BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.3 Perkembangan Suku Bunga LIBOR
Tingkat bunga dalam suatu perekonomian yang relatif kecil dan terbuka terhadap hubungan perekonomian dunia akan cenderung sama dengan tingkat bunga di pasar internasional. Perekonomian yang kecil dan terbuka seperti ini tidak dapat secara bebas menentukan tingkat bunganya sendiri. Keadaan ini menyebabkan tingkat bunga LIBOR harus ikut diperhitungkan oleh setiap negara sebagai faktor yang ikut berperan dalam menentukan tingkat suku bunga dalam negeri. Tingkat bunga domestik bergantung pada tingkat bunga internasional. Tingkat bunga domestik harus dapat secara umum berada lebih rendah daripada tingkat bunga internasional, sebab hal tersebut akan mengakibatkan pelarian modal (capital outflow), dimana apabila tingkat suku bunga LIBOR mengalami peningkatan maka capital inflow di Indonesia akan meningkat.
Perkembangan tingkat bunga LIBOR selama 20 tahun antara 1986 – 2005 dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Perkembangan Tingkat Suku Bunga LIBOR
Tahun LIBOR (%)
1987 8.12 1988 9.62 1989 8.25 1990 7.56 1991 6.23 1992 4.28 1993 3.68 1994 5.63 1995 6.25 1996 5.78 1997 6.06 1998 5.54 1999 5.73 2000 6.84 2001 3.85 2002 2.21 2003 1.35 2004 2.12 2005 4.02
Sumber : Bank Indonesia Tingkat suku bunga LIBOR menunjukkan fluktuasi yang naik turun, hal ini disebabkan krena perekonomian dunia yang terus berfluktuasi. Hal ini dapat dilihat dari tahun 1990 sampai dengan tahun 1993 LIBOR mengalami penurunan dan mulai naik kembali pada tahun 2005 karena dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia sehingga LIBOR mengalami kenaikan hingga 4,02 persen.
4.4. Perkembangan Inflasi
Krisis moneter yang telah melanda negara-negara ASEAN telah memporak- porandakan perekonomian negara-negara tersebut. Bahkan bagi Indonesia, akibat dari terjadinya krisis moneter yang kemudian berlanjut kepada krisis ekonomi dan politik
ini telah menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan terhadap sendi-sendi perekonomian nasional. Krisis moneter yang melanda Indonesia diawali dengan terdepresiasinya scara tajam nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama dollar Amerika, akiubat adanya domino effect dari terdepresiasinya mata uang Thailand (bath), salah satunya telah mengakibatkan terjadinya lonjakan harga barang- barang yang diimpor dari luar negeri. Lonjakan harga-harga barang yang diimpor ini menyebabkan hampir semua harga barang yang dijual di dalam negeri meningkat baik secara langsung maupun tidak langsung, terutama pada barang yang memiliki kadungan barang impor yang tinggi. Karena gagal mengatasi krisis moneter pada jangka waktu yang pendek, bahkan cenderung berlarut-larut mengakibatkan kenaikan tingkat harga terjadi secara umum dan berlarut-larut. Akibatnya angka inflasi nasional melonjak cukup tajam.
Lonjakan yang cukup tajam terhadap angka inflasi nasional yang tanpa diimbangi oleh kenaikan tingkat pendapatan nominal masyarakat, telah menyebabkan pendapatan riil rakyat semakin merosot. Juga pendapatan perkapita penduduk merosot relatif sangat cepat, yang menyebabkan Indonesia kembali masuk ke dalam golongan negara miskin. Hal ini telah menyebabkan semakin beratnya beban hidup masyarakat, khususnya pada masyarakat strata ekonomi bawah. Jika melihat begitu dashyatnya pengaruh lonjakan angka inflasi di Indonesia (akibat dari imported inflation yang dipicu oleh terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing) terhadap perekonomian nasional maka dirasa perlu untuk memberi perhatian ekstra terhadap permasalahan inflasi.
Perkembangan tingkat Inflasi selama 20 tahun antara 1986 – 2005 dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3 Perkembangan Tingkat Inflasi di Indonesia
Tahun Inflasi (%) 1986 8.84 1987 8.9 1988 5.47 1989 5.97 1990 9.53 1991 9.52 1992 4.94 1993 9.77 1994 9.24 1995 8.64 1996 6.47 1997 11.05 1998 77.63 1999 2.01 2000 9.35 2001 12.55 2002 10 2003 5.1 2004 5.7 2005 5.9
Sumber : Bank Indonesia Apabila inflasi meningkat maka akan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian suatu negara. Hal itu dapat kita lihat pada tahun 1998 dimana peningkatan inflasi meningkatkan penurunan PMA (FDI) yang sangat signifikan. Sebenarnya dampak ini terjadi tidak secara langsung. Karena peningkatan inflasi
mengakibatkan kondisi ekonomi dan politik di Indonesia menjadi kacau sehingga perekonomian dan politik Indonesia menjadi tidak stabil.
4.5. Nilai Tukar Rupiah
Apresiasi yang terjadi pada nilai tukar rupiah sangatlah baik bagi perekonomian nasional terutama stabilitas nilai tukar tersebut. Mengingat pentingnya stabilitas nilai tukar rupiah dalam upaya memperkokoh stabilitas makro ekonomi sekaligus memelihara kesinambungan proses pemulihan ekonomi.
Perkembangan nilai tukar rupiah dari tahun ke tahun mengalami pergerakan yang relatif melemah hingga terjadi krisis ekonomi yang melanda beberapa Negara di Asia Tenggara. Pada pasca krisis ekonomi yang melanda beberapa Negara di kawasan Asia Tenggara namun nilai tukar rupiah mengalami penguatan. Hal ini tidak terlepas dari konsistensi kebijakan ekonomi makro dan kebijakan stabilitas nilai tukar yang diupayakan oleh Bank Indonesia (BI). serta membaiknya faktor fundamental dan dipicu oleh membaiknya faktor-faktor sentiment.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih stabil dengan volatilitas menurun yang terjadi sejak tahun 2002 ternyata masih berlanjut di tahun 2003. Pergerakan rupiah yang terjadi pada pertengahan tahun 2004 sempat mengalami tekanan depresiasi yang dipicu oleh beberapa perkembangan Internasional dan Domestik sehingga pada tahun 2005 turun dari Rp. 9290/US$ menjadi Rp. 9830/US$.
Studi Bappenas (2004) menemukan, pada periode Januari 1990 sampai Agustus 2004 rupiah rata-rata terdepresiasi 18% terhadap Dollar AS (dengan standart
deviasi 58%), 22% terhadap Yen (dengan standart deviasi 51%) dan 7% terhadap Euro (dengan standart deviasi 9%). besarnya standart deviasi ini menunjukkan gejolak nilai tukar yang rentan terhadap faktor fundamental dan non fundamental.
Namun sejalan dengan perkembangan ekonomi yang semakin membaik, stabilitas moneter dapat terjaga, serta tidak terdapat gejolak sosial yang berarti. Hal ini tidak terlepas dari kondisi permintaan dan penawaran valuta asing masih rentan akibat beberapa permasalahan yaitu kondisi sektor keuangan yang mengalami likuiditas rupiah, faktor eksternal yang terkait dengan merebaknya ekspektasi masuknya ekonomi Amerika Serikat dalam siklus kebijakan moneter ketat, melambungnya harga minyak dunia, dan memanasnya suhu politik.
Perkembangan nilai tukar Rupiah selama 20 tahun antara 1986 – 2005 dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.
Tabel 4.4 Perkembangan Tingkat Nilai Tukar Rupiah
Tahun Kurs (Rp/US$)
1986 1641 1987 1650 1988 1729 1989 1795.48 1990 1901 1991 1992 1992 2062
1993 2110 1994 2200 1995 2308 1996 2383 1997 4650 1998 8025 1999 7100 2000 9595 2001 10400 2002 8940 2003 8465 2004 9290 2005 9830
Sumber : Bank Indonesia
Nilai tukar rupiah memiliki pengaruh positif terhadap PMA (FDI) di Indonesia. Namun pengaruh tersebut kecil dan terjadi secara tidak langsung. Hal ini dapat kita lihat dari tahun 1997 - tahun 1998 dimana kurs rupiah terhadap dollar amerika mengalami penurunan yang signifikan dan terjadi krisis ekonomi sehingga perekonomian di Indonesia menjadi tidak stabil.