Bab 2 Dupa, Altar, dan Sembahyang
4. Lima Pedoman Kehidupan akan Kebajikan
Wu Chang (ŭ cháng 五 常 ) adalah Lima Pedioman Kehidupan akan kebajikan ajaran agama Khonghucu atau Lima Kebajikan Alami Lestari yang mengacu pada benih-benih kebajikan watak sejati, yakni Cinta Kasih, Kebenaran, Susila, Bijaksana (Ren, Yi, Li, Zhi (rén ì lĭ cë 仁義禮智/仁义礼智)) ditambah dengan sikap yakin dan percaya akan kebenaran itu serta konsekuen dan dapat dipercaya (Xin) , Konsekuen dan Konsisten dalam implementasinya sehingga menjadi Lima Pedoman Kebajikan dalam kehidupan manusia.
Sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, sejak terlahir ke atas dunia, manusia telah dibekali sifat-sifat mulia berupa Watak Sejati (Xing (sìng 性)). Di dalam Watak Sejati ini terkandung benih-benih Kebajikan, yang harus dikembangkan atau diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari.
Kebajikan inilah yang menjadi kekuatan bagi kehidupan seseorang, sehingga apabila terus-menerus dikembangkan, niscaya semakin memantapkan iman di dalam dirinya. Demikian hakikat kemanusiaan tiap mausia menjadi kehendak-Nya atas penjadian mausia, berbuat selaras dengan-Nya itulah Jalan Suci manusia, dan bimbingan pembinaannya adalah dalam Agama.
Lima Pedoman Kehidupan akan Kebajikan (Wu Chang (ŭ cháng 五常)) terdiri atas:
1. Cinta Kasih (Ren (rén 仁) )
Cinta Kasih diartikan Tatanan Hubungan antar Manusia, kebaikan dari manusia ke manusia, pemurah hati, cinta dan juga diartikan sebagai berhati manusiawi.
Rasa Berbelas Kasihan yang berarti rasa dan hasrat kecenderungan guna memberi dan menerima kasih sayang antara sesama manusia (basis solidaritas humanis) yang merupakan simpati dan perasaan paling dlam pada diri manusia, yang murni dan tulus, ikhlas dan selaras dalam kemanusiaan (Hakiki atas hubungan manusia ), Kebaikan yang patus dan layak ada dalam hubungan antar manusiaini bisa berarti tata dasar kemanusiaan yang diharapkan juga diterima (Etika Moral) .
Lima pedoman cinta kasih:
1. Hormat: Orang yang berlaku hormat, niscaya tidak terhina
3. Dapat dipercaya: Orang yang dapat dipercaya, niscaya mendapat kepercayaan orang
4. Cekatan: Orang yang cekatan, niscaya berhasil pekerjaannya
5. Bermurah hati: Orang yang bermurah hati, niscaya diturut perintahnya Empat sifat yang dekat dengan cinta kasih: 1. Sifat keras kemauan, 2. Tahan uji, 3. Sederhana, 4. Tidak mudah mengucapkan kata-kata.
2. Kebenaran (Yi (ì 义))
Kebenaran diartikan Kewajiban Moral dasar manusia, rasa solidaritas, rasa senasib sepenanggungan dan rasa membela kebenaran. Kebenaran meliputi:
1. Rasa malu dan tidak suka: yang berarti risih untuk ingkar dari kewajiban moral dantdak bisa menerima apabila demikian, ada panggilan naluri untuk menjunjung tinggi pelaksanaan (tekad) tidak mau melanggar.
2. Kebenaran/keadilan/kewajiban: dasar acuan dan hukum hubungan antar manusia, kaidah memperhatikan timbal balik tenggang rasa, kewajiban akan sesuatu, karena harus dan layak, jalan utama dalam menempuh kehidupan.
3. Budi pekerti yang baik: yang dijunjung dan menjadi pegangan dalam hidup manusia dalam bermasyarakat dengan sesama (Hukum/aturan hidup).
3. Kesusilaan (Li (lĭ 礼))
Kesusilaan diartikan norma-norma kepantasan dalam bertindak atau berting-kah laku, tatanan peribadahan melingkupi penggenapan kodrat kemanusiaan dalam seluruh aspek kehidupan, tingkah laku sebagai insan Tian.
Kesusilaan meliputi:
1. Rasa hormat dan mengindahkan. Yaitu Suatu rasa untuk membedakan dalam bertingkah laku dengan mengacu pada tatanan peringkat guna mewujudkan hubunganyang “Indah” dan landasan dasar dalam berbuat dengan tidak melanggar Firman-Nya.
2. Kesusilaan, yaitu aturan hidup/tata karma/sopan santun yang menjadi sumber kelayakan/kepantasan sebagai mahluk social, saling menghormati dan patuh pada norma hidup insan berbudaya, membina diri, dalam batas-batas kesusilaan.
3. Upacara, yaitu panggilan suci untuk senantiasa bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa, Nabi dan leluhur, yang mewujudkan iman dan taqwa dalam kehidupan sehari-hari.
4. Kebijaksanaan (Zhi (cё 知))
Kebijaksanaan dimaknai dengan perilaku atau perbuatan dalam kehidupan sehari-hari yang tepat memenuhi sasaran. Kebijaksanaan diartikan pula adil tidak memihak atau arif. Sebagai pengetahuan akan “pola benar”, konsep Tian akan semesta dan semua mempunyai implikasi yang luas mencakup seluruh pola laku manusia dan norma sosial dalam kebijaksanaan sejati.
Kebijaksanaan meliputi:
1. Rasa hati membenarkan dan menyalahkan
Rasa nurani untuk membedakan yang benar dan yang salah, untuk kemudian memegang yang benar, dari sinilah kebijaksanaan berawal dan ini mencakup sikap Agamis, Filosofis dan pengetahuan.
2. Kearifan dan kepandaian
Suatu bekal manusia selaras denga Tian, Bumi dan manusia, dalam harmonis daya hidup rohani dan jasmani, menyelaraskan hidup dalam jalan suci dan menggenapi hukum Tian atas semesta, demikian manusia dan perintah-Nya atas manusia yang dicari dalam agama dan ilmu pengetahuan.
3. Kebijaksanaan
Naluri belajar dan berlatih untukmencapai kebenaran hakiki, dalam kehidupan agama dan dunia Ilmu pengetahuan, mencakup Jalan Suci Tian dan Hukum Suci Tian yang tertuang dalam pola kaji dan konsep pikir terpadu antara pengetahuan dan perbuatan yang menjadi maha Kurnia-Nya.
Untuk memperoleh suatu kebijaksanaan dapat dicapai dengan belajar dari pengalaman hidup yang ada di sekitar kita. “Suka belajar itu mendekatkan kita kepada Kebijaksanaan.” (Zhongyong – Tengah Sempurna XIX: 10) Tingkatan Kebijaksanaan:
Tingkat Pertama : Orang yang sejak lahir sudah bijaksana
c. Tingkat Ketiga : Orang yang setelah menanggung sengsara, lalu belajar, lalu bijaksana.
5. Dapat dipercaya (Xin (sìn 信))
Dapat dipercaya diartikan selalu mempunyai sikap percaya dan dapat dipecaya dalam berbagai tatanan hubungan baik dalam laku dan kata. Di mana seseorang tidak hanya percaya pada dirinya sendiri, tetapi juga harus dapat dipercaya oleh orang lain, dan untuk dapat dipercaya orang lain, ia harus menunjukkan moralitas yang baik dalam lingkungan, dimana ia tinggal. Sehingga demikian tumbuh suatu keyakinan akan sikap tabah dah tahan uji, kemantapan untuk tidak mengecewakan dan niat menepati dan menggenapi, tidak berpura-pura, munafik dan semu dalam menjalankan kebajikan.
Dapat dipercaya meliputi:
1. Berlaku jujur pada diri sendiri: rasa untuk konsekuen bertanggung jawab pada diri sendiri akan watak sejatinya, predikat dirinya, perbuatan dan perkataannya, satya pada Firman-Nya.
2. Ketulusan: rasa percaya akan prinsip moral kebajikan dan membangun hubungan dengan manusia atas dasar hubungan percaya dan dapat dipercaya, kemurnian bulat dan utuh dalam hidup beragama dan aspek kehidupan lain seperti bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
3. Keyakinan: inilah padanan kata Iman dalam terminologi agama, sikap yakin dan tak meragukan, dibarengi laku konsekuen yang tulus dan bulat untuk tidak tergoyahkan oleh segala godaan dan tantangan, menjadi satu kesatuan sikap memenuhi kodrati manusia, dalam hubungan dengan Tian, Bumi sebagai sarana dan Manusia.