BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 LIBOR
London Interbank Offered Rate atau lebih dikenal juga dengan singkatan LIBOR adalah merupakan kurs referensi harian dari suku bunga yang ditawarkan dalam pemberian pinjaman tanpa jaminan oleh suatu bank kepada bank lainnya di pasar uang London ( atau pasar uang antar bank ) . LIBOR adalah merupakan kebalikan dari London Interbank Bid Rate (LIBID). Kurs suku bunga LIBOR digunakan secara luas sebagai suatu kurs referensi untuk suatu instrumen keuangan seperti misalnya pada :
Kontrak berjangka kurs atau lebih dikenal dengan nama forward rate agreement (FRA)
Perdagangan berjangka kurs bunga jangka pendek
Swap suku bunga
Surat pengakuan hutang bunga mengambang atau yang lebih dikenal dengan nama "floating rate note" (FRN)
Kredit sindikasi
adjustable rate mortgage yaitu penyesuaian suku bunga pada kredit pemilikan rumah setelah jangka waktu tertentu yang pada umumnya menggunakan patokan kurs referensi
nilai tukar, khususnya US dollar.
Produk-produk tersebut menggunakan dasar kurs pasar yang paling likuid dan aktif di dunia . Untuk Euro, kurs referensi yang biasanya digunakan adalah Euribor yang dikeluarkan oleh European Banking Federation ( federasi perbankan Eropa). LIBOR diterbitkan oleh British Bankers Association (BBA) setiap hari setelah jam 11:00 waktu London yang merupakan rata-rata suku bunga deposito antar bank dari beberapa bank terpilih, untuk jangka waktu pinjaman atara 1 malam hingga satu tahun. Suku bunga jangka pendek misalnya hingga 6 bulan adalah hampir mendekati cerminan kondisi pasar pada saat itu. Suku bunga pinjaman antar bank ini setiap harinya mengalami perubahan. Kurs referensi yang dikeluarkan disamping untuk dollar Amerika (USD) juga untuk Pound Sterling. LIBOR juga merupakan referensi
yang sangat berarti bagi mata uang lainnya termasuk Franc Swiss (CHF),Yen, dollar Kanada (CAD) and the Krone Denmark.
2.5. KURS
2.5.1. Pengertian Nilai Tukar
Kegiatan perdagangan Internasional dalam kenyataan tidak sesederhana perdagangan domestik yang hanya melibatkan interaksi antar masyarakat dalam 1 negara untuk melakukan transaksi jual beli dan jasa dengan alat pembayarannya menggunakan mata uang sendiri. Dalam perdagangan Internasional transaksi jual beli barang terjadi antar masyarakat suatu negara dengan masyarakat lain yang menghendaki pembayaran dalam mata uang asing yang satu sama lain saling berbeda, atau paling tidak dalam mata uang tetentu yang dapat diterima secara Internasional seperti Dollar AS. Poundsterling, Yen dan lain-lain yang keberadaannya terbesar dibanyak negara tetapi yang paling banyak dugunakan yaitu Dollar AS, sehingga Dollar AS mendapat julukan sebagai mata uang penggerak yaitu mata uang termuka yang digunakan sebagai satuan nilai kontrak Internasional antara pihak-pihak yang bukan merupakan pendukung dari negara pecetak uang tersebut. Hal ini didukung oleh peran Amerika Serikat yang begitu penting dalam perekonomian dunia sebagai pusat perdagangan dunia.
Oleh karena itu dalam perdagangan Internasional, pertukaran antar satu mata uang dengan mata uang lain menjadi hal yang terpenting untuk mempermudah transaksi jual beli barang dan jasa. Dari pertukaran ini terdapat perbandingan nilai
atau harga antara kedua mata uang tersebut dan inilah yang disebut dengan nilai tukar atau kurs. Jadi secara umum kurs dapat diartikan sebagai harga suatu mata uang terhadap mata uang asing atau harga mata uang luar negeri terhadap mata uang domestik. ( Lindert, 1999 : 336 ).
Nilai tukar ( kurs ) merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian yang terbuka. Mengingat pengaruhnya begitu besar bagi transaksi berjalan maupun terhadap variabel-variabel makro ekonomi lainnya. Selain itu, nilai tukar juga memainkan peranan sentral dalam perdagangan Internasional, karena dengan mengetahui nilasi tukar, kita dapat membandingkan harga-harga segenap barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai negara sehingga dijadikan sebagai alat ( instrumen ) rujukan dalam kegiatan ekspor impor.
Dalam mekanisme pasar, Nilai tukar dari satu mata uang akan selalu mengalami fluktuasi yang berdampak langsung pada harga-harga barang ekspor dan impor. Naik turunya Nilai Tukar mata uang suatu negara dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
a. Apresiasi yaitu peristiwa menguatnya nilai tukar suatu mata uang secara otomatis, akibat dari bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan atas mata uang yang bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat perubahan nilai tukar ini yaitu harga produk negara itu bagi pihak luar negeri makin mahal, sedangkan harga impor bagi penduduk domestik menjadi lebih murah.
b. Depresiasi yaitu peristiwa penurunan nilai mata uang secara otomatis akibat bekerjanya kekuatan penawaran dan permintaan atas mata uang yang bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat perubahan nilai tukar ini adalah produk negara itu bagi pihak luar negeri menjadi murah, sedangkan harga impor bagi penduduk domestik menjadi lebih mahal.
2.5.2. Teori Nilai Tukar
Ada beberapa teori yang membahas tentang nilai tukar uang ( Dominic, 1997 : 429 – 432 ) antara lain :
1) Pendekatan Perdagangan Elastis Terhadap pembentukan Nilai Tukar Pendekatan perdagangan elastis terhadap pembentukan nilai tukar ditentukan oleh besar kecilnya perdagangan barang dan jasa yang berlangsung diantara kedua negara tersebut. Menurut pendekatan ini, kurs equilibrium adalah kurs yang menyeimbangkan nilai ekspor dan impor dari suatu negara jika nilai impor negara tersebut lebih besar daripada nilai ekspornya.
Penurunan nilai tukar mata uang akan membuat harga dari berbagai komoditi ekspornya menjadi lebih murah bagi importir atau pihak asing sedangkan berbagai produk barang dan jasa impor menjadi lebih mahal bagi produk domestik. Akibatnya lambat laun ekspor negara akan mengalami kenaikan sedangkan impornya akan terus menurun sampai akhirnya nilai perdagangan Internasional benar-benar seimbang, karena kecepatan proses penyesuaian ditentukan oleh seberapa responsif atau seberapa elastis impor dan ekspor terhadap perubahan-perubahan harga, maka
pendekatan ini lebih populer dikenal dengan sebutan Pendekatan Elastisitas. Cara lain yang perlu ditempuh oleh negara tersebut untuk menyeimbangkan perdagangan Internasional dan memperbaiki nilai tukar uangnya adalah dengan menerapkan kebijakan-kebijakan domestik tertentu dalam rangka mengurangi pembelanjaan domestik demi menyisihkan lebih banyak sumber daya domestik untuk menghasilkan produk-produk ekspor dan subtitusi impor sehingga memungkinkan berfungsinya pendekatan elastis. Pendekatan ini juga tidak luput dari berbagai kelemahan diantaranya yaitu tidak dapat menjelaskan gejolak besar ( fluktuasi ) kurs yang berlangsung selama dasawarsa tujuh puluhan atau lonjakan tajam apresiasi dollar AS dari tahun 1980 hingga tahun 1985, padahal pada masa itu Amerika Serikat mengalami defist perdagangan yang besar.
2)Teori Paritas Daya Beli ( Purchasing Power Parity Theory )
Teori paritas daya beli merumuskan bahwa kurs antara dua mata uang adalah identik dengan rasio dari tingkat harga umum dari kedua negara yang bersangkutan. Artinya, penurunan daya beli mata uang domestik akan diiringi dengan depresiasi mata uangnya secara proporsional dalam pasar valas. Menurut teori ini, pasar valas berada pada kondisi keseimbangan apabila smua deposito atau simpanan dalam berbagai valas menawarkan tingkat imbalan yang sama. ( Krugman, 1992 : 66 )
Kondisi dimana tingkat imbalan yang semua simpanan dalam berbagai valas sama disebut kondisi varitas suku bunga ( Interest Parity ). Dengan kata lain, segenap simpanan valas menawarkan tingkat imbalan resiko kurs, dan kemungkinan
perubahan kurs secara keseluruhan setara sehingga prospek keuntungan ataupun daya tarik atas asset-asset tesebut besar. Kenaikan suku bunga dari simpanan suatu mata uang domestik menyebabkan mata uang domestiknya tersebut mengalami depresiasi terhadap mata uang asing, dengan asumsi kondisi lainnya tetap ( perkiraan kurs dimasa datang tidak berubah ). Namun demikian, asumsi yang digunakan tersebut dalam kenyataannya sangat tidak realitis sebab perubahan suku bunga senantiasa disertai dengan perubahan kurs dimasa yang akan datang. Oleh sebab itu, perkiraan kurs dimasa yang akan datang juga ditentukan oleh berbagai faktor ekonomi yang juga mengakibatkan perubahan suku bunga. Secara umum kelemahan yang mencolok dari logika yang terkandung dalam teori paritas daya beli mengenai kurs adalah :
a. Asumsi yang dianut oleh hukum satu harga, yakni bahwa biaya-biaya transportasi dan pembatasan perdagangan bisa diabaikan, ternyata dalam prakteknya tidak dapat dipertahankan
b. Praktek monopolistik dan oligopolistik diberbagai pasar barang bersama dengan besarnya aneka biaya transportasi serta pembatasan perdagangan semakin memperlemah keterkaitan harga atas barang yang sama di berbagai negara.
c. Oleh karena data-data inflasi diberbagai negara didasarkan pada jenis komoditi acuan.
3) Pendekatan Moneter ( Monetary Approach )
Pendekatan moneter merumuskan bahwa nilai tukar tercipta dalam proses penyamaan stok atau total permintaan dan penawaran mata uang nasional masing-
masing negara. Penawaran uang di suatu negara diasumsikan dapat ditetapkan atau diciptakan secara independen oleh otoritas moneter dari negara bersangkutan. Namun sebaliknya, permintaan uang sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan riil atau harga-harga umum yang berlaku serta suku bunga dimana pendapatan riil atau harga tertentu, suku bunga equilibrium terbentuk pada titik perpotongan antara kurva permintaan dan penawaran uang yang ada disuatu negara.
Jadi pendekatan moneter dapat juga dikatakan terlalu mengutamakan peranan uang ( sektor moneter ) dan cenderung mengabaikan peranan penting yang dimainkan oleh perdagangan barang dan jasa sebagai suatu faktor pokok yang dapat mempengaruhi besar kecilnya nilai tukar,khususnya jangka panjang.
Selain itu pendekatan moneter mengasumsikan bahwa asset – asset finansial domestik dan luar negeri seperti obligasi yang diterbitkan oleh suatu negara sangat berbeda, baik jenis maupun bobotnya dibandingkan dengan obligasi yang diterbitkan oleh negara – negara lain. Hal inilah sebagai sumber kelemahan dari pendekatan moneter yang dianggap bertumpu pada sejumlah asumsi yang kurang realitas.
4)Pendekatan Keseimbangan Portofolio ( Portofolio Balance Approach ) Merumuskan bahwa nilai tukar mata uang sesungguhnya terbentuk dalam proses dan penyeimbangan stok atau total permintaan dan penawaran asset – asset finansial ( dalam hal ini uang dipandang hanya merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak jenis asset finansial ) dalam setiap negara asumsi yang dipergunakan dalam pendekatan ini adalah :
a. Obligasi domestik dan obligasi luar negeri sebagai subtitusi yang tidak sempurna.
b. Memperhitungkan arti penting perdagangan ( sektor riil )
Menurut pendekatan ini, kenaikan penawaran uang dinegara domestik akan mendorong terjadinjya kemerosotan dinegara yang bersangkutan sehingga akan membuat para investor menukarkan obligasi domestiknya menjadi mata uang domestik dan obligasi luar negeri. Pembelian secara besar – besaran atas obligasi luar negeri itu dengan sendirinya menimbulkan deprisiasi atas mata uanng domestik.
Selanjutnya depresiasi itu merangsanng peningkatan ekspor negara domestik dan sekaligus menyurutkan impor. Hal ini menciptakan surpllus perdaganngan bagi domestik yang segera disusul oleh apresiasi mata uangnya. Apresiasi ini meredam sebagian depresiasi yang telah terjadi sebelumnya. Dengan demikian, pendekatan keseimbangan portofolio ini juga menjelaskan terjadinya lanjutan nilai tukar mata uiang ( kurs ). Namun tidak seperti pendekatan moneter, pendekatan keseimbangan portofolio ini juga menjelaskan secara eksplisit dan mengaitkan peran perdagangan dalam proses penyesuaian nilai tukar ( kurs ) dalam jangka panjang.
2.5.3.SISTEM NILAI TUKAR
Dalam sejarah perkembangannya ada beberapa sistem nilai tukar yang digunakan oleh banyak negara dalam menentukan dan mengelola mata uangnya antara lain (Berlianta,2044 : 13) :
Gold standard dimulai pada tahun 1880 dan berakhir pada awal perang dunia pertama. Gold standard terbagi dalam dua sistem yaitu :
a. Gold Specie Standard
Standard ini menentukan nilai mata uang suatu negara dikaitkan dengan nilai jumlah emas tertentu. nilai nominal yang tertera pada uang tersebut sama dengan harga bahan baku emas mata uang tersebut. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar nilai nominal mata uang sama dengan nilai bahan baku emasnya yaitu :
Masyarakatnya harus bebas melebur mata uangnya menjadi logam mulia dan sebaliknya.
Masyarakat bebas melakukan eksport-import emas.
Bank Sentral harus menjamin dapat membeli atau menjual emas berapapun jumlahnya pada harga tetap yang telah ditentukan.
b. Gold Billion Standard
Standart ini digunakan saat uang kertas mulai banyak digunakan dan beredar di masyarakat sehingga pada standard ini nilai mata uang tersebut dikaitkan dengan jumlah emas tertentu. Pada standard ini Bank Sentral menjamin kovertibilitas mata uang (uang kertas) dengan emas, artinya pemerintah akan menukarkan mata uangnya dengan emas pada jumlah yang tetap yang ditentukan.
2) Fixed Exchange Rate System
Sistem ini mulai diterapkan pada pasca perang dunia kedua yang ditandai dengan digelarnya konfresi Internasional mengenai sistem nilai tukar yang diadakan di Bretton Woods, New Hampshire Amerika Serikat tahun 1994, diantaranya menyepakati :
a. Amerika akan mengaitkan mata uangnya US Dollar dengan sejumlah emas tertentu. Waktu itu ditetapkan sebanyak 35 US Dollar per ounce emas.
b. Negara-negara lain dapat mengaitkan nilai mata uangnya dengan emas atau mata uang US Dollar. Mata uang lain berfluktuasi sebesar 1% terhadap US Dollar.
c. Negara-negara lain dapat menyimpan cadangannya dalam bentuk emas maupun dalam bentuk mata uang asing US Dollar.
d. Amerika Serikat akan menjual emas dalam jumlah tertentu yang tetap kepada pemilik uang US Dollar yang sah.
e. Begitu pula mata uang negara lain ditentukan nilai tukarnya maka pemerintah wajib memelihara nilai tukarnya tersebut sehingga nilainya tetap.
f. Didirikan International Monetery Fund (IMF) guna membantu Bank Sentral yang mengalami kesulitan keuangan dengan memberikan pinjaman sementara.
3) Floating Exchange Rate System
Dalam konsep ini nilai tukar valuta dibiarkan bergerak bebas. Dalam praktek terdapat dua jenis Floating Exchange Rate System yaitu :
a. Free Floating Exchange Rate System
Dalam sistem ini nilai tukar dibiarkan bergerak bebas. Pergerakannya sepenuhnya tergantung pada kekuatan penawaran dan permintaan pasar. Bank Sentral tidak melakukan intervensi ke pasar guna mempengaruhi nilai tukar mata uangnya.
b. Managed (Dirty) Floating Exchange Rate System
Pada sistem ini Bank Sentral dapat melakukan intervensi ke pasar guna mempengaruhi pergerakan nilai tukar valuta. Intervensi ini disebabkan karena kurs valuta dipandang tidak menguntungkan bagi perekonomian negara tersebut untuk mencegah akibat yang lebih buruk lagi.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian adalah langkah dan prosedur yang dilakukan dalam mengumpulkan informasi empiris guna memecahkan masalah dan menguji hipotesis dari penelitian.