• Tidak ada hasil yang ditemukan

Limbah gas hasil pembakaran saat proses berlangsung mengandung senyawa-senyawa minyak cengkeh sehingga gas berbau cengkeh yang cukup kuat dan berwarna putih. Gas ini tidak begitu mengganggu warga dalam jumlah sedikit. Namun bila dalam jumlah yang cukup banyak, pabrik harus membuat saluran gas dengan filter sehingga dapat menyaring persenyawaan dalam gas yang menyebabkan gas berbau.

Aspek Finansial

Analisis ini dilakukan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan. Perhitungan analisis ini sangat dipengaruhi oleh parameter-parameter dari analisis aspek sebelumnya seperti potensi pasar, kapasitas produksi dan rendemen, teknologi yang dipakai, peralatan/mesin produksi, jumlah tenaga kerja, dan tipe pengolahan limbah yang digunakan. Penentuan perencanaan biaya ini juga

22

memerlukan asumsi-asumsi yang menjadi dasar perhitungan analisis aspek finansial, yaitu sebagai berikut:

1. Umur proyek menyesuaikan dengan umur ekonomis terlama mesin, yaitu 10 tahun produksi

2. Jumlah hari kerja dalam setahun adalah 300 hari (6 hari dalam seminggu)

3. Penyusutan menggunakan Straight Line Method dengan nilai sisa peralatan dan bangunan 10% dari harga awal berdasarkan nilai sisa mesin pada industri sejenis 4. Permodalan dari uang pribadi (modal persekutuan) 100% dengan suku bunga

deposito Bank Mandiri sebesar 6,8% untuk asumsi discount factor

5. Modal terdiri dari investasi dan moda kerja dengan modal kerja ditetapkan selama sebulan pertama produksi

6. Besarnya pajak ditetapkan sebagai berikut :

• Pajak Bumi dan Bangunan 0.1% dari total investasi lahan dan bangunan menurut

UU no 26 tahun 2000

• Pajak kendaraan 0.5% dari harga pembelian menurut UU no 22 tahun 1999

• Pajak penghasilan badan usaha dihitung berdasarkan Undang-undang Nomor 36

Tahun 2008 untuk penghasilan bruto badan usaha di bawah 4,8 miliar sebesar 1%

• Pajak partambahan nilai sebesar 10%

7. Harga jual minyak daun cengkeh dianggap tetap, yaitu Rp 130.000,00 8. Biaya bahan baku dianggap tetap, yaitu Rp 750,00

9. Biaya tenaga kerja dianggap tetap

10. Biaya pemeliharaan, perawatan, dan penggantian peralatan 10% per tahun dari harga mesin dan peralatan

11. Biaya kontingensi 10% dari total investasi.

12. Biaya asuransi 1% dari nilai awal pembelian barang yang diasuransikan. 13. Kapasitas produksi pada tahun pertama sampai kesepuluh adalah 100% 14. Proyek dimulai pada tahun ke-0 dan produksi dimulai pada tahun ke-1

Biaya Investasi

Biaya investasi adalah biaya yang digunakan untuk membiayai pengadaan barang modal. Biaya ini dikeluarkan di awal tahun proyek yang mencakup biaya pra investasi, modal investasi tetap, dan kontingensi. Biaya pra investasi adalah biaya yang dikeluarkan sebelum investasi proyek dimulai. Biaya-biaya tersebut disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9 Biaya Pra Investasi

No. Jenis Pra Investasi Biaya (Rp jutaan)

1 Izin Pendirian CV 6,50

2 IMB 3,41

3 Izin Gangguan 0,70

4 UPL-UKL 15,00

Total Biaya Pra Investasi 25,61

Modal investasi tetap ialah biaya yang dibutuhkan untuk investasi lahan, bangunan, peralatan, dan fasilitas pendukung, yaitu sebesar Rp 633,3 juta. Biaya kontingensi merupakan estimasi anggaran biaya untuk kejadian yang tidak terduga seperti bencana alam dan kesalahan estimasi biaya. Faktor kontingesi diasumsikan

23

sebesar 10% dari total modal tetap (Hakiki 2011) sehingga biaya kontingensi yang dibutuhkan adalah Rp 63,3 juta. Total biaya investasi yang dibutuhkan untuk pendirian pabrik minyak daun cengkeh ini adalah Rp 722,24 juta. Rincian biaya investasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 10 sedangkan untuk keseluruhan rincian total investasi dapat dilihat pada Lampiran 5.

Tabel 10 Biaya Investasi

No. Jenis Biaya Investasi Biaya (Rp jutaan)

1 Pra Investasi 25,61

2 Modal Tetap 633,30

3 Kontingensi 63,33

Total Biaya Investasi 722,24

Biaya Modal Kerja

Biaya modal kerja dihitung dari biaya yang dikeluarkan untuk produksi minyak daun cengkeh saat pertama kali pabrik dijalankan (Arannugroho 2011). Besarnya modal kerja ini ditetapkan untuk biaya operasional pada sebulan pertama, yaitu sebesar Rp 165,47 juta. Nilai penerimaan bruto per bulan, yaitu sebesar Rp 182 juta, lebih besar dari biaya modal kerja sehingga biaya operasional bulan-bulan selanjutnya sudah mampu dipenuhi dari penerimaan. Komposisi biaya modal kerja disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Komposisi Biaya Modal Kerja

Komponen Jumlah Biaya (Rp Jutaan)

Biaya Tetap

Tenaga Kerja 64,50

Biaya Pemeliharaan dan Perawatan 0,96

Biaya ATK 0,15

Biaya Telepon 0,25 Biaya Listrik 0,25 Biaya Asuransi 0,18 Pajak Kendaraan 0,04 Pajak Bumi dan Bangunan 0,03

Pajak Pertambahan Nilai 18,21 Depresiasi/Penyusutan 4,36 Biaya Tidak Tetap

Daun Cengkeh 45,56

Jerigen HDPE 1,26

Biaya Distribusi dan Transportasi 28,01

Kayu Bakar 1,00

Biaya Pengujian Sampel 0,70

24

Biaya Operasional

Biaya operasional adalah biaya untuk menjalankan produksi, disebut sebagai biaya produksi dan pemeliharaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang tidak dipengaruhi oleh naik turunnya produksi yang dihasilkan sedangkan biaya variabel dipengaruhi oleh naik turunnya produksi. Biaya tetap pabrik minyak daun cengkeh antara lain gaji pekerja, gaji manager dan pemasaran, gaji kepala bagian produksi, biaya pemeliharaan dan perawatan, biaya ATK, biaya telepon, biaya listrik, biaya asuransi, pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan, pajak pertambahan nilai, serta depresiasi/penyusutan sedangkan biaya variabel antara lain biaya pembelian daun cengkeh kering, biaya pembelian jerigen, biaya pengujian lab, dan biaya distribusi dan transportasi. Total biaya operasional yang direncanakan mencapai Rp 2 miliar per tahun. Rincian biaya operasional disajikan pada proyeksi HPP di Lampiran 7.

Proyeksi Laba Rugi

Proyeksi laba rugi diperlukan untuk mengetahui tingkat keuntungan dan kerugian pada pabrik minyak daun cengkeh. Rincian laporan laba rugi pabrik ditunjukan pada Lampiran 6. Perhitungan laba rugi menunjukan bahwa laba bersih dari tahun ke tahun tetap karena tidak adanya penambahan atau pengurangan kapasitas produksi. Pada tahun pertama hingga tahun kesepuluh, laba bersih yang diperoleh sebesar Rp 209 juta.

Analisis Titik Impas

Titik impas dicapai saat total penerimaan sama dengan total pengeluaran sehingga output dari perhitungan titik impas ialah banyaknya produk yang terjual dan lamanya waktu produksi hingga kondisi impas tersebut (Perdana 2011). Analisis titik impas disajikan pada Gambar 7. Titik impas pada pabrik minyak daun cengkeh tercapai saat penjualan produk sebanyak 13 ton dan senilai 1,7 miliar.

Gambar 7 Grafik Analisis Titik Impas 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 0 5 10 15 20 T F C , TC, TR (Rp jut aa n)

Jumlah Produk (ton)

25

Harga Pokok Produksi dan Harga Penjualan

Biaya untuk memproduksi minyak daun cengkeh per kilogramnya sebesar Rp 117.417 sedangkan harga jual minyak daun cengkeh mengikuti harga jual minyak di tingkat pabrik rakyat yaitu Rp 130.000,00. Harga jual yang ditetapkan sudah termasuk biaya distribusi. Dalam proyek investasi minyak daun cengkeh ini diasumsikan bahwa harga jual tetap setiap tahun. Perhitungan prakiraan penerimaan dan HPP secara lebih detail dapat dilihat pada Lampiran 7.

Proyeksi Arus Kas

Arus kas terdiri dari arus kas masuk dan arus kas keluar. Arus kas masuk terdiri dari laba bersih dan nilai sisa sedangkan arus kas keluar terdiri dan biaya investasi dan operasional. Proyeksi arus kas dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai kriteria investasi. Penilaian kriteria investasi yang digunakan pada analisis kelayakan ini antara lain adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Pay Back Period (PBP). Proyeksi arus kas secara rinci disajikan pada Lampiran 8. Hasil perhitungan kriteria investasi pabrik minyak daun cengkeh ditunjukkan pada Tabel 12.

Tabel 12 Kriteria Investasi

Kriteria Nilai

NPV (juta) Rp 586

Net B/C 1,71

IRR 20%

PBP 4 tahun 3 bulan

NPV menunjukkan selisih dari nilai investasi sekarang dengan nilai penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang sebesar Rp 586 juta dengan tingkat suku bunga 6,8%. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) menunjukkan setiap pengeluaran Rp 1 akan mendapatkan tambahan manfaat sebesar Rp 1,71. IRR atau arus pengembalian internal merupakan tingkat kemampuan proyek untuk menghasilkan keuntungan dan dapat dinyatakan sebagai tingkat suku bunga pinjaman (bank) yang menghasilkan nilai NPV aliran kas masuk sama dengan dengan aliran kas keluar. Tujuan perhitungan IRR adalah mengetahui persentase keuntungan dari suatu proyek tiap tahunnya yang dibandingkan dengan suku bunga deposito yang digunakan. PBP atau payback period menunjukkan bahwa lamanya tingkat balik modal dari seluruh modal investasi ialah 4 tahun 3 bulan yang tidak melebihi umur proyek. Menurut hasil perhitungan finansial, proyek minyak daun cengkeh ini dinyatakan layak karena nilai

NPV > 0, Net B/C > 1, dan IRR ≥ 6,8%. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat perubahan maksimum dari beberapa parameter baik pada faktor penerimaan maupun pengeluaran yang berpengaruh terhadap pembuatan keputusan. Variabel yang diuji pada analisis ini adalah kapasitas produksi, harga jual, dan harga bahan baku. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa pabrik masih layak didirikan bila faktor-faktor yang diuji tidak melebihi persen perubahan yang disajikan pada Tabel 13.

26

Tabel 13 Analisis Sensitivitas

Variabel Perubahan Maksimum

Kapasitas Produksi Turun 6,9%

Harga Jual Turun 4,1%

Harga Bahan Baku Naik 16,3%

Semakin kecil perubahan maksimum nilai suatu unsur terhadap investasi, maka pembuatan keputusan dalam investasi proyek terhadap unsur tersebut semakin sensitif. Rincian analisis sensitivitas disajikan pada Lampiran 9.

Dokumen terkait