VI ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN
6.1.4. Produksi dan Operasi
Ketersediaan dan akses terhadap bahan baku sangat diperlukan dalam kelangsungan hidup suatu perusahaan. Lokasi perusahaan yang strategis tidak hanya memudahkan perusahaan dalam pemasaran produk tetapi juga memudahkan perusahaan untuk memenuhi ketersediaan bahan baku karena mempermudah dalam pendistribusian bahan baku menuju lokasi produksi. Dalam proses produksi oriental coffee digunakan bahan-bahan, antara lain bahan baku utama, bahan baku pendukung, bahan bakar, dan kemasan.
Bahan baku utama yang digunakan dalam proses produksi red bark dan vitacino adalah kopi jenis Toraja. Bahan baku utama ini diperoleh perusahaan dari supplier asal Bogor dan Sukabumi. Pembelian bahan baku ini seluruhnya dilakukan secara tunai oleh perusahaan. Hal ini merupakan cara yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok.
Bahan baku pendukung yang digunakan antara lain bahan herbal (jahe merah, pala, pegagan, kencur, lada hitam) gula industri, krim, coklat. Bahan baku pendukung ini diperoleh perusahaan dari beberapa pasar di puat Kota Bogor seperti Pasar Bogor dan Pasar Anyar. Sedangkan jahe merah berasal dari supplier di Lampung, pala di pasok dari Ciapus (Bogor), kencur dan lada hitam diperoleh dari Kemang atau Kebon Jati (Bogor), serta pegagan diperoleh dari Cisarua.
Secara umum perusahaan tidak menghadapi hambatan dan kesulitan yang berarti dalam memperoleh bahan baku baik bahan baku utama maupun bahan baku pendukung. Sedangkan bahan bakar yang digunakan dalam proses produksi adalah gas dan minyak tanah. Perusahaan mempunyai tiga unit kompor yang digunakan untuk proses produksi, dua diantaranya menggunakan bahan bakar minyak tanah sedangkan satu unit lagi menggunakan bahan bakar gas.
Selain bahan-bahan di atas, proses produksi juga membutuhkan kemasan untuk mengemas produk yang dihasilkan. Jenis kemasan yang digunakan adalah kemasan aluminium foil yang berbentuk sachet. Kemudian untuk kemasan luarnya atau kemasan sekunder digunakan plastik. Pada kemasan sachet, tercantum merek, nomor PIRT dari Dinas Kesehatan, label halal dari MUI, berat bersih (netto), komposisi bahan baku, nama perusahaan, lokasi produksi dan cara penyajian.
Teknologi yang digunakan perusahaan dalam memproduksi red bark dan vitacino masih tergolong semi modern sehingga proses produksi membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, perusahaan belum dapat mengoptimalkan kapasitas produksi yang dimiliki. Proses produksi dilakukan dalam beberapa tahap, sehingga untuk memproduksi produk secara keseluruhan untuk menjadi satu sachet red bark atau vitacino memerlukan waktu lebih dari satu hari. Kapasitas produksi yang belum optimal ini merupakan salah satu penyebab perusahaan belum mampu memenuhi seluruh permintaan konsumen. Adapun alur proses produksi oriental coffee dapat dilihat pada Gambar 7.
1) Proses Pencucian (Cleaner) dan Penumbukan
Setiap bahan baku yang telah sesuai standar (disortasi) dimasukkan ke dalam bak penampungan. Kemudian cuci hingga bersih dengan air mengalir, bilas minimal tiga kali dan tiriskan hingga kering (pastikan tidak ada kotoran yang tersisa supaya bahan baku benar-benar bersih). Masukkan setiap jenis bahan baku yang sudah bersih ke dalam bak penampungan untuk dilakukan proses penumbukan. Tumbuk setiap jenis bahan baku yang sudah bersih tersebut hingga setiap jenis bahan baku tersebut terbelah, untuk memudahkan penyerapan sari-sari yang terkandung di dalamnya.
2) Proses Perebusan
Pastikan panci stainless steel benar-benar bersih dari sisa-sisa perebusan sebelumya. Didihkan air terlebih dahulu, kemudian masukan setiap jenis bahan baku ke dalam air yang sudah mendidih dengan perbandingan bahan baku dan air adalah 1:4. Rebus setiap jenis bahan baku selama 30 menit dalam keadaan tertutup dan mendidih. Kemudian air rebusan disaring menggunakan kawat kasa 30-40 mesh, lalu diendapkan minimal selama satu jam, maksimal
tiga jam dalam keadaan tertutup. Ambil bagian cairannya secara hati-hati, kemudian saring menggunakan kain kasa (kain saring ukuran 180-200 mesh). Cairan hasil saringan digunakan untuk proses ekstraksi.
3) Proses Ektraksi
Pastikan panci stainless steel benar-benar bersih dari sisa-sisa proses ekstraksi sebelumnya. Masukan cairan hasil penyaringan dalam proses perebusan sebelumnya ke dalam panci stainless steel kemudian panaskan dengan suhu 80-90 ºC (jangan sampai mendidih) sambil terus diaduk sampai tersisia 75 persen. Setelah agak mengental tambahkan gula pasir sebagai katalisator dengan perbandingan satu kg bahan segar berbanding 0,75 kg gula pasir sambil diaduk hingga cairan mulai agak mengental yang tandai dengan munculnya aroma khas bahan baku dan tidak menyatu lagi dengan adonan sekitarnya. Angkat dari perapian, aduk secara intensif sampai adonan betul-betul menjadi serbuk.
4) Proses Penyeragaman Serbuk
Gunakan saringan tepung dengan ukuran 30-40 mesh (pastikan alat yang digunakan untuk mengayak benar-benar bersih dan kering). Masukan serbuk hasil ekstraksi setiap jenis bahan baku dan lakukan proses pengayakan. Pisahkan serbuk yang tidak lolos dari saringan, untuk digiling menggunakan mesin penumbuk (disk mill) dan lakukan pengayakan ulang. Gabungkan hasil ayakan pertama dan hasil disk mill agar menjadi homogen. Simpan serbuk yang sudah halus ke dalam tempat penampungan atau kemasan yang bersih dan kering. Simpan dalam ruang penyimpanan dengan suhu 25-30ºC (suhu ruang) dan tidak lembab.
5) Proses Pencampuran (mixing)
Pastikan alat mixer bersih dan kering serta bebas dari sisa-sia mixing sebelumnya. Masukkan semua jenis bahan baku yang sudah berbentuk serbuk halus ke dalam alat pencampuran sesuai dengan komposisi masing-masing jenis produk. (AFR/QA/OS/A.3), aduk hingga semua bagian merata selama satu jam. Masukkan ke dalam bak penampungan dalam keadaan bersih dan kering sesuai dengan pengelompokkan jenis produk.
6) Proses Pengemasan
Gunakan bahan alumunium foil yang sudah diberi label sesuai kelompok jenis produk (pastikan kondisi kemasan dalam keadaan bersih dan kering). Masukan serbuk hasil mixing sesuai dengan pengelompokan jenis produk masing-masing (red bark atau vitacino) dengan berat 25 gram per sachet (pastikan berat bersih (netto) per sachet menggunakan timbangan dengan ketelitian satu gram. Kemasan ditutup rapat menggunakan mesin sealer (pastikan kemasan benar-benar rapat atau tidak bocor). Hasil pengemasan yang sudah memenuhi standar dikumpulkan sesuai dengan kelompok jenis produk (red bark atau vitacino). Kemudian hasil pengemasan primer ini akan dikemas lagi menggunakan plastik.
Gambar 7. Alur Proses Produksi Oriental Coffee
Sumber : CV Agrifamili Renanthera Ekstraksi Pengemasan Penyeragaman Serbuk Tester Pencampuran (mixing) Penimbangan Pencucian Sortasi Bahan Baku
6.1.5. Sumberdaya Manusia
Selain ketersediaan bahan baku, kualitas sumberdaya manusia yang dimiliki juga merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu usaha. Oleh karena itu, penting bagi suatu usaha untuk memperhatikan kualitas tenaga kerja yang dimilikinya yang dilakukan mulai dari awal perekrutan sampai proses kegiatan kerja karena secara tidak langsung tenaga juga berperan dalam perkembangan usaha.
Secara umum, perekrutan karyawan pada CV Agrifamili Renanthera tidak melalui prosedur yang formal. Karyawan yang dipekerjakan untuk proses produksi biasanya berasal dari masyarakat sekitar lokasi produksi, tidak ada persyaratan yang khusus dalam proses perekrutan. Calon karyawan tidak harus memiliki kemampuan khusus untuk membuat kopi instan.
Perusahaan akan memberikan pelatihan kepada calon karyawan dalam membuat kopi. Kemudian perusahaan akan memberikan kesempatan (masa percobaan) kepada calon karyawan tersebut untuk melakukan proses produksi. Selama masa percobaan tersebut, perusahaan akan melakukan penilaian kepada calon karyawan tersebut. Jika calon karyawan tersebut melakukan pekerjaan dengan baik dan menghasilkan produk sesuai standar perusahaan, maka perusahaan akan mengangkatnya menjadi karyawan tetap. Saat ini perusahaan memiliki empat karyawan tetap untuk bagian produksi dan karyawan tetap secara keseluruhan berjumlah delapan orang.
Hari kerja yang ditetapkan di Agrifam adalah enam hari, yaitu hari Senin sampai hari Sabtu. Untuk hari Senin sampai hari Jumat, dimulai dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00, jadi satu hari terdapat 7 jam waktu kerja. Sedangkan untuk hari Sabtu, waktu kerja hanya setengah hari yaitu pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Sedangkan untuk karyawan bagian produksi, pemilik tidak membatasi jam kerja. Hal ini dikarenakan kompensasi yang diberikan kepada karyawan bagian produksi disesuaikan dengan target yang ditetapkan pemilik perusahaan sehingga pemilik memberikan kebebasan kepada para karyawan untuk mencapai target yang ingin dicapai oleh karyawan. Semakin banyak produk yang dihasilkan, maka semakin banyak juga kompensasi yang akan didapat karyawan.
Kompensasi (upah) untuk karyawan bagian produksi diberikan setiap akhir produksi. Sedangkan gaji untuk karyawan bagian lainnya seperti bagian adiministrasi dan keuangan, product development and control, sales dan distribusi, serta bagian pemasaran diberikan setiap bulan. Selain pemberian kompensasi, pemilik juga memberikan makan kepada karyawannya dan bonus berupa barang pada saat hari raya dan saat terjadi peningkatan penjualan. Hal ini dilakukan karena pemilik sadar bahwa karyawan merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan dan untuk memberikan insentif kepada karyawannya sehingga meningkatkan loyalitas karyawan terhadap perusahaan.