K
utengadahkan wajahku ke atas, tertarik pada putaran beberapa daun kecoklatan yang berlomba terjun mengikuti keinginan angin. Dedaunan itu berputar-putar seperti membentuk beberapa huruf bersambung menandakan suatu kekaguman akan warna langit yang menjadi latarnya. Putaran demi putaran dedaunan yang berlomba menyentuh tanah dan tersungkur sujud tak kuasa menyusul dedaunan lain yang telah lama sampai, berserakan mengelilingi pohon kekar tempatku menyandarkan kelelahan keseharianku di sore itu.Lenganku tersentuh kasar pohon kekar nan kokoh dengan akarnya yang menghujam ke perut bumi. Ia seolah tak kan kalah oleh terpaan angin yang tiap saat menantangnya. Ia seakan takkan takluk oleh cengkeraman sinar mentari yang membakar permukaan bumi tempat akar sombong yang mencengkeram tanah dengan sangat kuat.
Aku bangga dengan pohon ini. Pohon favoritku. Hampir tiap sore aku berada di bawah pohon ini. Kenangan yang berlatar pohon ini sangat banyak. Menurut cerita ibuku, di sini lah aku pandai berjalan melangkah untuk yang pertama kalinya di atas permukaan bumi. Di sini aku sering bermain dalam asuhan kakek-nenek kala mereka mengunjungiku. Berlari, bernyanyi, dan bercerita segala hal. Tapi mereka sekarang telah tiada. Itu sudah lama sekali. Dan di sini aku selalu bermain dan bercanda dengan adik mungilku yang saat itu baru berumur 4 tahun. Tapi hal itu sudah setahun berlalu. Hanya tinggal kenangan yang membuat aliran air mata duka mengenang keceriaan adikku yang telah tiada.
“Akhh…” kuusap mata air bening di kedua sudut mataku.
Mereka yang tercinta dan terpatri dalam kenangan indah telah tiada bersama bayangan keindahan berlatar pohon rambutan ini. Aku bangga dengan pohon ini. Ingin rasanya, selalu berlama-lama di sini.
* * *
Malam itu kudengar sayup dari dalam kamar ibu berbicara dengan ayah sehabis kami makan malam. Ayah punya kebiasaan tak beranjak dari meja makan walau rutinitas itu telah selesai dilakukan.
“Besok pohon rambutan tua di belakang rumah itu akan ditebang. Ayah sudah menghubungi beberapa teman yang biasa menebang pohon besar. Mereka menggunakan mesin” ujar ayahku singkat.
“Besok kan ayah kerja” kata ibuku.
“Ayah minta cuti 3 hari, sekalian nanti halaman belakang dibersihkan dari sisa-sisa tebangan pohon. Pohon itu kan besar, jadi mungkin perlu beberapa hari membersihkannya, setelah mereka tebang “ jawab ayahku
Aku pun melepaskan buku catatan isikaku dan bergegas ke dapur. Mereka berdua memandangku. Wajahku pucat dengan nafas pendek memburu berkejar-
kejaran satu helaaan dengan helaan berikutnya. Udara yang keluar dari hidungku terasa panas tak percaya.
“Santi, ada apa…” ujar ibuku melepaskan piring yang sedang dicucinya. “Ada apa, Nak!” tambah ayahku.
Mulutku terasa terkunci. Ribuan kata di rongga mulutku seakan berebut ingin keluar dan tak mau antri satu per satu. Yang terdengar hanyalah napas pendek dan rongga dadaku yang penuh sesak oleh jutaan tanda tanya.
“Nak, ada apa…?” tanya ayah sambil bergegas menghampiriku yang hanya tiga langkah dari depannya berdiri. “Bu, ambil air..”
Seteguk air putih mengalir di kerongkonganku, membuatku agak lega, dan mulai mengatur napas normal pelan-pelan.
Mereka berdua terdiam dan saling pandang khawatir bercampur takut dan rasa trauma. Pandangan yang pernah kulihat saat adikku menarik napas perlahan dan pendek-pendek mengikuti irama jantungnya yang cepat saat tepat tengah malam setahun yang lalu.
“Nak, bicara…” ibu menguncang tubuhku.
Aku tersentak berusaha menenangkan diri. Sambil menarik napas pelan dan mengeluarkan perlahan.
“Ayah akan menebang pohon rambutan itu,” ujarku terbata sambil mengangkat lemah jari telunjuk yang kuarahkan ke sudut ruang dapur tepat pohon itu berdiri.
“Ya, Santi” jawab ayahku singkat. “Jangan, Yah” ujarku sedih.
“Mengapa? Ada apa Santi. Menebang pohon itu biasa. Lagipula Ayah beberapa kali diberitahu oleh orang untuk menebang pohon itu. Pohon itu membawa keburukan bagi keluarga kita. Kamu ingat Santi, dulu kakekmu sakit setelah bermain denganmu di bawah pohon itu menjelang sore. Tiga hari kemudian meninggal. Kemudian menyusul nenekmu yang selalu sakit-sakitan karena tak tahan ditinggal kakek. Pohon itu pohon terlarang,” bela ayah.
“Yah, jangan tebang, Yah… Santi mohon,” pintaku lemah. Ayah hanya diam. Dan berlalu ke kamarnya.
* * *
Selama berada di sekolah, perasaanku tak seperti biasanya. Pulang cepat, itu keinginanku. Waktu seolah terasa lama sekali berjalan. Pikiranku hanya terfokus pada pohonku, pohon rambutan kesayanganku.
* * *
Kupacu lariku sekuat tenaga, ingin terbang rasanya. Terengah kugapai halaman depan rumah. Penuh selidik, langsung berjalan perlahan ke belakang rumah. Dan…
ternyata pohon… itupun telah rata dengan tanah. Pandanganku langsung kabur. Otakku berputar-putar tak menentu. Kugapai dinding dapur rumah dengan tangan kiriku untuk menopang tubuhku yang gontai lemas, tak berdaya. Tubuhkupun berangsur perlahan rata dengan tanah. Gelap… seketika....
* * *
Akupun membuka kelopak mata perlahan. Yang pertama kulihat adalah ibuku yang matanya merah berair, tanda ia sudah menangis agak lama. Kemudian ayah dan beberapa orang paman dan bibiku. Terasa muka lengan sikuku sakit. Ternyata di situ ada jarum infus yang mengalirkan cairan bening ke dalam tubuhku. Hidungku ditempeli semacam benda kecil dengan tabung transparan yang bergelembung di sisi kiriku. Ternyata aku telah dua hari di rumah sakit. Sehari kemudian aku keluar.
* * *
“Pohon itu pohon terlarang, Santi. Begitu kata orang-orang tua di kampung ini. Coba kamu ingat kepergian adikmu sehari setelah kau ajak bermain di bawah pohon itu. Ia meninggalkan kita sehari setelah itu,” ayah berujar beberapa hari setelah aku pulang dari rumah sakit.
Setahuku adik dan aku memang hampir setiap hari bermain di bawah pohon itu, apalagi saat pohon itu berbuah. Guru agamaku menjelaskan ajal itu ketentuan Allah. Tak disebabkan faktor lain. Tak ada campur tangan manusia atau makhluk manapun. Tak ada urusan dengan pohon yang kata ayah merupakan pohon terlarang. Yang jelas aku tak menerima penjelasan ayah sedikit pun. Tapi aku pun tak berani beradu pendapat dengan ayah. Aku memang masih berumur 13 tahun, tapi untuk hal-hal sederhana seperti itu semua orang pun mengerti dan memahaminya. Akupun tak menyalahkan ayahku, mungkin ia terlalu terpukul dengan kepergian adikku.
Hari-hari kulalui dengan tak seriang hari-hari sebelumnya. Sepulang sekolah tak bisa aku berteduh di bawah pohon idolaku. Tak bisa aku membaca sambil melihat tingkah sekelompok burung gereja yang berlompatan memperebutkan makanan mereka. Tak bisa aku merasakan hembusan angin sore mengiringi arakan gumpalan awan putih nun jauh di atas sana. Seharian aku berada di dalam rumah. Aku tak menyalahkan siapa-siapa.
Tiap sore kusaksikan ayah berpeluh harus mengambil air dengan ember besar di tempat yang agak jauh dari rumah. Sumur kami yang terletak tujuh meter dari pohon favoritku kering. Mungkin inilah realisasi teori dari guru biologiku, bahwa pepohonan membantu menyiapkan stok air di dalam tanah. Kasihan kulihat peluh yang membasahi wajah ayah.
Pohon rambutan kesayanganku Pohon favoritku
Pohonmu sangat rimbun
Tempat aku berteduh di saat terik matahari Tempatku berkeluh kesah akan kekesalanku Tempatku bermain dengan kakek nenek dan adikku Tempat semua kenangan itu terpatri
Kau seakan menjadi saksi bisu semua kenangan itu Batangmu yang sangat tinggi
Sering kami gunakan untuk memanjat Seiring berjalannya waktu
Batangmu menjadi rapuh
Tapi tak pernah menghilangkan kesan kekokohanmu Sama seperti kenangan itu
Kenangan yang tak akan lekang dimakan waktu Biarkan semuanya menjadi kenangan indah Bersama dengan orang yang aku sayangi
Kubaca ulang puisi yang kutulis semasih duduk di bangku sekolah dasar, saat indah terbayang bersama kakek, nenek, dan adik mungilku tersayang di bawah pohon rambutan itu. Tapi akhirnya lama-kelamaan kusadari pohon itu bukan pohon terlarang untuk ditebang. Bukan pohon terlarang untuk diratakan dengan tanah. Semua kenangan biarlah selalu hidup di sanubariku lengkap dengan pohonnya. Tapi yang jelas tidak ada hubungan kehilangan orang yang kami cintai dengan pohon itu. Semua urusan ALLAH. Ayahpun akhirnya bertobat untuk hal itu. Aku bahagia dan tenang.
Tengah malam itu napasku berat, jantungku berdebar cepat. Darahku mengalir cepat di seluruh permukaan nadiku. Kudengar sayup ayah dan ibuku menangis keras memelukku bergantian. Air mata mereka yang hangat, sehangat limpahan sayang yang kurasakan selama ini. Suara mereka semakin keras.
Gelap… Gelap… Gelap…
“Kak Santi… Kak Santi…!” suara yang selalu kurindukan sayup terdengar. Dari kejauhan …. Adikku berlari kecil meghampiriku, mengajakku bermain di bawah pohon itu. Kurangkul, kupeluk ia erat-erat…. [*]
Lies Ramadhanty
Tempat Tinggal, Seolah, dan Teman-temanku
Aku inggal di sebuah pulau kecil yang terkenal
karena kendahan panoramanya. Sebuah pulau yang mash asr, udaranya mash segar bebas dar polus dan
bebas dari kemacetan seperi layaknya kota–kota besar.
Pulau tercntaku n lebh dkenal dengan nama “Neger Laskar Pelang “. Sebuah pulau yang namanya terangkat karena seorang Novels bernama Andrea Hirata. Ya, Pulau Beltung.
Pulau Beltung juga dkenal sebaga Pulau penghasl Tmah. Juga ada batu meteord yang d temukan d daerahku n, basanya dkenal masyarakat pulau Beltung dengan Batu Satam. Pulau Beltung memlk kendahan panorama yang luar basa panta
–pantai yang masih indah dengan pasir puih dan laut birunya, juga keindahan bawah laut
yang luar basa. Panta Tanjung Tngg, Panta Tanjung Kelayang, serta Pulau Lengkuas dan
Pulau Babi adalah objek wisata yang wajib dikunjungi keika berada di Belitung.
Beltung mempunya tujuh kecamatan. Salah satunya adalah Tanjungpandan. Aku
inggal di salah satu jalan yang bernama Jalan Murai. Di jalan Murai ini juga tersembunyi salah satu objek wisata yang biasanya di kunjungi wisatawan: Danau Biru/Kolong Biru. Tempat ini
memlk panorama yang ndah dan cocok jka djadkan latar untuk mengabadkan momen
indah keika berkunjung ke sana.
Aku inggal di sebuah rumah yang menurutku adalah tempat paling indah sedunia.
Rumahku unk, memlk cat yang berwarna–warn, berbeda antara dndng satu dengan dndng yang lannya dan halaman yang cukup luas. Cat yang warna–warn seakan
menggambarkan bahwa keadaan keluarga ini yang inggal di dalamnya memiliki warna–
warn kehdupan, bak suka maupun dukanya.
Aku inggal di lingkungan masyarakat yang masih menjunjung inggi rasa kebersamaan, solidaritas serta toleransi yang masih inggi. Ramah tamah akan sesama warga masih terlihat
jelas dsn. Ikatan persaudaraan antar keluarga dsn sangat kuat. Kegatan gotong royong mash serng dlaksanakan dsn. Salng pedul akan sesama warga sangat dbutuhkan dan tulah yang terjad dsn.
Aku bersekolah d salah satu Sekolah Menengah Atas ( SMP ) yang ada d Beltung atau lebh tepatnya Tanjungpandan. SMP Neger 2 Tanjungpandan nlah nama sekolah yang merupakan tempatku menempa dr. Sekolah n memlk lngkungan yang mash asr, ndah, bersh dar sampah berserakan, jauh dar hruk pkuk kendaraan yang berlalu lalang, serta salah satu sekolah terluas dan memlk fasltas terlengkap d daerahku. Sekolah n memlk guru–guru yang berkualtas serta profesonal. Sekolah n juga dlengkap dengan fasltas WF yang bsa membantu para sswa maupun guru dalam proses belajar.
Sekolahku ini menembus nominasi sekolah sehat ingkat Nasional. Bangga? Jangan
d tanya lag. Keunkan Sekolahku yang tak dmlk sekolah lan adalah plar-plarnya yang mengellng bangunan sekolah dengan lafaz Asmaul Husna. Kelebhan sekolahku memang banyak, antara lan: memlk prestas bak akademk maupun non akademk, memlk banyak ekstrakulkuler yang bsa mendukung mnat dan bakat sswa yang bersekolah d sana, memlk delapan belas kelas yang dlengkap dengan fasltas-fasltas pembelajaran
lannya, memlk Perpustakaan dengan banyak buku bacaan –mula dar agama, lmu
pengetahuan, sampai novel—dan selalu ramai dikunjungi para siswa siswi pada waktu isirahat, memiliki ruang keterampilan yang biasanya digunakan para siswa untuk praktek
memasak serta, memlk ruang kesenan berfasltas lengkap –mula alat band hngga Marching Band-- yang dgunakan sswa dalam belajar Sen Budaya, memlk Laboraturum TIK, Laboraturum IPA Fska–Kma, Laboraturum IPA Bolog serta Laboraturum Bahasa, memlk fasltas olahraga yang lengkap dar mula lapangan hngga alat-alat olahraga
lainnya, memiliki program OSIS yang dilaksanakan seiap Tahun –Ngenjungak.
Ngenjungak adalah lomba membaca certa Beltung yang bertujuan untuk melestarkan budaya serta bahasa Melayu dan juga dgunakan untuk menyampakan pesan moral yang
ada pada seiap cerita kepada para pendengar.
Sekolahku pun dkelola dengan sangat bak. Warga sekolah memlk kerjasama yang bak sehngga sekolah n menjad sekolah yang luar basa bak dmata kam maupun orang lan.
Aku dan Teman-temanku
Dar batu aku belajar ketegaran. Dar ar aku belajar ketenangan. Dar kegelapan aku
belajar keberanian dan dari seorang sahabat seperimulah aku belajar ari hidup. Sahabat
atau teman adalah seseorang yang sangat dekat denganmu. Melalu suka dan duka
bersama. Dan keika perpisahan itu datang bukan berari putus hubungan dan akhir dari
segalanya. Jadkan perpsahan tu sebaga kenangan yang takkan terlupakan dhdup kta dan perpsahan tu sendr akan memberkan pelajaran bag kta agar dapat berbuat bak terhadap mereka selag bersama.
Persahabatan atau pertemanan adalah sebuah katan yang terjaln atas dasar kash
sayang. Persahabatan seperi lingkaran tak berujung, dikala kita senang dan sakit mereka
selalu memberkan warna-warn kehdupan d hdup kta. Mereka bagakan matahar d sang har dan bagakan bntang dkala malam yang selalu member snar ketentraman d jwa.
Aku memlk teman serta sahabat yang selalu memberkan dukungan kepadaku dan memberkan pelukan dsaat aku terpuruk. Aku memlk banyak sahabat, bak dsekolah, d tempat les, ataupun d jejarng sosal. Teman-temanku memlk cr khas sendr bak dar
gaya berbicara maupun ingkah lakunya, mulai dari yang sering berbicara hingga pendiam,
dar yang suka bercanda hngga yang serus.
Beberapa orang yang palng dekat denganku, atas dasar kash sayang, membentuk
sebuah kelompok yang berawal dari keidaksengajaan. Sampai sekarang hubungan
persahabatan kam sudah berjalan hampr satu tahun. KSJ atau “Komuntas Sedare Jal” merupakan nama kelompok kam yang terbentuk pada tanggal 11 November 2011. Tdak
ada persahabatan yang idak mengalami cobaan dalam mempertahankan keutuhan
persahabatan tu. Aku bersyukur kam bsa mempertahankannya sampa sekarang.
Membentuk suatu kelompok bukan berari kami hanya berteman dengan sesama
anggota kelompok tu saja. Salah besar jka mereka yang berada d dalam kelompok tu
memiliki prinsip seperi itu. Aku dan sahabat-sahabatku selalu membaur dengan teman-
teman lannya. Aku mempunya teman yang sangat konyol menurutku, da bernama Rocky, seseorang yang bsa menghbur kam dengan segala kekonyolannya. Tap, d balk tu semua
dia merupakan orang yang bisa memberikan moivasi kepada teman-teman lainnya.
pertemanan itu sendiri, karena teman itu segalanya. Mereka menempai sebuah ruang yang ada di hai kita. Saat mereka menghilang, kita akan merasa ada yang kurang dalam diri
kta har tu. Maka dar tu, jaga temanmu sebak mungkn karena mereka segala-galanya bagmu.
Aku, Keluargaku, dan Kebiasaanku
Aku memiliki kebiasaan sehari-hari yang hampir sama seperi anak seumuranku. Masih
berstatus sebaga pelajar membuatku memlk sebuah kewajban yang harus dlaksanakan dar har Senn hngga Sabtu: sekolah. Aku pulang sekolah sektar pukul 13.45. pulang sekolah basanya kulanjutkan dengan kegatan ekstrakulkuler atau pun les. Aku memlk
cukup banyak kegiatan seiap harinya sehingga membuatku harus pintar-pintar membagi
waktu. Aku bangun pukul 04.20 pag, dlanjutkan dengan melaksanakan kewajbanku
sebagai seorang muslim, mandi, pergi sekolah dan lain-lain. Begitulah seiap hariku. Malam hari, keika ingin idur, aku mempunyai kebiasaan harus membaca sebelum idur, jika idak aku idak akan bisa teridur.
Aku inggal bersama kedua orang tuaku serta seorang adik perempuan. Keluarga kami memiliki kebiasaan yang idak jauh berbeda dengan keluarga-keluarga lainnya. Semua kegiatan seperi sudah terjadwal, mulai pagi hari hingga ke pagi lagi. Ayah dan
buku bekerja sebaga guru. Adkku sekarang sedang menempa dr dsebuah SD kelas 6. Banyaknya kegatan yang aku lakukan d luar rumah membuatku kadang bertemu mereka semua d sore har dan waktu tu aku manfaatkan sebak-baknya jangan sampa ada yang terbuang sa-sa.
Ayahku basanya bangun lebh pag dar kam semua, sektar pukul empat pag. Sedangkan aku, buku, serta adkku basanya bangun pukul empat lewat lma belas atau
setengah lima pagi. Setelah sholat subuh kami sekeluarga mempunyai ruinitas yang wajib dilakukan seiap hari yaitu minum kopi atau energen bersama. Biasanya, juga di hari Minggu, aku dan keluargaku memiliki ruinitas yang dilakukan yaitu membersihkan rumah bersama. Jika idak, kami akan pergi ke pantai untuk refreshing. Keluargaku merupakan keluarga yang sederhana tap kompak dan salng menyayang. Hal tu juga yang membuat keluargaku lebh ndah. I love my family.
Menulis dan Buku Bacaanku
Menuls menjad salah satu kegatan yang aku lakukan dalam memanfaatkan waktu
senggang. Aku mulai akif menulis semenjak kelas 7, yah waktu yang cukup singkat. Bermula dari coba-coba, menulis akhirnya menjadi ruinitas. Ini dimulai dari rasa penasaran, yaitu ingin juga membuat suatu tulisan. Aku hanya berbekal kata-kata “Kenapa idak? Mereka bisa aku juga pasi bisa”.
Tulsanku belum pernah dmuat dmana-mana. D daerahku belum ada meda yang
bisa menjadi wadah dari hasil karya-karya penulis amairan seperiku. Aku hanya senang
mengexpose tulisan-tulisanku di media sosial seperi blogger serta facebook yang memang aku buat untuk menyalurkan hobku tu.
Sampa sekarang aku sudah pernah membuat cerpen, pus, dan karya tuls. Jujur aku
idak pernah menghitung berapa karya yang sudah aku buat. Mungkin yang aku ingat hanya
lma. Itu pun juga yang pernah dkutsertakan dalam lomba. Impanku sekarang hanya satu: menjad seorang penuls yang mempunya buku novel yang aku cptakan sendr.
pengetahuan, membaca merupakan kegatan yang bak jka dlakukan untuk mengs waktu luang. Salah satu hobku adalah membaca terutama membaca novel serta cerpen yang aku baca d nternet. Sakng hobnya membaca, aku sampa-sampa memlk perpustakaan prbad d kamarku. D lemar dapur, aku juga memlk banyak buku, mula dar komk hngga majalah-majalah. Kam sekeluarga juga memlk hob membaca. Jad jangan heran jka d rumahku buku berserakan d sana-sn.
Di sekolah aku juga hobi mengunjungi perpustakaan. Hampir seiap hari aku keluar-
masuk perpustakaan untuk memnjam buku. Sampa sekarang buku tertebal yang pernah kubaca adalah buku Harry Poter 7 (sektar 999 halaman). Penuls favortku ada dua yatu
Stephanie Zen dan Andrea Hirata. Buku yang pernah aku baca dari tahun 2011 – 2012 idak