BAB I PENDAHULUAN
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah kajian bibliometrika khususnya membahas mengenai impact factor jurnal di bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi menggunakan database Schimago. Indikator yang digunakan dalam penelitian adalah impact factordengan dimensi SJR.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Jurnal Ilmiah
Pada dasarnya, kontribusi setiap ilmuwan dalam perkembangan ilmu pengetahuan akan terbangun melalui sebuah tulisan atau karya ilmiah. Dalam proses ini, suatu daftar referensi dan sitasi merupakan suatu hal yang keberadaannya begitu penting sebagai wujud sumbangan pengetahuan dari masing-masing ilmuwan tersebut yang dituangkan dalam sebuah komunikasi yang bersifat ilmiah.
Jurnal atau majalah ilmiah adalah salah satu bentuk publikasi serial yang diterbitkan dengan kala terbit yang tetap atau teratur (periodik) dan berisi sejumlah artikel yang merupakan kontribusi berbagai penulis. Menurut Anonim (2014) jurnal dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok yaitu:
1. Professional or Trade Journals 2. Popular Journals
3. Scholarly Journals
Menurut Lasa (2006, 1)jurnal merupakan publikasi ilmiah yang menyajikan informasi ilmiah terbaru dan memiliki peran strategis dalam pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan.
Dalam Kamus Kepustakawanan Indonesia yang dikutip oleh Lasa (2009:
128), jurnal merupakan publikasi ilmiah yang memuat informasi tentang hasil kegiatan dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mencakup kumpulan pengetahuan baru, pengamatan empiris, dan pengembangan gagasan.
Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diketahui bahwa jurnal merupakan hasil dari suatu penelitian yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok. Jurnal berupa hasil temuan baru dari pengembangan suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai subjek yang sama. Pengembangan ilmu pengetahuan yang ada pada jurnal mengikuti teknologi yang semakin pesat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang, jumlah publikasi jurnal semakin meningkat. Hal ini berdampak pada popularitas jurnal yang semakin sering digunakan sebagai bahan rujukan.
2.2 Bibliometrika
Menurut Pergola (2016, 71) bibliometri merupakan analisis kuantitatif terhadap bibliografi dan kepustakaan.Menurut Rahmah (2011, 121) mengemukakan bahwa bibliometrika adalah istilah yang menggunakan metode matematika dan statistika untuk mempelajari dan mengidentifikasi pola- pola dalam penggunaan bahan- bahan dan layanan perpustakaan atau untuk menganalisis perkembangan dari literatur khusus, terutama untuk kepengarangan, publikasi dan penggunaanya.
Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat diketahui bahwa bibliometrika pada dasarnya adalah suatu seni mengkaji media dengan metode matematika dan statistika, dimana media tersebut bisa dalam bentuk apapun, baik itu grafis/tercetak maupun dalam kemasan elektronik. Bibliometrika menjadi suatu pengukuran untuk melihat suatu kualitas dari suatu media.
2.3 Impact Factor
Metode impact factor pertama kali dikenalkan pada tahun 1955 oleh seorang pustakawan berkebangsaan Amerika Serikat bernama Eugene Garfield yang bisa diakses dengan situs web garfield.library.upenn.edu. Setelah memproduksi Genetics Citation Index, Garfield memperluas cakupan karyanya menjadi multidisipliner Science Citation Index, diterbitkan tahun 1964 oleh Institute for Scentific Information.
2.3.1 Defenisi Impact Factor
Impact factor berbeda dengan sistem akreditasi jurnal ilmiah, yaitu sistem untuk menentukan peringkat akreditasi jurnal ilmiah nasional berdasarkan kriteria manajemen pengelolaan dan penampilan, seperti nama berkala, kelembagaan penerbit, penyunting/dewan redaksi, kemantapan penampilan, gaya penulisan, substansi, keberkalaan, tiras, dan lainlain (LIPI 2005).
Menurut Sutardji (2010, 25) menyatakan bahwa faktor dampak jurnal sangat membantu kepentingan pustakawan, penulis, editor/penerbit jurnal, dan penentu kebijakan.
Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diketahui bahwa faktor dampak adalah faktor dampak dari suatu jurnal yang menentukan kualitasnya berdasarkan pengelolaan informasi yang terarah yang membantu dalam penentu kebijakan dalam menggunakan informasi yang relevan. Peringkat jurnal berdasarkan kelembagaan penerbit, keberkalaan dan kemantapan penulisan.
2.3.2 Tujuan Impact Factor
Sri Hartinah (2002, 2) menyatakan bahwa pada kajian bibliometrika banyak digunakan analisis sitiran sebagai cara untuk menentukan berbagai kepentingan atau kebijakan seperti: “evaluasi program riset; penentuan ilmu pengetahuan, visualisasi suatu disiplin ilmu, indikator ilmu pengetahuan dan teknologi, faktor dampak dari suatu majalah (journal impact factor), kualitas suatu majalah, serta pengembangan koleksi majalah, dan lain-lain”.
Menurut Sammarco (2008) jurnal-jurnal ini memiliki eksposur yang lebih besar, lebih banyak orang mudah melihat artikel di dalamnya, artikel-artikel itu dikutip lebih sering, dan dengan demikian impact factor jurnal meningkat.
Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diketahui bahwa tujuan impact factor digunakan untuk analisis sitiran pada suatu jurnal yang dipublikasikan. Hal ini bertujuan untuk kebijakan evaluasi program riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan disiplin ilmu.
2.3.3 Manfaat Impact Factor
Impact factor berguna dalam menjelaskan signifikansi frekuensi kutipan absolut/total. Ini menghilangkan beberapa bias dari jumlah tersebut yang mendukung jurnal besar lebih kecil, atau jurnal yang sering diterbitkan lebih jarang diterbitkan dan jurnal yang lebih tua lebih dari yang baru. Ada banyak aplikasi inovatif dari impact factor jurnal.
1. Penting untuk riset pasar untuk penerbit dan lainnya.
2. Alat penting bagi pustakawan dan peneliti
3. Alat penting bagi peneliti untuk memilih jurnal terkenal dan mempublikasikan di jurnal lansia dan terkenal.
4. Impact factor dapat digunakan untuk memberikan perkiraan kasar tentang prestise jurnal.
5. Alat untuk penggunaan yang masuk akal dan mengutip data dengan perawatan yang tepat dalam jurnal.
Impact factormenjadi salah satu alat yang digunakan untuk menilai sebuah kualitas jurnal melalui seberapa banyak jurnal tersebut mendapat rujukan. Pada perpustakaan impact factor sangat dibutuhkan karena sebuah perpustakaan harus menyediakan berbagai informasi yang relevan yang mampu mencukupi kebutuhan informasi pemustaka. Melalui impact factor, pustakawan dapat mengukur kualitas jurnal yang akan dilanggan oleh perpustakaan untuk mendukung penelitian yang ada pada sivitas akademika.
2.3.4 Faktor yang Mempengaruhi Impact Factor
Menurut Hasugian dalam handout (2013)bibliometrik ada beberapa faktor yang mempengaruhi impact factor yaitu :
1. Bahasa jurnal.
2. Ketersediaan jurnal.
3. Faktor yang mempengaruhi hitungan tersitirkan:
a. Kolaborasi atau membujuk peneliti b. Menyempurnakan jasa pada penulis c. Pencarian subjek
d. Promosi media e. Pemilihan artikel
4. Faktor yang mempengaruhi hitungan artikel tersitirkan:
a. Pengurangan atau pembatasan artikel tersitirkan b. Peninjauan klasifikasi artikel
5. Sikap editor jurnal terhadap Impact Factor a. Perasaan campuran
b. Impact Factor yang tinggi tidak selalu bermakna bagi peneliti bidang tertentu
6. Back scratching
Menurut Natalia (2016, 17) faktor mempengaruhi perhitungan impact factor yaitu : kutipan diri (self-citation), Dampak dari tinjauan artikel (impact factor), kutipan non-citable item, jumlah item citable dan bias penggunaan bahasa Inggris.
Berdasarkan pendapat diatas terdapat faktor- faktor yang sangat mempengaruhi impact factor. Suatu jurnal dapat dikutip menjadi sebuah referensi untuk penelitian baru karena jurnal tersebut mudah dipahami oleh pemustaka. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan bahasa yang digunakan oleh jurnal.
2.3.5 Penghitungan Impact Factor
Kamus ODLIS dalam Maryono (2012) menyebutkan, impact factor adalah bagian dari analisis sitasi, pengukuran kuantitatif berupa rata-rata jumlah sitasi per artikel, dari suatu jurnal ilmiah, yang terbit selama tahun tertentu. Pengukuran ini dikembangkan oleh Institute for Scientific Information untuk digunakan dalam Journal Citation Reports, suatu penerbitan berseri mencakup berbagai didisiplin ilmu untuk menyusun peringkat, mengevaluasi, dan membandingkan berbagai jurnal dalam subjek yang sama. Untuk memudahkan pemahaman, rumusan sederhana berikut ini mungkin bisa membantu, berdasarkan presentasi resmi Garfield (1995) :
Penghitungan IF untuk sebuah jurnal (misalnya untuk tahun 2010) dilakukan dengan cara menjumlahkan rata-rata citation/rujukan setiap karya yang diterbitkan pada 2 tahun sebelumnya (yaitu tahun 2009 dan 2008) dibandingkan dengan jumlah seluruh karya (yang bisa dirujuk) yang terbit pada tahun 2006 dan 2007. Suatu jurnal yang (misalnya) mempunyai nilai IF = 3 berarti setiap karya yang terbit pada tahun 2007 dan 2008 dirujuk oleh rata-rata 3 buah karya ilmiah lainnya (Firdaus 2012, 16). Dari rumusan tersebut, bisa dipahami dengan mudah, bahwa ukuran impact factor hanya mengukur pengaruh terhadap artikel jurnal yang sama, dan hanya untuk kurun waktu dua tahun.
2.4 Pemeringkatan Jurnal
Dalam jurnal Federal Reserve Bank of St. Louis Review tujuan dari peringkat jurnal didasarkan kualitas penelitian yang dipublikasikan dalam database pemeringkatan, sehingga ukuran yang mengontrol untuk ukuran diperlukan untuk membuat peringkat berguna untuk menilai kualitas penelitian kertas, orang, atau lembaga. Peringkat jurnal dapat didasarkan juga pada dampak total, dimana kualitas penelitian yang dipublikasikan untuk kuantitas yang lebih besar.
“One implication that is very possible from ranking journals and/or using impact factors in evaluation purposes is that it might change researchers publication behaviors; towards publishing in journals with high impact instead of publishing in more fitting perhaps more specialized journals.
Johnstone gives an example in an article”. (Johnstone, 2007)
Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa suatu gabungan yang memungkinkanperingkat jurnal yang menggunakan impact factor dalam
mengevaluasi suatu artikel yang mengubah perilaku publikasi dari peneliti menuju penerbitan suatu jurnal yang memiliki dampak tinggi yang lebih khusus.
2.4.1 h-index
h- index diperkenalkan oleh Jorge E. Hirsch. Jorge Hirsch (2005) has proposed the h-index as a criterion to quantify the scientific output of a single researcher. Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa h-index merupakan salah satu parameter atau ukuran untuk keluaran karya ilmiah dari setiap pengarang tunggal. Van Eck dan Waltman (2008) “The automatic calculation of h-indices has even become a built-in feature of major bibliographic databases such as Web of Science and Scopus. Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa h-index dibangun sebagi fitur database bibliografi seperti Web of Science dan Scopus. Database tersebut menyediakan h-index dari setiap artikel yang dimuat yang bertaraf internasional.
2.4.2 SJR dan SNIP
Dalam journal metrics Schimago Journal Rank dikembangkan oleh Profesor Félix de Moya, Schimago Journal Rankadalah metrik prestise didasarkan pada gagasan bahwa semua kutipan tidak diciptakan sama. Dengan SJR, bidang subjek, kualitas dan reputasi jurnal memiliki dampak langsung pada nilai kutipan. Ini berarti bahwa kutipan dari sumber dengan SJR relatif tinggi bernilai lebih dari kutipan dari sumber dengan SJR lebih rendah.
Dalam journal metrics Source Normalized Impact per Paper dibuat oleh Profesor Henk moed untuk mengukur kontekstual kutipan dampak dengan pembobotan kutipan berdasarkan jumlah total kutipan dalam bidang subjek
tertentu. Dampak dari kutipan tunggal diberikan nilai yang lebih tinggi di bidang studi di mana kutipan cenderung digunakan dan sebaliknya.
Berdasarkan isi dari jurnal diatas maka dapat diketahui bahwa metode pengukuran mutu jurnal dengan pengutipan yang mempunyai bobot yang tinggi, berdampak pada prestige suatu jurnal. Dengan membandingkan jumlah artikel yang mengutip terhadap jumlah artikel yang dipublikasi oleh sebuah jurnal.
2.4.3 CiteScore
Dalam buku Pedoman Publikasi Ilmiah Ristekdikti (2017, 31), CiteScore merupakan metriks standar baru dampak jurnal kutipan/sitasi terbaru yang komprehensif dari Scopus untuk judul serial dalam Scopus, baik itu jurnal, buku, atau prosiding. CiteScore metrik dihitung menggunakan data Scopus untuk lebih dari 22.000 judul seri jurnal peer-reviewed, seri buku, prosiding konferensi, dan jurnal lainnya di 330 disiplin ilmu. CiteScore Tracker menunjukkan data CiteScore tahun berjalan dan setiap bulan.
CiteScore mengukur kutipan rata-rata yang diterima per dokumen yang dipublikasikan dalam serial. CiteScore adalah cara sederhana untuk mengukur dampak kutipan dari judul serial seperti jurnal. Serial judul didefinisikan sebagai judul yang mempublikasikan secara teratur.
2.4.4 i10- index
i10-index adalah yang terbaru dalam garis metrik jurnal dan diperkenalkan oleh Google Scholar pada 2011. Ini adalah ukuran pengindeksan yang sederhana dan lugas yang ditemukan dengan menghitung total jurnal jumlah makalah yang diterbitkan dengan setidaknya 10 kutipan (Google Scholar Blog, 2011).
Dalam materi workshop Indeksasi Jurnal Nasional dan Internasional (Kuswanto 2016,12) i10-indexadalah bilangan i10 terbesar dimana sejumlah i10 artikel mempunyai jumlah kutipan, minimum 10 kutipan. Contoh: i10-index=1 , berarti ada 1 artikel yang dikutip oleh minimun 10 artikel pengutip.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat diketahui bahwa i10-index digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui jumlah kutipan pada satu artikel jurnal.
2.5 Lembaga Pemeringkatan Jurnal
Dalam buku Pedoman Publikasi Ilmiah Ristekdikti (2017,140) kumpulan jurnal beserta daftar publikasi dalam suatu database untuk mengintegrasikan jurnal, penulis dan afiliasi sehingga mudah ditelusuri. Beberapa pengindeks menyediakan fasilitas untuk menghitung kinerja penelitian berdasarkan jumlah sitasi. Publikasi yang jurnalnya tidak diindeks, tidak akan ditemukan, dan perlu diingat bahwa artikel yang terindekskan bukan berarti artikel itu sangat baik, tetapi karena jurnalnya yang baik. Beberapa lembaga pengindeks memiliki kriteria tertentu sehingga bisa menerima jurnal untuk diindekskan terutama dilihat dari standar pengelolaan jurnal, yang mencakup ruang lingkup, pengelola (editor), proses review, latar belakang reviewer yang dilihat dari rekam jejak publikasi, keberlanjutan (regularity), serta mutu artikel yang dipubkasikan.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa publikasi hasil penelitian di jurnal (terbitan berkala) ilmiah adalah salah satu segi penting dari kegiatan ilmiah, dengan dipublikasikan maka temuan yang dihasilkan akan dikenal kemudian disitasi oleh peneliti lainnya.
Beberapa lembaga lembaga yang menyediakan pemeringkatan jurnal sebagai berikut:
1. Eigenfactor (Peringkat jurnal berdasarkan jaringan kutipan, menggunakan Laporan Kutipan Jurnal Thomson).
2. ISI Web of Knowledge Journal and Citation Reports (Laporan kutipan dan laporan penggunaan jurnal, yang disediakan oleh Thomson Reuters).
3. Mendeley (informasi statistik mengenai popularitas jurnal di bidang tertentu, termasuk sebagian besar penulis, outlet, artikel).
4. Scopus (Menyediakan abstrak dan kutipan dari literatur penelitian dan sumber Web berkualitas).
5. Social Science Citation Index, ABI/INFORM, and EBSCO(penelusuran publikasi serta menyediakan data terkait tarif kutipan).
2.5.1 Eigenfactor
Menurut Bergstrom (2007, 314-317) Eigenfactor score dan Article Influence indikator mengandalkan struktur kutipan seluruh jaringan komunikasi ilmiah untuk mengukur prestise jurnal, daripada mengandalkan jumlah kutipan diterima dalam menguraikan pendekatan yang diadopsi. Eigenfactor mengukur pentingnya kutipan oleh pengaruh jurnal mengutip dibagi dengan jumlah total kutipan muncul dalam jurnal itu. Misalnya, kutipan dari sebuah artikel yang memiliki referensi sepintas ke besar jumlah kertas jumlah untuk kutipan kurang
dari dari sebuah artikel penelitian yang mengutip hanya dokumen yang pada dasarnya terkait dengan argumen sendiri.
2.5.2 ISI Web of Knowledge Journal and Citation Reports
Institute for Scientific Information merupakan kutipan pengindeksan telah lama didominasi oleh ISI, yang sekarang menjadi bagian dari Thomson Reuter.
Ini menerbitkan index kutipan di media cetak dan bentuk compact disc, yang umumnya diakses melalui web di bawah namaWeb of Science.
ISI Journal Citation Reports on the Web memberikan cara yang sistematis dan objektif untuk mengevaluasi secara kritis jurnal penelitian terkemuka di dunia. Ini menawarkan perspektif yang unik untuk evaluasi jurnal dan perbandingan dengan mengumpulkan dan kutipan tabulasi dan artikel dihitung dari hampir semua spesialisasi dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan ilmu sosial.
2.5.3 Scopus
Dalam buku Pedoman Publikasi Ilmiah Ristekdikti (2017, 92) Scopus saat ini tidak hanya mengindeks jurnal dan konferenci tetapi juga mencakup buku ilmiah hasil penelitian atau tinjauan pustaka (literature review). Bidang studi fokus pada ilmu sosial dan seni & humaniora (A & H) serta ilmu pengetahuan, teknologi & pengobatan (STM). Jenis buku yang diindeks ialah yang berupa monograf, karya referensi utama, dan buku teks tingkat sarjana. Buku yang tidak diindeks oleh Scopus ialah disertasi, atlas, buku tahunan, biografi, buku sains populer, manual, dll.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa scopus adalah pangkalan data pustaka yang mengandung abstrak dan sitiran artikel jurnal akademik. Pangkalan data ini dimiliki oleh Elsevier dan tersedia secara onlinedengan model berlangganan. Pencarian di Scopus juga mencakup pencarian pangkalan data paten.
Tabel 2.2. Indeks menyediakan daftar judul jurnal, beserta link dan kategorisasi subjek
Kategori Ciri-ciri Lembaga/Nama
pengindeks Bereputasi
tinggi
Meliputi berbagai bidang ilmu, database terbesar di dunia, mempunyai perangkat untuk analisis sitasi dan pemeringkatan jurnal, jadi acuan pemeringkatan PT tingkat dunia, sangat selektif untuk terindeks
Thomson Reuter
Scopus
Dan lembaga yang setara
Sedang Meliputi dan menjadi acuan pengindeksan bidang ilmu tertentu, database yang cukup besar, tidak harus memiliki perangkat analisis sitasi dan pemeringkatan jurnal, selektif untuk bisa terindeks, EBSCO
DOAJ CAS Proquest Gale Pubmed Rendah Meliputi dan menjadi acuan pengindeksan
bidang ilmu tertentu, database yang cukup besar, tidak harus memiliki perangkat analisis sitasi dan pemeringkatan jurnal, tidak selektif untuk bisa terindeks
Google Scholar Sumber: (Annisa, 2017, laporan seminar dan workshop FPPTI DKI) Jakarta
2.7 Schimago
Laboratorium Penelitian Schimago pada tahun 2007 mengembangkan Schimago Journal Rank (SJR) indikator, indikator kualitas jurnal yang menggunakan jurnal Scopus-indeks untuk penilaian kualitas, menerapkan algoritma PageRank Google pada database Scopus. More complex than JIF, it considers citations in a three-year period (Cantin, Munoz & Roa, 2015).
Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diketahui bahwa kutipan PageRank dari jurnal yang dihitung pada dasar dari data kutipan Scopus dibagi dengan nomor artikel yang diterbitkan oleh jurnal selama 3 tahun. Schimago Journal & Country Rank database adalah digunakan untuk analisis peringkat negara, peringkat jurnal dan h-index. Country Rank disesuaikan dengan kriteria peringkat h-index. Indikator yang menjadi bagian dari Schimago diantaranya adalah:
1. SJR merupakan jumlah rata-rata kutipan yang diterima pada tahun yang dipilih oleh dokumen, yang diterbitkan dalam jurnal yang dipilih dalam tiga tahun sebelumnya, misalnya kutipan yang diterima di tahun X untuk dokumen yang diterbitkan dalam jurnal di tahun X-1, X-2 dan X-3.
2. h- index merupakan jumlah artikel jurnal (h) yang telah menerima setidaknya kutipan h.
3. Total documents merupakan semua jenis dokumen yang dipilih sebagai output dari periode yang dipilih, termasuk dokumen yang layak dan tidak layak.
4. Total documents (3 years) merupakan Dokumen yang dipublikasikan dalam tiga tahun sebelumnya yaitu ketika tahun X dipilih, kemudian X-1, X-2 dan X-3 dokumen yang dipublikasikan akan diambil. Semua jenis dokumen dipilih, termasuk dokumen yang layak dan tidak layak.
5. Citable documents merupakan jumlah dokumen layak yang diterbitkan oleh jurnal dalam tiga tahun sebelumnya (dokumen tahun yang dipilih dikecualikan). Artikel, ulasan, dan makalah konferensi secara eksklusif dipilih.
6. Total cites (3 years)merupakan Jumlah kutipan yang diterima dalam tahun yang ditentukan oleh jurnal untuk dokumen yang diterbitkan dalam tiga tahun sebelumnya, misalnya kutipan yang diterima di tahun X untuk dokumen yang diterbitkan pada tahun X-1, X-2 dan X-3.
Semua jenis dokumen yang dipilih.
7. Cites documents (2 years) merupakan kutipan rata-rata per dokumen dalam jangka waktu 2 tahun. Ini dihitung dengan memilih jumlah kutipan yang diterima oleh jurnal dalam tahun berjalan ke dokumen yang diterbitkan dalam dua tahun sebelumnya, contohnya kutipan yang diterima di tahun X untuk dokumen yang diterbitkan pada tahun X-1 dan X-2.
8. Citables documents (3 years) merupakankutipan rata-rata per dokumen dalam jangka waktu 3 tahun. Ini dihitung mengingat jumlah kutipan yang diterima oleh jurnal dalam tahun berjalan ke dokumen yang
diterbitkan dalam tiga tahun sebelumnya,kutipan yang diterima di tahun X untuk dokumen yang diterbitkan pada tahun X-1, X-2 dan X-3.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian atau metode ilmiah adalah prosedur atau langkah- langkah dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif.
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui variable mandiri, baik satu variable atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan, atau penghubungan dengan variable yang lain (Sugiyono 2013,11).
Menurut Masri Singarimbun (1982) penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan sarana fisik tertentu atau frekuensi terjadinya sesuatu aspek fenomena tertentu secara terperini.
3.2 Unit Analisis
Unit analisis dalam penelitian ini adalah seluruh jurnal yang diperoleh berdasarkan subjek ilmu perpustakaan dan informasi yang ada pada database Schimago. Daftar jurnal Library Science and Information ini dapat di diakses secara online melalui situs www.scimagojr.com.
Berdasarkan data yang diperoleh, total jurnal berdasarkan subjek Library science pada database Schimago adalah berjumlah 208 judul jurnal dari delapan wilayah pada tahun 2017 dengan rincian seperti terlihat pada tabel dibawah ini:
Tabel. 3.1Subjek jurnal dari Library and Information Science tahun 2017
No Wilayah Jumlah judul jurnal
1 Africa 1
2 Asiatic Region 11
3 Eastern Europe 6
4 Latin America 7
5 Middle East 3
6 Northern America 75
7 Pacific Region 2
8 Western Europe 103
Total 208
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah dokumentasi. Menurut Arikunto (2002, 136) menyatakan bahwa:
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti yang mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah.Instrumen dalam penelitian ini berupa formulir berbentuk tabel yang diperoleh dari data sekunder.
Menurut Bungin (2001, 129) data sekunder adalah sumber data kedua sesudah sumber data primer.
Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data dilakukan dengan cara browsing melalui situs Schimago untuk mencari peringkat jurnal di bagian subjek Library Science (https://www.scimagojr.com/journalrank.php?category=3309) 2. Mencari subjek area yaitu social science
3. Mencari kategori subjek yaitu Library and Information Science
4. Mencari SJR sesuai dengan wilayah bagian dari kategori subjek dan penyesuaian tahun yang digunakan (tahun 2017)
5. MengurutkanSJRdari kategori subjek dari tertinggi sampai yang terendah.
3.4 Tehnik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan prosedur kegiatan sebagai berikut:
Mulai
Mencari koleksi uji sesuai subjek
Membuat daftar jurnal sesuai wilayah
Membuat daftar SJRdari
Membuat daftar SJRdari