• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

LIVEHOOD RESOURCES RUMAH TANGGA PETANI TUNAKISMA

Bab ini membahas mengenai livelihood resources yang dimiliki oleh masing-masing rumah tangga petani tunakisma di Desa Rajasinga. Di tengah kondisi yang tidak mempunyai lahan, bagaimana rumah tangga memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk mencari saluran-saluran penghidupan. Pembahasan terkait sumber daya tersebut, terdiri atas struktur anggota rumah tangga, akses pada lahan pertanian, kepemilikan modal fisik, akses pada modal keuangan dan pemanfaatan modal sosial.

Struktur Anggota Rumah tangga

Struktur anggota rumah tangga adalah human capital yang menjadi modal utama rumah tangga petani miskin di desa, khususnya rumah tangga yang tidak memiliki lahan. Modal ini berupa tenaga kerja yang tersedia di dalam rumah tangga pada tingkat usia, tingkat pendidikan dan jenis kelamin tertentu. Perbedaan tingkat pendidikan, usia dan jenis kelamin menentukan pekerjaan-pekerjaan apa yang dapat dimasuki dan dilakukan oleh masing-masing anggota rumah tangga.

Jumlah Tenaga Kerja Rumah Tangga

Jumlah tenaga kerja adalah jumlah anggota rumah tangga yang sedang bekerja untuk memperoleh pendapatan. Klasifikasi responden berdasarkan jumlah tenaga kerja yang tersedia di dalam rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8 Jumlah dan persentase rumah tangga petani tunakisma menurut jumlah

tenaga kerja di Desa Rajasinga

No Jumlah tenaga Kerja ∑ Persentase (%)

1 2 3 ≤ 2 3-4 ≥ 5 21 13 1 60 37 3 Total 35 100

Tabel 8 menunjukkan bahwa 60 persen rumah tangga memiliki jumlah tenaga kerja kurang atau sama dengan dua orang, 37 persen rumah tangga memiliki jumlah tenaga kerja 3 sampai 4 orang dan hanya satu persen rumah tangga memiliki jumlah tenaga kerja lebih besar atau sama dengan 5 orang. Jumlah tenaga kerja yang tersedia di dalam rumah tangga mempengaruhi kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota rumah tangga. Selain kepala keluarga, anggota rumah tangga yang ikut bekerja adalah istri, anak dan kerabat lain yang tinggal dalam satu atap.

Anggota rumah tangga yang telah memasuki usia kerja akan ikut mencari pekerjaan untuk membantu kehidupan ekonomi rumah tangganya. Namun, data di lapang menunjukkan bahwa sebagain besar rumah tangga memiliki jumlah tenaga kerja kurang atau sama dengan dua. Umumnya, pendapatan rumah tangga petani

tunakisma sebagian besar ditopang dari pekerjaan kepala rumah tangga dan istrinya. Meskipun anak telah menginjak usia kerja, namun mereka masih berstatus pelajar atau ada yang telah membina keluarga baru. Suami dan istri bekerja di sektor pertanian maupun non-pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota rumah tangganya.

“Bapak dan ibu saja yang bekerja di rumah ini. Kalau lagi musim nandur dan panen cari kerja ke sawah orang. Kalau musim kemarau sama-sama kerja ke pembuatan bata. Anak yang laki-laki satu kadang-kadang saja ikut kerja, kalaupun kerja upahnya hanya untuk kantongnya saja”. (SPN, 55 tahun buruh tani)

Usia

Usia seseorang mempengaruhi aktifitas nafkah yang dilakukan. Golongan usia muda dirasa lebih kuat dan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat di sektor pertanian maupun non-pertanian. dapat dikatakan bahwa usia dapat mempengaruhi produktifitas seseorang dalam bekerja. Data primer di lapangan menunjukkan bahwa usia kepala rumah tangga petani tunakisma di Desa Rajasinga beragam antara 30 hingga 70 tahun. Klasifikasi kepala rumah tangga menurut kelompok usia dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Jumlah dan persentase kepala rumah tangga petani tunakisma menurut usia di Desa Rajasinga

No Kelompok usia ∑ (orang) Persentase (%)

1 2 3 30-44 45-59 ≥ 60 16 12 7 46 34 20 Total 35 100

Tabel 9 menunjukkan bahwa 46 persen kepala rumah tangga berada pada usia 33 sampai 44 tahun, 34 persen kepala rumah tangga berada pada usia 45 sampai 59 tahun dan 20 persen kepala rumah tangga berada pada usia diatas 60 tahun. Ada beberapa dari kepala rumah tangga yang sejak kecil sudah bekerja di sawah membantu orangtua dan ada juga kepala rumah tangga yang memilih bekerja di pertanian setelah menikah. Sebelum menikah mereka banyak yang bekerja di kota sebagai buruh pikul, sopir maupun pedagang.

“Dulunya sebelum menikah saya bekerja di Bandung, jualan apa saja yang penting dapat uang. Setelah menikah dengan orang bandung dan mempunyai anak satu, akhirnya balik lagi ke desa. Walaupun tidak punya tanah saya berpikir pasti ada saja pekerjaan yang bisa dilakukan di desa, memburuh atau pekerjaan kasar lainnya. Lebih baik di kampung sendiri daripada di tempat orang, asal ada saja kemampuan pasti bisa makan.” (KSN, 40 tahun, buruh tani)

27

Hasil wawancara dengan beberapa kepala rumah tangga yang menjadi responden menunjukkan bahwa kembali ke desa dan bekerja di lahan pertanian sebagai petani penggarap maupun buruh tani upahan mampu menjamin kehidupan mereka sampai tua dibandingkan bekerja di luar desa yang resikonya jauh lebih tinggi. Sektor pertanian masih menjadi tumpuan rumah tangga miskin yang tinggal di Desa Rajasinga. Meskipun pendapatan dari sektor non-pertanian lebih besar dibandingkan dengan pendapatan dari sektor pertanian, namun mereka tidak serta merta meninggalkan pekerjaan-pekerjaan di lahan pertanian. Jika tiba waktunya bekerja di lahan pertanian maka mereka cenderung meninggalkan pekerjaan-pekerjaan di sektor non-pertanian. Imbalan sejumlah padi yang diperoleh dengan membantu pemilik tanah memanen padi di sawah dapat dijadikan cadangan makanan untuk beberapa bulan ke depan.

Terdapat juga petani tunakisma yang sudah bekerja di lahan pertanian sejak kecil. Pada dasarnya orangtua mereka memang tidak mempunyai lahan untuk diwariskan sehingga beberapa dari mereka sudah ikut bekerja di sawah setelah pulang sekolah. Sampai saat ini mereka tetap memanfaatkan lahan pertanian untuk menopang kehidupan rumah tangga.

“Kalau ditanya sudah berapa lama jadi petani, jawabannya sudah seumur hidup. Dari kecil sudah bantu-bantu orangtua bekerja di sawah dan ikut memburuh saat panen. Jadi sudah biasa bermain- main dengan tanah. Sekarang sudah jarang memburuh karena sudah tua jadi anak yang lebih sering kerja.”(KAS, 63 tahun, petani penggarap)

Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang dijalani. Selain usia, ternyata tingkat pendidikan masing-masing kepala rumah tangga juga beragam. Berdasarkan data dilapang maka tingkat pendidikan anggota rumah tangga petani tunakisma di Desa Rajasinga terbagi menjadi empat kategori, yaitu: SD tidak lulus, lulus SD, SMP dan SMA.Klasifikasi kepala rumah tangga berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Jumlah dan persentase kepala rumah tangga petani tunakisma menurut tingkat pendidikan di Desa Rajasinga

No Tingkat Pendidkan ∑ (orang) Presentase (%)

1 2 3 4 SD tidak lulus Lulus SD SMP SMA 8 22 4 1 23 63 11 3 Total 35 100

Tabel 10 menunjukkan bahwa 23 persen kepala rumah tangga tidak lulus SD, 63 persen kepala rumah tangga lulus SD, 11 persen kepala rumah tangga lulus SD dan hanya 3 persen kepala rumah tangga yang lulusan SMA. Tingkat

pendidikan kepala rumah tangga petani tunakisma masih tergolong rendah. Sebagian besar hanya lulus SD dan masih ada yang tidak lulus SD. Keterbatasan biaya menjadi faktor penyebab mereka tidak melanjutkan sekolah. Dengan demikian, mereka cenderung bekerja sebagai petani yang tidak memerlukan pendidikan formal atau memilih menjadi buruh dengan keterampilan yang bersifat otodidak.

Saat ini, kesadaran orangtua akan pendidikan anak semakin meningkat. Hal ini terbukti dari rata-rata tingkat pendidikan anggota rumah tangga yang tergolong usia muda. Para orangtua berusaha menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan mendapatkan kehidupan ekonomi yang lebih baik daripada kehidupanan orangtuanya. Dari 35 rumah tangga yang menjadi responden terdapat 89 orang yang aktif bekerja. 89 orang tersebut termasuk suami, istri, anak dan anggota keluarga lain yang tinggal bersama dalam satu atap. Tabel usia dan tingkat pendidikan anggota rumah tangga petani tunakisma yang bekerja di Desa Rajasinga dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Jumlah dan persentase anggota rumah tangga petani tunakisma yang bekerja menurut tingkat pendidikan dan usia di Desa Rajasinga

No Tingkat Pendidikan Usia 15-29 30-44 45-59 ≥60 Total ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % 1 2 3 4 SD tidak lulus Lulus SD SMP SMA - 8 7 5 - 40.0 35.0 25.0 8 25 4 - 21.6 67.6 10.8 - 5 18 1 - 20.8 75.0 4.2 - 4 2 1 1 5.0 25.0 12.5 12.5 17 53 13 6 19.1 59.6 14.6 6.7 Total 20 100.0 37 100.0 24 100.0 8 100.0 89 100.0

Tabel 11 menunjukkan bahwa persentase terbesar anggora rumah tangga yang berada pada kategori usia 15 sampai 29 tahun memiliki tingkat pendidikan SD, persentase terbesar anggota rumah tangga yang berada pada kategori usia 30 sampai 44 tahun memiliki tingkat pendidikan SD, persentase terbesar anggota rumah tangga yang berada pada kategori usia 45 sampai 59 tahun memiliki tingkat pendidikan SD dan persentase terbesar anggota rumah tangga yang berada pada kategori usia lebih besar atau sama dengan 60 tahun adalah tidak lulus SD. Namun, dari keseluruhan data dapat dilihat bahwa semakin banyak golongan usia muda (15-29 tahun) yang memiliki tingkat pendidikan SMP dan SMA, meskipun masih terdapat 40 persen yang hanya lulus SD. Secara keseluruhan tingkat pendidikan anggota rumah tangga masih tergolong rendah, hanya 21.3 persen anggota rumah tangga yang lulus SMP dan SMA, sedangkan untuk jenjang Perguruan Tinggi belum ada.

Sarana pendidikan untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah tersedia di Desa Rajasinga, yang dibutuhkan hanya dukungan orangtua dan kemauan anak untuk tetap sekolah. Golongan usia muda yang memiliki pendidikan cukup tinggi (lulusan SMP dan SMA) lebih memilih bekerja di sektor non-pertanian sebagai pekerja pabrik, buruh bangunan maupun kuli bata daripada bekerja di sektor pertanian. Sebagian besar dari mereka bekerja di kota dengan alasan mencari pengalaman.

29

Jenis Kelamin

Laki-laki dan perempuan di Desa Rajasinga dapat bekerja di sektor pertanian maupun non-pertanian. Pembagian kerja di sektor pertanian berdasarkan jenis kelamin masih terlihat di Desa Rajasinga. Akibat pembagian kerja itu, upah yang dibayar kepada buruh tani perempuan sedikit lebih rendah daripada upah buruh tani laki-laki. Buruh tani perempuan diupah sebesar Rp30 000 sampai Rp35 000 untuk setengah hari kerja, sedangkan laki-laki diupah sebesar Rp40 000 sampai Rp50 000 untuk setengah hari kerja. Hal ini terus dipertahankan dengan alasan bahwa jenis pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dipandang lebih ringan dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki di lahan pertanian. Pembagian kerja di lahan pertanian dapat di lihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Pembagian kerja pertanian di Desa Rajasinga

No Jenis pekerjaan Pihak yang melakukan

1 Semai Laki-laki > perempuan

2 Membajak dengan tratkor Laki-laki

3 Teplok Laki-laki

4 Garok Perempuan > laki-laki

5 Menanam (nandur) Perempuan > laki-laki

6 Mengoyos Perempuan > laki-laki

7 8 Semprot Memanen (derep) Laki-laki Laki-laki = perempuan

Tabel 12 menunjukakn bahwa laki-laki cenderung dapat melakukan semua pekerjaan yang dibutuhkan di lahan pertanian, sedangkan perempuan cenderung hanya melakukan pekerjaan garok, nanam dan mengoyos. Terdapat pekerjaan yang umumnya hanya dilakukan oleh laki-laki, yakni membajak dengan traktor, teplok dan menyemprot.

Pekerjaan di sektor non-pertanian bagi lak-laki dan perempuan juga beragam. Untuk menjadi buruh di pembuatan bata siapa saja boleh yang penting memiliki kemauan dan mampu melakukan pekerjaan yang cukup berat, seperti kuli angkut bata. Namun, para ibu rumah tangga cenderung memilih pekerjaan yang dirasa cukup ringan, seperti membuka warung dan menjadi pembantu rumah tangga. Pekerjaan menjadi buruh bangunan, pabrik dan ojek sudah pasti dilakukan oleh kaum laki-laki.

Pada rumah tangga petani tunakisma di Desa Rajasinga, memiliki anak laki-laki maupun perempuan sama saja karena laki-laki dan perempuan dapat bekerja membantu orangtua mencari tambahan pendapatan. Namun, yang membedakan hanyalah anak perempuan cenderung dapat menjadi TKW, sedangkan anak laki-laki cenderung bekerja di desa atau sebatas menjadi buruh migran di kota-kota sekitar desa. Meski demikian, pekerjaan yang dilakukan laki- laki maupun perempuan tetap berkontribusi dalam membentuk struktur pendapatan rumah tangga.

Akses pada Lahan Pertanian Karakteristik Lahan Pertanian

Rumah tangga petani tunakisma adalah rumah tangga yang salah satu anggota rumah tangganya ada yang bekerja di lahan pertanian, namun tidak memiliki lahan berdasarkan status kepemilikan formal. Sebagian besar dari mereka menjadi petani tunakisma karena pada dasarnya orangtua tidak memiliki lahan untuk diwariskan. Rumah tangga petani tunakisma di Desa Rajasinga dapat menggarap dua macam tanah pertanian, yaitu (1) tanah pertanian kering di hutan yang di garap dengan menetap, tetapi tanpa irigasi dan (2) tanah pertanian basah dengan irigasi. Penggunaan tanah pekarangan untuk ditanami buah, sayur-sayuran maupun obat-obatan tidak ditemui karena umunya rumah tangga petani tunakisma hanya memiliki sepetak tanah sebagai tempat tinggal tanpa pekarangan. Bahkan ada diantara mereka yang masih mendirikan rumah di atas tanah milik negara.

Di tanah pertanian kering, yang biasa disebut ladang maupun di tanah pertanian basah atau sawah, petani menanam padi varitas ciherang. Perbedaan kedua lahan tersebut terletak pada periode panen. Keterbatasan air di hutan menyebabkan petani hanya bisa menanam padi satu kali setahun, sedangkan di lahan sawah yang irigasi dapat dilakukan dua kali penanaman (musim rendeng dan musim sadhon). Lahan garapan yang mereka miliki di hutan merupakan hasil warisan dari orangtuanya. Pihak Perhutani tidak melarang maupun memungut biaya atas lahan yang digarap, asalkan tidak merugikan pihak Perhutani dengan menambah luas garapannya dari yang ada sebelumnya dan menebang pohon- pohon milik Perhutani. Di lahan pertanian basah, hanya mereka yang memiliki uang yang dapat menyewa lahan dengan pembayaran tunai sebelum lahan digarap. Selain dengan sistem sewa tunai, rumah tangga petani tunakisma juga dapat menggarap lahan dengan sistem lanja, membayar harga sewa dengan sejumlah padi pada musim panen pertama. Dibutuhkan hubungan kekerabatan untuk dapat menggarap lahan dengan sisitem lanja.

Sebagian besar petani tunakisma takut untuk mengambil resiko dengan sistem sewa maupun lanja. Mereka takut hasil panen tidak mampu menutupi total biaya yang dikeluarkan sehingga sebagian besar dari mereka milih untuk menjadi buruh tani yang hanya memerlukan modal tenaga kerja. Tidak ada resiko gagal panen bagi buruh tani dan upah yang diterima dengan menjual tenaga dapat langsung diterima dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Lebih baik jadi buruh tani saja tidak pusing mencari modal untuk menanam padi. Kalau lagi ada pekerjaan di sawah ikut saja

memburuh, upahnya lumayan memenuhi keperluan dapur”. (ASM,

39 tahun, buruh tani)

Sistem Sewa dan Lanja

Di Desa Rajasinga istilah sewa menyewa lebih dikenal dengan sebutan lanja. Sebagian masyarakat mengatakan bahwa sistem sewa dan lanja adalah dua sistem yang berbeda, namun ada juga yang mengatakan keduanya adalah sama. Umumnya sistem sewa dilakukan oleh petani tunakisma yang memiliki cukup

31

uang sehingga mereka mampu membayar harga sewa dengan uang tunai di muka sebelum lahan digarap. Berbeda dengan sistem lanja, pembayaran harga sewa bukan dengan uang tunai, melainkan sejumlah gabah yang merupakan hasil pada musim panen pertama. Banyaknya gabah yang harus dibayar kepada pemilik tanah merupakan kesepakatan bersama antara petani pemilik tanah dengan petani penggarap yang menyewa dengan sistem lanja.

Tidak semua rumah tangga petani tunakisma dapat memiliki lahan garapan. Selain harus memiliki modal uang, hubungan sosial juga memainkan peran dalam memperoleh lahan garapan. Petani tunakisma cenderung dengan mudah dapat menggarap lahan milik kerabat dekatnya yang memiliki lahan luas. Sistem sewa lebih banyak dilakukan antara petani yang memiliki hubungan kekerabatan yang cukup jauh, sedangkan sistem lanja lebih banyak dilakukan diantara petani yang mempunyai hubungan kekerabatan yang lebih dekat.

Rumah tangga petani tunakisma di Desa Rajasinga cenderung menggarap lahan dengan sistem lanja. Apabila penggarap merupakan kerabat dekat maka banyaknya padi yang harus diberi kepada pemilik tanah lebih sedik dibandingkan kepada oranglain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Sistem lanja ini sudah berlansung sejak lama dan lebih banyak dilakukan oleh petani-petani tunakisma dibandingkan dengan sistem sewa dengan membayar uang tunai di muka. Dengan sistem lanja, petani tunakisma yang ingin menggarapan lahan sendiri dapat menggarap tidak harus memiliki modal uang untuk membayar sewa terlebih dahulu. Selain faktor hubungan kekerabatan, harga sewa lahan dengan uang tunai maupun dengan sejumlah padi di Desa Rajasinga juga tergantung pada kesuburan lahan dan lokasi lahan terhadap pengairan. Semakin dekat dengan aliran irigasi desa makan harga sewa cenderung semakin mahal.

Umumnya sistem lanja ini menguntungkan petani tunakisma yang tidak memiliki modal finansial untuk menyewa lahan, namun kadang-kadang dapat merugikan petani apabila hasil lahannya tidak memuaskan. Pembayaran dengan gabah kepada pemiliki lahan dilakukan pada musim panen pertama (hasil panen masih bagus) sehingga hasil dari panen pertama akan habis untuk membayar harga sewa kepada pemilik dan biaya produksi untuk musim tanam kedua. Apabila terjadi gagal panen pada musim taman kedua maka petani tidak memperoleh hasil apa-apa dari kerja kerasnya selama ini di lahan garapan.

Gadai

Berdasarkan hasil penelitian Wiradi dan Makali (2009) yang dilakukan di 6 desa yang ada di Jawa barat, sistem gadai dilakukan oleh petani berlahan sempit kepada petani berlahan luas atau orang kaya dan dapat juga dilakukan oleh petani berlahan luas dengan petani berlahan luas atau orang kaya. Petani berlahan sempit menggadai tanah karena kebutuhan hidup yang mendesak, sedangkan petani berlahan luas menggadai tanah untuk menutupi kekurangannya guna membeli sawah (akumulasi modal).

Di Desa Rajasinga, sistem gadai umumnya dilakukan oleh petani yang memiliki lahan sempit kepada orang kaya, namun sedikit berbeda dengan kasus suatu rumah tangga yang menjadi responden dalam penelitian ini. Seorang petani tunakisma menggarap lahan gadai, meskipun dari segi luas memang cukup sempit. Hal ini terjadi karena hubungan kekerabatan yang masih dekat diantara

masyarakatnya. ketika membutuhkan uang maka mereka lebih memilih menggadaikan lahan kepada kerabat sendiri daripada orang lain. Besarnya uang yang harus ditukar dengan lahan garapan disesuaikan dengan luas lahan dan kebutuhan uang dari pihak penggadai. Selama pihak penggadai belum bisa mengambalikan uang yang dipinjam maka selama itu juga lahan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki uang.

“Saya menggarap lahan gadaian milik saudara yang luasnya hanya 50 bata. Sudah 3 tahun di gadai dan sampai sekarang belum ditebus juga. Dulu digadai seharga Rp3 000 000 karena mereka memang lagi butuh uang. Daripada digadai ke orang lain lebih

baik ke saudara sendiri”. (SMD, 60 tahun, penggarap)

Ceblokan

Sistem ceblokan hanya dilakukan pada musim tanah kedua, dimana buruh tani yang ikut memanen adalah mereka yang ikut dalam kerja nandur. Adanya sistem ceblokan ini disebabkan karena sulitnya untuk mencari tenaga buruh tani untuk dimintai bantuan di lahan pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini jumlah petani yang tidak memiliki lahan memang jumlahnya cukup banyak, namun kesempatan kerja di sektor non-pertanian yang semakin banyak, khususnya yang ada di desa mengurangi niat para buruh tani untuk bekerja di pertanian.

Buruh tani cenderung memilih bekerja di lahan pertanian pada musim panen saja. Pemanen (penderep) menerima upah memanen seperenam bagian dari hasil yang dipanen. Jika dihitung dalam sehari bekerja memanen padi milik tuan tanah maka rumah tangga buruh tani dapat memperoleh upah sekitar satu kandek padi (80 kg), sedangkan untuk pekerjaan nandur para butuh tani hanya memperoleh upah sekitar Rp25 000. Hal ini yang menyebabkan dilakukannya sistem ceblokan untuk menutupi kekurangan tenaga kerja pertanian di musim tanam. Untuk menjamin adanya buruh yang bersedia menanam di musim tanam kedua maka dilakukanlah asisten ceblokan. Penyeblok6 melakukan pekerjaan nandur di sawah tanpa dibayar oleh pemilik lahan. Penyeblok hanya bertanggung jawab menanam saja dan setelah itu mereka mendapat jaminan pekerjaan memanen sesuai luas lahan yang mereka tanam, sedangkan untuk pekerjaan perawatan menjadi tanggung jawab pemilik lahan.

Wiradi (2009) menyatakan bagi warga desa yang tidak memiliki tanah, sistem ceblokan adalah jaminan akan adanya pekerjan pada waktu panen, dan bagi pemilik tanah berlahan luas, sistem ceblokan menjamin kebutuhannya akan tenaga kerja pada waktu mengolah tanah tanpa mengeluarkan biaya tunai. Mereka yang diminta untuk bekerja berdasarkan sistem ceblokan adalah buruh tani yang masih memiliki hubungan kekerabatan dan tetangga dekat dari petani pemilik lahan. Di satu sisi sistem ini memang menguntungkan buruh tani sebagai penyeblok, namun disisi lain membatasi kerja para buruh tani lainnya. Tidak semua pemilik lahan menerapkan sistem ceblokan pada musim tanam kedua karena alasan sosial.

6

33

“Tidak enak kalau ada sistem ceblokan, lebih baik di seperti pada musim tanam pertama. Di lahan saya tidak pernah ada penyeblok, siapa saja yang butuh pekerjaan dapat menanam dan memanen

nantinya”. (YSF, 50 tahun, petani pemilik)

Penguasaan Lahan Rumah Tangga Petani Tunakisma

Dokumen terkait