• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja BPR binaan Bank Nagari di Sumatera Barat. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive, dengan alasan Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi yang memiliki Bank Pembangunan Daerah (Bank Nagari) dengan kinerja sehat untuk beberapa tahun terakhir dan sebagai Apex Bank (penyangga) bagi BPR yang ada di Sumatera Barat. Sumatera Barat juga memiliki BPR yang telah berkembang sejak lama yang diawali oleh adanya Lumbung Pitih Nagari. Penelitian dilaksanakan sejak bulan April sampai September 2007.

4.2. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan informan kunci dari Bank Nagari, BPR sampel dan responden usaha kecil yang menjadi nasabah BPR binaan Bank Nagari dan nasabah BPR non-binaan Bank Nagari. Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Data sekunder diperoleh dari dokumentasi Bank Nagari, BPR, serta instansi yang terkait dengan penelitian, seperti Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Kegiatan pembinaan yang telah dilakukan Bank Nagari terhadap BPR binaan,yang terdiri dari sejarah pembinaan BPR oleh Bank Nagari, penyertaan modal kepada BPR, sistem pembinaan yang dilakukan, jenis- jenis pelatihan yang diberikan, bentuk dan pola pengawasan atau monitoring yang dilakukan.

2. Kinerja BPR yang terdiri dari data keuangan BPR dan perkembangan nasabah.

3. Karakteristik nasabah BPR (usaha kecil) yang terdiri dari tingkat pendidikan, umur, pengalaman usaha, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jumlah anggota keluarga

4. Kegiatan usaha kecil seperti penggunaan faktor produksi, tenaga kerja yang digunakan, nilai output, keuntungan, jumlah asset yang dimiliki, dan besarnya kredit yang diperoleh.

4.3. Metode Pengambilan Sampel

Penelitian dilakukan pada tiga tingkat, yaitu tingkat Bank Nagari, BPR dan usaha kecil. Penelitian pada tingkat Bank Nagari hanya mengetahui pembinaan yang telah dilakukan oleh Bank Nagari terhadap BPR binaannya selama ini. Penelitian di tingkat BPR dilakukan dengan membandingkan kinerja BPR binaan Bank Nagari dengan non-binaan Bank Nagari. Jumlah populasi BPR binaan Bank Nagari adalah 45 BPR berdasarkan data Desember tahun 2005, selebihnya merupakan non-binaan. Pengambilan sampel BPR hanya dilakukan pada satu kabupaten yang ada di Sumatera Barat, dengan pertimbangan bahwa tingkat keragaman dari BPR adalah relatif homogen pada masing-masing kabupaten. Kabupaten yang dijadikan sebagai lokasi pemilihan sampel BPR adalah Kabupaten Limapuluh Kota. Pemilihan kabupaten ini dilakukan secara purposive karena Kabupaten Limapuluh Kota memiliki jumlah BPR binaan Bank Nagari yang paling banyak. Jumlah BPR binaan yang ada pada kabupaten ini adalah 7 BPR. Untuk melakukan indepth diambil sampel BPR dipilih secara acak sebanyak 3 BPR binaan Bank Nagari dan 3 BPR non-binaan Bank Nagari, dengan pertimbangan jumlah tersebut telah mewakili populasi yang ada karena karakteristik dari polulasi cendrung homogen.

Untuk mengetahui dampak BPR terhadap kinerja usaha kecil, diambil sampel nasabah BPR binaan Bank Nagari dan nasabah non-binaan Bank Nagari. Kriteria usaha kecil dalam penelitian ini didasarkan pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/39/PBI/2005 tentang Pemberian Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang menyatakan bahwa usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 000 000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1 000 000 000,- (satu miliar rupiah). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara pengambilan sampel bertahap (multistage sampling). Pada tahap pertama, pengambilan sampel usaha kecil hanya pada satu kabupaten dari 12 kabupaten yang ada di Sumatera Barat. Pemilihan satu kabupaten dengan pertimbangan bahwa keragaman dari BPR berdasarkan tujuan penelitian relatif kecil, sehingga dengan satu kabupaten dirasakan sudah mewakili seluruh kabupaten yang ada. Kabupaten yang dipilih adalah Kabupaten Limapuluh Kota, dengan pertimbangan bahwa jumlah BPR binaan Bank Nagari pada kabupaten ini paling banyak, dan keragaman kegiatan usaha kecil cukup besar. Tahap kedua, memilih sampel BPR yang ada pada Kabupaten Limapuluh Kota, baik BPR binaan Bank Nagari maupun non-binaan. Jumlah BPR binaan Bank Nagari pada Kabupaten Limapuluh Kota berjumlah 7 BPR. Sampel BPR dipilih secara acak sebanyak 3 BPR binaan Bank Nagari dan 3 BPR non-binaan Bank Nagari. Alasan pemilihan sebanyak 3 BPR dengan pertimbangan jumlah tersebut telah mewakili populasi yang ada karena karakteristik dari polulasi cendrung homogen. Tahap ketiga, pemilihan sampel pada nasabah BPR binaan dan non- binaan yang sudah dipilih. Teknik pengambilan sampel pada nasabah dilakukan secara Stratified Proporsional Random Sampling, yaitu dengan membagi populasi nasabah

berdasarkan sektor usaha yang dijalankan. Pembagian populasi tersebut yaitu pertanian, perdagangan, dan industri rumah tangga, dan masing-masing strata diambil sebesar 5 persen. Pengambilan sampel tesebut atas dasar pertimbangan telah cukup mewakili populasi masing-masing strata. Jumlah total responden yang diambil adalah sebanyak 165 orang.

4.4. Analisis Data

4.4.1. Analisis Pembinaan Bank Nagari terhadap Bank Perkreditan Rakyat

Untuk tujuan pertama digunakan analisis deskriptif kualitatif dengan menggunakan tabulasi dan melakukan interpretasi perhitungan kuantitatif berupa bentuk skor penilaian keberhasilan pembinaan dengan menggunakan beberapa indikator keberhasilan. Indikator-indikator keberhasilan tersebut bersumber dari Pedoman Pengawasan BPR, Direktorat Pengawasan BPR Bank Indonesia dan wawancara pendahuluan dengan Mantan Direktur Bank Nagari. Aspek-aspek penilaian keberhasilan pembinaan oleh Bank Nagari terdiri dari aspek manajemen, sistem operasional BPR, kegiatan pelatihan dan pendidikan, dan monitoring dan pengawasan. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembinaan oleh Bank Nagari terhadap BPR dapat dilihat pada Lampiran 1.

Untuk menilai tingkat efektifitas pembinaan yang telah dilakukan oleh Bank Nagari digunakan analisis Skala Likert. Skala penilaian dibagi dalam 5 (lima) kategori, yaitu sangat tidak bagus dengan skor 1, tidak bagus dengan skor 2, sedang dengan skor 3, bagus dengan skor 4, dan sangat bagus dengan skor 5. Setiap penilai (responden) memberikan skor terhadap setiap indikator yang diajukan. Penilai terdiri dari pihak BPR dan Bank Nagari yang terkait dengan kegiatan pembinaan ini. Dari skor yang didapat, ditentukan selang efektifitas

pembinaan tersebut. Selang diperoleh dari selisih total skor tertinggi yang mungkin dibagi jumlah kategori jawaban.

nilai maksimum – nilai minimum

Selang = - 1 Jumlah kategori jawaban

Nilai maksimum diperoleh dari nilai tertinggi dari kategori dikali dengan jumlah responden. Nilai minimum diperoleh dari nilai terendah dari kategori dikali jumlah responden. Dari Lampiran 1 diperoleh nilai maksimum sebesar 435 dan nilai minimum sebesar 87 dan jumlah kategori sebanyak 5, maka diperoleh nilai selang sebesar 69. Skor efektifitas keberhasilan pembinaan dibagi menjadi 5 yaitu: (1) apabila nilai skor berkisar antara 87 sampai 156 dikatakan sangat tidak efektif, (2) apabila nilai skor berkisar antara 157-226 dikatakan tidak efektif, (3) apabila nilai skor berkisar antara 227-296 dikatakan cukup efektif, (4) apabila nilai skor berkisar antara 297-366 dikatakan efektif, dan (5) apabilai nilai skor berkisar antara 367-435 dikatakan sangat efektif.

4.4.2. Analisis Perbandingan Kinerja BPR dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

Analisis perbandingan kinerja BPR binaan Bank Nagari dengan BPR non-binaan dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif yang didasarkan kepada aspek keuangan dan manajemen. Faktor-faktor yang dilihat adalah permodalan, kualitas aktiva produktif, rentabilitas, likuiditas, manajemen, dan resiko kredit. Analisis kualitatif dilakukan dengan membandingkan aspek-aspek diatas dari tahun 2003 sampai tahun 2006.

Ukuran aspek permodalan BPR menurut BI adalah: (1) indikator Capital Adequacy Ratio (CAR), angka CAR yang semakin tinggi menunjukkan pertambahan modal disetor lebih tinggi dari tingkat pertambahan aktiva, semakin

tinggi nilai CAR menunjukkan bank semakin likuid, CAR minimum yang harus dicapai BPR adalah besar sama dari 8 persen, (2) Loan to Deposit Ratio (LDR), adalah rasio antara jumlah kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun BPR, BPR dikatakan sehat apabila LDR berkisar antara ≤ 94.75 persen.

Ukuran rentabilitas menggunakan: (1) indikator angka return on assets (ROA), semakin tinggi nilai ROA, maka BPR dikatakan semakin efisien, standar ROA yang harus dicapai oleh sebuah BPR menurut ketentuan BI adalah 1.215 persen, (2) perbandingan Biaya Operasional dengan Pendapatan Operasional (BOPO). Aspek manajemen yang dilihat adalah sumberdaya manusia yang digunakan seperti tingkat pendidikan, keahlian karyawan, produktivitas pegawai, yaitu perbandingan antara jumlah nasabah dengan jumlah pegawai, dan sistem operasional yang dijalankan.

Analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja BPR dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi dengan menggunakan pool data dari tahun 2003 sampai tahun 2006. Analisis korelasi merupakan derajat hubungan antara dua variabel atau lebih. Langkah pertama dari analisis ini adalah menentukan faktor-faktor tingkat kesehatan BPR dan memberikan bobot dari masing-masing kriteria. Pembobotan dilakukan berdasarkan aspek permodalan (CAR), Kualitas Asset (KAP), Kualitas Manajemen, Rentabilitas, Likuiditas, dan Resiko Kredit. Indikator penilaian dengan bobot dan standar penilaian berdasarkan SK DIR BI Nomor 30/12/KEP/DIR SE BI Nomor 30/3/UPPB tanggal 30 April 1997 dan referensi kinerja BPR lainnya. Namun prosedur penilaian tidak sepenuhnya menggunakan prosedur penilaian yang digunakan oleh BI. Nilai bobot dan standar bobot didasarkan kepada SK BI diatas, kecuali pembobotan dan standar kriteria produktifitas pegawai. Produktifitas pegawai dalam analisis ini hanya merupakan salah satu penilaian

produktifitas dari BPR. Ukuran produktifitas dalam penelitian ini masih menggunakan ukuran yang sangat kasar karena keterbatasan data penelitian untuk menghitung produktifitas lainnya. Produktifitas pegawai adalah perbandingan antara jumlah nasabah dengan jumlah pegawai BPR. Penentuan standar didasarkan kepada nilai median dari nilai bobot yang banyak muncul dari masing-masing BPR sampel.Rincian indikator dengan bobotnya dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Indikator Penilaian Tingkat Kesehatan BPR dan Pembobotan Faktor Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat

Indikator Kinerja Bobot standar

Nilai Bobot Aspek Permodalan(CAR) CAR 0.3 8.00 2.40 Kualitas Asset KAP 0.3 10.35 3.11 Kualitas Manajemen Skor manajemen 0.1 81.00 8.10 Produktivitas pegawai 0.1 353.87 35.39 Rentabilitas ROA 0.05 1.22 0.06 BOPO 0.05 93.52 4.68 Likuiditas LDR 0.05 94.75 4.74 Resiko Kredit NPL 0.05 0.50 0.03 Batas minimum 58.49

Sumber : Bank Indonesia, 2002

Nilai total dari pembobotan diatas akan menghasilkan tingkat kesehatan BPR dengan kategori : (1) sehat, apabila total nilai bobot bernilai ≥ 58.49, (2) kurang sehat apabila total nilai bobot bernilai < 58.49. Analisis korelasi dilakukan dengan menghubungkan tingkat kesehatan BPR yang telah dihasilkan dengan variabel-variabel jumlah modal, jumlah kredit yang diberikan, nilai deposito, nilai tabungan, jumlah nasabah, laba, volume neraca, tingkat bunga, dan jumlah pegawai BPR serta dummy BPR binaan Bank Nagari.

Koefisien korelasi dirumuskan seperti persamaan berikut:

= 2 2 i i i i xy y x y x r ...(4.1) dimana :

X X xi = iY Y yi = i

Nilai koefisien korelasi bervariasi, dari -1 sampai dengan +1. Jika nilai r positif, maka X dan Y meningkat atau menurun secara bersama. Nilai r = + 1 menunjukkan bahwa hubungan antara X dan Y adalah sempurna (perfect positive correlation). Jika nilai r negatif, maka X dan Y bergerak pada arah yang berlawanan. Jika r = -1, maka hubungan X dan Y adalah sempurna (perfect negative correlation), dan ketika r = 0 maka kedua variabel tidak berkorelasi. Jika nilai r mendekati angka 1 menunjukkan derajat hubungan semakin kuat, sebaliknya jika nilai r mendekati angka 0 menunjukkan derajat hubungan semakin lemah.

dimana :

Y = Tingkat kesehatan BPR

X1 = Jumlah nilai modal yang disetor (Rp)

X2 = Besarnya nilai kredit kepada pihak ketiga (Rp) X3 = Jumlah nilai deposito yang berhasil dihimpun (Rp) X4 = Jumlah nilai tabungan yang berhasil dihimpun (Rp) X5 = Jumlah tenaga kerja yang digunakan (orang) X6 = Jumlah nasabah (orang)

X7 = Besarnya Laba yang diperoleh (Rp/tahun) X8 = Besarnya volume neraca (Rp)

4.4.3. Analisis Peranan BPR terhadap Kinerja Usaha Kecil

Model untuk mengetahui dampak BPR terhadap kinerja Usaha Kecil dapat dianalisis dengan menggunakan model persamaan simultan dengan 6 (enam) persamaan struktural dan 1 (satu) persamaan identitas seperti terlihat pada Gambar 4. Model dibentuk berdasarkan kerangka teoritis dan hasil-hasil

penelitian terdahulu serta hasil observasi di lapangan. Model analisis dampak BPR terhadap kinerja usaha kecil, yaitu :

4.4.3.1. Besar Kredit Usaha Kecil

Besar kredit usaha kecil merupakan jumlah kredit terakhir yang diterima pemilik usaha kecil. Besar kredit usaha kecil diduga fungsi dari besar bunga kredit, nilai asset usaha kecil, lama menjadi nasabah kredit, dummy sektor dagang, dummy sektor pertanian, dummy jenis jaminan BPKB motor, BPKB mobil, sertifikat tanah, dan dummy lebih dari satu jaminan. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

BK = a0 + a1 BB + a2 ASET + a3 LK + a4 DSK1 + a5 DSK2 + a6 DJM1 + a7 DJM2 + a8 DJM3 + a9 DJM4 + U1 ...(4.2)

Tanda parameter yang diharapkan: a2,a3 > 0 ; a1 < 0; 0 < a4, a5, a6, a7, a8, a9 <1 dimana :

BK = Besar kredit yang diterima pemilik usaha kecil (Rp) BB = Besar bunga kredit (persen)

ASET = Nilai asset usaha kecil (Rp) DSK1 = Dummy sektor perdagangan DSK2 = Dummy sektor pertanian DJM1 = Dummy jaminan BPKB motor DJM2 = Dummy jaminan BPKB mobil

DJM3 = Dummy jaminan sertifikat tanah atau rumah DJM4 = Dummy jaminan lebih dari satu jaminan

4.4.3.2. Nilai Omset Usaha

Nilai omset usaha menunjukkan seberapa besar nilai penjualan atau penerimaan yang diperoleh oleh usaha kecil. Omset usaha diduga fungsi dari penggunaan tenaga kerja total, besar kredit, pengalaman usaha, dummy BPR

binaan, dummy sektor perdagangan, dan sektor pertanian. Persamaannya adalah sebagai berikut:

NOP = bo + b1 TKT + b2 BK + b3 PU + b4 DBPR + b5 DSK1 + b6 DSK2 +U2 …………...…...(4.3) Tanda parameter yang diharapkan : b1, b2, b3> 0 ; 0 < b4, b5, b6 <1

dimana :

NOP = Nilai omset usaha (Rp)

TKT = Jumlah tenaga kerja total (orang) PU = Pengalaman usaha (tahun) DBPR = Dummy nasabah BPR binaan

DBPR = 1, Nasabah BPR binaan Bank Nagari DBPR = 0, Nasabah BPR non-binaan Bank Nagari 4.4.3.3. Keuntungan Usaha Kecil

Keuntungan usaha kecil diduga fungsi dari nilai omset penjualan, lama pendidikan pemilik usaha, pengalaman usaha, dummy BPR binaan, dummy sektor dagang, dan dummy sektor pertanian. Persamaannya adalah sebagai berikut :

PDP = co + c1 NOP + c2 PPUS + c3 PU +c4 DBPR + c5 DSK1 + c6 DSK2 + U3……...(4.4) Tanda parameter yang diharapkan : c1, c2, c3 > 0 ; 0 < c4, c5, c6,< 1

dimana :

PDP = Keuntungan usaha (Rp per bulan) PPUS = Lama pendidikan pemilik usaha (tahun)

4.4.3.4. Asset yang Dimiliki

Asset yang dimiliki diduga merupakan fungsi dari nilai omset penjualan, keuntungan usaha, pengalaman berusaha, dan dummy BPR binaan Bank Nagari. Persamaannya sebagai berikut:

ASET = do + d1 NOP + d2 PDP + d3 PU + d4 DBPR + U4...(4.5) Tanda parameter dugaan yang diharapkan : d1, d2, d3 > 0 ; 0 < d4< 1

4.4.3.5. Penggunaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga

Penggunaan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) diduga fungsi dari jumlah tenaga kerja luar keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan pemilik usaha, dummy nasabah BPR binaan, dummy sektor dagang dan sektor pertanian. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:

TKDK = eo + e1 TKLK + e2 JAUK + e3 PPUS + e4 DBPR + e5 DSK1+ e6 DSK2 + U5...(4.6) Tanda parameter yang diharapkan : e2, e3 > 0 ; e1< 0 ; 0 < e4, e5, e6 < 1

dimana :

TKDK = Tenaga kerja dalam keluarga (orang) TKLK = Tenaga kerja luar keluarga (orang) JAUK = Jumlah anggota keluarga (orang)

4.4.3.6. Penggunaan Tenaga Kerja Luar Keluarga

Penggunaan tenaga kerja luar keluarga (TKLK) diduga fungsi dari besar kredit, biaya usaha, keuntungan, dummy nasabah BPR binaan, dan dummy sektor pertanian. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:

TKLK = fo + f1 BK + f2 BU + f3 PDP + f4 DBPR + f5 DSK2 + U6...(4.7) Tanda parameter yang diharapkan : f1, f3, > 0 ; f2 < 0 ; 0 < f4, f5< 1

dimana :

BU = Biaya usaha kecil (Rp per bulan)

4.4.3.7. Penggunaan Tenaga Kerja Total

TKT = TKDK + TKLK ...(4.8) dimana : TKT = Penggunaan tenaga kerja total (orang)

4.4.3.8. Model Pengembalian Kredit

Untuk mengetahui kelancaran pengembalian kredit yang sudah diberikan oleh BPR, dianalisis dengan menggunakan model regresi logit yang dapat ditulis sebagai berikut : Pi = F (Zi) ...(4.9) Pi = ( ) 6 1 i ki k kX e F +

+ =

β

α

...(4.10) Pi = z e− + 1 1 ...(4.11) sehingga: ) ( 6 1 1 1 i k ki kX e e Pi + + − ∑ + = = β α ...(4.12) dimana : Pi = Pengembalian kredit Pi = 1, jika kredit lancar

Pi = 0, jika kredit kurang lancar X1 = Tingkat umur pemilik usaha (tahun) X2 = Jumlah anggota keluarga (orang) X3 = Nilai asset yang dimiliki (Rp) X4 = Besar kredit (Rp)

X5 = Jarak tempat usaha ke BPR (meter) X6 = Dummy BPR binaan

Ukuran yang digunakan untuk melihat hubungan antara peubah bebas dan peubah tidak bebas dalam model logistik adalah nilai odds ratio. Nilai odds ratio menunjukkan perbandingan peluang Pi= 1 dan Pi= 0. Nilai ini didapat dari perhitungan eksponensial dari koefisien estimasi (β)

atau exp (β).

Untuk melihat kesesuaian model regresi logistik maka digunakan uji rasio likelihood. Nilai ini didapat dengan cara membandingkan nilai G hitung dengan nilai Chi-square.

G hitung = 2 {nilai log likelihood–[n1 Ln (n1)+no Ln (no)– n Ln (n)]}…...(4.14) dimana:

G = Nilai rasio likelihood logaritma tanpa variabel tak bebas

n1 = Jumlah sampel yang termasuk dalam kategori usaha kecil yang memiliki kredit lancar

no = Jumlah sampel yang termasuk dalam kategori usaha kecil yang memiliki kredit kurang lancar

n = Jumlah total sampel.

4.4.4. Definisi Operasional

1. Besar Kredit (BK) adalah jumlah kredit periode terakhir yang diterima oleh pemilik usaha dengan satuan juta rupiah. Diharapkan dengan adanya kredit ini dapat meningkatkan penggunaan input, dan teknologi serta dapat meningkatkan jumlah asset yang dimiliki pemilik usaha.

2. NOP adalah omset usaha yang merupakan nilai penjualan dari output yang dihasilkan dalam rupiah per bulan.

3. PDP adalah besarnya keuntungan yang dihasilkan dari usaha yang dijalankan tersebut, yang dihitung dalam rupiah per bulan.

4. Jumlah Asset yang dimiliki (ASET) menunjukkan besarnya kekayaan yang dimiliki yang berhubungan dengan usaha yang dijalankan yang berupa asset tetap dan asset bergerak dalam satuan juta rupiah.

5. Penggunaan Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) dilihat dari berapa orang tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga dengan satuan orang. Jumlah tenaga kerja dalam keluarga menunjukkan banyaknya tenaga kerja yang dimiliki dan bisa dipekerjakan dalam usaha tersebut.

6. Penggunaan Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) yaitu yang berasal dari luar keluarga (orang) yang dipekerjakan dalam menjalankan usaha.

7. Penggunaan Tenaga Kerja Total (TKT) merupakan jumlah dari penggunaan tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga dalam satuan orang.

8. PU adalah lamanya usaha yang telah dijalankan oleh pemilik usaha dalam satuan tahun.

9. PPUS adalah lama pendidikan pemilik usaha kecil yang dihitung dalam satuan tahun. Pendidikan pemilik usaha menunjukkan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh pemilik usaha. Semakin tingginya tingkat pendidikan, maka respon pengusaha dalam menggunakan teknologi lebih tinggi.

10. BU adalah jumlah total biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan usaha dalam rupiah per bulan.

11. JAUK adalah jumlah anggota keluarga atau banyaknya tanggungan yang dimiliki oleh pengusaha kecil.

12. Kredit lancar adalah apabila pembayaran kredit dilakukan dengan tepat waktu dan tidak mengalami penunggakan.

13. Kredit kurang lancar adalah apabila pembayaran kredit mengalami penunggakan beberapa kali, dan mengalami keterlambatan dalam pembayaran lebih dari 90 hari.

4.4.5. Prosedur Analisis

4.4.5.1. Identifikasi dan Pendugaan Model

Identifikasi model ditentukan atas dasar ”order condition” sebagai syarat keharusan berdasarkan Koutsoyiannis (1977) dengan rumusan identifikasi model persamaan struktural sebagai berikut : (K – M) ≥ (G – 1). Dimana : K = Total

variabel dalam model (variabel endogen dan variabel predeterminan), M = Jumlah variabel endogen dan eksogen yang dimasukkan dalam suatu persamaan tertentu dalam model, G = Total persamaan (jumlah variabel endogen). Apabila (K-M) = (G -1) disebut Exactly Identified, jika (K- M) > (G -1) disebut dengan Over Identified, dan jika (K – M) < (G – 1) disebut Under Identified. Pada model peranan BPR terhadap kinerja usaha kecil jumlah K adalah 20, jumlah M adalah 11 dan jumlah G adalah 7, sehingga model ini adalah over identified.

Menurut Koutsoyianis (1977), penggunaan metode pendugaan persamaan simultan tergantung pada hasil identifikasi. Apabila suatu persamaan simultan dalam keadaan Exactly Identified, maka metode pendugaan persamaan simultan yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil tidak langsung (Indirect Least Square, ILS). Jika model over identified maka digunakan metode kuadrat terkecil dua tahap (Two-Stage Least Squares, 2SLS) atau metode kuadrat terkecil tiga tahap (Three-Stage Least Squares, 3SLS). Penelitian ini menggunakan metode 2SLS yang mempunyai ciri-ciri antara lain: (1) menawarkan suatu metode yang ekonomis (dalam menduga model ekonometrika yang melibatkan sejumlah besar persamaan) dan (2) hanya memberi satu dugaan parameter. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan program SAS dengan prosedur SYSLIN.

4.4.5.2. Evaluasi Model

Ada tiga kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi model yaitu : (1) kriteria ekonomi, (2) kriteria statistik, dan (3) kriteria ekonometrika (Koutsoyiannis, 1977). Kriteria ekonomi yaitu model dievaluasi dengan melihat apakah tanda dan besarnya parameter dugaan peubah-peubah penjelas dalam persamaan struktural sesuai dengan hipotesis. Kriteria statistik melihat

besarnya nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai uji-F. Koefisien determinasi berguna untuk mengetahui berapa besar proporsi keragaman peubah endogen yang dapat dijelaskan oleh peubah-peubah penjelasnya, sedangkan sisanya dijelaskan oleh peubah lain yang tidak dimasukkan dalam model. Jika koefisien determinasi semakin tinggi,maka semakin baik karena besar keragaman dari peubah endogen yang dapat dijelaskan oleh peubah penjelas yang masuk dalam model. Nilai uji-F mengetahui nyata tidaknya peranan peubah penjelas secara bersama-sama terhadap peubah endogen.

4.4.5.3. Pengukuran Elastisitas

Untuk mengetahui derajat kepekaan (respon) peubah endogen terhadap peubah-peubah penjelas maka digunakan nilai elastisitas. Rumus untuk menduga nilai elastisitas adalah :

) / ( ˆ X Y a EXY = j dimana :

EXY = Elastisitas peubah endogen Y terhadap peubah penjelas X

X

= Nilai rata-rata peubah penjelas X ke- j

Y

= Nilai rata-rata peubah endogen Y j

aˆ = Parameter dugaan peubah penjelas ke-j

Jika EXY lebih besar dari satu berarti peubah endogen Y responsif terhadap peubah eksogen Xj. Jika EXY lebih kecil dari satu berarti peubah endogen Y tidak responsif terhadap peubah ekogen Xj.

= Variabel endogen = Variabel eksogen

Gambar 4. Model Ekonometrik Dampak Bank Perkreditan Rakyat Terhadap Kinerja Usaha Kecil

Besar Kredit Tenaga kerja Luar Keluarga Nilai Omset Penjualan Nilai Asset Tenaga Kerja Dalam Keluarga Tenaga Kerja Total Nilai Keuntungan Lama Kredit Besar Bunga Dummy BPKB motor Dummy BPKB Mobil Dummy sert tanah D lbh dr satu jaminan Pengalaman Usaha Pendidikan Pemilik Usaha Jumlah agt keluarga Biaya Usaha Dummy BPR Dummy Sektor Perdagangan Dummy Sektor Pertanian

Untuk mengetahui derajat kepekaan (respon) peubah endogen terhadap peubah- peubah penjelas maka digunakan nilai elastisitas. Rumus untuk menduga nilai

Dokumen terkait