terhadap keluarga yaitu saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga, saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak, mendidik anak dengan kasih sayang, dan menjaga tali silaturrahmi antara keluarga besar terlebih kepada saudara.
Keenam, akhlak terhadap tetangga yaitu saling bersilaturrahmi atau saling berkunjung, saling membantu dikala senang dan susah, saling memberi satu sama lain dan saling menghormati.
Ketujuh, akhlak terhadap masyarakat, sesama manusia pasti saling membutuhkan terlebih manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Oleh karenanya, akhlak dengan sesama masyarakat diantaranya saling membantu, saling menolong, saling menhormati dan lain sebagainya.
c. Akhlak Manusia Terhadap Alam
Allah SWT menciptakan alam baik itu yang ada di langit dan di bumi berupa hewan, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lainnya, semata-mata untuk di manfaatkan oleh manusia dengan sebaik-baiknya dan menambah keimanan manusia kepada Allah SWT
Allah SWT juga menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi agar dapat menjaga dan memelihara alam semesta dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, adab manusia terhadap alam yaitu menjaga kelestarian alam, menjauhi dari kerusakan-kerusakan dan kepunahan, dan saling menyayangi sesama makhluk. Karena ketika terjadi kerusakan, dan ketidakstabilan maka akan banyak terjadi bencana seperti banjir, tanah longsor, punahnya hewan langka dan lain sebagainya.
3. Macam-Macam Akhlak
Akhlak di bagi menjadi dua macam yaitu:
a. Akhlak Terpuji (Akhlak Mahmūdah)
Akhlak terpuji menurut Imam Al-Ghazali adalah segala yang melahirkan perbuatan menurut ketentuan agama dan akal
42
dan jika menimbulkan tindakan baik. Diantara bentuk akhlak terpuji yaitu, berlaku baik terhadap Allah SWT dengan cara mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, mentaati ajaran Rasulullah SAW, berlaku baik antar sesama muslim, menghargai orang lain56.
Selain itu juga bentuk-bentuk akhlak terpuji yaitu bersikap sederhana, bekerja keras, bersikap jujur, menepati janji, bersikap amanah, istiqomah, sabar, selalu bersyukur, bersikap santun, bersikap pemaaf, bersikap kasih sayang, mencintai dan menghormati sesama, bersikap dermawan, tertib dan teratur, menjaga lisan, bersikap adil dan lain sebagainya.
b. Akhlak Tercela (Akhlak Mazdmūmah)
Akhlak tercela menurut imam Al-Ghazali adalah segala perbuatan yang jahat yang dapat menimbulkan tindakan buruk.
Diantara bentuk akhlak tercela yaitu, segala perilaku yang menentang perintah Allah SWT seperti melakukan perbuatan syirik, riya’, dengki, hasad, berbohong, tidak amanah, berburuk sangka, menghina dan memfitnah, bersikap munafik, murtad, boros, rakus atau tamak, mudah marah, mengumpat, minum-minuman keras, berjudi, sombong, suka pamer, berbuat zalim, mengungkit pemberian, berlebih-lebihan, tidak tertib, penakut dan perbuatan buruk lainnya.57
4. Akhlak dalam Pergaulan
Pada dasarnya hukum bermuamalah dalam Islam adalah mubah atau boleh. Demikian juga dalam kehidupan sosial, manusia tidak akan bisa terlepas dari bersosialisasi atau bergaul dengan orang lain.
Pergaulan yang baik dalam Islam adalah pergaulan yang sesuai dengan norma-norma kemasyarakatan dan tidak bertentangan dengan hukum syara’ serta memenuhi segala hak yang berhak mendapatkannya masing-masing menurut kadarnya.
56 Suriyati, “Peningkatan Akhlak Mulia Siswa pada Pembelajaran SKI Tingkat Madrasah Tsanawiyah”, Ulil Albab: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 1, No.
9, Agustus 2022, hlm. 3275.
57 Rohmat Qomari, “Prinsip dan Ruang Lingkup Pendidikan Aqidah Akhlak”, Jurnal Pemikiran Al-Ternatif Kependidikan, Vol. 14. No. 1, Januari-April 2009, hlm. 12.
43
Agama Islam memerintahkan dan mengajak kaum muslimin untuk melakukan pergaulan dengan cara saling berhubungan dan mengadakan pendekatan dengan orang lain, saling mengisi dalam kebutuhan untuk mencapai kemaslahatan masyarakat yang adil dan makmur dalam berakhlak yang baik.
Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap akhlak bergaul antar sesama diantaranya:
a. Akhlak Bergaul Terhadap Orang yang Lebih Tua
Akhlak bergaul dengan yang lebih tua baik itu orang tua kandung, guru, dan siapapun itu yang memiliki usia lebih tua atau dewasa dengan kita maka kita harus menghormati dan menghargai dengan sepenuh hati serta mengikuti nasehatnya dalam kebaikan. Mencontoh perilaku baik dan mengambil pelajaran dari mereka, tidak berkata kasar, dan selalu menjaga perkataannya dan selalu mendoakannya.58
b. Akhlak Bergaul Terhadap Teman Sebaya
Dalam bergaul dengan teman sebaya atau teman karib baik yang usianya jauh lebih tua, sebaya dan lebih muda harus tetap berbuat baik dan mengutamakan akhlak mulia dengan mengucapkan salam ketika bertemu, saling menolong satu sama lain, saling memahami dan menjauhi perselisihan, saling menasehati satu dengan yang lain, dan saling mendamaikan antar teman yang berselisih. Dalam mencari teman harus selektif dan berhati-hati karena pergaulan teman akan ikut berdampak ke dalam diri. Oleh karena itu, harus mencari teman yang memiliki akhlak baik, yang saling menghargai dan menghormati, dan menganggap teman sebagai saudara.59
c. Akhlak Bergaul dengan Lawan Jenis
Akhlak bergaul dengan lawan jenis yaitu harus menjaga pandangan matanya dengan lawan jenis, menjaga kemaluan, menjaga aurat dengan cara berpakaian yang sopan dan baik dengan menggunakan jilbab untuk perempuan, dan tidak boleh
58 Ni’matul Hasanah, dkk. “Akhlak Pergaulan Dalam Islam”. Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Dakwah Wal-Isrsyad (DDI), Makassar, 2015, hlm. 7-8.
59 Ibid., hlm. 6.
44
saling bersentuhan atau berjabat tangan dengan lawan jenis.
Selain itu juga harus memperhatikan batasan-batasan aurat.
Batasan aurat laki-laki antara pusar sampai lutut sedangkan perempuan adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka.
d. Akhlak Bergaul Terhadap Non Muslim
Allah SWT tidak melarang bergaul dengan non muslim.
Akan tetapi, ada beberapa adab atau aturan yang harus diperhatikan diantaranya, menjaga hubungan agar tetap baik, saling menghormati, tidak menganiaya seperti mencuri, berbohong, menghianati dan menghindari semua akhlak tercela. Selain itu yang paling utama harus diperhatikan ketika hendak bergaul dengan non muslim kita tidak boleh mengikuti cara mereka beribadah, tidak menjawab salamnya, dan tidak mengucapkan selamat terhadap hari besar mereka.60
Dari analisis tentang akhlak tersebut, peneliti akan mengkaji tentang nilai-nilai akhlak yang terpuji yang berkaitan dengan akhlak dalam pergaulan. Dalam al-Qur’an An-Nūr [24]: 30-31 tentang menjaga pandangan, menjaga kemaluan, memakai jilbab dan menjaga aurat serta mengetahui batasan-batasan mahram yang dapat melihat aurat. Nilai-nilai akhlak tersebut di implementasikan di organisasi KAMMI Komisariat Ashabul Kahfi UIN Mataram.
B. Penafsiran Mufassir Tentang Nilai-Nilai Akhlak dalam QS.