• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 6 Metode penelitian

4.1 Letak, Luas dan Batas Administratif

Seperti yang dijelaskan pada Bab III Metode Penelitian, berdasarkan pertimbangan status kawasan, proses penataan batas dan ketersediaan data, untuk penelitian ini batas administrasi yang akan digunakan ialah batas Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Kawasan ini terletak antara 106o21’-106o38’BT dan 6o37’-6o51’LS dengan ketinggian bervariasi mulai 500 m dpl sampai dengan 1.929 m dpl. Dengan luas kawasan 40.000 ha, secara administratif TNGH masuk kedalam wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten yang berbatasan dengan 46 desa, 13 kecamatan dan 3 kabupaten. Masing-masing 13 desa dan 5 kecamatan di Kabupaten Bogor, 14 desa dan 4 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, dan 19 desa dan 4 kecamatan di Kabupaten Lebak.

Daerah studi meliputi empat desa yang berada di dalam dan di luar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Keempat daerah studi tersebut yaitu: 1) Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten; 2) Desa Sirnarasa, Kecamatan Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat; 3) Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat; dan 4) Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Luas wilayah dan batas administrasi lokasi studi selengkapnya disajikan pada Tabel 12.

4.2 Aksesibilitas

Kawasan TNGH mempunyai 6 gerbang masuk yang dapat diakses dari kota Sukabumi, Bogor dan Rangkasbitung. Berikut ini penjelasan mengenai kondisi keenam pintu masuk tersebut mencakup jarak, waktu dan kantor resort yang terdekat:

1. Gerbang Cisalimar dapat dicapai dari Kota Sukabumi yang dapat dicapai melalui Parungkuda dengan jarak sekitar 20 Km dan waktu tempuh selama 30 menit berkendaraan. Kantor resort terdekat berada di Cipeuteuy.

2. Gerbang Cisuren dapat dicapai dari Kota Sukabumi yang dapat dicapai melalui Pelabuhan Ratu dengan jarak sekitar 60 Km dan waktu tempuh

selama 2 jam berkendaraan. Kantor resort terdekat berada di Cikelat.

3. Malasari dapat dicapai dari Kota Bogor melalui Leuwiliang-Nanggung dengan jarak sekitar 35 Km dan waktu tempuh selama 50 menit berkendaraan. Kantor resort terdekat berada di Cisangku.

Tabel 12 Luas wilayah dan batas administrasi lokasi studi

No Lokasi Studi Luas Wilayah

(Ha) Batas Administrasi

1. Desa Citorek, Kecamatan Cibeber,

Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

4.296, 83 - Utara: Kampung Calebang, Desa Calebang dan Kampung Pasir Eurih, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Sobang.

- Selatan: Kampung Sinagar, Desa Sinagar, Kecamatan Pangarangan

- Barat: Kampung Jamrut dan Parung Gedong (Desa Cikate), Kecamatan Cikaju dan Desa Kanekes (Baduy), Kecamatan Leuwidamar

- Timur: Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek, Kecamatan Cibeber. 2. Desa Sirnarasa, Kecamatan Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

4.028,00 - Utara: Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cikakak

- Selatan: Desa Margalaksana, Kecamatan Cikakak

- Barat: Desa Cicadas, Kecamatan Cisolok

- Timur: Desa Cileungsing, Kecamatan Cikakak dan Desa Mekarnangka, Kecamatan Cikidang

3. Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

8.262,22 - Utara: Desa Cisarua dan Curug Bitung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor

- Selatan: Desa Sirnaresmi, Kecamatan

Cisolok, Kabupaten Sukabumi dan Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak

- Barat: Desa Kiarasari dan Desa Cisarua, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor

- Timur: Desa Bantar Karet, Kecamatan

Nanggung, Kabupaten Bogor 4. Desa Cisarua,

Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor

5.610,60 - Utara: Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor dan Desa Banjarsari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak

- Selatan: Kawasan TNGH dan Desa Kiarasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor

- Barat: Desa Lebaksitu, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak

- Timur: Desa Pasir Madang dan Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Sumber :

1. Hanafi et al. 2004; Peta Kawasan TNGHS Skala 1:50.000 Tahun 2005 (JICA & Dephut). 2. BPMD Kabupaten Sukabumi, 2006; Peta Kawasan TNGHS Skala 1:50.000 Tahun 2004 (JICA & Dephut).

3. Monografi Desa Malasari 2006.

4. Cibuluh dapat dicapai dari Kota Bogor melalui Cigudeg dengan jarak sekitar 28 Km (30 menit berkendaraan). Kantor resort terdekat berada di Juga. 5. Citorek dapat dicapai dari Kota Rangkasbitung melalui Bayah dengan jarak

sekitar 150 Km dan waktu tempuh selama 3 jam berkendaraan. Kantor resort terdekat berada di Cicarucub.

6. Cigaru dapat dicapai dari Kota Rangkasbitung melalui Cipanas-Banjarsari dengan jarak sekitar 48 Km dan waktu tempuh selama 75 menit berkendaraan. Kantor resort terdekat berada di Muhara.

Sedangkan untuk mencapai keempat lokasi studi dapat menggunakan angkutan umum dan kendaraan pribadi. Akses ke lokasi studi dan sarana yang dapat digunakan disajikan pada Tabel 13.

4.3 Status Lahan, Penggunaan Lahan dan Sistem Tenurial

Dari luas 40.000 Ha, penggunaan lahan kawasan TNGH meliputi perkebunan 971 ha; pertanian dan permukiman 1.029 ha; dan kawasan konservasi 38.000 ha (Harada et al. 2001; Widada 2004:47). Kawasan ini juga berbatasan dengan lahan-lahan dengan penggunaan :

ƒ kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani (2000b:I-1);

ƒ lahan pertanian rakyat yang dikelola oleh penduduk desa (2000b:I-1);

ƒ perkebunan teh yang dikelola oleh beberapa perusahaan besar (Widada 2004: 61);

ƒ 9 enclave71 yaitu 3 di bagian Timur, 4 di bagian Utara, dan 2 di bagian Timur Laut (2000b:I-1). Nama, letak, luas dan keterangan lainnya mengenai enclave ini dirangkum dan disajikan pada Tabel 14.

Berdasarkan Rencana Pengelolaan TNGH tahun 2000-2024, kawasan TNGH akan dikelola dengan sistem zonasi. Sistem ini diperlukan untuk memenuhi fungsi72 taman nasional. Zonasi ditentukan berdasarkan penilaian aspek (BTNGH, 2000a: V5-11): ekologis seperti kekayaan spesies dan

71 Enclave yaitu areal yang berada di dalam kawasan TNGH namun secara hukum tidak termasuk kawasan TNGH (BTNGH 2000b:I-1).

72 Fungsi taman nasional mengacu pada UU No. 5 /1990 adalah untuk : perlindungan proses ekologis sistem penyangga kehidupan; pengawetan keaneka ragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; pemanfaatan secara lestari SD alam hayati dan ekosistemnya dalam bentuk penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya dan pariwisata alam.

sensitifitas; peraturan perundangan; dan pemanfaatan seperti kebutuhan masyarakat dan pengembangan pariwisata alam. Sampai dengan Februari 2007, status zonasi di TNGH belum selesai karena belum adanya penetapan zonasi yang disetujui oleh Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) dan Bupati terkait (BTNGHS 2007).

Tabel 13 Aksesibilitas untuk mencapai lokasi studi

No Lokasi Studi Aksesibilitas

1. Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten

Dari Bogor : Terminal Bubulak menggunakan angkutan umum jurusan Cipanas sampai Gajruk (2,5 jam) dengan biaya Rp 13.000/orang. Dari Gajruk sampai dengan Desa Citorek dapat menggunakan kendaraan roda empat jenis elf selama kurang lebih 1 jam 30 menit dengan biaya Rp. 20.000/orang.

2. Desa Sirnarasa, Kecamatan Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Dari Pelabuhan Ratu: 1)menggunakan kendaraan pribadi menuju Barat Laut sepanjang 33 km dan waktu tempuh 1 jam; 2) kendaraan umum hanya ada dua jadwal pemberangkatan setiap harinya dengan biaya Rp. 2000-5000/orang. Berangkat dari Desa Sirnarasa menuju Desa Cileungsi pada pukul 07.00 dan 10.00 WIB. Jalur kembali dari Desa Cileungsi-Desa Sirnarasa sampai pukul 10.00 dan 13.00 WIB; atau 3) kendaraan roda dua (ojeg), biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp. 25.000.

3. Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Dari Bogor : 1) menuju pusat Desa Malasari berjarak ± 65 km dari arah barat daya Cibinong (ibukota Kabupaten Bogor) dan ± 15 km dari pusat Kecamatan Nanggung dengan menggunakan kendaraan umum dapat ditempuh + sekitar 3 jam; atau 2) menuju Nirmala/Talahab melalui Parung Kuda dengan kendaraan pribadi dari kota Bogor dapat ditempuh + 4 jam.

4. Desa Cisarua, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor

Dari Bogor melalui Terminal Bubulak menggunakan angkutan umum Bogor-Leuwiliang-Cigudeg atau dengan kendaraan pribadi selama 0,5-1 jam dengan kondisi jalan cukup bagus. Dari Cigudeg menuju Kampung Leuwijamang ada dua alternatif rute. Pertama rute Cigudeg - Cipatat - Cisarua harus ditempuh dengan kendaraan lapangan (jeep, truk, sepeda motor) selama 2 jam kondisi jalan berbatu dan berlumpur. Cisarua ke Leuwijamang hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki sejarak 5 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 –2 jam. Rute Cigudeg – Cipatat dapat juga ditempuh dengan mobil pribadi atau umum (Rp. 5000/orang) untuk 1 -1,5 jam perjalanan. Dari Cipatat – Cisarua diteruskan dengan ojeg Rp. 20.000/ojeg selama 1 -1,5 jam perjalanan. Cisarua –Leuwijamang ditempuh dengan berjalan kaki. Alternatif kedua yaitu melalui Cigudeg – Cibarani dengan mobil pribadi atau ojeg. Biaya yang dikeluarkan jika menggunakan ojeg sebesar Rp. 25.000/orang dengan waktu tempuh selama 1 -1,5 jam perjalanan. Kondisi jalan berbatu. Dari Cibarani menuju Kampung Leuwijamang ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 3-4 jam. Kondisi jalan tanah dan berlumpur jika hujan

Tabel 14 Enclave yang berada di TNGH

No Nama Posisi Luas (Ha) Populasi Keterangan

1. Nirmala Timur 971 570 Kywn PT. Nirmala Agung

2. Sarongge Utara 50 55 kk Pertanian

3. Leuwijamang Utara 100 120 Kk Pertanian

4. Ciparengpeng Utara 100 Pertanian

5. Ciear Utara 200 Pertanian

6. Cilanggar/Garung Timur 200 Pertanian

7. Ciwalen Timur 25 1 kk Belum dipetakan

8. Cibatu Timur Laut 125 1 kk Pertanian

9. Ciguha/Gn Perang Timur Laut 150 Pertanian

J u m l a h 2000

Sumber : BTNGH, 2000b: I-2

Berdasarkan batas administrasi TNGH, keempat lokasi studi memiliki status lahan yang berbeda. Misalnya, lokasi Kampung Cibedug berstatus encroachment73 karena pemukiman penduduk dianggap secara ilegal berdiri di dalam kawasan TNGH, sedangkan dua kampung lainnya yaitu Kampung Citalahab Central dan Kampung Leuwijamang berstatus enclave. Status satu kampung lainnya yaitu Kampung Pangguyangan berada di luar kawasan TNGH. Selengkapnya status dan penggunaan lahan di lokasi studi disajikan pada Tabel 15 berikut ini.

Tabel 15 Status dan penggunaan lahan di lokasi studi

No. Lokasi Studi Status Jenis Pengunaan Lahan

1. Kampung Cibedug encroachment pemukiman, lahan pertanian (reuma,

sawah, kebun sayuran, dll), sarana dan prasarana

2. Kampung Pangguyangan di luar sawah, pemukiman, perkebunan,

fasilitasumum dan hutan lindung

3. Kampung Leuwijamang enclave pertanian, kebun dan pemukiman

4. Kampung Citalahab Central enclave pemukiman, lahan pertanian,

perkebunan, hutan lindung dan hutan konservasi

Sumber : Harada et al. 2004; BPMD Kabupaten Sukabumi, 2006; Martono dan Suwartapradja, 2006; Rencana Pengelolaan TNGH tahun 2000-2024, Potensi Desa Cisarua 2002

dalam Widada 2004

Di kawasan TNGH dikenal beberapa sistem tenurial (sistem kepemilikan lahan) yang digunakan oleh masyarakat. Dalam penelitiannya Harada, et al. (2001) mendokumentasi sembilan sistem tenurial yang berlaku pada masyarakat di sekitar kawasan TNGH. Adapun kesembilan sistem tenurial tersebut adalah: 1. Warisan (inheritance) ialah tanah yang dikelola secara turun temurun. Hak

pengelolaan dialihkan kepada ahli waris (anak) dengan membagi sama luas lahan baik untuk anak laki-laki maupun perempuan;

2. Mulung (Reclamation) atau memungut ialah menggunakan lahan yang sebelumnya pernah digarap orang lain tapi kemudian ditinggalkan. Tidak diperlukan ijin dari pengelola sebelumnya;

3. Ngaluaran tanaga (sale based on labor) ialah membeli hak atas tanah dengan membayar buruh untuk menggarap lahan atau menukarnya dengan ternak, tidak dengan uang;

4. Pamasihanan/pamere (alienation) atau pemberian ialah hak atas lahan berdasarkan hadiah dari pengelola sebelumnya;

5. Jual beli (sale) ialah sistem untuk mendapatkan hak atas tanah berdasarkan jual beli yang bersifat permanen atau semi permanen. Jual beli ini biasanya dilakukan harus dengan ijin dari pemilik awal;

6. Gade (security) atau gadai ialah memberikan hak atas lahan yang dimiliki untuk mendapatkan pinjaman. Hak harus dikembalikan jika pinjaman sudah dibayar. Lahan tidak boleh dipindah tangankan kepada orang lain. Jangka waktu pengembalian pinjaman biasanya tidak diberlakukan namun peminjam dapat mengelola lahan sesuai dengan keinginannya dan jangka waktu sampai hutang terbayar;

7. Maparo / maro / marteln / nengah (rent with compasation) atau menyewa dengan kompensasi ialah sistem pengelolaan atas lahan dengan cara bagi hasil antara pemilik lahan dengan penggarap. Jumlah atau besaran bagi hasil ditetapkan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak;

8. Nginjeum / numpang garap (rent without compensation) atau meminjam lahan garapan ialah sistem memberikan hak pengelolaan atas lahan untuk jangka waktu tertentu kepada orang lain tanpa kompensasi. Pengguna tidak boleh menanam atau menebang pohon; dan

9. Sewa (contract) atau kontrak ialah sistem memberikan hak pengelolaan atas lahan untuk jangka waktu tertentu kepada orang lain dengan kompensasi. Pembayaran dapat dalam bentuk bagi hasil panen atau uang

Mengacu pada ke 9 jenis sistem tenurial ini dan berdasarkan hasil observasi lapangan, sistem tenurial yang dapat diidentifikasi di lokasi studi selengkapnya disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16 Sistem tenurial di lokasi studi

No Lokasi Studi Sistem Tenurial

1. Kampung Cibedug Warisan (inheritance), meminjam, dan mulung (reclamation)

2. Kampung Pangguyangan Warisan,mulung, ngaluaran tanaga,

pamasihanan/pamere, jual beli, gade, maparo, nginjeum / numpang garap, dan sewa

3. Kampung Leuwijamang Warisan, mulung, ngaluaran tanaga,

pamasihanan/pamere, maro, jual beli, sewa

4. Kampung Citalahab Warisan, jual beli, gade, maro, sewa

Sumber: Harada et al., 2001; hasil observasi lapangan

4.4 Kondisi Sosial74 Ekonomi75 Masyarakat Sekitar TNGH

Sampai dengan tahun 2002, jumlah desa di kawasan penyangga TNGH yaitu 51 desa (Widada 2004:60). Pada tahun tersebut, total jumlah penduduk sebanyak 219.723 jiwa (Tabel 14). Sedangkan jumlah penduduk di kawasan penyangga pada tahun 1999 berjumlah 195.432 jiwa di 46 desa (BTNGH 2000b: III-13). Antara tahun 1999-2002, terjadi pertambahan jumlah penduduk sebanyak 12,4%.

Berdasarkan data penduduk tahun 2006, kepadatan rata-rata disekitar TNGH ialah 267,13 jiwa/km3. Sedangkan pertumbuhan penduduk di 13 kecamatan berkisar 0,34% sampai 3,27% dengan rata-rata 2,29% (rata-rata pertumbuhan nasional saat itu 1,98%). Pertumbuhan penduduk terbesar terjadi di Kabupaten Bogor (BTNGH 2000b: III-13). Persentase pertambahan penduduk di lokasi studi disajikan pada Tabel 17.

74 Sosial ialah sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas 2000:1085). 75 Ekonomi ialah 1) ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan 2)pemanfaatan uang, tenaga, waktu, dsb yang berharga (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdiknas 2000:287).

Tabel 17 Persentase pertambahan penduduk di lokasi studi No Lokasi Jumlah Penduduk Tahun 2006 (jiwa) Persentase Pertambahan Penduduk Keterangan

1. Desa Citorek 5.950 6,4 % Persentase pertumbuhan tertinggi

tahun 2005-2006, sebesar 22,3%

2. Desa Sirnarasa 5.409 14,7 % Persentase pertumbuhan tertinggi

tahun 2004-2006, sebesar 26,5%

3. Desa Malasari 7.658 6,3 % Persentase pertumbuhan tertinggi

tahun 2002-2004, sebesar 19,2%

4. Desa Cisarua 2.900* 2,8 %

Ket : 1. Diolah dari data tahun 2002-2006 (Laporan Kependudukan Desa Citorek untuk Kecamatan 2002-2005; Profil Desa Citorek, Depdagri 2006)

2. Diolah dari data tahun 1994, 1996, 1999, 2004 & 2006 (Kantor Desa Sirnarasa 1996 dalam Asep 2000; BPS 1999 dalam Hanafi et al. 2004; BPKMD Kabupaten Sukabumi 2006; Potensi Desa 1994 dalam Martono dan Suwartapradja 2006)

3. Diolah dari data tahun 2000, 2002, 2004-2006 (Potensi Desa 2002 dalam Widada 2004; Monografi Desa, 2000, 2005-2006)

4. Diolah dari data tahun 1999 dan (*) tahun 2002 (Potensi Desa 2002 dalam Widada 2004; BPS 1999 dalam Hanafi et al. 2004)

Sampai dengan tahun 2006, diantara tiga kabupaten yang berbatasan langsung dengan TNGH, Kabupaten Lebak merupakan kabupaten yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan terendah. Sekitar 54,2% penduduknya tidak tamat Sekolah Dasar (SD) dan 43,7% hanya selesai pendidikan dasar. Kabupaten Bogor menempati urutan kedua dengan 33,8% penduduknya tidak menyelesaikan SD. Sedangkan penduduk yang menyelesaikan SD sebanyak 45,8%, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 12,9%, Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 7,4% dan Perguruan Tinggi sebanyak 0,14%. Sedangkan Kabupaten Sukabumi memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi yaitu penduduk yang menyelesaikan SD sebanyak 62,1 %, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 14,9%, Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 2,48% dan Perguruan Tinggi sebanyak 0,10%. Informasi mengenai tingkat pendidikan di lokasi studi disajikan pada Tabel 18.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Widada (2004), dari 13 desa sampel sekitar 90,34% penduduknya bekerja sebagai petani dengan padi sebagai komoditas utama, jagung, ketela pohon dan pisang. Rata-rata pendapatan penduduk perbulannya sekitar Rp. 388.573,- per keluarga Widada (2004:63). Menurut data yang dikeluarkan BTNGH (2000a), penduduk sekitar kawasan TNGH rata-rata mengolah lahan sekitar 0,23 ha/KK.

Tabel 18 Tingkat pendidikan di lokasi studi

Lokasi Studi

No Tingkat

Pendidikan Desa Citorek

Tahun 20061 Desa Sirnarasa Thn 20062 Desa Malasari Tahun 20063 Desa Cisarua Tahun 20024 1. Buta huruf 1568 45 130 2. Belum sekolah 872 1006 3. Tak lulus SD 600 46 430 890 4. SD 1300 4399 4403 100 5. SLTP 145 46 420 60 6. SLTA 55 25 66 30 7. Sarjana Muda (D3) 5 11 5 6 8. Sarjana - 1 JUMLAH 3687 5445 6460 1086

Sumber : 1 Profil Desa Citorek (Depdagri 2006); 2BPKMD Kabupaten Sukabumi, 2006;

3

Monografi Desa 2006; 4Potensi Desa 2002 dalam Widada 2004

Mata pencaharian lainnya yang dapat dilakukan penduduk lokal diantaranya bekerja sebagai buruh di Perkebunan Teh, Perum Perhutani, dan PT Aneka Tambang di Gunung Pongkor, di bagian timur laut dan selatan taman nasional (BTNGH, 2000a). Jenis matapencaharian di lokasi studi dirangkum dalam Tabel 19.

Tabel 19 Jenis mata pencaharian penduduk di lokasi studi

Jenis Lokasi Studi

No

Mata Pencaharian Ds. Citorek1 2006 Ds.Sirnarasa2 2006 Ds. Malasari3 2006 Ds. Cisarua4 2002 1. Petani 1582 476 4756 657

2. Buruh /Buruh Tani 40 1017 1770 60

3. Swasta 15 31 10 2

4. Pegawai Negeri Sipil 47 14 3 7

5. Pengrajin 200 25 6. Pedagang 55 51 258 15 7. Peternak 453 2 T o t a l 2392 1616 6797 741 Jumlah Penduduk 2006 5950 5409 7658 2900 % yang bekerja 40,20 29,88 88,76 25,55

Sumber : 1 Profil Desa Citorek (Depdagri 2006)

2

BPKMD Kabupaten Sukabumi 2006

3

Monografi Desa 2006

4