• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

F. Pembahasan

Keharusan adanya pembebasan tanah masyarakat dalam rangka penguasaan hak guna usaha disebabkan oleh adanya ketentuan bahwa hanya tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dapat dibebani Hak Guna Usaha. Namun dalam hal ini tidak selalu tersedia tanah Negara yang dapat diberikan penguasaan seluas yang diperlukan dan cocok untuk tujuan penggunaanya yang direncanakan.

Maka usaha yang dapat ditempuh pemerinah untuk mengatasi hal tersebut diatas adalah dengan cara melakukan pembebasaan tanah milik rakyat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pabrik Gula Bone Arasoe yang berstatus sebagai badan hukum dalam surat permohonannya harus memuat hal-hal sebagai berikut:

1. Nama badan hukum yaitu Pabrik Gula Bone Arasoe;

2. Tempat kedudukan sesuai dengan peraturan pemberiannya yang termuat dalam akta pemberiannya;

3. Surat keputusan Menteri Dalam Negeri yang menunjuk Pabrik Gula Bone Arasoe sebagai badan hukum;

4. Letak dan luas tanah yang diperlukan;

5. Status tanah yang dimaksudkan apakah tanah negara dan atau tanah perorangan karena pada prinsipnya pengertian tanah yang dikuasai langsung oleh negara tidak selalu bahwa tanah itu telah dikuasai oleh negara, dalam praktek dapat juga terjadi tanah yang dijadikan objek hak guna usaha tersebut yang sebelumnya adalah tanah milik perorangan atau kelompok masyarakat yang kemudian dibebaskan lahannya oleh panitia sembilan;

6. Jenis peruntukan tanah;

Berdasarkan permohonan yang diajukan oleh Pabrik Gula Bone Arasoe tersebut, maka permohonan itu dicatat dalam daftar pemohon Hak baru dan memeriksa semua persyaratan yang telah ditentukan. Dalam hal persyaratan belum lengkap maka pihak Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Bone memanggil pemohon untuk melengkapi syarat-syarat yang belum dipenuhi. Jika persyaratan telah dipenuhi maka pemohon diharuskan membayar biaya yang telah ditentukan.

Ketentuan tersebut menghendaki sedapat mungkin pembebasan tanah untuk kepentingan Pabrik Gula Bone Arasoe dilakukan secara musyawarah.

Namun jika tidak terjadi kesepakatan maka dapat ditempuh dengan cara lain atau dengan cara pencabutan hak.

Dalam hal terjadi kesepakatan, maka berlakulah ketentuan-ketentuan tata cara pembebasan tanah. Adapun cara pembebasan tanah masyarakat yang dikuasai oleh Pabrik Gula Bone Arasoe adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan panitia pembebasan tanah, yang bertugas mengadakan inventarisasi serta penelitian terhadap keadaan tanah dan benda-benda yang diatasnya, juga melakukan perundingan dengan dengan cara pemegang hak atas tanah.

2. Panitia pembebasan tanah ini bekerja atas permintaan Pabrik Gula Bone Arasoe selaku pihak yang memerlukan tanah.

3. Agar dapat terlaksana pembebasan tanah tersebut maka Pabrik Gula Bone Arasoe harus mengajukan permohonan pembebasan tanah kepada Gubernur dengan mengemukakan maksud dan tujuan penggunaan tanahnya, yang disertai persyaratan yang telah dicabut diatas persediaan untuk memberikan ganti rugi atau fasilitas-fasilitas lain kepada pihak yang berhak atas tanah yang dibebaskan.

4. Permohonan Pabrik Gula Bone Arasoe kemudian diteruskan kepada panitia pembebasan tanah.

5. Panitia pembebasan tanah kemudian melakukan penaksiran besarnya ganti rugi.

Penaksiran besarnya ganti rugi yang akan diberikan kepada pemilik harus mengadakan musyawarah dengan pemilik/pemegang hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya berdasarkan harga umum setempat.

6. Dalam menetapkan ganti rugi tersebut, harus pula diperhatikan faktor strategi lainnya yang dapat mempengaruhi harga tanah. Bentuk ganti rugi dapat berupa uang dan tanah atau fasilitas-fasilitas lainnya.

7. Harus sungguh-sungguh memperhatikan siapa pemilik/pemegang hak sebenarnya.

8. Pelaksanaan pembebasan tanah yang menjadi areal perkebunan tebu sebagai objek yang dimohonkan, harus diselesaikan dalam waktu singkat.

9. Keputusan panitia tentang besarnya ganti rugi yang dapat dibayarkan pemilik/pemegang hak atas tanah diberitahukan kepada pemohon atau Pabrik Gula Bone Arasoe kepada pemilik/pemegang hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya.

10. Pembayaran ganti rugi yang telah disepakati dilakukan bersamaan dengan penyerah/pelepasan dalam hal ini antara masyarakat dan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya yang disaksikan sekurang-kurangnya 4 (empat) anggota panitia pembebasan tanah, kepala kecamatan dan kepala desa.

Pabrik Gula Bone Arasoe yang telah memohon pembebasan tanah yang terletak khususnya di Kecamatan Cina Kabupaten Bone, diwajibkan untuk mengajukan permohonan sesuatu hak atas tanah yang dibebaskan.

Permohonan yang diajukan oleh Pabrik Gula Bone Arasoe harus disertai alat bukti adanya pelepasan hak serta alat bukti telah dillaksanakannya pembayaran ganti rugi. Ketetapan tersebut merupakan syarat mutlak agar

pemohon dapat diberikan suatu hak yang dikuasai oleh negara, oleh karena itu tanpa surat bukti pembebasan dan pembayaran ganti rugi Pabrik Gula Bone Arasoe tidak diberikan sesuatu hak.

Dalam kaitannya dengan surat bukti penguasaan dan pembebasan dalam hal pembayaran ganti rugi ini dalam praktek pemberian Hak Guna Usaha termasuk pemberian Hak Guna Usaha kepada Pabrik Gula Bone Arasoe adakalanya belum selesai pembayaran ganti rugi yang berarti pembebasan juga belum selesai dilaksanakan, hal ini disebabkan adanya pihak ketiga yang menerima ganti rugi tersebut.

Hal semacam itu disebabkan karena mengingat bukti yang dimaksud merupakan formalitas belaka sebab pihak Kantor Pertanahan Nasional tidak pernah melakukan penelitian untuk menguji kebenaran surat bukti tersebut.

Walaupun dalam kaitan dengan pembebasan tanah di Kecamatan Cina untuk kepentingan Pabrik Gula Bone Arasoe tidak terjadi sengketa terbuka di pengadilan, hal ini berdasarkan wawancara penulis dengan beberapa anggota masyarakat yang merupakan memiliki Hak Milik terhadap tanah yang dikuasai oleh pihak Pabrik Gula Bone Arasoe.

Antara pihak yang menguasai suatu bidang tanahnya itu senantiasa mempunyai hubungan hukum yang secara tegas diakui keberadaannya oleh hukum adat. Oleh karena itu setiap tindakan yang bermaksud memisahkan hubungan tersebut, misalnya dengan pembebasan, harus membayar ganti rugi kepada yang berhak sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Suatu hal yang unik dalam pemberian Hak Guna Usaha kepada Pabrik Gula Bone Arasoe adalah bahwa sebelum terbitnya sertifikat atau keputusan atas penguasaan Hak Guna Usaha maka yang diberikan pada Pabrik Gula Bone Arasoe, adalah Hak Pengelolaan. Setelah 6 tahun kemudian barulah diganti dengan Hak Guna Usaha hal ini disebabkan karena status Pabrik Gula Bone Arasoe yang sebelumnya merupakan suatu proyek maka diberikan Hak Pengelolaan dan melihat perpanjangan dari perusahaan tersebut yang dalam hal ini Pabrik Gula Bone Arasoe akan beroperasi lebih lama maka dari Hak Pengelolaan diganti dengan Hak Guna Usaha.

Hak guna usaha yang diciptakan oleh Undang-Undang dengan pokok Agraria khusus untuk usaha-usaha perkebunan pertanian dan perikanan, tidak menentukan batas maksimal yang dapat diberikan kepada badan usaha, seperti Pabrik Gula Bone Arasoe yang ditentukan adalah batas minimal yaitu tidak kurang dari 5 hektar.

Dalam pasal 28 ayat (2) UUPA menyatakan bahwa Hak Guna Usaha diberikan atas tanah yang luasnya 25 hektar atau harus menggunakan investasi/modal yang layak dan teknik perusahaan yang baik sesuai dengan perkembangan zaman.

Luas hak guna usaha minimal 5 hektar dipandang oleh pembuat Undang-Undang sudah layak untuk perkebunan atau pertanian atau perikanan yang modalnya kecil dan tidak memerlukan tehnik pengelolaan yang berat atau canggih.

Disamping itu dalam kaitannya dengan luas tanah hak guna usaha tersebut, maka hal itu juga menyangkut kewenangan pemberian hak guna usaha, sebab kewenangan pemberian Hak Guna Usaha 5 (lima) sampai 24 (dua puluh empat) hektar berbeda dengan jika 25 hektar atau lebih.

Pabrik Gula Bone Arasoe, mempunyai areal perkebunan tebu seluas 7.777,13 Ha karena memang didukung oleh investasi/modal yang besar serta teknik yang layak bahkan termasuk canggih.

Suatu bagian yang terpenting berkenaan dengan Hak Guna Usaha yang diberikan kepada Pabrik Gula Bone Arasoe yaitu tentang jangka waktu Hak Guna Usaha khususnya setelah diperpanjang jangka waktunya. Pada pasal 29 UUPA yang mengatur jangka waktu hak guna usaha menentukan sebagai berikut:

1. Hak Guna Usaha diberikan waktu paling lama 25 tahun

2. Untuk perusahaan yang memerlukan waktu yang lebih lama dapat diberikan Hak Guna Usaha waktu paling lama 35 tahun.

3. Atas permintaan pemegang hak dapat mengingat keadaan perusahaannya jangka yang dimaksudkan dalam ayat (1) dan ayat (2) pasal, ini dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 25 tahun.

Berdasarkan pasal 29 UUPA tersebut maka jangka waktu paling lama dapat diberikan kepada Pabrik Gula Bone Arasoe selaku perusahaan yang memerlukan waktu yang lebih lama, sesuai dengan surat keputusan adalah 35 tahun dan hal ini dapat diperpanjang lagi selama 25 tahun. Dengan demikian jangka waktu seluruhnya 60 tahun.

Masalah utama menyangkut jangka waktu Hak Guna Usaha yaitu bagaimana kelanjutan Hak Guna Usaha jika setelah diperpanjang lagi. Hak Guna Usaha telah ditentukan yang jangka waktunya yaitu 50-60 tahun dan tidak dapat diperpanjang lagi untuk kedua kalinya manakala setelah perpanjangan berakhir maka berakhir pula guna usaha tersebut.

Dalam penjelasan UUPA pada pasal 29, menegaskan bahwa penetapan jangka waktu 35 tahun tersebut didasarkan pada tanaman kelapa sawit sebab kelapa sawit dalam waktu 35 tahun tidak hanya dianggap telah memberikan hasil yang memadai, bahkan sudah diganti. Oleh karena itu jangka waktu 25 tahun atau 35 tahun dan kemungkinan diperpanjang 25 tahun dipandang sudah cukup lama untuk keperluan perusahaan untuk tanaman-tanaman yang berumur panjang.

Oleh karena itu menurut penulis, manakala suatu hak guna usaha telah diperpanjang dan kemudian berakhir, maka tidak dapat lagi diperpanjang atau diperbaharui. Artinya perusahaan yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan baru, sehingga berlakulah ketentuan-ketentuan seperti pada saat untuk pertama kalinya permohonan Hak Guna Usaha.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Penguasaan Hak Guna Usaha kepada Pabrik Gula Bone Arasoe harus memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan, seperti keharusan untuk memberikan ganti rugi kepada para pemilik atau orang yang mempunyai hak atas tanah dan benda-benda di atasnya.

2. Faktor yang menjadi kendala dalam proses pemberian HGU pada perkebunan tebu Pabrik Gula Bone Arasoe, surat izin belum selesai merupakan salah satu faktor penghambat dalam pemberian HGU pada Pabrik Gula Bone Arasoe, hal ini disebabkan karena adanya keterlambatan pemerintah dalam menangani hal tersebut khususnya Badan Pertanahan Nasional dan pembebasan tanah belum diselesaikan oleh pihak Pabrik Gula Bone Arasoe yaitu masih banyak masyarakat yang masih memiliki hak milik dan belum mendapatkan ganti rugi langsung oleh pihak Pabrik Gula Bone Arasoe.

3. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bone (BPN) dalam menangani kendala penguasaan HGU pada Pabrik Gula Bone Arasoe yaitu menyelesaikan secepatnya surat izin yang belum

68

diselesaikan khususnya mengenai penguasaan HGU tanah pada perkebunan tebu agar ada kepastian hukum antara pihak masyarakat dan Pabrik Gula Bone Arasoe serta mendesak pihak Pabrik Gula Bone Arasoe agar segera memberikan ganti rugi kepada masyarakat yang mempunyai hak atas tanah dan benda-benda di atasnya.

B. Saran

1. Untuk menghindari diberikannya HGU kepada pemohon yang sesungguhnya belum memberikan ganti rugi kepada pemilik maka pihak kantor Pertanahan Nasional yang menerima permohonan wajib mencari kebenaran pembayaran ganti rugi.

2. Agar pihak yang berhak atas tanah yang dibebaskan untuk kepentingan Pabrik Gula Bone Arasoe, yang tidak dirugikan maka hendaknya Pemerintah Daerah Kabupaten Bone mengadakan penelitian mengenai jumlah pemilik yang belum mendapatkan pembayaran ganti rugi dari Pabrik Gula Bone Arasoe.

3. Diupayakan agar Pabrik Gula Bone Arasoe dalam hal perekrutan tenaga kerja sebagai karyawan dapatnya diberikan fasilitas/diutamakan masyarakat yang berada disekitar lingkungan Pabrik Gula Bone Arasoe.

DAFTAR PUSTAKA

Harsono, Boedi. 1990. Undang-Undang Pokok Agraria Sejarah Penyusunan, Isi Penyusunan Dan Pelaksanaannya. Jakarta: Jembatan

Nurlina, Ida. 2009. Prinsip-Prinsip Pembaharuan Agraria Perspektif Hukum.

Jakarta: Rajawali Pers

Kartasapoetra, G. 1992. Masalah Pertanahan Di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja. 2003. Hak-Hak Atas Tanah. Jakarta:

Kencana

Mustofa, H dan Suratman. 2013. Penggunaan Hak Atas Tanah Untuk Industri.

Jakarta: Sinar Grafika

Soimin, Soedharyo. 1994. Status Hak Dan Pembebasan Tanah. Jakarta: Sinar Grafika

Tim Penyusun FKIP Unismuh Makassar. 2013. Pedoman Penulisan Skripsi.

Unismuh Makassar: Panrita Press

Dwisetiati. 2012. Sifat-Sifat dan Ciri-Ciri Hak Guna Usaha. Online https://dwisetiati.wordpress.com/2012/06/05/sifat-sifat-dan-ciri-ciri-hak-guna-usaha/ Diakses 23 April 2015

Hadi, Sirajul. 2012. Makalah Hak Guna Usaha. Online

http://rajul-al.blogspot.com/2012/01/makalah-hak-guna-usaha.html Diakses 23 April 2015

Informasi34. 2008. Teori-Teori Pertanian. Online

http://informasi34.blogspot.com/2008/12/teori-teori-pertanian.html Diakses 24 april 2015

Karlinaaafaradila. 2012. Subyek Dan Obyek Hukum. Online

https://karlinaaafaradila.wordpress.com/2012/03/22/subyek-dan-obyek-hukum/ Diakses 23 April 2015

Poerba, Auly Yoshi. 2012. Agraria Hak Guna Usaha. Online

http://www.scribd.com/doc/112953360/Agraria-hak-Guna-Usaha#scribd Diakses 24 April 2015

70

Foto Peneliti dengan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe, 20 Agustus 2015

Foto Peneliti dengan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe, 20 Agustus 2015

Foto Peneliti dengan Masyarakat, 4 September 2015

Foto Peneliti dengan Masyarakat, 4 September 2015

Penelitian ini memakai teknik wawancara dalam pengumpulan data, dan dalam pelaksanaannya dilakukan wawancara yang mendalam agar mendapatkan data yang relevan dan akurat. Berikut adalah pedoman wawancara yang akan dilakukan dalam penelitian ini:

1. Siapa nama bapak/ibu?

2. Apa pekerjaan bapak/ibu?

3. Berapakah harga tanah bapak/ibu yang dibeli pihak Pabrik Gula Bone Arasoe?

4. Apakah harga tersebut sesuai kesepakatan bapak/ibu dengan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe?

5. Apakah masih ada masyarakat yang belum mendapatkan ganti rugi oleh pihak Pabrik Gula Bone Arasoe?

6. Apakah pemberian ganti rugi sudah dilakukan pihak Pabrik Gula Bone Arasoe?

7. Apakah ada orang ke tiga yang membantu dalam pemberian ganti rugi ini?

No. Nama Usia Dusun

1. Madina 48 Arasoe

2. Muh. Amir 53 Arasoe

3. Saleh 44 Arasoe

4. Sunusi 55 Arasoe

5. Jumriana 50 Arasoe

6. Alfandi Umar, SE 39 Pihak PGB

Risnah, lahir di Maroanging Desa Cani Sirenreng Kecamatan Ulaweng Kab. Bone tanggal 6 Mei 1993.

Ayahanda bernama Basse dan Ibunda bernama Martang, dari dua orang bersaudara.

Pendidikan yang pernah ditempuh adalah SD 137 Cani Sirenreng (2005), SMP Negeri 1 Ulaweng (2008), SMA Negeri 1Ulaweng (2011).

Dan pada tahun 2011 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Muhamadiyah Makassar melalui jalur SPMB mengambil jurusan pendidikan sosiologi dan selesai pada tahun 2015 dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Penulis dapat menyelesaikan pendidikannya atas rahmat Allah Swt dan dukungan serta doa dari kedua orang tua dengan memilih judul “Penguasaan Hak Guna Usaha Terhadap Tanah Masyarakat Pada Perkebunan Tebu Pabrik Gula Bone Arasoe Kecamatan Cina Kabupaten Bone”

Dokumen terkait