• Tidak ada hasil yang ditemukan

Liberalisasi perdagangan di negara-negara ASEAN yang dimulai sejak tahun 2003 mampu meningkatkan volume perdagangan Indonesia yang ditunjukkan dengan peningkatan yang lebih

Hasil Simulasi CGE GTAP8

1. Liberalisasi perdagangan di negara-negara ASEAN yang dimulai sejak tahun 2003 mampu meningkatkan volume perdagangan Indonesia yang ditunjukkan dengan peningkatan yang lebih

dari dua kali lipat baik volume ekspor atau pun impor untuk periode 2003–2010.

2. Secara global kinerja neraca perdagangan Indonesia-ASEAN menunjukkan penurunan. Hal ini ditunjukkan dengan trade balance yang turun drastis, bahkan mengarah ke defisit semenjak tahun 2005.

3. Proporsi berdasarkan negara tujuan ekspor Indonesia pun mengalami pergeseran. Proporsi ekspor Indonesia ke negara ASEAN4 mengalami peningkatan dari 16.68% menjadi 19.88%. Proporsi ekspor Indonesia ke negara lain yang mengalami peningkatan yang signifikan juga adalah China, India dan South Korea yaitu secara berurutan dari 4,46%, 6,98%, dan 1,83% di tahun 2000 menjadi 10,42%, 8,39%, dan 6,61%.

4. Komparasi tarif antarnegara ASEAN dalam data GTAP8 dapat ditemukan beberapa fakta sebagai berikut: (1) Liberalisasi penuh telah terjadi di Singapore, hal ini terlihat dari fakta bahwa semua komoditas tarif impornya telah nol. (2) Thailand ialah negara anggota ASEAN yang masih memiliki struktur tariff impor yang tinggi dan beragam. Hal ini mengindikasikan bahwa Thailand masih sangat protektif terhadap pasar domestiknya. Kondisi ini diikuti oleh dua negara ASEAN lainnya yaitu Cambodia dan Vietnam. (3) Secara bilateral, Cambodia dan Lao PDR pun telah memiliki tarif impor nol. Cambodia mengenakan tarif nol untuk semua komoditas yang diimpor dari Lao PDR. Begitu pun sebaliknya, Lao PDR mengenakan tarif nol untuk semua komoditas yang diimpor dari Cambodia. (4) Negara ASEAN sisanya bisa dikategorikan sebagai negara yang moderat dalam struktur tarif impornya dan Indonesia termasuk yang cukup liberal di antara mereka.

5. Hasil simulasi dampak liberalisasi perdagangan di level ASEAN5 dan keseluruhan ASEAN menunjukkan beberapa hal sebagai berikut:

a. Liberalisasi penuh di ASEAN5 dan di keseluruhan ASEAN memiliki dampak positif terhadap peningkatan volume perdagangan Indonesia, baik ekspor maupun impor mengalami kenaikan. Namun demikian persentase perubahan kenaikan impor lebih tinggi daripada persentase perubahan kenaikan ekspor. Hal ini mengakibatkan dampak negatif dalam neraca perdagangan (trade balance) Indonesia. Selain itu, simulasi liberalisasi di ASEAN5 dan ASEAN mengakibatkan penurunan term of trade Indonesia.

70

b. Hasil simulasi tersebut mengindikasikan perlunya Indonesia tetap selektif didalam melakukan liberalisasi tarif perdagangan internasionalnya. Dengan membuka liberalisasi seluas-luasnya untuk komoditas yang Indonesia memiliki keunggulan nilai tukar dagang (term of trade) dengan negara lain di ASEAN dan tetap protektif terhadap komoditas yang kurang unggul, atau komoditas yang sangat dibutuhkan dalam pasar domestik tetapi memiliki daya saing yang relatif rendah dibanding dengan komoditas yang sama yang diproduksi oleh Negara ASEAN lainnya.

c. Liberalisasi mampu meningkatkan PDB Indonesia, walaupun angka persentase kenaikannya jauh lebih kecil dibanding negara-negara ASEAN5 lainnya selain Philippines baik untuk simulasi liberalisasi penuh di ASEAN5 maupun di ASEAN keseluruhannya. Sementara itu hasil simulasi dampak terhadap investasi menunjukkan bahwa dampak persentase perubahan investasi di Indonesia walaupun positif (mengalami kenaikan), namun besarannya terkecil dibanding negara ASEAN5 lainnya untuk liberalisasi penuh di level ASEAN5 dan terkecil dibanding negara ASEAN lainnya ketika liberalisasi terjadi di level ASEAN secara keseluruhan. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia secara global mendapat manfaat terkecil atas liberalisasi yang terjadi baik di ASEAN5 maupun di ASEAN secara keseluruhan.

d. Walaupun terdapat tendensi kenaikan harga-harga barang konsumsi namun baik pendapatan faktor (tenaga kerja dan modal) maupun pendapatan rumah tangga (household income) mengalami kenaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa liberalisasi perdagangan mengakibatkan kenaikan kesejahteraan rumah tangga. Namun lagi-lagi dampak terhadap Indonesia relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan negara ASEAN5 lainnya. Benefit tambahan kesejahteraan bisa merupakan bentuk kombinasi atas tiga komponen: penurunan harga komoditas konsumsi, kenaikan pendapatan faktor, dan kenaikan pendapatan rumah tangga. Malaysia merupakan contoh kasus yang mendapat tiga benefit tersebut sekaligus baik dalam simulasi liberalisasi ASEAN5 maupun ASEAN. Namun beberapa negara lain hanya mendapatkan kombinasi atas dua atau bahkan satu dari tiga komponen benefit tersebut. e. Lebih detail terkait pendapatan faktor (factor income) dirinci dalam komponen tanah (Land),

tenaga kerja tidak terdidik (UnSkLab), tenaga kerja terdidik (SkLab), modal (Capital), dan sumber daya alam (NatRes), hanya tiga komponen yang dampaknya positif bagi Indonesia, yaitu tenaga kerja terdidik, tenaga kerja tidak terdidik, dan modal. Sementara berdampak negatif terhadap pendapatan dari faktor produksi tanah dan sumber daya alam.

f. Liberalisasi perdagangan di ASEAN5 mengakibatkan ekspor paddy rice, motor vehicles and parts, sugar cane, sugar beet, dan beverages and tobacco products meningkat signifikan – dengan angka kenaikan di atas 10%. Hal ini diikuti oleh peringkat berikutnya yaitu untuk peringkat ke-6 sampai dengan ke-10 dengan nilai kenaikan di bawah 10% untuk komoditas diary products, metal products, cereal grains nec., transport equiptment nec., crops nec., dan

71

oil seeds. Namun mengalami kenaikan yang cukup signifikan untuk impor beverages and tobacco products, sugar, processed rice, metal products, dan motor vehicles and parts. Selain itu, ada yang menonjol dari penurunan impor yaitu untuk komoditas sugar cane, sugar beet yang turun sampai dengan 11,93%.

g. Liberalisasi perdagangan di level ASEAN5 memberikan dampak yang sangat baik bagi komoditas sugar cane, sugar beet yang tidak hanya mengalami kenaikan ekspor 10.02% tetapi juga mengalami penurunan impor yang sangat signifikan, yaitu sebesar 11.93%. Kondisi yang sama dialami oleh komoditas oil seeds, dan paddy rice dengan magnitude perubahan yang lebih kecil. Kondisi ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki keunggulan daya saing dibandingkan dengan negara lain. Beberapa komoditas mengalami kenaikan baik dari sisi ekspor maupun impor dengan persentase kenaikan ekspor lebih besar dibandingkan dengan persentasi kenaikan impor, yaitu: beverages and tobacco products, motor vehicles and parts, dan metal products.

h. Hasil simulasi dampak liberalisasi perdagangan secara penuh di level ASEAN menunjukkan pola yang hampir sama dengan hasil simulasi dampak liberalisasi perdagangan di level ASEAN5. Perbedaan yang menonjol yang perlu dicatat ialah bahwa terjadi peningkatan yang signifikan dari impor processed rice dari adanya perluasan liberalisasi perdagangan dari level ASEAN5 menjadi keseluruhan ASEAN, yaitu dari 6,58% menjadi 17,33%. Hal yang menarik lainnya ialah kenaikan besaran ekspor dan sekaligus penurunan besaran impor untuk komoditas sugar cane, sugar beet, dan paddy rice yang lebih besar persentasenya.

Dengan memperhatikan poin-poin dalam kesimpulan tersebut di atas baik yang berasal dari deskriptif analisis maupun hasil simulasi dampak, maka kami merekomendasikan kebijakan sebagai berikut:

1. Pemerintah Indonesia harus lebih berhati-hati dan selektif dalam melanjutkan kebijakan liberalisasi perdagangannya di level ASEAN. Hal ini mengingat bahwa Indonesia sudah relatif lebih liberal jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain yang memiliki kemiripan dalam struktur keunggulan komoditas dan daya saing seperti Thailand dan Malaysia.

2. Beberapa komoditas Indonesia yang bisa dan siap untuk diliberalisasi secara penuh asalkan diperlakukan setara dengan negara ASEAN lainnya, yaitu: sugar cane, sugar beet, oil seeds, dan paddy rice. Hal ini berdasarkan hasil simulasi yang menunjukkan bahwa ketika diliberalisasi untuk wilayah ASEAN, komoditas-komoditas tersebut mengalami kenaikan ekspor dan sekaligus penurunan impor.

3. Untuk beberapa komoditas yang hasil simulasinya menunjukkan bahwa liberalisasi mengakibatkan kenaikan baik untuk ekspor dan impor yaitu untuk komoditas: beverages and tobacco products, motor vehicles and parts, dan metal products, perlu dilihat lebih detail klasifikasi HS-nya. Hal ini penting untuk mengetahui lebih detail unsur-unsur komoditas apa

72

berdasar klasifikasi HS yang mengalami dampak kenaikan ekspor dan impor sehingga dapat diambil kebijakan yang lebih tepat.

4. Terkait dengan produk komoditas Indonesia yang berorientasi ekspor perlu dilakukan studi lanjutan untuk melakukan analisis daya saing dan mengukur tingkat produktivitas. Hal ini penting tidak hanya untuk memahami peta persaingan dengan komoditas dari negara lain akan tetapi juga menemukan formula untuk meningkatkan daya saing dengan peningkatan produktivitasnya.

73

BAB VI