• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Makassar. Pemilihan tempat ini dikarenakan datanya dapat dengan mudah diakses di halaman website BKPMD Sulawesi Selatan. Adapun waktu yang digunakan dalam penelitian ini kurang lebih selama dua bulan yaitu bulan November sampai Desember tahun 2020.

C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran

Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen dan dua variabel independen, defenisi operasional masing – masing variabel adalah sebagai berikut:

21

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran No Variabel Definisi Operasional Pengukuran 1. Penanaman

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode kepustakaan (library search), yaitu penelitian yang digunakan dengan bahan – bahan kepustakaan berupa tulisan – tulisan ilmiah dari laporan – laporan penelitian ilmiah yang memiliki hubungan dengan topik yang diteliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan pencatatan langsung berupa data seri waktu (time series) dalam kurun waktu 10 tahun (2010-2019).

E. Teknik Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi berganda (multiple regression). Model ini memperlihatkan hubungan antara variabel bebas dalam hal ini :

1. Uji Asumsi Klasik

Pengujian linear regresi berganda dapat dilakukan setelah model model dari penelitian ini memenuhi syarat lulus dari asumsi klasik. Syarat yang perlu dipenuhi yaitu harus terdistribusi normal, tidak mengandung multikolineritas dan heterokedasitas. Sebelum melakukan pengujian asumsi klasik yang terdiri dari :

a) Uji Normalitas

Pengujian ini memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel penggangu atau residual memiliki destribusi normal. Dapat diketahui bahwa uji t dan uji f mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.

Untuk menguji normalitas data, penelitian ini menggunakan analisis grafik probability plot. Pada prinsipnya probabilitas dapat diperoleh dengan melihat penyebaran titiknya diantaranya :

1) Jika data menyebar disekitar garis mengikuti arah garis maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

2) Jika data menyebar lebih jauh dari diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal maka uji regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

b) Uji Multikoliniearitas

Memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya kolerasi variabel bebas. Model regresi yang baik tidak terjadi kolerasi diantara variabel bebas, jika variabel terikat sama dengan nol.

Uji ini dapat dilihat dengan nilai tolerance dan variance inflation faktor (VIF). Kedua urutan ini menunjukkan setiap variabel bebas lainnya.

23

Dalam arti bahwa setiap variabel bebas menjadi variabel terikat dan diregresi terhadap variabel bebas lainnya. Jadi, nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi karena (VIF = 1 / Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance <0,01 atau sama dengan VIF > 10.

c) Uji Autokorelasi

Bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu periode t – 1 (sebelumnya). Jika terjadi kolerasi dinamakan problem autokolerasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Salah satu untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi yaitu uji Durbin Watson (DW tes). Uji Durbin Watson digunakan untuk autokorelasi tingkat satu (first orderautocorrelation) dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel bebas.

d) Uji Heteroskedastisitas

Tujuannya untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual suatu pengamatan yang lain atau untuk melihat penyebaran data. Jika variance dari residual pengamatan yang lain tetap maka disebut sebagai homokedasitas.

Untuk mengetahui adanya heterokedasitas dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot dengan ketentuan:

1) Jika terdapat tertentu, seperti titik – titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur menunjukkan telah terjadi heteroskedastisitas.

2) Jika tidak terdapat pola yang jelas, dan titik penyebaran dibawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

2. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Persamaan regresi dapat diliat dari tabel hasil uji coefisient berdasarkan output SPSS versi 25.

Melalui kedua variabel bebas yaitu pendapatan perkapita dan inflasi, terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Sulawesi Selatan.

Untuk menyederhanakan perhitungan dengan menggunakan metode ekonomitrika, maka variabel terikat merupakan investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan lambang (Y). Variabel bebas adalah pendapatan per kapita (𝑋1) dan inflasi (𝑋2), selanjutnya akan di analisis dengan cara sebagai berikut:

Y= f (𝑋1 𝑋2 )……….……… (3.1) Fungsi kemudian diestimasi ke dalam bentuk persamaan linear sebagai berikut :

Y = α + β1 𝑋1 + β2 𝑋2 + μ ………..……….. (3.2) Dimana :

Y = Investasi PMDN α = Konstanta

β1 β2 = Koefesien Variabel X1 = Pendapatan Per Kapita X2 = Inflasi

μ = Error Term

25

3. Uji Hipotesis (R²)

a. Uji Koefisien Determinasi

Uji Koefisien Determinasi R – Squared (R²) pada intinya untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menjelaskan variabel dependen. Nilain koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R² yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel terikat atau model dikatakan membaik.

b. Uji Simultan (Uji f)

Uji Simultan adalah pengujian model secara keseluruhan untuk menguji ketepatan model. Pengujian model ini melibatkan seluruh nilai koefisen secara bersama – sama. Untuk mengetahui apakah secara simultan, koefisien regresi variabel bebas mempunyai pengaruh nyata atau tidak terhadap variabel terikat, maka dilakukan uji hipotesis. Digunakan Fhitung untuk mengkaji apakah model persamaan regresi yang diajukan dapat diterima dan ditolak. Nilai dengan Fhitung dikonstantakan dengan Ftabel, dengan menggunakan taraf kesalahan (α) yang digunakan yaitu 5% atau 0,05 maka Fhitung > Ftabel berarti variabel bebasnya secara bersama-sama memberikan pengaruh yang bermakna terhadap variabel terikat.

c. Uji Parsial (Uji t)

Uji Parsial digunakan untuk melihat signifikansi setiap koefisien regresi dari masing – masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Untuk mengkaji pengaruh variabel bebas terhadap terikat secara individu dapat

dilihat hipotesis dan perbandingan dimana Ttabel > Thitung, juga dengan nilai sig > α = 0,05 maka H0 diterima H1 ditolak. Dan jika Ttabel <

Thitung juga dengan nilai sig < α = 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima dan variable tersebut dapat dikatakan berpengaruh signifikan.

27 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Provinsi Sulawesi Selatan 1. Keadaan Geografis Provinsi Sulawesi Selatan

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu Provinsi dari 34 Provinsi yang ada di Indonesia yang terletak dibagian selatan, Ibu kotanya adalah Makassar. Provinsi Sulsel yang ber ibu kota Makassar adalah daerah yang mudah dijangkau, karena Kota Makassar berada diantara kepulauan Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari keadaan ekonomi daerah yang mempunyai daya tarik tersendiri, salah satunya ialah Selat Makassar merupakan sarana jalur perairan internasional dan Kota Makassar telah diresmikan menjadi Kawasan Timur Indonesia.

Gambar 4.1 Peta Provinsi Sulawesi Selatan

Secara geografis Letak Daerah SulSel 0°12’ - 8’ Lintang Selatan dan 116°48’ - 122°36’ Bujur Timur. bagian utara Provinsi Sulsel berbatasan dengan Sulawesi Barat, bagian timur berbatasan dengan Sulawesi Tenggara, bagian Barat Selat Makassar dan bagian selatan Laut Flores.

Luas Daerah Sulawesi Selatan 46.717,48 𝐾𝑚2 dengan Jumlah angka Penduduk Tahun 2019 -+ 8.771,970 Jiwa, Kepadatan Penduduk 191,68 Jiwa/𝐾𝑚2 yang menyebar di 24 Kab. / Kota yaitu 21 kabupaten serta 3 kotamadya, 304 kecamatan, dan 2.953 desa/kelurahan, yang terdiri dari 4 suku wilayah yaitu suku Bugis, Makassar, Mandar serta Toraja.

2. Keadaan Demografis

Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2019 berjumlah 8.851.240 jiwa yang tersebar 24 kabupaten/kota yang terdiri dari 21 kabupaten dan 3 kota. Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin laki-laki. Jumlah penduduk perempuan sebanyak 4.524.831 jiwa sedangkan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 4.326.509 jiwa.

Pertumbuhan penduduk yang relatif besar terjadi di daerah perkotaan beserta Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Hal ini sudah wajar karena ekonomi masyarakat berpusat di daerah perkotaan. Daerah yang mengalami pertumbuhan cukup pesat dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, faktor kesempatan kerja yang lebih luas, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, sejumlah fasilitas di kota lebih memadai.

29

3. Keadan Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan

Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu Provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak yang ada di indonesia. Jumlah penduduk Sulawesi Selatan tahun 2020 mencapai sekitar 8.928,0 ribu jiwa, sedangkan pada tahun 2019 mencapai sekitar 8,851,2 ribu jiwa, yang terdiri dari 4.524,8 ribu perempuan dan 4.326,4 ribu laki-laki. Untuk lebih jelasnya, jumlah penduduk menurut Kabupaten/Kota yang ada di Sulawesi Selatan dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019

No. Kabupaten/Kota Jumlah Rasio Kelamin

1 Kabupaten Selayar 135,6 93,2

2 Bulukumba 420,6 89,5

Sulawesi Selatan 8.851,2 95,6

sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan (2020)

B. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Variabel

a. Perkembangan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Sulawessi Selatan

Menurut Mankiw (2003) bahwa pada hakekatnya investasi atau penanaman modal merupakan awal kegiatan pembangunan ekonomi.

Investasi dapat dilakukan oleh swasta, pemerintah atau kerjasama antara pemerintah dan swasta. Sedangkan menurut W.W Rostow mengatakan salah satu syarat hadirnya kerangka budaya yang menobatkan pertumbuhan sebagai ciri utama dalam tahap lepas landas adalah kemampuan untuk mengerahkan modal dari sumber – sumber domestik, yaitu proses pertumbuhan ekonomi suatu negara harus bertumpu pada kemampuan dalam negeri, sementara sumber daya luar seharusnya hanya bersifat merangsang dan membantu kekuatan dalam negeri yang dapat diarahkan untuk pembentukan modal dalam negeri terhadap pembangunan ekonomi.

Perekonomian daerah Sulawesi Selatan tidak lepas dari peranan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Dimana dalam upaya pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Selatan diperlukan investasi yang terus meningkat dan harus dicukupi dengan memperhatikan kemampuan daerah sendiri dan kemampuan nasional. Untuk itu diperlukan pengerahan dana, tabungan masyarakat, tabungan pemerintah dan dana dari luar. Nilai

31

realisasi investasi di Sulawesi Selatan merupakan besarnya realisasi investasi dari proyek yang telah disetujui oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun – tahun sebelumnya. Untuk melihat nilai realisasi investasi penananaman modal di Sulawesi Selatan dapat diketahui berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulawesi Selatan selama periode 2010 – 2019 sebagai berikut:

Tabel 4.2 Perkembangan Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Tahun 2010-2019

Sumber : BKPMD Sulawesi Selatan, Tahun 2020

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa laju perkembangan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Sulawesi Selatan selama kurun waktu 2010 – 2019 cenderung berfluktuatif. Pada tahun 2010 realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar Rp. 3,21 Miliar Rupiah atau sebesar 0,0321%. Namun, pada 5 tahun berikutnya mengalami penurunan yang pesat tepatnya pada tahun 2017 hal ini dapat saja disebabkan oleh tingkat pendapatan perkapita masyarakat yang rendah dan tabungan yang rendah selain itu juga

dipengaruhi oleh faktor non ekonomi menyebabkan iklim investasi yang tidak kondusif, namun Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Provinsi Sulawesi Selatan meningkat pada tahun 2019 sebesar Rp. 5,67 Mliyar Rupiah.

b. Perkembangan Pendapatan Per Kapita di Provinsi Sulawesi Selatan Pendapatan per kapita merupakan indikator utama pembangunan ekonomi suatu Negara yang dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan suatu Negara, yang diperoleh dengan membagi nilai pendapatan perkapita dengan jumlah penduduk pada periode tertentu.

Perkembangan Pendapatan Per Kapita di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2010 – 2019 sebagai berikut:

Tabel 4.3 Perkembangan Pendapatan Per Kapita di Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun Pendapatan Per Kapita (Miliar)

2010 1.72

2011 1.98

2012 2.28

2013 2.59

2014 2.98

2015 3.40

2016 3.77

2017 4.16

2018 4.62

2019 5.05

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2020.

33

Berdasarkan uraian tabel 4.3 di atas, Pendapatan Per Kapita di Provinsi Sulawesi Selatan dalam 10 tahun mengalami peningkatan bisa kita lihat pada tahun 2010 Perkembangan Pendapatan Per Kapita di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar Rp. 1.72 Miliiar rupiah meningkat sampai pada tahun 2019 sebesar Rp. 5.05 Miliiar rupiah.

c. Perkembangan Inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan

Inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam pengendalian ekonomi makro yang berdampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi.

Tingkat inflasi yang relatif tinggi merupakan hal yang sangat merugikan perekonomian sebab berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat dan dapat juga berdampak melambatnya perkembangan produksi. Pada tabel 4.4 dapat dilihat perkembangan inflasi di Sulawesi Selatan sebagai berikut:

Tabel 4.4 Perkembangan Inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010-2019

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2020.

Berdasarkan uraian tabel 4.4 di atas, Perkembangan Inflasi di provinsi Sulawesi Selatan dalam 10 tahun cenderung mengalami penurunan kecuali pada tahun 2013 dan 2014. Perkembangan Inflasi di provinsi Sulawesi Selatan pada 5 tahun terakhir mengalami penurunan, bisa kita lihat pada tahun 2019 sebesar 2,35 (%) persen.

2. Hasil Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah salah satu syarat dalam menggunakan analisis regresi linear berganda. Adapun cara yang digunakan antara lain sebagai berikut :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah data yang dimiliki berdistribusi normal atau tidak maka dilakukan pengujian dengan Kolmogorow-Smiwow.

Adapun dasar pengambilan uji Kolmogorow-Smiwow yaitu : 1) Jika nilai signifikasi > 0,05 maka data berdistribusi normal.

2) Jika nilai signifikasi < 0,05 maka data berdistribusi tidak normal.

35

Sumber : Output SPSS 25, tahun 2020 Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan gambar 4.2 di atas, terlihat titik-titik data mengikuti garis diagonal. Sehingga sebagaimana dasar pengambilan keputusan uji normalitas di atas maka peneliti menarik kesimpulan model regresi berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah variabel regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau independen.

Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas pada suatu model regresi adalah dengan melihat nilai Tolerance dan VIF (variance inflation faktor).

1) Jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10 maka tidak terjadi multikolenieritas.

2) Jika nilai tolerance < 0,10 dan VIF > 10 terjadi masalah pada multikolinearitas.

Tabel 4.5 Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Pendapatan Perkapita .681 1.469

Inflasi .681 1.469

a. Dependent Variable: Y

Sumber : Output SPSS 25, Tahun 2020

Berdasarkan hasil uji multikolinearitas pada Tabel 4.5, maka diperoleh nilai tolerance 0,681 < dari 0,10 dan VIF 1,469 > 10, maka dapat dikatakan bahwa terjadi multikolinearitas.

c. Uji Autokorelasi

Autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan kesalahan periode t sebelumnya. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi.

Cara yang digunakan untuk melihat ada tidaknya autokorelasi pada penelitian ini yaitu menggunakan uji runs test. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji runs test, yaitu :

1) Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) < dari 0,05 maka terdapat gejala autokorelasi.

2) Jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) > dari 0,05 maka tidak terdapat gejala autokorelasi.

37

Tabel 4.6 Hasil Uji Autokorelasi

Runs Test

Unstandardized Residual

Test Valuea -.68069

Cases < Test Value 5

Cases >= Test Value 5

Total Cases 10

Number of Runs 8

Z 1.006

Asymp. Sig. (2-tailed) .314

a. Median

Sumber : Output SPSS 25, Tahun 2020

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,314 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala atau masalah autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas, dapat dilihat dengan menggunakan uji scatterplot.

Dengan kriteria pengujian yaitu apabila penyebaran titik-titik data tidak berpola, titik-titik data menyebar diatas dan dibawah dan titik-titik data tidak mengumpul maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas.

Sumber: Output SPSS 25, Tahun 2020

Gambar 4.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan dari gambar 4.3 di atas hasil uji heteroskedastisitas menujukkan bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga layak dipakai dalam penelitian ini.

3. Hasil Analisis Regresi Berganda

Penelitian ini terdapat dua variabel bebas yaitu Pendapatan Per Kapita dan Infasi serta satu variabel terikat yaitu Penanaman Modal Dalam Negeri di Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk menguji ada tidaknya pengaruh tiap variabell bebas terhadap variabel terikat maka dilakukan pengujian model regresi berganda dengan bantuan SPSS 25.

Tabel 4.7 Hasil Uji Analisis Regresi Berganda

Coefficientsa

Sumber: Output SPSS 25, Tahun 2020

39

Berdasarkan tabel 4.7 Hasil uji regresi linear berganda dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :

Y =α + 𝐛𝟏𝐗𝟏 + 𝐛𝟐𝐗𝟐 + e Y= -1,241 + 0,621 𝐗𝟏 + 0,673 𝐗𝟐 + e

Koefisien pada persamaan regresi linear berganda dapat dipahami sebagai berikut :

a. Nilai constant sebesar -1,241 yang berarti bahwa jika variabel lain bernilai konstan, maka nilai Y akan berubah dengan sendirinya sebesar nilai konstanta yakni -1,241%.

b. Nilai koefisien variabel X1 (Pendapatan Per Kapita) sebesar 0,621 bertanda positif artinya setiap kenaikan 1% pada tingkat Pendapatan Per Kapita maka Penanaman Modal Dalam Negeri akan mengalami peningkatan sebesar 0,621%.

c. Nilai koefisien variabel X2 (Inflasi) sebesar 0,673, bertanda positif artinya setiap kenaikan 1% pada tingkat Inflasi maka Penanaman Modal Dalam Negeri akan mengalami peningkatan sebesar 0,673%.

4. Hasil Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah dalam penelitian. Uji hipotesis terbagi menjadi tiga yaitu :

a. Uji Koefisien Determinasi ( 𝑹𝟐)

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai R2

mempunyai interval antara 0 sampai 1. Semakin besar nilai R2 (mendekati 1), semakin baik hasil untuk model regresi tersebut.

Tabel 4.8 Uji Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R

R Square

Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate

1 .561

a .315 .119 1.98639

a. Predictors: (Constant), x2, x1 b. Dependent Variable: y

Sumber: Output SPSS.25, Tahun 2020

Berdasarkan tabel 4.8 Dari hasil output SPSS di atas, didapatkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,315 yang artinya pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) sebesar 31,5%. Sedangkan sisanya 68,5% dipengaruhi oleh variabel lain diluar persamaan regresi ini atau variabel yang tidak diteliti.

b. Uji Simultan (Uji f)

Uji f ini dilakukan untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen secara keseluruan. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan antara nilai signifikansi yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan derajat kesalahan (α) yang ditolerir dalam penelitian ini yaitu α = 0,05

Dasar pengambilan keputusan : 1) Berdasarkan nilai signifikasi (Sig)

41

a. Apabila nilai signifikansi yang diperoleh < dari α = 0,05, maka semua variabel bebas secara keseluruan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

b. Apabila nilai signifikansi yang diperoleh > dari α = 0,05, maka semua variabel bebas secara keseluruan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

2) Berdasarkan perbandingan nilai F-hitung dengan F-tabel

a) Jika nilai F-hitung > F-tabel, maka semua variabel bebas secara keseluruhan berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

b) Jika nilai F-hitung < F-tabel, maka semua variabel bebas secara keseluruhan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat

Tabel 4.9 Hasil Uji Simultan (Uji F)

ANOVAa b. Predictors: (Constant), x2, x1

Sumber: Output SPSS.25, Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.9 di atas dapat dilihat bahwa variabel independen (X) mendapatkan nilai F hitung sebesar 1,610 dan F tabel sebesar 5,32 (F hitung 1,610< F tabel 5,32) dengan nilai siginifikansi sebesar 0,266 (0,266 > 0,05). Ini berarti secara bersama-sama variabel

X1 (Pendapatan Per Kapita) dan X2 (Inflasi) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Y (Penanaman Modal Dalam Negeri).

c. Uji Parsial (Uji t)

Uji t ini dilakukan dengan cara pengujian variabel - variabel independen secara parsial (individu), digunakan untuk mengetahui signifikan dari pengaruh variabel independen secara individu terhadap variabel dependen.

Dasar pengambilan keputusan : 1) Berdasarkan nilai signifikansi (Sig.)

a) Jika nilai Signifikansi < Probabilitas 0,05 maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.

b) Jika nilai signifikansi > probabilitas 0,05 maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak 2) Berdasarkan perbandingan nilai t-hitung dengan t-tabel

a) Jika nilai t-hitung > t-tabel maka ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis diterima.

b) Jika nilai t-hitung < t-tabel maka tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat atau hipotesis ditolak.

43

Tabel 4.10 Hasil Uji Parsial (Uji T)

S

Berdasarkan hasil regresi pada tabel 4.10 dapat disimpulkan:

1. Variabel X1 (Pendapatan Per Kapita) memperoleh t hitung sebesar 0,881 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,364 (0,881 < 2,364) dengan nilai signifikansi 0,408 yang lebih besar dari 0,05 (0,408 > 0,05). Ini berarti variabel X1 (Pendapatan Per Kapita) berberpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap variabel Y (Penanaman Modal Dalam Negeri).

2. Variabel X2 (Inflasi) memperoleh nilai t hitung sebesar 1,788 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,364 (1,788 > 2,364) dengan nilai signifikansi 0,117 lebih besar dari 0,05 (0,117 > 0,05). ini berarti variabel X2 (Inflasi) berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap variabel Y (Penanaman Modal Dalam Negeri).

C. Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka hasil pengujian dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pengaruh Pendapatan Per Kapita Terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri

Pendapatan Per Kapita berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), ini terlihat dari hasil olah data dimana koefisien variabel pendapatan per kapita sebesar 0,621 dengan nilai signifikan lebih besar dari 0,05 (0,408 > 0,05).

Hal ini menjelaskan bahwa ketika Pendapatan Per Kapita meningkat maka pendapatan rata-rata penduduk akan mengalami kenaikan maka tidak akan mempengaruhi proses kegiatan obligasi, saham dan deposito yang mempengaruhi nilai investasi perusahaan yang artinya setiap kenaikan Pendapatan Per Kapita tidak mempengaruhi terjadinya kenaikan Penanaman Modal Dalam Negeri di Provinsi Sulawesi Selatan.

Hal ini sesuai dengan teori klasik yang mengatakan bahwa investasi hanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga dan tabungan juga dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, berarti makin tinggi stabil tingkat suku bunga yang ditawarkan maka keingininan masyarakat untuk menabung meningkat dan keinginan investor untuk berinvestasi semakin meningkat. Jadi, dari teori tersebut dapat diketahui bahwa tingkat pendapatan tidak mempengaruhi penanaman modal, tetapi tingkat suku bungalah yang berpengaruh sebagai selisih dari tingkat pengembalian modal.

45

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Mukarramah HM Mustadir pada tahun 2014 dengan judul “Pengaruh tingkat suku kredit dan pendapatan per kapita terhadap pertumbuhan investasi di Kota

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Mukarramah HM Mustadir pada tahun 2014 dengan judul “Pengaruh tingkat suku kredit dan pendapatan per kapita terhadap pertumbuhan investasi di Kota

Dokumen terkait