BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Pengertian Hak Guna Usaha
Hak atas tanah selanjutnya yang diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria adalah Hak Guna Usaha, yang pengertiannya dijabarkan dalam Pasal 28 Undang-Undang Pokok Agraria yang berbunyi:
1. Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara, dalam jangka waktu sebagaimana
tersebut dalam pasal 29, guna perusahaan pertanian, perikanan atau peternakan.
2. Hak Guna Usaha diberikan atas tanah yang luasnya paling sedikit 5 hektar, dengan ketentuan bahwa jika luasnya 25 hektar atau lebih harus memakai investasi modal yang layak dan teknik perusahaan yang baik, sesuai dengan perkembangan zaman.
3. Hak Guna Usaha dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain.
Dari definisi atau pengertian yang diberikan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa yang dinamakan dengan Hak Guna Usaha adalah hak yang diberikan oleh negara kepada perusahaan pertanian, perikanan atau perusahaan peternakan untuk melakukan kegiatan usahanya di Indonesia (Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003 : 149-150)
Hal ini dipertegas oleh penjelasan Pasal 28 menyatakan bahwa hak ini adalah hak yang khususnya untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri guna perusahaan pertanian, perikanan dan peternakan. Bedanya dengan hak pakai adalah hak guna usaha ini hanya dapat diberikan untuk keperluan yang diatas dan atas tanah yang luasnya paling sedikit 5 hektar. Berlainan dengan hak pakai maka hak guna usaha dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain dan dapat dibebani dengan hak tanggungan.
Beda halnya dengan hak milik misalnya yang tidak mempunyai batas waktu, maka hak guna usaha mempunyai batas waktu penguasaannya.
Pembatasan ini dimaksudkan selain untuk membedakan dengan hak milik sebagai hak yang paling kuat dan turun temurun, juga hak guna usaha harus dibatasi
sedemikian rupa sehingga dengan demikian dapat diawasi penggunaanya apakah sesuai dengan tujuan yang diberikan atau tidak. Hal ini menentukan apakah dihentikan atau diperpanjang.
Sedangkan menurut Soedharyo Soimin (1994:21) mengemukakan bahwa hak guna usaha yang bersangkutan tidak dialihkan atau dilepaskan dalam jangka waktu yang ditentukan oleh undang-undang, maka hak tersebut menjadi hapus karena hukum, dengan ketentuan bahwa hak-hak ini akan diindahkan menurut ketentuan yang ada.
Pada pasal 29 UUPA mengatur mengenai jangka waktu hak guna usaha sebagai berikut:
1. Hak guna usaha diberikan waktu paling lama 25 tahun.
2. Untuk perusahaan yang memerlukan waktu yang lebih lama dapat diberikan hak guna usaha waktu paling lama 35 tahun.
3. Atas permintaan pemegang hak dapat mengingat keadaan perusahaannya jangka yang dimaksudkan dalam ayat (1) dan ayat (2) pasal ini dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 25 tahun.
Mengenai ketentuan bahwa bagi 25 hektar tanah dengan hak guna usaha harus disertai dengan investasi yang layak, serta teknologi usaha yang baik, ini tidak berarti bahwa tanah-tanah yang luasnya kurang dari 25 hektar itu pengusahaannya boleh dilakukan secara tidak baik, atau sekehendak hati, dan lain sebagainya yang menunjukkan pemanfaatan yang kurang positif, kalau hal-hal yang kurang baik atau negatif itu memang dilaksanakan oleh pemegang haknya,
maka berdasarkan pasal 34 UUPA hak guna usahanya dapat dicabut kembali (G.
Kartasapoetra, (1992 : 8)
Hak guna usaha (Pasal 28 sampai dengan Pasal 34 UUPA) ialah suatu hak yang memberikan wewenang kepada pemegangnya untuk mengusahakan tanah yang langsung dikuasai oleh negara untuk kegiatan-kegiatan pertanian saja.
Jadi apabila yang bersangkutan tidak berkegiatan dalam bidang pertanian, hak guna usaha atas tanah ini tidak akan diberikan. Kegiatan pertanian sendiri pada asanya mengandung pengertian pertanian dalam arti luas dan dalam arti sempit.
Yang dimaksud dengan pertanian dalam arti luas ialah kegiatan pertanian yang disertai atau meliputi juga kegiatan-kegiatan peternakan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan pertanian dalam arti sempit ialah pertanian yang kegiatannya hanyalah pertanian semusim panen belaka (H.
Mustofa dan Suratman, 2013 : 59-60)
Disamping wewenang untuk mengusahakan tanah tersebut, pemegang hak guna usaha yang bersangkutan juga berhak untuk menjadikan hak guna usaha atas tanah ini sebagai jaminan hutang (investasi), atau memindahtangankannya dan mengalihkannya kepada ahli warisnya sepanjang jangka waktu berlakunya hak tersebut belum habis (H. Mustofa dan Suratman, 2013 : 60)
Apabila pemegang hak guna usaha dapat memlihara, memanfaatkan tanahnya dengan baik, kepadanya diberi kesempatan untuk melakukan usaha di atas tanahnya itu untuk selama 25 sampai 35 tahun dan kemungkinan dapat diperpanjang dengan 25 tahun lagi, tentunya hal ini sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah dengan cacatan bahwa tanah itu dimanfaatkan untuk perkebunan
karet, kelapa sawit, kina dan lain sebagainya. Tentulah hasil-hasil dari pepohonan tanaman keras tersebut telah dapat dipungut hasilnya beberapa puluh kali, jadi dipandang cukup untuk perusahaan tanaman yang berumur panjang (G.
Kartasapoetra, (1992 : 8-9)
Sesuai yang dikemukakan oleh Boedi Harsono (1990:61) bahwa dengan demikian jelaslah bahwa penguasaan hak guna usaha itu tidaklah terbatas pada jangka waktu 50-60 saja asal perusahaan masih dalam keadaan baik.
Hak guna usaha tidak dapat dipunyai oleh orang asing, jadi hanya warga negara Indonesia dan badan hukum yang didirikan di Indonesia dan menurut hukum Indonesia. Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, semua perusahaan asing yang hendak berusaha di Indonesia, harus berbadan hukum menurut hukum Indonesia, berkedudukan di Indonesia, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 30 UUPA, kepada mereka dapat diberikan tanah dengan Hak Guna Usaha (G. Kartasapoetra, (1992 : 9)
Hak guna usaha terjadi karena penetapan Pemerintah, perlu dijelaskan bahwa hak guna usaha diadakan untuk memenuhi keperluan masyarakat yang berkembang dewasa ini, hak guna usaha tidak sama dengan erfpacht pada masa lampau di mana erfpacht ini telah dicabut dengan ketentuan-ketentuan UUPA, tadinya berada dalam Buku II KUH Perdata (G. Kartasapoetra, (1992 : 9)
HGU terjadi karena penetapan pemerintah. Caranya, melalui permohonan pemberian HGU oleh pemohon kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Apabila semua persyaratan dipenuhi maka BPN menerbitkan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH). SKPH tersebut wajib didaftarkan ke kantor pertanahan
kabupaten/kota setempat untuk dicatat dalam buku tanah dan diterbitkan sertifikat sebagai tanda bukti haknya. Pendaftaran SKPH tersebut menandai lahimya HGU.
Kepala kantor wilayah BPN provinsi berwenang menerbitkan atas tanah yang luasnya tidak lebih dari 200 hektar. Kalau luas tanah HGU lebih dari 200 hektar maka yang berwenang menerbitkan SKPH-nya adalah kepala BPN.
Kewajiban pemegang HGU Pemegang HGU berkewajiban untuk:
a. Membayar uang pemasukan kepada negara.
b. Melaksanakan usaha pertanian, perkebunan, perikanan, serta peternakan sesuai peruntukan dan persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pemberian haknya.
c. Mengusahakan sendiri tanah HGU dengan baik sesuai dengan kelayakan usaha berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh instansi teknis.
d. Membangun dan memelihara prasarana lingkungan dan fasilitas tanah yang ada dalam lingkungan area HGU.
e. Memelihara kesuburan tanah, mencegah kerusakan sumber daya alam, dan menjaga kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Menyampaikan laporan tertulis setiap akhir tahun mengenai penggunaan HGU.
g. Menyerahkan kembali tanah yang diberikan dengan HGU kepada negara sesudah HGU tersebut hapus.
h. Menyerahkan sertifikat HGU yang telah hapus kepada kepala kantor pertanahan.
Pembebanan HGU dengan hak tanggungan. Prosedur hak tanggungan atas HGU, antara lain:
a. Adanya perjanjian utang piutang yang dibuat dengan akta notariil atau akta di bawah tangan sebagai perjanjian pokoknya.
b. Adanya penyerahan HGU sebagai jaminan utang yang dibuktikan dengan akta pemberian hak tanggungan yang dibuat oleh PPAT sebagai perjanjian ikutan.
c. Adanya pendaftaran akta pemberian hak tanggungan kepada kantor pertanahan kabupaten/kota setempat untuk dicatat dalam buku tanah dan diterbitkan sertifikat hak tanggungan.
Hak tanggungan atas HGU hapus dengan hapusnya HGU, namun tidak menghapuskan utang piutangnya.
C. Subyek dan Objek Hak Guna Usaha
Dalam Undang-Undang Pokok Agraria khusus mengenai subyek dan objek hak guna usaha atas tanah adalah orang (perorangan) dan badan hukum.
Jika diperhatikan pasal yang mengatur secara bahwa yang mempunyai hak guna usaha adalah orang (perorangan) dan badan hukum. Hal ini disebutkan dalam Pasal 9 dan 10 ayat (1) UUPA.
Pasal 9 UUPA berbunyi:
Hanya warga negara Indonesia dapat mempunyai hubungan yang sepenuhnya untuk bumi, air dan ruang angkasa dalam batas-batas ketentuan pasal 1 dan pasal 2.
Menurut Boedi Harsono (1990:263) mengemukakan sebagai berikut
“tepat UUPA tidak menggunakan konsep domain bangsa atau negara, melainkan
konsep hukum adat yang mengenai hak milik perorangan dalam lingkungan hak ulayat. Hal ini tidak berarti tanah-tanah yang tidak miliki oleh seseorang atau badan hukum, menjadi res nellus, dimana setiap orang dapat leluasa menguasai dan menggunakan tanah tersebut.
Tiap-tiap warga Negara indonesia baik laki-laki maupun wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk hasilnya baik bagi diri sendiri maupun keluarganya.
Pasal 10 ayat (1) UUPA berbunyi:
Setiap orang dan badan hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada asanya diwajibkan mengusahakannya secara aktif dengan mencegah cara-cara pemasaran.
Pada Pasal 30 menentukan syarat bagi subyek hukum yang dapat mempunyai hak guna usaha. Pasal 30 UUPA berbunyi sebagai berikut:
1. Warga Negara Indonesia
Disini syarat kewarganegaraan dikedepankan tanpa membedakan asli atau tidak asli mereka semua itu dapat memperoleh hak guna usaha asal saja mereka adalah warga negara Indonesia.
2. Badan-badan hukum yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Badan hukum dapat juga memperoleh hak guna usaha dengan dua persyaratan bahwa badan hukum itu harus didirikan menurut hukum yang berlaku di Indonesia dan juga harus berkedudukan di Indonesia dan tempat beroperasi. Ini berarti bahwa suatu
badan hukum yang berkedudukan Indonesia tetapi tidak didirikan menurut hukum Indonesia dan tidak dapat mempunyai hak guna usaha (Soedharyo Soimin, 1994 : 20-21)
Pada penjelasan Pasal 30 UUPA menerangkan sebagai berikut:
Hak guna usaha tidak dapat dipunyai oleh orang asing. Badan hukum yang mempunyai hak itu hanyalah badan-badan hukum yang bermodal nasional yang progresif baik asli maupun tidak asli. Bagi badan-badan yang bermodal asing hak guna usahanya dibuka kemungkinannya diberikan jika hal itu diperlukan oleh Undang-Undang yang mengatur pembangunan semesta berencana.
Disini jelas seperti ditentukan pada Pasal 30 UUPA maka subyek hak guna usaha menganut asas nasionalitas yang ketat, artinya hanyalah warga Negara Indonesia saja atau badan hukum Indonesia yang dimaksudkan disini adalah badan hukum yang didirikan dengan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.
Namun demikian bahwa dengan bermodal asing pundapat memperoleh hak guna usaha asal saja badan hukum itu didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Jadi berdasarkan uraian diatas maka jelaslah bahwa subyek hak guna usaha hanya terbatas pada orang-orang warga negara Indonesia dan badan-badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Setelah dikemukakan subyek hak guna usaha maka selanjutnya dikemukakan apa yang menjadi obyek hak guna usaha yang
merupakan salah satu yang menjadi bagian dari terciptanya kepastian hukum keagrarian khususnya yang menjadi objek hak atas tanah.
Jika diperhatikan ketentuan-ketentuan dalam UUPA maka obyek hak guna usaha adalah:
1. Tanah yang dikuasai langsung oleh Negara.
2. Tanah yang diperuntukan untuk keperluan pertanian, perikanan, atau peternakan.
3. Luas tanah yang dapat menjadi objek hak guna usaha adalah paling sedikit 5 hektar atau 25 hektar atau lebih memakai investasi yang layak dan teknik perusahaan yang baik.
Dalam penjelasan Pasal 28 UUPA menegaskan bahwa hak guna usaha adalah suatu hak khusus yang mengusahakan tanah yang buka miliknya sendiri.
Dengan demikian objek hak guna usaha adalah tanah yang dikuasai langsung oleh negara.
Luas minimal hak guna usaha adalah 5 hektar, sedangkan maksimal luas tanah hak guna usaha tidak ditentukan. Namun demikian obyek yang luasnya 25 hektar seperti luas tanah hak guna usaha yang diberikan kepada perkebunan tebu PT. Pabrik Gula Bone yakni 7947 hektar harus memenuhi persyaratan seperti Investasi modal yang cukup besar untuk menunjang perusahaan yang baik. Secara umum syarat ini sudah dipenuhi oleh PT. Pabrik Gula Bone Arasoe.
D. Hapusnya Hak Guna Usaha
Peraturan perundang-undangan Hukum Agraria memandang bahwa bangsa Indonesia mempunyai hubungan abadi dengan bumi, air, ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung didalamya.
Pernyataan ini mengandung pengertian, bahwa hubungan bumi, air, ruang angkasa tidak dapat dipisahkan. Namun demikian ketentuan ini tidak berlaku secara pribadi (individual) melainkan hanya berlaku secara kolektif.
Motivasi diaturnya ketentuan mengenai hapusnya atau berakhirnya hak atas tanah, sungguh-sungguh mempergunakan dan memanfaatkan tanahnya tersebut sesuai dengan tujuan untuk nama hak itu diberikan, sehingga manakala tanah tersebut tidak dipergunakan taua tidak dimanfaatkan, maka hak tanah tersebut dapat dihapus.
Ketentuan mengenai hapusnya atau berakhirnya hak guna usaha tidak terlepas dari pembatasan hak atas tanah sehingga pemilik atas hak tersebut tidak dapat berbuat sekehendaknya atas tanah itu. Karena hak guna usaha sebagai mana hak-hak atas tanah lainnya mempunyai fungsi sosial.
Ini berarti bahwa hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang, tidaklah dapat dipergunakan atau tidak dipergunakan semata-mata untuk kepentingan pribadinya apalagi kalau hal itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Hapusnya hak guna usaha diatur dalam ketentuan pasal 34 Undang-Undang Pokok Agraria yang menyatakan sebagai berikut:
Hak guna usaha hapus karena:
1. Jangka waktunya berakhir
2. Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu syarat tidak dipenuhi
3. Dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir 4. Dicabut untuk kepentingan umum
5. Ditelantarkan 6. Tanahnya musnah
7. Ketentuan dalam pasal 30 ayat (2)
Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 17 Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996, ketentuan tersebut diperjelas kembali dengan rumusan sebagai berikut:
1. Hak Guna Usaha hapus karena:
a. Berakhirnya jangka waktu sebagaimana ditetapkan dalam keputusan pemberian atau perpanjangannya;
b. Dibatalkan haknya oleh pejabat yang berwenang sebelum jangka waktunya berakhir karena:
1) Tidak terpenuhinya kewajiban-kewajiban pemegang hak dan dan atau dilanggarnya ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Pasal 13 dan atau Pasal 14;
2) Putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
c. Dilepaskan secara sukarela oleh pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir;
d. Dicabut berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1961;
e. Ditelantarkan;
f. Tanahnya musnah;
g. Ketentuan Pasal 3 ayat (2).
2. Hapusnya Hak Guna Usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mengakibatkan tanahnya menjadi tanah negara.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai hapusnya Hak Guna Usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Keputusan Presiden (Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003 : 172-173)
Hapusnya hak guna usaha karena jangka waktunya berakhir, berarti bahwa proses dan tata cara penggunaan tanah serta pemanfaatannya telah dilaksanakan secara maksimal oleh pemegang hak guna usaha.
Hapusnya hak guna usaha karena waktunya berakhir diklasifikasikan atas:
1. Jangka waktunya berakhir karena tidak diperpanjang lagi oleh pemegang hak guna usaha tersebut, yaitu setelah 25 atau 35 tahun.
2. Jangka waktu perpanjangan berakhir setelah 50 atau 60 tahun.
Hak guna usaha hapus karena dihentikan sebelum berakhir jangka waktu tahap pertama maupun setelah setelah perpanjangan karena sesuatu syarat tidak dipenuhi.
Apabila hal-hal yang harus dipenuhi oleh pihak yang berhak atas hak guna usaha twersebut adalah:
1. Jika tanah hak guna usaha itu merupakan tanah perkebunan, maka alasan penghapusan adalah karena keadaan perubahannya sudah
sedemikian rupa, sehingga menurut pertimbangan tidak diusahakan lagi secara layak atau alasan-alasan yang tidak dibenarkan.
2. Tidak memenuhi kewajiban untuk melakukan segala sesuatu guna meneruskan perusahaan perkebunannya secara layak menurut ketentuan yang telah ditentukan.
3. Tidak memenuhi batas waktu yang telah ditentukan untuk memulai perusahaannya.
4. Berdasarkan suatu pertimbangan tertentu, sikap dan perbuatan pemegang hak guna usaha menunjukkan bahwa ia tidak berniat untuk mengusahakan perusahaan perkebunan tersebut.
Demikian antara lain syarat-syarat yang tidak dipenuhi oleh pemengang hak guna usaha, yang menyebabkan hak guna usaha tersebut hapus sebelum berakhir jangka waktunya. Hal ini diatur dalam undang-undang Nomor 29 Tahun 1956 tentang peraturan-peraturan dan tindakan mengenai tanah-tanah perkebunan.
Disamping hak guna usaha hapus tidak dipenuhinya syarat yang telah ditentukan, maka hal yang menyebabkan pula hapusnya hak guna usaha adalah karena dihapuskan pemegang hak sebelum berakhirnya jangka waktu yang ditentukan. Hal ini merupakan tindakan sukarela pemegang haknya itu.
Penghapusan hak guna itu bisa juga terjadi karena alasan kepentingan umum dan area tanah tersebutt ditelantarkan oleh pemegang hak guna usaha.
Hapusnya hak guna usaha dapat juga terjadi atas dasar kepentingan umum merupakan wujud dari fungsi sosial tanah, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UUPA, penghapusan untuk kepentingan umum dapat berupa kepentingan
masyarakat maupun untuk kepentingan Negara sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang pencabutan hak atas tanah dan bendah-bendah diatasnya.
Kemudian hak guna usaha hapus karena ditelantarkan merupakan alasan yang memenuhi unsur tidak dimanfaatkannya tanh tersebut sebagaimana layaknya, sehingga untuk menggunakan tanah sebagaimana layaknya, maka hak guna usaha itu dihapuskan atau dicabut dari pemegang hak dan dialihkan pada pihak lainnya.
Hak guna usaha juga dapat hapus karena yang mempunyai hak guna usaha bukan warga Negara Indonesia dan bukan pula badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan tidak berkedudukan di Indonesia. Khusus mengenai syarat ini maka pihak pemegang hak dapat mengalihkan kepada pihak lain yang memenuhi persyaratan dalam jangka waktu satu tahun, atau melepaskannya.
Hal ini jelas diatur dalam pasal 30 ayat (2) UUPA yang berbunyi:
Orang atau badan hukum yang mempunyai hak guna usaha dan tidak lagi memenuhi syarat-syarat sebagai yang tersebut dalam ayat (1) pasal ini dalam jangka waktu satu tahun wajib melepaskan atau mengalihkan hak itu kepada pihak lain yang memenuhi syarat. Ketentuan ini berlaku juga terhadap pihak yang memperoleh hak guna usaha jika ia tidak memenuhi syarat tersebut. Jika hak guna usaha yang bersangkutan tidak dilepaskan atau dialihkan dalam jangka waktu tersebut maka hak itu hapus karena hukum, dengan ketentuan bahwa hak-hak
pihak lain dialihkan, menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dengan peraturan pemerintahan.
Pasal 30 ayat (2) UUPA tersebut mempunyai pengertian setelah terjadi konvensi dan ketentuan mengenai sistem kewarganegaraan tunggal yang dianut oleh Indonesia, maka hak-hak yang dialihkan atau dikonversi menjadi hak guna usaha hanya dapat dipunyai oleh warga Negara Indonesia dan badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia, dalam kaitannya dengan hak guna usaha ini pemegang hak guna usaha ini dapat saja melepaskan haknya sebelum jangka waktunya berakhir, kemungkinan-kemungkinan ini dapat saja terjadi.
E. Sifat Hak Guna Usaha
Uraian tentang hak guna usaha dalam Undang-Undang Pokok Agraria tidak dijumpai pernyataan sifat dari hak guna usaha tersebut. Ini disebabkan karena UUPA didasarkan pada hukum adat dimana hukum adat tidak mengenal perbedaan antara dua macam hak yang bersifat kebendaan dan hak yang bersifat perorangan tetapi meskipun demikian jika kita memperhatikan ciri-ciri hak guna usaha menurut Undang Pokok Agraria yaitu sebagai berikut:
1. Dapat beralih dan dialihkan kepada orang lain (Pasal 28 ayat 3 UUPA)
2. Dapat dijadikan sebagai jaminan utang dengan dibebani hak tanggungan (Pasal 33 UUPA)
3. Adanya keharusan untuk dibukukan pada kantor pendaftaran tanah (Pasal 19 UUPA)
Beralihnya hak guna usaha pada pihak lain dalam hal ini dapat terjadi karena beralih seperti dari pemegang hak kepada ahli warisnya, atau dialihkan karena suatu hubungan hukum.
Dalam hal beralih dan dialihkan maka perlu diadakan pendaftaran tidak dikatakan bahwa pendaftaran itu merupakan alat bukti yang kuat mengenai terjadinya hak guna usaha karena pendaftaran itu sendiri adalah merupakan syarat mutlak bagi adanya hak guna usaha tidak terjadi.
Sifat-sifat dan ciri-ciri hak guna usaha antara lain adalah:
1. Sesungguhnya tidak sekuat hak milik, namun hak guna usaha tergolong hak atas tanah yang kuat, artinya tidak mudah hapus dan mudah dipertahankan terhadap gangguan pihak lain. Oleh karena itu maka hak guna usaha termasuk salah satu hak yang wajib di daftarkan (pasal 32 UUPA dan pasal 10 No. 10 tahun 1961);
2. Hak guna usaha dapat beralih, artinya dapat diwariskan oleh ahli waris yang empunya hak (pasal 28 ayat 3);
3. Akan tetapi berlainan dengan hak milik, hak guna usaha jangka waktunya terbatas, artinya pada suatu waktu pasti berakhir (pasal 29);
4. Hak guna usaha dapat dialihkan kepada pihak lain, yaitu dijual, ditukarkan dengan lain dihibahkan atau diberikan dengan wasiat (di “legat” kan) (pasal 28 ayat 3);
5. Hak guna usaha dapat juga dilepaskan oleh yang empunya hingga tanahnya menjadi tanah Negara (pasal 34 huruf e).
Ciri lain dari hak guna usaha yaitu dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani hak tanggunan seperti halnya dengan hak milik dan hak guna usaha bangunan. Mengenai pembebasan hak guna usaha diatur dalam Pasal 32 UUPA
Ciri lain dari hak guna usaha yaitu dapat dijadikan jaminan utang dengan dibebani hak tanggunan seperti halnya dengan hak milik dan hak guna usaha bangunan. Mengenai pembebasan hak guna usaha diatur dalam Pasal 32 UUPA