VI ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN
6.2.2. Lingkungan Industri
Lingkungan industri merupakan lingkungan yang berada di sekitar usaha yang memiliki pengaruh langsung terhadap operasional usaha. Menurut Porter (1991) suatu perusahaan dalam jangka panjang akan mampu bertahan jika berhasil mengembangkan strategi untuk menghadapi lima kekuatan yang membentuk suatu struktur persaingan dalam industri yang terdiri dari persaingan usaha sejenis dalam industri, ancaman pendatang baru, ancaman produk substitusi, kekuatan daya tawar pemasok, dan kekuatan daya tawar pembeli.
1) Ancaman Pendatang Baru
Masuknya pendatang baru merupakan hal yang mungkin terjadi dalam sebuah industri. Hal ini akan memberikan berbagai implikasi bagi perusahaan yang ada, antara lain perebutan pangsa pasar, perebutan sumberdaya produksi, dan peningkatan kapasitas perusahaan. Namun, ancaman masuknya perusahaan pendatang baru tergantung dari hambatan masuk ke dalam industri dan kemampuan para pendatang baru tersebut dalam merespon hambatan masuk yang ada. Menurut Porter (1997), terdapat enam faktor hambatan masuk bagi pendatang baru ke dalam suatu industri, yaitu skala ekonomis, diferensiasi produk, kebutuhan modal, biaya beralih pemasok, akses ke saluran distribusi, dan biaya tidak menguntungkan terlepas dari skala.
a) Skala Ekonomis
Untuk mendirikan suatu usaha yang bergerak dalam minuman kopi herbal instan tidak harus dalam skala besar. Siapapun dapat memulai usaha minuman kopi herbal instan ini dari skala kecil yang disesuaikan dengan kemampuan produksi yang dimiliki perusahaan.
b) Diferensiasi Produk
Secara umum, produk yang dihasilkan oleh produsen minuman kopi instan hampir sama. Perbedaannya adalah pada campurannya, yaitu kopi instan biasa atau dikenal dengan 2in1 (kopi+gula); 3in1 (kopi+gula+susu/creamer); kemudian saat ini dikenal kopi instan 4in1
(kopi+gula+susu/creamer+herbal). Selain itu, perbedaan lainnya adalah dilihat dari kelengkapan aspek legalitas dan atribut kemasan.
c) Kebutuhan Modal
Walaupun untuk membuat usaha minuman kopi herbal instan tidak harus pada skala besar, tetap saja membutuhkan modal yang cukup besar. Hal ini dikarenakan alat-alat yang digunakan dalam proses produksi dan pengemasan cukup mahal harganya.
d) Biaya Beralih Pemasok
Pada umumnya, biaya beralih pemasok yang harus dikeluarkan oleh pendatang baru cukup besar agar pelaku usaha minuman kopi herbal instan yang telah ada pindah dari pemasok tetapnya saat ini. Hal ini dikarenakan hubungan antara pelaku usaha (pembeli) dengan pemasok telah terjalin cukup baik sehingga pendatang baru akan merasa kesulitan untuk memaksa pelaku usaha yang telah ada agar beralih dari pemasok lama.
e) Akses ke Saluran Distribusi
Pada industri tertentu, perusahaan-perusahaan yang telah mapan biasanya memiliki saluran distribusi sendiri untuk memasarkan produknya. Sehingga perusahaan pendatang baru mungkin sulit memasuki saluran yang ada dan harus mengeluarkan biaya yang besar untuk membangun saluran sendiri. Meskipun demikian, kondisi tersebut mungkin tidak terlihat pada industri minuman kopi herbal instan. Hal ini karena para pendatang baru pun masih berpeluang untuk memasuki saluran distribusi yang telah dikuasai oleh perusahaan minuman kopi herbal instan yang telah ada, asalkan produk yan dihasilkan bisa bersaing baik secara kualitas (mutu) maupun harga.
f) Biaya Tidak Menguntungkan Terlepas dari Skala
Para produsen minuman kopi herbal instan yang sudah besar mungkin mempunyai keunggulan biaya yang mungkin tidak dapat ditiru oleh perusahaan pendatang baru yang akan masuk ke dalam industri minuman kopi herbal instan, misalnya dalam hal pengalaman pemilik usaha, penggunaan teknologi, penguasaan terhadap sumber daya produksi, atau
lokasi yang menguntungkan. Meskipun demikian, para pendatang baru masih berpotensi untuk masuk ke dalam industri minuman kopi herbal instan karena bahan baku maupun peralatan yang digunakan untuk pembuatan kopi herbal cukup banyak tersedia.
2) Kekuatan Daya Tawar Pemasok
Bagi setiap perusahaan keberadaan pemasok bahan baku utama dan penolong sangat penting, termasuk bagi CV Agrifamili Renanthera. Namun, perusahaan tetap memiliki kebebasan untuk membeli bahan baku tergantung dari harga dan kualitas produk yang ditawarkan oleh pemasok. Meskipun, hubungan yang terjadi antara perusahaan dengan pemasok telah terjalin dengan baik, perusahaan tidak terikat hanya pada satu pemasok saja. Hal ini merupakan salah satu strategi perusahaan untuk mendapatkan bahan baku yang diinginkan dan menjaga ketersediaan bahan baku.
Saat ini perusahaan telah memiliki supplier kopi asal Bogor dan Sukabumi, jahe merah berasal dari supplier dari Lampung, pala di pasok dari Ciapus (Bogor), pegagan diperoleh dari Cisarua sedangkan kencur diperoleh dari Kemang atau Kebon Jati (Bogor). Perusahaan tidak hanya memiliki satu melainkan beberapa supplier untuk masing-masing bahan baku. Maka secara umum, kekuatan tawar menawar pemasok tidak begitu mengancam.
3) Kekuatan Daya Tawar Pembeli
Kekuatan tawar menawar pembeli menurut Pearce dan Robinson (1997), adalah jika : 1) pembeli terkonsentrasi atau membeli dalam jumlah yang banyak, 2) produk yang terbeli tidak terdiferensiasi atau standar, 3) produk yang dibeli merupakan komponen penting dari produk pembeli dan merupakan komponen biaya yang cukup besar, 4) pembeli menerima laba rendah, 5) produk industri tidak penting bagi kualitas produk atau jasa pembeli, 6) produk industri tidak menghasilkan penghematan bagi pembeli, 7) pembeli memiliki kemampuan untuk melakukan integrasi balik.
Pembeli atau konsumen dari produk oriental coffee dikatakan cukup kuat dan kondisi tersebut dapat menjadi ancaman bagi perusahaan. Hal ini dikarenakan sebagian besar konsumen perusahaan adalah agen yang membeli dalam jumlah yang cukup besar, meskipun perusahaan juga tetap melayani
pembelian oleh pengecer maupun konsumen akhir yang membeli langsung kepada perusahaan.
4) Ancaman Produk Substitusi (Pengganti)
Produk substitusi atau produk pengganti adalah produk lain yang memiliki fungsi yang sama dengan produk yang dihasilkan perusahaan dan dapat mempengaruhi keberadaan produk perusahaan selama di pasar. Keberadaan produk substitusi dapat menjadi ancaman sebuah perusahaan jika harga dari produk tersebut lebih murah dan kualitas yang ditawarkan sama atau lebih baik dari produk perusahaan. Produk substitusi dari kopi herbal adalah produk yang mengandung kafein seperti yang terkandung dalam produk kopi lainnya. Berdasarkan Tabel 15, produk-produk tersebut merupakan hasil produksi perusahaan-perusahaan besar. Pada umumnya perusahaan-perusahaan besar berproduksi dengan skala besar yang akan berpengaruh terhadap biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan. Sehingga berimplikasi terhadap harga yang ditawarkan produsen kepada konsumen menjadi lebih murah. Harga dari produk-produk ini berkisar antara Rp 500 – Rp 1.500 sachet, harga ini lebih murah dibandingkan dengan harga oriental coffee (Tabel 15). Keberadaan produk substitusi dengan harga yang lebih murah ini dapat menjadi ancaman bagi Agrifam.
Tabel 15. Daftar Harga Produk Substitusi Minuman Kopi Herbal Instan
No Nama Produk Harga per sachet (rupiah)
1. Good Day 750
2. Nescafe Coffeemix Pas 950
3. Indocaffee Coffeemix 900 4. Torabika 3 in 1 900 5. Torabika Cappucino 1.500 6. Torabika moka 800 7. Torabika susu 950 8. Torabika duo 900
9. Torabika oke (kopi + gula) 1.000
10. ABC susu 700
11. ABC mocca 850
12. Kapal api susu 900
13. Kapal api moka 600
14. Kapal api mantap + gula 500
5) Persaingan di Dalam Industri Sejenis
Minuman kopi herbal instan merupakan salah satu produk olahan kopi yang menawarkan produk yang sedikit berbeda dengan kopi instan pada umumnya. Saat ini belum banyak pelaku usaha yang mengusahakan minuman kopi herbal, minuman kopi instan yang banyak ditemukan di pasaran hanya menawarkan minuman kopi dengan tambahan susu, cokelat, atau moka. Di Kota Bogor sendiri, hanya terdapat dua produsen minuman kopi herbal instan salah satunya adalah CV Agrifamili Renanthera. Sedangkan perusahaan lainnya yaitu pesaing yaitu pesaing dari CV Agrifamili Renanthera belum memiliki kelengkapan aspek legalitas dan kelengkapan atribut kemasan. Berdasarkan keterangan dari pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Bogor yang bertanggung jawab pada bidang perindustrian, perusahaan tersebut sedang dalam proses melengkapi aspek legalitas dan atribut kemasan.
Selain di Kota Bogor, terdapat beberapa perusahaan yang mengusahakan kopi herbal. Namun, harga yang ditawarkan oleh perusahaan pesaing tersebut relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga yang ditawarkan Agrifam yaitu antara Rp 2.000 – Rp 4.000 per sachet. Hal ini menjadi salah satu keunggulan perusahaan dibandingkan perusahaan pesaingnya tersebut. Namun, perusahaan tetap harus berhati-hati dan memperhatikan perkembangan pasar dalam menjalankan perusahaannya. Sebaiknya perusahaan menyikapi persaingan dalam industri ini sebagai salah satu faktor pendorong agar perusahaan dapat lebih berpikir kreatif dalam memposisikan produknya di pasar dan bersaing dalam industri secara sehat.