BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Demam Berdarah Dengue
2.1.8. Lingkungan
Lingkungan ada bermacam-macam misalnya tata rumah, macam kontainer,
ketinggian tempat dan iklim (Depkes RI, 1998). (1) Jarak antara rumah
mempengaruhi penyebaran nyamuk dari satu rumah kerumah lain, semakin dekat
jarak antara rumah semakin mudah nyamuk menyebar ke rumah sebelah. Bahan-
bahan pembuat rumah, kontruksi rumah, warna dinding dan pengaturan barang-
barang dalam rumah menyebabkan rumah tersebut disenangi atau tidak disenangi
oleh nyamuk. (2) Macam kontainer, disini adalah jenis/bahan kontainer, letak
kontainer, bentuk, warna, kedalaman air, tutup dan asal air mempengaruhi nyamuk
dalam pemilihan tempat bertelur. (3) Ketinggian tempat, pengaruh variasi ketinggian
terhadap syarat-syarat ekologis yang diperlukan oleh vektor penyakit di Indonesia
nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopiktus dapat hidup pada daerah dengan
ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut (Depkes RI, 1998)
Lingkungan yang mempengaruhi penularan DBD terutama adalah banyaknya
tanaman hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban,
pencahayaan didalam rumah, merupakan tempat yang disenangi nyamuk untuk
hinggap dan beristirahat (Soegijanto, 2003).
2.1.9. Morfologi dan Siklus Hidup 2.1.9.1. Morfologi nyamuk Aedes aegypti
Telurnya berwarna hitam berukuran 0,80 mm bentuk oval mengapung satu
air. Larva (jentik), ada 4 (empat) tingkat larva sesuai dengan pertumbuhan larva
tersebut. Larva 1 berukuran paling kecil yaitu 1-2 mm, larva II berukuran agak besar
mencapai 5 mm. Pupa (kepompong) berbentuk seperti koma dengan ukuran badannya
lebih kecil dibandingkan dengan nyamuk lain. Nyamuk Aedes aegypti dewasa ukuran
badannya lebih kecil dibandingkan nyamuk lain, warna dasar hitam dengan bintik-
bintik putih pada bagian badan dan kaki (Depkes RI, 2004).
2.1.9.2. Siklus Hidup
Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu dari telur
jentik, kepompong sampai menjadi nyamuk. Stadium telur, jentik, kepompong hidup
didalam air. Telur akan menetas menjadi jentik biasanya berlangsung 6-8 hari, dan
stadium pupa (kepompong) berlangsung 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi
nyamuk dewasa mencapai 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan
(Depkes RI, 2004). Nyamuk Dewasa Telur Nyamuk Pupa (Kepompong) Jentik
2.1.9.3.Pengamatan Aedes aegypti
Pengamatan nyamuk sangat diperlukan untuk mengetahui keadaan nyamuk
dan menyusun program pengendalian maupun untuk mengevaluasi keberhasilan dari
program tersebut. Pengamatan Aedes aegypti diasa dikenal dengan nama survei Aedes
aegypti, yaitu: penyelidikan-penyelidikan terhadap kehidupan nyamuk termasuk
kepadatan populasinya.
Untuk mengetahui keadaan populasi nyamuk Aedes aegypti disuatu daerah
dapat melalui survey terhadap stadium jentik – jentik atau dewasa, sebagai hasil
survey tersebut didapat indeks–indeks Aedes aegypti (indeks jentik, indeks ovitrap,
bitting rate), dalam hal ini pengamatan yang dimaksud adalah mengenai indeks jentik
yang diukur dari :
1. House Indeks
Jumlah rumah yang ditemukan jentik Aedes aegypti HI = X100 %
Jumlah rumah yang diperiksa
2. Container Indeks
Jumlah Kontainer yang positif jentik Aedes aegypti CI = X 100 %
Jumlah Kontainer yang diperiksa
1. Breatu Indeks
BI = Jumlah Kontainer yang menjadi sarang Aedes aegypti per 100 rumah disuatu daerah.
Dari hasil survei jentik didapat data-data mengenai House Indeks (HI),
daerah-daerah pelabuhan. Cara yang tapat untuk menentukan indeks-indeks jentik
adalah dengan memakai cara single larvae survey yaitu semua kontainer menjadi
sarang nyamuk diteliti, bila ditemukan jentik nyamuk maka diambil seekor dari setiap
kontainer untuk diperiksa.
Bila ditemukan sarang nyamuk dengan investasi campuran, misalnya terdapat
jentik Aedes aegypti maka dipilih jentik dari nyamuk yang sesuai dengan ciri-cirinya
yaitu berwarna putih keabu-abuan, bergerak lamban dengan gerakan membentuk
huruf S dan apabila terkena cahaya senter akan bergerak aktif (Depkes RI, 2003).
2.2. Penanggulangan dan Pencegahan DBD
Menurut Depkes RI (2003) dalam petunjuk Teknis P2 DBD, bahwa upaya
penanggulangan DBD dibagi atas: 1) Penemuan dan Pelaporan Penderita. Penyakit
DBD termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah sesuai
dengan UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan Permenkes RI
No. 560 tahun 1989 tentang tempat tinggal penderita; 2) Penyelidikan Epidemiologi
adalah kegiatan pencarian penderita DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk
penular DBD disekirar rumah penderita dengan jarak lebih kurang 100 meter keliling,
serta tempat-tempat umum yang diperkirakan sumber penularan penyakit lebih lanjut;
3) Kegiatan Penanganan adalah kegiatan untuk mencegah atau membatasi penularan
penyakit DBD dirumah penderita DBD dan lokasi sekitarnya yang diperkirakan dapat
Jenis kegiatan yang dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan adalah sebagai
berikut: a) Bila ditemukan penderita DBD lainnya atau ditemukan satu atau lebih
penderita panas atau demam tanpa sebab yang jelas dan ditemukan jentik, dilakukan
penyemprotan (fogging fokus) di rumah penderita dan sekitarnya dalam diameter 200
meter, 2 (dua) siklus dengan interval 1 (satu) minggu, penyuluhan dan pergerakan
masyarakat untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN-DBD). b) Bila tidak
ditemukan penderita tapi ditemukan jentik, dilakukan gerakan masyarakat PSN dan
penyuluhan. c) Bila tidak ditemukan penderita dan tidak ditemukan jentik dilakukan
penyuluhan kepada masyarakat; 4) Penanggulangan lain dilakukan di desa/kelurahan
rawan oleh petugas kesehatan dibantu masyarakatt untuk mencegah terjadinya KLB
dan membatasi penyebaran penyakit wilayah lain.
Jenis kegiatan disesuaikan dengan stratifikasi daerah rawan sebagai berikut: a)
Desa/kelurahan rawan I (endemis) yaitu bila dalam tiga tahun terakhir setiap
tahunnya terjangkit DBD; b) Penyemprotan massal sebelum musim penularan yaitu
penyemprotan yang dilakukan diseluruh wilayah desa/kelurahan rawan 1 sebelum
masa penularan, untuk membatasi penularan dan mencegah KLB; c) Pemeriksaan
jentik berkala di rumah dan tempat-tempat umum yaitu pemeriksaan tempat-tempat
penampungan air dan tempat berkembang biakan nyamuk Aedes aegypti yang
dilakukan di rumah dan tempat umum secara teratur sekurang-kurangnya 3 (tiga)
bulan sekali untuk mengetahui populasi jentik nyamuk penular DBD dengan
menggunakan indikator Angka Bebas Jentik (ABJ). (d) Penyuluhan kepada
terakhir terjangkit DBD tetapi tidak setiap tahun; f) Pemeriksaan jentik berkala di
rumah dan ditempat umum; g) Penyuluhan kepada masyarakat; h) Desa/kelurahan
rawan III (potensial) yaitu apabila dalam 3 (tiga) tahun terakhir tidak terdapat kasus
DBD tetapi penduduknya padat, mempunyai hubungan transportasi yang ramai
dengan wilayah lain presentase jentik yang ditemukan 15 %; i) Pemeriksaaan jentik
berkala di rumah dan ditempat umum; j) Penyuluhan kepada masyarakat; k)
Pemberantasan Nyamuk Penular DBD Pemberantasan nyamuk penular DBD
merupakan cara utama mengatasi penyakit DBD, karena belum ada vaksin dan obat
untuk mencegah dan membasmi virusnya. Maka pemberantasan dilakukan terhadap
nyamuk dan jentiknya. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan melalui pengapasan
(fogging) mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada benda-benda tergantung.
Penyemprotan (fogging) dilakukan dengan 2 (dua) siklus dengan interval 1(satu)
minggu untuk membasmi penularan Dengue.
Pemberantasan jentik Aedes aegypti yang merupakan bagian dari
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dapat dilakukan dengan cara kimia, biologi
dan fisik. Secara kimia pemberantasan jentik dapat dilakukan dengan insektisida
(larvasida) ini dikenal dengan abatisasi. Secara biologi dilakukan dengan memelihara
ikan pemakan jentik seperti ikan kepala timah dan ikan gupi. Secara fisik
pemberantasan jentik dilakukan dengan kegiatan menguras, menutup, mengubur
tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak
2.3. Karakteristik Juru Pemantau Jentik 2.3.1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris
khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan objek
yang sangat penting untuk terbentuknya prilaku terbuka (overt behavior). Perilaku
yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng (Soenaryo, 2002)
Menurut Notoadmodjo (2005), Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini
terjadi setelah seorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang
tercakup dalam domain kognitif adalah :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,
termasuk dalam pemgetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap
sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara
benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek.
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Aplikasi di sini dapat diartikan aplikasi
atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam
bentuk konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen,tetapi masih dalam suatu stuktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, dapat menggambarkan, membedakan,
memisahkan dan mengelompokkan.
5) Sintesis ( Synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan
suatu kreteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang
telah ada.
Menurut Triutomo (2007), di Indonesia, masih banyak penduduk yang
menganggap bahwa bencana itu merupakan suatu takdir. Pada umumnya mereka
percaya bahwa bencana itu adalah suatu kutukan atas dosa dan kesalahan yang telah
diperbuat, sehingga seseorang harus menerima bahwa itu sebagai takdir akibat
perbuatannya. Sehingga tidak perlu lagi berusaha untuk mengambil langkah-langkah
pencegahan atau penanggulangannya.
Pengetahuan terkait dengan persiapan menghadapi bencana pada kelompok
rentan bencana menjadi fokus utama. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa
kesiapan menghadapi bencana ini seringkali terabaikan pada masyarakat yang belum
memiliki pengalaman langsung dengan bencana (Priyanto, 2006).
Riset yang dilakukan di New Zealand memperlihatkan bahwa perasaan bisa
mencegah bahaya gempa bumi dapat ditingkatkan dengan intervensi melalui
pengisian kuesioner pengetahuan tentang gempa bumi yang di-follow up dengan
penjelasan-penjelasan yang ditujukan untuk menghilangkan gap atau miskonsepsi
pengetahuan tentang gempa bumi. Hasil riset menunjukkan bahwa pengetahun
partisipan mengenai gempa bumi berhubungan dengan tingkat kesiapannya
mempertimbangkan pengetahuan saat ini dan berupaya menghilangkan miskonsepsi
pengetahuan, akan meningkatkan kemampuan penduduk mempersiapkan diri dengan
lebih baik atas gempa bumi atau bencana lain (Priyanto, 2006).
2.3.2. Sikap
Menurut Notoadmodjo (2005), Sikap merupakan juga respons tertutup
seseorang terhadap simulasi atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor
pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju,
baik-tidak baik, dan sebagainya). Campbell (1950) dalam Notoadmodjo (2005) sikap
adalah An individual’s attitude is syndrome of response consistency with regard to
object.
Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek,
baik yang bersifat intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak langsung
dapat dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari prilaku yang tertutup.
Sikap secara realitas menunjukkan adanya kesesuaian respons terhadap stimulus
tertentu (Sunaryo, 2004)
Allport dalam Notoadmodjo (2005), mengemukakan sikap dapat bersifat
positif dan dapat bersifat negative. Pada sikap positif kecenderungan tindakan adalah
mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu, sedangkan pada sikap
negative terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindar, membenci, tidak
menyukai objek tertentu. Sikap tersebut mempunyai 3 komponen pokok yaitu:
evaluasi terhadap suatu objek dan Kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen
tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh, dalam penentuan sikap
yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan
penting.
Sikap pada fase preparedness, berbentuk adanya perilaku yang berlebih
pada masyarakat tersebut karena minimnya informasi mengenai cara mencegah dan
memodifikasi bahaya akibat bencana jika terjadi. Berita yang berisi hebatnya akibat
bencana tanpa materi pendidikan seringkali membuat masyarakat menjadi gelisah dan
memunculkan tindakan yang tidak realistis terhadap suatu isu. Menumbuhkan sikap
dan pengetahuan dalam menghadapi bencana ini semakin menjadi bagian penting
khususnya di negara yang seringkali dilanda bencana seperti Indonesia (Priyanto,
2006)
Sikap yang baik untuk mencegah banjir yaitu: tidak membuang
sampah/limbah padat ke sungai, saluran dan sistem drainase, tidak membangun
jembatan dan atau bangunan yang menghalangi atau mempersempit palung aliran
sungai, tidak tinggal dalam bantaran sungai; tidak menggunakan dataran retensi banjir
untuk permukiman atau untuk hal-hal lain diluar rencana peruntukkannya,
menghentikan penggundulan hutan di daerah tangkapan air, menghentikan praktek
pertanian dan penggunaan lahan yang bertentangan dengan kaidah kaidah konservasi
2.3.3. Kesempatan
Kesempatan merupakan peluang atau keleluasaan seseorang untuk ikut serta
dalam melakukan berbagai kegiatan. Mardikanto (2003), bagian kegiatan yang
diharapkan partisipasi dari masyarakat antara lain:
1. Kesempatan untuk memperoleh informasi pembanguann.
2. Kesempatan memanfaatkan dan memobilisasi sumberdaya alam dan manusia
untuk pelaksanaan pembangunan.
3. Kesempatan memperoleh dan mengunakan teknologi yang tepat (termasuk
peralatan perlengkapan penunjangnya).
4. Kesempatan untuk berorganisasi, termasuk untuk memperoleh dan
mengunakan peraturan, perjanjian, dan prosudur kegiatan yang harus
dilaksanakan.
5. Kesempatan mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan,
menggekkan, dan mengembangkan serta memelihara partisipasi maasyarakat
(juru pemantau jentik).
Pemberian kesempatan pada masyarakt bukan sekadar, pemberian kesempatan
untuk terlibat dalam pelaksanaan kegiatan agar mereka tidak melakukan tindakan-
tindakan yang akan menghambat atau mengganggu tercapainya tujuan pembangunan.
Tetapi pemberian kesempatan harus dilandasi oleh pemahaman bahwa masyarakat
layak diberi kesempatan karena disamping memiliki kemampuan-kemampuan yang
diperlukan, mereka juga punya hak untuk berpartisipasi dan memanfaatkan setiap
2.3.4. Kemauan
Soewardi dalam Makmur (2008), menyatakan human mutivation (kemauan
manusia) adalah kekuatan psikis dalam diri manusia. Dengan motivasi tersebut
manusia meraih apa yang diinginkannya. Bila kemauan ini hilang, manusia akan
melesak ke bawah, yang tersebut tergelincir. Sebaliknya bila kemauan itu timbul
manusia akan melejit ke atas, yang di sebut menyongsong.
Winardi dalam Makmur (2008), mengemukakan bahwa kemauan (motivasi)
berkaitan dengan kebutuhan. Kita sebagai manusia selalu mempunyai kebutuhan
yang diupayakan untuk dipenuhi. Untuk mencapai keadaan termotivasi, kita harus
mempunyai tindakan tertentu, dengan demikian kebutuhan seseoranglah yang akan
menjadi dasar untuk melakukan tindakan.
Mardikanto (2003), menyatakan kemauan merupakan kunci utama untuk
tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat (juru pemantau jentik). Sebab,
kesempatan dan kemampuan yang cukup belum merupakan jaminan bagi tumbuh dan
berkembangnya partispasi juru pemantau jentik, jika mereka sendiri tidak memiliki
kemauan untuk turut membangun.
Menurut Sastrohadiwiryo (2003), yang mengutip Machrani 1985, kemauan
atau motivasi dapat di artikan sebagai keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia
yang memberikan energi, mendorong kegiatan atau menggerakkan dan mengarah
atau menyalurkan perilaku ke arah mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan atau
mengurangi ketidakseimbangan. Sementara itu Sastrohadiwiryo (2003) yang
antara lain adalah : kinerja, penghargaan, tantangan, tanggung jawab, pengembangan,
keterlibatan dan kesempatan.
Yang dimaksut dengan kemauan adalah daya pendorong yang mengakibatkan
seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam
bentuk keahlian atau keterampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan
berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya,
dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah
ditentukan sebelumnya (Siagian, 2004).
2.3.5. Kemampuan
Menurut Robbins dalam Makmur (2008), kemampuan suatu kasitas individu
untuk mengerjakan berbagai btugas dalam suatu pekerjaan. Seluruh kemampuan
seseorang pada hakikatnya tersusun dari dua perangkat faktor, kemampuan
intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampauan yang
diperlukan untuk melakukan kegiatan mental, sedangkan kemampuan fisik adalah
kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina,
kecekatan, kekuatan dan keterampilan serupa. Dengan meeningkatnya kemampuan
masyarakat (juru pemantau jentik) baik secara intelektual dan fisik, akan memberikan
kontribusi secara maksimal terhadap penyelenggaraan program pemberantasan
penyakit DBD. Kesediaan seseorang untuk berpartisipasi merupakan tanda adanya
Tilaar dalam Makmur (2008), mengungkapkan bahwa suatu masyarakat yang
berpartisipasi adalah masyaraakat yang mengetahui potensi dan kemampunannya
termasuk hambatan-hambatan karena keterbatasannya. Masyarakat yang mampu
berdiri sendiri adalah masyarakat yang mengetahui arah hidup dan perkembangannya
termasuk kemampunnya untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan masyarakat
lainnya, bahkan npada tingkat nasional, regional dan internasional.
Mardikanto (2003), menyatakan, kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi
merupakan:
1. Kemampuan untuk menemukan dan memahami kesempatan-kesempatan
untuk membangun, atau pengetahuan tentang peluang untuk membangun
(meemperbaiki mutu hidupnya).
2. Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan yang dipengaruhi oleh
pendidikan, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
3. Kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan
menggunakan sumberdaya dan kesempatan (peluang) lain yang tersedia
secara optimal.
2.4. Landasan Teori
Teori segitiga epidemiologi menjelaskan bahwa timbulnya penyakit
disebabkan oleh adanya pengaruh faktor penjamu (host), penyebab (agent) dan
lingkungan akan memmikian juga dengan kejadian penyakit DBD yang berhubungan
dengan lingkungan.
Penyakit Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang
ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti namun dapat juga ditularkan oleh nyamuk
Aedes albopictus tetapi perannya dalam penyebaran penyakit ini sangat kecil sekali,
karena nyamuk ini biasanya hidup di kebun-kebun (Depkes RI, 2004).
Pada perinsipnya kejadian penyakit yang digambarkan sebagai segitiga
epidemiologi menggambarkan hubungan tiga komponen penyebab penyakit, yaitu
penjamu, agen dan lingkungan seperti gambar 2.2 berikut :
AGENT
Vektor
PENJAMU LINGKUNGAN
Sumber : CDC, 2002 Gordis, 2000; Gerstman, 1998; dalam Murti, 2003
Gambar 2.2. Model Klasik Kausasi Segitiga Epidemiologi
Untuk memprediksikan pola penyakit, model ini menekankan perlunya
analisis dan pemahaman masing-masing komponen. Perubahan pada satu komponen
akan mengubah ketiga komponen lainnya, dengan akibat menaikkan atau
2.3.1. Agent (agen)
Agent penyebab penyakit DBD adalah virus Dengue yang termasuk B
arthropoda Borne Virus (arbopirosis). Anggota dari genus Falvivirus, famili
Flaviviridae yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan juga nyamuk
Aedes albopictus yang merupakan vektor infeksi DBD.
2.3.2. Host (Penjamu)
Penjamu adalah manusia atau organisme yang rentan oleh pengaruh agent
dalam penelitian ini yang diteliti dari faktor penjamu adalah faktor
karakteristik kader juru pemantau jentik (pengetahuan, sikap, kesempatan,
kemauan, kempuan dan ligkungan).
2.3.3. Environment (lingkungan)
Lingkungan adalah kondisi atau faktor berpengaruh yang bukan bagian dari
agen maupun penjamu, tetapi mampu mengintraksikan agent penjamu. Dalam
penelitian ini yang berperan sebagai faktor lingkungan meliputi lingkungan
fisik (jarak rumah, tata rumah, kelembapan rumah, sanitasi lingkungan, dan
musim). Lingkungan biologis (tanaman hias/ tumbuhan, indeks jentik (host
Berdasarkan konsep penyebab penyakit disebabkan oleh agent, penjamu
(host) dan lingkungan (environment), maka pendekatan yang cocok untuk mengetahui
penyebab penyakit adalah model segitiga epidemiologi yang dimodifikasi sedemikian
rupa dalam bentuk kerangka tiori seperti gambar 2.3 berikut ini :
FAKTOR AGENT
Sosiodemografi, (Depkes RI, 2004)
- Umur - Jenis Kelamin - Pendidikan - Pekerjaan - Sosial Ekonomi - Mobilitas
Lingkungan Teori (Kramer, 1985)
o Sanitasi Lingkungan
o Bionomik Agent
o Musim
o Curah Hujan
Teori (Green, 2005) Pembentukan Prilaku
- Pengetahuan - Sikap - Kebiasaan Pembentukan Partisipasi(Mardikanto,2003) - Kesempatan - Kemauan - Kempuan - Partisipasi PENANGGULANGAN KASUS DBD o Kelembaban
Gambar 2.3. Kerangka Teori : Modifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya Dengue.
2.5. Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori maka peneliti merumuskan kerangka konsep
penelitian ini sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen
(Variabel Bebas) (Variabel Terikat)
Lingkungan
Antara Lain :
1. Jarak antara rumah
2. Tata rumah
3. Tempat penampungan Air (TPA)
Karakteristik Jumantik 1. Umur 2. Pendidikan 3. Pekerjaan 4. Pengetahuan 5. Sikap 6. Kesempatan 7. Kemauan 8. Kemampuan 4. Keberadaan jentik
Kasus Demam Berdarah Dengue
Gambar 2.4 Kerangka Konsep