• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih dua bulan dan dilakukan di Pabrik Gula Bone Arasoe.

42

C. Sasaran Penelitian

Sasaran dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memiliki hak milik sekaligus pemilik tanah di Perkebunan Tebu Pabrik Gula Bone Arasoe.

D. Fokus Penelitian

Penelitian ini di fokuskan pada bagaimana penguasaan hak guna usaha terhadap tanah masyarakat pada perkebunan tebu Pabrik Gula Bone Arasoe Kecamatan Cina Kabupaten Bone. Oleh karena itu peneliti akan menentukan beberapa informan yang dianggap dapat memberikan informan yang berkaitan dengan penguasaan hak guna usaha terhadap tanah masyarakat pada perkebunan tebu Pabrik Gula Bone Arasoe Kecamatan Cina Kabupaten Bone.

E. Informan Penelitian

Informan (narasumber) penelitian adalah seseorang memiliki informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang diteliti, dimintai informasi mengenai objek penelitian tersebut. Lazimnya informan atau narasumber penelitian ini ada dalam penelitian yang subjek penelitiannya berupa “kasus” (satu kesatuan unit), antara lain yang berupa lembaga atau organisasi atau institusi (pranata) sosial. Di antara sekian banyak informan tersebut, ada yang disebut narasumber kunci (key informan) seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang atau orang-orang yang paling banyak menguasai informasi (paling banyak tahu) mengenai objek yang sedang diteliti tersebut. Adapun jumlah informan yang akan kita teliti dalam penelitian ini yaitu sebanyak 6 orang.

F. Definisi Operasional

Untuk memberi pemahaman yang jelas dalam melakukan penelitian, maka peneliti mencoba mendeskripsikan konsep-konsep yang dimkasud yaitu:

1. Penguasaan hak guna usaha merupakan berisi serangkaian wewenang, kewajiban atau larangan bagi pemegang haknya untuk membuat sesuatu mengenai tentang tanah dan sesuatu yang boleh, wajib atau dilarang untuk berbuat yang merupakan hak penguasaan atas tanah yang di atur dalam hukum tanah. Dan hak guna usaha dalam hal ini bahwa hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai oleh negara dalam jangka waktu sebagaimana dalam Pasal 29, hak guna usaha perusahaan, pertanian atau perkebunan dan peternakan.

2. Suatu hak guna usaha merupakan hak terbatas jangka waktunya yaitu 50-60 tahun. Memang Undang-Undang tidak melarang secara tegas untuk memperpanjang hak guna usaha misalnya untuk kedua kalinya dan seterusnya, akan tetapi jika diperhatikan penjelasan di Pasal 29 UUPA maka batas waktu 50-60 tahun dipandang cukup.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai pengamat dan pewawancara. Sebagai peneliti dan instrumen utama dalam penelitian ini, maka dimulai dari perencanaan, pengumpulan dan analisis data sehingga penulisan laporan penelitian ini seluruhnya dilakukan oleh peneliti. Sedangkan dalam mendukung tercapainya hasil penelitian digunakan alat bantu berupa pedoman wawancara, dokumentasi, dan pencatatan hasil penelitian.

H. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

1. Observasi

Observasi penelitian kualitatif adalah Pengamatan langsung (observasi) terhadap objek untuk mengetahuikeberadaan objek, situasi, konteks dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian. Dalam melakukan observasi di perlukan seorang peneliti yang profesional, pada teknik pengumpulan data melalui observasi unsur subjektifitas sangat besar, hasil yang diperoleh melalui observasi sangat tergantung dari kualitas seorang peneliti. Dalam hal ini di maksudkan untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor penghambar diberikan hak guna usaha terhadap tanah masyarakat pada perkebunan tebu Pabrik Gula Bone Arasoe dan bagaimana upaya pemerintah daerah kabupaten Bone (BPN) dalam menangani masalah tersebut.

2. Wawancara

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara.

Wawancara adalah teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab.

Wawancara dalam penelitian kualitatif sifatnya mendalam karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistic dan jelas dari informan. Tipe wawancara yang digunakan dalam penelitian ini bersifat tak terstruktur. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara sangat tergantung pada spontanitas interviewe itu

sendiri, terjadi dalam suasana wajar dan bahkan interviewe tidak merasa atau menyadari bahwa ia sedang diwawancarai.

3. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data yang juga berperan besar dalam penelitian kualitatif adalah dokumentasi yang merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara. Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumentasi dan data-data yang di perlukan dalam permasalahan penelitian lalu di telaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadiaan. Hasil penelitian juga akan semakin clear apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.

I. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari permasalahan pertama dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dari awal sampai akhir penelitian, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pengumpulan data, data dikumpulkan dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan.

2. Penelitian akan menganilisis data atau informasi yang dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara dan dokumensi, yaitu dengan mengklasifikasikan data berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditentukan oleh penelitian kemudian membandingkan data atau informasi dari setiap sumber-sumber yang peneliti dapatkan dilapangan serta mencari hubungan antara

data atau informasi yang diperoleh yang ada kaitannya dengan fokus penelitian.

3. Menyimpulkan atau penerikan kesimpulan dan verifikasi.

J. Teknik Keabsahan Data

Triangulasi sumber data menguji kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data (cek and ricek) dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.

1. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber adalah untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber, maksudnya bahwa apabila data yang diterima dari satu sumber adalah meragukan, maka harus mengecek kembali ke sumber lain, tetapi sumber data tersebut harus setara sederajatnya. Kemudian peneliti menganalisis data tersebut sehingga menghasilkan suatu kesimpulan dandimintakan kesempatan dengan sumber-sumber data tersebut.

2. Triangulasi teknik

Triangulasi teknik adalah untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu yang awalnya menggunakan teknik observasi, maka dilakukan lagi teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara kepada sumber data yang sama dan juga melakukan teknik dokumentasi.

3. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu adalah untuk melakukan pengecekan data dengan wawancara dalam waktu dan situasi yang berbeda. Seperti, yang awalnya melakukan pengumpulan data pada waktu pagi hari dan data didapat, tetapi mungkin saja pada waktu pagi hari tersebut kurang tepat karena mungkin informan dalam keadaan sibuk. Kemudian dilakukan lagi pengumpulan data pada waktu malam hari data pun di dapat dan mungkin saja informan sedang istirahat sehingga dapat melengkapi dan mengecek atas kebenaran data.

4. Triangulasi peneliti

Triangulasi peneliti, adanya pernyataan peneliti atau diluar peneliti yang turut memeriksa pengumpulan data, seperti dosen pembimbing yang memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data.

5. Triangulasi teoritis

Triangulasi teoritis, peneliti menggunakan beberapa perspektif yang berbeda untuk menginterprestasikan data yang sama. Penggunaan teori yang berlainan digunakan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat.

Dalam penelitian ini digunakan beberapa sumber buku sebagai acuan teoritis (referensi), sehingga benar-benar dapat dibandingkan anatara teori yang satu dengan yang lain. Dengan membandingkan beberapa teori serta didukung dengan data yang ada, sehingga peneliti dapat melaporkan hasil penelitian yang disertai penjelasan-penjelasan sebagaimana yang ditentukan dengan demikian akan menambah derajat kepercayaan data yang ada.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Selayang Pandang Lokasi Penelitian

Desa Arasoe adalah salah satu Desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Cina Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Jarak Desa tersebut kira-kira 5 km dari Ibu Kota Kecamatan dan 25 km dari Ibu Kota Kabupaten serta kira-kira 250 km dari Makassar Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, untuk mencapai Desa Arasoe dapat ditempuh melalui poros jalan Provinsi dari Utara atau dari Bone maupun dari arah Selatan atau dari Sinjai.

Secara administratif Desa ini berbatasan dengan Desa seperti, Desa Polewali disebelah Utara, Desa Ujung Tanah Kecamatan Mare disebelah Selatan, Desa Cinenung disebelah Barat dan disebelah Timur berbatasan dengan Massereng Pulu (Maspul).

Luas wilayah Desa Arasoe 15,15 Km2, membawahi 5 Dusun yaitu Dusun I Arasoe, II Ujung, III Kompleks Pabrik Gula Bone, IV Kompleks Pasar, V Pateppo dan masing-masing membawahi RT yang seluruhnya 10 RT.

Topografi Desa Arasoe, pada garis besar dapat dibagi atas dataran rendah dan dataran tinggi. Dataran rendah yang dimaksud adalah permukaan wilayah yang merupakan tanah datar yang tingginya hanya kira-kira 20-30 meter dari permukaan laut. Dataran ini membentang luas disebelah timur lokasi Pabrik Gula dan dijadikan sebagai perkebunan tebu. Sedang dataran tinggi yang dimaksud adalah permukaan wilayah yang sebagian besar terdapat pada kaki bukit gunung

49

yang tingginya antara 60 sampai 180 meter diatas permukaan laut. Dataran tinggi ini terdapat pada bagian barat Pabrik Gula Bone Arasoe.

Pola perkampungan di Desa Arasoe termasuk pola perkampungan mengelompok pada masing-masing diantarai oleh tanah kosong berupa sawah atau kebun. Dengan demikian Desa Arasoe kita bisa dapati kelompok perkampungan dimana rumah penduduk dibangun disekitar pinggir jalan Desa yang telah dikeraskan. Ada tujuh jalur jalan desa yang telah dikeraskan sebagai sarana perhubungan Desa-Desa sekitarnya serta ke areal perkebunan yang dibangun oleh pihak Pabrik Gula Bone Arasoe karena jalan tersebut telah dikeraskan maka alat-alat transportasi berbagai jenis dapat melewati jalan setiap saat.

Penduduk asli Desa Arasoe adalah Suku Bugis, namun setelah dibangun Pabrik Gula Bone Arasoe maka terdapat beberapa suku seperti Suku Makassar, Mandar, Toraja, dan Suku Jawa. Jumlah penduduk Desa Arasoe saat ini 3664 jiwa yang terdiri dari 1770 jiwa laki-laki dan 1894 jiwa perempuan dengan 747 Kepala Keluarga. Untuk mengetahui keadaan penduduk Desa Arasoe berikut dapat kita lihat dalam distribusi penduduk setiap dusun.

Tabel 4.1 Distribusi penduduk tiap dusun di Desa Arasoe, April 2013

No. Dusun Kepala

3 Kompleks PGB 300 637 746 1383

4 Kompleks Pasar 144 369 399 768

5 Pateppo 89 215 207 422

Jumlah 747 1770 1894 3664

Sumber Data : Kantor Kepala Desa Arasoe

B. Sejarah Singkat Pabrik Gula Bone Arasoe

Pabrik Gula Bone Arasoe yang terletak di Desa Arasoe adalah suatu badan usaha yang bernaung dibawah PT. Perkebunan XXXII (persero) sejak dibentuknya badan usaha milik negara atau BUMN, rencana pembangunan Pabrik Gula Bone Arasoe sudah dimulai sejak awal tahun 1960 pada lokasi Desa Arasoe Kecamatan Cina Kabupaten Bone oleh Pemerintah Indonesia. Pembangunan pabrik tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan produksi gula, minimal dapat memenuhi konsumsi dalam negeri khususnya masyarakat di Sulawesi Selatan itu sendiri. Hal ini dapat dimaklumi karena Pabrik Gula di Jawa hanya dapat memenuhi kira-kira dua pertiga kebutuhan gula dalam Negeri di Indonesia.

Namun disamping itu pemebanguna Pabrik tersebut sebagai momen untuk menggairahkan kehidupan industri gula yang saat itu dirasa semakin mundur bahkan mengalami kerugian.

Dengan alasan tersebut dimulailah tahap persiapan Pabrik Gula Bone Arasoe yang dilandasi oleh keputusan MPRS No. 11/Tahun 1960. Langkah pertama yang dilakukan adalah menandatangani kontrak pembelian alat-alat Pabrik dari Tencho Eksport Praha yang berdasarkan kerja sama dalam bidang ekonomi Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Chekoslowakia.

Pada tahun 1967 setelah situasi politik mulai membaik pembangunan Pabrik Gula Bone Arasoe dimulai kembali. Dan ini tentunya telah menyalahi rencana semula dimana Pabrik harus selesai pembangunannya pada akhir tahun 1966. Terhambatnya pembangunan pabrik ini juga karena menyangkut soal pembiayaan yang pada saat itu mengalami kesulitan. Baru pada pertengahan tahun

1972 yaitu setelah pengolahannya dialihkan pada Direksi PN Perkebunan XX berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No. 133/kpts/1972. Pembangunan Pabrik Gula Bone Arasoe berjalan lebih baik pada tanggal 15 Oktober 1975 Pabrik Gula Bone Arasoe diresmikan oleh Bapak Presiden pada waktu itu ialah Presiden Soeharto pada saat giling pertama.

Adapun tahap mendasar pembangunan Pabrik Gula Bone Arasoe tersebut sebagai berikut:

1. Pada tahun 1963-1968 pembangunan Pabrik Gula dibawah pengelolaan BPU/PPn Gula/Karung Goni Jakarta.

2. Pada tahun 1968-1971 setelah di likuidasinya BPU/PPn Gula/Karung Goni Jakarta, maka pengolahannya beralih dibawah BKU/Pn Perkebunan Jakarta.

3. Pada tanggal 1 Maret 1972 Pabrik Gula Bone Arasoe berada dibawah pengolahan Direksi Perusahaan Negara Perkebunan XX yang pada tanggal 7 Mei 1981 Perusahaan Negara Perkebunan XX berganti nama menjadi PT. Perkebunan Tebu XX (persero).

4. Pada tanggal 25 Desember 1991 pada Pabrik Gula Bone Arasoe telah menjadi unit Produksi di PT. Perkebunan XXXII (persero) setelah dibentuknya BUMN.

5. Sejak tanggal 22 April 1996 dengan dasar PP No. 19/1996 sampai sekarang PTP XXXII (persero) Group diubah menjadi PT. Perkebunan Nusantara XIV (persero).

Penentuan lokasi Pabrik adalah hasil dari survei suatu tim dalam Negeri dan dari hasil survei tersebut menetapkan bahwa Desa Arasoe sebagai lokasi Pabrik paling baik diantara beberapa lokasi lainnya yang disurvei. Areal tanaman tebu Pabrik Gula Bone Arasoe meliputi empat Kecamatan yaitu Kecamatan Cina, Ponre, SibuluE, dan Mare dengan Luas 7.777’13 Ha.

Kehadiran Pabrik Gula Bone Arasoe bagaimana pun telah menimbulkan citra tersendiri bagi masyarakat menurut kadar yang berbeda-beda antar penduduk maupun golongan masyarakat umumnya. Terlepas dari citra yang berbeda itu, secara umum kehadiran Pabrik ini telah memberikan sumbangan secara kongkrit terhadap masyarakat Desa Arasoe yang berupa mata pencaharian selain dari bertani seperti menjadi tenaga kerja pada Pabrik Gula Bone Arasoe sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat setempat.

Letak,Topografi,Geografi dan Iklim

Pabrik Gula Bone terletak di Desa Arasoe, kecamatan Cina, Kabupaten Bone pada koordinat 1200 18’ 45’ BT dan 40 42’ 45’ LS, sedangkan Areal tanaman meliputi 4 Kecamatan yakni Cina, Ponre, SibuluE dan Mare yang terdiri dari 7.777’13 Ha lahan HGU dan 88,36 Ha lahan HGB.

Berdasarkan Topografi, Areal Pabrik Gula Bone dibedakan dua daerah yaitu daerah bawah (Low Land) dan daerah atas (Up Land). Daerah Low Land memiliki ciri permukaan relative datar, berstektur tanah sedang sampai berat (Clay) drainase terhambat (buruk) solum tanah sedang sampai dalam dan reaksi tanah agak masam (pH 5.0 – 5.5). Daerah Up Land dicirikan dengan bentuk

permukaan bergelombang, tekstur tanah ringan sampai sedang, reaksi tanah mendekati netral (pH 5.6 – 6.2).

Iklim Pabrik Gula Bone dicirikan oleh curah hujan tahunan berkisar antara 1.333 – 4.021 mm rata-rata 2.624 mm, hari hujan rata-rata 158 hari dengan periode bulan kering 2-3 bulan. Menurut Odeman dan Syarifuddin diklasifikasikan sebagai tipe Iklim C2.

Luas Lahan

Luas HGU 7.777,13 dan HGB 88,36 Ha. Luas Lahan yang dapat di tanami 5.055,13. Luas Produktif yang pernah di capai 5.022,40 pada tahun 1982. Luas Lahan untuk pembibitan 550/600 Ha. Rencana Luas Lahan pada TG 13/14 Luas 4.000 Ha, terdiri dari Tebu baru 1.000 Ha dan Tebu Ratoon 3.000 Ha.

C. Faktor-faktor Yang Menjadi Kendala Sehingga Terlambat Diberikan HGU Pada Perkebunan Tebu Pabrik Gula Bone Arasoe

Pabrik Gula Bone Arasoe yang bergerak di bidang produksi gula memerlukan tanah untuk dijadikan areal perkebunan tebu yang merupakan bahan baku untuk memproduksi gula.

Dalam rangka pemberian hak guna usaha kepada Pabrik Gula Bone Arasoe untuk areal perkebunan tebu maka pihak Direksi mengajukan permohonan tersebut dibentuklah panitia pembebasan tanah dan pemberian hak.

Ketentuan tersebut menghendaki sedapat mungkin pembebasan tanah untuk kepentingan Pabrik Gula Bone Arasoe dilakukan secara musyawarah.

Namun jika tidak terjadi kesepakatan maka dapat ditempuh dengan cara lain atau dengan cara pencabutan hak.

Menurut Alfandi Umar, SE., (25 Agustus 2015) salah satu pimpinan Pabrik Gula Bone Arasoe bahwa;

“Semua tanah yang menyangkut tanah masyarakat dalam Pabrik Gula Bone Arasoe hingga saat ini telah mendapatkan ganti rugi yang sesuai yang telah disepakati oleh kedua belah pihak antara masyarakat dan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe jadi hingga saat ini semua tanah yang dipakai oleh Pabrik Gula Bone Arasoe untuk perkebunan tebu tanah milik Pabrik Gula Bone Arasoe”.

Sedangkan menurut Muh. Amir (27 Agustus 2015) salah satu masyarakat Desa Arasoe:

“yaro na jadi tumpuanna sibawa keputusanna pemerintah’e saba’na wattu’e ro nasenggi keputusanna masyaraka’e sibawa punna pabrik’e, nasenggi tanah na masyaraka’e na sullei nyarang. Nappa menuru’

keteranganna administrasi Pemerintah’e wettu’e ro tanah e ro purani na sullei tanah laingnge di daerah laingnge. Nah de’gaga makkuro, de’gaga pasullena tanah’e.”

Artinya, “yang menjadi landasan dan keputusan pemerintah bahwa pada saat itu adalah keputusan antar kedua bela pihak yang berupa tanah ditukar dengan kuda. Dan menurut keterangan administrasi pemerintah pada saat itu tanah tersebut sudah digantikan tanah yang lain yang berada di daerah lain, sebenarnya tidak ada yang begitu, tidak ada pengganti tanah.”

Dalam pemberian surat bukti penguasaan dan pembebasan dalam hal pembayaran ganti rugi ini, dalam praktek pemberian hak guna usaha termasuk pemberian hak guna usaha kepada Pabrik Gula Bone Arasoe adakalanya belum selesai pembayaran ganti rugi yang berarti pembebasan juga belum selesai dilaksanakan, terlebih dahulu diterbitkan surat-surat penguasaan dan pembebasan dalam hal pembayaran ganti rugi.

Dari uraian diatas maka adapun faktor-faktor yang menjadi penghambat proses pemberian Hak Guna Usaha pada perkebunan Pabrik Gula Bone Arasoe yaitu sebagai berikut:

1. Surat izin belum selesai merupakan salah satu faktor penghambat proses pemberian HGU pada perkebunan tebu Pabrik Gula Bone Arasoe, dalam pemberian HGU pada Pabrik Gula Bone Arasoe terhadap tanah masyarakat, hal ini disebabkan karena adanya keterlambatan pemerintah dalam menangani hal tersebut khususnya Badan Pertanahan Nasional.

2. Pembebasan tanah belum diselesaikan oleh pihak Pabrik Gula Bone Arasoe yaitu masih banyak masyarakat yang masih memiliki hak milik dan belum mendapatkan ganti rugi langsung oleh pihak Pabrik Gula Bone Arasoe karena adanya pihak ketiga yang menerima ganti rugi tersebut.

D. Upaya Yang Dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone (BPN) Dalam Menangani Kendala Penguasaan Hak Guna Usaha Pabrik Gula Bone Arasoe

Pemberian Hak Guna Usaha kepada Pabrik Gula Bone Arasoe untuk kepentingan areal perkebunan tebu sebagai bahan baku Pabrik tersebut, jelas harus membebaskan tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh masyarakat disamping yang dikuasai oleh negara. Pembebasan tanah untuk kepentingan swasta seperti untuk kepentingan Pabrik Gula Bone Arasoe juga harus dilakukan dengan musyawarah, sehingga dari musyawarah itu diharapkan dapat diperoleh

kesepakatan mengenai segala sesuatu khususnya ganti rugi yang diberikan kepada pemilik.

Adapun upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bone (BPN) dalam menangani kendala penguasaan Hak Guna Usaha pada Pabrik Gula Bone Arasoe yaitu menyelesaikan secepatkan surat izin yang belum diselesaikan khusunya mengenai penguasaan Hak Guna Usaha tanah pada perkebunan tebu agar ada kepastian hukum antara pihak masyarakat dan Pabrik Gula Bone Arasoe.

Hubungan ini dapat dilakukan langsung antara pemilik dengan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe, atau masing-masing melalui kuasa atau wakilnya yang paling penting dalam perundingan adalah keharusan untuk memberikan ganti rugi kepada pemilik. Penguasaan dan pembebasan tanah dan pembayaran ganti rugi merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan Hak Guna Usaha, tidak ada pengecualian dari persyaratan ini.

Dalam kenyataannya saat ini sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan beberapa masyarakat:

1. Madina ( 29 Agustus 2015)

“sebenarna pasullena ganti rugi’e purani nalakukan punna Pabrik Gula’e ne’ engka mopa de’ natarimai ganti rugina, tapi purani na bicara masyaraka’e sibawa punna Pabrik Gula’e, sehingga punna Pabrik Gula’e sibawa masyaraka’e yaro rilaleng penguasaanna Hak Guna Usaha tanah na masyaraka’e engka na titik terangna ato engkana solusinna.”

“sebenarnya pemberian ganti rugi sudah dilakukan oleh Pabrik Gula Bone Arasoe namun ada yang sebagian juga yang belum mendapatkan ganti rugi tetapi telah dimusyawarahkan oleh pihak masyarakat dan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe sehingga pihak Pabrik Gula Bone Arasoe antara masyarakat yang dalam hal penguasaan Hak Guna Usaha terhadap tanah

masyarakat telah menemukan titik terang atau jalan keluar antara lain dengan pemberian ganti rugi sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak”.

2. Saleh ( 31 Agustus 2015)

“engka mopa masyaraka’ de’ nattarimapi pasullena tanah na, pa’ engka tarimangngangngi tau laingnge, ne’ purani na bicara sibawa punna Pabrik Gula’e jadi engkana passullena dalangngi.”

Artinya, “masih ada masyarakat yang belum menerima ganti rugi tanahnya, karena ada orang lain yang terima ganti rugi tersebut, tapi sudah dimusyawarakan bersama pihak Pabrik Gula jadi sudah ada ganti rugi yang diterima.”

Suatu realita bahwa Pabrik Gula Bone Arasoe sebenarnya telah memberikan ganti rugi tetapi adanya pihak ketiga yang menerima ganti rugi tersebut sehingga ada masyarakat yang belum mendapatkan ganti rugi tersebut dan ganti rugi tersebut yang harus dibayarkan tidak hanya mengenai tanahnya maupun juga mengenai benda-benda yang berharga lainnya, yang ada diatas tanah tersebut.

E. Penguasaan Hak Guna Usaha Terhadap Tanah Masyarakat Pada Perkebunan Tebu Pabrik Gula Bone Arasoe

Sebagai suatu badan hukum, maka sesuai ketentuan pasal 30 UUPA maka Pabrik Gula Bone Arasoe hanya dapat diberikan Hak Guna Usaha (HGU) untuk areal perkebunan sedangkan areal pabrik tentunya diberikan Hak Guna Bangunan

Sebagai suatu badan hukum, maka sesuai ketentuan pasal 30 UUPA maka Pabrik Gula Bone Arasoe hanya dapat diberikan Hak Guna Usaha (HGU) untuk areal perkebunan sedangkan areal pabrik tentunya diberikan Hak Guna Bangunan

Dokumen terkait