• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tidak Mungkin Keliru 71 (1) Usaha 71 (1) Usaha

Dalam dokumen Jilid 2 - Buku 4 pdf 3 MB (Halaman 107-114)

Lima Puluh Ke Dua I. Arus Jasa

III. Tidak Mungkin Keliru 71 (1) Usaha 71 (1) Usaha

“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang memiliki empat kualitas mempraktikkan jalan yang tidak mungkin keliru dan telah meletakkan landasan bagi hancurnya noda-noda.149 Apakah empat ini? Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral, terpelajar, penuh semangat, dan bijaksana. Seorang bhikkhu yang memiliki keempat kualitas ini mempraktikkan jalan yang tidak mungkin keliru dan telah meletakkan landasan bagi hancurnya noda-noda.”

72 (2) Pandangan

“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang memiliki empat kualitas mempraktikkan jalan yang tidak mungkin keliru dan telah meletakkan landasan bagi hancurnya noda-noda. Apakah empat ini? Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, pikiran tidak mencelakai, dan pandangan benar.150 seorang bhikkhu yang memiliki keempat kualitas ini [77] mempraktikkan jalan yang tidak mungkin keliru dan telah meletakkan landasan bagi hancurnya noda-noda.”

73 (3) Orang Jahat: Pengantin

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki empat kualitas ini dapat dimengerti sebagai seorang jahat. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu, seorang yang jahat mengungkapkan kesalahan-kesalahan orang lain bahkan ketika tidak ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, apa lagi ketika ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, maka, dengan diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain tanpa sela atau pengurangan, melainkan secara lengkap dan terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang jahat.’

(2) “Kemudian, seorang yang jahat tidak mengungkapkan kebaikan-kebaikan orang lain bahkan ketika ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, apalagi ketika tidak ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, maka, walaupun diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kebaikan orang lain

Buku Kelompok Empat II 78 106

dengan sela dan pengurangan, tidak secara lengkap atau secara terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang jahat.’

(3) “Kemudian, seorang yang jahat tidak mengungkapkan kesalahan-kesalahannya sendiri bahkan ketika ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, apa lagi ketika tidak ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, maka, walaupun diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kesalahan-kesalahannya dengan sela dan pengurangan, tidak secara lengkap atau secara terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang jahat.’

(4) “Kemudian, seorang yang jahat mengungkapkan kebaikannya sendiri bahkan ketika tidak ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, apa lagi ketika ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, maka, dengan diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kebaikan-kebaikannya tanpa sela atau pengurangan, melainkan secara lengkap dan terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang jahat.’

“Seorang yang memiliki keempat kualitas ini dapat dimengerti sebagai seorang yang jahat.

“Para bhikkhu, seorang yang memiliki empat kualitas [lainnya] ini dapat dimengerti sebagai seorang baik. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu, seorang yang baik tidak mengungkapkan kesalahan-kesalahan orang lain bahkan ketika ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, apa lagi ketika tidak ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, maka, walaupun diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kesalahan-kesalahan orang lain dengan sela dan pengurangan, [78] tidak secara lengkap atau secara terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang baik.’

(2) “Kemudian, seorang yang baik mengungkapkan kebaikan orang lain bahkan ketika tidak ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, apalagi ketika ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, maka, dengan diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kebaikan orang lain tanpa sela atau pengurangan, melainkan secara lengkap dan terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang baik.’

(3) “Kemudian, seorang yang baik mengungkapkan kesalahan-kesalahannya sendiri bahkan ketika tidak ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, apa lagi ketika ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kesalahan-kesalahan itu, maka, dengan diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kesalahan-kesalahannya tanpa sela atau pengurangan, melainkan secara lengkap dan terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang baik.’

(4) “Kemudian, seorang yang baik tidak mengungkapkan kebaikan-kebaikannya sendiri bahkan ketika ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, apa lagi ketika tidak ditanya. Tetapi ketika ia ditanya tentang kebaikan-kebaikan itu, maka, dengan diarahkan oleh pertanyaan itu, ia akan membicarakan kebaikan-kebaikannya dengan sela dan pengurangan, tidak secara lengkap atau secara terperinci. Maka dapat dimengerti: ‘Orang ini adalah orang baik.’

“Seorang yang memiliki keempat kualitas ini dapat dimengerti sebagai seorang yang baik.

“Para bhikkhu,151 Ketika seorang pengantin pertama kali dibawa pulang ke rumah, apakah pada malam hari atau siang hari, pertama-tama ia akan menegakkan rasa malu dan rasa takut yang mendalam terhadap ibu mertuanya, ayah mertuanya, suaminya, dan bahkan budak-budaknya, para pekerja, dan para pelayannya. Tetapi setelah beberapa lama, sebagai akibat dari hidup bersama dan keakraban dengan mereka, ia berkata kepada ibu mertuanya, ayah mertuanya, dan suaminya: ‘Pergilah! Engkau tahu apa?’

“Demikian pula, ketika seorang bhikkhu di sini telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, apakah pada malam hari atau siang hari, pertama-tama ia akan menegakkan rasa malu dan rasa takut yang mendalam terhadap para bhikkhu, para bhikkhunī, umat awam laki-laki, umat awam perempuan, dan bahkan terhadap para pekerja dan para sāmaṇera di vihara. Tetapi setelah beberapa lama, sebagai akibat dari hidup bersama dan keakraban dengan mereka, ia berkata bahkan kepada gurunya dan penahbisnya: ‘Pergilah! Engkau tahu apa?’

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan berdiam dengan pikiran seperti pengantin yang

Buku Kelompok Empat II 80 108

baru datang itu.’ Dengan cara demikianlah kalian harus berlatih.” [79]

74 (4) Terunggul (1)

“Para bhikkhu, ada empat hal ini yang terunggul. Apakah empat ini? Jenis terunggul dari perilaku bermoral, jenis terunggul dari konsentrasi, jenis terunggul dari kebijaksanaan, dan jenis terunggul dari kebebasan. Ini adalah keempat hal yang terunggul itu.”

75 (5) Terunggul (2)

“Para bhikkhu, ada empat hal ini yang terunggul. Apakah empat ini? Yang terunggul dari bentuk, yang terunggul dari perasaan, yang terunggul dari persepsi, dan yang terunggul di antara kondisi-kondisi penjelmaan. Ini adalah keempat hal yang terunggul itu. ”152

76 (6) Kusinārā

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kusinārā di antara kedua pohon sal kembar di hutan pohon sal milik kaum Malla di Upavattana, pada hari nibbāna akhirnya. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, mungkin ada seorang bhikkhu yang memiliki keragu-raguan atau kebimbangan terhadap Sang Buddha, Dhamma, atau Saṅgha, terhadap sang jalan atau latihan.153 Maka tanyalah, para bhikkhu. Jangan sampai menyesal kelak, dengan berpikir: ‘Guru kami ada di hadapan kami, namun kami tidak mengajukan pertanyaan kepada Sang Bhagavā ketika kami berada di hadapanNya.’

Ketika hal ini dikatakan, para bhikkhu berdiam diri. Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu … Dan untuk ke tiga kalinya para bhikkhu berdiam diri.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Mungkin, para bhikkhu, kalian tidak bertanya karena hormat kepada Sang Guru. Maka sampaikanlah pertanyaan kalian kepada seorang teman.” Ketika hal ini dikatakan, para bhikkhu masih berdiam diri. [80]

Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Sungguh menakjubkan dan mengagumkan, Bhante! Aku yakin tidak ada bhikkhu dalam Saṅgha ini yang memiliki keragu-raguan terhadap Sang Buddha, Dhamma, atau Saṅgha, terhadap sang jalan atau latihan.”

“Engkau berbicara karena keyakinan, Ānanda, tetapi Sang Tathāgata mengetahui hal ini berdasarkan fakta. Karena di antara lima ratus bhikkhu ini, bahkan yang paling rendah adalah seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada [kelahiran kembali di] alam rendah, pasti dalam tujuannya, mengarah menuju pencerahan.” 77 (7) Hal-hal yang Tidak Terpikirkan

“Para bhikkhu, ada empat hal yang tidak terpikirkan154 ini yang seharusnya seseorang tidak berusaha memikirkannya; seseorang yang berusaha untuk memikirkannya akan menghasilkan kegilaan atau frustrasi. Apakah empat ini? (1) Jangkauan para Buddha adalah hal yang tidak terpikirkan yang seharusnya seseorang tidak berusaha memikirkannya; seseorang yang berusaha untuk memikirkannya akan menghasilkan kegilaan atau frustrasi. (2) Jangkauan seseorang yang berada di dalam jhāna adalah hal yang tidak terpikirkan … (3) Akibat kamma adalah hal yang tidak terpikirkan … (4) Spekulasi tentang dunia adalah hal yang tidak terpikirkan yang seharusnya seseorang tidak berusaha memikirkannya; seseorang yang berusaha untuk memikirkannya akan menghasilkan kegilaan atau frustrasi.155 Ini adalah keempat hal yang tidak terpikirkan itu yang seharusnya seseorang tidak berusaha memikirkannya; seseorang yang berusaha untuk memikirkannya akan menghasilkan kegilaan atau frustrasi.”

78 (8) Persembahan

“Para bhikkhu, ada empat pemurnian persembahan156 ini. Apakah empat ini? (1) Ada persembahan yang dimurnikan oleh si pemberi tetapi bukan oleh si penerima; (2) ada persembahan yang dimurnikan oleh si penerima tetapi bukan oleh si pemberi; (3) ada persembahan yang tidak dimurnikan apakah oleh si pemberi maupun oleh melalui si penerima; (4) ada persembahan yang dimurnikan oleh si pemberi dan si penerima. [81]

Buku Kelompok Empat II 82 110

(1) “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, persembahan yang dimurnikan oleh si pemberi tetapi bukan oleh si penerima? Di sini, si pemberi adalah bermoral dan berkarakter baik, tetapi si penerima tidak bermoral dan berkarakter buruk. Adalah dengan cara ini suatu persembahan dimurnikan oleh si pemberi tetapi bukan oleh si penerima.

(2) “Dan bagaimanakah persembahan yang dimurnikan oleh si penerima tetapi bukan oleh si pemberi? Di sini, si pemberi adalah tidak bermoral dan berkarakter buruk, tetapi si penerima bermoral dan berkarakter baik. Adalah dengan cara ini suatu persembahan yang dimurnikan oleh si penerima tetapi bukan oleh si pemberi.

(3) “Dan bagaimanakah persembahan yang tidak dimurnikan apakah oleh si pemberi maupun oleh si penerima? Di sini, si pemberi adalah tidak bermoral dan berkarakter buruk, dan si penerima juga tidak bermoral dan berkarakter buruk. Adalah dengan cara ini suatu persembahan yang tidak dimurnikan apakah oleh si pemberi maupun oleh si penerima.

(4) “Dan bagaimanakah persembahan yang dimurnikan oleh si pemberi dan si penerima? Di sini, si pemberi adalah bermoral dan berkarakter baik, dan si penerima juga bermoral dan berkarakter baik. Adalah dengan cara ini suatu persembahan yang dimurnikan oleh si pemberi dan si penerima.

“Ini adalah keempat pemurnian persembahan itu.” 79 (9) Bisnis

Yang Mulia Sāriputta mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata: “Bhante, (1) mengapakah bagi seseorang di sini, bisnis yang ia lakukan berakhir dengan kegagalan? (2) Mengapakah bagi orang lainnya bisnis yang sama tidak memenuhi harapannya? (3) Mengapakah bagi orang lainnya lagi bisnis yang sama memenuhi harapannya? (4) Dan mengapakah bagi orang lainnya lagi bisnis yang sama melebihi harapannya?”

(1) “Di sini, Sāriputta, seseorang mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk menanyakan apa yang ia perlukan, [82] tetapi tidak memberikan apa yang diminta. Ketika ia meninggal dunia dari sana, jika ia kembali ke alam

ini, apa pun bisnis yang ia lakukan akan berakhir dengan kegagalan.

(2) “Seorang lainnya mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk menanyakan apa yang ia perlukan. Ia memberikannya tetapi tidak memenuhi harapannya. Ketika ia meninggal dunia dari sana, jika ia kembali ke alam ini, apa pun bisnis yang ia lakukan akan tidak memenuhi harapannya.

(3) “Seorang lainnya lagi mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk menanyakan apa yang ia perlukan. Ia memberikannya dan memenuhi harapannya. Ketika ia meninggal dunia dari sana, jika ia kembali ke alam ini, apa pun bisnis yang ia lakukan akan memenuhi harapannya.

(4) “Seorang lainnya lagi mendatangi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengundangnya untuk menanyakan apa yang ia perlukan. Ia memberikannya dan melebihi harapannya. Ketika ia meninggal dunia dari sana, jika ia kembali ke alam ini, apa pun bisnis yang ia lakukan akan melebihi harapannya.

“Ini, Sāriputta, adalah alasan mengapa bagi seseorang di sini bisnis yang ia lakukan berakhir dengan kegagalan, bagi orang lainnya bisnis yang sama tidak memenuhi harapannya, bagi orang lainnya lagi bisnis yang sama memenuhi harapannya, dan bagi orang lainnya lagi bisnis yang sama melebihi harapannya.”

80 (10) Kamboja

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambī di Taman Ghosita. Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata:

“Bhante, mengapakah para perempuan tidak duduk di dalam dewan, atau melakukan bisnis, atau pergi ke Kamboja?”157

“Ānanda, para perempuan rentan terhadap kemarahan; para perempuan iri hati; [83] para perempuan kikir; para perempuan tidak bijaksana. Ini adalah mengapa para perempuan tidak duduk di dalam dewan, atau melakukan bisnis, atau pergi ke Kamboja.”

Buku Kelompok Empat II 84 112

IV. Tidak Tergoyahkan

Dalam dokumen Jilid 2 - Buku 4 pdf 3 MB (Halaman 107-114)

Dokumen terkait