• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lima Puluh Ke Empat I. Indria-Indria

Dalam dokumen Jilid 2 - Buku 4 pdf 3 MB (Halaman 184-200)

151 (1) Indria

“Para bhikkhu, ada empat indria ini. Apakah empat ini? Indria keyakinan, indria kegigihan, indria perhatian, dan indria konsentrasi. Ini adalah keempat indria itu.”220

152 (2) Keyakinan

“Para bhikkhu, ada empat kekuatan ini. Apakah empat ini? Kekuatan keyakinan, kekuatan kegigihan, kekuatan perhatian, dan kekuatan konsentrasi. Ini adalah keempat kekuatan itu.” [142] 153 (3) Kebijaksanaan

“Para bhikkhu, ada empat kekuatan ini. Apakah empat ini? Kekuatan kebijaksanaan, kekuatan kegigihan, kekuatan ketanpa-celaan, dan kekuatan mempertahankan hubungan baik. Ini adalah keempat kekuatan itu.”

154 (4) Perhatian

“Para bhikkhu, ada empat kekuatan ini. Apakah empat ini? Kekuatan perhatian, kekuatan konsentrasi, kekuatan ketanpa-celaan, dan kekuatan memelihara hubungan baik. Ini adalah keempat kekuatan itu.”

155 (5) Refleksi

“Para bhikkhu, ada empat kekuatan ini. Apakah empat ini? Kekuatan refleksi, kekuatan pengembangan, kekuatan ketanpa-celaan, dan kekuatan memelihara hubungan baik. Ini adalah keempat kekuatan itu.”

156 (6) Kappa

“Para bhikkhu, ada empat pembagian yang tak terhitung dari satu kappa.221 Apakah empat ini?

(1) “Masa ketika satu kappa menyusut, yang tidak dapat dengan mudah dihitung sebagai ‘berapa tahun’ atau ‘berapa ratus tahun’ atau ‘berapa ribu tahun’ atau ‘berapa ratus ribu tahun.’222

(2) “Masa ketika satu kappa tetap berada pada tahap penyusutan, yang tidak dapat dengan mudah dihitung sebagai ‘berapa tahun’ atau ‘berapa ratus tahun’ atau ‘berapa ribu tahun’ atau ‘berapa ratus ribu tahun.’

(3) “Masa ketika satu kappa mengembang, yang tidak dapat dengan mudah dihitung sebagai ‘berapa tahun’ atau ‘berapa ratus tahun’ atau ‘berapa ribu tahun’ atau ‘berapa ratus ribu tahun.’

(4) “Masa ketika satu kappa tetap berada pada tahap pengembangan, yang tidak dapat dengan mudah dihitung sebagai ‘berapa tahun’ atau ‘berapa ratus tahun’ atau ‘berapa ribu tahun’ atau ‘berapa ratus ribu tahun.’

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat pembagian yang tak terhitung dari satu kappa.”

157 (7) Penyakit

“Para bhikkhu, ada dua jenis penyakit ini. Apakah dua ini? [143] Penyakit jasmani dan penyakit batin. Orang-orang dapat mengaku menikmati kesehatan jasmani selama satu, dua, tiga, empat, dan lima tahun; selama sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, dan lima puluh tahun; dan bahkan seratus tahun atau lebih. Tetapi selain daripada mereka yang noda-nodanya telah dihancurkan, adalah sulit untuk menemukan orang-orang di dunia yang dapat mengaku menikmati kesehatan batin bahkan untuk sesaat.

“Ada, para bhikkhu, empat penyakit ini yang ditimbulkan oleh seorang bhikkhu. Apakah empat ini? (1) Di sini, seorang bhikkhu memiliki keinginan-keinginan yang kuat, mengalami kesusahan, dan tidak puas dengan segala jenis jubah, makanan, tempat tinggal, atau obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit.223 (2) Karena ia memiliki keinginan-keinginan yang kuat, mengalami kesusahan, dan tidak puas dengan segala jenis jubah, makanan, tempat tinggal, atau obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit, maka ia menyerah pada keinginan jahat demi pengakuan dan demi perolehan, kehormatan, dan pujian. (3) Ia membangkitkan dalam dirinya, berjuang, dan berusaha untuk memperoleh pengakuan dan

Buku Kelompok Empat II 144 184

perolehan, kehormatan, dan pujian. (4) Ia dengan licik mendatangi keluarga-keluarga, dengan licik ia duduk, dengan licik ia membabarkan Dhamma, dan dengan licik ia menahankan desakan untuk buang air besar dan air kecil.224 Ini adalah keempat penyakit yang ditimbulkan oleh seorang bhikkhu.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami tidak akan memiliki keinginan-keinginan yang kuat atau mengalami kesusahan, dan kami tidak akan menjadi tidak puas dengan segala jenis jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Kami tidak akan menurut pada keinginan jahat demi pengakuan dan demi perolehan, kehormatan, dan pujian. Kami tidak akan mengerahkan diri kami, berjuang, dan berusaha untuk memperoleh pengakuan dan perolehan, kehormatan, dan pujian. Kami akan dengan sabar menahankan dingin dan panas; lapar dan haus; kontak dengan lalat, nyamuk, angin, panas matahari, dan ular-ular; ucapan-ucapan yang kasar dan menghina; kami akan menahankan perasaan jasmani yang muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas seseorang. Dengan cara inilah, para bhikkhu, kalian harus berlatih.” 158 (8) Kemunduran

Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, [144] para bhikkhu!”

“Teman!”, para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

“Teman-teman, bhikkhu atau bhikkhunī mana pun yang menjalankan empat hal dalam pikiran dapat sampai pada kesimpulan: ‘Aku mundur dalam hal kualitas-kualitas bermanfaat. Ini disebut kemunduran oleh Sang Bhagavā.’ Apakah empat ini? Berlimpahnya nafsu, berlimpahnya kebencian, berlimpahnya delusi, dan mata kebijaksanaannya tidak menapak dalam hal-hal mendalam pada apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin.225

Bhikkhu atau bhikkhunī mana pun yang menjalankan empat hal dalam pikiran dapat sampai pada kesimpulan: ‘Aku mundur dalam hal kualitas-kualitas bermanfaat. Ini disebut kemunduran oleh Sang Bhagavā.’

“Teman-teman, bhikkhu atau bhikkhunī mana pun yang menjalankan empat hal dalam pikiran dapat sampai pada kesimpulan: ‘Aku tidak mundur dalam hal kualitas-kualitas bermanfaat. Ini disebut ketidak-munduran oleh Sang Bhagavā.’ Apakah empat ini? Berkurangnya nafsu, berkurangnya kebencian, berkurangnya delusi, dan mata kebijaksanaannya menapak dalam hal-hal mendalam pada apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin. Bhikkhu atau bhikkhunī mana pun yang menjalankan empat hal dalam pikiran dapat sampai pada kesimpulan: ‘Aku tidak mundur dalam hal kualitas-kualitas bermanfaat. Ini disebut ketidak-munduran oleh Sang Bhagavā.’”

159 (9) Bhikkhunī

Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di Kosambī di Taman Ghosita. Kemudian seorang bhikkhunī tertentu memanggil seorang laki-laki sebagai berikut: ‘Pergilah, Sahabat, datangilah Guru Ānanda dan bersujudlah atas namaku dengan kepalamu di kakinya. Kemudian katakan: ‘Bhante, seorang bhikkhunī sedang sakit, menderita, sakit keras. Ia bersujud kepada Guru Ānanda dengan kepalanya di kaki Guru Ānanda.’ Kemudian katakan: ‘Baik sekali, Bhante, jika, demi belas kasihan, Guru Ānanda sudi mengunjungi bhikkhunī itu di kediaman para bhikkhunī.’”

“Baik, Nyonya Mulia,” orang itu menjawab. Kemudian ia mendatangi Yang Mulia Ānanda, [145] bersujud kepadanya, duduk di satu sisi, dan menyampaikan pesannya. Yang Mulia Ānanda menyanggupi dengan berdiam diri.

Kemudian Yang Mulia Ānanda merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan pergi ke kediaman para bhikkhunī. Ketika bhikkhunī itu dari jauh melihat kedatangan Yang Mulia Ānanda, ia menutup tubuhnya dari kepala dan berbaring di atas tempat tidurnya.226 Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi bhikkhunī itu, duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata kepadanya:

“Saudari, tubuh ini berasal-mula dari makanan; dengan bergantung pada makanan, maka makanan harus ditinggalkan. Tubuh ini berasal mula dari ketagihan; dengan bergantung pada

Buku Kelompok Empat II 146 186

ketagihan, maka ketagihan harus ditinggalkan. Tubuh ini berasal-mula dari keangkuhan, dengan bergantung pada keangkuhan, maka keangkuhan harus ditinggalkan. Tubuh ini berasal-mula dari hubungan seksual, tetapi sehubungan dengan hubungan seksual Sang Bhagavā telah menyatakan pembongkaran jembatan.227

(1) “Ketika dikatakan: ‘Tubuh ini, Saudari, berasal-mula dari makanan; dengan bergantung pada makanan, maka makanan harus ditinggalkan,’ karena alasan apakah hal ini dikatakan? Di sini, Saudari, dengan merefleksikan secara seksama, seorang bhikkhu mengkonsumsi makanan bukan demi kesenangan juga bukan demi kemabukan juga bukan demi penampilan baik dan kemenarikan fisik, melainkan hanya demi menyokong dan memelihara tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk membantu kehidupan spiritual, dengan pertimbangan: ‘Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama dan tidak memunculkan perasaan baru, dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan berdiam dengan nyaman.’ Beberapa waktu kemudian, dengan bergantung pada makanan, ia meninggalkan makanan.228 Ketika dikatakan: ‘‘Tubuh ini, Saudari, berasal-mula dari makanan; bergantung pada makanan, maka makanan harus ditinggalkan,’ adalah karena hal ini maka pernyataan itu dikatakan.

(2) “Ketika dikatakan: ‘Tubuh ini berasal mula dari ketagihan; dengan bergantung pada ketagihan, maka ketagihan harus ditinggalkan,’ karena alasan [146] apakah hal ini dikatakan? Di sini, Saudari, seorang bhikkhu mendengar: ‘Bhikkhu itu, dengan hancurnya noda-noda, telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.’ Ia berpikir: ‘Kapankah aku, dengan hancurnya noda-noda, merealisasikan untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, berdiam di dalamnya?’ Beberapa waktu kemudian, dengan bergantung pada ketagihan, ia meninggalkan ketagihan. Ketika dikatakan: ‘Tubuh ini berasal mula dari ketagihan; dengan bergantung pada ketagihan,

maka ketagihan harus ditinggalkan,’ adalah karena hal ini maka pernyataan itu dikatakan.

(3) “Ketika dikatakan: ‘Tubuh ini berasal-mula dari keangkuhan, dengan bergantung pada keangkuhan, maka keangkuhan harus ditinggalkan.’ Sehubungan dengan apakah ini dikatakan? Di sini, Saudari, seorang bhikkhu mendengar: ‘Bhikkhu itu, dengan hancurnya noda-noda, telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.’ Ia berpikir: ‘Yang Mulia itu, dengan hancurnya noda-noda, telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Aku juga dapat melakukannya!’ Beberapa waktu kemudian, dengan bergantung pada keangkuhan, ia meninggalkan keangkuhan. Ketika dikatakan: ‘Tubuh ini berasal mula dari keangkuhan; dengan bergantung pada keangkuhan, maka keangkuhan harus ditinggalkan,’ adalah karena hal ini maka pernyataan itu dikatakan.

(4) “Tubuh ini, Saudari, berasal-mula dari hubungan seksual, tetapi sehubungan dengan hubungan seksual Sang Bhagavā telah menyatakan pembongkaran jembatan.”229

Kemudian bhikkhunī itu bangkit dari tempat tidurnya, merapikan jubah atasnya di satu bahunya, dan setelah bersujud dengan kepalanya di kaki Yang Mulia Ānanda, ia berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Bhante, aku telah melakukan pelanggaran karena aku telah bersikap secara begitu dungu, bodoh, dan tidak terampil seperti yang telah kulakukan. Bhante, sudilah Guru Ānanda menerima pelanggaranku yang terlihat demikian demi pengendalian di masa depan.”

“Tentu saja, Saudari, engkau telah melakukan pelanggaran karena engkau telah bersikap secara begitu dungu, bodoh, dan tidak terampil seperti yang telah engkau lakukan. Tetapi karena engkau melihat pelanggaranmu sebagai pelanggaran dan melakukan perbaikan sesuai Dhamma, maka kami menerimanya. Karena adalah kemajuan dalam disiplin Yang Mulia bahwa seseorang melihat pelanggarannya sebagai pelanggaran,

Buku Kelompok Empat II 147 188

memperbaikinya sesuai Dhamma, dan melakukan pengendalian di masa depan.” [147]

160 (10) Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan230

“Para bhikkhu, selama Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan atau disiplin dari Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan masih ada di dunia, maka ini adalah demi kesejahteraan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, demi belas kasihan kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para deva dan manusia.

“Dan siapakah, para bhikkhu, Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan itu? Di sini, Sang Tathāgata muncul di dunia, seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci. Ini adalah Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan itu.

“Dan apakah disiplin dari Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan? Beliau mengajarkan Dhamma yang baik di awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna. Ini adalah disiplin dari Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan. Demikianlah selama Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan atau disiplin dari Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan masih ada di dunia, maka ini adalah demi kesejahteraan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, demi belas kasihan kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para deva dan manusia.

“Ada, para bhikkhu empat hal ini yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu mempelajari khotbah-khotbah yang diperoleh secara buruk, dengan kata-kata dan frasa-frasa yang ditata secara buruk.231 Jika kata-kata dan frasa-frasa ditata secara buruk, maka maknanya diinterpretasikan secara buruk. Ini adalah hal pertama yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.

(2) “Kemudian, para bhikkhu sulit dikoreksi dan memiliki kualitas-kualitas yang membuat mereka sulit dikoreksi. Mereka tidak sabar dan tidak menerima ajaran dengan hormat. Ini adalah hal ke dua yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.

(3) “Kemudian, para bhikkhu itu yang terpelajar, pewaris warisan, ahli Dhamma, ahli disiplin, ahli dalam kerangka, tidak dengan hormat mengajarkan khotbah-khotbah kepada orang lain. Ketika mereka meninggal dunia, khotbah-khotbah itu terpotong di akarnya, dibiarkan tanpa ada yang melestarikannya. Ini adalah hal ke tiga yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.

(4) “Kemudian, para bhikkhu senior hidup mewah [148] dan menjadi mengendur, menjadi pelopor dalam kemerosotan, meninggalkan tugas keterasingan; mereka tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. [Mereka dalam] generasi berikutnya mengikuti teladan mereka. Mereka juga, hidup mewah dan menjadi mengendur, menjadi pelopor dalam hal kembali pada kebiasaan-kebiasaan lama, meninggalkan tugas keterasingan; mereka juga, tidak membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. Ini adalah hal ke empat yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.

“Ini adalah empat hal yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma sejati.

“Ada, para bhikkhu, empat hal [lainnya] ini yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu mempelajari khotbah-khotbah yang diperoleh secara baik, dengan kata-kata dan frasa-frasa yang ditata secara baik. Jika kata-kata dan frasa-frasa ditata secara baik, maka maknanya diinterpretasikan secara baik. Ini adalah hal pertama yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.

Buku Kelompok Empat II 149 190

(2) “Kemudian, para bhikkhu mudah dikoreksi dan memiliki kualitas-kualitas yang membuat mereka mudah dikoreksi. Mereka sabar dan menerima ajaran dengan penuh hormat. Ini adalah hal ke dua yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.

(3) “Kemudian, para bhikkhu itu yang terpelajar, pewaris warisan, ahli Dhamma, ahli disiplin, ahli dalam kerangka, dengan penuh hormat mengajarkan khotbah-khotbah kepada orang lain. Ketika mereka meninggal dunia, khotbah-khotbah itu tidak terpotong di akarnya karena ada yang melestarikannya. Ini adalah hal ke tiga yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.

(4) “Kemudian, para bhikkhu senior tidak hidup mewah dan tidak menjadi mengendur, melainkan mereka membuang kebiasaan-kebiasaan lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; mereka membangkitkan kegigihan untuk mencapai apa-yang-belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. [Mereka dalam] generasi berikutnya mengikuti teladan mereka. Mereka juga, tidak hidup mewah dan tidak menjadi mengendur, melainkan membuang kebiasaan-kebiasaan lama dan menjadi pelopor dalam keterasingan; mereka juga, membangkitkan kegigihan untuk mencapai belum-dicapai, untuk memperoleh apa-yang-belum-diperoleh, untuk merealisasikan apa-yang-belum-direalisasikan. Ini adalah hal ke empat yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati. [149]

“Ini, para bhikkhu, adalah empat hal yang mengarah pada kelangsungan, ketidak-munduran, dan ketidak-lenyapan Dhamma sejati.”

II. Cara-Praktik

161 (1) Secara Ringkas232

“Para bhikkhu, ada empat cara praktik ini. Apakah empat ini? (1) Praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang

lambat; (2) praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang cepat; (3) praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang lambat; dan (4) praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang cepat.233 Ini adalah keempat cara praktik itu.”

162 (2) Secara Terperinci

“Para bhikkhu, ada empat cara praktik ini. Apakah empat ini? (1) Praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang lambat; (2) praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang cepat; (3) praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang lambat; dan (4) praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang cepat.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang lambat? Di sini, seseorang secara alami sangat rentan terhadap nafsu dan sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh nafsu. Secara alami ia sangat rentan terhadap kebencian dan sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh kebencian. Secara alami ia sangat rentan terhadap delusi dan sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh delusi. Kelima indria ini secara lemah muncul dalam dirinya: indria keyakinan, indria kegigihan, indria perhatian, indria konsentrasi, indria kebijaksanaan. Karena kelima indria ini lemah, maka ia lambat mencapai kondisi yang mencukupi bagi hancurnya noda-noda.234 Ini disebut praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang lambat.

(2) “Dan apakah praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang cepat? Di sini, seseorang secara alami sangat rentan terhadap nafsu … kebencian … delusi dan sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh delusi. Kelima indria ini secara menonjol muncul dalam dirinya: [150] indria keyakinan … indria kebijaksanaan. Karena kelima indria ini secara menonjol, maka ia dengan cepat mencapai kondisi yang mencukupi bagi hancurnya noda-noda. Ini disebut praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang cepat.

(3) “Dan apakah praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang lambat? Di sini, seseorang secara

Buku Kelompok Empat II 151 192

alami tidak sangat rentan terhadap nafsu dan tidak sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh nafsu. Secara alami ia tidak sangat rentan terhadap kebencian dan tidak sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh kebencian. Secara alami ia tidak sangat rentan terhadap delusi dan tidak sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh delusi. Kelima indria ini secara lemah muncul dalam dirinya: indria keyakinan … indria kebijaksanaan. Karena kelima indria ini lemah, maka ia lambat mencapai kondisi yang mencukupi bagi hancurnya noda-noda. Ini disebut praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang lambat.

(4) “Dan apakah praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang cepat? Di sini, seseorang secara alami tidak sangat rentan terhadap nafsu … kebencian … delusi tidak sering mengalami kesakitan dan kesedihan yang ditimbulkan oleh delusi. Kelima indria ini secara menonjol muncul dalam dirinya: indria keyakinan … indria kebijaksanaan. Karena kelima indria ini menonjol, maka ia cepat mencapai kondisi yang mencukupi bagi hancurnya noda-noda. Ini disebut praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang cepat.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat cara praktik itu.” 163 (3) Ketidak-menarikan

[Paragraf pembuka seperti di atas.]

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang lambat? Di sini, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan ketidak-menarikan jasmani, mempersepsikan kejijikan pada makanan, mempersepsikan ketidak-senangan pada seluruh dunia, dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam segala fenomena terkondisi; dan ia memiliki persepsi kematian yang ditegakkan dengan baik secara internal. Ia berdiam dengan bergantung pada kelima kekuatan seorang yang masih berlatih: kekuatan keyakinan, kekuatan rasa malu, kekuatan rasa takut, [151] kekuatan kegigihan, dan kekuatan kebijaksanaan.235 Kelima indria ini secara lemah muncul dalam dirinya: indria keyakinan, indria kegigihan, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan. Karena kelima indria ini

lemah, maka ia lambat mencapai kondisi yang mencukupi bagi hancurnya noda-noda. Ini disebut praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang lambat.

(2) “Dan apakah praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang cepat? Di sini, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan ketidak-menarikan jasmani … dan ia memiliki persepsi kematian yang ditegakkan dengan baik secara internal. Ia berdiam dengan bergantung pada kelima kekuatan seorang yang masih berlatih: kekuatan keyakinan … kekuatan kebijaksanaan. Kelima indria ini secara menonjol muncul dalam dirinya: indria keyakinan … indria kebijaksanaan. Karena kelima indria ini menonjol, maka ia dengan cepat mencapai kondisi yang mencukupi bagi hancurnya noda-noda. Ini disebut praktik yang menyakitkan dengan pengetahuan langsung yang cepat.

(3) “Dan apakah praktik yang menyenangkan dengan pengetahuan langsung yang lambat? Di sini, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak

Dalam dokumen Jilid 2 - Buku 4 pdf 3 MB (Halaman 184-200)

Dokumen terkait